Laporan Utama

Juli 17, 2011 pukul 12:27 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Prospek Agribisnis 2014, Peluang Komoditas Ekspor dan Substitusi Impor

“Tahun 2014 hanya satu tahun, dalam ekonomi itu hanya short run. Jangka waktu satu tahun itu hanya semusim untuk komoditas tertentu dan dua musim untuk komoditas lainnya. Artinya kita tak akan melihat perubahan teknologi yang terlalu signifikan, juga tak  akan ada perubahan besar pada luasan lahan, tambahan kapital, dan tenaga kerja,” ungkap Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec., Menteri Pertanian periode 2000 – 2004, saat diwawancara AGRINA.

Bagaimana memprediksi prospek agribisnis 2014?

Ada baiknya kita lihat secara global dan nasional, baru di tingkat agribisnis. Secara global masih berada pada ekor krisis global yang dimulai di Amerika Serikat pada 2008. Lalu berimbas ke Eropa, meluas ke China, India, dan negara dunia ketiga termasuk Indonesia. Selama 5 tahun ini dampak krisis global di dalam negeri ada tapi tak terlalu signifikan. Boleh dikatakan tak sampai merusak perekonomian tapi hanya membuat penyok. Krisis hanya mengubah pertumbuhan ekonomi kita dari 6% plus ke 5% plus. Kita bersyukur negara kita sudah begitu tangguh menghadapi keadaan itu.

Di level nasional, populasi tetap tumbuh 1,5% atau bertambah 3,6  juta jiwa. Pertambahan penduduk ini dari sisi agribisnis adalah potential market. Ini memberi dampak positif pada agribisnis. Pertumbuhan ekonomi masih di atas 5% berarti ada peningkatan pendapatan yang berdampak naiknya permintaan komoditas agribisnis.

Tahun depan juga ada hajatan besar, pemilihan legislatif dan presiden. Hipotesa saya, pencairan bujet pemerintah akan lebih cepat untuk membiayai hajat besar itu. Barangkali belanja pemerintah hanya naik sebesar rata-rata seperti biasanya, tapi pencairan makin cepat. Selain itu, pembelanjaan dari parpol, caleg, dan capres juga meningkat sehingga konsumsi naik. Ini satu faktor penambah demandyang beda dari tahun-tahun sebelumnya atas produk-produk agribisnis.

Jadi ada pemicu dalam negeri yang membuat pertumbuhan permintaan produk agribisnis. Pertanyaannya, jika konsumsi produk agribisnis dalam negeri bertumbuh karena pertambahan penduduk, peningkatan pendapatan, serta hajatan pileg dan pilpres, siapa akan mengisinya? Ingat, kita sudah menganut ekonomi terbuka, kebutuhan itu akan diisi agribisnis dalam negeri atau impor. Ini banyak tergantung kebijakan pemerintah.

Kebijakan yang mana?

Terutama kebijakan perdagangan dan keuangan, khususnya exchange rate (nilai tukar). Perkiraan saya, nilai tukar kita pada 2014 berkisar Rp 11.000 – Rp12.000 per US$, naik lebih dari 20% dibandingkan 2012. Perubahan ini tak hanya berdampak pada agribisnis, tapi juga ke non-agribisnis. Dan memang perubahan nilai tukar itu dampak kebijakan masa lalu. Kebijakan BI dari dulu cenderung bias membuat nilai tukar rupiah yang secara artifisial tinggi dibandingkan mata uang asing mitra dagang kita. Kebijakan ini untuk membantu sektor industri yang membutuhkan itu. Kini sedang terjadi koreksi pasar terhadap bias tadi.

Jadi dengan perubahan dari Rp8.500 jadi Rp11.000 – Rp12.000 per US$ akan terjadirealignment (penyesuaian kembali) dari komposisi impor dan ekspor, termasuk di bidang agribisnis. Kita juga perlu penyesuaian kembali pada impor energi. Pertanyaan kita, apakah pada 2014 pemerintah mulai lebih serius melaksanakan, bukan hanya memikirkan, pengembangan energi terbarukan? Tuntutan itu makin lama akan makin kuat dan jika tak dilaksanakan akan lebih menyulitkan perekonomian kita. Ini merupakan salah satu indikator bahwa biodiesel dan bioetanol akan lebih prospektif pada 2014 dan masa akan datang.

Jadi faktor apa paling berpengaruh?

Yang paling mempengaruhi agribisnis pada masa mendatang adalah perubahan nilai tukar rupiah. Sebenarnya beberapa tahun belakangan ini agribisnis sudah dirugikan dengan kebijakan nilai tukar rupiah yang artifisial kuat. Dengan kebijakan itu desakan impor akan makin menguat dan tak mengherankan jika beberapa tahun belakangan ini kita dibanjiri produk pangan impor. Agribisnis dalam negeri jadi korban kebijakan yang bias melalui nilai tukar rupiah yang artifisial kuat untuk membantu sektor non-agribisnis.

Dalam kaitan dengan nilai tukar mata uang ini, agribisnis bisa kita kelompokkan menjadi:  agribisnis pengekspor, agribisnis pengimpor, agribisnis yang kadang-kadang mengimpor dan mengekspor. Dengan nilai tukar rupiah melemah ini kita masuk agribisnis pengekspor yang sebagian besar produsen akan mendapat ‘durian runtuh’, terutama produk orientasi ekspor, seperti sawit, karet, kakao, kopi, dan teh. Kebalikannya terjadi pada komoditas impor, seperti beras, jagung, kedelai, gula, garam, dan sapi akan berkurang. Itu artinya bila impor berkurang dan harga naik, maka produksi dalam negeri akan meningkat. Dan secara umum harga produk agribisnis cenderung meningkat di masa akan datang.

Jadi agribisnis pada 2014 akan memberi kesempatan bagi komoditas ekspor dan substitusi impor. Tergantung pada pelaku agribisnis, petani dan pengusaha, memanfaatkannya. Kita berharap pemerintah tak membuat kebijakan yang bertentangan dengan prospek yang lebih baik buat agribisnis yang sudah lama menderita.

Untung Jaya    

Tanaman Pangan

Mei 12, 2011 pukul 12:23 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar
BATAN HASILKAN 20 VARIETAS PADI NUKLIR

Padi iradiasi nuklir

Padi iradiasi ini diklaim genjah (berumur pendek), tahan hama dan berproduksi tinggi. Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) terus berupaya menambah varietas padi unggul melalui teknologi nuklir setelah Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi kelompok pemuliaan tanaman mengantongi 20 sertifikat varietas padi. Puluhan varietas tersebut diklaim punya umur produksi lebih singkat, kuantitas panen tinggi, dan tak mudah rontok oleh serangan hama. “Di tengah kondisi Indonesia yang sedang Klikdilanda banyak bencana, teknologi nuklir menjanjikan hasil yang baik untuk mengatasi persoalan gagal panen padi,” kata Sofrizal, Peneliti Kepala pada Kelompok Pemiliaan Tanaman untuk padi di BATAN. Ia mencontohkan varietas Si Denok dan Mugibat, yang diklaim mampu menghasilkan hingga sembilan ton per hektar, kini banyak diburu petani.

Apalagi setelah muncul sejumlah laporan bahwa varietas ini mampu bertahan saat satu daerah diserbu wabah penyakit. Hama seperti wereng dan sundep adalah momok klasik petani terutama setelah lewatnya musim hujan. Padi yang selamat dari terjangan air, belum tentu bertahan dari serbuan hewan perusak bulir padi muda itu. “Banyak permintaan benih untuk Si Denok ini. Apalagi setelah muncul juga laporan rasanya sangat enak,” tambah Sofrizal.

‘Beda’ dengan GMO

Di fasilitas rumah kaca milik BATAN di Pasar Jumat, Jakarta Selatan, peneliti Ita Mahyani tengah mendalami upaya memuliakan padi Barak Cendana.

Padi iradiasi nuklir

Selain 20 varietas padi, BATAN juga menggunakan teknik iradiasi untuk kedelai.

“Berasnya merah, tanamannya tinggi, umurnya 190 hari,” kata Ita yang sudah puluhan tahun terlibat dalam penelitian ini.

Barak Cendana dipilih karena sangat digemari di Tabanan, Bali tetapi posturnya yang mencapai dua meter ditambah umur tanamnya yang lebih dari enam bulan membuat petani enggan menanam.

Di tangan peneliti seperti Ita dan kawan-kawan, beberapa batang Barak Cendana generasi awal yang sudah dimuliakan nampak mulai tumbuh lebih pendek, dengan umur panen yang menurutnya sudah turun menjadi 120 hari.

Padi iradiasi nuklirMeski petani masih alergi soal teknologi nuklirnya, menurut Sofrizal, benihnya banyak dicari. “Masih dalam umurnya, tentu kita maunya lebih genjah (cepat panen), batangnya pendek juga tahan hama, kita masih terus teliti.” Ita dan kawan-kawan boleh berbangga karena dari 20 varietas yang dikembangkan seluruhnya telah ditanam di berbagai lokasi di Indonesia. Atau setidaknya, itu yang diklaim Sofrizal. Berdiri 1995, pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi fokus pada pertanian pangan. Ia mengakui banyak petani yang masih alergi mendengar istilah ‘padi nuklir’ meski BATAN menjamin keamanan produk pertanian hasil penelitiannya. “Yang kita lakukan adalah memanfaatkan iradiasi untuk pemuliaan tanaman. Itu hanya pada generasi pertama. “Sedangkan pengembangan ini dilakukan selama belasan bahkan puluhan generasi, sehingga sisa radiasinya itu sudah sama sekali tak ada,” seru Sofrizal. Menurut peneliti asli Sumatera ini kebanyakan orang masih mencampuradukkan pengertian teknik iradiasi dengan rekayasa genetika (GMO) untuk Klikbibit transgenik. “Itu sama sekali berbeda,” tegas Sofrizal. Selain untuk padi, teknologi nuklir juga dikembangkan untuk kedelai, kapas, sorgum, dan sejumlah tanaman lain termasuk buah dan palawija.

Tanaman Hortikultura

April 12, 2011 pukul 12:28 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

PRODUK HORTIKULTUR INDONESIA MENEMBUS PASAR DUNIAPRODUK HORTIKULTUR INDONESIA MENEMBUS PASAR DUNIA

Pasar bebas merupakan tantangan sekaligs peluang bagi produk hortikultura terutama yang berasal dari Indonesia. Namun demikian produk hortikultura dari dalam negeri ini masih sulit menembus luar negeri,
diantaranya karena negara importir sering menghambat masuknya produk melalui kebijakan non tariff barrier. Bahkan menekan import buah import saja masih sering terkendala jumlah dan harga.

M. Gunung Soetopo yang merupakan Sekjen Asosiasi Produsen Benih Hortikultura menilai liberalisasi perdagangan akan menjadi ancaman terhadap produk dalam negeri. Regulasi perdagangan dunia yang diterapkan pada zona tertentu semakin menambah kesulitan produk hortikultura Indonesia masuk ke pasar global. Bahkan ironisnya, usaha kerjasama yang dibuat pemerintah dengan negara maju malah lebih sering dimanfaatkan pengusaha negara lain ketimbang pengusaha dari dalam negeri.

Sebagai negara yang memiliki dua musim sebenarnya potensi Indonesia sebagai penghasil produk-produk unggulan hortikultura hampir saja tidak memiliki pesaing. Artinya bahwa potensi Indonesia sungguh besar, yatu memiliki kekayaan sumberdaya komoditas pertanian yang tinggi serta ketersediaan lahan pertanian yang lebih luas. Variasi topografi dan model demografi untuk mengahasilkan produk yang bervariasi juga terbuka luas.

Kendala yang sering terjadi diantaranya adalah, kontinuitas dan kualitas produk hortikultura yang sering diabaikan oleh produsen hortikultura. Bicara kontinuitas tentu saja produsen atau petani harus memiliki sistem budidaya yang terencana sekaligus memperhatikan berbagai kondisi. Kontinuitas produk hortikultura juga berkaitan langsung dengan konsistensi petani dalam mengusahakan produk hortikultura tertentu atau bahkan lebih spesifik. Tidak mudah berganti-ganti komoditas atau sekedar latah mengikuti tren.

Kualitas produk hortikultura juga masih sering menjadi penghalang terciptanya produk unggul. Sebagian besar petani bahkan masih sering meremehkan penanganan post harvest atau pasca panen. Padahal pasar dunia akan produk hortikultura yang fresh sangat menuntut standar mutu tertentu. Produk jenis ini sangat rentan kerusakan jika dalam penanganan dan pengemasan. Petani dan produsen harus faham teknologi yang digunakan dan harus memperlakukan produk ini spesial.

Menurut Bungaran Saragih yang merupakan Mantan Menteri Pertanian RI pola budidaya hortikultura harus berorientasi pasar. Manajemen pasca panen menjadi penentu kualitas dari produk hortikultura. Hasil produknya wajib memperhatikan ukuran, rasa dan corak sesuai selera pasar. Bungaran berharap dukungan pengusaha bidang hortikultura untuk melakukan kegiatan seperti yang dilakukan pebisnis hortikultura di Thailand. Mereka melakukan dari mulai melakukan eksport, memiliki kargo hingga perbankan. Karena itu, pengusaha di Indonesia harus menjadi koordinator pengembangan agribisnis hortikultura. Kalau motornya masih pemerintah akan sulit.

Perkembangan produksi buah tahun 2011 mencapai 18 ribu ton dengan volume eksport mencapai 223 ton sedangkan volume import mencapai 832 ton. Produksi sayuran tahun 2011 mencapai 10 ribu ton dengan volume eksport mencapai 133 ton sedangkan volume import 1,7 ribu ton.

Dengan melihat angka tersebut, tentunya peran pemerintah masih sangat perlu ditingkatkan. Pemerintah tidak perlu terlalu intervensi di wilayah permainannya petani. Sebab sebagian petani hortikultura lebih mandiri dan kreatif. Dukungan sarana dan prasarana dalam mengakomodir produk petani dan produsen serta menyiapkan sistem kerjasama yang baik dengan pengusaha. Sehingga didalam penciptaan dan penguatan pasar hortikultura tidak saling mencurigai. Membuat pembatasan import produk dan melakukan program serta kampanye peningkatan konsumsi buah atau sayur nusantara juga akan mendorong semangat petani dan produsen. Insentif yang pantas didapatkan oleh petani dan produsen produk hortikultura tidak sekedar uang, namun kenyaman dalam melakukan investasi juga penting.

Semoga sinergi yang dilakukan berbagai pihak untuk mengangkat citra buah dan sayur nusantara tidak hanya untuk pasar domestik namun juga pasar global. Semua piha

http://pertaniansehat.com/read/2012/10/08/produk-hortikultur-indonesia-menembus-pasar-dunia.html#sthash.kjKgpivz.dpuf

Tanaman Perkebunan

April 12, 2011 pukul 12:28 pm | Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar

Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) saat ini menembus di atas US$1.100 per ton.

Pekerja sedang memasukkan minyak sawit (CPO) ke kapal tongkang.

VIVAnews - Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) saat ini mencapai rekor hingga menembus di atas US$1.100 per ton. Kenaikan harga yang menembus di atas ramalan harga tahun ini sebesar US$800 per ton itu dinilai akibat La Nina yang menekan produsen kelapa sawit.
“Ada masalah dengan supply and demand, pasar bergerak cepat,” kata Bambang Aria Wisena, ketua Bidang Organisasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) di Jakarta, Senin 15 November 2010.Menurut Bambang, terdapat kegagalan panen di Ukraina dan Rusia, sehingga membuat produksi CPO turun. Di Indonesia, iklim yang buruk membuat target produksi meleset di bawah target, sehingga permintaan tinggi tidak didorong pasokan kelapa sawit yang bagus.Saat ini, dia melanjutkan, kelapa sawit menjadi primadona investasi akibat orang mulai kehilangan kepercayaan kepada dolar Amerika Serikat. Apalagi, didorong harga CPO yang melambung tinggi, sedangkan kebutuhan manusia terhadap minyak nabati terus meningkat.

“Kebutuhan dunia mencapai 160 juta ton per tahun minyak nabati, 30 persen di antaranya dipenuhi CPO,” ujar Bambang.

Bambang berharap, melambungnya harga CPO tersebut diharapkan dapat kembali normal seperti harga yang diprediksi sebelumnnya, yaitu US$800 per ton. Jika harga CPO terlalu tinggi, tentunya akan membebani masyarakat dengan mahalnya produk CPO yang ada di pasaran seperti minyak goreng.

Tingginya harga juga membuat banyak industri pengolah CPO melakukan penimbunan, karena ketakutan akan harga yang meningkat. Hal ini tentunya mendorong perusahaan pengolah CPO melakukan spekulasi dan menyebabkan harga semakin tinggi.

“Biasanya, mereka menyimpan basis produksi selama tiga bulan ke depan untuk mengantisipasi melonjaknya harga CPO. Idealnya harga US$800 per ton, karena kalau mahal kasihan juga masyarakat, harga minyak goreng jadi tinggi,” katanya.

Pakai Rupiah

Sementara itu, pengusaha kelapa sawit mendesak pemerintah agar menggunakan mata uang rupiah untuk harga patokan ekspor (HPE) kelapa sawit Indonesia. Selama ini, transaksi harga masih menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat.

Sekretaris Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono, mengatakan, hingga saat ini, HPE kelapa sawit masih menggunakan dolar AS sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Menteri Perdagangan.

Ia berharap, pada Januari 2011, HPE kelapa sawit sudah menggunakan rupiah. “Kami paksa Menteri Perdagangan pada Januari 2011 sudah pakai rupiah sebagai referensi harga nasional,” kata Joko.

Menurut Joko, saat ini, investor mulai kehilangan kepercayaan terhadap dolar AS, sehingga orang mencari instrumen investasi lebih baik dari dolar, salah satunya kelapa sawit.

Selain itu, penggunaan rupiah didorong untuk meningkatkan nilai Indonesia dalam perdagangan kelapa sawit. Sebab, Indonesia merupakan salah satu produsen komoditas sawit terbesar di dunia. Namun, harga masih ditentukan dengan dolar AS dengan patokan World Prices of Coconut Oil di Rotterdam (CIF Rotterdam).

Sementara itu, Bambang Aria Wisena mengaku jika rupiah ingin menjadi referensi harga, harus ada kepercayaan dari pasar dan industri lokal.

“Jika sudah jelas dan transparan, harga akan menggunakan rupiah dan GAPKI dapat berperan dalam menentukan tren pemain CPO seluruh dunia,” katanya. (art)

© VIVA.co.id

Tanaman Hias

April 12, 2011 pukul 12:28 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Tanaman Biofarmaka

April 12, 2011 pukul 12:27 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Peluang Investasi dan Peningkatan Ekspor Tanaman Biofarmaka / Fitofarmaka

Di Indonesia tanaman biofarmaka sangat kaya akan berbagai macam jenis dan speciesnya. Biofarmaka merupakan tanaman herbal yang berkhasiat obat dan juga kosmetika. Indonesia untuk jenis tanaman obat terdapat kurang lebih 30.000 spesies tanaman yang telah dibukukan sebagai tanaman obat, menurut Medical Herb Index. Untuk memacu pengembangan agribisnis berbasis fitofarmaka di tingkat petani, pentingnya peningkatan kemampuan petani dalam hal budidaya tanaman obat. Dalam hal budidaya, pasca panen dan pemasaran juga perlu ditingkatkan dalam upaya memacu pengembangan industri obat tradisional dan kosmetika Indonesia.

Potensi bisnis biofarmaka memiliki prospek bisnis yang cerah untuk peluang pemasaran domestik dan luar negeri. Peluang pengembangan Biofarmaka besar, baik untuk pasar domestik maupun untuk ekspor. Tanaman biofarmaka sebagai pangan fungsional yang potensi pengembangannya cukup besar adalah: temulawak, jahe, kencur dan kunyit, terutama untuk bahan minuman dan obat-obatan.

Hal ini kiranya para pelaku agrobisnis biofarmaka untuk  lebih berupaya lagi didalam mewujudkan potensi biofarmaka menjadi salah satu penggerak pembangunan pertanian melalui mutu dan kontinuitas penyediaan bahan baku. Sebagai contoh produk jamu Indonesia seperti Jamu Nyoya Meneer, Jamu Jago, Jamu Sido Muncul dan sebagainya baik digunakan dan diekspor ke luar negeri dan tidak kalah bersaing dengan produk China dan India. Dalam kesempatan ini peluang prospek bisnis tanaman berbasis biofarmaka masih memiliki peluang yang cerah untuk memenuhi potensi pasar. Sebagai dasar bahan konsumsi obat-obatan untuk pasokan pabrik obat/medicinal factory tentunya memerlukan jumlah untuk bahan baku yang cukup sesuai dengan mutu dan standardisasinya. Untuk itu diperlukan penanganan yang serius bagi petani ataupun pelaku usaha yang bergerak di bidang agrobisnis biofarmaka. Kesempatan ini tentunya yang mendasari untuk menjadi peluang pelaku usaha biofarmaka/fitofarmaka didalam menentukan pasar produk tersebut. Tentunya dapat dilakukan kemitraan dengan petani atau pelaku usaha biofarmaka dengan kesepakatan yang jelas mengenai pasar, sehingga para petani dapat mengetahui pangsa pasar yang jelas dan keadaaan situasi pasar. Dengan demikian prospek dan peluang pasar domestik dan Internasional semakin terbuka lebar apabila keiinginan yang ingin dicapai dari tanaman biofarmaka ini lebih diperhatikan sesuai dengan kebijakan dan strategi pasar yang mau berupaya didalam pengembangannya.

Produksi Tanaman Obat / Biofarmaka Indonesia (000) Ton

Year

Ginger

Galingale

Geater Galingale

Tumeric

Zingiber Aromaticum

Curcuma Aeruginosa

2001

128,436,556

26,153,883

11,112,058

27,195,183

4,794,449

1,662,517

2002

118,496,381

27,933,936

12,848,182

23,993,017

4,530,850

3,040,390

2003

125,386,480

24,588,226

19,527,111

30,707,451

4,684,297

4,490,430

2004

104,788,634

24,298,854

22,609,057

40,467,232

6,025,358

6,174,186

2005

125,827,413

36,292,530

35,478,405

82,107,401

8,896,585

7,724,957

Sources: berbagai sumber sebagai wacana.

Alsintan

April 12, 2011 pukul 12:27 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Pengolahan Tanah

April 12, 2011 pukul 12:27 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

PENGOLAHAN TANAH

Pada bab ini akan dibahas beberapa unsur umum pengolahan tanah dan cara-caranya, termasuk pembahasan singkat mengenai beberapa prinsip dinamika yang diterapkan pada pengolahan tanah. Secara umum belum ada usaha untuk menggambarkan pola atau mekanisme hancurnya tanah.
Sekalipun penelitian dinamika tanah telah dilakukan sejak tahun 1920, kemajuan besar dalam bidang riset ini terjadi baru sejak sekitar tahun 1950, dengan terbitnya sejumlah besar makalah ilmiah. Gill dan Van den Berg telah menganalisa, meringkas dan menyusun hasil-hasil penelitian dinamika tanah yang diterbitkan sampai tahun 1964, serta merumuskan prinsip dan konsep dasar dari hasil-hasil tersebut. Usaha tersebut menghasilkan sebuah buku rujukan setebal 500 halaman yang memberi sumbangan besar terhadap bidang dinamika tanah. Meskipun terdapat kemajuan yang pesat di tahun-tahun terakhir, olah tanah masih jauh dari bentuk ilmu yang eksak. Sekalipun salah satu tujuan utama olah tanah adalah untuk memberikan kondisi lingkungan maksimum bagi pertumbuhan tanaman, kita tidak dapat secara kuantitatif menciri atau mengenali kondisi tanah yang dikehendaki. Gaya yang dikenakan pada suatu alat olah tanah guna menghasilkan suatu efek tertentu pada tanah dapat diukur secara akurat, namun kita tak dapat secara handal menduga efek dari perubahan rancangan alat. Akibatnya, tidaklah mengejutkan bahwa rancangan peralatan olah tanah masih lebih berupa seni ketimbang sains.
Pentingnya optimasi pekerjaan olah dan perbagusan rancangan mesin pengolahan akan terlihat jelas jika ditinjau fakta bahwa di AS saja, diperkirakan lebih dari 225 x 109 ton tanah telah diolah tiap tahunnya. Untuk membajak tanah tersebut satu kali dibutuhkan 2 x 109 liter bensin atau solar. Sepanjang bab ini dipakai 2 pengertian yaitu alat/piranti olah tanah dan mesin/peralatan olah tanah. Alat/piranti olah tanah digawarkan sebagai suatu suku pengerja tanah individual seperti mata bajak, piringan atau mata pendangir. Suatu mesin/peralatan olah tanah terdiri atas satu atau sekelompok alat/piranti, ditambah rangka pendukung, roda, piranti kendali dan pelindung, serta suku bangun dan suku penerus daya lainnya.

A. Capaian Pengolahan Tanah
Olah tanah dapat digawarkan sebagai pengerjaan mekanis terhadap tanah untuk segala macam tujuan. Beberapa capaian olah tanah dalam pertanian ialah :
1. Untuk memperoleh struktur tanah yang dibutuhkan bagi pertumbuhan benih atau akar. Struktur remah diperlukan guna memungkinkan peresapan yang cepat dan ketahanan terhadap hujan, untuk mendapatkan kandungan dan pertukaran udara yang cukup di dalam tanah, dan untuk memperkecil hambatan terhadap penembusan akar. Sebaliknya, suatu persemaian yang baik umumnya membutuhkan partikel yang lebih halus dan kepadatan yang lebih tinggi di sekitar benih.
2. Untuk mengendali gulma atau untuk menghilangkan tanaman yang berlebih (penjarangan).
3. Untuk menata sisa tanaman. Dari tinjauan pengolahan dan penguraian, sampahan perlu dicampur secara menyeluruh, sedangkan penempatan sampahan di lapisan atas akan mengurangi erosi. Sebaliknya, penutupan yang menyeluruh terkadang diperlukan untuk mengendalikan serangga lewatmusim-dingin atau untuk mencegah hambatan terhadap pengerjaan presisi seperti penanaman atau pendangiran tanaman tertentu.
4. Untuk mengecilkan erosi tanah dengan mengikuti cara semacam pengolahan menurut garis tinggi, pembumbunan dan penempatan sampahan secara tepat.
5. Untuk memperoleh bentuk permukaan yang khas untuk pengerjaan penanaman, pengairan, drainase, panen, dan sebagainya.
6. Untuk membenamkan dan mencampur pupuk, pestisida atau bahan tambahan ke dalam tanah.
7. Untuk melakukan pemisah-misahan. Hal ini dapat berupa pemindahan tanah dari satu lapis ke lapis lainnya, penghilangan batu dan barang-barang asing lain, atau pemanenan umbian.

B. Metoda Pengolahan Tanah
Pengerjaan olah tanah untuk persiapan tanam sering dikelompokkan menjadi pertama dan kedua, sekalipun batasnya tidak selalu jelas. Pengerjaan olah tanah pertama meliputi pengerjaan penggarapan tanah awal dan utama. Pengerjaan tersebut umumnya dirancang untuk menurunkan kekuatan tanah, menutup bahan tanaman dan menata ulang bongkah. Pengerjaan pengolahan tanah kedua dimaksudkan untuk menciptakan kondisi tanah yang lebih halus setelah pengolahan tanah pertama. Bajak singkal merupakan alat yang paling umum digunakan untuk olah tanah pertama, namun bajak piringan, garu piringan tugas berat, bajak gancu, bajak tanah bawah jenis pisau, dan bajak rotari juga dipakai. Bajak singkal dan bajak piringan memotong, melempar dan sedikitnya sebagian membalik tanah. Bajak pahat dan bajak tanah bawah memecah tanah tanpa membaliknya. Berbagai ragam peralatan, termasuk beberapa dari yang disebut di atas digunakan untuk olah tanah kedua dan untuk pendangiran pada saat tanam.
Perhatian yang besar pada tahun-tahun terakhir telah mengarah pada kemungkinan penggunaan alat olah tanah berdaya ganda, yaitu alat yang mendapatkan tenaganya melalui lebih dari satu jalur. Bajak rotari, alat olah tanah bergetar, dan sekop mesin adalah sebagian contohnya. Peralatan tersebut memperoleh sebagian tenaganya dari sumber putar, biasanya alat sadap daya (PTO) traktor. Terkuranginya kebutuhan gaya penarik dan keanekagunaan yang lebih besar dalam mengerjai tanah guna mendapatkan hasil yang diinginkan merupakan 2 alasan untuk mempertimbangkan jenis alat yang lebih kompleks tersebut. Jika kebutuhan gaya penarik dapat dikurangi dengan memanfaatkan sebagian dari keluaran traktor melalui jalur non traksi, traktor dapat dibuat dengan masa yang lebih kecil, sehingga akan mengurangi harga serta mengurangi pemadatan tanah.
Bajak rotari membutuhkan draft rendah, atau malah negatif, namun kebutuhan daya totalnya tinggi dan penghancuran tanahnya bisa berlebihan. Goyangan paksa atau penggetaran suatu alat dapat secara nyata mengurangi kebutuhan daya, namun masukan daya total biasanya tak terkurangi, malahan dapat naik. Sekop mesin, dikembangkan di Eropa, terdiri dari sekop-sekop penggali yang dapat menaikkan dan membalik tanah. Sekalipun layak ditinjau dari kebutuhan energi, namun model-model yang ada sekarang ini secara mekanis kompleks dan umur pakainya kurang.

C. Sistem Olah Tanah Minimum
Para rekayasawan, ilmuwan tanaman dan ilmuwan tanah biasanya sependapat bahwa terlalu banyak dilakukan olah tanah ketimbang yang dibutuhkan untuk memberikan kemantapan diperolehnya pendapatan bersih yang maksimal dari produksi tanaman. Kadang pemadatan tanah yang disebabkan oleh traktor dan peralatan pada suatu pengolahan tanah kedua dapat secara hitungan menghilangkan kerja olah tanah pertama. Pengerjaan olah tanah lebar kontinyu biasanya dirancang untuk membuat persemaian yang bagus, sekalipun derajat penghancuran tanah dan kepadatannya boleh jadi berlebihan bagi pertumbuhan akar yang optimum.
Pada tahun-tahun terakhir telah terjadi peningkatan perhatian terhadap sistem olah minimum sebagai cara untuk mengurangi biaya produksi tanaman larik dan untuk memperbagus kondisi tanah. Olah minimum dapat dikerjakan dengan banyak cara. Capaian utamanya adalah :
1. Mengurangi kebutuhan energi mekanis dan tenaga kerja.
2. Menjaga kelembaban dan mengurangi erosi tanah.
3. Memberikan pengerjaan yang memang diperlukan untuk mengoptimalkan kondisi tanah bagi tiap bagian luasan di suatu lapang (contoh: luasan larikan dan luasan sela larikan).
4. Meminimumkan jumlah lintasan melalui suatu lapang.
Pada beberapa sistem olah minimum, satuan gabungan olahtanam setelah pembajakan, pemahatan, atau olah tanah pertama lainnya, dengan jalur-jalur sempit yang memperoleh pengolahan tanah kedua yang dangkal tepat di depan alat penanam. Tipe gabungan yang lain menghasilkan wilayah atau lajur olah tepat di depan alat penanam pada tanah yang tak diolah, atau pada tanah yang dibajak pada musim sebelumnya. Beberapa bentuk alat gabungan yang akan menghasilkan pengerjaan olah minimum dan penanaman saat ini telah tersedia di pasaran.
Penerapan paling utama sistem olah tanah minimum selama ini adalah pada jagung, sekalipun olah per-bagian telah dipakai secara berhasil pada kapas dan sejumlah tanaman larik lainnya. Jagung olah minimum sering ditanam melalui selapis rumput atau sisa tanaman bijian kecil. Pada sistem yang disebut “tanpa-olah”, suatu kolter (coulter) bergelombang atau alat lain yang sesuai memotong dan mengolah lajur selebar 5 8 cm melewati tunggul-tunggul atau seresah, sementara penanam mengikuti tepat di belakangnya. Di antara pendekatan awal menuju olah minimum pada jagung yaitu a) memadukan pengerjaan pembajakan dan penanaman, b) penanaman pada bekas lintasan roda tepat setelah pembajakan. Karena berbagai alasan, dari kedua metoda ini tak ada yang memperoleh perkembangan lebih lanjut.
Penggulud-penanam pada lapang tak diolah merupakan bentuk olah minimum yang dilakukan pada jagung dan tanaman larik lain di beberapa tempat. Tiap larik ditanam di dasar alur penggulud atau pada lajur datar yang agak ditinggikan di dalam alur pada suatu pengerjaan gabungan. Di dataran rendah pantai Caroline dan Georgia misalnya, berbagai tanaman larik tahunan ditanam pada sisaan tanaman bijian kecil tanpa olah tanah sebelumnya.
Pengalaman menunjukkan bahwa olah tanah minimum, pada kondisi yang sesuai dan dengan tanaman larik tertentu, merupakan cara praktis untuk melestarikan sumberdaya dan mengurangi biaya produksi, biasanya tanpa mengurangi hasil panen. Sistem olah tanah minimum dapat menimbulkan masalah manajemen yang baru, khususnya jika melibatkan adanya sisa tanaman di permukaan tanah. Masalah serangga dapat meningkat sehingga pengendalian gulma kimia yang efektif menjadi pentinglah.

D. Olah Tanah Tunggul Seresah
Tujuan utama olah tunggul seresah ialah untuk mengurangi erosi angin dan air dan untuk mempertahankan kelestarian air dengan mengurangi terjadinya limpasan. Cara tersebut dipakai secara luas di Dataran Besar dan di daerah kering atau semi kering lainnya. Olah tunggul seresah berupa pemotongan akar gulma dan tumbuhan lainnya dan meninggalkan sisa tanaman di atas permukaan atau mencampurkannya ke tanah sedalam beberapa cm. Penempatan sisaan yang tepat tergantung pada jumlah yang ada dan pengerjaan berikutnya. Jumlah sisaan yang banyak pada atau dekat permukaan tanah melindungi tanah namun menimbulkan masalah penanaman (karena penanaman harus menembus lapisan tersebut) dan pada pendangiran jika tanaman larik termasuk dalam rotasi tanamannya.
Bajak tanah bawah khusus tipe pisau telah dikembangkan untuk menghasilkan pengerjaan olah tanah awal maupun berikutnya tanpa memindahkan atau menggeser lapisan olah. Kaki bebek (sweep) bentuk V yang dirancang untuk keperluan ini dapat memiliki lebar potong berkisar dari 0,6 2,4 m. Pisau lurus yang dipasang pada posisi tegak lurus terhadap arah jalan kadangkala dipakai untuk pengerjaan olah permulaan. Juga dipakai penyiang bentuk batang. Pada seresah yang sangat berat yang sebagian sisaannya harus dicampur ke dalam tanah bagian atas beberapa cm, dapat digunakan bajak piringan vertikal dan garu piringan. Pendangir lapang, bajak pahat, garu rotari dan penginjak condong (penginjak seresah) juga dipakai di beberapa tempat. Pada olah tunggul gandum bero musim panas, diperlukan 4 pengerjaan olah dengan selang sekitar 1 bulan untuk mengendalikan gulma.

E. Gawar Istilah Gaya, Tenaga dan Daya
Dalam membahas hubungan gaya dan tenaga olah, mahasiswa perlu akrab secara menyeluruh dengan gawar dan hubungan dasar dalam mekanika. Dalam bab ini akan digawarkan istilah terkait dan konsep tambahan yang dipakai secara khusus berkaitan dengan mesin pertanian.
Gaya ialah setiap penyebab yang merubah atau cenderung merubah keadaan diam atau bergeraknya suatu benda. Sebuah gaya secara lengkap dicirikan oleh besar dan arahnya serta letak garis kerjanya. Satuan dalam sistem SI ialah newton (N).
Pull (gaya penarik) pada suatu alat ialah total gaya yang dikenakan pada alat tersebut dari sebuah mesin penggerak. Pada alat olah tanah, umumnya gaya tersebut bersudut ke atas beberapa derajat dari arah mendatar, dapat terletak pada bidang tegak yang sejajar arah gerak, dapat juga tidak.
Draft ialah suku mendatar dari pull, sejajar dengan arah gerak. Draft samping ialah suku mendatar dari pull, tegak lurus terhadap arah gerak. Draft spesifik ialah draft per satuan luas dari irisan melintang luasan terolah, biasanya dinyatakan dalam newton per cm2.
Torka ialah momen gaya yang cenderung menghasilkan putaran terhadap suatu titik. Torka merupakan hasil kali gaya dengan jejari putaran, dan pada umumnya dinyatakan dalam newtonmeter. Sebuah kopel terdiri dari dua gaya sama besar dan berlawanan arah, sejajar namun tak segaris. Besarnya momen suatu kopel sama dengan hasil kali salah satu gaya dengan jarak tegak antara kedua gaya. Sebuah kopel dapat cenderung untuk menghasilkan putaran terhadap sebarang titik yang terletak pada bidang tempat kedudukan kedua gaya. Jadi torka ialah kejadian khusus suatu kopel dengan pusat putaran torka terletak pada garis kerja salah satu gaya.
Usaha ialah hasil kali gaya pada arah geraknya dengan jarak yang ditempuh gaya tersebut. Satuan umumnya ialah joule. Daya ialah laju berlangsungnya usaha. Satuan umumnya ialah kilowatt. Satu kilowatt ialah 1 kilojoule usaha per detik.Daya Batang Penarik (dbp) dalam hubungannya dengan alat tipe seret/gandengan maupun gendong ialah daya yang nyata dibutuhkan untuk menarik atau menggerakkan alat pada kecepatan yang seragam.
Kilowatt-jam ialah jumlah usaha yang dihasilkan jika daya 1 kilowatt digunakan selama 1 jam.

F. Gaya Yang Bekerja pada Alat Olah Tanah
Seorang rekayasawan berkepentingan dengan gaya-gaya yang bekerja pada alat olah tanah dari sudut pandang kebutuhan daya total, penggandengan atau penerapan mesin penarik yang tepat, perancangan untuk memadainya kekuatan dan ketegaran, dan untuk penentuan bentuk alat serta penyetelannya yang terbaik. Alat olah tanah yang bergerak pada kecepatan tetap terkenai 3 gaya utama atau 3 sistem gaya yang harus berada dalam kesetimbangan. Gaya tersebut yaitu:
1. Gaya gravitasi yang bekerja pada alat
2. Gaya-gaya tanah yang mengenai alat
3. Gaya yang bekerja di antara alat dan mesin penggerak. Jika torka dari transmisi daya rotari tidak dilibatkan, resultan gaya tersebut ialah pull dari penggerak terhadap alat.
Clyde membagi total reaksi tanah ke dalam gaya berguna dan gaya parasit. Gawar gaya tanah berguna ialah gaya yang harus diatasi alat untuk pemotongan, pemecahan dan pemindahan tanah. Gaya parasit ialah gaya (termasuk gesekan dan tahanan guling) yang mengenai permukaan stabilisasi semacam tamping (land-side) atau alas bajak atau pada garit penyangga atau roda. Pada kondisi kerja tertentu dengan alat tertentu, pengemudi memiliki penguasaan yang sedikit pada gaya tahanan tanah berguna, namun baik perancang maupun pemakai memiliki kekuasaan pada gaya parasit.
Jika sebuah alat tidak simetri terhadap bidang tegak membujur yang melalui garis pusatnya, gaya tanah berguna biasanya menghasilkan efek putaran. Dua cara untuk menyatakan reaksi tanah total pada alat olah pada keadaan umum di mana terdapat efek putaran diperlihatkan pada gambar 1.2. Metoda lain yang digunakan oleh beberapa peneliti meliputi:
1. Suatu ulir/pilinan, yaitu sebuah gaya + sebuah kopel pada bidang tegak lurus terhadap gaya.
2. Tiga gaya pada poros yang saling tegak lurus dan tiga kopel pada bidang irisan poros.
3. Tiga gaya pada tiga bidang utama.
Hasil pengukuran gaya dapat secara akurat digambarkan menggunakan masing-masing dari kelima metoda tersebut dan hasil yang dinyatakan dalam satu bentuk dapat dipindahkan ke bentuk lainnya dengan metoda statika. Satu metoda mungkin lebih disukai dibanding lainnya pada situasi tertentu, tergantung pada maksud penggunaan data. Vanden Berg menunjukkan bahwa garis kerja unik resultan gaya tunggal hanya dapat diperlihatkan dengan metoda ulir karena sistem ini menggambarkan kopel minimum.

Lambang-lambang Yang Digunakan dalam Analisa Gaya Pengolahan Tanah Dalam daftar berikut dijelaskan mengenai lambang yang paling sering muncul dalam beberapa bab yang membahas tentang alat olah. Lambang yang lain-lainnya akan diterangkan pada saat dijumpai pada berbagai pasal.
R = resultan seluruh gaya tanah berguna yang bekerja pada alat (Gb 1.1 b). Jika gaya berguna dan parasit tak dapat ditentukan secara terpisah, R mencakup keduanya.
L = suku R membujur atau searah dengan arah jalan (Gb. 1.1).
S = suku R melintang (Gb. 1.1).
V = suku R tegak (Gb. 1.1).
Rh = resultan L dan S (Gb 1.1 a).
Rv = resultan L dan V (yaitu suku R pada bidang tegak-membujur).
a = jarak melintang antara V dan Rh, untuk alat yang memiliki efek putaran (Gb 1.1 a).
Va = kopel yang cenderung memutar alat pada poros membujur (Gb 1.1 b).Q = resultan seluruh gaya parasit yang bekerja pada alat.
Qh = suku Q pada bidang mendatar, meliputi gaya sisi penstabilan dan gaya gesaek membujur penyertanya.
Qv = suku Q pada bidang tegak membujur, meliputi gaya sangga tegak dan gaya gesek membujur penyertanya ataupun tahanan guling.
P = resultan pull yang dikenakan pada alat oleh mesin penggerak.
Ph = suku P pada bidang mendatar.
Pv = suku P pada bidang tegak membujur.
W = gaya gravitasi yang bekerja pada alat, melalui pusat gravitasi.
H = pusat tahanan alat mendatar, ialah titik potong Rh dan Qh atau 2 suku Rh semisal pada garu piringan.
G = titik potong Qv dan resultan W dan Rv. Titik tersebut bisa disebut pusat tahan tegak.
Subskrip x, y, dan z, jika dikenakan pada P dan Q menunjukkan suku gaya pada arah membujur, melintang, dan tegak.

G. Mekanika Olah Tanah
Reaksi tanah terhadap gaya yang diberikan dari alat olah tanah dipengaruhi oleh tahanan tanah terhadap pemampatan, tahanan terhadap geseran, adhesi (gaya tarik menarik antara tanah dengan bahan lain) dan tahanan gesek. Itu semua merupakan sifat dinamika yang hanya mewujud jika ada gerakan tanah. Gaya percepatan bukanlah sifat dinamika tanah namun juga muncul. Nichols telah menunjukkan bahwa gaya reaksi dari seluruh golongan tanah didominasi oleh kelembaban lapisan pada zarah koloid dan dengan demikian secara langsung berhubungan dengan kelembaban tanah dan kandungan koloid.
Tanah dapat digolongkan menjadi plastis dan non plastis. Istilah plastis berarti bahwa tanah tersebut dapat diubah bentuknya dalam kisaran kandungan lengas tertentu, dan akan mempertahankan bentuknya setelah mengering. Tanah pasir dan tanah lain yang mengandung koloid atau lempung kurang dari 15 20 %, umumnya dianggap non-plastis.
Jika tanah plastis diairi sampai jenuh kemudian dibiarkan mengering, akan dilalui tahapan berikut: lekat, plastis, rapuh, dan keras. Tahap rapuh mencerminkan kondisi optimum untuk olah tanah. Pemadatan tanah oleh alat olah tanah dan traktor, yang merupakan masalah serius di beberapa tempat, disebabkan oleh pengerjaan tanah pada saat terlalu basah.
Secara praktis, seluruh alat olah tanah terdiri dari piranti untuk memberikan tekanan kepada tanah, sering dengan memakai bidang miring atau baji. Ketika alat digerakkan maju, tanah pada jalur gerak akan terkena tegangan pemampatan yang pada tanah rapuh akan menghasilkan kerja geseran. Geseran tanah jauh berbeda dibanding geseran pada kebanyakan padatan, sebab pada tanah, reaksinya mungkin meluas sampai jarak yang jauh pada kedua sisi bidang geser dikarenakan gesekan dakhil dan kerja kohesi lapis-lapis lembab.
Kohesi dapat digawarkan sebagai gaya yang akan saling menahan antar zarah yang sejenis. Gesekan dakhil dihasilkan dari saling kunci antar zarah di dalam massa tanah. Kohesi dan gesekan dakhil terkadang dianggap sebagai sifat fisika tanah yang sebenarnya. Pada kenyataannya, keduanya hanyalah parameter geseran sebagaimana ditunjukkan pada persamaan berikut:
g = C + r tan O . . . . . . . . . . (1.1)
di mana
g = tegangan geser pada retakan tanah
C = kohesir = tegangan normal terhadap bidang retakan geseran
O = sudut gesekan dakhil.
Didasarkan pada persamaan di atas, kohesi bisa dirasionalisasikan sebagai tegangan geser dengan beban normal nol. Harga C dan O bisa ditentukan dengan mengukur tegangan geser pada beberapa nilai tegangan normal. Kekuatan geser memiliki pengaruh penting terhadap draft alat olah tanah. Pecahnya tanah karena pemampatan biasanya diakitkan dengan pengurangan volume. Peretakan karena geseran dan peretakan karena pampatan tidak merupakan gejala independen, melainkan terjadi sebagai kerja gabungan. Peretakan atau pematahan tanah dapat juga dijelaskan sebagai aliran plastis tanpa peremukan dan pembentukan permukaan retakan geser biasa. Contohnya ialah “aliran” lempung basah melingkari gagang bajak tanah bawah saat alat tersebut melewati tanah.
Pemotongan tanah bisa digawarkan sebagai kerja pengirisan yang tidak menghasilkan retakan utama lainnya semacam geseran. Keadaan di mana pemotongan murni dapat terjadi ditentukan oleh perwatakan tanah dan kandungan lengas serta kadang-kadang oleh derajat pengurungan. Pada banyak pengerjaan olah, pemotongan merupakan kerja independen yang tak tergawarkan secara jelas.
Gesekan dan Adhesi
Semua pengerjaan olah tanah meliputi kerja gelinciran tanah pada permukaan alat. Gesekan tanh dengan alat yang memiliki permukaan singgung yang luas akan menghasilkan suku kebutuhan daya yang perlu diperhitungkan. Gesekan juga terlibatkan ketika dua badan tanah yang tegar saling bergerak antar keduanya. Gejala ini dibedakan dari gesekan dakhil yang terdapat pada persamaan 1.1. Kecuali jika melibatkan beban normal atau kecepatan yang besar, gesekan badan tegar tanah terhadap tanah biasanya dianggap mengikuti hukum gesekan sederhana, di mana
di mana
u = koefisien gesek (tanah terhadap tanah)
F = gaya gesek yang menyinggung permukaan
N = gaya normal (tegaklurus permukaan)
O = sudut gesek.
Pada hubungan yang diidealisasi ini, u independen terhadap beban normal, luasan singgung, dan kecepatan gelincir.
Gesekan tanah pada alat pengolah biasanya terjadi antara tanah dan baja, namun kadangkala terjadi antara tanah dan plastik (misalnya pada mata bajak yang dilapis plastik). Jika tanah menggelincir di atas logam, gaya adhesi antara tanah dan baja memberi pengaruh yang besar terhadap gaya gesek. Gaya adhesi terutama bersumber dari lapis-lapis lembab dan besarnya berubah sesuai kadar lengas. gaya adhesi berefek menaikkan beban normal (tegak lurus) pada permukaan, sehingga menaikkan gaya gesek singgungnya. Dikarenakan tak mungkin memisahkan efek kedua suku, yang biasa dilakukan pada pengujian laboratorium ialah menggambarkan efek gabungannya yang diberi nama “koefisien gesek nyata”, yang dicirikan sebagai u’ (untuk membedakannya dari u pada persamaan 1.2).
Hubungan umum antara gesekan tanah-logam dan kandungan lengas tanah, sebagaimana diterangkan oleh Nichols, diperlihatkan pada gambar 1.2. Pada fasa gesek, gaya adhesinya kecil dan koefisien geseknya sangat tak bergantung pada kandungan lengas. Tanah pada kondisi rapuh biasanya memiliki kadar lengas di dalam kisaran ini. Pada fasa adhesi, lapis lembab terbentuk di antara zarah tanah dan logam, sehingga tercipta gaya adhesi yang menyebabkan koefisien gesek naik secara cepat mengikuti kenaikan lengas. Jika tanah memiliki lengas yang cukup untuk bekerja sebagai pelumas, koefisien gesek turun ketika ditambahkan lebih banyak air.
Kadar lengas peralihan antar fasa naik dengan naiknya kandungan lempung, lebih tinggi pada tanah lempung dibanding pada tanah pasir. Koefisien gesek nyata lebih tinggi pada tanah lempung dibanding pada tanah pasir. Kisaran khas untuk tanah pada baja halus yang dilicinkan secara biasa, sebagaimana dilaporkan oleh berbagai peneliti, ialah 0,2 0,5 untuk tanah pasiran, 0,3 0,65 untuk tanah geluh, dan 0,35 0,8 untuk tanah lempung. Porsi yang lebih rendah dari masing-masing kisaran menunjukkan harga dalam fasa gesek.
Macam dan kehalusan bahan yang bergesekan dengan tanah mempengaruhi koefisien gesek nyata. Bahan semacam teflon, yang tahan pembasahan, tidak membentuk gaya adhesi yang besar terhadap tanah, sehingga menghasilkan koefisien gesek nyata yang jauh lebih rendah (Gb. 1.3).
Beberapa peneliti menemukan bahwa koefisien gesek nyata tanah-logam menurun ketika beban normal besar, khususnya pada lempung lembab dan geluh lempungan.

H. Penentuan Watak Kekuatan Tanah Lewat Ketahanan Tembus
Kekuatan tanah ialah kemampuan atau kapasitas tanah pada kondisi tertentu untuk menahan atau menyangga gaya yang dikenakan. Ketahanan tembus ialah parameter gabungan yang meliputi beberapa sifat tanah independen namun biasanya dipandang mencerminkan kekuatan tanah. Untuk mengukur kekuatan tembus, alat ukur sederhana yang dikenal sebagai penetrometer ditekankan ke tanah, dan gayanya diamati dalam kaitannya dengan kedalaman penembusan. Pembacaan gaya penetrometer per satuan dasar luas irisan melintang menghasilkan petunjuk kekuatan relatif berbagai tanah dan keseragamannya terhadap kedalaman pada kondisi tanah tertentu.
Rekomendasi ASAE R313, dibuat tahun 1968, memberikan cirian dimensi untuk dua ukuran baku penetrometer kerucut yang ditawarkan, yang juga mencakup metoda tatacara memperoleh pembacaan. Penerbitan dan penerimaan umum terhadap rekomendasi ini telah sangat mempertinggi kebergunaan data penetrometer.

I. Pengikisan Tanah
Kepengikisan merupakan sifat dinamika tanah yang lebih memberi efek kumulatif ketimbang efek serta merta. Ketika sejumlah besar tanah menggelincir di atas permukaan alat olah, aus karena pengikisan dapat merubah ukuran, bentuk, atau kekasaran alat yang cukup untuk membuatnya tak efektif, terutama jika tekanan tanah terhadap alat tinggi. Watak atau kondisi tanah yang mempengaruhi kepengikisan antara lain ialah: kekerasan, bentuk dan ukuran partikel tanah, kepadatan yang menahan partikel dalam massa tanah, dan kandungan lengas tanah. Ketahanan kikis logam terpengaruhi terutama oleh komposisi bahannya dan kekerasan, kekuatan, dan kekasarannya.
Pelapisan atau penyepuhan dengan logam campuran yang khusus yang tahan kikis sering diberikan pada tepi pemotong alat olah tanah untuk menurunkan laju aus, khususnya guna pemakaian pada tanah pasir atau tanah geluh pasiran. Proses ini dikenal sebagai pengerasan muka. Pengerasan muka bahan dengan komposisi berbeda tersedia untuk kondisi kombinasi kikis dan bentur tertentu. Bahan tersebut, yang dijual dengan berbagai nama dagang, sangat keras dan sebagian di antaranya cukup getas. Bahan tersebut biasanya campuran krom-kobalt-tungsten yang tak berbesi, atau campuran besi karbon tinggi yang mengandung unsur semacam krom, tungsten, mangaan, silikon dan molibden. Bahan tersebut diberikan pada kejen bajak, mata bajak tanah bawah, pendangir pahat, dan alat olah tanah lainnya dengan memakai las busur listrik atau las karbit.

J. Faktor-faktor Rancangan Alat Olah Tanah
Capaian penggunaan alat olah tanah ialah untuk mengerjai (mengubah, memindahkan, atau membentuk) tanah sebagaimana dikehendaki untuk memperoleh kondisi tanah tertentu. Tiga faktor rancangan abstrak yaitu kondisi awal tanah, bentuk alat, dan cara gerak alat akan mengendalikan atau menentukan pengolahan tanahnya. Hasil dari ketiga faktor masukan independen tersebut ditunjukkan oleh dua faktor keluaran yaitu kondisi akhir tanah dan gaya yang dibutuhkan untuk mengolah tanah. Kelima faktor tersebut seluruhnya berkaitan langsung dengan kepentingan perancang peralatan olah tanah.
Dari ketiga faktor masukan, perancang hanya memiliki kekuasaan yang penuh terhadap bentuk alat. Pengguna mungkin mengubah-ubah kedalaman atau kecepatan pengerjaan dan mungkin juga memakai alat untuk berbagai kondisi awal tanah, Bagaimanapun bentuk alat tak dapat ditinjau terpisah dari cara penggerakannya atau kondisi awal tanahnya. Orientasi bentuk alat yang berkaitan dengan arah jalan mestilah ditentukan. Kondisi tanah awal yang berbeda kadangkala membutuhkan bentuk yang berbeda. Contohnya, banyak bentuk bajak singkal yang berbeda yang dibuat untuk jenis dan kondisi tanah yang berbeda.
Bentuk yang perlu diperhatikan dalam rancangan ialah permukaan tempat tanah bergerak di atasnya saat alat olah tanah dipergunakan. Gill dan Vanden Berg menggolongkan 3 perwatakan bentuk: bentuk makro, bentuk tepi, dan bentuk mikro. Istilah bentuk makro menunjuk pada bentuk permukaan secara garis besar, sedangkan bentuk tepi menunjuk pada bentuk tepi luar dan irisan melintang pada batas permukaan pengerja tanah. Bajak piringan yang bertakik dan yang halus mamiliki bentuk tepi yang berbeda namun bentuk makronya dapat sama. Bentuk mikro menunjuk pada kekasaran permukaan.
Kebanyakan bentuk alat olah tanah dibuat dengan cara potong dan coba, atau berdasar analisis kualitatif. Hubungan bentuk dengan kerja pengolahan tanah telah memperoleh perhatian terbesar pada pengembangan mata bajak singkal, sedangkan hubungan antara bentuk dan gaya memperoleh perhatian pada pengembangan alat tanah bawah dan alat jenis pahat. Penggambaran bentuk secara matematika merupakan cara penggambaran yang paling serbaguna, namun alat semacam bajak singkal memiliki bentuk yang kompleks sehingga tak dapat secara mudah digambarkan dalam bentuk matematika. Penggambaran secara grafik sering telah dicoba dan penggunaan analisis komputer untuk bentuk mata bajak terus meningkat.
Bentuk tepi pemotong dapat mempengaruhi draft di samping mempengaruhi suku gaya tanah tegak dan menyamping. Contohnya, lempeng piringan yang diasah pada sisi cekungnya akan menembus tanah lebih gampang dibanding lempeng yang diasah pada sisi cembungnya. Kejen yang telah aus akan mengurangi gaya V tegak arah ke bawah, dan cenderung menyebabkan pemadatan tanah dan kadangkala nyata-nyata menaikkan draft.
Kekasaran permukaan tempat meluncurnya tanah (bentuk mikro) mempengaruhi gaya gesek. Kekasaran permukaan berkaitan dengan penghalusan awal dan pengaruh aus-kikis serta dapat terjadi secara lokal karena karat, goresan ataupun tekanan kecil. Tahanan gesek dapat menyita sampai 30 % dari draft total bajak singkal. Bentuk mikro dapat pula memiliki pengaruh yang penting terhadap unsur lain pergerakan tanah, semisal pembilasan. Faktor yang mempengaruhi pembilasan akan dibahas pada bab 2 dikarenakan watak kinerja tersebut berkaitan terutama dengan bajak singkal.
Cara bergerak alat meliputi arah, lintasan melalui tanah dan kecepatan. Untuk alat yang bergerak lurus (yaitu yang bukan rotari atau bergetar), tapak kerja tersebut biasanya dicirikan dengan semata menentukan kedalaman dan lebar potong. Arah alat yang mempunyai bentuk tertentu dapat secara nyata mempengaruhi baik pengerjaan tanah maupun gaya. Seringkali sistem persambungan yang dipakai untuk menempatkan alat mempengaruhi baik kedalaman maupun arahnya. Jika tersedia daya yang cukup, kecepatan merupakan faktor rancangan yang paling mudah diubah-ubah. Menaikkan kecepatan umumnya akan menaikkan draft, namun juga mempengaruhi pergerakan dan pemecahan tanah.

K. Pengukuran dan Penilaian Kinerja
Sebagaimana telah dibahas di depan, gaya alat dan perubahan kondisi tanah adalah dua unsur dasar kinerja alat olah tanah. Alat tersebut harus mampu mengolah tanah sebagaimana yang diperlukan dengan masukan tenaga yang sekecilnya, dan kondisi akhir tanah harus mampu mendekati kondisi yang dikehendaki. Sistem gaya yang bekerja pada alat olah tanah dapat digambarkan secara matematika dan gaya-gaya tersebut dapat diukur. Namun penghitungan kinerja secara kuantitatif sulit karena belum ada cara yang dapat secara memadai memaparkan kondisi tanah, atau yang dapat menciri kondisi yang dibutuhkan untuk kegunaan termaksud.
Tiga unsur kondisi tanah akhir yang perlu diperhatikan tergantung pada fungsi atau tujuan pengerjaan olah tanah tertentu ialah
1. derajat pemecahan tanah,
2. kehalusan ukuran bongkah tanah dalam hubungannya dengan kedalaman, dan
3. keseragaman pengadukan sampai kedalaman oleh.
Pemecahan tanah dapat diukur dengan pengayakan contoh tanah yang mewakili keseluruhan kedalaman olah. Gill dan Vanden Berg menjelaskan tentang ayakan putar yang dirancang untuk keperluan tersebut. Hasilnya dapat dinyatakan dalam besaran agihan ukuran butir tanah aktual, diameter rata-rata massa, atau modulus penghancuran
Penghalusan ukuran bongkah tanah, mungkin dengan bongkahan yang lebih besar terletak pada bagian atas dekat permukaan, sering diperlukan, namun kadang tak diperlukan pada situasi lain. Banyak jenis alat olah yang memiliki efek seperti itu, dengan derajat yang berbeda-beda. Pengayakan lapis-lapis tanah secara sendiri-sendiri merupakan cara untuk mengukur kinerja penghalusan bongkah dari suatu alat olah tanah.
Seringkali capaian olah tanah adalah untuk mencampur tanah agar diperoleh agihan bongkah atau lengas secara seragam. Bisa juga pemberian bahan seperti pestisida atau pupuk memerlukan pencampuran dengan tanah secara merata. Keseragaman pencampuran dapat dinilai dengan menempatkan bahan pelacak di permukaan tanah kemudian mengamati penyebarannya setelah olah. Bahan berupa bubuk, bahan radioaktif, bahan berpendar, zat warna yang kepekatannya dalam contoh tanah dapat diukur secara spektrofotometri, dan natrium atau kalium klorida telah dicoba untuk keperluan tersebut.
Penilaian kinerja olah tanah juga mencakup pembandingan kondisi tanah akhir aktual dengan kondisi yang dibutuhkan. Kondisi yang dibutuhkan seluruhnya ditentukan oleh maksud kegunaan tanah olahan. Tingkat kedekatan kinerja fungsional, jika dianggap berada di bawah patokan yang dikehendaki, mungkin akan diperhadapkan dengan pertimbangan ekonomi dan faktor-faktor lain. Kinerja juga mencakup kapasitas lapang dan efisiensi pemakaian tenaga, yang harus dipertimbangkan pada saat membandingkan 2 alat atau lebih. Penempatan sisaan tanaman dan derajat pencacahannya merupakan faktor lain yang kadang mesti dipertimbangkan.
Untuk menghitung efisiensi penggunaan tenaga, pada alat pertanian yang guna utamanya untuk pemecahan tanah, tenaga setara yang dibutuhkan untuk memperkecil ukuran bongkah harus diukur lewat percobaan. Caranya ialah dengan menerapkan tenaga ke tanah dengan cara yang bisa dikendalikan dan mengukur efeknya dalam besaran ukuran bongkah. Gill dan McCreery membuat cara jatuh-remuk yaitu contoh tanah dijatuhkan dari ketinggian tertentu ke atas permukaan tegar lalu tenaga kinetik yang hilang untuk penjatuhan dihubungkan dengan diameter rerata massa yang dihasilkan. Penjatuhan lebih lanjut terhadap bongkah besar yang tertinggal menghasilkan hubungan antara diameter rerata massa dengan tenaga kinetik total yang dibutuhkan (Gb. 1.4).
Pada cara penghitungan masukan tenaga setara yang lain, tenaga untuk meremukkan tanah dikenakan dengan penekanan lambat, dengan memukul tanah dengan piranti bandul atau dengan memutar bilah yang mirip rotari-tiller. Tak satupun dari cara tersebut yang dapat mengukur tenaga mutlak yang dibutuhkan untuk penghancuran tanah, karena mekanisme pecahnya tanah bisa berbeda dibanding jika diolah dengan alat olah tanah yang sebenarnya. Cara yang berbeda tidak perlu memberi hasil yang sama. Untuk masing-masing kondisi tanah yang berbeda, harus dilakukan uji tersendiri. Sekalipun demikian, cara-cara tersebut merupakan cara yang banyak manfaatnya untuk membandingkan hasil dari berbagai pengerjaan olah tanah.
Untuk menilai pekerjaan olah dalam besaran penggunaan tenaga, masukan tenaga olah aktual per satuan volume dihitung terhadap draft terukur, lebar potong dan kedalaman potong. Masukan tenaga setara dihitung dengan salah satu di antara berbagai cara yang dijelaskan di muka, dibagi dengan masukan tenaga olah aktual untuk memperoleh nisbah nirmatra yang mungkin bisa dinamakan sebagai faktor pemanfaatan tenaga. Faktor tersebut tidak menggambarkan efisiensi olah secara ketat, karena acuan masukan tenaga setara bukan minimum mutlak.

L. Pengukuran Gaya Tanah pada Alat Olah
Jika alat dipasangkan pada cabang rangka yang seluruhnya disangga oleh rangka kereta tarik melalui 6 transduser gaya yang arahnya tepat (Gb. 1.5), resultan reaksi tanah dapat dihitung secara lengkap. Kereta penarik tersebut yang biasanya ditarik traktor, menggerakkan alat dengan kecepatan, kedalaman, dan arah yang dikehendaki sementara gaya-gayanya diukur. Untuk mendapatkan hasil yang akurat, diperlukan rel pemandu untuk kereta, untuk mendapatkan lebar dan kedalaman potong yang konstan pada daerah uji.
Dengan susunan seperti itu, dapat diuji alat yang mendapat reaksi tanah gabungan geser dan putar. Gaya parasit dapat dimasukkan dalam reaksi tanah terukur, atau bisa dihilangkan atau dikecilkan dengan penyetelan alat atau dengan meniadakan semua permukaan stabilisasi dan penyangga. Pengaruh gravitasi terhadap alat dapat dihilangkan dari hitungan gaya dengan melakukan pembacaan awal dengan alat terpasang, kemudian hanya mencatat perubahan beban yang disebabkan oleh reaksi tanah. Hasil atau keluaran dari keenam transduser gaya dapat dipadukan ke dalam salah satu dari lima bentuk keluaran.
Pengukuran gaya pada alat pada ukuran sesungguhnya bisa dilakukan dengan kereta uji lapang atau dengan fasilitas laboratorium yang memiliki tanah dalam rinjing besar. Sistem rinjing tanah memungkinkan dilakukannya uji dengan pengendalian yang cermat dan kondisi tanah dan kondisi kerja yang seragam. Susunan tersebut khususnya cocok untuk penelitian dasar dan untuk uji yang berulang yang mencakup pembandingan rancangan atau penyetelan alat yang berbeda pada berbagai kondisi tanah. Secara kuantitatif, hasil uji tersebut tidak perlu mewakili keadaan lapang. Peralatan uji lapang menghasilkan perolehan yang lebih mencirikan kondisi kerja aktual namun terpengaruh oleh keragaman kondisi tanah, bahkan meskipun dalam satu lapang. Hasil uji lapang memberikan dasar yang lebih bagus untuk rancang bangun ketimbang hasil uji di rinjing tanah.
Clyde melakukan banyak terobosan baru dalam pekerjaan analisa dan pengukuran gaya di Universitas Negara Bagian Pennsylvania. Olehnya dibuat kereta uji pada kira-kira tahun 1935 dan memakainya selama beberapa tahun. Pengendalian menyamping kereta ini, yang dinamakannya “pengukur olah tanah”, dilakukan dengan pemasangan roda besi yang dijalankan melalui lekukan rel baja. Kedalaman dikendalikan dengan 2 roda berban karet yang dijalankan di atas tanah bagian yang tak diolah. Penekanan diberikan pada penghitungan tahanan tanah pada kondisi lapang aktual pada tanah yang mudah diolah, pada tanah rata-rata, dan pada tanah yang agak sulit, untuk mendapatkan kisaran kondisi sebagai dasar perancangan dan pelaksanaan kerja olah tanah.
Gill dan Vanden Berg menulis tentang 2 macam dinamometer lapang yang digunakan oleh lembaga penelitian di Eropa. Tak satupun dari keduanya yang menggunakan rel pandu. Alat dari NIAE digendongkan pada traktor dan memiliki krepyak kecil untuk mengendalikan kedalaman. Alat jenis satunya yang terdapat di Jerman dipasangkan pada kereta gandeng beroda tiga. Jika lebar potong harus dikendalikan, seperti pada bajak singkal atau piringan, dua piranti yang sama digendongkan pada kereta gandeng dengan kedudukan yang mirip dengan jika berupa satu set alat, lalu ditambahi dengan piranti belakang. Beberapa pabrik alat pertanian serta lembaga lain di Amerika juga memiliki kereta uji lapang.
Laboratorium Peralatan Olah Tanah Nasional milik USDA di Auburn, Alabama, merupakan pusat penelitian dinamika tanah yang terkenal, memiliki rinjing-rinjing tanah dan telah digunakan sejak tahun 1936. Laboratorium tersebut memiliki 9 rinjing lapang dan 2 rinjing ruang, yang di dalamnya dapat dijalankan roda, krepyak, gandengan, dan peralatan olah dengan ukuran sebenarnya. Masing-masing rinjing memiliki lebar 6,1 m, tinggi 0,6 atau 1,5 m dan panjang 58 atau 76 m. Komposisi mekanika tanah berbeda-beda mulai tanah pasir sampai tanah lempung. Dari tanah tersebut dipilih untuk memperoleh kisaran perwatakan tanah yang lebar. Rel di atas dinding di antara rinjing digunakan untuk bertumpunya roda dan semua penumpu dari kereta uji. Tersedia peralatan untuk pemadatan, penggerusan, pengadukan, perataan, atau penyemprotan tanah, dan untuk melindunginya dari cuaca. Kereta penarik menarik kereta alat dan dapat dijalankan pada kecepatan 3 16 km/jam.
Beberapa pabrik alat pertanian, beberapa balai penelitian pertanian di negara-negara bagian dan Laboratorium Peralatan Olah Tanah Nasional memiliki rinjing tanah kecil yang diletakkan dalam ruangan, yang dipergunakan terutama untuk penelitian berskala model atau untuk bentuk piranti olah yang sederhana. Jumlah fasilitas tersebut selalu bertambah. Kadang-kadang alat digerakkan melintasi rinjing diam yang panjangnya 6,1 18,3 m, ada juga yang alatnya diam, sedangkan tanahnya dijalankan dalam palung berbentuk cincin yang diputar, dalam rinjing pendek yang dijalankan lurus, atau di atas sabuk yang bergerak.
Kebanyakan, jika bukannya semua, alat uji yang terdapat sekarang menggunakan transduser penara regangan (straingage). kecepatan maju biasanya diukur dengan generator tachometer yang menghasilkan sinyal listrik yang dapat dimasukkan dalam satu saluran pada piranti yang sama dengan yang digunakan untuk transduser gaya. Biasanya dipakai 8 saluran osilograf, 4 saluran pita magnetik perekam, dan perekam x-y. Setidaknya di satu tempat, seluruh sinyal keluaran transduser dimasukkan langsung ke dalam komputer analog yang mengolah seluruh data selama pengujian.
Ketika mempelajari satu suku atau bagian khusus dari alat, sering diperlukan untuk mengisolasi suku tersebut dan mengukur hanya gaya yang bekerja padanya. Contohnya, kejen bajak singkal dapat disangga dari belakang dengan 2 batang julur (kantilever) yang secara bangun memisahkannya dari bagian mata bajak lainnya namun masih menempatkannya pada posisi fungsionalnya yang benar. Penara regangan dapat dilekatkan pada balok penyangga untuk mengukur satu atau lebih suku gaya atau untuk mengukur sistem gaya selengkapnya pada kejen. Untuk menghitung sistem selengkapnya dibutuhkan 6 pengukuran gaya, yang pada contoh tadi berupa gaya sumbu dan momen lengkung pada 2 arah tegak lurus pada masing-masing balok. Kadang-kadang transduser gaya dapat dilekatkan langsung pada suku bangun yang secara normal menopang piranti atau suku alat.
Jika penghitungan gaya dilakukan dengan cara pengukuran momen lengkung, momen tersebut perlu diukur pada 2 bagian dari balok untuk menentukan secara akurat gaya normal yang bekerja padanya. Kedua bagian tersebut harus terletak berjauhan (agar diperoleh tanggapan yang maksimum) dan irisan melintangnya mesti identik. Rangkaian jembatan disusun sedemikian sehingga perbedaan di antara kedua momen dapat terukur. Setiap momen yang berasal dari suku gaya eksentrik yang sejajar terhadap poros balok akan terhapuskan pada pembacaan transduser, dikarenakan momen semacam itu akan mempunyai besar yang sama sepanjang balok. Gaya sumbu tidak menghasilkan tanggapan, karena pengaruhnya terhadap kedua penara sama besar.

M. Pengukuran Draft Peralatan Tipe Tarik
Sebagaimana digawarkan pada pasal 6, draft ialah bagian dari pull yang arahnya sejajar arah gerak. Piranti tersederhana untuk mengukur pull ialah dinamometer pegas (dengan bagian utamanya berupa pegas besar yang dihubungkan dengan jarum penunjuk) yang disambungkan di antara batang penarik traktor dan titik penggandengan pada peralatan olah, dan dibaca secara langsung. Dikarenakan adanya fluktuasi beban yang terjadi secara cepat, dinamometer semacam itu hanya cocok untuk pengukuran secara kasaran. Dinamometer hidrolik, yang menyalurkan tekanan ke manometer bourdon yang telah dikalibrasi dalam satuan gaya, lebih mudah digunakan dibanding dinamometer pegas, karena fluktuasi gaya dapat diredam cukup bagus dengan menggunakan cairan yang kental atau dengan diperlengkapi dengan penghambat aliran pada saluran cairannya. Beberapa dinamometer hidrolik merekam pull di atas kertas grafik yang digerakkan dari roda tanah.
Dinamometer penara regangan sering digunakan untuk mengukur pull batang penarik. Ada beberapa ragam susunan yang digunakan, namun biasanya penara regangan mengukur pada rangka yang terkena momen lengkung. Dengan meletakkan penara pada tempat yang berlawanan sehingga mendapat tarikan dan tekanan, dihasilkan tanggapan maksimum serta penyederhanaan kompensasi suhu. Transduser gaya tipe cincin yang susunan penara regangannya seperti terlihat pada gambar 1.6, mempunyai kepekaan bagus terhadap gaya tarik atau tekan sumbu sedangkan tanggapannya tidak terpengaruh oleh beban bengkok keseluruhan.
Untuk mendapatkan gambaran lengkap dari draft alat dan kebutuhan daya, perlu dilakukan pengukuran kecepatan dan lebar serta kedalaman olah di samping penghitungan draft. Karena adanya fluktuasi yang lebar dalam hal draft dan kondisi tanah, bahkan pada satu lintasan yang pendek, perlu dibuat grafik pull terhadap jarak tempuh. Pengintegralan luasan di bawah kurva tersebut akan menghasilkan usaha total dan pull rerata. Kecepatan dapat dihitung dengan mengukur waktu tempuh sepanjang jarak tempuh, yang telah diukur atau yang secara otomatik tercatat, atau dengan generator tachometer yang digerakkan dari roda tanah.
Jika dinamometer biasa disambungkan langsung pada persambungan antara peralatan dan traktor, gaya yang terukur menunjukkan total pull bukannya suku draft. Dalam hal itu sudut tegak antara garis pull dengan arah mendatar dan sudut datar antara garis pull dan arah gerak harus diukur sehingga draft dapat dihitung dari pull. Zoerb menulis tentang dinamometer penara regangan sambung langsung yang penaranya dilekatkan pada poros tegak yang ditopang oleh 2 bantalan bola (yang bekerja sebagai balok sederhana) dengan susunan sedemikian sehingga penara hanya akan mengukur suku draft dari pull. Dengan mencatu rangkai jembatan penara regangan tersebut dari tegangan yang berasal dari generator tachometer, dapat diperoleh pembacaan daya secara langsung.
Darft bajak umumnya dinyatakan dalam newton per cm2 irisan olah. Draft semacam ini digawarkan dalam pasal 1.6 sebagai draft spesifik. Pada beberapa alat, misalnya penanam, dapat dipakai satuan kilonewton per larik. Untuk kebanyakan peralatan olah tanah lain, draft biasanya dinyatakan dalam kilonewton per meter lebar, kadangkala juga dengan menerangkan kedalaman olahnya. Kisaran khas draft peralatan disajikan pada tabel 1.

N. Pengukuran Gaya Gandeng pada Peralatan Gendong dan Semi Gendong
Draft dapat diukur dengan pemasangan penara regangan pada sisi depan dan belakang pada pasak melintang yang dijulurkan, yang menyangga ujung depan sambungan pada gandengan 3 titik. Balok sederhana, bukannya balok julur, dapat dipakai pada titik gandengan atas. Empat penara pada setiap penumpu ditempatkan secara akurat sedemikian sehingga dapat menangkap hanya momen lengkung pada bidang yang mendatar. Pembacaan tunggal untuk draft dapat diperoleh dengan menyambungkan keluaran dari ketiga rangkai jembatan (satu rangkai per penyangga) secara sejajar, atau dengan menyambungkan semua penara ke dalam satu rangkaian jembatan. Pengukuran perbedaan antara momen lengkung pada 2 bagian untuk masing-masing balok penyangga, sebagaimana diterangkan pada pasal 1.5, menghilangkan pengaruh momen yang disebabkan oleh gesekan dalam sambungan bantalan bola. Scholtz mengecilkan pengaruh gesekan bantalan bola dengan membuat balok julur gandengan bawah sepanjang 165 mm (terhadap titik pusat bola). Pengukuran momen lengkung hanya dilakukan pada satu irisan pada masing-masing balok.
Sistem pasak-gandengan untuk pengukuran draft hanya cocok jika peralatan tidak disangga sama sekali oleh sambungan pengangkat gandengan, atau jika gaya sambungan pengangkat dan sudutnya terukur. Oleh karena sambungan pengangkat tidak tegak (Gb 1.7), setiap gaya yang terdapat di dalamnya akan memiliki suku membujur yang akan mempengaruhi tanggapan dari balok transduser pada gandengan bawah. Gaya pada sambungan pengangkat dapat diukur menggunakan transduser tipe cincin (Gb 1.6) serta menggabungkannya ke dalam pembacaan tunggal. Sudut gandengan pengangkat pada bidang tegak membujur harus juga diketahui untuk menentukan koreksi terhadap pembacaan draft.
Jika suku gaya membujur, tegak, dan menyamping yang bekerja pada peralatan harus dihitung semua, harus dibuat pengukuran secara bersamaan terhadap
1. gaya sumbu dan momen lengkung pada 2 arah pada kedua gandengan bawah (diukur di bawah gandengan pengangkat),
2. gaya sumbu pada gandengan atas, dan
3. arah ketiga gandengan.
Penara regangan dapat dipasang secara langsung pada gandengan bawah atau pada gandengan langsung yang disesuaikan, yang memungkinkan diperolehnya tanggapan yang memadai pada ketiga arah. Susunan yang lebih peka terdiri atas gandengan khusus yang menyalurkan gaya sumbu dan momen lengkung melalui balok julur yang tegak lurus terhadap poros gandengan, dengan mempergunakan prinsip pengurangan momen lengkung ganda (pasal 1.15) pada masing-masing dari ketiga arah suku gaya. Susunan ini ditunjukkan pada gambar 1.7. Pada gandengan atas, digunakan transduser gaya tipe cincin.

O. Kebutuhan Tenaga dan Pemecahan Tanah
Sebagaimana ditunjukkan pada gambar 1.4, tenaga yang dibutuhkan untuk pemecahan tanah tergantung pada derajat penghancuran yang diinginkan. Jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu tingkat penghancuran tertentu bergantung terutama pada kekuatan tanah dan efisiensi penggunaan tenaga oleh alat. Kekuatan tanah tergantung pada watak alami tanah dan kondisi fisikanya. Tanah lempung memiliki kebutuhan tenaga pecah yang lebih tinggi dibanding tanah pasir atau geluh. Iklim, cara tanam, cara budidaya, dan faktor-faktor lain mempengaruhi kondisi fisika tersebut. Untuk tanah tertentu, kebutuhan tenaga akan bertambah dengan bertambahnya rapat curah, sebagaimana dilukiskan pada gambar 1.8.
Kekuatan dari tanah yang lembab pada awalnya, akan naik secara cepat jika tanah tersebut mengering, khususnya pada tanah lempung dan tanah geluh lempungan, sehingga akan juga meningkatkan kebutuhan tenaga penghancuran. Pada alat yang memiliki permukaan yang luas yang bersinggungan dengan tanah, naiknya gesekan pada tahap adhesi akan menaikkan kebutuhan tenaga jika tanah terlalu basah. Oleh karena itu, penjadwalan pekerjaan olah tanah sedemikian sehingga dapat dilaksanakan pada kandungan lengas optimum dapat merupakan masalah penting dalam kaitannya dengan pengecilan kebutuhan tenaga. Pada daerah kering, pemberian air sebelum olah tanah bisa mengurangi kebutuhan daya dan atau menaikkan derajat penghancuran. Olah tanah kedua hendaknya dilaksanakan sebelum bongkahan tanah memiliki waktu yang cukup untuk mengering.
Kedalaman olah, lebar olah, bentuk alat (termasuk tepi pemotongnya), penyusunan alat dan kecepatan jalan adalah faktor yang dapat mempengaruhi draft dan efisiensi pemanfaatan tenaga pada kondisi tanah tertentu. Pengaruh parameter tersebut berbeda-beda pada berbagai jenis alat yang berbeda dan pada berbagai kondisi tanah yang berbeda. Pada saat menghitung pengaruhnya terhadap draft, pengaruh masing-masing terhadap tingkat penghancuran harus juga dipertimbangkan. Kadang-kadang sedikit penambahan pemecahan tanah dianggap telah cukup memadai untuk menghindari banyak berkurangnya efisiensi pemanfaatan tenaga. Pertanyaan yang harus diajukan kemudian adalah apakah meningkatnya penghancuran tersebut menguntungkan pada situasi tertentu.
Pada bajak gancu, draft spesifik rerata pada olah tanah pertama umumnya menunjukkan peningkatan kecil atau cukupan dengan meningkatnya kedalaman, terutama pada tanah berat. Uji lapang kadang menunjukkan kenaikan besar pada kedalaman di bawah kedalaman olah normal karena adanya keragaman kondisi tanah (misalnya adanya lapisan terpadatkan). Pengaruh kedalaman terhadap draft spesifik bajak singkal dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran, akan dibahas pada bab 2. Penempatan roda, garit, atau piranti samping lain secara tak tepat, yang sehingga mengganggu pola patahan tanah normal, dapat menaikkan draft. Bentuk dan arah alat merupakan faktor penting berkaitan dengan draft. Masalah tersebut akan dibahas pada bab yang menerangkan masing-masing tipe implemen.
Gill dan McCreery melakukan uji pada bagian mata bajak singkal yang lebarnya 51, 102, 152, dan 203 mm, dengan lebar pemotongan 25 sampai 203 mm pada tanah geluh lempung debuan di Laboratorium Peralatan Olah Nasional. Draft spesifik untuk pemotongan 51 mm dan 25 mm ialah 40 % dan 140 % lebih tinggi dibanding rerata untuk pemotongan 102, 152, dan 203 mm. Namun diameter massa rerata bongkah menurun dari 218 sampai 38 mm jika lebar pemotongan dikurangi. Faktor pemanfaatan tenaga, didasarkan pada metoda jatuh-remuk (pasal 1.14) meningkat dari 0,14 pada pemotongan 203 mm sampai 0,65 pada pemotongan 51 mm dan 0,79 pada pemotongan 25 mm. Pengujian terhadap bajak piringan 66 cm dengan pemotongan 25 mm sampai 203 mm menghasilkan draft spesifik yang lebih tinggi pada pemotongan 25 mm dan 51 mm, namun tidak banyak perubahan faktor pemanfaatan tenaga pada seluruh kisaran lebar.
Berbagai pengujian tersebut memperlihatkan prinsip penggunaan potongan kecil pada tanah yang mampat untuk memperoleh fragmentasi maksimum, serta menghasilkan perkiraan bahwa metoda yang paling efisien untuk menghasilkan diameter massa rerata bongkah tertentu ialah dengan mengenakan gaya dengan cara sedemikian sehingga pemecahan tanah terjadi dalam satu langkah sekaligus. Pada cara yang dikerjakan sekarang ini, dipakai cara yang berlawanan, yaitu massa tanah dihancurkan dengan pengerjaan olah tanah yang berturutan. Peralatan yang digunakan pada tanah gembur sering hanya memindahkan bongkah tanpa terlalu banyak menambah tingkat peremukan.
Efek pembajakan yang diikuti oleh 4 kombinasi olah tanah kedua telah diamati pada uji lapang yang dilakukan pada 7 kombinasi tanah dan kondisi tanaman sebelumnya yang berbeda-beda. Pada 4 lapang yang semua olah tanah untuk lapang khususnya dikerjakan dalam perioda 3 jam, diameter massa rerata bongkah tanah setelah pembajakan berkisar antara 33 mm 61 mm. Pembajakan menggunakan piringan setelah singkal mengurangi ukuran bongkah dengan 20 35 % namun pemakaian piringan berikutnya, atau penggaruan setelah pembajakan piringan, biasanya tak lagi memiliki efek berarti terhadap rerata ukuran bongkah.

P. Pengaruh Kecepatan terhadap Draft
Menambah kecepatan maju akan menaikkan draft pada kebanyakan alat olah tanah, terutama karena percepatan yang lebih besar terhadap tanah yang terpindah jauh. Percepatan tanah meningkatkan draft sedikitnya karena 2 alasan, pertama karena gaya percepatan menaikkan beban normal pada permukaan yang bersinggungan dengan tanah, yang oleh karenanya menaikkan tahanan gesek, dan kedua karena adanya tenaga kinetik yang dipindahkan ke tanah. Oleh karena gaya percepatan sebanding dengan kuadrat kecepatan, dan karena draft juga mencakup suku yang pada dasarnya tidak tergantung pada kecepatan, menjadi nalarilah untuk menyatakan hubungan antara kecepatan dan draft dengan persamaan berbentuk

Ds = Do + K S2 . . . . . . . . . . . . (1.3)

dengan
Ds = draft pada kecepatan S
Do = suku statika draft, independen terhadap kecepatan
S = kecepatan maju
K = tetapan yang nilainya tergantung pada jenis rancangan alat serta pada kondisi tanah.

Besarnya pengaruh kecepatan terhadap draft tergantung pada besar relatif suku yang tak bergantung pada kecepatan dan suku yang meningkat jika kecepatan meningkat, serta dipengaruhi oleh jenis dan rancangan alat serta oleh kondisi dan jenis tanah. Sebagai contoh, terdapat hasil uji yang menunjukkan bahwa penambahan kecepatan dari 4,8 km/jam menjadi 9,6 km/jam menaikkan draft sebesar 90 % dan 40 % pada bajak piringan pada dua jenis tanah yang berbeda, dengan rerata sebesar 50 % untuk bajak singkal lazim pada satu jenis tanah dan sebesar 15 % pada bajak tanah bawah.

Q. Pengkajian Berskala Model
Uji lapang alat olah tanah terpengaruhi oleh keragaman alami kondisi tanah. Penggunaan rinjing tanah yang besar untuk uji alat dengan ukuran sebenarnya memerlukan modal yang mahal untuk peralatan yang sangat khusus. Pendekatan lain yang menawarkan kemurahan, kenyamanan dan penguasan kondisi yang bagus ialah penerapan prinsip simulasi dalam uji laboratorium alat olah tanah berukuran model. Model alat telah digunakan dalam banyak bidang keteknikan, namun hanya sejak kira-kira tahun 1966 terdapat minat yang besar dalam pengkajian model terhadap alat olah tanah.
Capaian Umum Uji Model Ialah
1. untuk dapat memprakirakan unjuk kerja sistem prototipe (dengan ukuran sebenarnya) dari nilai yang terukur pada sistem yang kecil dan relatif murah, atau
2. untuk memperoleh pemahaman terhadap sifat, besar, dan efek parameter fisika sistem tersebut.
Pengkajian model yang diperkecil didasarkan pada konsep kesamaan antara sistem prototipe dan model, dengan kaidah-kaidah fisika yang sama yang mengatur kedua sistem tersebut.
Dua sistem akan menampilkan kelakuan yang mirip jika dicapai kemiripan geometri, kinematika, dan dinamika. Untuk mendapatkan kemiripan geometri merupakan hal yang relatif sederhana. Untuk kemiripan dinamika, nisbah seluruh gaya yang mempengaruhi sistem harus sama pada model dan pada prototipe. Masalahnya adalah mengenali dan menentukan semua gaya itu. Kesamaan kinematika biasanya akan tercapai jika kesamaan geometri dan dinamika telah tercapai.
Langkah pertama dan terpenting dalam merencanakan kajian model ialah pencirian semua variabel fisika yang dapat diukur, yang jika dipadukan secara benar akan secara lengkap menjelaskan gejala fisika yang dikaji. Kemudian prinsip analisis matra diterapkan untuk mengelompokkan variabel tersebut menjadi serangkai besaran yang independen dan tak bermatra, yang digunakan sebagai dasar untuk perancangan alat.
Jika telah diperoleh pembuatan skala yang benar pada semua faktor yang relevan, prakiraan yang bagus terhadap kinerja sistem prototipe dapat diperoleh dengan semata mengalikan kinerja model dengan faktor pengali yang sesuai. Biasanya terdapat unsur yang tak terskala. Unsur tersebut akan mengakibatkan ketaksamaan atau distorsi yang perlu dipertimbangkan. Menskala sifat-sifat tanah adalah salah satu masalah utama.
Usaha cara lain untuk menentukan dan mengukur seluruh sifat tanah sehingga dapat diskala ialah menggunakan tanah yang sama untuk prototipe dan model. Penyimpangan yang muncul kemudian dihitung secara empiri dengan mengamati kecenderungan hasil yang diperoleh dengan model dengan beberapa ukuran (memiliki faktor pengali yang berbeda) lalu membuat faktor penduga untuk menghilangkan efek penyimpangan.

R. Penelitian terhadap Alat Olah Tanah Sederhana
Pada tahun-tahun belakangan ini usaha penelitian yang banyak telah dilakukan untuk pengujian alat olah tanah berbentuk sederhana sebagai cara untuk mengkaji prinsip dasar reaksi tanah terhadap gaya yang mengenainya. Alat tersebut biasanya berujud lempeng datar yang dijalankan melalui tanah dengan posisi tegak (dengan sudut angkat 90o) ataupun dengan posisi miring dengan sisi bawahnya di depan (dengan sudut angkat tajam). Lempeng-lempeng yang lebarnya 25 100 mm biasanya dipakai sebagai gerigi garpu dengan bagian lebar penuhnya mencuat ke atas permukaan tanah. Lempeng lebar (ada yang sampai 76 cm) lebih sering dibenamkan dan dipakai pada sudut angkat kurang dari 45o untuk mempelajari gerakan tanah ketika terangkat. Uji dengan alat sederhana dilakukan di lapang, di rinjing lapang atau di rinjing ruang dengan berbagai ukuran.

Diposkan oleh saepudin di 07:18 0 komentar
ATASI MASALAH GULMA TANAMAN KEDELE PADA SISTIM TANAM TANPA OLAH TANAH (TOT) DENGAN MESIN PENYIANG TIPE CAKAR PUTAR

Penanaman kedelai dengan sistem Tanpa Olah Tanah (TOT) sering dilakukan petani, karena dengan sistem ini tidak diperlukan biaya pengolahan tanah dan juga penanaman dapat segera dilakukan setelah musim tanam padi. Dalam kenyataannya karena tidak diolah maka gulma, khususnya dari golongan gramineae (rumput-rumputan) akan segera tumbuh sebelum bibit kedelai tumbuh tinggi. Kalau ini dibiarkan, maka gulma tersebut akan mendominasi pertumbuhan kedelai, sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi.
Untuk menghindari kondisi seperti ini biasanya petani mulai melakukan penyiangan setelah tanaman kedelai berumur 15 hari dengan cara mencangkul gulma yang tumbuh diantara tanaman kedelai. Pekerjaan ini memerlukan biaya dan tenaga yang cukup besar, sehingga sistim penanaman TOTyang bertujuan untuk menghemat biaya pengolahan tanah tidak akan efektif.
Kelompok tani “ Sari Makmur “ merupakan salah satu kelompok tani yang sebagian besar anggota kelompok taninya dalam menanam kedelai menerapkan sistim tanam TOT. Kendala utama pada sistim ini adalah munculnya gulma sebelum tanaman kedelai tumbuh tinggi. Sehingga kalau gulma ini dibiarkan, maka akan menggangu pertumbuhan bibit kedelai. Dengan demikian penyiangan gulma pada sistim Tanam TOT harus dilakukan. Penyiangan gulma ini dilakukan dengan memborongkan dengan dengan biaya sekitar Rp. 350.000,-/ha.
Dengan pertimbangan seperti tersebut di atas maka keberadaan alat penyiang gulma tanaman kedelai pada sistim tanaman TOT akan sangat diharapkan oleh petani untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman sehingga hasil panen akan meningkat.

PERUMUSAN MASALAH
Penanaman kedelai dengan sistim tanam TOT mempunyai kelemahan yaitu:
a. Gulma tumbuh subur sebelum tanam kedelai tumbuh tinggi sehingga kalau dibiarkan akan mengganggu pertumbuhan tanamant kedelai
b. Pemupukan tanaman akan kurang efektif apabila dengan tumbuhnya gulma disekitar tanaman.
c. Penyiangan gulma memerlukan biaya sekitar Rp. 350,000,-/ha

Penyiangan gulma yang dilakukan secara manual mempunyai kelemahan yaitu:
a. Penyiangan membutuhkan tenaga yang banyak sekitar 3 – 4 orang dengan ongkos borongan Rp. 350.000,-/ha
b. Penyiangan kurang bersih
c. Waktu penyiangan cukup lama sekitar 5 hari
d. Melihat kondisi tersebut diatas maka keberadaan alat penyiang gulma tanaman Kedelai sangat diharapkan oleh para petani untuk dapat meningkatkan hasil panennya.

TINJAUAN PUSTAKA

Gulma
Gulma adalah tumbuhan yang tumbuhnya salah tempat. Sebagai tumbuhan, gulma selalu berada disekitar tanaman yang dibudidayakan dan berasosiasi dengannya secara khas. Gulma tumbuhan yang mudah tumbuh pada setiap tempat yang berbeda-beda, mulai dari tempat yang miskin nutrisi sampai yang kaya nutrisi. Sifat inilah yang membedakan gulma dengan tanaman yang dibudidayakan. Kemampuan gulma mengadakan regenerasi besar sekali, khususnya pada gulma perennial. Gulma perennial dapat menyebar dengan cara vegetatif. Luasnya penyebaran karena daun dapat dimodifikasikan , demikian pula pada bagian-bagian lain. Disamping itu, gulma juga dapat membentuk biji dalam jumlah banyak sehingga gulma cepat berkembang biak.
Secara fisik, gulma bersaing dengan tanaman budidaya untuk ruang, cahaya dan secar kimiawi untuk air, nutrisi, gas-gas penting, dan dalam peristiwa allelopati. Persaingan dapat berlangsung bila komponen yang dibutuhkan oleh, baik gulma maupun tanaman budidaya, berada pada jumlah yang patut diperebutkan (Adisarwanto T.,1999).
Penanaman Kedelai
Ada dua macam cara yang biasa dipraktekkan para petani dalam menanam Kedelai, yaitu dengan menabur dan membuat tugalan. Menanam dengan cara menabur mengandung beberapa kelemahan, antara lain pertumbuhan tanaman tidak seragam dan tidak merata, sebagian benih dapat tumbuh pesat, yang lain kerdil, bahkan ada pula yang sama sekali tidak tubuh. Disamping itu ada tanaman yang tumbuh mengelompok, sebaliknya ada pula tanaman yang tumbuh terpisah. Kelemahan lain ialah bahwa kebutuhan bibit sangat banyak. Kelebihan menanam dengan cara tugalan adalah jarak tanam bisa diatur, sehingga jumlah biji yang dibutuhkan dapat diperhitungkan sebelumnya, pertumbuhan tanaman seragam.
Jarak tanam pada penanam dengan membuat tugalan berkisar antara 20 – 40 cm. jarak tanam hendaknya diatur, agur tanaman memperoleh raung tumbuh yang seragam dan mudah disiangi. Jarak tanam Kedelai tergantung pada tingkat kesuburan tanah dan sifat tanaman yang bersangkutan. Pada tanah yang subur, jarak tanam lebih renggang, dan sebaliknya pada tanah tandus jarak tanaman dapat dirapatkan. Jarak tanam pada penanam benih Kedelai berdasarkan tipe pertumbuhan tegak dapat diperpendek, sebaliknya pada penanaman benih dengan tipe pertumbuhan agak condong (batang bercabang banyak) jarak tanam diusahakan agak panjang, supaya pertumbuhan tanaman yang satu tidak terganggu tanaman yang lain.
Pemeliharaan Kedelai
Usaha pemeliharaan sebaiknya sejak awal, dimulai dengan pemeliharaan tanah sebelum biji Kedelai ditanam, sebab apabila tanah yang telah diolah itu dibiarkan selama kurang lebih dua minggu, kemungkinan besar tanah hasil olahan tadi sudah ditumbuhi guma (tumbuhan liar) yang biasanya mulai tumbuh 10 – 15 hari setelah pengolahan tanah. Oleh karena itu, pemeliharaan tanah mutlak perlu dilakukan sebaik-baiknya. Dalam pemeliharaan tanaman Kedelai beberpa hal yang perlu diperhatikan ialah: penyiangan
Penyiangan Gulma Kedelai
Menyiangi berarti mencabuti rumput atau tanaman penganggu lain, kemudian membenamkannya ke dalam tanah agar tidak dapat tumbuh lagi. Rumput-rumput yang tidak disiangi akan sangat merugikan karena:
merintangi perkembangan akar dan bakal buah
menghisap garam-garam mineral ataupun pupuk
menghisap air dari dalam tanah
mengganggu masuknya sinar matahari dan pengolaan.
Penyiangan pertama dilakukan sebelum biji ditanam agar pada saat biji ditanam dapat tumbuh dan tidak terganggu akar-akar rumput. Tanaman Kedelai yang baru tumbuh sangat peka terhadap lingkungan seperti gangguan gulma, hujan lebat, hama dan sebagainya.
Penyiangan berikutnya dilakukan setelah tanaman berumur 3 – 4 minggu, sebab pada saat itu biasanya rumput telah tumbuh lagi memenuhi areal tanaman. Penyiangan yang baik dapat dilakukan sampai ke akar-akarnya, dapat pula disertai dengan mendangir, yakni menggemburkan tanah dengan cara mengaduk dan membolak-balik tanah. Pendangiran tanah perlu dilakukan agar tanah yang telah memadat akibat hujan lebat menjadi gembur dan lembab kembali sehigga akar dapat berkembang dengan leluasa dan peredaran udara serta air tidak terhalang.

Alat Penyiang
Penyiangan biasanya dilakukan secara mekanis, yakni dengan membongkar gulma dengan menggunakan cangkul atau brujul (alat untuk melubangi tanah, berbentuk seperti garu, ditarik oleh ternak). Penyiangan dengan menggunakan cangkul pada umumnya lebih baik karena dengan cara ini penyiangan dapat dilakukan dengan teliti meskipun hasilnya sedikit dan memakan banyak waktu. Sebaliknya penyiangan dengan menggunakan brujul lebih cepat, tetapi hasilnya kurang baik karena tanaman sering rusak terinjak-injak oleh ternak yang menarik brujul. Kalau gulma yang tumbuh sangat banyak, perlu dilakukan penyiangan ketiga yakni saat Kedelai berumur 60 hari. Penyiangan tidak boleh dilakukan waktu Kedelai sedang berbunga karena akan mengakibatkan bunga rontok.

METODE PELAKSANAAN PROGRAM

Studi pustaka dan observasi lapang
Dalam merekayasa mesin penyiang gulma tanaman kedelai diperlukan studi pustaka mengenai :
a. Teknik budidaya tanaman kedelai sistim tanam TOT meliputi : cara penanaman, pemupukan, pengairan, penyiangan dan pemanenan.
b. Sifat-sifat dan jenis gulma tanaman Kedelai
c. Teknik penyiangan meliput: cara penyiangan, macam peralatan penyiangan.
d. Teknik perancangan alat dan mesin pertanian khususnya mesin penyiang gulma.
Studi Lapang yang dilakukan adalah:
Mengamati pertumbuhan gulma pada tanaman Kedelai mulai dari penanam sampai panen. Mengamati cara penyiangan gulma yang dilakukan secara manual. Mengamati peralatan yang dipergunakan untuk penyiangan. Rancang Bangun Mesin Penyiang Gulma untuk Tanaman Kedelai
Mesin penyiang gulma didesain untuk tanaman Kedelai dengan jarak tanaman membujur antara 40 cm sampai 60 cm. Kerja mesin penyiang ini menggunakan sistim cakar dengan pisau cakar berderet pada sebuah as. Dengan sistim ini diharapkan gulma akan tercabut sampai keakarnya. Tenaga penggerak untuk memutar pisau menggunakan motor bensin 5,5 HP sedangkan untuk berjalan menggunakan tenaga dorong manusia. Gambaran mesin penyiang gulma untuk tanaman kedelei secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 3.
Mesin penyiang gulma untuk tanaman kedelei yang dibuat ini terdiri dari beberapa bagian utama yaitu:

Unit Pencakar Gulma
Unit ini sangat menentukan keberhasilan penyiangan gulma untuk itu pembuatan unit ini sangat diperhatikan. Komponen utama terdiri dari pisau cakar dan as. Pisau cakar terbuat dari bahan baja dengan bentuk modifikasi dari pisau bajak rotary. Jumlah pisau cakar sebanyak 5 buah dengan jarak masing-masing 10 cm. As yang digunakan besi as diameter ¾ dim yang digerakkan dengan sistim transmisi rantai.
Unit Transmisi
Transmisi yang digunakan untuk menggerak pisau cakar menggunakan sistim rantai diharapkan tidak akan ada slip tenaga. Untuk keamanas motor penggerak sudah terdapat didalam sistim tramisi motor itu sendiri. Rantai yang digunakan ukuran kecil untuk mengurangi beban motor terlalu besar.
Unit Roda
Untuk dapat berjalan mesin penyiang ini dilengkapi roda jalan dengan diameter disesuaikan dengan bentuk rangka sehingga pisau cakar dapat menyentuh tanah. Roda depan didesain dengan diamter yang besar untuk melancarkan jalanya mesin karena lahan yang tidak rata. Sedangkan roda belakang hanya berfungsi untuk penyangga dan sebagai pengendali. Roda depan terbut dari besi beton dengan ditambah sirip-sirip roda untuk menopang bebeang mesin. Tenaga untuk berjalan berasal dari tenaga dorong manusia, sehingga tidak ada sistim transmisi ke unit ini.
Unit Tenaga Penggerak
Tenaga penggerak menggunakan motor bensin 5,5 HP. Daya ini diharapkan sudah aman untuk menggerak pisau cakar untuk melakukan penyiangan pada kondisi tanah sawah ataupun tegal.
Unit Rangka
Rangka dirancang seergonomis mungkin sehingga dapat memberikan kenyamanan dalam melakukan penyiang gulma. Rangka ini dibuat untuk menopang motor penggerak, pisau cakar, sistim transmisi, roda dan batang pendorong. Rangka terbuat dari besi siku dan pipa air disesuaikan dengan kebutuhan.

(Amal Bahariawan, S. TP. M.Si, 2009)
Diposkan oleh saepudin di 05:15 1 komentar
ALAT PENGUPAS KANG TANAH

1.1. Latar Belakang

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki sumberdaya alam berupa lahan yang relatif cukup luas dan subur. Dengan iklim, suhu dan kelembaban yang cocok untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman pangan pokok, maka hampir seluruh tanaman pangan pokok tersebut (biji-bijian, umbi-umbian dan kacang-kacangan asli Indonesia) dapat tumbuh dengan relatif baik. Salah satu jenis tanaman pangan yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar penduduk Indonesia adalah tanaman kedelai (Glysine max (L) Merril).

Dalam kehidupan masyarakat kita, kedelai telah dikenal sejak lama sebagai salah satu tanaman sumber protein nabati dengan kandungan 39% – 41% yang diolah menjadi bahan makanan, minuman serta penyedap cita rasa makanan, misalnya yang sudah sangat terkenal adalah tempe, kecap, tauco dan tauge. Bahkan diolah secara modern menjadi susu dan minuman sari kedelai yang dikemas dalam karton khusus atau botolan.

Sebagai bahan makanan kedelai sangat berkhasiat bagi pertumbuhan dan menjaga kondisi sel-sel tubuh. Kedelai banyak mengandung unsur dan zat-zat makanan penting seperti protein, lemak, karbohidrat dan Selain sebagai sumber protein, makanan berbahan kedelai dapat dipakai sebagai penurun kolesterol darah yang dapat mencegah penyakit jantung. Kedelai juga berfungsi sebagai anti-oksidan dan dapat mencegah penyakit kanker.

Namun pada dasarnya upayah untuk meningkatkan kualitas hasil produksi masih mengalami kendala yaitu pada proses pengupasan kulit ari kacang kedelai masih banyak yang dilakukan dengan menggunakan cara yang klasik/tradisional yaitu dengan merendam/merebus dan menginjak-injak dalam suatu wadah/karung, hal ini sangat merugikan karena dengan kacangnya terbagi dua atau bahkan dapat hancur karena tekanan yang diberikan pada kacang tidak tetap. Disisi lain hasil pengupasannyapun terbatas dan sangat bergantung pada kemampuan manusianya dan cara tersebut juga membuat hasil makanan yang dihasilkan kurang hygienis.

Atas dasar tersebut, maka kebutuhan akan mesin pengupas kulit ari kacang kedelai merupakan kebutuhan dimana alat tersebut harus sederhana dan mudah dalam pengoperasiannya, oleh sebab itu harus dirancang sebuah mesin yang memiliki daya guna dan hasil guna yang optimal.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori
Kedelai adalah makanan yang bergizi yang dikenal di Indonesia sejak abad ke 17, dimana kedelai dikenal sebagai budidaya makanan dan pupuk hijau. Sampai saat ini banyak ditanam didataran rendah yang tidak mengandung banyak air, seperti di pesisir utara Jawa Timur, Jawa Tenah, Jawa Barat, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Lampung, Sumatra Selatan dan Bali.
Saat ini dari kacang kedelai dapat di buat berbagai makanan seperti tahu, tempe, kecap, tauco, bahkan dapat pula di buat susu dan sari kedelai yang kemudian dikemas. Kendati demikian kita sampai saat ini masih mengimpor kedelai karena produksi pertanian kita masih kurang.
Biji kacang kedelai terbagi atas dua bagian yaitu: kulit biji (testa) dan janin (embrio). Kulit biji ini beragam warna ada yang kuning, hijau, coklat, hitam atau campuran diantara warna-warna tersebut.kulit biji tersebut terdiri dari tiga lapisan sel.sementara itu janin terdiri dari kutiledon, plumula, dan poros hipokotil-bakal akar. Kutiledon merupakan bagian terbesar dari biji kedelai, berisi bahan makanan yang sebagian besar terdiri dari protein dan lemak. Biji kedelai berkeping dua terbungkus kulit biji, Bentuknya pada umumnya bulat lonjong, tetapi ada juga yang agak bundar atau bulat pipih dengan besar dan bobot biji kedelai antara 5-30 gr untuk bobot 100 butir.
Sifat kacang kedelai mampu menyerap air cukup banyak dan dapat menyebabkan beratnya naik menjadi dua kali lipat, dengan sifat biji yang keras dan daya serap air tergantung ketebalan kulit. Kulit inilah yang ingin dikupas secara mekanis dengan semaksimal mungkin tidak membelah kedelai apalagi merusak kedelai. Sehingga mutu dari kacang kedelai baik dengan bentuk yang baik dan tetap utuh.

2.2 Mekanisme Kerja Mesin
Untuk mengupas kulit ari kacang kedelai yang cukup banyak dengan waktu yang singkat maka di perlukan alat yang dapat memenuhi permintaan diatas. Jika pengupasan tersebut dilakukan secara manual, maka akan memakan waktu yang cukup lama dan tenaga manusia yang cukup besar.
Prinsip pengupasan biji kacang kedelai tersebut menggunakan dua buah rol, dimana putaran antara rol yang satu dengan yang satu lagi berbeda, dan salah satu dari rol ini bisa di atur jaraknya dengan rol yang berputar sesuai dengan ukuran biji kacang kedelai yang akan dikupas. Rol ini digerakan oleh sebuah motor yang menggunakan sebuah daya transmisi daya pully dan belt. Mekanisme ini sederhana sekali dan dapat mengupas kulit ari biji kacang kedelai dengan hasil yang cukup baik dan resiko cacat yang kesil. Selain itu mesin ini murah dalam proses pembuatannya.
Alat ini digerakan oleh sebuah elektro motor yang akan menggerakan mekanisme pengupas dengan menggunakan belt. Dengan berputarnya pully pengupas tersebut, maka rol pengupas akan bergerak dan biji kacang kedelai yang ada pada hopper akan ikut masuk kedalam mekanisme pengupas. Dengan masuknya biji kacang kedelai kedalam mekanisme pengupas tersebut, maka akan terjadi gesekan antara rol dengan biji kacang kedelai yang berakibat terkupasnya kulit ari kacang kedelai tersebut.

METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu
Rencana pelaksanaan TA (Tugas Akhir) dilaksakan mulai bulan Desember 2009, sedangkan pembuatan alat dilakukan di Bengkel Logam POLITEKNIK NEGERI JEMBER Jalan Mastrip Kotak Pos 164, Telp (0331) 333532, Fax. (0331) 333531 Jember 68101.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Adapun peralatan yang dipergunakan meliputi peralatan bengkel untuk rekayasa dan alat ukur yaitu :
a. Mesin bubut
b. Mesin las
c. Mesin gerinda
d. Mesin bor
e. Penekuk plat
f. Pemotong plat
g. Meteran
h. Penyiku
i. Jangka sorong

3.2.2Bahan
Bahan yang digunakan dalam perekayasaan mesin pengupas kulit ari ini adalah sebagai berikut :
a. Besi Plat
b. Besi Siku
c. Besi Poros

3.3 Metode Perancangan
Metode perancangan yang di pakai dalam perancangan alat ini adalah adalah metode yang disusun oleh Gerhardt Pahl dan Wolfgang Beitz yang dipaparkan dalam buku “Engineering Design” yaitu :
1. Penjabaran Tugas (Clarification of The Task), yang meliputi pengumpulan informasi permasalahan dan kendala yang dihadapi. Disusul dengan persyaratan mengenai sifat dan performa yang harus dimiliki untuk mendapatkan solusi.
2. Penentuan Konsep Perancangan (Conceptual Design), hal ini sebagai dasar pembuatan abstraksi dari permasalahan. Dilanjutkan dengan membuat struktur fungsi yang menggambarkan hubungan antara input, proses dan output.
3. Perancangan Wujud (Embodiment Design) perancangan awal beserta elemen-elemennya. Dimulai dengan pemilihan bahan,prosudur pembuatan rancangan, dan fungsi dari elemen-elemen yang ada.
4. Perancangan Rinci (Detail Design) pada tahap ini adalah proses perancangan dalam bentuk gambar dalam artian gambar tersusun dan gambar jadi termasuk daftar komponen, spesifikasi bahan, dan lain-lain yang secara keseluruhan merupakan dokumen dalam pembuatan mesin atau produk.

3.4 Pengujian
3.4.1 Uji Fungsional
a. Hopper
Berfungsi sebagai penampung biji kacang kedelai yang akan dikupas sebelum masuk ke dalam rol pengupas. Hopper terbuat dari besi plat dengan tebal 2 mm.
b.Poros
Berfungsi sebagai tempat dudukan rol pengupas. Dan bahan yang digunakan untuk poros yaitu besi baja.
c. Rol pengupas
Berfungsi sebagai pengupas kulit ari kacang kedelai.
d.Saluran Pengeluaran
Berfungsi sebagai tempat keluaran biji kedelai yang telah di kupas. terbuat dari besi plat dengan tebal 2-3 mm.
e.Kerangka
Berfungsi sebagai tempat dudukan motor listrik dan semua komponen-komponen dari mesin pengupas kulit ari kacang kedelai. Bahan yang digunakan yaitu besi siku dengan ukuran 4 x 4 cm x 5 mm.
f. Motor listrik
Berfungsi sebagai penggerak dari rol pengupas kulit ari kacang kedelai.
g. Pully dan V-belt
Berfungsi sebagai penerus daya dari motor listrik ke poros yang akan memutar rol pengupas.

3.4.2 Uji Performent
a. Efisiensi Kerja
Efisiensi kerja suatu alat atau mesin itu tergantung dari bagaimana suatu alat bekerja secara maksimal dan optimal. Untuk menghitung efisiensi kerja suatu alat dapat di cari menggunakan rumus sebagai berikut :

Bahan input
Efisiensi = x 100 %
Bahan output

b. Kekuatan dan besarnya diameter poros
Dalam perencanaan sistem mekanisme ini poros yang direncanakan adalah dengan melihat suatu tingkat keamanan tertentu, dimana poros yang dirancang ini akan mampu menahan gaya-gaya yang terjadi. Maka dari itu perencanaan poros mengacu pada dasar perhitungan poros yang dikenai beban puntir murni. Oleh karena itu akan digunakan rumus sebagai berikut.

5,1
ds = x Kt x Cb x T
τa

c. Daya Motor
Desain mesin yang akan dibuat menggunakan tenaga penggerak berupa electromotor. Sebelumnya harus kita ketahui seberapa besar daya motor yang diperlukan. Untuk mengetahui besarnya daya motor, torsi inersia untuk menggerakan mesin secara keseluruhan harus diketahui terlebih dahulu.
Besarnya daya motor yang diperlukan untuk memutar mekanisme pengupas dapat di hitung menggunakan rumus sebagai berikut :

d. Kapasitas Kerja Mesin Pengupas Kulit Ari Kedelai
Kapasitas mesin pengupas kulit ari kacang kedelai harus lebih banyak di bandingkan pengupasan yang dilakukan secara manual. Maka untuk menghitung besarnya kapasitas kerja dari mesin dapat di hitung menggunakan rumus :

Mo – Mt
Lp =
t

Artikel terkait

Teknik Pengolahan Tanah

Perangkat Uji Pupuk

Analisis Mikroba

Mineral Tanah

konservasi Tanah

konservasi Tanah pada Tanaman Perkebunan

pupuk_organik

Kacang Archis

Pemupukan

April 12, 2011 pukul 12:27 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Pemupukan

Pemupukan

Pemupukan

Pupuk merupakan sumber unsur hara utama yang sangat menentukan tingkat pertumbuhan dan produksi tanaman. Setiap unsur hara memiliki peranan masing-masing dan dapat menunjukkan gejala tertentu pada tanaman apabila ketersediaannya kurang. Beberapa hal yang harus diperhatikan agar pemupukan efisien dan tepat sasaran adalah meliputi penentuan jenis pupuk, dosis pupuk, metode pemupukan, waktu dan frekuensi pemupukan serta pengawasan mutu pupuk (BUDIDAYA KELAPA SAWIT, Pusat Penelitian Kelapa Sawit / Indonesian Oil Plam Research Institute –IOPRI, 2003).

Tanaman Padi yg tidak menggunakan pupuk Plant Activator (kiri) dgn PA (kanan)

Pemupukan adalah tindakan yang dilakukan untuk memberikan unsur hara kepada tanah yang dibutuhkan untuk pertumbuhan normal tanaman. Adapun unsur hara esensial untuk pertumbuhan tanaman terdiri dari ;
1. Unsur hara Makro
- Carbon (C)
- Hidrogen (H) Didapat dari Udara dan Air
- Oksigen (O)
- Nitrogen (N) Didapat dari Tanah dan Air
- Fosfor (F)
- Kalium (K)
- Kalsium (Ca) Didapat dari Tanah
- Magnesium (Mg)
- Sulfur (S)
2. Unsur hara Mikro
- Boron (B)
- Klor (Cl)
- Tembaga (Cu)
- Besi (Fe) Didapat dari Tanah
- Mangan (Mn)
- Molibdenum (Mo)
- Seng (Zn)
Adapun dasar pertimbangan dilakukannya pemupukan adalah :
Pertama :Ketersediaan hara tanah, hal ini dapat terjadi karena kandungan hara dalam tanah yang berasal dari bahan induk pada umnumnya memang rendah. Kedua :Kehilangan hara tanah melalui panen, erosi dan penguapan.
Pemupukan juga dipengaruhi oleh :
1. Sifat dan cirri tanah, kemasaman tanah (pH)
Pengaruh pH tanah terhadap Nitrogen
Perubahan Amonium (NH4+) menjadi Nitrat (NH3-) akan berlangsung sebagai proses oksidasi enzimatik yang dibantu oleh bakteri Nitrobacter dan Nitrosmonas hal ini disebut proses Nitrifikasi (proses perubahan ammonium menjadi nitrat oleh bakteri) berlangsung antara kisaran pH 5,5 – 10,0 dengan pH optimum 8,5 (Pupuk dan Pemupukan. Jurusan Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Universitas Islam Sumatera Utara. Medan). Pada tanah yang masam atau pH tanah rendah, perubahan ammonium menjadi nitrat akan terhambat. Hal ini juga dipengaruhi oleh kandungan oksigen dalam tanah atau Aerasi tanah dan juga perbandingan kandungan Ca, P, Fe, Mn, serta unsur-unsur lainnya.
Penambatan N oleh liat
Pada tanah masam akan mempengaruhi ketersediaan N tanah. Hal ini terjadi karena adanya penambatan dari ion-ion ammonium antara kisi-kisi mineral yang sudah mengembang ataupun mengkerut.
Pengaruh pH tanah terhadap ketersediaan Fosfor & Kalium
Aktifitas ion P di dalam tanah berbanding lurus dengan pH tanah yang artinya bila pH naik sampai ketingkat tertentu maka P akan tersedia. Bila pH tanah rendah maka yang terjadi konsentrasi Al dan Fe meningkat yang akan bereaksi dengan fosfat membentuk garam Fe dan Al-P yang tidak larut. Kisaran pH untuk ketersediaan P yang terbaik adalah antara 6 – 7.
Pengaruh pH tanah terhadap unsur mikro
Ketersediaan unsur hara mikro dikaitkan dengan kegiatan mikro organisme tanah yang ikut mentransfer unsur tersebut ke tanah, misalnya organisme tanah membantu mempercepat proses oksidasi unsur Mn, Zn, Cu, Mo, dan Al.
2. Tekstur tanah
• Respon pemupukan N dan K lebih tinggi pada tanah ringan
• Respon pemupukan P lebih tinggi pada tanah berat
3. Iklim
• Air. Sebelum tanaman dapat mengabsorpsi hara, syaratnya adalah unsur hara tersebut harus terdapat pada zona perakoran (kondisi tanah yang lembab). Untuk keperluan transpirasi yang akan mengangkut Nitrat, Sulfat, Kalium, Magnesium ke akar dari daerah yang jauh dari jangkauan akar.
4. Temperatur
Temperatur yang terlalu rendah dapat menyebabkan tanaman tidak dapat menggunakan hara yang ditambahkan. Begitu pula jika temperatur terlalu tinggi, serapan hara semakin tinggi sampai batas yang dapat ditolerir tanaman.
5. Udara tanah
Secara langsung dapat mengatur kehidupan jasad renik tanah yang melakukan proses oksidasii enzimatik.
6. Pola pertanian
Tanaman semusim (Jagung, dll), Tanaman tahunan (Sawit, Karet, dll), Tanaman basah & kering (Padi), Tanaman intercropping (tanaman sela)
7. Pupuk yang digunakan
Jenis pupuk, Sifat & cirri-ciri pupuk, Dosis pupuk
KTK (Kapasitas Tukan Kation)
Adalah kapasitas tanah menyerap dan mempertukarkan ion. Ion dapat berupa kation dan besarannya disebut Kapasitas Tukan Kation (KTK).
KTK sangat penting berkenaan dengan kesuburan tanah, penyerapan unsur hara, ameliorasi tanah, dan mutu lingkungan.
Dengan daya serapnya, koloid tanah dapat menambat air hujan atau air irigasi dan kation tahan dari pelapukan mineral, mineralisasi bahan organik atau dari pupuk. KTK menjadi faktor pembentuk cadangan air dan hara basa dalam tanah yang dapat mengefisienkan penggunaan air dan hara basa oleh tumbuhan.
KTK tanah berbeda-beda tergantung pada;
- Kadar dan macam lempung dan kadar bahan organik; KTK makin besar
- Kadar bahan organik dan senyawa-senyawa organik penyusun bahan-bahan organik (tanah dan lingkungan).

Buah pare dengan pupuk Plant Activator
buah pisang dengan pupuk Plant Activator
Buah mangga dengan pupuk Plant Activator

Pupuk
Pupuk Dasar (Dolomit, Kieserite)
Pupuk Dasar berfungsi terhadap reaksi pH tanah (kesuburan tanah) yang sangat menentukan efisiensi pemupukan. Secara umum tanah-tanah di Indonesia bereaksi masam. Untuk itu, peran pupuk dasar sangat penting untuk perkembangan akar sehingga mempu menyerap hara dalam tanah.(IFDC, 1987. Fertilizer Manual. International Fertilizer Development Centre. United Nation Industrial Development Organization)
Reaksi tanah berdaya pengaruh langsung dan tak langsung terhadap perkembangan tanaman. Daya pengaruh langsung ialah pengendalian ketersediaan hara tumbuhan dan kegiatan jasad renik tanah.

Rudy Ramon Pohan, SE

081378687999

Buah Nenas dengan pupuk Plant Activator

ENDAHULUAN

Manfaat pupuk adalah menyediakan unsur hara yang kurang atau bahkan tidak tersedia di tanah menjadi tersedia untuk mendukung pertumbuhan tanaman.  Seperti yang telah kita ketahui bahwa pupuk yang diproduksi dan beredar di pasaran sangatlah beragam, baik dalam hal jenis, bentuk, ukuran, kandungan unsur hara maupun kemasannya.  Dengan beragamnya jenis pupuk dengan berbagai karakter masing-masing, sering membuat pemakainya kebingungan untuk menggunakannya.  Tidak mengherankan jika sering dijumpai kegagalan produksi tanaman sebagai akibat kesalahan pemupukan.  Untuk mengatasi hal tersebut sebelum dilakkan pemupukan ada beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu melakukan analisis tanah dan daun, mengidentifikasi gejala kekurangan unsur hara, dan menentukan metode pemupukan.

Analisis tanah dan daun adalah untuk mengetahui ketersediaan unsur hara dalam tanah dan unsur hara apa yang dibutuhkan tanaman.  Di samping itu dengan mengidentifikasi gejala kerusakan/kelainan pada tanaman kita sudah dapat memprediksi unsur hara yang kurang yang dibutuhkan tanaman.  Untuk mengaplikasikan pupuk sesuai dengan rekomendasi hasil analisis perlu metode pemupukan yang tepat, karena kesalan cara aplikasinya, pemupukan yang kita berikan tidak/kurang bermanfaat.

 

1.    Mengambil Sampel untuk Analisa Tanah dan Daun

Tujuan analisis

Sebidang tanah yang digunakan untuk kepentingan pertanian khususnya budidaya tanaman perlu mendapatkan perhatian yang seksama agar tanaman budidaya itu berhasil dengan baik, tanaman apa yang cocok, kandungan bahan-bahan mineral pada tanah apakah mencukupi atau masih terdapat kekurangan, atau ada diantara bahan-bahan yang terkandung itu mengandung racun, sehingga tanaman akan mati, selain itu apakah tanah terlalu masam atau basa.  Dengan memanfaatkan teknologi pertanian kita dapat melakukan analisis terhadap tanah untuk selanjutnya mendiagnosa tanaman apa yang cocok dikembangkan pada tanah tersebut atau memberikan unsur hara apa supaya keberadaannya tersedia dan mencukupi untuk tanaman yang kita tanam melalui pemupukan.  Selain analisis tanah harus dilengkapi pula dengan analisis jaringan tanaman yang digunakan/ditujukan untuk diagnosa kebutuhan hara suatu tanaman, pada masing-masing saat selama pertumbuhannya yang akan berpengaruh terhadap hasil.

Mengambil contoh tanah dan jaringan tanaman

Hasil analisis tanah yang dapat diperoleh akan sangat tergantung dari beberapa fakor antara lain dari cara pengamilan serta pengerjan contoh-contoh tanah yang dianalisis tersebut.

Contoh tanah yang baik hanya akan diperoleh jika pengambilannya memperhatikan persyaratan-persyaratan berikut :

  1. Dengan memperhatikan perbedaan-perbedaar tofografi, sifat atau watak tanah, warna tanah dan perbedaan-perbedaan lain yang menimbulkan kelainan.
  2. Merupakan contoh tanah individual, yang banyaknya tergantung dari keadaan lokasi yang dalam hal ini :
  • Kalau tanahnya homogen sebaiknya diambil 5 sampai 20 contoh anah.
  • Contoh-contoh tanah individual ini selanjutkanya dikumpulkan dan dicampur scara merata.
  • Kalau tanah homogen itu luas,  contohnya supaya diambil dari 2-5 ha.

<span>3.  Tidak mengambil contoh tanah dari sekitar perumahan, jalan, selokan, tanah bekas pembakaran, dan bekas timbunan pupuk.</span>

Dengan memperhatikan ketiga persyaratan tersebut di atas, analisis yang kita lakukan dapat diharapkan memberikan hasil yang baik.  Dengan hasil analisis yang diperoleh dapat ditafsir tentang status unsur hara yang terkandung dalam tanah, sifat tanah dan tinakan yang diperlukan untuk mengatasi gejala defisiensinya.

Cara pengambilan sampel tanah

Apabila kita telah mendapatkan tanah yang memenuhi syarat di atas, haruslah kita memperhatikan pula cara-cara pengambilan contoh tanah tersebu dari tanah tadi.  Cara-cara tersebut antara lain sebagai berikut :

  1. Pertama-tama kita harus memperhatikan tntang kebersihan permukaan tanahnya, apabila telah terbebas dari tanaman, dedaunan, sisa tanaman an kotoran lainnya, baru setelah benar-benar bersih kita lakukan pengambilan.
  2. Contoh tanah individual diambil dengan menggunakan alat bor tanah, tabung hoffer, cangkul atau sekop dari agian/lapisan tanah sdakam 10-20 cm.
  3. Contoh-contoh tanah individual (5-20 contoh) selanjutnya dicampur sehinga merata, bawa ke tempat yang teduh untuk ditebarkan agar menjadi kering udara.
  4. Banyaknya tanah kering udara yang diperlukan untuk suatu contoh adalah sekitar 500 – 1000 gram, kemudian dieri petunjuk (label) dari mana tanah itu diamil, letak dan tinggi tempat, jenis tanaman yang ada dan akan dianam, pemberian pupuk yang iasa dilakkan, warna tanah, dan penjelasan-penjelasan lain yan bersifat khusus yang mungkin diperlukan.

 

Cara pengambilan sampel daun

Cara-cara pengambilan sampel daun untuk pedoman pemupukan sangat tergantung pada jenis tanaman,  antara lain sebagai beriku :

  1. Tanaman Teh (Camellia Sinensis)

Bagian tanaman ini yang dapat dijadikan sampel bagi kepentingan analisis dan diagnosa yang hasilnya dapat dijadikan pedoman pemupukan yaitu; bagian folium, terutama daun muda kedua daru ujung tunas yang tumbuh dari bagian yang telah terpetik, pilih tanamannya yang tumbuh di bedengan/larikan bagian dalam, pengambilannya supaya dilakkan 8 minggu setelah masa petik. Kumpulkan daun pertama yang normal yang tertinggal di tunas.

Pengambilan contoh supaya dilakukan dari tanaman yan tumbuh pada petak pertanaman yang tetap dan mewakili petek-petak lainnya, luas petak terpilih sekitar 1 acre atau lebih.  Dapat juga diambil dari tanaman-tanaman yang tumbuh dengan baik di sepanjang diogonal pola (x) atau dari tanaman-tanaman yang tumbuh di sepanjang jajaran sebanyak 5-10% jumlah tanaman (jumlah hendaknya tidak kurang dari 25 tanaman).

  1. Tanaman Kelapa (Cocos nucifera)

Dari tanaman kelapa ini  bagian yang diperlukan untuk nalisis Yitu dua malai daun (pinnae) di kiri dan kanan tandan bunga dari tanaman sampai 4 tahun yaiu daun pertama dari malai yang baru saja terbuka, kemudian dari tanaman berumur 5-7 tahun (daun kesembilan) dan dari pohon yang lebih tua (daun keempat elas).

Pengambilan helai-helai daun malai tersebut yang berada di bagian tengah selebar 5 cm dari tiap malai daun, pohon-pohonnya tumbuh pada petak yang tetap, ambil sehlai daun dari 5-10% jumlah pohon yang tumbuh di lingkungan petak, atau diambil dari paling sedikit 25 pohon.

  1. Tanaman Kopi (Coffea arabica)

Bagian tanaman ini yang diperlukan bagi sampel yaitu foliumnya, terutama pasangan daun ketiga atau keempat dari ujung ranting samping (biasa disebut daun pertama atau daun ujung) yang paling sedikit mempunyai panjang, baik yang berbuah atau tidak, 1-2 helai daun ranting samping sebanyak 4 penjuru (mata angin).

Pengambilan contoh supaya dilakukan dari tanaman-tanaman yang tumbuh dari petak pertanaman yang tetap dan mewakili petak-petak yang lainnya.  Luas petak terpilh sekiar 1 acre atau leih, atau dapat juga diambil dari tanaman-tanaman yang tumbuh di sepanjang jajaran sebanyak 5-10% jumlah tanaman (jumlah hendaknya tidak kurang dari 25 tanaman).

  1. Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guinensis)

Dari tanaman kelapa sawit ini yang diperlukan untuk sampel yaitu 2 helai daun di kiri dan kanan tandan bunga di bagian tengan yang selebar 5 cm dari tiap helai dau.  Tanaman berumur sampai 2 tahun ambilah daun yang kesembilan, berumur 4 tahun atau lebih ambil daun yang ketujuh belas.

Pengambilan sampel supaya dilakukan  dari tanaman-tanaman yang tumbuh pada petak yang tetap, ambil sehelai daun dari 5-10% jumlah tanaman di lingkungan petak, sampel henaknya terkumpul dari paling sediki 25 tanaman.

  1. Tanaman Karet (Hevea brasiliensis)

Dari tanaman ini yang diperlukan untuk sampel yaitu lamina foliaris, terutama dari pohon yang berumur lebih dari 4 tahun diambil 4 helai daun pangkal dari tiap roset setiap pohon, roset yang berasal dari cabang terbawah yang terlindung dari panas matahari, daun hendaknya berumur 10-12 bulan.  Dari tanaman yang berumur 1,5-4 tahun dipilih 4 daun pangkal yang berasal dari roset yang tidak terlindung  sinar matahaari dan aun hendaknya berumur 4-6 bulan.

Pengambilan sampel tersebut hendaknya tidak kurang dari 25 batang yang mengikuti pola diagonal.

2. Mengidentifikasi Defisiensi Unsur Hara

 

Bentuk Ketersediaan Unsur Hara

Unsur hara yang diserap oleh tanaman dari dalam tanah terdiri dari 13 unsur mineral atau sering disebut unsur hara esensial.  Unsur hara ini sangat dibutuhkan oleh tanaman dan fungsi dari masing-masing unsur hara tidak dapat digantikan oleh unsur hara yang lain. Jika jumlahnya kuran mencukupi, terlalu lambat tersedia, atau tidak diimbangi oleh unsur-unsur lain akan menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu.

Dari 13 unsur hara yang diserap dari alam tanah, 6 unsur diantaranya diperlukan tanaman dalam jumlah lebih besar atau disebut unsur makro.  Tujuh unsur lainnya diperlukan tanaman dalam jumlah relatif lebih kecil atau serin disebut unsur mikro.

Unsur Hara Makro

1. Nitrogen (N)

Nitrogen diserap tanaman dalam bentuk ion nitrat (NO3-) dan ion amonium (NH4+).  Sebagian besar nitrogen diserap dalam bentuk ion nitrat karena ion tersebut bermuatan negatif sehinga selalu berada di dalam larutan tanah dan mudah terserap oleh akar.  Karena selalu berada alam larutan tanah maka iion nitrat lebih mudah tercuci oleh aliran air.  Sebaliknya ion amonium bermuatan positif sehingga terikat oleh koloid tanah.  Ion tersebut dapat dimanfaatkan oleh tanaman setelah melalui proses pertukaran kation.  Karena bermuatan positif , ion amonium tidak mudah hilang oleh proses pencucian.

Nitrogen adalah komponen utama dari berbagai substansi penting didalam tanaman.  Sekitar 40 – 50% kandungan protoplasma yang merupakan substansi hidup dari sel tumbuhan terdiri dari senyawa nitrogen.

2.  Fospor (P)

Fospor diserap tanaman dalam bentuk H2PO4-, HPO42 -, dan PO42 -, atau tergantung dari nilai pH tanah.  Fospor sebagian besar berasal dari pelapukan batuan mineral alami, sisanya berasal dari pelapukan bahan organik.  Keberadaan fospor dalam tanah mineral cukup banyak akan tetapi sebagian besar fospor terikat secara kimia oleh unsur lain sehingga menjadi senyawa yang sukar larut di alam air.  Mungkin hanya 1% saja fospor yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman.

Ketersediaan fospordi dalam tanah banyak ditentukan oleh pH tanah.  Pada tanah ber-pH rendah, fospor akan bereaksi dengan ion besi dan alumunium.  Reaksi ini mementuk besi fospat atau aluminium fospat yang sukar larut di alam air sehinga tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman.  Pada tanah er-pH tingi , fospat akan bereaksi dengan iopn kalsium. Reaksi ini membentuk kalsium fospat yang sifatnya sukar larut dan tidak apat digunakan oleh tanaman.  Dengan demikian, tanpa memperhatikan pH tanah, pemupukan fospat tidak akan berpengaruh bagi pertumbuhan tanaman.

3.    Kalium (K)

Kalium diserap tanaman dalam bentuk ion K-.  Di dalam tanah ion tersebut bersifat sangat dinamis, sehingga sangat mudah tercuci pada anah berpasir dan tanah dengan pH rendah.  Keberadaan kalium di dalam tanah cukup melimpah, tanah mengandung 400 – 650 kg kalium untuk setiap 93 m2 (pada kedalaman 15 cm).   Namun sekitar 90 – 98% berbentuk mineral primer yang tidak dapat terserap oleh tanaman.  Sekitar 1 – 10% terjebak dalam koloid tanah karena kaliumnya bermuatan positif.  Bagi tanaman ketersediaan kalium pada posisi ini agak lambat.  Hanya sekitar 1 – 2% terdapat di dalam larutan tanah dan mudah tersedia bagi tanaman.  Kandungan kalium sangat tergantung pada jenis mineral pembentuk tanah dan kondisi cuaca setempat.

Persediaan kalium di dalam tanah dapat berkurang karena tiga hal, yaitu pengambilan kalium oleh tanaman, pencucian  kalium oleh air dan erosi tanah.

Pada tanah berpasir harus dipertimbangkan kalium yang hanyut ke bawah area perakaran, selama musim tanam.  Pencucian akan lebih banyak terjadi jika pH tanah di bawah normal.  Pada tahan berpartikel liat, proses pencucian lebih tertekan dan pupuk kalium yang diberikan dapat bertahan lebih lama di dalam areal perakaran.  Pencucian kalium dapat ditekan  dengan program pengapuran,

Dalam pemupukan kalium, perhatikan jumlah kalium yang ersedia di dalam tanah (hasil analisis tanah).  Pada tanah ber pH rendah ketersediaan kaliumnya sangat rendah.  Faktor lain yang berpengaruh dalam menghitung jumlah pupuk kalium adalah kapasias tukar kation, jenis tanaman, hasil yang diharapkan, dan persentase kejenuhan basa (hasil analisis tanah).

4.    Sulfur (S)

Tanaman menyerap sulfur dalam bentuk ion sulfat (SO42-) yang tidak banyak terdapat di dalam tanah mineral.  Karena bermuatan negatif, ion sulfat mudah hilsng dari daerah perakaran karena tercuci oleh aliran air.  Sebagian besar sulfur di dalam tanah berasal dari bahan organik yang telah mengalami dekomposisi, sulfur elemental (bubuk/batu belerang) dari aktivitas vulkanis, dan partikel dari cerobong asap pabrik yang terbawa ke tanah oleh hujan.

Batu belerang di dalam tanah dapat berubah menjadi ion sulfat dalam waktu yang lebih lama, tergantung pada ukuran butirannya.  Cara terbaik untuk memangun cadangan sulfur adala dengan menambahkan bahan orrgnik dan menjaga agar jumlah bahan organik di dalam tanah tetap optimal.  Jika jumlah sulfur organik berkurang diperlukan pupuk dan perlakuan khusus untuk memperbaikinya.  Tnah yang ber-pH rendah mengandung ion sulfat yang rendah.  Selain hlang karena tercuci dan di amil tanaman, ion sulfat dapa hilang akarena menguap ke udara dalam bentuk H2S atau dalam bentuk gas sulfur yang lainnya.  Hal ini dapat terjadi jika tanah terlalu padat atau tergnang air sehinga kadar oksigennya sangat rendah.

5.    Magnesium (Mg)

 

Magnesium diserap tanaman dalam bentuk ion magnesium (Mg2+).  Di dalam tanah magnesium erasal dari pelapukan batuan mineral.  Kandungan magnesium pada tanah podsolik merah berkisar pada 0,05%.  Pada tanah di dekat pantai , kandungan magnesiumnya sampai 1,34%.  Karena bermuatan positif ion magnesium dapat terikat pada koloid tanah atao tetap berada di dalam larutan tanah.  Pada tanah ber-pH renah, ketersediaan magnesium juga rendah. Kehilangan magnesium dari dalam tanah disebabkan leh beberapa paktor, yakni pengambilan oleh tanaman, pemakaian sementara oleh mikroorganisme tanah, dan kehilangan karena hanyut oleh aliran air atau erosi.

Cara paling praktis untuk mengoreksi kekuranan magnesium pada tanah ber-pH rendah adalah dengan menebarkan kapur dolomit yan mengandung kalsium dan magnesium.  Pada tanah yang ber-pH tinggi diperlukan pupuk dengan kelarutan lebih cepat, misalnya magnesium sulfat.

6.    Calsium (Ca)

Kalsium diserap tanaman dalam bentuk ion kalsium (Ca2+).  Dalam tanah kalsium berasal dari mineral primer pementuk tanah, misalnya batu kapur.  Kandungan kalsium dalam tanah berkisar 0,1 – 0,5%.  Karena bermuatan positif, ion kalsium dapat terikat pada koloid tanah sehingga dikatagorikan sebaai kalsium yang tersedia bagi tanaman.  Namun, jika bereaksi dengan ion negatif, menjadi senyawa yang sukar dimanfaatkan oleh tanaman.

Unsur Hara Mikro

1.    Seng (Zn)

Seng diserap oleh tanaman dalam bentuk ion Zn2+.  seng merupakan bagian dari sistem enzim tanama.  Fungssi seng cukup pentin, antara lain sebagai katalisator dalam pembentukan protein, mengatur pembentukan asam indoleasetik (asam yang berfunsi sebagai zat pengatur tumbuh tanaman), dan berperan aktif dalam transformasi karbohidrat.

kekurangan seng dapat terjadi pada tanah yan mengandung kadar phosfat tinggi atau di daerah yang bersuhu rendah, misalnya di daerah pegunungan.

keberadaan seng di dalam tanah akan menurun seiring dengan peningkat5an pH.  Pada tanah berr pH 5-6, seng banyak tersedia.  Pada tanah ber pH 6-9, ketersediaan seng semakin menurun dan pada pH di atas 9, seng tidak lagi dapat diserap oleh tanaman.

2.    Besi (Fe)

Besi diserap tanaman dalam bentuk ion Fe2+.  Unsur mikro ini sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk pembentukan klorofil.  Besi berfungsi sebagai aktipator dalam proses biokimia di ddalam tanaman, seperti fotosintesis dan respirasi.  selain itu besi juga sebagai unsur pembentuk beberapa enzym tanaman.  Kekuranan besi di dalam tanah disebabkan oleh kadar Ca, P,atau Mn di dalam tanah yang terlalu tinggi.  Ketersedian besi akan menurun seiring dengan meningkatnya pH tanah.

3.    Mangan (Mn)

 Mangan diserap tanaman dalam bentuk ion Mn2+.    unsur mikro ini berfungsi sebagai aktifator berbagai enzim yang berperan dalam proses pembongkaran karbohidrat dan metabolisme nitrogen.  mangan bersama dengan besi membantu terbentuknya sel-sel kloropil.  ketersediaan mangan di dalam tanah akan menurun seiring dengan meningkatnya pH tanah.  faktor terpenting dalam mengintrol ketersediaan mangan di dalam tanah adalah pengaturan pH tanah.  Jika pH tanah di bawah 4,5, jumlaah mangan yang terlarut sangat banyak, sehingga menjadi racun.  Konsentrasi Mn yang terlalu besar di dalam larutan tanah juga dapat menekan penyerapan besi.  Dengan pengapuran yang tepat, efek buruk dari Mn dapat dihindari.

4.    Tembaga (Cu)

Tembaga diserap tanaman dalam bentuk ion Cu2+ atau ion Cu3+.  Tembaga adalah aktifator enzim dalam proses penyimpanan cadangan makanan.  Di alam tanaman ,tembaga memiliki beberapa peran, yaitu sebagai katalisator dalam proses pernapasan dan perombakan karbohidra, sebagai salah satu elemendalam proses pementukan vitamin A, dan scara tidak langsungberperan dalam proses pembentukan klorofil.

5. Boron (B)

Boron diserap tanaman dalam bentuk ion BO32-.  Unsur boron sangat dibutuhkan dalam proses diferensiasi (pementukan) sel sedang tumbuh.  Boron yang larut di dalam larutan tanah mudah hilang karena tecuci.  Kondisi ini terjadi pada tanah masam (pH dibawah 5) di daerah yan bercurah hujan tingi.  Ketersediaan boron paling tingi pada pH tsns 6-7 dan menurun pada anah bertekstur liat yang er pH 7,5-8,5.  Boron tidak bisa dipindahkan dari satu jaringan ke jaringan lain.

6.    Molibdenum (Mo)

 Molibdenum diserap tanaman dalam bentuk ion MoO42-.  Unsur mikro ini berperan dalam penyerapan N, pengikatan (fiksasi) N, asimilasi N, dan secara tidak langsung juga berperan dalam produksi asam amino dan protein.  Unsur ini juga berfungsi sebagai aktifaor beberapa jenis enzim.  Pada anah berpasir dan tanah ber pH rendah sanant mungkin mengalami kekuanan Mo karena terjadi proses pencucian.  Ketersediaan Mo meningkat seirin dengan peningkatan pH tanah. Shinga pH tanah adalah faktor terpenting alam mengontrol ketersediaan Mo.  Kekuranan Mo dapat dikoreksi dengan pengapuran yang tepat.

7.    Khlor (Cl)

Khlor diserap tanaman dalam bentuk ion Cl-.  Unsur mikro ini dibutuhkan dalam proses fotosintesis.  Keberadaannya tidak dihasilkan dari metabolisme tanaman.  Funsi khlor berkaitan langsung dengan pengaturan tekanan osmosis di dalam sel tanaman.  Kebutuhan Cl lebih sedikit dibanding dengan unsur mikro yang lain.  Jika di alam tanah terlalu banyak kandungan Cl, tanaman akan keracunan.  Penyerapan NO3-, SO42- juga akan menurun.

Gejala-gejala Difisiensi Unsur Hara

Pada praktik budidaya tanaman kita sering dihadapkan pada masalah pertumuhan tanaman tidak normal, yaitu tanaman kerdil, warna daun berubah dan kematian organ tanaman seterti daun, bunga dan buah yang ditandai dengan kerontokan.

Apabila tidak ada orgn lain yang menyebabkan gangguan atau kelainan pertumbuhan tersebut, maka kelainan pertumbuhan itu disebabkan adanya kekurangan/kelebihan salah satu atau beberapa unsur hara yang dibutuhkan tanaman.  Kelainan tumbuhan an gejala-gejala kekurangan unsur dikemukakan dalam uraian di bawah ini.

 3.      Menentukan Metode Pemupukan

 

Jenis-jenis Pupuk

1.    Pupuk sumber Nitrogen

  • Amoniun Nitrat

Kandungan nitratnya membuat pupuk ini cocok digunakan di daerah dingin dan daerah panas.  Pupuk ini akan membakar tanaman apabila diberikan terlalu dekat dengan akar tanaman atau kontak langsung engan daun.  Ketersediaan bagi tanaman sangat cepat sehingga frekuensi pemberiannya harus lebih sering.  Amonium Nitrat bersifat higroskopis sehingga tidak dapat disimpan lebih lama.

  • Amonium Sulfat

Pupuk ini dikenal dengan nama pupuk ZA, mengandung 21% nitrogen dan 26% sulfus, erbentuk kristal dan bersifat kurang higroskopis.  Reaksi kerjanya agak lambat sehinga cocok digunakan untuk pupuk dasar.  Sifat reaksinya asam, sehingga tidak disarankan untuk tanah ber pH rendah.

  • Kalsium Nitrat

Pupuk ini berbentuk butiran, berwarna putih, sangat cepat larut di dalam air.  Kalsium nitrat merupakan sumber kalsium yang baik karena mengandung 19% Ca.  Sifat lainnya adalah bereaksi basa dan higroskopis.

  • Urea

Pupuk urea memiliki kandungan N yang tinggi yaitu 46%, sehingga sangat higroskopis.  Urea mudah larut dalam air dan bereaksi cepat, juga mudah menguap dalam bentuk amonia.

2.    Pupuk sumber Fosfor

  • SP-36

Mengandung 36% fosfor dalam bentuk P2O5.  ppuk ini terbuat dari fosfat alam dan sulfat.  Berbentuk butiran an berwarna au-abu. Sifatnya agak sulit larut dalam air dan bereaksi lambat sehingga selalu digunakan sebagai pupuk dasar.  Reaksi kimianya tergolong netral, tidak higroskopis, dan tidak bersifat membakar.

  • Amonium Phosfat

Pupuk ini umumnya digunakan untuk merangsang pertumbuhan awal.  Bentuknya berupa butiran berwarna coklat kekuningan.  Reaksinya termasuk alkalis dan mudah larut di dalam air.  Sifat lainnya adalah tidak higroskopis sehingga tahan disimpan lebih lama  dan tidak bersifat membakar karena indeks garamnya rendah.

3.    Pupuk sumber Kalium

  • Kalium Klorida

Mengandung 45% K2O dan klor, bereaksi agak asam dan bersiat higroskopis.  Khlor berpengaruh negatif terhadap tanaman yang tidak membutuhkanya.

  • Kalium Sulfat

Pupuk ini lebih dikenal dengan nama ZK. Kadar K2O-nya sekitar 48-52%, berbentuk tepung putih yang larut di dalam air, bersifat asam.  Dapat digunakan sebagai pupuk dasar sesudah tanam.

  • Kalium Nitrat

Mengandung 13% N dan 44% K2O, berbentuk butiran berwarna putih yang tidak bersifat higroskopis dengan reaksi yang netral.

4.    Pupuk sumber unsur makro sekunder

  •  Kapur dolomit

Berbentuk bubuk berwarna putih kekuningan, dikenal sebagai bahan untuk menaikan pH tanah.  Dolomit adalah sumber Ca (30%) dan Mg (19%) yang cukup baik.  Kelarutannya agak rendah dan kualitasnya sangat ditentukan oleh ukuran butirannya.  Semakin halus butirannya semakin baik kualitasnya.

  • Kapur Kalsit

Dikenal sebagai kapur pertanian berbentuk bubuk berfungsi untuk meningkatkan pH tanah.  Warnanya putih dan butirannya halus, mengandung 90199% Ca.  Bersifat lebih cepat larut di dalam air.

  • Kalium Magnesium Sulfat (Paten Kali)

Pupuk ini mengandung 30% K2O, 12% S, dan 12% MgO, erbentuk butiran dan berwarna kuning.  Bersifat sukar larut dalam air.

  • Kapur Gypsum

Erbentuk bubuk berwarna putih.  Mengandung 39% Ca, 53% S, dan sedikit Mg.  Gypsum digunakan untuk meneralisir tanah yang erganggu karena kadar garam yang tingi.

  •  Bubuk Belerang

Bubuk belerang adalah sumber sulfur yang terbesar, kandungannya dapat mencapai 99%.   Namun bubuk ini tidak lazim digunakan untuk mengatasi defisiensi sulfur, tetapi lebih banyak digunakan untuk menurunkan pH tanah.

5.    Pupuk sumber unsur mikro

Pupuk sebagai sumber unsur hara mikro ersedia dalam dua entuk, yakni bentuk garam anorganik dan bentuk organik sinteis.  Kedua bentuk ini bersifat mudah larut di dalam air.  Contoh pupuk mikro yang berbentuk garam anorganik adalah Cu, Fe,Z dan Mn yan seluruhnya bergabung dengan sulfat.  Sebagai sumber boron, umumnya digunakan sodium tetra borat yang banyak digunakan sebagai pupuk aun.  Sumber Mo ummnya menggunakan sodium atau anonium molibdat.  Di baah ini berbagai garam anorganik dan kandungan unsur hara mikronya.

Bentuk organik sintetis ditandai dengan adanya agen pengikat unsur logam yang disebut chelat. Chelat adalah bahan kimia organik yang dapat mengikat ion logam seperti yang dilakkan koloid tanah.  Unsur hara mikro yang tersedia  dalam bentuk chelat adalah Fe, Mn, Cu, dan Zn.

Selain disediakan oleh kedua jenis pupuk di atas unsur mikro juga disediakan oleh berbagai pupuk majemuk yang banyak beredar di pasaran.

Karakteristik Pupuk

1.    Analisis pupuk

Kadar unsur hara yang dikandung pupuk disebut dengan analisis pupuk.  Untuk unsur makro kadar tersebut dinyatakan dalam satuan persen, sedangkan unsur mikro dinyatakan dalam satuan ppm.  Jenis unsur hara yang dikandung ppuk tidak dinyatakan dalam unsur tunggal tetapi dinyatakan dalam persentase total N, P2O5 dan K2O.  Sebagai contoh ppuk urea mengandung 45% N, berarti dalam 100 kg pupuk Urea terdapat 45 kg N total.

Pupuk NPK dengan analisis 15:15:15 menunjukkan pupuk tersebut mengandung 15% N, 15% P2O5 dan 15% K2O.  Analisis ppuk selalu tertera pada kemasan pupuk.  Jenis pupuk yang sama belum tentu mengandung analisis yang sama, biasanya berbea sekitar 1-2%.  Hal ini sangat tergantung pada pabrik pemuatnya.  Karena itu saangat penting membaca dan memaami label yang terdapat pada kemasan pupuk.

2.    Higroskopisitas

Higroskopisitas adalah sifat pupuk yang berkaitan dengan potensinya dalam mengikat air dari udara.  Pupuk dianggap bersifat higroskopis jika di tempat terbuka mudah sekali mencair.  Sifat ini sangat menentukan daya simapan pupuk.  Pupuk yang bersifat higroskopis hendaknya tidak disimpan terlalu lama dan harus disimpan di tempat yang tertutup (kedap udara), kalau tiak ppuk akan cepat mencair atau menggumpal.

3.    Daya larut

Daya larut merupakan kemampuan suatu jenis ppuk untuk terlarut dalam air.  Daya larut juga menentukan cepat atau lambatnya unsur hara yang ada di dalam pupuk untuk diserap tanaman atau hilang karena tecuci.  Pupuk engan daya larut tingi lebih cepat diserap oleh tanaman, tetapi mudah tercuci oleh hujan.  Pupuk yang mengandung nitrogen biasanya mempunyai daya larut yang tinggi.

4.    Reaksi pupuk

Setelah pupuk ditebarkan ke tanah, pH tanah dapat berubah menjadi lebih tingi atau lebih rendah.  Jenis pupuk yang menyebabkan pH tanah meningkat disebut pupuk bereaksi basa dan pupuk yang menyebabkan pH tanah menurun disebut pupuk bereaksi asam.

5.    Indeks garam

Penebaran pupuk di tanah kan meningkatkan konsentrasi garam di dalam tanah.  Peningkatan konsentrasi garam ini akan menaikan tekanan osmosis larutan tanah, sehingga berpenaruh terhadap proses penyerapan unsur hara.  Larutan tanah dengan tekanan osmosis yang tinggi dapat menyebabkan larutan hara tidak dapat terserap tetapi cairan sel justru akan keluar dari akar (plasmolisis jaringan akar).  Pupuk dengan indeks garam yang tinggi  harus ditempatkan lebih jauh dari perakaran tanaman dibanding dengan pupuk dengan indeks garam rendah.

Perhitungan Pupuk

Agar dosis pupuk yang ditebarkan sesuai dengan yang diinginkan, sebelum melakukan pemupukan diperlukan beberapa penghitungan.  Berikut beberapa contoh penghitungan pupuk sebeluk melaksanakan pemupukan.

contoh 1

Hasil analisis jaringan tanaman merekomendasikan untuk melakkan pemupukan pada tanaman perkebunan dengan 150 gram N, 75 gram P2O5, dan 150 gram K2O pertanaman.  Pupuk yang tersedia di pasaran adalah Urea (45% N), SP-36 (36% P2O5), dan KCl (60% P2O).  Berdasarkan rekomendasi pemupukan, bobot setiap pupuk yang diperlukan untuk memenuhi rekomendasi di atas adalah :

Urea yang diperlukan adalah : 100/45 x 150 g = 333,3 gram

SP-36 yang diperlukan adalah : 100/36 x 75 g = 208,3 gram

KCl yang diperlukan adalah : 100/60 x 150 g = 249,9 gram

contoh 2

Seorang petani kopi ingin memupuk tanaman peliharaannya dengan NPK 15:15:15 dengan dosis yang dianjurkan 500 kg NPK/ha.  Jenis pupuk yang tersedia adalah Urea (45% N), SP-36 (36% P2O5), dan KCl (60% P2O).  Langkah yang harus dilakkan adalah mencampur ketiga jenis pupuk tersebut sampai kadarnya setara dengan dosis pupuk NPK yang dianjurkan.  Pertama hitung kadar N, P dan K dalam dosis yang dianjurkan, dan akan diperoleh :

  • Kadar N                     = 15% x 500 kg = 75 kg
  • Kadar P2O5                = 15% x 500 kg = 75 kg
  • Kadar K2O                 = 15% x 500 kg = 75 kg

Selanjutnya hitung jumlah kebutuhan pupuk Urea, SP-36, dan KCl sebagai berikut :

  • Kebutuhan Urea      = 100/45 x 75 = 166,67 kg
  • Kebutuhan SP-36   = 100/36 x 75 = 208,33 kg
  • Kebutuhan KCl        = 100/60 x 75 = 124,99 kg

Aplikasi Pemupukan

Faktor penentu memilih cara aplikasi

Dalam menentukan cara aplikasi  atau penempatan pupuk  harus mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut.

a.    Tanaman yang akan dipupuk

  • Nilai ekonomi tanaman dan luas areal tanam.  Tanaman dengan nilai ekonomi yang tinggi atau mempunyai skala penanaman yang sangat luas dapat mempertimangkan cara penempatan pupuk dengan alat mekanis.
  • Umur tanaman.  Tanaman di pesemaian dapat dipupuk dengan cara menyemprotkan pupuk lewat daun.  Pupuk unuk tanaman di lapangan yang masih kecil diberikan dengan cara menugal.  Pada tanaman yang sudah besar pupuk dapat diberikan dengan cara larikan
  • Jarak tanam dan karakter tajuk.  Tanaman dengan jarak tanam yang rapat dapat dipupuk dengan cara larikan pada satu sisi barisan tanaman.  Tanaman yang ditanam berjauhan dapat dipupuk dengan cara membuat larikan yang melingkar mengelilngi pohon

b.    Jenis pupuk yang digunakan

  • Dalam pemupukan kita harus memperhatikan Mobilitasnya di dalam tanah.  Fosfor hampir tidak bersifat mobil, akibatnya pupuk ini tetap berada di tempat semula dalam jangka waktu yang lama sehingga diberikan sekaligus dan harus diberikan dekat dengan perakaran dengan cara menugal atau larikan.  Pupuk Kalium dan Nitrogen cenderung mudah bergerak dari tempat penbarannya.  Pola pergerakannya vertikal ke bawah bersama-sama air. Karena sifatnya yang mobil pupuk kalium dan nitrogen dapat diberikan dengan ara ditebar dipermkaan tanah atau atau dengan larikan.
  • Indeks garam. Pupuk dengan indeks garam yang tingi tidak boleh ditempatkan terlalu dekat dengan akar karena akan merusak tanaman.
  • Ukuran pupuk.  Pupuk dengan ukuran  butiran yang sangat halus seperti kapur umumnya ditebar di atas permukaan tanah.

c.    Dosis Pupuk

Tidak disarankan menempatkan pupuk dengan dosis sangat tinggi di dalam larikan karena akan merusak tanaman.  Pupuk tersebut sebaiknya ditebar agar idak erjadi penumpukan disatu tempat.

Cara aplikasi pupuk

1.    Larikan

Caranya buat parit kecil di samping baris tanaman sedalam 6-10 cm, tempatkan pupuk di dalam larikan tersebut, kemudian tutup kembali.  Cara ini dapat dilakukan pada satu atau kedua sisi tanaman.  Pada tanaman dengan jarak tanam yang lebar larikan dibuat melingkar di sekeliling pohon dengan jari-jari 0,5-1 kali jari-jari tajuk pohon.

2.    Penebaran secara merata di atas permukaan tanah

Cara ini biasanya dilakukan sebelum penanaman atau bersamaan dengan pengolahan tanah, seperti pada aplikasi kapur.  Pada pemupukan susulan hal ini dapat dilakukan untuk pupuk yang tidak mudah menguap.

 3.    Pop Up

Caranya ppuk dimasukkan pada lubang tanam pada saat penanaman bibit.  Pupuk yang digunakan harus yang indeks garamnya rendah agar tidak merusak bibit.

4.    Fertigasi

Pupuk dilarutkan kedalam air dan disiramkan pada tanaman melalui air irigasi.  Cara ini banyak dilakukan pada pembibitan

Waktu pemupukan

Dilihat dari sifat bereaksinya pupuk ada yang cepat ada yang lambat, sehingga hal ini akan mempengaruhi kepada kapan pupuk itu harus diberikan.  Pupuk yang bereaksi cepat biasanya diberikan diawal tanam sebagai pupuk dasar dan akan tersedia dalam jangka waktu yang lama sehingga frekuensi aplikasinya sedikit.  Sedangkan pupuk yang bereaksi cepat biasanya diberikan secara bertahap karena pupuk ini cepat tercuci sehinga cepat berkurang ketersediaanya dalam tanah.  Dilihat dari peranannya ada yang berperan dalam pertumuhan vegetatif dan generatif, sehinga pemberiannyapun disesuaiakan dengan masa pertumbuhan tanaman.

DAFTAR PUSTAKA

  

Mul Mulyani Sutedjo, Ir. 1985. Pupuk dan Cara Pemupukan. Bina Cipta. Jakarta.

Sri setyadi Harjadi, MM., Dr. 1979. Pengantar Agronomi. PT. Gramedia. Jakarta.

Mul Mulyani Sutedjo, Ir. 1989. Analisis Tanah, Air, dan Jaringan Tanaman. Rineka Cipta. Jakarta.

Novizan, Ir. 2001. Petunjuk Pemupukan yang Efektif. AgroMedia Pustaka. Jakarta.

Artikel Terkait:

Hama dan Penyakit (PHT)

April 12, 2011 pukul 12:26 pm | Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar

Mengatasi Hama dengan Kumbang dan Laba-laba

Pada Edisi sebelumnya (Kobar Warga, Selasa, 23 Maret 2010), digambarkan bagaimana cara mengatasi serangan hama dengan ramuan-ramuan tanaman dengan campuran bahan-bahan organik. Pada edisi kali ini, akan disajikan manfaat serangga, kumbang dan laba-laba sebagai musuh alami untuk pemberantasan hama tanaman.Musuh Alami Hama
Musuh alami merupakan salah satu komponen pengendalian hama terpadu yang dapat dimanfaatkan pada segala pola tanam. Pengendalian hama dengan memanfaatkan musuh alami memberikan banyak keuntungan di samping aman terhadap lingkungan, berkembang secara alami di lapang, apabila keberadaannya dapat diusahakan sejak awal akan efektif menekan perkembangan populasi hama.
Dalam sejarah pengendalian hama perhatian terhadap musuh alami sangat berkurang semenjak secara sepihak penggunaan pestisida dianggap satu-satunya metode pengendalian yang dapat diandalkan. Namun pengendalian dengan pestisida menimbulkan banyak efek samping baik masalah resistensi, resurjensi, dan terhadap organisme bukan sasaran. Kesadaran terhadap pentingnya pemanfaatan musuh alami dalam pengendalian hama sangat penting. (pangan.litbang.deptan.go.id)Musuh alami hama wereng hijau bisa berupa predator, parasit maupun patogen. Secara harfiah, predator dapat dikatakan sebagai pemangsa. Namun, dalam hubungannya dengan jaring-jaring makanan, predator merupakan konsumen tingkat-2 sampai tingkat selanjutnya yang memangsa tingkat yang lebih kecil. Jadi, predator dapat dikatakan sebagai binatang atau organisme yang memakan binatang/organisme lainnya untuk mempertahankan hidupnya dan dilakukan secara berulang-ulang.Keberadaan predator dalam suatu ekosistem mutlak dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan lingkungan yang ada. Predator merupakan serangga yang memangsa serangga lain dengan cara menangkap, menghisap cairan atau memangsa habis seluruh tubuh. Untuk melengkapi daur hidupnya untuk tujuan kelangsungan hidup, seekor predator memerlukan beberapa bahkan banyak mangsa. Hal ini berbeda dengan parasit. Parasit memerlukan satu ekor inang saja sebagai tempat untuk melengkapi daur hidupnya. (www.tanindo.com).Pentingnya Predator
Keberadaan dan pentingnya predator dalam ekosistemnya dapat kita lihat kasus sebagai berikut : saat kita memulai menanam padi, maka saat itu juga kita memulai menciptakan sebuah komunitas baru pada areal penanaman padi. Pada saat bersamaan kita tidak hanya menanam padi melainkan juga hama penghisap bulir, penggerek batang, penyakit malai, penyakit busuk malai, predator Lycosa pesudoannulata, Pederus fuscifes, Ophionea nigrofasciata dan kumbang coccinella yang semuanya terkait dengan tanaman padi yang kita tanam. Begitu pula halnya dengan tanaman perkebunan yang dibudidayakan.Penggunaan pestisida yang berlebihan, berspektrum luas dan tidak selektif disertai tehnik budidaya yang kurang baik akan berdampak pada ketidakseimbangan ekosistem, karena tidak hanya hama saja melainkan semua pemangsanya pun turut musnah. Dan bila terjadi ledakan populasi hama yang baru, jumlah predator yang ada tidak mencukupi sehingga pengendalian biologis tidak akan efektif.Melihat pentingnya peran predator dan parasit dalam menjaga dan mengendalikan populasi hama, maka upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengurangi penggunaan insektisida yang berspektrum luas, aplikasi insektisida dengan melakukan pengamatan perbandingan jumlah hama dan musuh alami, bahkan bila perlu dalam suatu areal penanaman dilakukan manipulasi lingkungan agar mendukung peran dan jumlah musuh alaminya.Musuh Alami Hama:
Laba-laba Serigala (Lycosa pseudoanulata)
Laba-laba Bermata Jalang (Oxyopes javanus)
Laba-laba Berahang Empat (Tetragnatha spp.)
Kepik Permukaan Air (Microvellia douglasi atrolineata)
Kepik Mirid (Cyrtorhinus lividipennis)
Kumbang Stacfilinea (Paederus fuscipes)
Kumbang Karabid (Ophionea nigrofasciata)
Kinjeng Dom (Agriocnemis spp.)
Belalang Bertanduk Panjang (Conocephalus longipennis)
Kumbang Koksinelid (Synharmonia octomaculata)Disajikan oleh:
Lembaga Kajian & Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU dan Lembaga Pengembangan Pertanian NU Jombang.

ursday, 21 June 2007

Pengendalian Gulma Menggunakan Kertas

Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi. Keberadaan gulma menurunkan hasil karena mengganggu pertumbuhan tanaman produksi melalui kompetisi. Terdapat beberapa jenis tumbuhan dikenal sebagai gulma utama, seperti rumput-rumputan, teki dan alang-alang. Ilmu yang mempelajari gulma, perilakunya, dan pengendaliannya dikenal sebagai ilmu gulma.Herbisida adalah senyawa atau material yang disebarkan pada lahan pertanian untuk menekan atau memberantas tumbuhan yang menyebabkan penurunan hasil (gulma). Lahan pertanian biasanya ditanami sejenis tanaman pertanian. Namun demikian tumbuhan lain juga dapat tumbuh di lahan tersebut. Karena kompetisi dalam mendapatkan hara di tanah, perolehan cahaya matahari, dan atau keluarnya substansi alelopatik, tumbuhan lain ini tidak diinginkan keberadaannya. Herbisida digunakan sebagai salah satu sarana pengendalian tumbuhan “asing” iniTehnik baru untuk pengendalian atau mencegah pertumbuhan gulma pada lahan yang ditanami padi di sawah dengan cara menutupi tanah tempat bercocok tanam menggunakan kertas. Dengan penutupan tanah dengan kertas pada sawah tersebut dapat mencegah tumbuhnya gulma karena tidak terdapat sinar matahari yang masuk.Cara penutupan kertas dan penanaman padi dilakukan dengan menggunakan mesin yang terintegrasi. Proses penutupan kertas diatas tanah dan penanaman padi dilakukan secara bersamaan. Kertas digulung dalam mesin dan dihamparkan terlebih dahulu, sementara pada mesin yang sama sudah disiapkan bibit padi yang siap ditancamkan pada saat begitu kertas dihamparkan.Dengan cara demikian gulma tidak tumbuh sehingga dapat menghindari penggunaan herbisida, tidak menggunakan tenaga kerja untuk menyiangi dan dapat menghemat ongkos produksi dan dapat mendukung pertanian organik.


Gambar kertas yang tergulung sebelum dipasang pada mesin.


Kertas dalam mesin tanam dipasang di tempat penggulungan kertas di sebelah depan (kanan). Sedangkan tempat bibit yang siap ditanam terlihat berderet di sebelah belakang (kiri).


Hamparan tanaman padi milik seorang petani di Fukui Jepang, tidak terdapat gulma sedikitpun diatas tanahnya yang tertutup dengan kertas.

ARTIKEL

Modul Pengendalian Hama Terpadu (PHT)

Juknis HPT Jagung

Hama Dan Penyakit Kubis

Hama Penyakit Pepaya

HPT Tanaman Padi

Jenis-Jenis Hama Pada Tanaman

Jenis Hama Tanaman

Penyakit Pada Tanaman

Fitopatologi Penyakit Tanaman

Foto Serangga Pada Tanaman

Identifikasi Serangga Pada Tanaman

Insektisida atau Pestisida Alami

Pestisida Hayati

Musuh alami dan hama pada jambu mete

(Beneficial insects and pests of cashew)

Download PDF 1249 kb

Musuh alami dan hama pada kapas

(Beneficial insects and pests of cotton)

Download PDF 2292 kb

Musuh alami dan hama pada kakao

(Beneficial insects and pests of cacao)

Download PDF 1428 kb

Musuh alami dan hama pada kopi

(Beneficial insects and pests of coffee)

Download PDF 1045 kb

Musuh alami dan hama pada lada

(Beneficial insects and pests of black pepper)

Download PDF 1106 kb

Musuh alami dan hama pada teh

(Beneficial insects and pests of tea)

Download PDF 1239 kb

Klimatologi dan Irigasi

April 12, 2011 pukul 12:26 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Klimatologi untuk Pertanian

Klimatologi merupakan ilmu tentang atmosfer. Mirip dengan meteorologi, tapi berbeda dalam kajiannya, meteorologi lebih mengkaji proses di atmosfer sedangkan klimatologi pada hasil akhir dari proses2 atmosfer.

Klimatologi berasal dari bahasa Yunani Klima dan Logos yang masing2 berarti kemiringan (slope) yg di arahkan ke Lintang tempat sedangkan Logos sendiri berarti Ilmu. Jadi definisi Klimatologi adalah ilmu yang mencari gambaran dan penjelasan sifat iklim, mengapa iklim di berbagai tempat di bumi berbeda , dan bagaimana kaitan antara iklim dan dengan aktivitas manusia. Karena klimatologi memerlukan interpretasi dari data2 yang banyak dehingga memerlukan statistik dalam pengerjaannya, orang2 sering juga mengatakan klimatologi sebagai meteorologi statistik (Tjasyono, 2004)

Iklim merupakan salah satu faktor pembatas dalam proses pertumbuhan dan produksi tanaman. Jenis2 dan sifat2 iklim bisa menentukkan jenis2 tanaman yg tumbuh pada suatu daerah serta produksinya. Oleh karena itu kajian klimatologi dalam bidang pertanian sangat diperlukan. Seiring dengan dengan semakin berkembangnya isu pemanasan global dan akibatnya pada perubahan iklim, membuat sektor pertanian begitu terpukul. Tidak teraturnya perilaku iklim dan perubahan awal musim dan akhir musim seperti musim kemarau dan musim hujan membuat para petani begitu susah untuk merencanakan masa tanam dan masa panen. Untuk daerah tropis seperti indonesia, hujan merupakan faktor pembatas penting dalam pertumbuhan dan produksi tanaman pertanian.

Selain hujan, unsur iklim lain yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah suhu, angin, kelembaban dan sinar matahari.

Setiap tanaman pasti memerlukan air dalam siklus hidupnya, sedangkan hujan merupakan sumber air utama bagi tanaman. Berubahnya pasokan air bagi tanaman yg disebabkan oleh berubahnya kondisi hujan tentu saja akan mempengaruhi siklus pertumbuhan tanaman. Itu merupakan contoh global pengaruh ikliim terhadap tanaman. Di indonesia sendiri akibat dari perubahan iklim, yaitu timbulnya fenomena El Nino dan La Nina. Fenomena perubahan iklim ini menyebabkan menurunnya produksi kelapa sawit. Tanaman kelapa sawit bila tidak mendapatkan hujan dalam 3 bulan berturut-turut akan menyebabkan terhambatnya proses pembungaan sehingga produksi kelapa sawit untuk jangka 6 sampai 18 bulan kemudian menurun. Selain itu produksi padi juga menurun akibat dari kekeringan yang berkepanjangan atau terendam banjir. Akan tetapi pada saat fenomea La Nina produksi padi malah meningkat untuk masa tanam musim ke dua.

Selain hujan, ternyata suhu juga bisa menentukkan jenis2 tanaman yg hidup di daerah2 tertentu. Misalnya perbedaan tanaman yang tumbuh di daerah tropis, gurun dan kutub. Indonesia merupakan daerah tropis, perbedaan suhu antara musim hujan dan musim kemarau tidaklah seekstrim perbedaan suhu musim panas dan musim kemarau di daerah2 sub tropis dan kutub. Oleh karena itu untuk daerah tropis, klasifikasi suhu lebih di arahkan pada perbedaan suhu menurut ketinggian tempat. Perbedaan suhu akibat dari ketinggian tempat (elevasi) berpengaruh pada pertumbuhan dan produksi tanaman. Sebagai contoh, tanaman strowbery akan berproduksi baik pada ketinggian di atas 1000 meter, karena pada ketinggian 1000 meter pebedaan suhu antara siang dan malam sangat kontras dan keadaan seperti inilah yg dibutuhkan oleh tanaman strowbery.

Info Indeks Nino 3.4 terkini untuk memantau kondisi El Nino La Nina

Salah satu cara untuk memantau keadaan ENSO (El Nino atau La Nina) adalah dengan melihat indeks-indeksnya seperti SOI (Southern Oscillation Index), MEI (Multivariate ENSO Index), atau NINO Index. Kenapa perlu memantau kondisi index-index ini? karena iklim, khususnya curah hujan di Indonesia sangat di pengaruhi oleh kondisi ENSO ini. Gambar di bawah adalah informasi terkini kondisi NINO 3.4 index yang bersumber dari UNESCO (http://ioc3.unesco.org/oopc/state_of_the_ocean/sur/images/nino34weekly_104_figure.png). Di bawah gambar tersebut saya tampilkan juga perkiraan kondisi kejadian La Nina tahun 2011 berdasarkan perkiraan IRI (http://iri.columbia.edu/climate/ENSO/currentinfo/figure3.html). Selama 3 bulan kedepan (Januari Februari Maret) kemungkinan terjadinya La Nina adalah masih tinggi. Akan tetapi kondisi ini tidak terlalu mengkhawatirkan untuk sebagian wilayah Indonesia, karena saat musim hujan dan transisi musim hujan ke musim kemarau efek kejadian ENSO (El Nino atau la Nina) tidak terlalu berpengaruh terhadap fluktuasi curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia (As-syakur, 2010). sebagai informasi tambahan, saya juga tambahkan gambar yang selelau terupdate otomatis dari NOAA tentang seberan suhu permukaan laut (SPL) dan anomalinya. kondisi SPL dan anomalinya juga bisa menggambarkan kejadian El Nino atau La Nina.

TABLE – IRI Probabilistic ENSO Prediction for NINO3.4 Region
- Made in Dec 2010

Season La Niña Neutral El Niño
DJF 2011 98% 2% 0.2%
JFM 2011 94% 6% 0.4%
FMA 2011 85% 13% 2%
MAM 2011 64% 30% 6%
AMJ 2011 43% 45% 12%
MJJ 2011 32% 50% 18%
JJA 2011 27% 50% 23%
JAS 2011 27% 50% 23%
ASO 2011 27% 50% 23%
SON 2011 27% 50% 23%

Klasifikasi Iklim

2 Mei 2007 — La AnUnsur-unsur iklim yang menunjukan pola keragaman yang jelas merupakan dasar dalam melakukan klasifikasi iklim. Unsur iklim yang sering dipakai adalah suhu dan curah hujan (presipitasi). Klasifikasi iklim umumnya sangat spesifik yang didasarkan atas tujuan penggunaannya, misalnya untuk pertanian, penerbangan atau kelautan. Pengklasifikasian iklim yang spesifik tetap menggunakan data unsur iklim sebagai landasannya, tetapi hanya memilih data unsur-unsur iklim yang berhubungan dan secara langsung mempengaruhi aktivitas atau objek dalam bidang-bidang tersebut (Lakitan, 2002).

Thornthwaite (1933) dalam Tjasyono (2004) menyatakan bahwa tujuan klasifikasi iklim adalah menetapkan pembagian ringkas jenis iklim ditinjau dari segi unsur yang benar-benar aktif terutama presipitasi dan suhu. Unsur lain seperti angin, sinar matahari, atau perubahan tekanan ada kemungkinan merupakan unsur aktif untuk tujuan khusus.

Indonesia adalah negara yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, oleh sebab itu pengklasifikasian iklim di Indonesia sering ditekankan pada pemanfaatannya dalam kegiatan budidaya pertanian. Pada daerah tropik suhu udara jarang menjadi faktor pembatas kegiatan produksi pertanian, sedangkan ketersediaan air merupakan faktor yang paling menentukan dalam kegiatan budidaya pertanian khususnya budidaya padi.

Variasi suhu di kepulauan Indonesia tergantung pada ketinggian tempat (altitude/elevasi), suhu udara akan semakin rendah seiring dengan semakin tingginya ketinggian tempat dari permukaan laut. Suhu menurun sekitar 0.6 oC setiap 100 meter kenaikan ketinggian tempat. Keberadaan lautan disekitar kepulauan Indonesia ikut berperan dalam menekan gejolak perubahan suhu udara yang mungkin timbul (Lakitan, 2002). Menurut Hidayati (2001) karena Indonesia berada di wilayah tropis maka selisih suhu siang dan suhu malam hari lebih besar dari pada selisih suhu musiman (antara musim kemarau dan musim hujan), sedangkan di daerah sub tropis hingga kutub selisih suhu musim panas dan musim dingin lebih besar dari pada suhu harian. Kadaan suhu yang demikian tersebut membuat para ahli membagi klasifikasi suhu di Indonesia berdasarkan ketinggian tempat.

Hujan merupakan unsur fisik lingkungan yang paling beragam baik menurut waktu maupun tempat dan hujan juga merupakan faktor penentu serta faktor pembatas bagi kegiatan pertanian secara umum, oleh karena itu klasifikasi iklim untuk wilayah Indonesia (Asia Tenggara umumnya) seluruhnya dikembangkan dengan menggunakan curah hujan sebagai kriteria utama (Lakitan, 2002). Tjasyono (2004) mengungkapkan bahwa dengan adanya hubungan sistematik antara unsur iklim dengan pola tanam dunia telah melahirkan pemahaman baru tentang klasifikasi iklim, dimana dengan adanya korelasi antara tanaman dan unsur suhu atau presipitasi menyebabkan indeks suhu atau presipitasi dipakai sebagai kriteria dalam pengklasifikasian iklim.

Beberapa sistem klasifikasi iklim yang sampai sekarang masih digunakan dan pernah digunakan di Indonesia antara lain adalah:

a. Sistem Klasifikasi Koppen

Koppen membuat klasifikasi iklim berdasarkan perbedaan temperatur dan curah hujan. Koppen memperkenalkan lima kelompok utama iklim di muka bumi yang didasarkan kepada lima prinsip kelompok nabati (vegetasi). Kelima kelompok iklim ini dilambangkan dengan lima huruf besar dimana tipe iklim A adalah tipe iklim hujan tropik (tropical rainy climates), iklim B adalah tipe iklim kering (dry climates), iklim C adalah tipe iklim hujan suhu sedang (warm temperate rainy climates), iklim D adalah tipe iklim hutan bersalju dingin (cold snowy forest climates) dan iklim E adalah tipe iklim kutub (polar climates) (Safi’i, 1995).

b. Sistem Klasifikasi Mohr

Klasifikasi Mohr didasarkan pada hubungan antara penguapan dan besarnya curah hujan, dari hubungan ini didapatkan tiga jenis pembagian bulan dalam kurun waktu satu tahun dimana keadaan yang disebut bulan basah apabila curah hujan >100 mm per bulan, bulan lembab bila curah hujan bulan berkisar antara 100 – 60 mm dan bulan kering bila curah hujan < 60 mm per bulan (Anon, ?).

c. Sistem Klasifikasi Schmidt-Ferguson

Sistem iklim ini sangat terkenal di Indonesia. Menurut Irianto, dkk (2000) penyusunan peta iklim menurut klasifikasi Schmidt-Ferguson lebih banyak digunakan untuk iklim hutan. Pengklasifikasian iklim menurut Schmidt-Ferguson ini didasarkan pada nisbah bulan basah dan bulan kering seperti kriteria bulan basah dan bulan kering klsifikasi iklim Mohr. Pencarian rata-rata bulan kering atau bulan basah (X) dalam klasifikasian iklim Schmidt-Ferguson dilakukan dengan membandingkan jumlah/frekwensi bulan kering atau bulan basah selama tahun pengamatan ( åf ) dengan banyaknya tahun pengamatan (n) (Anon, ? ; Safi’i, 1995).

Schmidt-Fergoson membagi tipe-tipe iklim dan jenis vegetasi yang tumbuh di tipe iklim tersebut adalah sebagai berikut; tipe iklim A (sangat basah) jenis vegetasinya adalah hutan hujan tropis, tipe iklim B (basah) jenis vegetasinya adalah hutan hujan tropis, tipe iklim C (agak basah) jenis vegetasinya adalah hutan dengan jenis tanaman yang mampu menggugurkan daunnya dimusim kemarau, tipe iklim D (sedang) jenis vegetasi adalah hutan musim, tipe iklim E (agak kering) jenis vegetasinya hutan savana, tipe iklim F (kering) jenis vegetasinya hutan savana, tipe iklim G (sangat kering) jenis vegetasinya padang ilalang dan tipe iklim H (ekstrim kering) jenis vegetasinya adalah padang ilalang (Syamsulbahri, 1987).

Table Klasifikasi Iklim Menurut Schmidt-Ferguson

d. Sistem Klasifikasi Oldeman

Klasifikasi iklim yang dilakukan oleh Oldeman didasarkan kepada jumlah kebutuhan air oleh tanaman, terutama pada tanaman padi. Penyusunan tipe iklimnya berdasarkan jumlah bulan basah yang berlansung secara berturut-turut.

Oldeman, et al (1980) mengungkapkan bahwa kebutuhan air untuk tanaman padi adalah 150 mm per bulan sedangkan untuk tanaman palawija adalah 70 mm/bulan, dengan asumsi bahwa peluang terjadinya hujan yang sama adalah 75% maka untuk mencukupi kebutuhan air tanaman padi 150 mm/bulan diperlukan curah hujan sebesar 220 mm/bulan, sedangkan untuk mencukupi kebutuhan air untuk tanaman palawija diperlukan curah hujan sebesar 120 mm/bulan, sehingga menurut Oldeman suatu bulan dikatakan bulan basah apabila mempunyai curah hujan bulanan lebih besar dari 200 mm dan dikatakan bulan kering apabila curah hujan bulanan lebih kecil dari 100 mm.

Lamanya periode pertumbuhan padi terutama ditentukan oleh jenis/varietas yang digunakan, sehingga periode 5 bulan basah berurutan dalan satu tahun dipandang optimal untuk satu kali tanam. Jika lebih dari 9 bulan basah maka petani dapat melakukan 2 kali masa tanam. Jika kurang dari 3 bulan basah berurutan, maka tidak dapat membudidayakan padi tanpa irigasi tambahan (Tjasyono, 2004).

Oldeman membagi lima zona iklim dan lima sub zona iklim. Zona iklim merupakan pembagian dari banyaknya jumlah bulan basah berturut-turut yang terjadi dalam setahun. Sedangkan sub zona iklim merupakan banyaknya jumlah bulan kering berturut-turut dalam setahun. Pemberian nama Zone iklim berdasarkan huruf yaitu zone A, zone B, zone C, zone D dan zone E sedangkan pemberian nama sub zone berdasarkana angka yaitu sub 1, sub 2, sub 3 sub 4 dan sub 5.

Zone A dapat ditanami padi terus menerus sepanjang tahun. Zone B hanya dapat ditanami padi 2 periode dalam setahun. Zone C, dapat ditanami padi 2 kali panen dalam setahun, dimana penanaman padi yang jatuh saat curah hujan di bawah 200 mm per bulan dilakukan dengan sistem gogo rancah. Zone D, hanya dapat ditanami padi satu kali masa tanam. Zone E, penanaman padi tidak dianjurkan tanpa adanya irigasi yang baik. (Oldeman, et al., 1980)

Tabel Klasifikasi iklim menurut Oldeman

Ecology and Environmental

ecology.jpgInti dari permasalahan lingkungan hidup adalah hubungan makhluk hidup, khususnya manusia dengan lingkungan hidupnya. Berbagai sumber daya alam yang mempunyai sifat dan perilaku beragam yang saling berinteraksi dalam bentuk yang berbeda-beda. Interaksi dari elemen lingkungan yaitu antara yang tergolong hayati dan non-hayati akan menentukan kelangsungan siklus ekosistem, yang didalamnya terdapat proses pergerakan energi dan material dalam suatu sistem yang menandai adanya habitat, proses adaptasi dan evolusi. Maka, dalam memanfaatnkan lingkungan hidupnya, manusia harus mampu mengenali sifat lingkungan hidup yang ditentukan oleh berbagai macam faktor. Oleh karena itu, diperlukan suatu monitoring sistem untuk memonitoring sumber daya alam agar bisa dimanfaatkan dengan optimal.

Irrigation

ecology3.jpg

Irigasi merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mengairi lahan pertanian. Semakin meningkatnya kebutuhan air, ketersediaan air yang terbatas, dan perhatian terhadap kualitas air, menyebabkan penggunaan air secara efektif menjadi sangat penting. Sistem irigasi pertanian harus bisa menyediakan air dalam tingkat, jumlah, dan waktu yang dibutuhkan. Sistem irigasi harus direncanakan, dirancang, dan dioperasikan secara efisien sehingga memerlukan suatu pemahaman menyeluruh tentang hubungan tanaman, tanah, persediaan air, dan kemampuan sistem irigasi.

Oleh karena itu, diperlukan suatu monitoring sistem untuk mengukur baik dan tidaknya suatu pengelolaan irigasi diperlukan suatu perangkat penilaian kinerja irigasi, seperti monitoring :

  • Montoring level dan debit air pada reservoir irigasi, sehingga bisa didapatkan data volume air untuk memperkirakan durasi pemberian air irigasi yang disesuaikan dengan kondisi volume air yang ada di dalam reservoir.
  • Monitoring pH air irigasi
  • Monitoring Kecepatan alir air saat mengairi sawah
  • Monitoring kandungan unsur-unsur kimia serta mikroba, meliputi kandungan BOD, COD dalam air.

Monitoring sedimentasi (endapan) pada reservoir irigasi, karena mempengaruhi tekstur, permeabilitas serta kesuburan tanah, mempengaruhi daya tampung saluran sehingga meningkatkan biaya untuk pemeliharaan saluran, dan menyumbat saluran irigasi.

Farm

ecology2.jpg

Banyak faktor yang mempengaruhi hasil panen dari perkebunan baik salah satunya tanah yang mendukung kesuburan dari tanaman. Untuk itu dilakukan suatu monitoring untuk melihat ketahanan dari tanah, yaitu :

  •  Memonitoring pH tanah yang merupakan salah satu sifat kimia tanah, dengan mengetahui pH tanah akan menunjukkan tingkat kesuburan tanah mereka. Mengetahui mudah tidaknya unsur-unsur hara dalam tanah diserap oleh tanaman. Unsur hara akan mudah diserap oleh tanaman (akar tanaman) pada pH netral. Menunjukkan kemungkinan adanya unsur-unsur beracun. Tanah dengan pH masam banyak ditemukan ion-ion Al (Alumunium) yang memfiksasi (mengikat) unsur P, sehingga unsur P sulit untuk diserap oleh tanaman, padahal unsur P berperan pada tanaman. Mempengaruhi perkembangan mikro organism
  •  Monitoring intensitas cahaya yang menimpa perkebunan
  •  Kandungan air dalam tanah
  • Kelembaban tanah
  • Kandungan unsur hara dalam tanah (karbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Sulfur (S), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Seng (Zn), Besi (Fe), Mangan (Mn), Tembaga (Cu), Molibden (Mo), Boron (B), Klor (Cl), Natrium (Na), Kobal (Co), dan Silikon (Si))

SEISMIC

seismic.jpg

Beberapa tahun terakhir ini kita mulai sering mendengar adanya berita gempa. Dari gempa yang ringan sampai gempa yang sangat merusak. Informasi kekuatan gempa yang beredar dimasyarakatpun bermacam-macam. Ini mengakibatkan masyarakat menjadi bingung informasi mana yang bisa dipercaya. Oleh karena itu, diperlukan suatu metode untuk memonitor getaran secara kontinus yang ditimbulkan oleh gempa sebagai informasi dini.

Kami memiliki sensor yang digunakan untuk memonitoring secara kontinus untuk mendeteksi getaran yang ditimbulkan dari gempa.

Irrigation Monitoring System

Irigasi merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mengairi lahan pertanian. Semakin meningkatnya kebutuhan air, ketersediaan air yang terbatas, dan perhatian terhadap kualitas air, menyebabkan penggunaan air secara efektif menjadi sangat penting. Sistem irigasi pertanian harus bisa menyediakan air dalam tingkat, jumlah, dan waktu yang dibutuhkan. Sistem irigasi harus direncanakan, dirancang, dan dioperasikan secara efisien sehingga memerlukan suatu pemahaman menyeluruh tentang hubungan tanaman, tanah, persediaan air, dan kemampuan sistem irigasi.

Oleh karena itu, diperlukan suatu monitoring sistem untuk mengukur baik dan tidaknya suatu pengelolaan irigasi diperlukan suatu perangkat penilaian kinerja irigasi, seperti monitoring :

  • Montoring level dan debit air pada reservoir irigasi, sehingga bisa didapatkan data volume air untuk memperkirakan durasi pemberian air irigasi yang disesuaikan dengan kondisi volume air yang ada di dalam reservoir.
  • Monitoring pH air irigasi
  • Monitoring Kecepatan alir air saat mengairi sawah
  • Monitoring kandungan unsur-unsur kimia serta mikroba, meliputi kandungan BOD, COD dalam air.
  • Monitoring sedimentasi (endapan) pada reservoir irigasi, karena mempengaruhi tekstur, permeabilitas serta kesuburan tanah, mempengaruhi daya tampung saluran sehingga meningkatkan biaya untuk pemeliharaan saluran, dan menyumbat saluran irigasi.

ARTIKEL

Modul Klimatologi Pertanian

Irigasi Lahan Pasir

Sistem Irigasi Tetes

Klimatologi Pertanian

Klimatologi Pertanian

Irigasi Pertanian

Irigasi Pertanian

Pengolahan Hasil Pertanian

April 12, 2011 pukul 12:26 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Pemasaran

April 12, 2011 pukul 12:25 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

MARGIN PEMASARAN HASIL PERTANIAN

Produktivitas hasil pertanian selalu mengalami fluktuasi, sedangkan harga hasil pertanian ditingkat prodesen cenderung mengalami peningkatan yang cukup berarti, hal ini diduga berkaitan dengan rendahnya produktivitas dari hasil pertanian. Singh dalam Sahara (2001) mengatakan bahwa fluktuasi harga yang tinggi di sektor pertanian merupakan suatu fenomena yang umum akibat ketidakstabilan (inherent instability) pada sisi penawaran.

Hal ini berarti harga hasil pertanian disebabkan oleh sifat alami dari produksi pertanian, yaitu dalam jangka pendek tidak dapat merespon tambahan permintaan atau tidak dapat mengurangi produksi pada saat harga yang rendah. Pengaruh fluktuasi harga pertanian lebih besar bila dibandingkan dengan fluktuasi produksi. Keadaan ini dapat menyebabkan petani menderita kerugian dalam jangka pendek sehingga menimbulkan kurangnya keinginan untuk melakukan investasi di sektor pertanian atau petani akan beralih ke komoditas yang memiliki harga jual yang lebih tinggi.

Selanjutnya banyaknya lembaga tataniaga yang terlibat dalam pemasaran hasil pertanian akan mempengaruhi panjang pendeknya rantai tataniaga dan besarnya biaya tataniaga. Besarnya biaya tataniaga akan mengarah pada semakin besarnya perbedaan harga antara petani produsen dengan konsumen. Hubungan antara harga yang diterima petani produsen dengan harga yang dibayar oleh konsumen pabrikan sangat bergantung pada struktur pasar yang menghubungkannya dan biaya transfer. Apabila semakin besar margin pemasaran ini akan menyebabkan harga yang diterima petani produsen menjadi semakin kecil dan semakin mengindikasikan sebagai sistem pemasaran yang tidak efisien (Tomek and Robinson, 1990).

Persoalan mutu dan harga hasil pertanian merupakan bagian dari masalah tataniaga hasil pertanian yang tidak dapat dipisahkan karena mempunyai dampak langsung terhadap pihak-pihak yang terkait dalam perdagangan hasil pertanian. Selain itu keberadaan lokasi lahan pertanian yang terpencar-pencar dan jauh dari pusat perekonomian yang mengarah pada terbentuknya rantai tataniaga yang panjang karena adanya peran hierarki dari pedagang perantara yang cenderung menambah kompleksitas upaya perbaikan mutu hasil pertanian.

Analisis margin pemasaran digunakan untuk mengetahui distribusi biaya dari setiap aktivitas pemasaran dan keuntungan dari setiap lembaga perantara serta bagian harga yang diterima petani. Atau dengan kata lain analisis margin pemasaran dilakukan untuk mengetahui tingkat kompetensi dari para pelaku pemasaran yang terlibat dalam pemasaran/disribusi (Tomeck and Robinson, 1990; Sudiyono, 2001).

SISTEM PENGEMBANGAN AGRIBISNIS

Agribisnis berasal dari kata Agribusiness, di mana Agri=Agriculture artinya pertanian dan Business artinya usaha atau kegiatan yang menghasilkan keuntungan. Jadi, Agribisnis adalah segala kegiatan yang berhubungan dengan pengusahaan tumbuhan dan hewan (komoditas pertanian, peternakan, perikanan, dan kehutanan) yang berorientasi pasar (bukan hanya untuk pemenuhan kebutuhan pengusaha sendiri) dan perolehan nilai tambah.

Dalam agribisnis terdapat dua konsep pokok. Pertama, agribisnis merupakan konsep dari suatu sistem yang integratif dan terdiri dari beberapa sub-sistem, yaitu: (1) sub-sistem pengadaan sarana produksi (agroindustri hulu), (2) sub-sistem produksi usahatani, (3) subsistem pengolahan dan industri hasil pertanian (agroindustri hilir), (4) sub-sistem pemasaran dan perdagangan, dan (5) sub-sistem kelembagaaan penunjang (Davis and Golberg, 1957; Downey and Erickson, 1987); Saragih (1999) (lihat Diagram 1). Sub-sistem kedua dan sebagian dari sub-sistem pertama dan ketiga merupakan on-farm agribusiness, sedangkan sub-sistem lainnya merupakan off-farm agribusiness.

Uraian di atas menunjukkan bahwa kegiatan agribisnis merupakan (a) kegiatan yang berbasis pada keunggulan sumberdaya alam (on-farm agribusiness) yang terkait erat dengan penerapan teknologi dan keunggulan sumberdaya manusia bagi perolehan nilai tambah yang lebih besar (off-farm agribusiness); serta (b) kegiatan yang memiliki ragam kegiatan dengan spektrum yang sangat luas, dari skala usaha kecil dan rumahtangga hingga skala usaha raksasa, dari yang berteknologi sederhana hangga yang paling canggih, yang kesemuanya itu saling terkait dan saling mempengaruhi.

Dalam usaha mempercepat laju pertumbuhan sektor agribisnis terutama dihadapkan dengan kondisi petani kita yang serba lemah (modal, skill, pengetahuan dan penguasaan lahan) dapat ditempuh melalui penerapan sistem pengembangan (system of development) agribisnis. Dalam konteks bahasan ini, yang dimaksud “sistem pengembangan agribisnis” adalah suatu bentuk atau model atau sistem atau pola pengembangan agribisnis yang mampu memberikan keuntungan layak bagi pelaku-pelaku agribisnis (petani/peternak/pekebun/ nelayan/pengusaha kecil dan menengah/koperasi), berupa peningkatan pendapatan, peningkatan nilai tambah dan perluasan kesempatan kerja.

Di Indonesia sejak dilaksanakan pembangunan pertanian, telah diterapkan beberapa sistem pengembangan pertanian berskala usaha baik untuk komoditi pangan maupun non pangan. Jika dikaji lebih jauh tujuan dan sasaran “sistem pengembangan” yang pernah diterapkan di sektor pertanian, pada hakekatnya adalah pengembangan sektor pertanian (dalam arti luas) secara menyeluruh dan terpadu, yakni tidak hanya peningkatan produksi, tetapi juga pengadaan sarana produksi, pengolahan produk, pengadaan modal usaha dan pemasaran produk secara bersama atau bekerjasama dengan pengusaha. Sistem pengembangan sektor pertanian semacam ini, jika menggunakan istilah sekarang, tidak lain adalah pengembangan pertanian berdasarkan agribisnis, atau dengan kata lain pengembangan agribisnis. Di antara sistem-sistem tersebut ada yang diterapkan oleh pemerintah berupa kebijakan nasional dan ada pula yang telah berhasil diterapkan oleh kelompok masyarakat atau kelompok peneliti, akan tetapi masih bersifat per kasus. Adapun sistem-sistem tersebut antara lain: Unit Pelaksana Proyek (UPP), Insus dan Supra Insus, Sistem Inkubator, Sistem Modal Ventura, Sistem Kemitraan (Contract Farming) dalam berbagai bentuknya seperti Pola PIR, Pola Pengelola, Sistem ‘Farm Cooperative’, dll. Jadi dalam rangka pengembangan agribisnis hortikultura, pelaku-pelaku agribisnis dapat menerapkan satu atau lebih sistem tersebut sesuai dengan kondisi lokalitas.

Sistim informasi Pengolahan Dan Pemasaran Hasil Pertanian

Statistik Pertanian

April 12, 2011 pukul 12:25 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

20 besar negara penghasil beras/padi di dunia tahun 2008

Rank Area Production (Int $1000) Flag Production (MT) Flag
1 China 36561286 * 193354175
2 India 30246312 * 148260000
3 Indonesia 12440012 * 60251072
4 Bangladesh 9868753 * 46905000
5 Viet Nam 7918880 * 38725100
6 Thailand 6059404 * 31650632
7 Myanmar 5612813 * 30500000 *
8 Philippines 3382928 * 16815548
9 Brazil 2522762 * 12061465
10 Japan 2337305 * 11028750
11 Pakistan 2162313 * 10428000
12 United States of America 1930780 * 9241173
13 Egypt 1476323 * 7253373
14 Cambodia 1463123 * 7175473
15 Republic of Korea 1464007 * 6919250
16 Nepal 850799 * 4299264
17 Nigeria 864799 * 4179000
18 Sri Lanka 802185 * 3875000
19 Madagascar 592679 * 3000000 F
20 Lao People’s Democratic Republic 536218 * 2927140
* : Unofficial figure
[ ]: Official data
F : FAO estimate

http://faostat.fao.org/site/339/default.aspx

Disimpan dalam Statistik Pertanian

TOP PRODUCTION INDONESIAN AGRICULTURE COMMODITY (2008)

Januari 29, 2011 oleh kangmas Tinggalkan sebuah Komentar

TOP PRODUCTION INDONESIAN  AGRICULTURE COMMODITY  (2008)

Rank Commodity Production (Int $1000) Flag Production (MT) Flag
1 Rice, paddy 12440012 * 60251072
2 Sugar cane 540020 * 26000000 *
3 Cassava 1524288 * 21593052
4 Coconuts 1763580 * 19500000 *
5 Palm oil 5116644 * 16900000 F
6 Maize 1286208 * 16323922
7 Bananas 818200 * 5741352
8 Palm kernels 593287 * 4540000 *
9 Natural rubber 1567233 * 2921872
10 Fruit, tropical fresh nes 280427 * 2450000 F
11 Oranges 408170 * 2322581
12 Mangoes, mangosteens, guavas 490175 * 2013123
13 Sweet potatoes 167919 * 1876944
14 Indigenous Chicken Meat 1775825 * 1522458 Fc
15 Fruit Fresh Nes 215338 * 1350000 F
16 Cabbages and other brassicas 194451 * 1323702
17 Pineapples 246139 * 1272761
18 Hen eggs, in shell 874259 * 1122617
19 Chillies and peppers, green 376877 * 1092115
20 Potatoes 143525 * 1044492
* : Unofficial figure
[ ]: Official data
F : FAO estimate
Fc: Calculated data

Data from http://faostat.fao.org/site/339/default.aspx

Indonesian Agriculture Rank Commodity in the world by production (2005)

(database from  http://www.fao.org/es/ess/top/topproduction.html)

No Commodity Rank
1 Cinnamon (Canella) 1
2 Cloves, Whole+Stems 1
3 Coconuts 1
4 Nutmeg, Mace, Cardamons 1
5 Avocados 2
6 Beans, Green 2
7 Fruit Tropical Fresh nes 2
8 Natural Rubber 2
9 Pepper,White/Long/Black 2
10 Vanilla 2
11 Cassava 3
12 Cocoa Beans 3
13 Coffee, Green 3
14 Eggs, excluding Hen 3
15 Ginger 3
16 Nuts nes 3
17 Rice, Paddy 3
18 Roots and Tubers nes 3
19 Fruit Fresh nes 4
20 Sweet Potatoes 4
21 Cashew Nuts 5
22 Groundnuts in Shell 5
23 Papayas 5
24 Tobacco Leaves 5
25 Bananas 6
26 Chillies&Peppers, Green 6
27 Mangoes 6
28 Tea 6
29 Eggplants 7
30 Indigenous Chicken Meat 7
31 Indigenous Goat Meat 7
32 Beans, Dry 8
33 Green Corn (Maize) 8
34 Indigenous Buffalo Meat 8
35 Maize 8
36 Cabbages 9
37 Hen Eggs 9
38 Jute-Like Fibres 9
39 Pineapples 9
40 Soybeans 9
41 Oranges 10
42 Spinach 10
43 Castor Beans 11
44 Sugar Cane 11
45 Cucumbers and Gherkins 12
46 Onions, Dry 13
47 Goat Milk 14
48 Indigenous Duck Meat 14
49 Sheep Milk 14
50 Carrots 16

Ketahanan Pangan

April 12, 2011 pukul 12:25 pm | Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar

Pengertian Bidang Ketahanan Pangan

  1. Ketahanan Pangan : Kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup , baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau.
  2. Pangan : segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air , baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukan sebagai makanan dan tambahan pangan , bahan baku pangan dan bahan lain yang digunakan , dan atau pembuatan makanan atau minuman
  3. Ketersediaan Pangan : tersedianya pangan dari hasil produksi dalam negeri dan atau sumber lain.
  4. Keamanan Pangan ; adalah kondisi tersedianya pangan dalam jumlah yang cukup dan bermutu ( tidak rusak, tidak busuk, tidak palsu, tidak tercemar mikroba/ bahan kimia), terhindar dari pencemaran lingkungan dan aman dari kaidah agama ( halal )
  5. Rawan Pangan : adalah situasi daerah dan atau masyarakat yang tingkat ketahanan dan keamanan pangan nya rentan terhadap ancamanan atau gangguan inteernal maupun eksternal.
  6. Pangan segar adalah pangan yang belum mengalami pengolahan yang dapat dikonsumsi langsung dan/atau yang dapat menjadi bahan baku pengolahan pangan
  7. Pangan olahan adalah makanan atau minuman hasil proses dengan cara atau metode tertentu, dengan atau tanpa bahan tambahan.
  8. Pangan olahan tertentu adalah pangan olahan untuk konsumsi bagi kelompok tertent dalam upaya memelihara dan meningkatkan kualitas kesehatan kelompok tersebut.
  9. Sistem pangan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pengaturan, pembinaan, dan/atau pengawasan terhadap kegiatan atau proses produksi pangan dan peredaran pangan sampai dengan siap dikonsumsi manusia.
  10. Pangan siap saji adalah makanan dan/atau minuman yang sudah diolah dan siap untuk langsung disajikan di tempat usaha atau di luar tempat usaha atas dasar pesanan.
  11. Persyaratan keamanan pangan adalah standar dan ketentuan-ketentuan lain yang harus dipenuhi untuk mencegah pangan dari kemungkinan adanya bahaya, baik karena cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia.
  12. Sanitasi pangan adalah upaya untuk pencegahan terhadap kemungkinan bertumbuh dan berkembang biaknya jasad renik pembusuk dan patogen dalam makanan, minuman, peralatan dan bangunan yang dapat merusak pangan dan membahayakan manusia.
  13. Persyaratan sanitasi adalah standar kebersihan dan kesehatan yang harus dipenuhi sebagai upaya mematikan atau mencegah hidupnya jasad renik patogen dan mengurangi jumlah jasad renik lainnya agar pangan yang dihasilkan dan dikonsumsi tidak membahayakan kesehatan dan jiwa manusia.
  14. Produksi pangan adalah kegiatan atau proses menghasilkan, menyiapkan, mengolah, membuat, mengawetkan, mengemas, mengemas kembali, dan/atau mengubah bentukpangan.
  15. Peredaran pangan adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka penyaluran pangan kepada masyarakat, baik untuk diperdagangkan maupun tidak.
  16. Perdagangan pangan adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka penjualan dan/atau pembelian pangan, termasuk penawaran untuk menjual pangan, dan kegiatan lain yang berkenaan dengan pemindahtanganan pangan dengan memperoleh imbalan.
  17. Penyimpanan pangan adalah proses, cara dan/atau kegiatan menyimpan pangan baik di sarana produksi maupun distribusi.
  18. Pengangkutan pangan adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka memindahkan pangan dari satu tempat ke tempat lain dengan cara atau sarana angkutan apapun dalam rangka produksi, peredaran dan/atau perdagangan pangan.
  19. Industri rumah tangga pangan adalah perusahaan pangan yang memiliki tempat usah di tempat tinggal dengan peralatan pengolahan pangan manual hingga semi otomatis.
  20. Bahan tambahan pangan adalah bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan.
  21. Pangan produk rekayasa genetika adalah pangan yang diproduksi atau menggunakan bahan baku, bahan tambahan pangan, dan/atau bahan lain yang dihasilkan dari proses rekayasa genetika.
  22. Radiasi pangan adalah metode penyinaran terhadap pangan, baik dengan menggunakan zat radioaktif maupun akselerator untuk mencegah terjadinya pembusukan dan kerusakan serta membebaskan pangan dari jasad renik patogen. Kemasan pangan adalah bahan yang digunakan untuk mewadahi dan/ata membungkus pangan, baik yang bersentuhan langsung dengan pangan maupun tidak.
  23. Mutu pangan adalah nilai yang ditentukan atas dasar kriteria keamanan pangan, kandungan gizi, dan standar perdagangan terhadap bahan makanan, makanan dan minuman.
  24. Standar adalah spesifikasi atau persyaratan teknis yang dibakukan, termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat-syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengalaman perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk memperoleh manfaat yang sebesarbesarnya.
  25. Gizi pangan adalah zat atau senyawa yang terdapat dalam pangan yang terdiri atas karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral serta turunannya yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan kesehatan manusia.
  26. Sertifikasi mutu pangan adalah rangkaian kegiatan penerbitan sertifikat terhadap pangan yang telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
  27. Sertifikat mutu pangan adalah jaminan tertulis yang diberikan oleh lembaga sertifikasi/laboratorium yang telah diakreditasi yang menyatakan bahwa pangan tersebut telah memenuhi kriteria tertentu dalam standar mutu pangan yang bersangkutan.
  28. Setiap orang adalah orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun tidak.
  29. Badan adalah badan yang bertanggung jawab di bidang pengawasan obat dan makanan.
  30. Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG); adalah kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis dan penyajian data pangan dann gizi secara terus menerus untuk menetapkan tindakan.

Pengertian dan istilah di Ketahanan Pangan

  1. Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau.
  2. Kegiatan Penguatan Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (Penguatan-LDPM) adalah bagian kegiatan program Peningkatan Ketahanan Pangan tahun 2010 yang bertujuan meningkatkan kemampuan Gapoktan dan unit-unit usaha yang dikelolanya (distribusi/pemasaran dan cadangan pangan)  dalam usaha memupuk cadangan pangan dan memupuk modal dari usahanya dan dari anggotanya yang tergabung dalam wadah Gapoktan. Kegiatan Penguatan–LDPM dibiayai melalui APBN TA 2010 dengan mekanisme dana bantuan sosial (Bansos) yang disalurkan langsung kepada rekening Gapoktan.
  3. Bansos yang dimaksud dalam Pedoman Umum ini adalah uang yang ditransfer ke Rekening Gapoktan dalam upaya memperkuat modal dan memberdayakan Gapoktan agar mampu membina dan memperkuat unit usaha distribusi/pemasaran/pengolahan untuk dapat melakukan pembelian gabah/beras/jagung dari petani anggotanya dan memperkuat unit pengelolaan cadangan pangan untuk dapat melakukan pengadaan gabah/beras dan/atau jagung dan/atau pangan pokok lokal spesifik lainnya  sebagai cadangan pangan.
  4. Dana dekonsentrasi adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh Gubernur sebagai wakil pemerintah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi, tidak termasuk dana yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat di daerah sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 58/Permentan/KU.410/12/2009 tentang Pelimpahan Kepada Gubernur dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggungjawab Dana Dekonsentrasi Provinsi Tahun 2010.
  5. Harga Pembelian Pemerintah (HPP) adalah harga pembelian pemerintah untuk komoditas gabah/beras sesuai dengan Instruksi Presiden No. 7 tahun 2009 tentang Kebijakan Perberasan.
  6. Harga Referensi Daerah (HRD) adalah harga referensi daerah untuk komoditas jagung yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Gubernur setempat.
  7. Gabungan Kelompoktani (Gapoktan) adalah kumpulan beberapa kelompoktani yang bergabung dan bekerja sama untuk meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi usaha (Permentan No: 273/Kpts/OT.160/ 4/2007).
  8. Kelompok Tani (Poktan) adalah kumpulan petani yang tumbuh berdasarkan kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya) dan keakraban untuk bekerjasama dalam meningkatkan, mengembangkan produktivitas usahatani, memanfaatkan sumberdaya pertanian, mendistribusikan hasil produksinya  dan meningkatkan kesejahteraan anggotanya.
  9. Rencana Usaha Gapoktan (RUG) adalah rencana usaha yang disusun oleh anggota kelompoktani secara sistematis dan partisipatif dalam memecahkan permasalahan–permasalahan yang dihadapi petani/Poktan dalam mendistribusikan/memasarkan/mengolah/menyimpan yang tidak dapat diselesaikan oleh petani/Poktan tersebut sehingga membutuhkan kerja sama dan dukungan  dalam skala yang lebih besar.
  10. Unit usaha distribusi/pemasaran milik Gapoktan adalah unit usaha yang dibentuk atas keinginan, kebutuhan, dan kesepakatan dari anggota Gapoktan untuk dapat mendistribusikan atau memasarkan hasil produksi (gabah/beras/ jagung) petani anggotanya dengan melakukan pembelian dan penjualan sehingga harga stabil di tingkat petani.
  11. Unit usaha pengolahan milik Gapoktan adalah unit usaha yang dibentuk atas keinginan, kebutuhan, dan kesepakatan dari anggota Gapoktan untuk dapat  mengolah/menggiling/mengepak/menyimpan  gabah/ beras/ jagung hasil produksi petani anggotanya sehingga mampu  meningkatkan nilai tambah produk petani.
  12. Unit pengelola cadangan pangan adalah unit pengelolaan cadangan pangan yang dibentuk atas keinginan, kebutuhan dan kesepakatan dari anggota Gapoktan untuk dapat menyimpan pangan dalam jumlah yang cukup bagi anggotanya sehingga mampu mendekatkan akses pangan sepanjang waktu khususnya saat menghadapi musim paceklik.
  13. Sentra produksi pangan (padi dan/atau jagung) adalah provinsi dan/atau kabupaten/kota yang produksi pangannya didominasi oleh komoditas padi dan/atau jagung.
  14. Pemberdayaan Gapoktan adalah upaya untuk menciptakan, meningkatkan kapasitas dan kemandirian Gapoktan secara partisipatif agar mereka: (a) mampu menemukenali permasalahan yang terkait dalam penyediaan pangan di saat menghadapi  musim paceklik dan pendistribusian/pemasaran/pengolahan  hasil produksi petani; dan (b)  mencari, merumuskan, dan memutuskan cara yang cepat dan tepat bagi anggotanya  terhadap persoalan ketidakstabilan harga di tingkat petani, pemasaran hasil produksi petani, dan ketidak tersediaan pangan disaat paceklik.
  15. Pendamping Penyuluh adalah Pertanian atau Petugas Lapangan  yang diutamakan berpengalaman di bidang penyuluhan pertanian;
  16. Pendampingan adalah proses pembimbingan dan pembinaan yang dilakukan secara rutin oleh seorang pendamping kepada Gapoktan binaannya agar mereka mampu menyusun rencana dan melaksanakan kegiatan secara partisipatif; menyusun dan menetapkan aturan dan sanksi secara musyawarah dan mufakat;  memupuk dan mengatur dana sendiri; membangun dan mengembangkan jejaring kemitraan usaha dengan pihak lain diluar wilayahnya; memupuk rasa tanggungjawab terhadap organisasi Gapoktan dengan melakukan pemantauan secara partisipatif, pengendalian dan  pengawasan internal.

Peraturan Perundangan

April 12, 2011 pukul 12:24 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

erpanjangan Batas Usia Pensiun (BUP) Penyuluh Pertanian, Penyuluh Perikanan dan Penyuluh Kehutanan

Sep 26th, 2010 by Admin

 Share

Presiden Republik Indonesia telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2010 tanggal 27 Agustus 2010 tentang Perpanjangan Batas Usia Pensiun Pegawai Negeri Sipil Yang Menduduki Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian, Penyuluh Perikanan dan Penyuluh Kehutanan. Terbitnya Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2020 ini menjadi angin segar bagi para penyuluh. Peraturan Presiden Nomor 55 tahun 2010 ini memberikan kejelasan tentang batas usia pensiun (BUP) penyuluh pertanian, penyuluh perikanan dan penyuluh kehutanan.

Dengan Perpres Nomor 55 Tahun 2010 ini, Penyuluh Pertanian Trampil dengan pangkat III.c yang sebelumnya batas usia pensiunnya hanya sampai usia 56 tahun, dapat diperpanjang sampai dengan usia 60 tahun. Dan Penyuluh Pertanian Ahli yang pangkatnya III b batas usia pensiunya juga dapat diperpanjang sampai dengan usia 60 tahun.

Pasal satu Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2010 secara jelas menyebutkan bahwa :

“Pegawai Negeri Sipil yang diangkat dan ditugaskan secara penuh dalam jabatan fungsional Penyuluh Pertanian, Penyuluh Perikanan dan Penyuluh Kehutanan jenjang Madya dan Utama dapat diperpanjang batas usia pensiunya sampai dengan 60 (enam puluh) tahun”.

Selain itu Perpres 55 Tahun 2010 ini juga memberikan ketegasan tenang pemberhentian penyuluh pertanian, penyuluh perikanan dan penyuluh kehutanan. Pada Pasal Empat disebutkan bahwa pemberhentian pegawai negeri sipil yang menduduki jabatan fungsional Penyuluh Pertanian, Penyuluh Perikanan dan Penyuluh Kehutanan yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan sebelum berlakunya Peraturan presiden ini dinyatakan tetap berlaku. Ini berarti Penyuluh Pertanian Trampil dengan pangkat III c yang sudah dinyatakan pensiun dan bahkan sampai dikenai denda mengembalikan selisih gaji karena sudah terlewatinya batas usia pensiun sesui dengan peraturan yang lama tidak bisa memakai Peraturan Presiden Nomor 55 tahun 2010 sebagai dasarnya dan tetap mengembalikan selisih gaji yang diterimanya.

Dengan berlakunya Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2010 ini maka ketentuan batas usia pensiun (BUP) bagi pegawai negeri sipil yang menduduki jabatn funsional Penyuluh Pertanian sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Presiden Nomor 63 Tahun 1986 tentang Batas Usia Pensiun Pegawai Negeri Sipil yang menjabat Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Penyuluh Pertanian dicabut dan dinyatakn tidak berlaku lagi.

Mudah-mudahan terbitnya Peraturan Presiden Nomo 55 Tahun 2010 ini dapat memberikan kejelasan dan kepastian tentang batas usia pensiun penyuluh pertanian, penyuluh perikanan dan penyuluh kehutanan sehingga penyuluh yang terkena denda untukmengembalikan selisih gajinya karena penerapan peraturan yang lama mengenai batas usia pensiun (BUP) ke depan tidak ada lagi. Dan penyuluh pertanian,penyuluh perikanan dan penyuluh kehutanan dapat bekerja kembali dengan motivasi dan semangat tinggi untuk bersama-sama petani membangun pertanian Indonesia.

Untuk anda yang membutuhkan file tersebut secara lengkap dapat diunduh disini atau mengunduhnya pada Menu Download Gratisdi atas

Tulisan lainya yang berkaitan dengan tulisan ini :

  1. Download Gratis
  2. Perpanjangan kontrak, Mekanisme pembayaran honorarium dan BOP THL-TB Penyuluh Pertanian tahun 2011
  3. Penyuluh pertanian dan sertifikasi
  4. Penandatanganan Perpanjangan Kontrak Kerja Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) Angkatan Pertama Tahun 2010.

Info Penyuluh

April 12, 2011 pukul 12:24 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Sistem Informasi Penyuluhan Pertanian


Sistem informasi Terdiri dari dua kata yaitu Sistem dan Informasi. Sistem sendiri berarti gabungan dari beberapa sub sistem yang bertujuan untuk mencapai satu tujuan. Informasi berarti sesuatu yang mudah dipahami oleh si penerima. Sistem Informasi memiliki makna sistem yang bertujuan menampilkan informasi. Pada jaman dahulu sebelum sistem komputer ada maka sistem
informasi ini telah lebih dahulu ada dan berjalan dengan baik.

Adapun komponen komponen yang menyusun sistem informasi:

Komponen/blok masukan
merupakan blok sistem informasi yang bertugas menangkap (capturing) terhadap data data dari luar sistem informasi. Blok masukan inilah yang bertugas melakukan konversi data dari yang bentuknya alamiah manjadi data yang dapat diwakili dalam bentuk digital yang kemudian diklasifikasikan ke dalam salah satu
tipe data yang tersedia.

Komponen/Blok Teknologi
merupakan blok dari sistem informasi yang bertugas melakukan spesifikasi penerapan teknologi yang dapat mendukung sistem informasi dapat berjalan dengan baik. Di dalam blok teknologi ini secara umum akan di bagi menjadi dua bagian yaitu teknologi hardware dan teknologi software. Blok teknologi mendefinisikan teknologi yang dipakai oleh semua blok/komponen lain.

Komponen Kontrol
merupakan komponen yang bertugas mendefinisikan bagaimana kontrol terhadap sistem dilakukan sehingga sistem dapat berjalan dengan baik. Dalam blok kontrol ini misalnya didefinisikan bagaimana melindungi data yang ada di database agar selalu sama dengan kenyataan yang dicatat.

Komponen Basis Data
merupakan blok yang berisi definisi basis data yang disediakan untuk menyimpan
data data yang akan disimpan dalam media penyimpan.

Komponen Keluaran
merupakan blok yang bertanggung jawab terhadap bagaimana sebuah keluaran dari
sistem informasi disajikan.

Sistem Informasi Berbasis
Multimedia

Sistem informasi berbasis multimedia merupakan sebuah sistem informasi dengan konsep menggunakan masukan dan keluaran dengan bentuk data multimedia. Perubahan spesikasi teknologi yang digunakan pada blok masukan,
blok basis data dan blok keluaran merupakan modifikasi yang dilakukan yang menjadi ciri sistem informasi berbasis multimedia dengan sistem informasi yang tidak berbasis multimedia. Proses pengolahan masukan kemudian disimpan dalam basis data dan kemudian dikeluarkan dalam alat (device) dengan berbagai variasi bentuknya tetap dilakukan oleh mesin. Mesin yang dimaksud disini adalah perangkat komputer dengan berbaai arsitekturnya. Peran manusia dalam sistem informasi berbasis multimedia tetap berada di luar sistem yaitu sebagai pemakai.
Baik sebagai pemakai untuk melakukan/memberikan masukan (menangani aktifitas input data) maupun user yang bertindak sebagai konsumen informasi. Manusia sebagai pemilik sistem informasi ini dalam terminologi sistem informasi berbasis multimedia sama sekali tidak masuk ke dalam sistem menjadi penyedia informasi maupun pengolah informasi. Peran manusia di dalam sistem ini sekali lagi
ditandaskan disini hanya sebagai penyedia data dan konsumen informasi.

Seorang Penyuluh Pertanian pembaca Tabloid Sinar Tani melalui Rubrik “SMS
Cangkul”, mengusulkan perlunya Balai Penyuluhan Pertanian dilengkapi perangkat Teknologi Informasi sehingga mampu mengakses ke Internet. Menurutnya hal ini akan memudahakannya memperoleh informasi berupa inovasi teknologi dan kelembagan yang dibutuhkannya dalam mengupayakan kesejahteraan masyarakat tani yang menjadi tugas pokok, fungsinya serta tanggung jawabnya. Artikel ini adalah sumbangan pemikiran berkaitan usulan tersebut.

Teknologi Informasi Penyuluhan di Jepang

Penyuluhan Petanian di Jepang (meliputi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan) berawal pada tahun 1948 dengan tujuan utama
mengembangkan difusi inovasi teknologi yang diperoleh dari Lembaga Penelitian Pertanian untuk diteruskan kepada para petani agar mengadopsi dan mengadaptasikannya pada kondisi usahatani yang nyata pada wilayah-wilayah pengembangan pertanina. Tujuan penyuluhan terfokus pada penerapan inovasi teknologi guna meningkatkan ketersediaan pangan dalam jangka panjang ke depan menyusul kekalahan negaranya dalam Perang Dunia ke-2. Kini kegiatan penyuluhan lebih diperluas, mencakup subsektor pendukungnya berupa teknologi maju, pengelolaan kesuburan tanah, pemenuhan kebutuhan finansial usahatani dan lainnya. Berkaitan dengan keterbatasan personalia Penyuluh Pertanian dan keterbatasan finansial pemerintah pusat dan wilayah (perfecture), maka kini di Jepang formulasi penyebaran informasi sebagai promosi, mengawali kegiatan penyuluhan dan komunikasi inovasi teknologi, bertumpu pada penggunaan komputer dan teknologi informasi yang lebih efektif dan efisien. Materi informasinya bukan hanya inovasi teknologi, tetapi juga inovasi kelembagaan, metode penyelenggaraan penyuluhan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi lainnya. Pemeran utama dalam hal ini justru bukan semata dari kelembagaan

Pemerintah Jepang, melainkan juga dari Organisasi

Non Pemerintah yaitu Asosiasi Pembangunan dan Penyuluhan Pertaninan Jepang (Japan Agricultural Development and Extension Assosiation). Assosisasi ini telah membangun suatu sistem pertukaran informasi diantara para Pemandu Penyuluhan Pertanian pada setiap wilayah pengembangan, dengan materi kumpulan kasus-kasus Penyuluhan Pertanian yang berbasis pada Programa Penyuluhan, informasi tentang Metode Penyuluhan, informasi teknis komoditas yang dikembangkan para petani, dan informasi tentang temuan inovasi teknologi oleh Lembaga Penelitian Pertanian. Dengan perangkat teknologi informasi, para Pemandu Penyuluhan petanian dapat dengan cepat mempertukarkan informasi spesfik lokasi ke wilayah pengembangan lainnya. Perangkat yang digunakan berkembang seiring waktu. Jika pada tahun 1975 sebagai, awal penerapannya menggunakan “Surat Berantai” (Snail Letter), maka pada tahun 1985 beralih dengan menggalakkan penggunaan faximili, dan pada tahun 1990 diramaikan dengan penggunaan jaringan komunikasi personal yang diberi nama :
Nilai Tambah Jaringan Kerja Penyuluhan (Fukyu/Extemion Value Added). Jaringan komunikasi yang paling populer diterapkan pada tahun 2000 sampai saat ini, sistem diberi nama Jaringan Kerja Informasi Penyuluhan (Extension Information Network) atau isingkat El-Net, dipadukan dengan internet, home page, dan dioperasikan oleh Pusat Teknologi Informasi Jepang. Dipihak lain pemerintah berperan menggerakkan Penyuluhan Pertanian untuk masyarakat tani dan publik lainnya dengan pelayanan gratis karena biaya yang diperlukan sudah termasuk pembiayaan pemerintah. Dengan istem penyuluhan demikian itu, lembaga Kerjasama Pelayanan Penyuluhan (Cooperative Extension Services) menyelenggarakan penyuluhan dengan dukungan fiansial pemerintah pusat dan wilayah (perfecture). Di Jepang pada tahun 2005 yang lalu terdapat sekitar 9.000 Penyuluh Pertanian yang bekerja pada 450 Pusat Penyuluhan Pertanian, tersebar pada wilayah pemerintahan (Perfecture) dan bersinergi dengan Lembaga penelitian Pertanian wilayah setempat. Karakteristik pemanfaatan Teknologi Informasi di Jepang, didominasi oleh Lembaga Jaringan Kerja Informasi Pertanian yang bernaung di bawahnya. Assosiasi Pembangunan dan Penyuluhan Pertanian Jepang, menempatkan Pemandu Penyuluhan Wilayah sebagai sasarannya. Jaringannya bersifatnya tertutup, ruang lingkup seluruh Jepang, dan
melibatkan banyak pihak, yakni :
Departemen Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, Pemerintah Wilayah (Perfecture), Pusat-pusat Penyuluhan, Lembaga Penelitian Pertanian Nasional, dan Perusahaan publik.

Selain lembaga tersebut diatas, dijumpai pula Jaringan Kerja Lokal yangbbersifat tertutup, dioperasikan oleh pemerintah wilayah dan Pusat Penyuluhan Petanian dengan sasaran utama para petani , melibatkan lembaga pemerintahan wilayah, pusat-pusat penyuluhan, lembaga penelitian pertanian wilaya, dan koperasi pertanian sertapetani, dengan ruang lingkupnya wilayah. Adapun Home page, jaringan teknologi informasi yang bersifat umum, terbuka dan dapat diakses semua pihak, termasuk petani dan konsumen pertanian, melengkapi jaringan teknologi informasi lainnya. Bagaimana dengan Penyuluhan di Indonesia?

Penyuluhan
Pertanian di Era Kemerdekaan Indonesia saat ini terpaut 20 tahun ke belakang dari segi waktu dengan Penyuluhan Pertanian di Jepang, namun dengan kondisi yang berbeda yakni Jepang baru saja kalah perang versus Indonesia yang baru merdeka. Penyuluhan muylai diintensifkan sejak awal tahun 1970-an, dengan pendekatan terpadu penyediaan sarana pendukung, pengiolahan dan pemasaran hasil, serta dukungan finansial di satu sisi, dan menarik dukungan struktur pedesaan progresif di sisi lainnya.

Pandekatan
ini lazim disebut dengan Bimbingan Massal (Bimas) yang disempurnakan dengan Wilayah Unit Desa (Wilud), mengacu kepada Grand Teori A. T. Mosher tentang Pembangunan Pertanian. Perangkat kelembagaanya kemudian lebih disempurnakan dengan lahirnya dan berperannya organisasi dan kelembagaan Balai Penyuluhan Pertanian pada tahun1977 (efektif tahun 1978) yang berbasisi secara lokal/kecamatan pada setiap

Kabupaten/Kota,
dan Balai Informasi Pertanian (BIP) yang keberadaannya melayani informasi inovasi teknologi pertanian pada wilayah propinsi. BPP sebagai home basenya Penyuluh Pertanian, sebagai konsumen informasi, dan BIP sebagai produsen dan pelayan informasi. Peran optimal Penyuluhan Petanian dan perangkat pendukungnya diyakini banyak pakar pertanian telah menyumbang 60% pencapaian swasembada beras kita pad tahun 1984 yang lalu. Kini di Era Komunikasi Global dimana perangkat Teknologi Informasi berupa internet yang semarak dengan penyelenggara komersial berupa Warung Internet (Warnet), bukan lagi barang asing. Terlebih lagi, perangkat Teknologi Informasi pada tingkat Departemen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Balai-Balai Penelitian dan Pengembangan Komoditas Pertanian sebagai penghasil inovasi teknologi pertanian, juga telah memadai. Di tingkat wilayah saat ini terdapat 30 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), perangkat organisasi Badan Litabang Pertanian yang mengakuisisi peran Balai Informasi Pertanian tempo dulu, berperan sebagai penghasil Teknologi Tepat Guna Spesifik Lokasi, sekaligus memberikan contoh diseminasinya, kini juga dilengkapi dengan perangkat Teknologi Informasi. Dengan demikian, perangkat pemerintah pusat dan sumber-sumber inovasi teknlogi, termasuk perangkatnya di wilayah pengembangan pertanian nampaknya siap berperan tanpa hambatan (contoh terbaru lahirnya Website Prima Tani). Karena itu, saatnya perhatian dan upaya penyediaan perangkat Teknologi Informasi diarahkan kepada pengguna inovasi teknologi secara lokal kabupaten dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), yang bersentuhan langsung dengan berjuta petani yang haus akan inovasi teknologi dan rekayasa kelembagaan pedesaan progresif, melengkapi sistem, media dan metode penyuluhan konvensional kita saat ini yang sedang bergelut dengan peningkatan kinerjanya. Informasi dan Penyuluhan Pertanian.

Oleh:

Kamaruddin AS dan Mansur Azis

Dimuat
dalam tabloid Sinar Tani, 13 Desember 2006.

Oleh
:   Arief Setyanto, S.Si., MT.

Sumber:

http://frenky-cahya-purnama.blogspot.com/search/label/Sistem%20Informasi

Jenis – jenis Metode Penyuluhan

Beberapa jenis metode penyuluhan pertanian yang dapat diterapkan:
1.      Ceramah
Ceramah merupakan suatu pertemuan untuk menyampaikan informasi sebanyak-banyaknya dalam waktu yang relatif cepat.
Tujuan : untuk menyampaikan informasi yang lengkap dengan penyelasan yang lebih mendalam.
2.                  Demonstrasi
Demonstrasi merupakan suatu metode penyuluhan di lapangan untuk memperlihatkan / membuktikan secara nyata tentang cara dan atau hasil penerapan teknologi pertanian yang telah terbukti menguntungkan bagi petani – nelayan. Berdasarkan sasaran yang akan dicapai demonstrasi dibedakan atas demostrasi usahatani perorangan (demplot), demonstrasi  usahatani kelompok (demfarm), demonstrasi usahatani gabungan kelompok (dem area)
Tujuan demonstrasi
a. Tujuan demonstrasi plot yaitu untuk memberikan contoh bagi petani disekitarnya untuk menerapkan teknologi baru di bidang pertanian.
b. Tujuan demonstrasi farm yaitu meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan anggota kelomoktani serta memberikan contah petani disekitarnya menerapkan teknologi baru melali kerjasama kelompok.
c. Tujuan demonstrasi area yaitu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan anggota kelompok tani melalui kerjasama antar kelompok tani untuk menerapkan inovasi baru di bidang pertanian serta memberikan contoh bagi petani sekitarnya.
3.        Anjangsana
Anjangsana merupakan kunjungan yang terencana yang dilakukan oleh penyuluh ke rumah /tempat usaha petani tujuan menumbuhkan kepercayaaan diri petani dan keluarganya.
Dalam anjangsana agar dapat dilakukan secara terencana, penyiapkan kebutuhan teknologi yang diperlukan petani serta bahan informasi seperti : brosur, folder, folder dan media lainnya.
4.                  Kursus Tani
Kursus tani merupakan proses belajr mengajar yang khusus diperuntukan bagi petani dan keluarganya yang diselenggarakan secara sistematis, teratur dan dalam jangka waktu tertentu.
Tujuan dari khursus tani :
a.       meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan kecakapan petani dalam memecahkan masalah yang dijumpai dalam usahataninya
b.      meningakatkan pengetahuan, kecakapan dan ketrampilan dalam menerapkan teknologi yang lebih menguntungkan .
c.       menumbuhkan calon kontaktani yang bersedia dan mampu menyebarkan teknologi pertanian yang lebih menguntungkan
d.      menggugah dan mengembangkan kesadaran dan swadaya serta kepemimpinan keluarga tani.
 5.                  Magang
Magang merukan proses belajar mengajar anatar petani, dimana seorang petani belajar dari pengalaman kerjanya pada suatu usatani dalam keadaan sesungguhnya di lapangan dengan bimbingan petani yang berhasil menjalankan usahanya.
Tujun dari magang:
a.       Menumbuhkan kreativitas, sikap kritis, rasa percaya diri dan jiwa kewirausahaan petani
b.      Menumbuhkan minat dan keyakinan petani pemagang terhadap usahatani sebagai sumber mata pencaharian.
c.       Menumbuhkan dan mengembangkan hubungan social dan interaksi positif antar sesama petani
d.      Meningkatkan ketrampilan, kecakapan dan rasa percaya diri petani pengajar dalam mengajar petani lain.
6.     Mimbar Sarasehan
Mimbar sarasehan merupakan forum konsultasi antar kelompok andalan (KTNA) dengan pihak pemerintah yang diselenggarakan secara periodik dan berkesinambungan untuk membicarakan memusyawarahkan dan mencapai kesepakatan mengenai hal-hal yang menyangkut masalah-masalah pelaksanaan program pemerintah dan kegiatan petani dalam rangka pembangunan pertanian.
Tujuan
a.       Memahami keadaan dan masalah yang dihadapi pembangunan pertanian di lapangan.
b.      Mencapai kesepakatan bersama tentang pemecahan maslah berserta penyusunan rencana kegiatan yang mencakup usahatani dan kehidupan petani dan keluarganya.
c.       Melaksnakan penerapan kegiatan di lapangan sesuai dengan kesepakatan bersama.
d.      Meningkatkan peranan dan peranserta petani sebagai subyek pembangunan
e.        Mewujudkan hubungan timbal balik yang serasi antar kontaktani dan pemerintah dalam pelaksanaan dan pengawasan pembangunan pertanian untuk memperbaiki perencanaan masa yang akan datang.
7.       Pameran
Pameran merupakan usaha untuk memperhatikan atau mempertunjukan model, contoh, barang, peta, grafik, benda hidaup dan sebagainya secara sistematis pada suatu tempat tertentu. Suatu pameran melingkupi tiga tahap usaha komunikasi yaitu menarik perhatian, mengguggah hati dan membangkitkan keinginan serta bila memungkin tahap menyakinkan diharapkan dapat juga tercapai.
Tujuan
a.       Mempengaruhi orang untuk menerima cara-cara baru dan memperlihatkan teknologi baru sekaligus ditunjukan hasil hasil yang telah dicapai.
b.      Menarik perhatian banyak orang dan meningkatkan pengertian dan minat
c.       Menumbuhkan pengertian dan apresiasi terhadap pembangunan pertanian
8.     Perlombaan
Perlombaan merupakan kegiatan dengan aturan tertentu untuk menumbuhkan persaingan yang sehat antar petani untuk mencapai prestasi yang diinginkan secara maksimal
Tujuan
a. Menarik perhatian petani terhadap suatu hal dalam usahatani
b. Meningkatkan prestasi petani dalam berusahatani yang lebih baik dan lebih menguntngkan
c. Menumbuhkan dan meningkatkan peransaerat petani dan kerjasama diantara petani.
9.     Pertemuan Diskusi
Pertemuan diskusi merupakan pertmuan yang jumlah pesertanya tidak lebih dari 20 orang dan biasanya diadakan untuk bertukar pendapat mengenai  suatu kegiatan yang akan diselenggarakan tau gua mengumpulakan saran-saran untuk memecahkan persoalan
Tujuan
mengajak petani untuk membicarakan dan memecahkan maslah yang berkaitan dengan penerapan teknologi baru, penyaluran sarana produksi, pemasaran hasil, pengorganisasian kegiatan kelompok tani dan kelestarian sumberdaya alam.
10.       Temu Karya
Temu karya merupakan pertemuan antar petani untuk bertukar pikiran dan pengalaman serta belajar atau saling mengajarkan sesuatu ketrampilan dan pengetahuan untuk diterapkan
Tujuan
a. Membuka kesempatan tukar menukar pengalaman dan ketrampilan
b. Mempercepat penerapan teknologi baru.
c. Memperluas cakrawala berfikir
d. Meningkatkan keakraban antar petani
11.        Temu Lapang
Temu lapang meruapakan pertemuan antara petani dengan peneliti untuk salaing tukar menukar informasi tentang tenologi yang dihasilkan oleh peneliti dan umpan baik dari petani.
Tujuan
a.       Membuka kesempatan bagi petani untuk mendapatkan informasi teknologi hasil penelitian
b.      Membuka kesempatan bagi peneliti untuk mendapatkan umpan balik dari hasil-hasil penelitiannya
c.       Menyalurkan teknologi di kalangan petani secara lebih cepat.
12.       Temu Tugas
Temu tugas merupakan pertemuan berkala antara pengemban fungsi penyuluhan, penelitian pengaturan dan pelayanan dalam lingkup pertanian.
Tujuan
Mencapai suatu pandangan, sikap dan perilaku dalam melaksanakan suatu kegiatan pembangunan
13.     Temu Usaha
Temu usaha merupakan pertemuan antara petani dengan pengusaha dibidang pertanian
Tujuan
a.       Menumbuhkan rangsangan kea rah usahatani komersial kerjasama usaha dan kewirausahaan
b.      Membuka kesempatan bagi petani untuk mempromosikan hasil usahanya
c.       Membuka kesempatan untuk menambah pengetahuan dibidang pemasaran serta dibidang teknologi produksi dan pengolahan hasil
d.      Mengadakan transaksi usaha yang menguntungkan kedua belah pihak.
 14.       Temu Wicara
Temu wicara merupakan pertemuan antara petani dengan pemerintah untuk bertukar mengenai kebijaksanaan pemerintah dalam pembangunan, khususnya pembangunan pertanian serta mengenai keinginan, gagasan, dan pelaksanaan pembangunan oleh petani di lapangan.
Tujuan
a.       Meningkatkan pengetahuan dan pengertian petani tentang pembangunan pertanian pada khususnya serta pembangunan nasional
b.      Meningkatkan motivasi petani untuk melaksanakan kegiatan pembangunan pertanian
c.       Membuka saluran umpan balik dari masyarakat tani kepada pemerintah.
15.     Widyawisata
Widyawisata merupakan suatu perjalanan bersama yang dilakukan oleh kelompoktani, untuk belajar dengan melihat suatu penerapan teknologi dalam keadaan yang sesungguhnya, atau melihat suatu akibat tidak diterapkannya teknologi di suatu tempat.
Tujuan
a.       Meyakinkan peserta dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk melihat sendiri hasil penerapan, suatu teknologi demonstrasi suatu ketrampilan, alat baru dan sebagainya.
b.      Membantu peserta mengenal masalah, menumbuhkan minat dan perhatian, serta memotivasi untuk melakukan sesuatu hal.
16.     Karyawisata
Karyawisata merupakan suatu perjalanan bersama yang dilakukan oleh kelompoktani, untuk belajar sambil bekerja suatu penerapan teknologi dalam keadaan yang sesungguhnya.
Tujuan
a.       Memberikan kesempatan kepada petani untuk belajar sambil melakukan sendiri hasil penerapan, suatu teknologi demonstrasi suatu ketrampilan, alat baru dan sebagainya.
b.      Membantu peserta mengenal masalah, menumbuhkan minat dan perhatian, serta memotivasi untuk melakukan sesuatu hal.
17.  Sekolah Lapang
Sekolah lapang merupakan kegiatan pertemuan berkala yang dilakukan oleh sekelompok petani pada hamparan tertentu, yang diawali dengan membahas masalah yang sedang dihadapi, kemudian diikuti dengan curah pendapat, berbagi pengalaman tentang alternatif dan pemilihan cara pemecahan masalah yang palibng efektif dan efisien sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki.
Tujuan
a.       Petani memiliki kesempatan mengidentifikasi kebutuhan ilmu dan ketrampilan dalam melaksanakan usahataninya
b.      Petani belajar untuk menambah ilmu dan ketrampilan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya ditempat yang sesuai dengan keadaan dan masalah yang dihadapi sehari-hari.

c.       Petani mampu menganalisis dan mengambil keputusan yang rasional tentang tindakan yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah dan memperbaiki usahataninya berdasarkan hasil lapangan.

Artikel :

Penyuluhan Sistem Agribisnis


Pertanian Organik

April 12, 2011 pukul 12:24 pm | Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar

Apa itu Pertanian Organik

Alam mengajari kebajikan bagi umat manusia. Alam merupakan suatu kesatuan, terdiri dari banyak bagian, seperti organisme dengan organ-organnya. Semua bagian berjalan dalam harmoni, saling melayani dan berbagi. Tiap organ memiliki peran masing-masing, saling melengkapi dan memberikan sinergi untuk menghasilkan keseimbangan secara optimal, dan berkelanjutan. Setiap komponen tidak berpikir dan beraksi hanya demi ‘aku’, tetapi untuk ‘kita’: keseluruhan alam. Demikian halnya Alam, melindungi dan mengayomi bagian-bagiannya secara harmonis. Itulah organis, tidak egois.

Pertanian organik (PO) juga tunduk pada prinsip diatas, pada hukum alam. Segala yang ada di alam adalah berguna dan memiliki fungsi, saling melengkapi, melayani dan menghidupi untuk semua. Dalam alam ada keragaman hayati dan keseimbangan ekologi. Maka, PO pun menghargai keragaman hayati dan keseimbangan ekologi. Berjuta tahun alam membuktikan prinsipnya, tak ada eksploitasi selain optimalisasi pemanfaatan. Demikian halnya PO, tidak untuk memaksimalkan hasil, tidak berlebih; tetapi cukup untuk semua makhluk dan berkesinambungan. Inilah filosofi mendasar PO.

Perkembangan Pertanian Organik
Praktek pertanian yang menggunakan bibit unggul yang dihasilkan oleh perusahaan benih, bahan-bahan kimia buatan pabrik (agrokimia) —baik untuk pemupukan lahan dan pengendalian hama— awalnya dirasakan dapat meningkatkan hasil produksi pertanian. Namun, setelah beberapa dekade, praktek tersebut menimbulkan permasalahan khususnya terhadap kerusakan ekosistem lahan pertanian dan kesehatan petani itu sendiri.

Penurunan hasil pertanian yang dibarengi dengan meningkatnya daya tahan hama dan penyakit tanaman, disebabkan karena fauna tanah yang bermanfaat bagi tanaman semakin berkurang dan mikroorganisme yang berguna bagi kesuburan tanah pun nyaris hilang akibat pemakaian input agrokimia yang berlebihan. Bahkan, hama dan penyakit tanaman bukannya menurun, tapi justru semakin kebal terhadap bahan-bahan kimia tersebut. Sehingga, petani memerlukan dosis yang lebih tinggi lagi untuk membasminya. Ini artinya, petani tidak saja menebar racun untuk membasmi hama dan penyakit, tetapi juga meracuni dirinya sendiri.

Perhatian masyarakat dunia terhadap persoalan pertanian, kesehatan dan lingkungan global dalam dasawarsa terakhir ini semakin meningkat. Kepedulian tersebut dilanjutkan dengan usaha-usaha yang konkrit untuk menghasilkan pangan tanpa menyebabkan terjadinya kerusakan sumber daya tanah, air, dan udara serta aman bagi kesehatan manusia. Salah satu usaha yang dirintis adalah dengan pengembangan PO yang akrab lingkungan dan menghasilkan pangan yang sehat, bebas dari residu obat-obatan dan zat-zat kimia yang mematikan.

Sebenarnya, PO ini sudah menjadi kearifan/pengetahuan tradisional yang membudaya di kalangan petani di Indonesia. Namun, teknologi pertanian organik ini mulai ditinggalkan oleh petani ketika teknologi intensifikasi yang mengandalkan bahan agrokimia diterapkan di bidang pertanian. Sejak saat itu, petani menjadi target asupan agrokimia dan tergantung dari pihak luar. Setelah muncul persoalan dampak lingkungan akibat penggunaan bahan kimia di bidang pertanian, teknologi PO yang akrab lingkungan dan menghasilkan pangan yang sehat mulai diperhatikan lagi. (Sutanto, 2002).

Apa dan Bagaimana Budidaya PO ?
PO merupakan pertanian yang selaras dengan alam, menghayati dan menghargai prinsip-prinsip yang bekerja di alam yang telah menghidupi segala mahluk hidup berjuta-juta tahun lamanya. PO merupakan proses budidaya pertanian yang menyelaraskan pada keseimbangan ekologi, keanekaragaman varietas, serta keharmonian dengan iklim dan lingkungan sekitar. Dalam prakteknya, budidaya PO menggunakan semaksimal mungkin bahan-bahan alami yang terdapat di alam sekitarnya, dan tidak menggunakan asupan agrokimia (bahan kimia sintetis untuk pertanian). Lebih jauh, karena PO berusaha ‘meniru’ alam, maka pemakaian benih atau asupan yang mengandung bahan-bahan hasil rekayasa genetika (GMO/Genetically Modified Organism) juga dihindari.

Kerapkali PO hanya dipahami secara teknis bertani yang menolak asupan kimiawi atau sebagai budidaya pertanian yang anti modernisasi atau disamakan dengan pertanian tradisional. Pemahaman ini sungguh kurang tepat. PO bukan sekedar teknik atau metode bertani, melainkan juga cara pandang, sistem nilai, sikap dan keyakinan hidup. PO memandang alam secara menyeluruh, komponennya saling tergantung dan menghidupi, dimana manusia juga adalah bagian di dalamnya. Sistem nilai PO mendasarkan pada prinsip-prinsip hukum alam. PO juga mengajak petani dan manusia umumnya untuk arif dan kreatif dalam mengelola alam yang tercermin dalam sikap dan keyakinannya. PO juga tidak menolak penggunaan teknologi modern di dalam praktek budidayanya, sejauh teknologi modern tersebut selaras dengan prinsip PO, yaitu keberlanjutan, penghargaan pada alam, keseimbangan ekosistem, keanekaragaman varietas, kemandirian dan kekhasan lokal. Maka, baik kearifan tradisional dan teknologi modern yang tunduk pada prinsip alam, keduanya mendapat tempat dalam PO.

Gerakan PO mencoba menghimpun seluruh usaha petani dan pelaku lain, yang secara serius dan bertanggungjawab menghindarkan asupan dari luar yang meracuni lingkungan dengan tujuan untuk memperoleh kondisi lingkungan yang sehat. Mereka juga berusaha menghasilkan produksi tanaman yang berkelanjutan dengan cara memperbaiki kesuburan tanah dan menggunakan sumberdaya alami seperti mendaur ulang limbah pertanian.

Budidaya PO, juga mendorong kemandirian dan solidaritas di antara petani sebagai produsen. Mandiri untuk tidak tergantung pada perusahaan-perusahaan besar penyedia pupuk dan bahan agrokimia serta perusahaan bibit. Solidaritas untuk berdaulat dan berorganisasi demi mencapai kesejahteraan, pemenuhan hak dan keadilan sosial bagi petani.

Prospek Pertanian Organik

Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian. Orang semakin arif dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup sehat dengan slogan �Back to Nature� telah menjadi trend baru meninggalkan pola hidup lama yang menggunakan bahan kimia non alami, seperti pupuk, pestisida kimia sintetis dan hormon tumbuh dalam produksi pertanian. Pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik.

Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Gaya hidup sehat demikian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Preferensi konsumen seperti ini menyebabkan permintaan produk pertanian organik dunia meningkat pesat.

Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya hayati tropika yang unik, kelimpahan sinar matahari, air dan tanah, serta budaya masyarakat yang menghormati alam, potensi pertanian organik sangat besar. Pasar produk pertanian organik dunia meningkat 20% per tahun, oleh karena itu pengembangan budidaya pertanian organik perlu diprioritaskan pada tanaman bernilai ekonomis tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.

Peluang Pertanian Organik di Indonesia

Luas lahan yang tersedia untuk pertanian organik di Indonesia sangat besar. Dari 75,5 juta ha lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian, baru sekitar 25,7 juta ha yang telah diolah untuk sawah dan perkebunan (BPS, 2000). Pertanian organik menuntut agar lahan yang digunakan tidak atau belum tercemar oleh bahan kimia dan mempunyai aksesibilitas yang baik. Kualitas dan luasan menjadi pertimbangan dalam pemilihan lahan. Lahan yang belum tercemar adalah lahan yang belum diusahakan, tetapi secara umum lahan demikian kurang subur. Lahan yang subur umumnya telah diusahakan secara intensif dengan menggunakan bahan pupuk dan pestisida kimia. Menggunakan lahan seperti ini memerlukan masa konversi cukup lama, yaitu sekitar 2 tahun.

Volume produk pertanian organik mencapai 5-7% dari total produk pertanian yang diperdagangkan di pasar internasional. Sebagian besar disuplay oleh negara-negara maju seperti Australia, Amerika dan Eropa. Di Asia, pasar produk pertanian organik lebih banyak didominasi oleh negara-negara timur jauh seperti Jepang, Taiwan dan Korea.

Potensi pasar produk pertanian organik di dalam negeri sangat kecil, hanya terbatas pada masyarakat menengah ke atas. Berbagai kendala yang dihadapi antara lain: 1) belum ada insentif harga yang memadai untuk produsen produk pertanian organik, 2) perlu investasi mahal pada awal pengembangan karena harus memilih lahan yang benar-benar steril dari bahan agrokimia, 3) belum ada kepastian pasar, sehingga petani enggan memproduksi komoditas tersebut.

Areal tanam pertanian organik, Australia dan Oceania mempunyai lahan terluas yaitu sekitar 7,7 juta ha. Eropa, Amerika Latin dan Amerika Utara masing-masing sekitar 4,2 juta; 3,7 juta dan 1,3 juta hektar. Areal tanam komoditas pertanian organik di Asia dan Afrika masih relatif rendah yaitu sekitar 0,09 juta dan 0,06 juta hektar (Tabel 1). Sayuran, kopi dan teh mendominasi pasar produk pertanian organik internasional di samping produk peternakan.

Tabel 1. Areal tanam pertanian organik masing-masing wilayah di dunia, 2002

No. Wilayah Areal Tanam (juta ha)

  1. Australia dan Oceania 7,70
  2. Eropa 4,20
  3. Amerika Latin 3,70
  4. Amerika Utar 1,30
  5. Asia 0,09
  6. Afrika 0,06

Sumber: IFOAM, 2002; PC-TAS, 2002.

Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk bersaing di pasar internasional walaupun secara bertahap. Hal ini karena berbagai keunggulan komparatif antara lain : 1) masih banyak sumberdaya lahan yang dapat dibuka untuk mengembangkan sistem pertanian organik, 2) teknologi untuk mendukung pertanian organik sudah cukup tersedia seperti pembuatan kompos, tanam tanpa olah tanah, pestisida hayati dan lain-lain.

Pengembangan selanjutnya pertanian organik di Indonesia harus ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar global. Oleh sebab itu komoditas-komoditas eksotik seperti sayuran dan perkebunan seperti kopi dan teh yang memiliki potensi ekspor cukup cerah perlu segera dikembangkan. Produk kopi misalnya, Indonesia merupakan pengekspor terbesar kedua setelah Brasil, tetapi di pasar internasional kopi Indonesia tidak memiliki merek dagang.

Pengembangan pertanian organik di Indonesia belum memerlukan struktur kelembagaan baru, karena sistem ini hampir sama halnya dengan pertanian intensif seperti saat ini. Kelembagaan petani seperti kelompok tani, koperasi, asosiasi atau korporasi masih sangat relevan. Namun yang paling penting lembaga tani tersebut harus dapat memperkuat posisi tawar petani.

Pertanian Organik Modern

Beberapa tahun terakhir, pertanian organik modern masuk dalam sistem pertanian Indonesia secara sporadis dan kecil-kecilan. Pertanian organik modern berkembang memproduksi bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan sistem produksi yang ramah lingkungan. Tetapi secara umum konsep pertanian organik modern belum banyak dikenal dan masih banyak dipertanyakan. Penekanan sementara ini lebih kepada meninggalkan pemakaian pestisida sintetis. Dengan makin berkembangnya pengetahuan dan teknologi kesehatan, lingkungan hidup, mikrobiologi, kimia, molekuler biologi, biokimia dan lain-lain, pertanian organik terus berkembang.

Dalam sistem pertanian organik modern diperlukan standar mutu dan ini diberlakukan oleh negara-negara pengimpor dengan sangat ketat. Sering satu produk pertanian organik harus dikembalikan ke negara pengekspor termasuk ke Indonesia karena masih ditemukan kandungan residu pestisida maupun bahan kimia lainnya.

Banyaknya produk-produk yang mengklaim sebagai produk pertanian organik yang tidak disertifikasi membuat keraguan di pihak konsumen. Sertifikasi produk pertanian organik dapat dibagi menjadi dua kriteria yaitu:

a) Sertifikasi Lokal untuk pangsa pasar dalam negeri. Kegiatan pertanian ini masih mentoleransi penggunaan pupuk kimia sintetis dalam jumlah yang minimal atau Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA), namun sudah sangat membatasi penggunaan pestisida sintetis. Pengendalian OPT dengan menggunakan biopestisida, varietas toleran, maupun agensia hayati. Tim untuk merumuskan sertifikasi nasional sudah dibentuk oleh Departemen Pertanian dengan melibatkan perguruan tinggi dan pihak-pihak lain yang terkait.

b) Sertifikasi Internasional untuk pangsa ekspor dan kalangan tertentu di dalam negeri, seperti misalnya sertifikasi yang dikeluarkan oleh SKAL ataupun IFOAM. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi antara lain masa konversi lahan, tempat penyimpanan produk organik, bibit, pupuk dan pestisida serta pengolahan hasilnya harus memenuhi persyaratan tertentu sebagai produk pertanian organik.

Beberapa komoditas prospektif yang dapat dikembangkan dengan sistem pertanian organik di Indonesia antara lain tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, tanaman rempah dan obat, serta peternakan, (Tabel 2). Menghadapi era perdagangan bebas pada tahun 2010 mendatang diharapkan pertanian organik Indonesia sudah dapat mengekspor produknya ke pasar internasional.

Tabel 2. Komoditas yang layak dikembangkan dengan sistem pertanian organik

No. Kategori Komoditi

  1. Tanaman Pangan Padi
  2. Hortikultura Sayuran: brokoli, kubis merah, petsai, caisin, cho putih, kubis tunas, bayam daun, labu siyam, oyong dan baligo. Buah: nangka, durian, salak, mangga, jeruk dan manggis.
  3. Perkebunan Kelapa, pala, jambu mete, cengkeh, lada, vanili dan kopi.
  4. Rempah dan obat Jahe, kunyit, temulawak, dan temu-temuan lainnya.
  5. Peternakan Susu, telur dan daging

Lahan
Pada dasarnya semua lahan dapat dikembangkan menjadi lahan PO. Yang terbaik adalah lahan pertanian yang berasal dari praktek pertanian tradisional atau hutan alam yang tidak pernah mendapatkan asupan bahan-bahan agrokimia (pupuk dan pestisida).
Namun, bila lahan yang digunakan berasal dari lahan bekas budidaya pertanian konvensional (menggunakan pupuk dan pestisida kimia), lebih dahulu perlu dilakukan konversi lahan. Konversi lahan adalah upaya yang bertujuan untuk meminimalkan kandungan sisa-sisa bahan kimia yang terdapat dalam tanah dan memulihkan unsur fauna dan mikroorganisme tanah. Lamanya konversi tergantung dari intensitas pemakaian input kimiawi dan jenis tanaman sebelumnya (sayuran, padi atau tanaman keras).
Masa konversi dapat diperpanjang/diperpendek tergantung pada sejarah lahan tersebut. Bila masa konversi telah lewat, lahan tersebut merupakan lahan organik. Bila kurang dari itu, maka lahan tersebut masih merupakan lahan konversi menuju organik.

Benih
Benih yang digunakan untuk budidaya PO adalah benih yang tidak mendapatkan perlakuan rekayasa genetika. Petani sebaiknya menggunakan benih lokal, atau benih hibrida yang telah beradaptasi dengan alam sekitar.
Keunggulan menggunakan benih lokal adalah mudah memperolehnya dan murah harganya, bahkan petani bisa membenihkan sendiri. Selain itu, benih lokal memiliki asal usul yang jelas dan sesuai dengan kondisi alam sekitar. Dengan memakai benih sendiri, petani juga tidak tergantung pada pihak luar.

Persiapan tanam
Lahan yang digunakan untuk produksi PO sedapat mungkin dijaga kestabilannya tanpa harus mengacaukan, yaitu berpedoman pada metode sedikit olah tanah (minimum tillage).

Tanam
Prinsip yang diterapkan dalam praktek penanaman PO selalu mencerminkan adanya tumpangsari agar tercipta keanekaragaman tanaman (varietas). Perencanaan dan teknik penanaman perlu disesuaikan dengan sifat tanaman, prinsip-prinsip pergiliran tanaman dan kondisi cuaca setempat.

Pemeliharaan Tanaman
Setiap tanaman memiliki sifat karakteristik tertentu, maka pemeliharaan tanaman ditentukan oleh sifat karakteristik tersebut. Dengan mengenali karakteristik tanaman petani dapat dengan mudah melakukan pemeliharaan yang sesuai, sehingga tujuan pemeliharaan tercapai yaitu “kebahagiaan tanaman itu sendiri”.

Pemupukan
Secara teori, lahan PO akan semakin subur karena proses-proses yang diterapkan berpedoman pada pemeliharaan tanah. Tetapi realitanya, petani seringkali kurang memahami hal ini sehingga tanah selalu lebih banyak kehilangan unsur hara —melalui erosi, penguapan, dsb— dibandingkan dengan hara yang diberikan/ditambahkan. Maka prinsip pemupukan ditentukan oleh kepekaan kita dalam mengamati/menilai kapan tanaman kekurangan makanan.

Pengendalian HPT/OPT
PO berbasis pada keseimbangan ekosistem. Konsekuensinya semua organisme yang ada (termasuk hama) dipandang ikut berperan dalam proses keseimbangan tersebut. Dengan kata lain, tidak ada mahluk hidup yang tidak berguna. Yang diperlukan adalah mengendalikan hama/penyakit supaya tidak berada dalam jumlah berlebihan.
Pola tumpangsari, pergiliran tanaman, pemulsaan, rekayasa teknik menanam, dan manajemen kebun menjadi pilihan metode pengendalian HPT karena sesuai dengan prinsip keseimbangan.
Penggunaan pestisida alami diperlukan sejauh kita tahu bahwa di lahan PO sedang terjadi ketidakseimbangan, yang terlihat pada munculnya gangguan hama/penyakit. Kadar pemakaiannya juga tergantung dari tingkat gangguan yang ada.

Panen
Setiap langkah dalam proses produksi akan dinilai dari hasil panenan. Prinsip dalam panen adalah menjaga standar mutu dengan memanen tepat waktu sesuai kematangan. Cara pemanenan juga perlu berhati-hati sehingga tidak menimbulkan kerusakan atau kehilangan hasil yang lebih besar.

Pasca Panen
Kegiatan pasca panen harus mampu menekan kerusakan hasil seminimal mungkin. Metode pengolahan yang dilakukan tidak boleh mengubah sama sekali komposisi bahan aslinya. Karenanya proses seleksi, pencucian, pengepakan, penyimpanan dan pengangkutan produk organik perlu berhati-hati agar kondisi tetap segar dan sehat ketika berada di tangan pembeli. Dalam PO, kegiatan pasca panen menghindari pemakaian bahan pengawet atau perlakuan kimiawi lainnya dan seminimal mungkin melakukan proses pengolahan.

Dalam PO berlaku standar yang berfungsi sebagai pedoman bagi petani dan pelaku lain dalam menjalankan usahanya di bidang ini. Standar ini berisi prinsip-prinsip mendasar PO dan hal-hal umum yang sebaiknya dilakukan dan dihindari dalam bertani organik. Sebagai contoh, pemerintah telah menerbitkan SNI (Standar Nasional Indonesia ) 01-6729-2002 tentang Sistem Pangan Organik yang dapat menjadi acuan bagi para pelaku terkait pengembangan PO. Standar ini mengacu pada standar internasional yakni Codex CAC/GL 32/1999, dan cukup selaras dengan standar dasar IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movement). BIOCert sendiri tengah mengembangkan standar PO yang selaras dengan pedoman di atas dan sesuai dengan visi dan misi BIOCert.

Artikel Terkait:

Prinsip Pertanian Organik

Pestisida Organik

Pupuk Organik

Pupuk Oganik dan Hayati

Pestiside Organik

Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Berbasis Sistem Pertanian Organik


Pertanian Modern

April 12, 2011 pukul 12:24 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Pertanian Modern

Usaha-usaha Meningkatkan Hasil Pertanian

1. Intensifikasi Pertanian

membajak sawah Intensifikasi pertanian adalah pengolahan lahan pertanian yang ada dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan hasil pertanian dengan menggunakan berbagai sarana. Intensifikasi pertanian banyak dilakukan di Pulau Jawa dan Bali yang memiliki lahan pertanian sempit.

Pada awalnya intensifikasi pertanian ditempuh dengan program Panca Usaha Tani, yang kemudian dilanjutkan dengan program sapta usaha tani. Adapun sapta usaha tani dalam bidang pertanian meliputi kegiatan sebagai berikut :

  • Pengolahan tanah yang baik
  • Pengairan yang teratur
  • Pemilihan bibit unggul
  • Pemupukan
  • Pemberantasan hama dan penyakit tanaman
  • Pengolahan pasca panen

pengairan yang teratur  menyemprot hama

2. Ekstensifikasi Pertanian

lahan pertanian yang luas Adalah usaha meningkatkan hasil pertanian dengan cara memperluas lahan pertanian baru,misalnya membuka hutan dan semak belukar, daerah sekitar rawa-rawa, dan daerah pertanian yang belum dimanfatkan. Selain itu, ekstensifikasi juga dilakukan dengan membuka persawahan pasang surut.

Ekstensifikasi pertanian banyak dilakukan di daerah jarang penduduk seperti di luar Pulau Jawa, khususnya di beberapa daerah tujuan transmigrasi, seperti Sumatera, Kalimantan dan Irian Jaya.

3. Diversifikasi Pertanian

Adalah usaha penganekaragaman jenis usaha atau tanaman pertanian untuk menghindari ketergantungan pada salah satu hasil pertanian.
Diversifikasi pertanian dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :

  • Memperbanyak jenis kegiatan pertanian, misalnya seorang petani selain bertani juga beternak ayam dan beternak ikan.
  • Memperbanyak jenis tanaman pada suatu lahan, misalnya pada suatu lahan selain ditanam jagung juga ditanam padi ladang.

4. Mekanisasi Pertanian

penggunaan mesin pertanian modern

Adalah usaha meningkatkan hasil pertanian dengan menggunakan mesin-mesin pertanian modern. Mekanisasi pertanian banyak dilakukan di luar Pulau Jawa yang memiliki lahan pertanian luas. Pada program mekanisasi pertanian, tenaga manusia dan hewan bukan menjadi tenaga utama.

5. Rehabilitasi Pertanian

Adalah usaha memperbaiki lahan pertanian yang semula tidak produktif atau sudah tidak berproduksi menjadi lahan produktif atau mengganti tanaman yang sudah tidak produktif menjadi tanaman yang lebih produktif.
Sebagai tindak lanjut dari program-program tersebut, pemerintah menempuh langkah-langkah sebagai berikut:

  • Memperluas,memperbaiki dan memelihara jaringan irigasi yang meluas di seluruh wilayah Indonesia
  • Menyempurnakan sistem produksi pertanian pangan melalui penerapan berbagai paket program yang diawali dengan program Bimbingan Masal (Bimas) pada tahun 1970. Kemudian disusul dengan program intensifikasi Masal (Inmas), Intensifikasi Khusus (Insus) dan Supra Insus yang bertujuan meningkatkan produksi pangan secara berkesinambungan.
  • Membangun pabrik pupuk serta pabrik insektisida dan pestisida yang dilaksanakan untuk menunjang proses produksi pertanian.

Usaha-usaha meningkatkan hasil pertanian dapat dilakukan antara lain dengan cara :

  • Membangun gudang-gudang, pabrik penggilingan padi dan menetapkan harga dasar gabah
  • Memberikan berbagai subsidi dan insentif modal kepada para petani agar petani dapat meningkatkan produksi pertaniannya.
  • Menyempurnakan sistem kelembagaan usaha tani melalui pembentukan kelompok tani, dan Koperasi Unit Desa (KUD) di seluruh pelosok daerah yang bertujuan untuk memberikan motivasi produksi dan mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi para petani.

Hydrogel, Media Tanam Unik untuk Hidroponik

TEKNIK pertanian modern seperti hidroponik sudah menjadi kebutuhan yang mendesak, menyusul semakin berkurangnya ketersediaan lahan untuk bercocok tanam. Berkurangnya lahan pertanian ini antara lain karena pertambahan penduduk yang cepat akibat faktor kelahiran, perpindahan penduduk, dan urbanisasi.Cara budidaya tanaman dengan teknik hidroponik dinilai praktis, bersih dan hemat tenaga. Cara ini juga banyak disuka hobiis tanaman hias. Hasilnya, tak kalah dengan budidaya dalam pot biasa. Malah lebih aman dari serangan hama ketimbang memakai media tanah. Hampir semua jenis tanaman hias bisa dibudidayakan dan dipajang dengan teknik hidroponik. Terutama untuk tanaman in door.Bicara soal hidroponik, tak bisa lepas dengan yang namanya media tanam. Betapa tidak, media tanam memegang peranan sangat penting untuk suksesnya bercocok tanam sistem hidroponik. Media tanam untuk hidroponik biasanya menggunakan batu perlit atau vermiculit. Batu perlit merupakan batu dari letusan gunung berapi, bentuknya dibuat bulat-bulat, poros, dan ringan.Namun bila perlit dan vermikulit sukar didapat dan mahal harganya, banyak alternatif lainnya, seperti batu apung, pecahan batu bata atau genteng, pasir, arang kayu, arang sekam, pakis, sabut kelapa, ijuk, spon, peat moss (gambut), rock wool, zeolit. Juga kerikil sintesis Lecaton dan Blahton yang banyak dijual di nursery atau toko-toko tanaman hias. Prinsipnya, media tersebut harus bersifat porous (berongga) untuk sirkulasi udara, mudah menyerap air, tidak cepat lapuk, akar mudah menempel, dapat menyimpan zat hara, dan tidak mudah menjadi sumber penyakit.

Pada dasarnya sistem hidroponik adalah upaya memberikan bahan makanan dalam larutan mineral atau nutrisi yang diperlukan tanaman dengan cara disiram atau diteteskan. Pekerjaan menyiram atau mengairi media tanam inilah menjadi persoalan. Sistem pengairan hidroponik bila dilakukan secara manual akan sangat merepotkan, sementara bila dilakukan secara otomatis butuh energi dan bahan yang tidak sedikit; perlu pompa, listrik, selang, pengatur waktu, dsb. Hingga ditemukan solusi yang cukup unik yaitu dengan menggunakan media tanam yang dinamakan hydrogel.

Hydrogel adalah penemuan terbaru yang menarik untuk mempermudah sistem pertanian hidroponik. Kristal-kristal polimer ini bisa dijadikan media tanam yang praktis karena sifatnya yang mampu menyerap air, sehingga pekebun akan dibebaskan dari rutinitas menyiram tanaman, selain itu dengan keanekaragaman warnanya bisa memperbaiki penampilan tanaman secara keseluruhan, karena bisa disesuaikan dengan selera dan diselaraskan dengan warna tanaman. Hal ini dapat menciptakan keindahan dan keasrian tanaman hias yang ditempatkan di ruang tamu atau di ruang kantor.

Kelebihan hidrogel, selain tampilannya indah berwarna-warni, juga praktis, dapat disiram sebulan sekali, terhindar dari hama tanah, cocok untuk tanaman di dalam ruangan seperti ruang tamu atau meja kerja.

Selain sebagai media tanam bagi tanaman hias, hidrogel juga cocok untuk perkebunan dan hutan tanaman industri. Hidrogel digunakan sebagai campuran untuk menyempurnakan tanah. Jeli dari hidrogel lazim pula digunakan untuk budidaya jamur shiitake. Selain itu gel ini berguna bagi pertanian di kota-kota besar yang lahannya sempit serta kualitas tanahnya jelek. Sedikit tanah, diberi campuran hidrogel dan pupuk, bisa menjadi media yang baik untuk berkebun.

Menurut ensiklopedia Wikipedia, hydrogel adalah suatu jaringan rantai-rantai polimer yang mudah menyerap air, hidrogel adalah polimer penyerap super (superabsorbent), ia dapat mengandung air hingga 99%. Hidrogel adalah kristal-kristal pengisap air, mampu menyerap air 600 kali dari bobotnya. Kristal-kristal ini tampak seperti butiran-butiran kecil kwarsa sebelum jenuh dengan air, dan mirip cabikan jeli jernih bila air ditambahkan.

Bahan-bahan pembentuk hydrogel biasanya terdiri dari polyvinyl alcohol, natrium polyacrylate, polimer-polimer acrylate lainnya dan ko-polimer dengan kelompok hydrophilic (pengikat air) yang melimpah.

Pada awalnya hidrogel digunakan untuk diaper sekali pakai dimana ia dapat “menangkap” urin, untuk handuk-handuk kesehatan, lensa-lensa kontak (hidrogel silikon, polyacrylamides), elektroda-elektroda medis (polyethylene oxide, polyAMPS dan polyvinylpyrrolidone). Juga digunakan untuk operasi payudara, pembalut luka bakar, wadah obat-obat ionis, dan butiran untuk mempertahankan kandungan air tanah di kawasan tandus.

Salah satu kehebatan hidrogel hadir dalam merek dagang Osmogro, yang menciptakan teknologi pengairan mandiri –tumbuhan mampu mengairi dirinya sendiri. Teknologi pengairan Osmogro yang unik ini, bisa mengantarkan air dari penampung eksternal ke dalam pot tumbuhan dengan cara osmosis dan difusi menggunakan membran hidrogel. (Dede Suhaya/dari berbagai sumber)***

Meningkatkan Pertumbuhan Tanaman

HIDROGEL atau dikenal juga sebagai polimer penyerap super (super-absorbing polymer –SAP) juga terbukti mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Produk hidrogel terbaru ini dikembangkan oleh seorang insinyur polimer dari Universitas Waseda, Jepang, Prof. Yuichi Mori. SAP jenis baru ini dinamakan ‘Sky Gel’, dan secara meluas telah digunakan untuk taman-taman atap, rehabilitasi hutan, kultur jaringan, hidroponik dan aeroponik.

“Sky Gel memiliki sifat menahan air yang sempurna, dan dalam eksperimen dengan tanaman radish dan mentimun menunjukkan gel ini secara terus menerus meningkatkan ujung tumbuh dan perakaran. Ketika Sky Gel diaplikasikan pada zona akar, zat ini mampu menahan kadar air dan secara lambat melepaskannya ke tanaman yang sedang tumbuh. Sky Gel berada di balik keberhasilan proyek stabilisasi kemiringan bukit-bukit di Gunung Fuji, dan mampu menghentikan lajunya gurun pasir. Mampu menahan erosi angin dan menstabilkan bukit-bukit pasir,” terang Prof. Mori.

SAP konvensional (jalinan silang sodium polyacrylate) memiliki kemampuan menyerap air dengan sempurna (hingga 200 ml air per gram SAP), dan sangat dipercaya dalam menjaga tumbuhan dalam penyerapan airnya. “Kunci Sky Gel ada pada sifat pertukaran ionnya – yaitu penyerapan ion kalsium, yang penting untuk tanaman tumbuh serta pelepasan ion natrium, yang berbahaya bagi tumbuhan,” tegas Prof. Mori. Bila SAP ditambahkan di atas konsentrasi kritis (di atas 0,1 volume persen) pada tanah, tumbuhan bisa kekurangan perkecambahan dan hambatan untuk tumbuh.

“Kami mensintesa Sky Gel dengan secara parsial menggantikan kelompok natrium acrylate SAP dengan kalsium acrylate dan kelompok asam acrylic. Kemampuan menyerap air dari kalsium pada Sky Gel secara signifikan sama tingginya dengan SAP konvensional,” jelas Prof. Mori.

Produksi Sky Gel di Jepang dilakukan dengan memanfaatkan produksi SAP konvensional. “Ongkos produksinya akan sangat mendekati SAP bila permintaan Sky Gel meningkat setinggi SAP, yang produksinya sekitar 100 juta ton per tahun,” ujar Prof. Mori. Saat ini, harga Sky Gel sekitar sepuluh kali SAP konvensional. (DS/berbagai sumber)***

BERCOCOK TANAM DILAHAN SEMPITIngin berkebun, tapi lahannya terbatas. Pernah mendengar sistem hidroponik. Selain tidak perlu berkotor-kotor dengan tanah, produksi tanaman pun bisa lebih tinggi. Di zaman yang serba modern ini bertanam tak lagi harus menggunakan tanah. Berbagai metode bercocok tanam bisa digunakan bagi yang ingin menekuninya. Salah satunya adalah bertanam secara hidroponik.Berasal dari bahasa Yunani, Hydroponic, dimana hydro berarti air dan ponous berarti kerja. Hidroponik (latin; hydro = air; ponos = kerja) adalah suatu metode bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah, melainkan dengan menggunakan larutan mineral bernutrisi atau bahan lainnya yang mengandung unsur hara seperti sabut kelapa, serat mineral, pasir, pecahan batu bata, serbuk kayu, dan lain-lain sebagai pengganti media tanah.Tanaman hidroponik bisa dilakukan secara kecil-kecilan di rumah sebagai suatu hobi ataupun secara besar-besaran dengan tujuan komersial.MEDIA TANAM HIDROPONIK
Secara general ada 2 macam type media tanam hidroponik yaitu media tanam padat maupun cair dan media tanam organik maupun anorganic. Media-media itu antara lain :
  • Kultur Air (menggunakan air )
  • Kultur Pasir (menggunakan pasir)
  • Kultur Kerikil (menggunakan kerikil, Batu apung, Batu karang, Batu bata ),
  • Vermikulaponik (menggunakan serbuk gergaji, tanah gambut dan arang sekam),
  • Rockwool Culture, (menggunakan rockwoll atau spon ),
  • Aeroponik ( menggunakan air bernutrisi yang dikabutkan dan disemprotkan langsung ke akar tanaman ).
Sedang tanaman yang bisa ditanam di media tanam hidroponik adalah golongan tanaman hortikultura, meliputi : tanaman sayur, tanaman buah, tanaman hias, pertamanan, dan tanaman obat-obatan. Pada hakekatnya berlaku untuk semua jenis tanaman baik tahunan, biennial, maupun annual.Tapi paling lazim adalah umumnya merupakan tanaman annual (semusim). Hampir semua tanaman sebenarnya bisa dibudidayakan dengan sistem hidroponik, mulai dari bunga, (misalnya : krisan, gerberra, anggrek, kaladium, kaktus ), sayur – sayuran ( selada, sawi, pakchoi, tomat, wortel, asparagus, brokoli, cabai, seledri, bawang merah, bawang putih, bawang daun, terong ), buah-buahan ( melon, tomat, mentimun, semangka, strawberi, paprika ) dan juga umbi-umbian.
“Yang penting media tersebut bersih, bisa menyimpan air sementara, porus, bebas dari unsur hara. Karena media tersebut harus dapat berfungsi sebagai tempat menyimpan air nutrisi sementara dan tempat berpijak akar, untuk kebutuhan unsur hara disuplai dari air nutrisi yang disiramkan.”KEUNTUNGAN MENANAM TANAMAN HIDROPONIK
  • Ramah lingkungan karena tidak menggunakan pestisida atau obat hama yang dapat merusak tanah, menggunakan air hanya 1/20 dari tanaman biasa, dan mengurangi CO2 karena tidak perlu menggunakan kendaraan atau mesin.
  • Tanaman ini tidak merusak tanah karena tidak menggunakan media tanah dan juga tidak membutuhkan tempat yang luas
  • Bisa memeriksa akar tanaman secara periodik untuk memastikan pertumbuhannya
  • Pemakaian air lebih efisien karena penyiraman air tidak perlu dilakukan setiap hari sebab media larutan mineral yang dipergunakan selalu tertampung di dalam wadah yang dipakai
  • Hasil tanaman bisa dimakan secara keseluruhan termasuk akar karena terbebas dari kotoran dan hama
  • Lebih hemat karena tidak perlu menyiramkan air setiap hari, tidak membutuhkan lahan yang banyak, media tanaman bisa dibuat secara bertingkat
  • Pertumbuhan tanaman lebih cepat dan kualitas hasil tanaman dapat terjaga
  • Bisa menghemat pemakaian pupuk tanaman
  • Tidak perlu banyak tenaga kerja
  • Lingkungan kerja lebih bersih
  • Tidak ada masalah hama dan penyakit tanaman yang disebabkan oleh bakteri, kulat dan cacing nematod yang banyak terdapat dalam tanah
  • Dapat tanam di mana saja bahkan di garasi dan tanah yang berbatu
  • Dapat ditanam kapan saja karena tidak mengenal musim

DASAR TEKNIK TANAMAN HIDROPONIK
Dalam upaya memproduksi tanaman atau makanan secara hidroponik, diperlukan beberapa peralatan dasar agar tanaman dapat tumbuh dengan baik seperti daerah perakaran harus memperoleh cukup udara, air dan unsur hara/nutrisi, sehingga dapat menghasilkan tanaman dan makanan yang berkualitas. Antara lain :

1. Tempat tumbuh tanaman, seperti bak atau kolam penampung, pot, dan bedengan. Diusahakan agar tempat tumbuh tanaman dijaga kebersihannya secara berkala dengan membersihkan dan menghilangkan tumbuhan atau tanaman lain yang tidak diinginkan (terutama dalam bedengan atau kolam penampung).

2. Aerator Alat ini dipakai untuk tercukupinya oksigen untuk pertukaran udara dalam daerah perakaran. Kekurangan oksigen akan mengganggu penyerapan air dan nutrisi oleh akar dan respirasi.

3. Larutan Nutrisi. Larutan nutrisi sebagai sumber pasokan air dan mineral nutrisi merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan kualitas hasil tanaman hidroponik, sehingga harus tepat dari segi jumlah, komposisi ion nutrisi dan suhu. Unsur hara ini dibagi dua, yaitu unsur makro (C, H, O, N, P, S, K, Ca, dan Mg) dan mikro ( B, Cl, Cu, Fe, Mn, Mo, dan Zn). Pada umumnya kualitas larutan nutrisi ini diketahui dengan mengukur electrical conductivity (EC) larutan tersebut. Semakin tinggi konsentrasi larutan semakin tinggi arus listrik yang dihantarkan (karena pekatnya kandungan garam dan akumulasi ion mempengaruhi kemampuan untuk menghantarkan listrik larutan nutrisi tersebut). Larutan nutrisi dapat dibuat sendiri dengan melarutkan pupuk yang diramu khusus untuk tanaman hidroponik atau membeli pupuk hidroponik secara komersial.

PROSPEK USAHA TANAMAN HIDROPONIK
Bob Sadino adalah orang yang dapat dianggap sebagai orang pertama yang memperkenalkan sistim bercocok tanam sayur hidroponik di Indonesia. Sayuran hidroponik mulai diperkenalkan oleh Bob Sadino di supermarket KemChick pada sekitar tahun 1990. Saat ini, sayur hydroponik dapat dibeli di beberapa supermarket terkenal. Harga sayur hidroponik dipasang dengan 4 hingga 5 kali lebih mahal daripada harga sayur biasa di pasar tradisional. Namun, karena sayuran hidroponik terbebas dari pemakaian pestisida, proses tanam hingga panen yang berhigenitas tinggi, lebih segar, dan packaging yang lebih baik, sehingga sayuran hidroponik yang dijual di beberapa supermarket selalu cepat terjual habis.

Dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan gerakan vegan/vegetarian dalam mengatasi permasalahan pemanasan global, tentunya permintaan sayuran dan buah-buahan yang berasal dari proses yang ramah lingkungan akan menjadi permintaan utama dalam daftar konsumsi mereka.Karena terbatasnya persediaan, dan makin tingginya permintaan sayuran jenis hidroponik ini sehingga peluang bisnis yang ramah lingkungan ini cukup baik untuk digeluti oleh para pengusaha dalam skala yang besar, termasuk peluang ekspor ke pasar negara tetangga yang permintaannya sangat tinggi, seperti Singapura dan Malaysia.

Dari beberapa referensi yang diperoleh, biaya investasi untuk penanaman hidroponik secara komersial dengan skala kecil untuk luas tanah sekitar 100 m2 sekitar Rp 150 juta untuk pembuatan bak tanaman, bak penampung air, pipa saluran air, media , cairan larutan, dan bibit tanaman. Pengembalian investasinya sekitar Rp 500 juta hingga Rp 750 juta per tahun. Suatu peluang usaha yang pantas untuk digeluti (Diolah dari berbagai sumber)

Link terkait :”

Sejarah Pertanian

Organic Consumer Association

Pertanian Modern

 


Urban Farming & Agrohome

April 12, 2011 pukul 12:23 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Urban Farming dan Agrohome

Secara geografis luas wilayah kota sangat terbatas sehingga konsep pertanian tradisional sangat sulit dilakukan di kawasan perkotaan. Sementara itu konversi lahan dari lahan pertanian menjadi lahan non pertanian hampir tidak bisa dibendung sejalan dengan perkembangan kebutuhan warga kota. Pertanian kota (urban farming) dapat dijadikan sebagai alternatif.

Tentu saja teknik budidaya yang dilakukan di perkotaan dilakukan secara intensif dengan teknologi yang memungkinkan produktivitas yang tinggi pada lahan yang sangat terbatas. Perkembangan teknik pertanian saat ini memungkinkan untuk dilakukan hal tersebut misalnya dengan teknik vertikultur, hidroponik atau teknik budidaya lannya yang bernuansan teknologi.

Manfaat yang diperoleh dari pertanian kota, selain memenuhi kebutuhan konsumsi pangan warga kota juga memberikan manfaat keindahan dan kebersihan lingkungan hidup di perkotaan yang banyak menggunakan bahan bakar fosil Penggabungan antara ilmu pertanian dan lansekap perkotaan akan memberikan nuansa lain terhadap pertanian yang selama ini terkesan kotor.

Menurut Wikipedia the free encyclopedia Pertanian Kota adalah praktek pertanian (meliputi kegiatan Tanaman Pangan, Peternakan, Perikanan, Kehutanan) di dalam atau di pinggiran kota yang dilakukan di lahan pekarangan, balkon, atau atap-atap bangunan, pinggiran jalan umum, atau tepi sungai dengan tujuan untuk menambah pendapatan atau menghasilkan bahan pangan.

Sedangkan menurut menurut UNDP, 1996 pertanian kota memiliki pengertian, satu kesatuan aktivitas produksi, proses, dan pemasaran makanan dan produk lain, di air dan di daratan yang dilakukan di dalam kota dan di pinggiran kota, menerapkan metode-metode produksi yang intensive, dan daur ulang (reused) sumber alam dan sisa sampah kota, untuk menghasilkan keaneka ragaman peternakan dan tanaman pangan.

Hampir sama dengan yang diungkapkan diatas pertanian kota Luc Mougeot, 1999 mendefinisikan pertanian kota sebagai suatu industri yang terletak di dalam kota (intra-urban) atau di pinggiran kota (peri-urban) dari suatu kota kecil atau kota besar, yang tumbuh dan berkembang, distribusi dan proses keaneka ragaman makanan dan produk bukan makanan (nonfood produk) yang sebagian besar menggunakan sumberdaya alam dan manusia (lahan, air, genetika, energi matahari dan udara), jasa dan produk-produk yang tersedia di dalam dan di sekitar wilayah kota, dan pada gilirannya sebagai penyedia sumberdaya material dan manusia, sebagian jasa dan produk untuk wilayah perkotaan itu sendiri.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pertanian kota (urban farming/agriculture) mengandung arti yaitu suatu aktivitas pertanian yang dapat berupa kegiatan bertani, beternak, perikanan, kehutanan, yang ber lokasi di dalam kota atau di pinggiran suatu kota, dengan melakukan proses Produksi (menghasilkan), pengolahan, dan menjual serta mendistribusikan berbagai macam hasil produk makanan dan non-makanan dengan menggunakan sumber daya serta bertujuan untuk menyediakan dan memenuhi konsumsi masyarakat yang tinggal di suatu kota.

Peran Pertanian Kota untuk keamanan dan keselamatan pangan terjadi melalui dua cara : Pertama, meningkatkan jumlah makanan yang tersedia bagi orang yang tinggal di kota, kedua, tersedianya buah-buahan dan sayur-mayur segar untuk konsumen-konsumen kota. Karena itu Pertanian Kota sebagai promosi penghematan energi produksi makanan lokal, Pertanian Kota dan pinggiran kota adalah praktek-praktek ketahanan pangan

Di beberapa kota besar dunia sudah melaksanakan konsep pertanian kota dan disambut baik oleh warga sebagai bagian dari konsep pembangunan perkotaan yang bersih lingkungan. Sementara di Indonesia yang tekah mencanagnkan pertanian kota diantaranya adalah Kota Surabaya.
Semoga pertanian kota dijadikan sebagai bagian dari kebutuhan warga kota selain kebutuhan perumahan dan gedung-gedung supermarket dan mall.

Manfaat Urban farming :

  • Urban Farming memberikan kontribusi penyelamatan lingkungan dengan pengelolaan sampah Reuse dan Recycle
  • Membantu menciptakan kota yang bersih dengan pelaksaan 3 R (reuse, reduse, recycle) untuk pengelolaan sampah kota.
  • Dapat menghasilkan O2 dan meningkatkan kualitas lingkungan kota
  • Meningkatkan Estetika Kota
  • Mengurangi biaya dengan penghematan biaya transportasi dan pengemasan
  • Bahan pangan lebih segar pada saat sampai ke konsumen yang merupakan orang kota
  • Menjadi penghasilan tambahan penduduk kota.

Model-model urban Farming

  • memanfaatkan lahan tidur dan lahan kritis,
  • Memanfaatkan Ruang Terbuka Hijau (Privat dan Publik)
  • mengoptimalkan kebun sekitar rumah,
  • menggunakan ruang (verticultur).

 

Halaman Berikutnya »

Buat website atau blog gratis di WordPress,com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: