Laporan Utama

Juli 17, 2011 pukul 12:27 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Sertani-1, Varietas Padi Temuan Petani Lampung Produktifitas 16 Ton/Ha

Suroso Danu, seorang petani asal Lampung dengan kreativitasnya mengaku telah menemukan varietas baru yang diberi nama Sertani-1. Varietas ini diakuinya memiliki potensi hasil sampai dengan 16 ton/ha. Rata-rata bulir per-malainya 300-400 buah, bahkan ada yang mencapai 700 buah.

Badan Litbang Pertanian sebagai lembaga penelitian dan pengembangan pertanian, sudah sepantasnya memberikan apresiasi terhadap hasil penemuan tersebut bila terbukti murni ditemukan oleh Surono Danu. Tentunya setelah dilakukan uji multi-lokasi terlebih dahulu dan dipastikan silsilah (asal-usul) galur lokalnya dari mana.

Saat dikonfirmasi tabloid Sinar Tani, Prof. Dr. Suyamto Hardjosuwirjo menjelaskan  bahwa sedikitnya diperlukan tiga hal yang harus dilakukan oleh Surono Danu agar hasil temuannya ini lebih bisa diyakini masyarakat. Selain dua tahapan yang telah disebutkan diatas, yaitu kepastian silsilah dan uji multi-lokasi, tahap ketiga yang tidak kalah penting adalah berdasarkan UU No. 12/1992 tentang sistem Budidaya Tanaman menetapkan yang berhak melepas varietas haruslah pemerintah, dalam hal ini Menteri Pertanian melalui Badan Benih Nasional. Lembaga ini memiliki Tim Penilai dan Pelepasan Varietas yang diketuai oleh adalah Suyamto.

Disebutkan dalam UU tersebut bahwa semua varietas yang akan dilepas untuk diedarkan atau disebarluaskan bahkan diperdagangkan harus melalui izin dan dilepas oleh dulu pemerintah. Pihak perorangan, organisasi/swasta atau perusahaan tidak bisa melepas sendiri varietas temuannya. Namun dalam penamaan varietas, pemerintah menyerahkan kepada masing-masing penemu.

Lebih lanjut Suyamto menyatakan uji multi-lokasi harus dilakukan oleh penemunya sendiri. Tetapi Badan Litbang Pertanian melalui Balai Besar Penelitian Padi (BB Padi) terbuka untuk mengadakan kerjasama. Tentang umur Sertani-1 yang mencapai 95-105 hari, Suyamto menyatakan sudah genjah (berumur pendek, red.). ”Bahkan berdasarkan catatan, umur berkorelasi dengan hasil panen. Kalau umurnya diperpendek tidak mungkin hasilnya tetap tinggi” ujarnya.

Badan Litbang Pertanian juga telah mempunyai galur dari India yang umurnya 75 hari, tetapi hasil produksinya 3-3,5 ton/ha dan belum mencapai 5-6 ton/ha

Sumber: http://www.litbang.deptan.go.id/

Melon Unggul Produktifitas Tinggi Hasil Berlipat

1. Melon hijau
Melon hijau yang biasa disebut melon local. Melon hijau memiliki ciri-ciri fisik, memiliki kulit luar yang keras, kasar, dan berurat seperti jala. Buah dagingnya berwarna hijau pucat dan aromanya harum.

2. Melon jingga ( Cantaloupe)
Melon jingga memiliki cirri-ciri fisik hampir sama dengan melon hijau yaitu memiliki kulit yang keras, tebal dan berurat seperti jala .
Bedanya dengan melon hijau hanya pada warna kulitnya. Melon jingga memiliki warna kulit yang lebih hijau dibandung dengan melon lokal dan warna daging buahnya berwarna jingga. Selain itu melon jingga mengandung betakaroten yang lebih banayak dibandingkan dengan jenis melon yang lain.

3. Melon Mas ( Golden Melon )
Melon jenis ini mempunyai cirri-ciri yang sangat berbeda dengan kedua melon yang telah disebutkan di atas. Jenis melon mas ini mempunyai cirri-ciri kulitnya berwarna kuning muda dan bertekstur halus dan juga mengkilat. Daging buahnya berwarna putih dengan rasa yang manis tetapi tidak beraroma harum.

4. Melon Madu (Honeydew Melon)
Dari semua jenis melon, melon madulah yang memiliki rasa yang paling manis. Melon ini memiliki cirri fisik yaitu kulit luar berwarna hijau keputihan dengan tekstur halus dan mengkilat. Melon Madu juga memeliki daging buah berwarna hijau pucat seperti melon hijau.

Cara memilih buah melon yang baik:
1. Pilih melon yang sudah matang, bentuknya bundar, kulitnya bebas dari memar dan retak, beraroma harum dan segar. Jangan memilih melon yang masih ada tangkai buahnya, karena tangkai melon akan terlepas dengan sendirinya jika buah sudah matang. Jika bekas ujung tangkai melon kelihatan dipotong paksa, berarti buah tersebut dipanen sebelum matang.
2. Untuk memperoleh manfaat maksimal antioksidan, pilih melon yang benar-benar matang, karena buah yang matang sempurna mengalami peningkatan kadar antioksidannya.
3. Melon tidak akan menjadi lebih manis setelah dipetik dan disimpan, meskipun teksturnya lembut. Justru kandungan gulanya berkurang.
4. Melon utuh bisa disimpan selama 2-4 hari di udara terbuka, dan 5-10 hari jika disimpan didalam kulkas. Tetapi, jika sudah dipotong disimpan selama 2-3 hari didalam wadah tertutup di kulkas, dan bisa lebih tahan lama jika dibekukan.
5. Melon yang sudah dibelah 2 dan disimpan dikulkas sebaiknya jangan dibuang bijinya karena dapat mengeringkan daging buah melon dikulkas.
6. Cuci melon dengan air hangat dan bersabun sebelum dipotong untuk menghilangkan kotoran yang menempel dipermukaan kulit yang bisa terbawa pisau saat memotong melon.
7. Jika suka, melon dapat ditambah dengan perasan air jeruk nipis/lemon untuk meningkatkan rasa dan aroma buah.
Itulah beberapa jenis dan tips cara memilih buah melon ynag baik. Semoga bermanfaat.

GOLDEN LANGKAWI

MELON APOLLO

MELON CARRIBEAN

MELON SAKATA GLAMOUR

MELON KINANTI

Tanaman Pangan

Mei 12, 2011 pukul 12:23 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Prinsip Budidaya Padi SRI

Seperti pada postingan terdahulu, SRI atau System of Rice Intensification tertumpu pada 4 hal pokok yaitu :
  1. Menanam bibit muda (5 – 15 hari setelah semai)
  2. Menanam 1 bibit pertitik tanam
  3. Mengatur jarak tanam lebih lebar (30 x 30 cm sampai 50 x 50 cm ; di Indonesia, jarak tanam ideal untuk SRI adalah 35 x 35 cm atau 35 x 35 cm)
  4. Manajemen pengairan yang super hemat dengan cara intermitten (terputus ; berselang seling antara pemberian air maksimal 2 cm dan pengeringan tanah sampai retak).

Selain keempat hal tersebut, sangat dianjurkan untuk menggunakan pupuk organik. Pupuk organik selain menyediakan unsur hara yang lengkap (makro dan mikro) juga memperbaiki struktur tanah sehingga meningkatkan ketersediaan hara bagi tanaman, udara yang cukup bagi perakaran, dan meningkatkan daya ikat air tanah.

Di bawah ini adalah prinsip budidaya yang telah diterapkan oleh Proyek Disimp selama lebih dari 5 tahun di berbagai lokasi pengembangan daerah irigasi.

1. Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah dilakukan sesuai anjuran pada sistem konvensional. Sangat dianjurkan untuk memberikan pupuk kandang / kompos / pupuk hijau saat pembajakan tanah. Di sekeliling petakan dibuat parit sedalam 30 – 50cm untuk membantu saat periode pengeringan.

2. Pembibitan
Pembibitan dalam SRI sangat dianjurkan dilakukan dalam kontainer platik, kayu, anyaman bambu yang dilapisi daun pisang, atau apa saja yang dapat digunakan. Hal ini untuk mempermudah saat pindah tanam. Media tanah untuk pembibitan sebaiknya mengandung kompos atau pupuk organik yang baik dengan ketebalan 4-5 cm.
Benih diberi perlakuaan khusus agar didapatkan benih yang paling baik. Lihat “Perlakuan Benih Padi”

3. Pindah Tanam
Sebelum pindah tanam sebaiknya lahan telah betul-betul rata dan kemudia dibuat garis tanam dengan menggunakan caplak agar pertanaman teratur dengan jarak tanam seragam. Jarak tanam yang dianjurkan adalah 30 x 30 cm, 35 x 35 cm, atau pada tanah yang subur dapat diperjarang sampai 50 x 50 cm.
Bibit dapat dipindahtanamkan pada umur 5 – 15 hari setelah semai (berdaun 2) dengan jumlah 1 bibit perlubang. Pembenaman bibit sekitar 1 – 1,5 cm dengan posisi akar membentuk huruf L. Caranya adalah dengan membenamkan bibit pada jarak sekitar 10 cm di belakang titik tanam, kemudian digeser menuju titik tanam, sehingga posisi akar seperti huruf L.

4. Pemupukan.
Pemupukan dilakukan sesuai anjuran setempat, baik dosis maupun teknis pemberian. Hal ini disebabkan karakteristik kesuburan tanah yang berbeda-beda di setiap lokasi. Apabila menggunakan pupuk kandang, dosis pupuk kimia dapat dikurangi (mengenai hal ini sebaiknya berkonsultasi dengan pihak Cabang Dinas Pertanian setempat).

5. Penyiangan / Pengendalian Gulma.
Pengendalian gulma sebaiknya dilakukan sebanyak sekurangnya 3 kali selama masa tanam sesuai dengan kondisi di lapangan. Pengendalian gulma yang baik sebaiknya menggunakan alat weeder (lalandak) yang lebarnya disesuaikan dengan jarak tanam. Gulma yang tercabut dapat dibenamkan atau disisihkan (dalam hal ini bila dominansi jenis gulma yang berumbi seperti teki).

6. Pengairan
Pengairan atau pemberian air dilakukan secara intermitten atau terputus-putus. Pada awal penanaman, pemberian air dilakukan sampai kondisi minimal macak-macak atau maksimal sekitar 2 cm. Kemudian dibiarkan mengering sampai kondisi tanah mulai terbelah-belah dan mulai lagi dengan pemberian air maksimal, begitu seterusnya. Kondisi tanah yang kering terbelah memberikan kesempatan oksigen lebih banyak masuk dalam pori-pori tanah sehingga akan memperbaiki proses respirasi (pernapasan) perakaran. Kondisi ini tentu akan meningkatkan pertumbuhan perakaran dan perkembangan anakan.
Seperti juga pada sistem konvensional, pemberian air dihentikan saat periode pemasakan bulir padi.

7. Pengendalian Hama dan Penyakit.
Seperti juga pada sistem budidaya konvensional, pengendalian hama dan penyakit sangat dianjurkan menggunakan metoda PHT (Pengendalian Hama Terpadu). Penggunaan perangkap dapat digunakan untuk mengendalikan belalang, walangsangit, dan keong / siput. Pengendalian hama wereng dapat dilakukan dengan penaburan abu gosok di lahan.

8. Panen
Panen dilakukan setelah tanaman menua dengan ditandai dengan menguningnya semua bulir secara merata. Bila bulir digigit tidak sampai mengeluarkan air. Dari pengalaman di lapangan, dengan pemasakan bulir pada SRI lebih cepat terjadi sehingga umur panen lebih cepat dan bulir padi lebih banyak dan lebih padat.

Demonstrasi area yang dilakukan selama ini membuktikan bahwa SRI mampu memberikan kelebihan hasil panen seperti :

  • Tinggi tanaman lebih tinggi mulai umur tanaman 60 hari
  • Jumlah anakan 2 kali lebih banyak sejak umur 40 hari
  • Jumlah anakan produktif meningkat 2 kali
  • Jumlah bulir permalai lebih banyak
  • Jumlah bulir bernas lebih banyak
  • Berat bulir per 100 butir gabah lebih tinggi
  • Kadar air saat panen lebih rendah
Denga sejumlah peningkatan tersebut di atas, sudah pasti SRI memberikan nilai produktivitas yang jauh lebih tinggi dibanding dengan metode konvensional.Sumber : Nippon Koei – DISIMP – Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Departemen Pekerjaan Umum, Oktober 2006

Sabtu, 19 Desember 2009

Mengenal SRI (System of Rice Intensification)

SRI adalah salah satu jawaban dari krisis pangan yang dihadapi Indonesia. Akan tetapi berbeda dengan metode penanaman padi yan lain, SRI Indonesia dipelopori oleh seorang engineer. Ternyata SRI lebih bisa dimengerti oleh mereka yang memahami engineering walaupun tidak menutup kemungkinan adanya pendekatan lain yang dapat menjelaskan fenomena SRI.

Apa Itu SRI ?

SRI merupakan singkatan dari System of Rice Intensification, suatu sistem pertanian yang berdasarkan pada prinsip Process Intensification (PI) dan Production on Demand (POD). SRI mengandalkan optimasi untuk mencapai delapan tujuan PI, yaitu cheaper process (proses lebih murah), smaller equipment (bahan lebih sedikit), safer process (proses yang lebih aman), less energy consumption (konsumsi energi/tenaga yang lebih sedikit), shorter time to market (waktu antara produksi dan pemasaran yang lebih singkat), less waste or byproduct (sisa produksi yang lebih sedikit), more productivity (produktifitas lebih besar), and better image (memberi kesan lebih baik) ((Ramshaw, 2001).

SRI ditemukan oleh Pendeta Madagaskar Henri de Laulanie sekitar tahun 1983 di Madagaskar. SRI lahir karena adanya kepedulian dari Laulanie terhadap kondisi petani di Madagaskar yang produktivitas pertaniannya tidak bisa berkembang. Berangkat dari keterbatasan sarana yang Laulanie bisa perbantukan pada petani (yang terdiri atas keterbatasan lahan, biaya dan waktu), ia kemudian bisa membantu melipatgandakan produktivitas pertanian sampai suatu nilai yang mencengangkan. Sampai tulisan ini dibuat, terdapat banyak penelitian yang mencoba mengungkap ‘misteri’ dibalik keberhasilan Laulanie.

Metode SRI

Keterbatasan Laulanie dalam membantu petani kemudian menjadi metode pokok SRI. Metode ini terdiri atas 3 poin utama, yaitu:

Pertama. Penanganan bibit padi secara seksama. Hal ini terdiri atas, pemilihan bibit unggul, penanaman bibit dalam usia muda (kurang dari 10 hari setelah penyemaian), penanaman satu bibit per titik tanam, penanaman dangkal (akar tidak dibenamkan dan ditanam horizontal), dan dalam jarak tanam yang cukup lebar.

Bagi yang telah terbiasa menanam padi secara konvensional, pola penanganan bibit ini akan dirasakan sangat berbeda. Hal ini karena metode konvensional memakai bibit yang tua (lebih dari 15 hari sesudah penyemaian), ditanam sekitar 5-10 bahkan lebih bibit per titik tanam, ditanam dengan cara dibenamkan akarnya, dan jarak tanamnya rapat.

Perbedaan metode penanganan bibit padi metode SRI terhadap metode konvensional dapat dijelaskan oleh penjelasan sebagai berikut,

  1. Mengapa ditanam muda? Hal ini dijelaskan oleh Katayama, yaitu melalui teori Pyllochrone. Katayama mengungkapkan bahwa penanaman bibit pada usia 15 hari sesudah penyemaian akan membuat potensi anakan menjadi tinggal 1/3 dari jumlah potensi anakan. Hal ini berarti, SRI menambah potensi anakannya sekitar 64%.
  2. Mengapa ditanam satu bibit per titik tanam? Hal ini karena tanaman padi membutuhkan tempat tumbuh yang cukup agar dia dapat mencapai pertumbuhan optimal. Analoginya adalah satu kamar kost untuk satu mahasiswa. Penambahan jumlah mahasiswa yang tinggal dalam kamar kost akan menyebabkan adanya persaingan dalam memanfaatkan fasilitas di dalam kamar kost tersebut. Begitu juga dengan padi, ketika ditanam secara banyak, maka akan terjadi persaingan untuk mendapatkan nutrisi, cahaya matahari, udara, dan bahan lainnya dalam suatu titik atau area tanam.
  3. Mengapa ditanam dangkal ? Hal ini bertujuan untuk memacu proses pertumbuhan dan asimilasi nutrisi akar muda. Jika ditanam terbenam, maka akan timbul kekurangan oksigen yang menimbulkan peracunan akar (asphyxia), dan gangguan siklus nitrogen yang dapat menyebabkan pelepasan energi, produksi asam yang tinggi serta tidak adanya rebalance H+ sehingga terjadi destruksi sel akar dan pertumbuhan struktur akar menjadi tidak lengkap. Semua akibat dari penanaman dengan cara dibenamkan akar memangkas potensi akar sampai menjadi ¼ nya saja.
  4. Mengapa ditanam dalam jarak yang cukup lebar? Hal ini untuk menjamin selama proses tumbuhnya padi menjadi padi siap panen, seluruh nutrisi, udara, cahaya matahari, dan bahan lainnya tersedia dalam jumlah cukup untuk suatu rumpun padi.

Kedua. Metode pokok SRI yang kedua adalah penyiapan lahan tanam. Penyiapan lahan tanam untuk metode SRI berbeda dari metode konvensional terutama dalam hal penggunaan air dan pupuk sintetis (untuk kemudian disebut pupuk). SRI hanya menggunakan air sampai keadaan tanahnya sedikit terlihat basah oleh air (macak-macak) dan tidak adanya penggunaan pupuk karena SRI menggunakan kompos. Sangat berbeda dengan metode konvensional yang menggunakan air sampai pada tahap tanahnya menjadi tergenang oleh air serta pemupukan minimal dua kali dalam satu periode tanam.

Mengapa demikian ? Tanah yang tergenang air akan menyebabkan kerusakan pada struktur padi sebab padi bukanlah tanaman air. Padi membutuhkan air tetapi tidak terlalu banyak. Hal lain yang ditimbulkan oleh proses penggenangan adalah timbulnya hama. Secara alamiah, seperti padi liar yang tumbuh di hutan-hutan, hama dari padi memiliki musuh alami. Untuk padi liar, yang hidup di tanah kering, musuh alami hama padi dapat hidup dan menjaga kestabilan dengan memakan hama tersebut. Ketika padi hidup di tanah yang tergenang, maka musuh alami hama padi tidak dapat hidup sedangkan hama padi dapat hidup. Bahkan, hal ini memacu adanya hama padi baru yang berasal dari lingkungan akuatik.

Pemupukan dua kali, pada awal periode tanam dan saat ditengah-tengah periode tanam memiliki dampak yang kurang signifikan dalam menjaga ketersediaan nutrisi untuk padi. Pemupukan menggunakan pupuk sintetis memang memiliki kecepatan transfer nutrisi yang cepat, tetapi hal ini tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh padi yang berusia muda karena padi tersebut hanya membutuhkan nutrisi yang relatif sedikit. Lalu sisa dari nutrisi tersebut tidak termanfaatkan bahkan dapat terbawa oleh aliran air (karena lahan tanam tergenang). Analogi dari hal tersebut adalah bayi yang diberi makanan dengan jatah 25 tahun (jika umur hidupnya 50 tahun). Tentu saja makanannya tidak termanfaatkan.

Ketiga. Prinsip ketiga dalam metode SRI adalah keterlibatan mikroorganisme lokal (MOL) dan kompos sebagai ’tim sukses’ dalam pencapaian produktivitas yang berlipat ganda. Dalam hal ini peran kompos sering disalahartikan sebagai pengganti dari pupuk. Hal ini salah, karena peran kompos lebih kompleks daripada peran pupuk. Peran kompos, selain sebagai penyuplai nutrisi juga berperan sebagai komponen bioreaktor yang bertugas menjaga proses tumbuh padi secara optimal. Konsep bioreaktor adalah kunci sukses dari SRI. Bioreaktor yang dibangun oleh kompos, mikrooganisme lokal, struktur padi, dan tanah menjamin bahwa padi selama proses pertumbuhan dari bibit sampai padi dewasa tidak mengalami hambatan. Fungsi dari bioreaktor sangatlah kompleks, fungsi yang telah teridentifikasi antara lain adalah penyuplai nutrisi sesuai POD melalui mekanisme eksudat, kontrol mikroba sesuai kebutuhan padi, menjaga stabilitas kondisi tanah menuju kondisi yang ideal bagi pertumbuhan padi, bahkan kontrol terhadap penyakit yang dapat menyerang padi.

Engineering Approach (Pendekatan Rakayasa Teknik)

Lalu bagaimana dengan pendekatan engineering dalam SRI ? Perlu diketahui bahwa SRI menjadi kontroversi karena konsep dalam bidang pertanian tidak dapat menjelaskan mengapa SRI dapat memberikan hasil yang berlipat ganda. Dr. Mubiar Purwasasmita, mengatakan bahwa pendekatan yang harus dilakukan adalah melalui konsep PI dan POD yang sangat dikenal dalam dunia engineering.

Apa itu PI ?

Konsep PI yang menjadi acuan dalam perkembangan industri dunia, merujuk pada proses dalam skala yang semakin kecil. Menurut PI, proses yang dapat dilangsungkan dalam skala yang semakin kecil akan berlangsung lebih efektif dan efisien. Hal ini dapat dipahami karena mass and heat transfer akan berlangsung lebih baik pada skala yang lebih kecil. Hal ini adalah konsep yang telah diterima secara luas dalam dunia engineering.

Dalam kaitan dengan SRI, konsep ini diwakili oleh bioreaktor. Bioreaktor SRI adalah perwujudan dari proses-proses yang berlangsung dalam skala yang lebih kecil daripada skala yang digunakan pada pertanian konvensional. Ketika berbicara tentang penanaman padi, seharusnya yang dibahas adalah bagaimana interaksi padi dengan lingkungan sekitarnya terutama mikroba yang menjadi unsur pendukungnya. Jadi, penanaman padi tidak hanya ditinjau dari skala manusia tapi juga dari skala mikroba. Proses yang berlangsung dalam skala kecil pada bioreaktor akan menjamin efektivitas dan efisiensi penggunaan bahan akan lebih maksimal.

Konsep PI kedua adalah using less to produce more yang diwakili oleh metode penanganan bibit dan penanaman padi yang memanfaatkan sumberdaya seminim mungkin. Hal ini tidak dapat berdiri sendiri, karena disisi lain untuk meningkatkan produktivitas maka harus ada elemen produksi yang meningkat. Peningkatan kualitas lahan, bibit serta proses bioreaktor menjadi insurance agar hal ini tercapai.

Apa itu POD?

Konsep POD adalah bagaimana produksi harus sesuai dengan permintaan. Dalam SRI, produksi yang dimaksud adalah nutrisi, cahaya matahari, udara, dan bahan lainnya. Produksi kebutuhan padi akan sesuai dengan kebutuhan padi saat itu, tidak berlebihan dan juga tidak kurang. Bagaimana cara bioreaktor mengetahui kebutuhan padi? Caranya adalah dengan eksudat yang merupakan bentuk komunikasi padi dengan bioreaktor. Eksudat ini berlangsung setiap saat yang menjamin bahwa produksi akan sesuai dengan kebutuhan padi. Dengan cara ini, bioreaktor akan menyediakan nutrisi dan sebagainya sesuai kondisi padi. Semua hal tersebut adalah kunci sukses dari SRI.

Sumber dari penulisan ini adalah diskusi secara langsung dengan Dr. Mubiar Purwasasmita, ahli SRI Indonesia

Tanaman Hortikultura

April 12, 2011 pukul 12:28 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Syarat Tumbuh
Tanaman durian dapat tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 1.000 m di atas permukaan laut. Namun, produksi terbaiknya dicapai jika penanaman dilakukan pada ketinggian 400-600 m di atas permukaan laut. Tanaman ini menyukai daerah yang beriklim basah atau tempat-tempat yang banyak turun hujan. Jenis tanah yang baik untuk pertumbuhannya yaitu tanah yang lembap, subur, gembur, tak bercadas, dan kedalaman air tanahnya tidak lebih dari 1 m.
Pedoman Budidaya

Di Indonesia, sebagian besar durian masih ditumbuhkan dari benih, walaupun beberapa cara perbanyakan klon telah dipraktekkan pula. Di Filipina, perbanyakan dengan benih telah diganti dengan penyambungan sanding (inarching) dan penyambungan celah (cleft grafting). Di Thailand, pembibitan-pembibitan menghasilkan sejumlah besar 1′pohon durian melalui dua cara. Penyusuan secara tradisional mungkin merupakan penyambungan sanding yang cukup sederhana dan sangat tinggi persentase keberhasilannya; caranya ‘ialah batang bawah yang dipelihara dalam kantung dibuntungi dan disisipkan ke cabang kecil pada tanaman induknya. Cara lainnya ialah penyambungan hipokotil, menggunakan semai dalam pot, berumur 5-6 minggu, yang disambung-celah dengan batang atas-mini yang dipotong dari pucuk lateral yang tipis saja. Perlakuan fungisida, terowongan plastik, dan naungan berat sangat diperlukan untuk melindungi jaringan yang masih rapuh. Lima orang pekerja yang berpengalaman dapat mengerjakan 300 sambungan, dikerjakan dari pukul 8 malam sampai tengah malam ; menghindari panasnya siang hari konon merupakan faktor penting alam mencapai tingkat keberhasilan di atas 90176. Benih durian kv. ‘Chanee’ biasa digunakan di Thailand untuk meningkatkan penyediaan batang bawah. Anakan durian dapat ditanam di lapangan seteiah berumur 1 tahun, dengan jarak tanam 8-16 m. Pada tahun pertama diperlukan naungan. Pada jarak tanam yang lebih rapat, mungkin kebun durian itu perlu penjarangan setelah 8-1
Pemeliharaan
Gulma dibabat dan dibiarkan sebagai mulsa, tetapi lahan di bawah kanopi pohon diusahakan bebas dari gulma. Penyedotan hara sampai saat panen berjumlah 2,4 kg N, 0,4 kg P, 4,2 kg K, 0,3 kg Ca, dan 0,5 kg Mg per ton buah, tetapi penyedotan hara total belum pernah diteliti. Praktek di Thailand ialah memberikan pupuk majemuk dekat dengan garis-tetes segera setelah muncul kuncup bunga, ditunjang dengan pemberian pupuk di atas tanah jika telah ada pembentukan buah yang lebat; pemberian pupuk lainnya dilakukan setelah panen. Jika tersedia pupuk kandang, dapat menggantikan pemberian pupuk yang terakhir.
Hama dan Penyakit
Penyakit busuk akar, penyakit busuk pangkal batang, atau kanker-bintik (patch canker), yang disebabkan oleh Phytophthora palmivora, merupakan pembunuh yang ditakuti. Jamur ini hidup di dalam tanah dan memperlemah pohon dengan cara menginfeksi akar. Infeksi bagian di atas permukaan tanah juga terjadi, barangkali terutama disebabkan oleh cipratan partikel-partikel tanah. Pohon durian akan mati jika infeksi pada pangkal batang lama-lama melukai keliling batang pohon itu. Untuk memberantas penyakit ini, pangkal batang diusahakan bebas dari tunas-tunas lateral setinggi 1 m atau lebih, lahan sekitar pohon agar bebas dari gulma, dan pengairan hendaknya tidak membasahi pangkal batang atau tanah yang dekat situ, juga air penyiraman dari satu pohon tidak membasahi pohon lain. Semacam pasta fungisida (sistemik) dicatkan pada pangkal batang durian, dan pohonnya hendaknya seringkali diperiksa, bagian yang terinfeksi agar dipotong dan bekas lukanya dibersihkan. Penyakit-penyakit lain, seperti bintik daun yang disebabkan oleh Colletotrichum spp., Homortegia durionir dan Phyllorticta durionir, dan busuk buah (Rhizopus sp.), tidak begitu berarti. Berbagai hama telah diamati menyerang durian, tetapi kerusakannya tampaknya hanya kadang-kadang. Suatu ulat pengebor buah, Hypoperigea (Plagideicta) lepro.rtricta, memakan biji durian, dan tampaknya lebih sering terjadi. Mamalia, seperti tikus, babi hutan, dan beruang, senang sekali memakan buah durian, dan buahbuah yang berjatuhan harus dikumpulkan setiap pagi agar mengurangi kerugian.
Panen dan Pasca Panen
Panen Pohon durian tumbuh sangat tinggi, dan karena sulit menerka matangnya buah, praktek yang umum dilakukan ialah menunggu sampai buah itu berjatuhan. Pemanenan secara selektif itu perlu, dan pemetik yang berpengalaman menggunakan berbagai kriteria untuk menaksir kematangan buah durian. Diawali dari jumlah hari yang telah dilewati sejak bunga mekar, mereka juga mungkin memperhatikan warna, elastisitas dan letaknya duri, intensitas bau yang keluar dari buah, suara yang terdengar jika jari-jari dijentikkan pada alur-alur di antara duri, perubahan pada tangkai buah, dan uji-apung di air. Penanganan pasca panen Berkat kulitnya yang kuat, pengangkutan buah durian dipermudah, tetapi adanya duri-duri itu menyulitkan penanganannya; buah ini perlu dipegang tangkainya. Buah yang telah pecah sewaktu jatuh ke tanah, cepat sekali rusak, arilusnya menjadi tengik dalam waktu 36 jam saja. Buah yang masih bertangkai, yang dipungut dari bawah pohonnya masih dapat dimakan setelah 2-3 hari, tetapi jika daya tahan buah yang telah dipungut itu dapat diperpanjang sekitar 1 minggu lagi, hal ini akan merupakan keuntungan yang besar. Buah durian harus segera diangkut ke pasar, diwadahi karung, keranjang bambu atau ditumpuk saja dalam bak truk. Ruang pendingin bersuhu 15° C dapat memperpanjang daya tahan, buah durian selama 3 minggu, dan daging buah yang dibekukan secara cepat akan dapat mempertahankan rasanya selama 3 bulan atau lebih.

BUDIDAYA STRAWBERRY

strawberry

SEJARAH SINGKAT
Stroberi ( Fragaria chiloensis L. / F. vesca L.)
Stroberi merupakan tanaman buah berupa herba yang ditemukan pertama kali di Chili, Amerika. Salah satu spesies tanaman stroberi yaitu Fragaria chiloensis L menyebar ke berbagai negara Amerika, Eropa dan Asia. Selanjutnya spesies lain, yaitu F. vesca L. lebih menyebar luas dibandingkan spesies lainnya. Jenis stroberi ini pula yang pertama kali masuk ke Indonesia.

JENIS TANAMAN
Klasifikasi botani tanaman stroberi adalah sebagai berikut :
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Keluarga : Rosaceae
Genus : Fragaria
Spesies : Fragaria spp.
Stroberi yang kita temukan di pasar swalayan adalah hibrida yang dihasilkan dari persilangan F. virgiana L. var Duchesne asal Amerika Utara dengan F. chiloensis L. var Duchesne asal Chili. Persilangan itu menghasilkan hibrid yang merupakan stroberi modern (komersil) Fragaria x annanassa var Duchesne.
Varitas stroberi introduksi yang dapat ditanam di Indonesia adalah Osogrande, Pajero, Selva, Ostara, Tenira, Robunda, Bogota, Elvira, Grella dan Red Gantlet. Di Cianjur ditanam varitas Hokowaze asal Jepang yang cepat berbuah. Petani Lembang (Bandung) yang sejak lama menanam stroberi, menggunakan varitas lokal Benggala dan Nenas yang cocok untuk membuat makanan olahan dari stroberi seperti jam.

MANFAAT TANAMAN
Buah stroberi dimanfaatkan sebagai makanan dalam keadaan segar atau olahannya. Produk makanan yang terbuat dari stroberi telah banyak dikenal misalnya sirup, jam, ataupun stup (compote) stroberi.

SENTRA PENANAMAN
Dapat dikatakan bahwa budidaya stroberi belum banyak dikenal dan diminati. Karena memerlukan temperatur rendah, budidaya di Indonesia harus dilakukan di dataran tinggi. Lembang dan Cianjur (Jawa Barat) adalah daerah sentra pertanian di mana petani sudah mulai banyak membudidayakan stroberi. Dapat dikatakan bahwa untuk saat ini, kedua wilayah tersebut adalah sentra penanaman stroberi.

SYARAT PERTUMBUHAN
5.1. Iklim
1) Tanaman stroberi dapat tumbuh dengan baik di daerah dengan curah hujan 600-700 mm/tahun.
2) Lamanya penyinaran cahaya matahari yang dibutuhkan dalam pertumbuhan adalah 8–10 jam setiap harinya.
3) Stroberi adalah tanaman subtropis yang dapat beradaptasi dengan baik di dataran tinggi tropis yang memiliki temperatur 17–20 derajat C.
4) Kelembaban udara yang baik untuk pertumbuhan tanaman stroberi antara 80-90%.
5.2. Media Tanam
1) Jika ditanam di kebun, tanah yang dibutuhkan adalah tanah liat berpasir, subur, gembur, mengandung banyak bahan organik, tata air dan udara baik.
2) Derajat keasaman tanah (pH tanah) yang ideal untuk budidaya stroberi di kebun adalah 5.4-7.0, sedangkan untuk budidaya di pot adalah 6.5–7,0.
3) Jika ditanam dikebun maka kedalaman air tanah yang disyaratkan adalah 50-100 cm dari permukaan tanah. Jika ditanam di dalam pot, media harus memiliki sifat poros, mudah merembeskan airdan unsur hara selalu tersedia.
5.3. Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat yang memenuhi syarat iklim tersebut adalah 1.000-1.500 meter dpl.

PEDOMAN BUDIDAYA
6.1. Pembibitan
Stroberi diperbanyak dengan biji dan bibit vegetatif (anakan dan stolon atau akar sulur). Adapun kebutuhan bibit per hektar antara 40.000-83.350.
1) Perbanyakan dengan biji
1. Benih dibeli dari toko pertanian, rendam benih di dalam air selama 15 menit lalu keringanginkan.
2. Kotak persemaian berupa kotak kayu atau plastik, diisi dengan media berupa campuran tanah, pasir dan pupuk kandang (kompos) halus yang bersih (1:1:1). Benih disemaikan merata di atas media dan tutup dengan tanah tipis. Kotak semai ditutup dengan plastik atau kaca bening dan disimpan pada temperatur
18-20 derajat C.
3. Persemaian disiram setiap hari, setelah bibit berdaun dua helai siap dipindahtanam ke bedeng sapih dengan jarak antar bibit 2-3 cm. Media tanam bedeng sapih sama dengan media persemaian. Bedengan dinaungi dengan plastik bening. Selama di dalam bedengan, bibit diberi pupuk daun. Setelah berukuran 10 cm dan tanaman telah merumpun, bibit dipindahkan ke kebun.
2) Bibit vegetatif untuk budidaya stroberi di kebun
Tanaman induk yang dipilih harus berumur 1-2 tahun, sehat dan produktif. Penyiapan bibit anakan dan stolon adalah sebagai berikut:
1. Bibit anakan
Rumpun dibongkar dengan cangkul, tanaman induk dibagi menjadi beberapa bagian yang sedikitnya mengandung 1 anakan. Setiap anakan ditanam dalam polibag 18 x 15 cm berisi campuran tanah, pasir dan pupuk kandang halis (1:1:1), simpan di bedeng persemaian beratap plastik.
2. Bibit stolon
Rumpun yang dipilih telah memiliki akar sulur pertama dan kedua. Kedua akar sulur ini dipotong. Bibit ditanam di dalam atau polibag 18 x 15 cm berisi campuran tanah, pasir dan pupuk kandang (1:1:1). Setelah tingginya 10 cm dan berdaun rimbun, bibit siap dipindahkan ke kebun.
3) Bibit untuk budidaya stroberi di polibag
Pembibitan dari benih atau anakan/stolon dilakukan dengan cara yang sama, tetapi media tanam berupa campuran gabah padi dan pupuk kandang (2:1). Setelah bibit di persemaian berdaun dua atau bibit dari anakan/stolon di polibag kecil (18 x15) siap pindah, bibit dipindahkan ke polibag besar ukuran 30 x 20 cm
berisi media yang sama. Di polibag ini bibit dipelihara sampai menghasilkan.
6.2. Pengolahan Media Tanam
1) Budidaya di Kebun Tanpa Mulsa Plastik
a) Di awal musim hujan, lahan diolah dengan baik sedalam 30-40 cm.
b) Keringanginkan selama 15-30 hari.
c) Buat bedengan: lebar 80 x 100 cm, tinggi 30-40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antar bedengan 40 x 60 cm atau guludan: lebar 40 x 60 cm, tinggi 30-40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antar guludan 40x 60 cm.
d) Taburkan 20-30 ton/ha pupuk kandang/kompos secara merata di permukaan bedengan/ guludan.
e) Biarkan bedengan/guludan selama 15 hari.
f) Buat lubang tanam dengan jarak 40 x 30 cm, 50 x 50 cm atau 50 x 40 cm.
2) Budidaya di Kebun Dengan Mulsa Plastik.
a) Di awal musim hujan, lahan diolah dengan baik dan keringanginkan 15-30 hari.
b) Buatlah bedengan: lebar 80 x 120 cm, tinggi 30-40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antar bedengan 60 cm atau guludan: lebar bawah 60 cm, lebar atas 40 cm, tinggi 30-40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antar bedengan 60 cm.
c) Keringanginkan 15 hari.
d) Taburkan dan campurkan dengan tanah bedengan/guludan 200 kg urea, 250 kg SP-36 dan 100 kg/ha KCl.
e) Siram hingga lembab.
f) Pasang mulsa plastik hitam atau hitam perak menutupi bedengan/guludan dan kuatkan ujung-ujungnya dengan bantuan bambu berbentuk U.
g) Buat lubang di atas plastik seukuran alas kaleng bekas susu kental manis. Jarak antar lubang dalam barisan 30, 40 atau 50 cm, sehingga jarak tanam menjadi 40 x 30, 50 x 50 atau 50 x 40 cm.
h) Buat lubang tanam di atas lubang mulsa tadi.
3) Pengapuran
Bila tanah masam, 2-4 ton/ha kapur kalsit/dolomit ditebarkan di atas bedengan/guludan lalu dicampur merata. Pengapuran dilakukan segera setelah bedengan/guludan selesai dibuat.
6.3. Teknik Penanaman
1) Siram polybag berisi bibit dan keluarkan bibit bersama media tanamnya dengan hati-hati.
2) Tanam satu bibit di lubang tanam dan padatkan tanah di sekitar pangkal batang.
3) Untuk tanaman tanpa mulsa, beri pupuk dasar sebanyak 1/3 dari dosis pupuk anjuran (dosis anjuran 200 kg/ha Urea, 250 kg SP-36 dan 150 kg/ha KCl). Pupuk diberikan di dalam lubang sejauh 15 cm di kiri-kanan tanaman.
4) Sirami tanah di sekitar pangkal batang sampai lembab.
6.4. Pemeliharaan Tanaman
1) Penyulaman
Penyulaman dilakukan sebelum tanaman berumur 15 hari setelah tanam. Tanaman yang disulam adalah yang mati atau tumbuh abnormal.
2) Penyiangan
Penyiangan dilakukan pada pertanaman stroberi tanpa ataupun dengan mulsa plastik. Mulsa yang berada di antara barisan/bedengan dicabut dan dibenamkan ke dalam tanah. Waktu penyiangan tergantung dari pertumbuhan gulma, biasanya dilakukan bersama pemupukan susulan.
3) Perempelan/Pemangkasan
Tanaman yang terlalu rimbun, terlalu banyak daun harus dipangkas. Pemangkasan dilakukan teratur terutama membuang daun-daun tua/rusak. Tanaman stroberi diremajakan setiap 2 tahun.
4) Pemupukan
a) Pertanaman tanpa mulsa: Pupuk susulan diberikan 1,5-2 bulan setelah tanam sebanyak 2/3 dosis anjuran. Pemberian dengan cara ditabur dalam larikan dangkal di antara barisan, kemudian ditutup tanah.
b) Pertanaman dengan mulsa: Pupuk susulan ditambahkan jika pertumbuhan kurang baik. Campuran urea, SP-36 dan KCl (1:2:1,5) sebanyak 5 kg dilarutkan dalam 200 liter air. Setiap tanaman disiram dengan 350-500 cc larutan pupuk.
5) Pengairan dan Penyiraman
Sampai tanaman berumur 2 minggu, penyiraman dilakukan 2 kali sehari. Setelah itu penyiraman dikurangi berangsur-angsur dengan syarat tanah tidak mengering. Pengairan bisa dengan disiram atau menjanuhi parit antar bedengan dengan air.
6) Pemasangan Mulsa Kering
Mulsa kering dipasang seawal mungkin setelah tanam pada bedengan/ guludan yang tidak memakai mulsa plastik. Jerami atau rumput kering setebal 3–5 cm dihamparkan di permukaan bedengan/guludan dan antara barisan tanaman.

HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Hama
1) Kutu daun (Chaetosiphon fragaefolii)
Kutu berwarna kuning-kuning kemerahan, kecil (1-2 mm), hidup bergerombol di permukaan bawah daun. Gejala: pucuk/daun keriput, keriting, pembentukan bunga/buah terhambat. Pengendalian: dengan insektisida Fastac 15 EC dan Confidor 200 LC.
2) Tungau (Tetranychus sp. dan Tarsonemus sp.)
Tungau berukuran sangat kecil, betina berbentuk oval, jantan berbentuk agak segi tiga dan telur kemerah-merahan. Gejala: daun berbercak kuning sampai coklat, keriting, mengering dan gugur. Pengendalian: dengan insektisida Omite 570 EC, Mitac 200 EC atau Agrimec 18 EC.
3) Kumbang penggerek bunga (Anthonomus rubi), kumbang penggerek akar (Otiorhynchus rugosostriatus) dan kumbang penggerek batang (O. sulcatus). Gejala : di bagian tanaman yang digerek terdapat tepung. Pengendalian: dengan insektisida Decis 2,5 EC, Perfekthion 400 EC atau Curacron 500 EC pada waktu menjelang fase berbunga.
4) Kutu putih (Pseudococcus sp.)
Gejala: bagian tanaman yang tertutupi kutu putih akan menjadi abnormal. Pengendalian : kimia dengan insektisida Perfekthion 400 EC atau Decis 2,5 EC.
5) Nematoda (Aphelenchoides fragariae atau A. ritzemabosi)
Hidup di pangkal batang bahkan sampai pucuk tanaman. Gejala : tanaman tumbuh kerdil, tangkai daun kurus dan kurang berbulu. Pengendalian: dengan nematisida Trimaton 370 AS, Rugby 10 G atau Nemacur 10 G.
7.2. Penyakit
1) Kapang kelabu (Botrytis cinerea)
Gejala : bagian buah membusuk dan berwarna coklat lalu mengering. Pengendalian: dengan fungisida Benlate atau Grosid 50 SD.
2) Busuk buah matang (Colletotrichum fragariae Brooks)
Gejala : bah masak menjadi kebasah-basahan berwarna coklat muda dan buah dipenuhi massa spora berwarna merah jambu. Pengendalian: dengan fungisida berbahan aktif tembaga seperti Kocide 80 AS, Funguran 82 WP, Cupravit OB 21.
3) Busuk rizopus (Rhizopus stolonifer).
Gejala: (1) buah busuk, berair, berwarna coklat muda dan bila ditekan akan mengeluarkan cairan keruh; (2) di tempat penyimpanan, buah yang terinfeksi akan tertutup miselium jamur berwarna putih dan spora hitam. Pengendalian : membuang buah yang sakit, pasca panen yang baik dan budidaya dengan mulsa plastik.
4) Empulur merah (Phytophthora fragariae Hickman)
Gejala : jamur menyerang akar sehingga tanaman tumbuh kerdil, daun tidak segar, kadang-kadang layu terutama siang hari.
5) Embun tepung (Sphaetotheca mascularis atau Uncinula necator).
Gejala : bagian yang terserang, terutama daun, tertutup lapisan putih tipis seperti tepung, bunga akan mengering dan gugur. Pengendalian: dengan fungisida Benlate atau Rubigan 120 EC.
6) Daun gosong (Diplocarpon earliana atau Marssonina fragariae)
Gejala : Daun berbercak bulat telur sampai bersudut tidak teratur, berwarna ungu tua. Pengendalian kimia dengan fungisida Dithane M-45 atau Antracol 70 WP.
7) Bercak daun
Penyebab : (1) Ramularia tulasnii atau Mycosphaerella fragariae, Gejala: bercak kecil ungu tua pada daun. Pusat bercak berwarna coklat yang akan berubah menjadi putih; (2) Pestalotiopsis disseminata, Gejala : bercak bulat pada daun. Pusat bercak berwarna coklat fua dikelilingi bagian tepi berwarna coklat kemerahan atau kekuningan, daun mudah gugur; (3) Rhizoctonia solani, Gejala : bercak coklat-hitam besar pada daun. Pengendalian kimia dengan fungisida bahan aktif tembaga seperti Funguran 82 WP, Kocide 77 WP atau Cupravit OB21.
8) Busuk daun (Phomopsis obscurans).
Gejala : noda bula berwarna abu-abu dikelilingi warna merah ungu, kemudian noda membentuk luka mirip huruf V. Pengendalian: dengan Dithane M-45, Antracol 70 WP atau Daconil 75 WP.
9) Layu vertisillium (Verticillium dahliae)
Gejala : daun terinfeksi berwarna kekuning-kuningan hingga coklat, layu dan tanaman mati. Pengendalian : melalui fumigasi gas dengan Basamid-G.
10) Virus
Ditularkan melalui serangga aphids atau tungau. Gejala : terjadi perubahan warna daun dari hijau menjadi kuning (khlorosis) sepanjang tulang daun atau totol-totol (motle), daun jadi keriput, kaku, tanaman kerdil. Pengendalian : menggunakan bibit bebas virus, menghancurkan tanaman terserang, menyemprot pestisida
untuk mengendalikan serangga pembawa virus. Pencegahan hama dan penyakit umumnya dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kebun/tanaman, menanam secara serempak (untuk memutus siklus hidup), menanam bibit yang sehat, memberikan pupuk sesuai anjuran sehingga tanaman tumbuh sehat, melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman bukan keluarga Rosaceae dan memangkas bagian tanaman/mencabut tanaman yang sakit. Membudidayakan stroberi dengan mulsa plastik juga akan menekan pertumbuhan
hama/penyakit. Khusus untuk penyakit, perbaikan drainase biasanya dapat menurunkan serangan.

8. PANEN
Tanaman asal stolon dan anakan mulai berbung ketika berumur 2 bulan setelah tanam. Bunga pertama sebaiknya dibuang. Setelah tanaman berumur 4 bulan, bunga dibiarkan tumbuh menjadi buah. Periode pembungaan dan pembuahan dapat berlangsung selama 2 tahun tanpa henti.
8.1. Ciri dan Umur Panen
1) Buah sudah agak kenyal dan agak empuk.
2) Kulit buah didominasi warna merah: hijau kemerahan hingga kuning kemerahan.
3) Buah berumur 2 minggu sejak pembungaan atau 10 hari setelah awal pembentukan buah.
8.2. Cara Panen
Panen dilakukan dengan menggunting bagian tangkai bunga dengan kelopaknya. Panen dilakukan dua kali seminggu.
7.3. Perkiraan Produksi
Produktivitas tanaman stroberi tergantung dari varietas dan teknik budidaya:
a) Varitas Osogrande: 1,2 kg/tanaman/tahun.
b) Varitas Pajero: 0,8 kg/tanaman/tahun.
c) Varitas Selva: 0,6-0,7 kg/tanaman/tahun.
Teknik budidaya stroberi dengan naungan UV memberikan hasil 1-1,25 kg/tanaman/tahun.

PASCAPANEN
9.1. Pengumpulan
Buah disimpan dalam suatu wadah dengan hati-hati agar tidak memar, simpan di tempat teduh atau dibawa langsung ke tempat penampungan hasil. Hamparkan buah di atas lantai beralas terpal/plastik. Cuci buah dengan air mengalir dan tiriskan di atas rak-rak penyimpanan.
9.2. Penyortiran dan Penggolongan
Pisahkan buah yang rusak dari buah yang baik. Penyortiran buah berdasarkan pada varietas, warna, ukuran dan bentuk buah. Terdapat 3 kelas kualitas buah yaitu :
a) Kelas Ekstra: (1) buah berukuran 20-30 mm atau tergantung spesies; (2) warna dan kematangan buah seragam.
b) Kelas I: (1) buah berukuran 15-25 mm atau tergantung spesies; (2) bentuk dan warna buah bervariasi.
c) Kelas II: (1) tidak ada batasan ukuran buah; (2) sisa seleksi kelas ekstra dan kelas I yang masih dalam keadaan baik.
9.3. Pengemasan dan Penyimpanan
Buah dikemas di dalam wadah plastik transparan atau putih kapasitas 0,25-0,5 kg dan ditutup dengan plastik lembar polietilen. Penyimpanan dilakukan di rak dalam lemari pendingin 0-1 derajat C.

ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN
10.1 Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya 1 hektar stroberi selama 2 tahun dengan jarak tanam 50 x 40 cm mengunakan mulsa plastik hitam perak (MPHP) di daerah Jawa Barat pada tahun 1999.
1) Biaya produksi
1. Sewa tanah selama 2 tahun Rp. 5.000.000,-
2. Bibit 50.000 anakan @ Rp. 1.000,- Rp. 50.000.000,-
3. Pupuk dan kapur
- Pupuk kandang 30 ton @ Rp. 150.000,- Rp. 4.500.000,-
- Urea: 2 x 200 kg @ Rp. 1.500,- Rp. 600.000,-
- SP-36: 2 x 250 kg @ Rp. 1.800,- Rp. 900.000,-
- KCl: 2 x 100 kg @ Rp. 1.800,- Rp. 360.000,-
- Kapur: 4 ton @ Rp. 400.000 Rp. 1.600.000,-
- Pupuk daun: 20 kg @ Rp. 20.000 Rp. 400.000,-
4. Pestisida 20 kg Rp. 1.300.000,-
5. Peralatan dan bangunan
- Mulsa plastik 20 rol @ Rp. 300.000,- Rp. 6.000.000,-
- Alat pertanian Rp. 1.250.000,-
- Gubug 1 unit Rp. 1.000.000,-
6. Tenaga kerja
- Pengolahan tanah, buat bedeng: 150 HKP @ Rp.7.500,- Rp. 1.125.000,-
- Pupuk, kapur dan pasang mulsa 50 HKP Rp. 375.000,-
- Penanaman 10 HKP + 30 HKW (@ Rp. 5.000) Rp. 225.000,-
- Pemeliharaan 2 tahun 80 HKP + 100 HKW Rp. 1.100.000,-
- Gaji pekebun 2 orang selama 2 tahun Rp. 12.000.000,-
7. Panen dan pascapanen
- Panen dan pasca panen 100 HKP + 200 HKW Rp. 1.750.000,-
8. Lain-lain : Pajak dan iuran Rp. 500.000,-
Jumlah biaya produksi Rp. 89.985.000,-
2) Produksi 1 th/ha: 0,45 kg/tahun x 40.000 tanaman x Rp. 5.500,- Rp.198.000.000,-
3) Keuntungan selama 2 tahun Rp.108.015.000,-
Keuntungan per tahun Rp. 54.007.500,-
4) Parameter kelayakan usaha
1. Output/Input rasio (dalam 1 tahun) = 1,1
Keterangan: HKP Hari kerja Pria, HKW Hari kerja wanita.
10.2.Gambaran Peluang Agribisnis
Buah stroberi enak rasanya, harum dan sangat menarik dipandang, jadi pertanaman
stroberi bisa atau berpotensi dijadikan kawasan agrowisata dimana pengunjung
dapat memetik langsung buah di bawah pengawasan.

STANDAR PRODUKSI
11.1.Ruang Lingkup
Standard ini meliputi klasifikasi/penggolongan dan syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan dan cara pengemasan.
11.2.Diskripsi

11.3.Klasifikasi dan Standar Mutu
Berdasarkan ukurannya, stroberi diklasifikasikan menjadi 4 kelas yaitu:
Kelas AA: > 20 gram/buah
Kelas A : 11-20 gram/buah
Kelas B : 7-12 gram/buah
Kelas C1 : 7-8 gram/buah
Kualitas stroberi ditentukan oleh rasa (manis-agak asam-asam), kemulusan kulit dan luka mekanis akibat benturan atau hama-penyakit.
11.4.Pengambilan Contoh
Satu partai/lot buah stroberi terdiri dari maksimum 1.000 kemasan. Contoh diambil secara acak dari jumlah kemasan dalam 1 (satu) partai/lot.
a) Jumlah kemasan dalam partai/lot 1 s/d 5, contoh pengambilan semua
b) Jumlah kemasan dalam partai/lot 6 s/d 100, contoh pengambilan sekurangkurangnya 5
c) Jumlah kemasan dalam partai/lot 101 s/d 300, contoh pengambilan sekurangkurangnya 7
d) Jumlah kemasan dalam partai/lot 301 s/d 500, contoh pengambilan sekurangkurangnya 9
e) Jumlah kemasan dalam partai/lot 501 s/d 1000, contoh pengambilan sekurangkurangnya 10
Petugas pengambil contoh harus orang yang memenuhi persyaratan yaitu orang yang telah berpengalaman atau dilatih lebih dahulu dan mempunyai ikatan dengan suatu badan hukum.
11.5.Pengemasan
Buah stroberi segar disajikan dalam bentuk lepasan, dibungkus bahan kertas, jaring plastik atau bahan laian yang sesuai, lalu dikemas dengan keranjang bambu atau kotak karton/kayu/bahan lain yang sesuai dengan atau tanpa penyangga, dengan berat bersih maksimum 10 kg.
Pada bagian luar kemasan, diberi label yang bertuliskan antara lain :
a) Produksi Indonesia.
b) Nama barang/kultivar.
c) Golongan ukuran.
d) Jenis mutu.
e) Nama Pprusahaan/eksportir.
f) Berat bersih/kotor.

Budidaya Jeruk

I. PENDAHULUAN
Prospek agribisnis jeruk di Indonesia cukup bagus karena potensi lahan produksi yang luas. Melalui program peningkatan kualitas sumberdaya petani jeruk serta didukung dengan hasil inovasi teknologi pemupukan dan hormon alami, pengelolaan hama dan penyakit terpadu, serta sistem budidaya lainnya yang semuanya didasarkan pada semangat ramah lingkungan akan meningkatkan Kuantitas dan Kualitas produksi jeruk dengan tetap menjaga Kelestarian lingkungan.

II. SYARAT PERTUMBUHAN
Perlu 6-9 bulan basah (musim hujan), curah hujan 1000-2000 mm/th merata sepanjang tahun, perlu air yang cukup terutama di bulan Juli-Agustus. Temperatur optimal antara 25-30 °C dan kelembaban optimum sekitar 70-80%. Kecepatan angin lebih dari 40-48% akan merontokkan bunga dan buah. Ketinggian optimum antara 1-1200 m dpl. Jeruk tidak menyukai tempat yang terlindung dari sinar matahari. Jenis tanah Andosol dan Latosol sangat cocok, derajat keasaman tanah (pH tanah) adalah 5,5-6,5 . Air tanah optimal pada kedalaman 150-200 cm di bawah permukaan tanah. Pada musim kemarau 150 cm dan pada musim hujan 50 cm. Tanaman jeruk menyukai air yang mengandung garam sekitar 10%.
III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan
3.1.1. Cara generatif
Biji diambil dari buah dengan memeras buah yang telah dipotong. Biji dikeringanginkan di tempat yang tidak disinari selama 2-3 hari hingga lendirnya hilang. Tanah persemaian diolah sedalam 30-40 cm dan dibuat petakan berukuran 1,15-1,20 m membujur dari utara ke selatan. Jarak petakan 0,5-1m. Sebelum ditanami, tambahkan pupuk kandang 1 kg/m2. Biji ditanam dalam alur dengan jarak tanam 1-1,5 x 2 cm dan langsung disiram larutan POC NASA + 1-2 cc/lt air. Persemaian diberi atap. Bibit dipindahtanam ke dalam polibag 15 x 35 cm setelah tingginya 20 cm pada umur 3-5 bulan. Media tumbuh dalam polibag adalah campuran pupuk kandang dan sekam (2:1) atau pupuk kandang, sekam, pasir (1:1:1) atau cukup dengan menggunakan tanah biasa disiram POC NASA (3-4 tutup) + HORMONIK (1 tutup) per 10-15 liter air.

3.1.2. Cara Vegetatif
Metode dengan cara penyambungan tunas pucuk dan penempelan mata tempel. Untuk kedua cara ini perlu dipersiapkan batang bawah (understam/rootstock) yang dipilih dari jenis jeruk dengan perakaran kuat dan luas, daya adaptasi lingkungan tinggi, tahan kekeringan, tahan/toleran terhadap penyakit virus, busuk akar dan nematoda. Varietas batang bawah yang biasa digunakan adalah Japanese citroen, Rough lemon, Cleopatra, Troyer Citrange dan Carizzo citrange. Setelah penyambungan tunas pucuk atau penempelan mata tempel, segera disemprot menggunakan POC NASA (3-4 tutup/tangki ) + HORMONIK (1 tutup/tangki ).

3.1.2.1. Pengolahan Media Tanam
Lahan yang akan ditanami dibersihkan dari tanaman lain atau sisa-sisa tanaman. Jarak tanam bervariasi untuk setiap jenis jeruk dapat dilihat pada data berikut ini: (a) Keprok dan Siem jarak tanam 5 x 5 m; (b) Manis : jarak tanam 7 x 7 m; (c) Sitrun (Citroen) : jarak tanam 6 x 7 m; (d) Nipis : jarak tanam 4 x 4 m; (e) Grape fruit : jarak tanam 8 x 8 m; (f) Besar : jarak tanam (10-12) x (10-12) m.
Lubang tanam dibuat 2 minggu sebelum tanam. Tanah bagian dalam dipisahkan dengan tanah dari lapisan atas. Tanah berasal dari lapisan atas dicampur dengan 1-2 kg pupuk kandang dan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan.
Pengembangbiakan Natural GLIO : 1-2 kemasan Natural GLIO dicampur 50-100 kg pupuk kandang untuk lahan 1000 m2. Selanjutnya didiamkan di tempat yang terlindung dari sinar matahari + 1 minggu dengan selalu menjaga kelembabannya dan sesekali diaduk (dibalik).

3.1.2.2. Teknik Penanaman
Bibit jeruk dapat ditanam pada musim hujan atau musim kemarau jika tersedia air untuk menyirami, tetapi sebaiknya ditanam diawal musim hujan. Sebelum ditanam, perlu dilakukan: (a) Pengurangan daun dan cabang yang berlebihan; (b) Pengurangan akar; (c) Pengaturan posisi akar agar jangan ada yang terlipat.
Setelah bibit ditanam, siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secara merata dengan dosis ± 1 tutup POC NASA per liter air setiap pohon. Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA. Adapun cara penggunaan SUPER NASA adalah sebagai berikut: 1 (satu) botol SUPER NASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap
1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi disiramkan setiap pohon.
Beri mulsa jerami, daun kelapa atau daun-daun yang bebas penyakit di sekitar bibit. Letakkan mulsa sedemikian rupa agar tidak menyentuh batang untuk menghindari kebusukan batang. Sebelum tanaman berproduksi dan tajuknya saling menaungi, dapat ditanam tanaman sela baik kacang-kacangan/sayuran. Setelah tajuk saling menutupi, tanaman sela diganti oleh rumput/tanaman legum penutup tanah yang sekaligus berfungsi sebagai penambah nitrogen bagi tanaman jeruk.

JENIS-JENIS JAMUR BUDIDAYA

Jamur dalam bahasa Indonesia sehari-hari mencakup beberapa hal yang agak berkaitan. Arti pertama adalah semua anggota kerajaan Fungi dan beberapa organisme yang pernah dianggap berkaitan, seperti jamur lendir dan “jamur belah” (Bacteria). Arti kedua berkaitan dengan sanitasi dan menjadi sinonim bagi kapang. Arti terakhir, yang akan dibahas dalam artikel ini, adalah tubuh buah yang lunak atau tebal dari sekelompok anggota Fungi (terutama Basidiomycetes) yang biasanya muncul dari permukaan tanah atau substrat tumbuhnya. Pengertian terakhir ini berkaitan dengan nilai ekonomi jamur sebagai bahan pangan, sumber racun, atau bahan pengobatan.
berikut adalah tips dan jenis jenis jamur :
1. Jamur Kancing atau Champignon (Agaricus bisporus)

Jamur kancing merupakan jenis jamur yang paling banyak dibudidayakan di dunia, sekitar 38% dari total produksi jamur dunia. Jamur kancing (Agaricus bisporus) atau champignon merupakan jamur pangan yang berbentuk hampir bulat seperti kancing dan berwarna putih bersih, krem, atau coklat muda. Dalam bahasa Inggris disebut sebagai table mushroom, white mushroom, common mushroom atau cultivated mushroom. Di Perancis disebut sebagai champignon de Paris.

Jamur kancing dijual dalam bentuk segar atau kalengan, biasanya digunakan dalam berbagai masakan Barat seperti omelet, pizza, kaserol, gratin, dan selada. Jamur kancing memiliki aroma unik, sebagian orang ada yang menyebutnya sedikit manis atau seperti “daging”.

Jamur kancing segar bebas lemak, bebas sodium, serta kaya vitamin dan mineral, seperti vitamin B dan potasium. Jamur kancing juga rendah kalori, 5 buah jamur ukuran sedang sama dengan 20 kalori.

2. Jamur Tiram (Pleurotus sp.)

Tiongkok merupakan produsen jamur tiram yang utama. Sekitar 25% dari total produksi jamur dunia berupa jamur tiram. Jamur tiram/shimeji dikenal pula dengan nama populer Oyster Mushroom dan nama ilmiah Pleurotus ostreatus. Tangkai tudungnya menyerupai cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung dan berwarna putih hingga krem.

Ada beberapa jenis jamur tiram yaitu jamur tiram putih, jamur tiram merah jambu, jamur tiram kelabu, dan jamur tiram coklat. Jamur tiram yang dikenal paling enak dan paling disukai masyarakat sehingga paling banyak dibudidayakan ialah jamur tiram putih.

Di alam bebas, jamur tiram bisa dijumpai hampir sepanjang tahun di hutan pegunungan daerah yang sejuk. Tubuh buah terlihat saling bertumpuk di permukaan batang pohon yang sudah melapuk atau pokok batang pohon yang sudah ditebang.

Budidaya jamur ini tergolong sederhana. Jamur tiram biasanya dipelihara dengan media tanam serbuk gergaji steril yang dikemas dalam kantung plastik.

3. Jamur Merang (Volvariella volvaceae)

Sekitar 16% dari total produksi jamur dunia berupa jamur merang. Jamur merang (Volvariella volvacea, sinonim: Volvaria volvacea, Agaricus volvaceus, Amanita virgata atau Vaginata virgata) atau kulat jeramoe dalam bahasa Aceh merupakan salah satu spesies jamur pangan yang banyak dibudidayakan di Asia Timur dan Asia Tenggara yang beriklim tropis atau subtropis. Jamur ini telah lama dibudidayakan sebagai bahan pangan karena spesies ini termasuk golongan jamur yang paling enak rasanya dan mempunyai tekstur yang baik.

4. Jamur Shiitake (Lentinus edodes)

Paling banyak dikonsumsi dan diproduksi di Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan. Sekitar 10% dari total produksi jamur dunia berupa jamur shiitake.

Shiitake disebut juga ‘Chinese Black Mushroom’. Jamur jenis ini sudah dikenal sebagai jamur konsumsi sejak 2000 tahun yang silam di dataran Asia. Produksi jamur Shiitake secara industri massal pertama kali dilakukan di Jepang pada tahun 1940an. Namun budidaya secara traditional sudah dimulai sejak 900 tahunan yang silam di Cina.

5. Jamur Kuping

Jamur yang banyak dipakai untuk masakan Tionghoa, terdiri dari jamur kuping putih (Tremella fuciformis), jamur kuping hitam (Auricularia polytricha) dan jamur kuping merah (Auricularia auricula-judae)

Jamur Kuping merupakan jamur yang pertama kali dibudidayakan bahkan sebelum jamur Shiitake di Cina. Di Indonesia jamur Kuping sangat lumrah dikenal di kalangan masyarakat menengah ke bawah setelah jamur merang. Masyarakat tradisional masih sering mengambil jamur ini dari alam yang biasanya tumbuh pada batang-batang yang sudah lapuk. Jamur Kuping terutama jenis jamur kuping hitam (Auricularia polytricha) saat ini sudah banyak dibudidayakan secara modern dalam log-log serbuk kayu.

Menurut data statistik, produksi segar jamur kuping (worldwide) menempati urutan keempat (346.000 ton) setelah Champignon, Tiram dan Shiitake pada tahun 1991.

6. Jamur Enokitake (Flammulina velutipes)

Dikenal juga sebagai jamur musim dingin (winter mushroom). Di wilayah dunia beriklim sejuk, jamur ini tumbuh di alam bebas pada suhu udara rendah mulai musim gugur hingga awal musim semi. Jamur ini juga diketahui tumbuh di bawah salju. Jamur Enokitake biasanya tumbuh di permukaan batang pohon Celtis sinensis (bahasa Jepang: Enoki) yang sudah melapuk, sehingga disebut Enokitake (jamur Enoki).

Jamur Enokitake hasil budidaya bisa dipanen sepanjang tahun. Tubuh buah Enokitake hasil budidaya terlihat beda dari Enokitake yang tumbuh di alam bebas. Jamur hasil budidaya dilindungi dari sinar matahari sehingga berwarna putih, sedangkan jamur di alam bebas berwarna coklat hampir merah jambu.

7. Jamur Maitake (Grifola frondosa)

Mengeluarkan aroma harum kalau dimasak, dikenal dalam bahasa Inggris sebagai hen of the woods.belum banyak referensi yang saya dapatkan dari jamur jenis ini tetapi yang jelas jamur ini aman untuk di konsumsi.

8. Jamur Matsutake (Tricholoma matsutake (S.Ito et Imai) Sing.)

Jamur langka yang belum berhasil dibudidayakan dan diburu di hutan pinus wilayah beriklim sejuk. Dipanen pada musim gugur dan merupakan jamur berharga sangat mahal di Jepang.

Di Jepang, matsutake adalah bahan makanan mewah yang berharga sangat mahal. Jamur ini memiliki wangi harum yang kuat, dan dimakan setelah dipanggang sedikit di atas api, ditanak bersama beras menjadi nasi matsutake (matsutake gohan), dan sebagai campuran dobinmushi (sup dalam teko).

9. Jamur Truffle (Tuber magnatum, Tuber aestivum, Tuber melanosporum, dan Tuber brumale)

Jamur langka yang sulit ditemukan, sehingga menemukannya butuh bantuan anjing dan babi yang memiliki penciuman tajam. Jamur truffle adalah jamur termahal di dunia (artikel dari The Telegraph) , digunakan dalam jumlah sedikit sebagai penyedap pada masakan Perancis seperti masakan Foie gras.

10. Jamur Ling zhi (Ganoderma lucidum)

Menurut sejarah Cina, ling zhi ditemukan oleh seorang petani bernama Seng Nong. Ia dijuluki sebagai petani yang suci (holyfarmer). Seng Nong menyatakan, kriteria unggul nilai atau manfaat dari sebuah tanaman obat adalah bila dikonsumsi dalam jangka waktu lama tidak menimbulkan efek samping. Pada zaman Dinasti Shu, sekitar 2400 tahun lalu, ling zhi hanya dikonsumsi untuk pengobatan para maharaja dan bangsawan di negeri Cina. Pada masa itu, ling zhi masih langka.

Sejak tahun 1971, seorang peneliti dari Universitas Kyoto, Jepang, bernama Yukio Naoi mulai membudidayakan ling zhi. Melalui eksperimen-eksperimennya, akhirnya ia berhasil menemukan cara menumbuhkan ling zhi menggunakan limbah pertanian dan kayu-kayu yang telah lapuk.

Ling zhi memiliki sifat rasa pedas, pahit, dan hangat. Mengonsumsi ramuan dari ling zhi memiliki efek bersifat melindungi organ tubuh, membangun (constructive), mengobati, dan berdampak positif terhadap penyembuhan organ lain yang sakit. Sejauh ini belum pernah ditemukan efek negatif yang ditimbulkan setelah mengonsumsi ramuan ling zhi.

Dari berbagai penelitian yang dilakukan di berbagai negara, ling zhi berkhasiat sebagai herbal anti-diabetes, anti-hipertensi, anti-alergi, antioksidan, anti-[inflamasi], anti-hepatitis, analgesik, anti-HIV, serta perlindungan terhadap liver, ginjal, hemoroid atau wasir, anti-tumor, dan sistem imunitas (kekebalan tubuh).
sebenarnya masih banyak jenis jenis jamur tetapi diatas adalah jenis jamur yang sering dimakan dan digunakan untuk obat semoga bermanfaat.
sumber referensi dari google <p>Your browser does not support iframes.</p>

Artikel terkait

Panduan Budidaya Sayuran

Budidaya Sayuran Bernilai Tinggi

Tekonologi Sayuran

Budidaya Cabai Merah Konvensional

Busidaya Cabe Rawit

Aspek PentingTanaman Buah

Tanaman Perkebunan

April 12, 2011 pukul 12:28 pm | Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar

BUDIDAYA TANAMAN COKLAT

I. PENDAHULUAN
 BUDIDAYA TANAMAN COKLAT

Budidaya KakaoTanaman Kakao merupakan tanaman perkebunaan berprospek menjanjikan. Tetapi jika faktor tanah yang semakin keras dan miskin unsur hara terutama unsur hara mikro dan hormon alami, faktor iklim dan cuaca, faktor hama dan penyakit tanaman, serta faktor pemeliharaan lainnya tidak diperhatikan maka tingkat produksi dan kualitas akan rendah. Sebagai tananam yang dalam budidayanya memerlukan naungan, maka walaupun telah diperoleh lahan yang sesuai, sebelum penanaman kakao tetap diperlukan persiapan naungan. Tanpa persiapan naungan yang baik,pengembangan tanaman kakao akan sulit diharapkan keberhasilannya. Oleh karena itu persiapan lahan dan naungan, serta penggunaan tanaman yang bernilai ekonomis sebagai penaung merupakan hal penting yang perlu diperhatikan dalam budidaya kakao.

II. SYARAT TUMBUH 

Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan. Lingkungan alami tanaman kakao adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan, suhu udara dan sinar matahari menjadi bagian dari faktor iklim yang menentukan. Demikian juga dengan faktor fisik dan kimia tanah yang erat kaitannya dengan daya tembus (penetrasi) dan kemampuan akar menyerap hara. Ditinjau dari wilayah penanamannya kakao ditanam pada daerah-daerah yang berada pada 10o LU sampai dengan 10o LS. Walaupun demikian penyebaran pertanaman kakao secara umum berada diantara 7oLU sampai 18oLS. Hal ini erat kaitannya dengan distribusi curah hujan dan jumlah penyinaran matahari sepanjang tahun. Kakao juga masih toleran pada daerah 20o LU sampai 20o LS.Dengan demikian Indonesia yang berada pada 5o LU sampai dengan 10o LS masih sesuai untuk pertanaman kakao. Ketinggian tempat Ketinggian tempat di Indonesia yang ideal untuk penanaman kakao adalah tidak lebih tinggi dari 800 m dari permukaan laut.
Curah Hujan Curah hujan yang berhubungan dengan pertanaman dan produksi kakao ialah distribusinya sepanjang tahun. Hal tersebut berkaitan dengan masa pembentukan tunas muda dan produksi. Areal penanaman kakao yang ideal adalah daerah-daerah dengan curah hujan 1.100-3.000 mm per tahun. Curah hujan yang melebihi 4.500 mm per tahun tampakya berkaitan erat dengan serangan penyakit busuk buah (blask pods). Daerah yang curah hujannya lebih rendah dari 1.200 mm per tahun masih dapat ditanami kakao, tetapi dibutuhkan air irigasi. Hal ini disebabkan air yang hilang karena transpirasi akan lebih besar dari pada air yang diterima tanaman dari curah hujan, sehingga tanaman harus dipasok dengan air irigasi. Di tinjau dari tipe iklimnya, kakao sangat ideal ditanam pada daerah-daerah yang tipenya iklim Am (menurut Koppen) atau B (menurut Scmidt dan Fergusson). Di daerah-daerah yang tipe iklimnya C menurut (Scmidt dan Fergusson) kurang baik untuk penanaman kakao karena bulan keringnya yang panjang. Dengan membandingkan curah hujan diatas dengan curah hujan
tipe Asia, Ekuator dan Jawa maka secara umum areal penanaman kakao di Indonesia masih potensial untuk dikembangkan. Adanya pola penyebab curah hujan yang tetap akan mengakibatkan pola panen yang tetap pula. Temperatur Pengaruh temperatur terhadap kakao erat kaitannya dengan ketersedian air, sinar matahari dan kelembaban. Faktor-faktor tersebut dapat dikelola melalui pemangkasan, penataan tanaman pelindung dan irigasi. Temperatur sangat berpengaruh terhadap pembentukan flush, pembungaan, serta kerusakan daun. Menurut hasil penelitian, temperatur ideal bagi tanaman kakao adalah 300C – 320C (maksimum) dan 180C-210C (minimum). Kakao juga dapat tumbuh dengan baik pada temperatur minimum 15o C perbulan.
      Temperatur ideal lainnya dengan distribusi tahunan 16,60C masih baik untuk pertumbuhan kakao asalkan tidak didapati musim hujan yang panjang. Berdasarkan keadaan iklim di Indonesia temperatur 250-260 C merupakan temperatur rata-rata tahunan tanpa faktor terbatas. Karena itu daerah-daerah tersebut sangat cocok jika ditanami kakao. Temperatur yang lebih rendah 100 C dari yang dituntut tanaman kakao akan mengakibatkan gugur daun dan mengeringnya bunga, sehingga laju pertumbuhannya berkurang. Temperatur yang tinggi akan memacu pembungaan, tetapi kemudian akan gugur. Pembungaan akan lebih baik jika berlangsung pada temperatur 230 C. Demikian juga tempertur 26oC pada malam hari masih lebih baik pengaruhnya terhadap pembungaan dari pada temperatur 23o-300 C. Temperatur tinggi selama kurun waktu yang panjang berpengaruh terhadap bobot biji. Tempertur yang relatif rendah akan menyebabkan biji kakao banyak mengandung asam lemak tidak jenuh dibandingkan dengan suhu tinggi.
      Pada areal tanaman yang belum menghasilkan kerusakan tanaman sebagi akibat dari temperatur tinggi selama kurun waktu yang panjang ditandai dengan matinya pucuk. Daun kakao masih toleran sampai suhu 50o C untuk jangka waktu yang pendek. Temperaturvyang tinggi tersebut menyebabkan gejala necrossis pada daun. Sinar Matahari Lingkungan hidup alami tanaman kakao ialah hutan hujan tropis yang didalam pertumbuhanya membutuhkan naungan untuk mengurangi pencahayaan penuh.
Cahaya matahari yang terlalu banyak menyoroti tanaman kakao akan mengakibatkan lilit batang kecil, daun sempit, dan batang relatif pendek. Pemanfaatan cahaya matahari semaksimal mungkin dimaksudkan untuk mendapatkan intersepsi cahaya dan pencapain indeks luas daun optimum. Kakao tergolong tanaman C3 yang mampu berfotosintesis pada suhu daun rendah. Fotosintesis maksimum diperoleh pada saat penerimaan cahaya pada tajuk sebesar 20 persen dari pencahayaan penuh. Kejenuhan cahaya didalam fotosintesis setiap daun yang telah membuka sempurna berada pada kisaran 3-30 persen cahaya matahari atau pada 15 persen cahaya matahari penuh. Hal ini berkaitan pula dengan pembukaan stomata yang lebih besar bila cahaya matahari yang diterima lebih banyak.
III. PEDOMAN BUDIDAYA 
Pembersihan areal dilaksanakan mulai dari tahap survai/pengukuran sampai tahap pengendalian ilalang. Pelaksanaan survai/ pengukuran biasanya berlangsung selama satu bulan. Pada tahap ini, pelaksanaan pekerjaan meliputi pemetaan topografi, penyebaran jenis tanah, serta penetapan batas areal yang akan ditanami. Hasi survai akan sangat penting artinya untuk tahapan pekerjaan
lain , bahkan dalam hal penanaman dan pemeliharaan kakao. Tahap selanjutnya dari pembersihan areal adalah tebas/babat. Pelaksanaan pekerjaan pada tahap ini adalah dengan membersihkan semak belukar dan kayu-kayu kecil sedapat mungkin ditebas rata dengan permukaan tanah, lama pekerjaan ini adalah 2-3 bulan baru kemudian dilanjutkan dengan tahap tebang. Tahap berikut ini dilaksanakan selama 3-4 bulan, dan merupakan tahap yang paling lama dari semua tahap pembersihan areal. Bila semua pohon telah tumbang tumbangan itu biarkan selama 1- 1,5 bulan agar daun kayu
mengering. Areal yang telah bebas dari semak belukar, kayu-kayu kecil, dan ohon besar, apalagi bila baru dibakar, biasanya cepat sekali menumbuhkan ilalang. Seperti diketahui, ilalang merupakan gulma utama dari areal pertanian. Karena itu, pengendaliannya harus dilaksanakan sesegera mungkin, sehingga sedapat mungkin areal telah bebas dari ilalang saat penanaman pohon pelindung. Pengendalian ilalang dapat dilakukan secara manual, kimiawi, maupun mekanis dengan mempertimbanhkan luas areal, ketersedian tenaga kerja, waktu, cuaca, penyaluran bahan dan biaya. Tahap pengendalian ilalang ini dapat dilasanakan selama 2-3 bulan.
 Untuk lebih lengkapnya klik alamat di bawah ini :
http://budidaya-id.blogspot.com/2010/01/budidaya-kakao.html

SUMBER: http://budidaya-id.blogspot.com/2010/01/budidaya-kakao.html

Artikel Terait

Budidaya Karet

Budidaya Lada

Budidaya Tanaman Kopi

Budidaya Kelapa Sawit

Hama dan Penyakit yang menyerang pada Kelapa Sawit

Pemeliharaan Tanaman Kelapa Hibrida

Tanaman Hias

April 12, 2011 pukul 12:28 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Mawar si Ratu Bunga

Jika berbicara tentang mawar, pasti tak ada habisnya. Keindahan bunga mawar memang luar biasa, tak heran jika mawar mendapat gelar sebagai Ratu Bunga, lambang kecantikan, lambang cinta, dan lain-lain. Mawar (Rosa hybrida L.) berasal dari dataran Cina dan Eropa Timur. Mawar ada banyak jenisnya. Ada mawar merambat, yang biasa merambat di pagar-pagar. Ada mawar yang berbunga sekali setahun, berbunga kontinu, berbunga kecil, berbunga besar, berbunga berkelompok. Ada mawar potong, mawar tanam, mawar tabur, dan mawar bahan kosmetik. Dari segi wanginya juga bermacam-macam, ada yang wangi sekali, ada yang wanginya samar-samar, bahkan ada yang gak wangi sama sekali. Dari segi warna juga bermacam-macam, ada mawar putih, merah, kuning, pink, oranye, ungu, dan ada juga mawar hitam.

Selain karena keindahannya, mawar juga diminati konsumen karena mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, terutama mawar potong. Mawar potong adalah bunga potong yang tingkat permintaannya paling tinggi di antara bunga potong lainnya. Apalagi pada hari-hari spesial, Valentine misalnya, para florist suka kewalahan menerima pesanan mawar potong.

Bunga mawar membutuhkan tanah yang subur, beri kompos atau pupuk kandang. Jangan ditanam di tanah yang becek, atau terlalu liat. Beri campuran kompos dan pasir (1:1:1). Buat lubang dengan kedalaman 50 cm. Isi dengan tanah subur dan pupuk organik atau pupuk khusus mawar. Jarak antar tanaman tergantung jenis mawar yang ditanam. Untuk mawar pagar atau mawar potong biasanya jaraknya 50 – 60 cm.

Saat awal tanam mawar disiram setiap hari, karena mawar butuh air banyak. Penyiraman dilakukan ketika tidak ada matahari, yaitu pagi dan sore. Yang disiram hanya tanahnya saja, bukan daunnya. Pada saat musim berbunga, mawar juga membutuhkan air yang banyak. Jika tanaman mawar sudah berumur 2 tahun, frekuensi penyiraman sudah boleh dikurangi.

Agar mawar terus menerus berbunga banyak, maka perlu diberi pupuk organik khusus mawar, atau pupuk kompos secara teratur, yaitu setiap 2 bulan pada periode berbunga. Lalu kita harus rajin mencabut gulma atau tanaman liar di sekitar pohon mawar.

Jika mawar ditanam di tanah yang subur dan lubang penanamannya dalam, maka  mawar akan jarang sakit. Penyakit yang umum pada mawar adalah Marsonia (bercak hitam) dan karat daun. Penanganannya hanyalah dengan memotong dan membuang d aun-daun yang sakit.

Untuk pencegahannya cukup disemprotkan preles (bahan organik).

Tanaman mawar dapat diperbanyak dengan setek, cang- kok, okulasi, dan pen yambungan. Di Indonesia memang agak sulit untuk mendapatkan benih mawar yang bagus, maka petani umumnya memper- banyak tanaman mawar dengan penyambungan. Namun, perbanyakan dengan penyambungan menghadapi masalah batang bawah banyak yang terserang penyakit yang disebab- kan oleh virus. Kultur jaringan merupakan salah satu alternatif dalam perbanyakan tanaman mawar. Perbanyakan tanaman dengan kultur j aringan dapat menghasilkan benih dalam jumlah banyak dalam waktu singkat, seragam, dan bebas penyakit.

Black Baccara

Oia, satu lagi,, teman-teman pasti pernah mendengar atau melihat di TV tentang mawar hitam. Mawar hitam memang ada, tetapi mawar yang benar-benar berwarna hitam legam itu sebenarnya tidak ada, itu hanyalah efek kamera, atau photoshop. Mawar hitam yang sesungguhnya adalah berwarna merah tua menjurus ke hitam. Mawar hitam adalah hasil persilangan (breeding). Salah satu jenis mawar hitam adalah Black Baccara. Warna hitamnya tergantung suhu, kalau suhu dingin kadar hitamnya lebih tin ggi.

 Anggrek Hitam (Coelogyne pandurata) Asli Kalimantan

Anggrek hitam (Coelogyne pandurata) adalah spesies anggrek yang hanya tumbuh di pulau Kalimantan. Anggrek hitam adalah maskot flora propinsi Kalimantan Timur. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, anggrek hitam memiliki daya mistis. Masyarakat Dayak sangat menghormati anggrek hitam, mencurinya berarti merupakan pelanggaran terhadap hukum adat yang sulit terampuni. Saat ini, habitat asli anggrek hitam mengalami penurunan jumlah yang cukup besar karena semakin menyusutnya luas hutan di Kalimantan namun masih bisa ditemukan di cagar alam Kersik Luway dalam jumlah yang sedikit. Cagar Alam Kersik Luway di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, Kampung Sekolaq Darat, Kecamatan Melak dan Kecamatan Damai terkenal dengan tanaman beberapa jenis anggrek terutama jenis Anggrek Hitam atau Coelogyne Pandurata dan sudah terkenal baik nasional maupun dunia internasional. Diperkirakan jumlah yang lebih banyak berada di tangan para kolektor anggrek. (wikipedia).

Anggrek hitam tergolong tanaman langkah dan termasuk tanaman di lindungi di Indonesia. Walau namanya anggrek hitam atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai “Black Orchid”. sedangkan di Kalimantan Timur, Anggrek Hitam yang langka ini mempunyai nama lokal “Kersik Luai, bukan berarti bunga ini total warnanya hitam. Coelogyne Pandurata disebut Anggrek Hitam karena memiliki lidah (labellum) berwarna hitam (sehingga diberi nama Anggrek Hitam)dengan sedikit garis-garis berwarna hijau dan berbulu. Kelopaknya berwarna hijau muda. Daunnya sendiri sekilas mirip seperti daun pada tunas kelapa. Bunganya cukup harum semerbak dan biasa mekar pada bulan Maret hingga Juni.Bau dari anggrek ini cukup harum sehingga lalatpun menyukainya.

Populasi anggrek hitam (Coelogyne pandurata) di habitatnya yang liar semakin hari semakin langka. Meskipun menurut PP Nomor 7 Tahun 1999 anggrek ini dilindungi dan dilarang diperdagangkan bebas (kecuali hasil penangkaran), namun perburuan yang dilakukan untuk mengambil dan menjual jenis anggrek ini ke kolektor anggrek tidak kunjung mereda. Selain itu, mulai beralihnya fungsi hutan untuk perkebunan dan pemukiman serta terjadinya kebakaran hutan yang terjadi tiap tahun semakin membuat populasi anggrek hitam di alam liar semakin terancam kepunahan. Mungkin para pecinta dan kolektor anggrek sebelum membeli Anggrek hitam musti teliti, apakah anggrek hitam yang dibeli itu hasil penangkaran atau hasil perburuan dari alam liar. Meskipun banyak pecinta anggrek yang mengoleksi Anggrek hitam, tetapi kepunahan spesies ini di alam bebas tetap merupakan kerugian yang besar bagi biodeversity Indonesia. Jangan sampai para pecinta anggrek justru menjadi penyebab utama kepunahan Anggrek hitam di alam liar.

Coelogyne pandurata sendiri memiliki arti The scientific name is derived from the Greek words koilos (hollow) and gyne (woman), referring to the concave stigma, dan pandurata adalah biola, karena bentuk lidah bunga ini seperti biola. Meskipun Anggrek hitam (Coelogyne pandurata) identik dengan Kalimantan tetapi jenis anggrek ini selain tumbuh di hutan liar Kalimantan juga tersebar di Semenanjung Malaya di Malaysia, Sumatera, dan di Philipina di Mindanao, Luzon dan pulau Samar.

Ciri-ciri Angrrek Hitam. Jenis anggrek ini dinamakan Anggrek hitam lantaran memiliki lidah (labellum) berwarna hitam dengan sedikit garis-garis berwarna hijau dan berbulu. Jumlah bunga dalam tiap tandan antara 1 hingga 14 kuntum atau lebih. Garis tengah tiap bunga sekitar 10 cm. Daun Kelopak berbentuk lanset, melancip, berwarna hijau muda, panjang 5 – 6 cm, lebar 2 -3 cm. Daun mahkota berbentuk lanset melancip berwarna hijau muda bibir menyerupai biola, tengah-tengahnya terdapat 1 alur, pinggirnya mengeriting, berwarna hitam kelam atau coklat tua. Daun Anggrek hitam berbentuk lonjong berwarna hijau dengan panjang berkisar antara 40 – 50 cm dan lebar antara 2 -10 cm. Sedangkan buah Anggrek hitam berbentuk jorong dengan panjang sekitar 7 cm dan lebar antara 2 – 3 cm. Dari keseluruhan bunga tidak banyak yang menjadi buah.

Ciri khas anggrek hitam lainnya yang membedakan dengan jenis anggrek lainnya adalah mengeluarkan bau semerbak. Biasanya tanaman ini mekar pada Maret sampai Juni, ada juga yang mekar pada akhir tahun sekitar bulan Oktober sampai Desember. Anggrek hitam sebagaimana anggrek pada umumnya, tumbuh menumpang pada tumbuhan lain (epifit). Sebagai tumbuhan epifit, anggrek hitam hidup menempel pada batang kayu atau pohon, beberapa diantaranya tumbuh di lantai hutan pada batang kayu yang telah rebah. Biasanya anggrek langka ini menempel pada pohon tua yang hidup di daerah pantai atau rawa. Anggrek hitam (Coelogyne pandurata) tumbuh di tempat teduh. Umumnya jenis anggrek yang menjadi flora identitas Kalimantan Timur ini tumbuh di dataran rendah pada pohon-pohon tua, di dekat pantai atau di daerah rawa dataran rendah yang cukup panas dan dekat sungai-sungai di hutan basah. Tanaman yang epifit (hidup menumpang di tumbuhan lain) ini berkembang biak dengan dengan biji. Namun Anggrek hitam juga dapat dikembangbiakkan dengan cara memisahkan umbi semunya.

Jenis Klasifikasi :

Kingdom : Plantae
(unranked) : Angiosperms
(unranked) : Monocots
Order : Asparagales
Family : Orchidaceae
Subfamily : Epidendroideae
Genus : Coelogyne
Species : Coelogyne pandurata

BUDIDAYA BUNGA KERISAN POTONG

PENDAHULUAN

Krisan.jpgKrisan termasuk famili Asteraceae yang merupakan tanaman perdu, semusim ataupun tahunan.Tanaman hias krisan merupakan bunga potong yang mempunyai nilai jual tinggi, banyak diminati pasar karna potensial yang berdaya saing tinggi dan berprospek cerah.
Saat ini krisan termasuk bunga yang paling populer dan diminati di Indonesia karna memiliki keunggulan antara lain kaya warna dan dapat bertahan lama, tak lebih dari 70 varietas. Jumlah varietas krisan memang banyak tetapi yang ditanaman petani indonesia tidak lebih dari 40 varietas saja antara lain: krisan type standard dan krisan type spray. Adapun type standard yang sedang digemari  adalah  jenis fiji yellow, white, dark dan orange, krisan type standar jaguar red, ungu, standar pingpong, sedangkan revert, shenna select, minka, repertoire adalah krisan type standar bentuk jarum dll. Sedangkan krisan type spray antara lain  remix red, hawaian, bru reggi, euro speedy, monalisa, euro sunny & puma (bentuk kancing) dan type spray bentuk aster diantaranya reagon salmon, aisha red, reagan white, kermit, stroika dengan warna yang sangat beragam seperti, kuning, putih, hijau, merah, orange, ungu, dan pink.

Peluang mengembangkan budidaya krisan potong untuk memenuhi  kebutuhan pasar baik dalam maupun luar negeri akan tetap terbuka luas seiring permintaan bunga potong krisan yang semakin meningkat.

Apabila ingin mengembangkan budidaya bunga potong khususnya krisan ada baiknya untuk memahami betul tentang pengenalan tanaman krisan ini  karena pemeliharaannya yang tergolong gampang-gampang susah adapun yang harus  diperhatikan diantaranya  krisan adalah: tumbuh baik pada  ketinggian tempat 700 – 1200 m dpl, suhu udara untuk pertumbuhan (siang : 20-28 oC dan malam : 15-20 oC), kelembaban udara selama pertumbuhan awal 90 -95 %, dan setelah tanam, tingkat keasaman tanah pH 6,2 – 6,7  dan EC o,* mS/cm – 1mS/cm.

Namun meskipun tanaman krisan membutuhkan air yang memadai, tetapi tidak tahan terhadap terpaan air hujan. Oleh karena itu untuk daerah yang curah hujannya tinggi seperti di Cianjur, Bogor, Sukabumi, Lembang dan beberapa wilayah indonesia lainya, penanaman dilakukan di dalam bangunan rumah plastik, sedangkan untuk pembungaan membutuhkan cahaya menjelang pembungaan 70 – 80 %, tanaman hari pendek (masa vegetatif memerlukan periode malam yang panjang (>14.5jam) / berbunga bila penyinaran < 11 jam). Untuk produksi yang optimal perlu diberi tambahan cahaya buatan 3-4 jam pada malam 3,5 – 4,5 mg dari lampu TL dan lampu pijar.

SARANA PRODUKSI

  • Rumah naungan (green house).
  • Subsistem pencahayaan buatan.
  • Subsistem irigasi.
  • Bibit tanaman yang baik.
  • Sarana perlengkapan & perlindungan tanaman.
  • Sarana Transportasi
  • Sarana Grading & Packing
  • Sarana Penyimpanan Bunga (Cooling)

Krisan Bangunan.jpg

RUMAH NAUNGAN (GREEN HOUSE)

  • Struktur terbuat dari besi, kayu, bambu atau kombinasi.
  • Lebar kelipatan 6,4 m dan panjang kelipatan 3,7 m atau 3,9 m ideal maksimum 60 m.
  • Atap: plastik UV 200 micron (dengan kandungan UV retardant 6 – 12%).
  • Dinding :   Tunnel : Plastik
    Sere    : Screen mesh atau paranet

SUBSISTEM PENCAHAYAAN BUATAN

  • Lampu pijar dengan reflektor.
  • Instalasi 100 watt per 5 meter persegi.
  • Intensitas minimal pada titik tumbuh adalah 70 lux (diukur dengan lux-meter).
  • Pola pencahayaan adalah kontinyu atau cyclic system.
  • Pola pencahayaan cyclic lighting: (9’ ON 18’ OFF)

•         Jam:    22.00-22.09      22.09-22.18       22.18-22.27
•                     22.27-22.36      22.36-22.45      22.45-22.54
•                     dst                    dst                     dst. s/d 02.00
•         Blok A        ON       off        off
•         Blok B        off        ON       off
•         Blok C        off        off        ON

SUBSISTEM IRIGASI

  • Overhead irrigation (penyiraman dari atas). Keuntungannya: distribusi air lebih merata. Kerugiannya: bila tanaman sudah besar sulit utuk membasahi tanah dan RH menjadi tinggi yg bisa mengundang penyakit.
    -   Diberikan pada tanaman masih kecil (4-5 MST), selama daun belum saling menutupi.
    -   Minggu I tiap pagi hari.
  • Drip irrigation.
    Keuntungannya: tidak membasahi daun/bunga.
    Kerugiannya: distribusi kurang merata.
    -  Diberikan pada tanaman setelah daun saling menutupi
    -   Pemberian setiap 2-3 hari sekali.
    -   Pengecekan hasil penyiraman dengan mengecek langsung kedalaman tanah yang basah

BIBITKrisan Bibit.jpg

  • Bibit berasal dari tanaman induk yang sehat.
  • Kriteria bibit yang baik: seragam, higienis dan bebas dari OPT

-  sehat, bebas hama dan penyakit tanaman
-  bervigour baik
-  telah berakar merata dan kompak
-  jumlah daun 4 – 5 daun dan hijau
-  asal induk tidak tercampurBUDIDAYA

  • Persiapan lahan: perbaikan struktur tanah, sterilisasi, penambahan bahan organik, pemupukan dasar
  • pH 5,8 – 6,5.
  • Penanaman: dengan kerapatan 64 tan./m2 (musim hujan) dan 72 – 80 tan./m2 (kemarau).
  • Perlakuan hari panjang: selama 4 – 5 minggu setelah tanam.
  • Pemeliharaan: Penyiraman, Pemupukan, Peyiangan, Pemasangan Support, menaikan jaring, Pemberian ZPT, Disbudding, Pemberian “cup”, Pengendalian OPT

Persiapan Lahan

  • Pengecekan pHKrisan Lahan.jpg
  • Bila hasil pengecekan pH tanah rendah :
    -  Kapur                       : 100 -200 kg / 500 m2
    -  pH yang ingin dicapai kisaran 5,8 – 6,5.
  • Penambahan Bahan Organik  dengan :
    -  Pupuk Kandang      : 6 – 8 m3/ 500m2
    -  Sabut Kelapa          : 70 – 100 karung (7 m3) / 500m2
    -  Sekam Padi             : 70 – 100 karung (7 m3) / 500 m2
    -  Kapur                      : 100 -200 kg / 500 m2
    -  Bagas tebu (ampas tebu)
    -  Pupuk hijau
  • Pembajakan atau Penggarpuan:
    -  Bajak I  (Garpu)
    -  Bajak II (Garpu)
  • Pengolahan lahan ( rotari )
  • Bila secara visual banyak tanaman yang kena penyakit dilakukan “sterilisasi”  dengan :
    -  Bahan kimia : Basamid (dazomet), Nufam
    -  Istirahat lahan 3 – 4 minggu
    -  Perendaman
    -  Pemanasan (steaming)
    -  Formalin untuk bagian atas
  • Proses sterilisasi dengan bahan kimia sama seperti pada Persiapan Lahan untuk Tanaman Induk
  • Pasang drip irigasi
  • Pasang  jaring
  • Angkat tanah antar bedengan/ bedengan ditinggikan
  • Rapihkan bedengan,Cek drip irigasi & springkle/irigasi curah

Krisan Penanaman.jpg

Penanaman 

  • Siram basah sebelum tanam
  • Penanaman dengan kerapatan 64 tan./m2 (musim hujan) dan 72 – 80 tan./m2 (kemarau).
  • Pemasangan pola & tanda varietas
  • Seleksi bibit di Nursery : Hanya bibit krisan yang bervigour baik, berakar baik, bebas hama dan penyakit (HPT) yang dipilih.
  • Waktu penanaman dilakukan pada saat cuaca tidak panas atau sore hari


PEMELIHARAAN 
Krisan Penyiraman.jpg

Penyiraman 

  • Segera setelah tanam, dilakukan penyiraman dengan overhead irigasi atau gembor
  • Minggu I  : setiap pagi disiram dengan cara seperti di atas
  • Minggu II dan berikutnya : disiram 2 – 3 hari sekali dengan cara overhead selama daun belum saling menutupi.
  • Bila daun sudah saling menutupi penyiraman dilakukan dengan drip irigasi

PENYINARAN TAMBAHAN : Krisan Pencahayaan.jpg

  • Penyinaran tambahan untuk tipe spray 4 minggu, dan tipe standar 5 minggu.
  • Penyinaran diberikan segera setelah tanam selama 4 jam secara cyclic pada malam hari dari pukul 22.00 sampai pukul 02.00.

PEMUPUKAN :

  • Pemupukan
    -  Pola EC.      EC air & pupuk = 1
    -  Pola ppm
  • Pemupukan fase vegetatif  : (1200 ltr air/500m2)
    -  CaNO3         : 1130 gram
    -  KNO3           : 1620 gram
    -  MgSO4         :   470 gram
  • Pemupukan Fase generatif : (1200 ltr air/500m2)
  • Pemupukan dimulai umur 7 MST :
    -  CaNO3         : 940 gram
    -  KNO3           : 1790 gram
    -  KH2PO4       : 450 gram
    -  Urea             : 190 gram
  • Pemupukan dihentikan setelah bunga pertama telah memperlihatkan warna dan hanya diberikan air.

PENYIANGAN : Krisan Penyiangan.jpg

  • Penyiangan terhadap gulma (rerumputan) setiap saat biasanya dilakukan 1 – 2 minggu sekali, tergantung kondisi rumput.
  • Penyiangan dihentikan bila tanaman sudah saling menutupi, sehingga gulma tidak dominan lagi.

PEMASANGAN SUPPORT

  • Pemasangan Support/tiang penyangga jaring danmenopang tanaman dilakukan 3 minggu setelah tanam.

MENAIKAN JARING :

  • Penaikan jaring dimulai pada umur tanaman 4 MST, berikutnya umur 5,6,7,8,9 MST dan 10 MST. Menaikkan jaring sampai batas tertentu saja sehingga batang di bawah dan diatas jaring tidak bengkok dan tidak terlalu tinggi dan tidak menyulitkan pemanenan.
  • Dalam menaikkan jaring ini dibantu dengan support (tiang kecil)

PEMBERIAN HORMON PENGATUR TUMBUH (ZPT) Krisan POPT.jpg

  • Pemberian hormon ZPT (Alar) diberikan 2 kali selama masa penanaman : umur 7,9 minggu setelah tanam.

DISBUDDING :

  • Pembuangan kuntum bunga pertama (untuk bunga tipe spray) dan pembuangan kuntum bunga samping (untuk tipe standar).

PEMBERIAN ‘CUP’ : Krisan Cup.jpg

  • Pemberian cup (contong) untuk tipe standar.
  • Setelah di beri ‘cup’ segera dipanen.

PENGENDALIAN OPT :

  • Pengamatan dan analisa : 1 hari sebelum tindakan.
  • Pengendalian secara kimiawi dengan memperhatikan tepat pestisida, tepat dosis, tepat waktu, tepat aplikasi
  • Evaluasi hasil tindakan

Krisan Panen.jpg

PANEN & SERAH TERIMA DENGAN PASCA PANEN

  • Bunga tipe spray telah siap panen bila 3 – 5 kuntum bunga telah mekar.
  • Bunga tipe standar bila bunga telah mekar dengan permukaan bunga yang rata.
  • Pemanenan dengan cara dipotong dari pangkal batang atau dicabut, dikumpulkan dan diikat kain.
  • Serah terima dengan Pasca Panen

Krisan Transport.jpgKrisan Pasca Panen.jpg

Krisan Packing.jpg

artikel lain :

Budidaya Sansivera

Budidaya Bunga Kaktus
Budidaya Gladiol

Budidaya Bunga Tulip

Tanaman Biofarmaka

April 12, 2011 pukul 12:27 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

BUDIDAYA YANG BAIK

(GOOD AGRICULTURE PRACTICES)

PADA TANAMAN BIOFARMAKA


            Permintaan akan tanaman biofarmaka terutama pada tanaman obat rimpang cenderung meningkat, baik di dalam negeri maupun ekspor.  Peningkatan permintaan tersebut seiring dengan peningkatan jumlah penduduk serta kesadaran masyarakat akan norma budaya hidup sehat dengan memanfaatkan obat tradisional atau  back to nature.

            Saat ini sebagian besar usaha budidaya tanaman obat rimpang yang dilakukan oleh petani masih dalam skala kecil yaitu terbatas di lahan pekarangan,  memanfaatkan galengan/pematang sawah serta tumpangsari pada lahan tegalan yang budidayanyapun masih tradisional, sehingga produk yang dihasilkan belum dapat bersaing di pasar global.

            Menghadapi tuntutan konsumen pasar global  tersebut, petani dan pelaku usaha agribisnis tanaman obat rimpang sudah saatnya  terus memperbaiki cara budidaya melalui penerapan teknologi maju dan cara budidaya yang benar.  Oleh kerena itu penerapan Good Agriculture Practices (GAP) sebagai acuan dalam mengelola usaha budidaya pada tanaman obat rimpang  diarahkan dalam rangka tercapainya usaha produksi yang efisien dan berdaya saing, dihasilkannya produk bermutu yang aman dikonsumsi dan diproduksi atas dasar keberlanjutan serta kelestarian sumberdaya alam pertanian.

    Tujuan Penerapan GAP

1.      Meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman biofarmaka;

2.       Meningkatkan mutu hasil  termasuk keamanan konsumsi tanaman biofarmaka;

3.      Meningkatkan efisiensi produksi dan daya saing;

4.      Memperbaiki efisiensi penggunaan sumberdaya alam;

5.      Mempertahankan kesuburan lahan, kelestarian lingkungan dan sistem produksi yang berkelanjutan;

6.      Mendorong petani dan kelompok tani untuk memiliki sikap mental yang bertanggung jawab terhadap kesehatan dan keamanan diri dan lingkungan;

7.      Meningkatkan peluang dan daya saing penerimaan oleh pasar internasional maupun domistik;

8.      Memberi jaminan keamanan terhadap konsumen.

Ruang Lingkup GAP pada Tanaman Biofarmaka

Ruang lingkup Pedoman Budidaya yang Baik padaTanaman Biofarmaka  Rimpang meliputi :

  1. Manajemen Usaha Produksi
  2. Lahan dan media tanam
  3. Benih
  4. Penanaman
  5. Pemeliharaan
  6. Pemupukan
  7. Pengairan
  8. Perlidungan tanaman
  9. Panen
  10. Pasca Panen
  11. Penanganan limbah dan sampah
  12. Kesehatan, keamanan dan Kesejahteraan pekerja
  13. Kepedulian lingkungan.

Titik Kendali  GAP Pada Tanaman Biofarmaka

        Titik kendali adalah indikator penilaian terhadap penerapan GAP dilapangan yang diukur dari skor hasil penilaian, standar Wajib (W), Sangat Dianjurkan (SA) dan Anjuran (A).

         Penilaian tersebut diberikan kepada petani/pemilik kebun  atas usahatani yang dilakukannya, dengan memberikan sertifikasi (SISAKTI) setelah memenuhi persyaratan sebagai berikut :

1.      Prima Tiga (P-3), adalah peringkat penilaian yang diberikan terhadap pelaksanaan usaha tani  yang menghasilkan produk aman konsumsi.

2.      Prima Dua (P-2), adalah peringkat penilaian yang diberikan terhadap pelaksanaan usaha tani  yang menghasilkan produk aman konsumsi dan bermutu baik;

3.      Prima Satu (P-1), adalah peringkat penilaian yang diberikan terhadap pelaksanaan usaha tani  yang menghasilkan produk aman konsumsi, bermutu baik serta cara produksinya ramah lingkungan;

Tabel 1. Ketentuan Untuk Sertifikasi

Peringkat Hasil

Penilaian

Wajib (10 item)

Persentase

Sangat Dianjurkan  (45 item) dan Anjuran (13 item)

Persentase dari Skor Maksimum

Skor

Prima 3

100 %

Prima 2

100 %

75 %

≥ 77,25

Prima 1

100 %

90 %

≥ 92,90

Dari beberapa kegiatan dalam ruang lingkup GAP, yang merupakan titik kendali wajib dilaksanakan dalam penerapan GAP tanaman biofarmaka tersebut meliputi  :

1.      Sistem pencatatan dan terdekumentasi mulai dari proses produksi hingga ke konsumen

2.      Lahan harus bebas dari pencemaran limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3)

3.      Penggunaan kotoran dan urine binatang tidak boleh langsung digunakan dalam pemupukan dan harus melalui proses pengolahan/fermentasi

4.      Penyimpanan pupuk (organik dan anorganik dilakukan di tempat yang aman, kering dan terlindung serta terpisah dari hasil tanaman, benih dan pestisida

5.      Pestisida kimia yang digunakan harus terdaftar/mendapat izin resmi dari pemerintah

6.      Penggunaan pestisida kimia harus sesuai dengan instruksi label

7.      Penyimpanan pestisida harus dilakukan di tempat aman, kering dan terlindung serta terpisah dari hasil tanaman, benih dan pupuk

8.      Proses pencucian harus menggunakan air yang bersih sesuai baku mutu air untuk mencuci

9.      Penggunaan bahan kimia untuk penanganan pasca panen harus aman sesuai dengan tujuan dan prinsip keamanan pangan

10.  Pekerja pada saat melaksanakan proses produksi dan penanganan hasil harus dalam keadaan sehat dan tidak mengidap penyakit menular

Kunci Sukses GAP

    Kunci sukses penerapan GAP adalah sebagai berikut :

1.      SDM petani dan petugas yang memahami GAP dan Standar Operasional Prosedur (SOP)

2.      Komitmen petani dan petugas pendamping

3.      Jaminan pasar / kemitraan

4.      Sistem pencatatan yang baik

5.      Pendampingan penerapan GAP dan SOP serta pencatatan

6.      Lahan usaha ter-register.

Pedoman budidaya yang baik (Good Agriculture Practices) Tanaman Biofarmaka ini masih bersifat umum, belum  spesifik dan bersifat dinamis. Sedangkan aplikasi GAP dijabarkan pada Standar Operasional Prosedur (SOP).

Sumber : Revisi Pedoman Budidaya Tanaman

               Biofarmaka yang baik (Good Agriculture

               Practices. Dirjen Hortikultura. Deptan. (2008)

Teknologi Minyak Nilam

Budidaya Tanaman Jahe

Budidaya Tanaman Kencur

Budidaya Tanaman Temulawak

Budidaya Bahan Jamu Konvensional

Alsintan

April 12, 2011 pukul 12:27 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

ALAT DAN MESIN PENGOLAHAN TANAH

wikipedia Alat dan Mesin Pertanian

1. PENDAHULUAN

2. SISTEMATIKA   DAN  PROSES   PENGOLAHAN   TANAH

3. ALAT PENGOLAH TANAH

4. PENUTUP


I. PENDAHULUAN

 

Deskripsi singkat

 Menjelaskan metode, peralatan, kinerja mesin-mesin pengolahan tanah dan menguraikan prisip mekanika pada berbagai jenis alat pengolahan tanah.

Relevansi

Pemahaman tentang metoda-metoda pengolahan tanah, berbagai jenis peralatan yang digunakan untuk pengolahan tanah baik untuk lahan kering maupun lahan basah, kinerja dari peralatan pengolahan tanah dan uraian prisip mekanika pada alat pengolahan tanah ; sangat dibutuhkan bagi lulusan dalam pekerjaannya baik sebagai perencana maupun sebagai pelaksana dalam usaha manufaktur alat/mesin pengolahan tanah atau usaha pertanian yang memerlukan dukungan mekanisasi pertanian.

Tujuan instruksional khusus

Mahasiswa dapat menjelaskan metode, peralatan, kinerja mesin-mesin pengo-lahan tanah dan menguraikan prisip mekanika pada alat pengolahan tanah.

Pendekatan Histroris

Tercatat dalam sejarah bahwa sejak beribu-ribu tahun yang lalu pengolahan tanah telah dilakukan oleh sekelompok manusia dengan tujuan untuk meningkatkan produksi pertaniannya. Tenaga hewan digunakan untuk membajak tanah sejak 7000 tahun yang lalu. Pada penemuan arkeologi dan tulisan-tulisan kuno diketahui bahwa ada pendapat dimana membajak tanah dapat meningkatkan kesuburan tanah.

Dalam tulisan-tulisan ilmiah abad ke-19, bahasan mengenai pengolahan tanah agaknya bertitik tolak dari pandangan ini. Timbul banyak pertanyaan dengan cara bagaimana kesuburan tanah dapat ditingkatkan. Paling tidak dalam setengah abad pertama dari abad ke-20, terdapat dua pendekatan utama dalam penelitian-penelitian mengenai pengolahan tanah. Kelompok ilmuwan pertama mulai dengan mempertanyakan tentang kondisi tanah yang bagaimana yang cocok untuk pertumbuhan tanaman. Sementara kelompok kedua mempermasalahkan tentang cara terbaik untuk mengolah tanah. Kelompok pertama memperoleh jawaban antara lain bahwa pengolahan tanah dapat memperbaiki ketersediaan (availability) air dan udara di dalam tanah ; sementara kelompok kedua menemukan jawaban bahwa dengan pembajakan yang dalam dapat memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan pembajakan yang dangkal. Kedua pendapat ini masing-masing mempunyai kelemahan. Pada pertengahan abad ke-20 berbagai upaya dicoba untuk menggabungkan kedua pendekatan ini yaitu dengan mempelajari hubungan sebab akibat dari pengolahan tanah dan produksi tanaman.

Telah diketahui bahwa pengolahan tanah dapat merubah dan atau memperbaiki struktur tanah serta memberantas gulma. Perbaikan struktur tanah dengan pengolahan tanah diduga dapat berpengaruh baik pada pertumbuhan tanaman, meskipun pendapat tersebut sulit dibuktikan karena hanya melihat aspek fisik tanahnya saja. Yang pasti bahwa memberantas gulma akan memberikan keuntungan bagi pertumbuhan tanaman.

Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa penelitian-penelitian mengenai pengolahan tanah terbagi dalam dua aliran, yaitu aliran yang memberikan penekanan pada pengendalian gulma dan aliran yang memberikan penekanan pada perbaikan struktur tanah. Terlepas dari ada tidaknya pengaruh pengolahan tanah pada produksi tanaman, pengolahan tanah sampai kini tetap saja dilakukan petani paling tidak untuk mempermudah pekerjaan berikutnya.

Tujuan Umum

            Tujuan utama dari pengolahan tanah adalah menciptakan kondisi tanah yang paling sesuai untuk pertumbuhan tanaman dengan usaha yang seminimun mungkin. Selama ini tujuan tersebut seringkali dicapai dengan mengaplikasikan cara cut and try baik dalam mengembangkan metoda pengolahan tanah maupun mengembangkan atau memperbaiki disain peralatan pengolahan tanah yang sudah ada.
Pada situasi seperti ini maka diperlukan pengetahuan (knowledge) mengenai proses pengolahan tanah sehingga memungkinkan untuk memprediksi biaya dan hasil pengolahan tanah secara jelas dan efisien. Pengetahuan tersebut tidaklah mudah namun haruslah dimiliki (analisis). Begitu kompleksnya permasalahan yang dihadapi maka dalam analisis perlu dilibatkan berbagai cabang ilmu lainnya (sistematis). Dengan demikian dapat dikembangkan metoda untuk memprediksi apakah bentuk proses dapat berlaku atau tidak, dan bahkan dapat memprediksi informasi mengenai bentuk proses secara kuantitatif (prediksi). Telah banyak dipublikasikan artikel penelitian mengenai alat pengolahan tanah namun pada umumnya artikel tersebut hanya terbatas pada satu atau beberapa jenis alat dan beroperasi terbatas pada beberapa kondisi tanah saja.

Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari pengolahan tanah adalah sebagai berikut (Kepner, et al, 1972) :

  1. Menciptakan struktur tanah yang dibutuhkan untuk persemaian atau tempat tumbuh benih. Tanah yang padat diolah sampai menjadi gembur sehingga mempercepat infiltrasi a-h, berkemampuan baik menahan curah hujan memperbaiki aerasi dan memudahkan perkembangan akar.
  2. Peningkatan kecepatan infiltrasi akan menurunkan run off dan mengurangi bahaya erosi.
  3. Menghambat atau mematikan tumbuhan pengganggu.
  4. Membenamkan tumbuhan-tumbuhan atau sampah-sampah yang ada diatas tanah kedalam tanah, sehingga menambah kesuburan tanah.
  5. Membunuh serangga, larva, atau telur-telur serangga melalui perubahan tempat tinggal dan terik matahari.

Pengolahan tanah tidak hanya merupakan kegiatan lapang untuk memproduksi hasil tanaman, tetapi juga berkaitan dengan kegiatan lainnya seperti penyebaran benih (penanaman bibit), pemupukan, perlindungan tanaman dan panen. Keterkaitan ini sangat erat sehingga tujuan yang ingin dicapai dalam pengolahan tanah tidak terlepas dari keberhasilan dalam kegiatan lainnya. Pengolahan tanah mempengaruhi penyebaran dan penanaman benih. Pengolahan tanah dapat juga dilakukan bersamaan dengan pemupukan serta dianggap pula sebagai suatu metoda pengendalian gulma.

Berkaitan   dengan   sejarah   pengolahan   tanah   maka   perkembangan dalam tujuan  serta  metoda  pengolahan tanahnya  diikuti  pula dengan perkembangan   dalam   disain peralatan baik dari segi bahan maupun bentuk alat. Banyak bukti  menunjukkan  bahwa  bajak ringan  terbuat dari kayu telah digunakan secara besar-besaran di daerah Euphrates dan Nile Rivers sekitar tahun  3000  B.C. bahkan  digunakan sebagai tenaga   penggerak/penarik peralatan pertanian, menyiapkan tanah untuk penanaman Barley,    Wheat dan lain-lain tanaman yang populer pada jaman itu.  Bajak yang digunakan   pada   waktu itu tidak beroda  atau  bajak singkal  yang digunakan  untuk  membalik   tanah  dan  membuat   furrow. Paling tidak peralatan tersebut dapat berfungsi  memecahkan tanah dan   untuk menutup benih. Contoh bajak yang  terbuat dari kayu dari Mesir diperlihatkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Bajak kayu kuno di Thebes, Mesir pada 300 B.C.

Lebih dari 2000 tahun yang lalu ditemukan bajak terbuat dari besi yang diproduksi di Honan utara China. Pada awalnya alat ini berupa alat kecil yang ditarik dengan tangan dengan plat besi berbentuk V yang dihubungkan atau digandengkan dengan pisau kayu dan pegangan. Selama abad pertama B.C., kerbau digunakan untuk menarik peralatan pengolahan tanah. Selanjutnya secara berturut-turut dikembangkan alat yang disebut triple-shared plow, plow-and-sow dan garu.

Bajak telah digunakan juga di India selama beribu-ribu tahun. Peralatan kuno tidak beroda dan moldboard terbuat dari kayu keras (wedge-shaped hardwood blocks) yang ditarik oleh sapi (bullock). Dengan alat ini tanah hanya dipecahkan kedalam bentuk clods tetapi tidak dibalik; dan pengolahan pertama ini kemudian diikuti dengan penghancuran “clod” dan perataan tanah dengan alat barupa batang kayu berbentuk empat persegi panjang yang ditarik oleh sapi.
Pisau bajak besi muncul di Roma pada kira-kira 2000 tahun yang lalu sebagaimana pisau coulter. Pada waktu itu masih belum juga ditemukan bajak singkal yang berfungsi membalik tanah. Pada tanah yang berat dan keras, pisau bajak besi ini ditarik oleh sekelompok sapi jantan (oxen). Ada laporan yang menyatakan bahwa bajak yang dilengkapi dengan roda ditemukan di Itali utara pada sekitar tahun 100 A.D.

Suatu alat yang lebih lengkap, terdiri dari roda, coulter pemotong dan moldboard digunakan di Eropa pada tahun 1500 A.D. seperti tertera pada Gambar 2. Peralatan ini dapat digunakan untuk membalik tanah dan membuat furrow dan kasuran benih.

Gambar 2. Bajak beroda dua dengan coulter dan moldboard, ditemukan pada  abad ke-16 di Eropa

Pada kira-kira tahun 1830, John Deere terdorong untuk mengembangkan bajak baja dengan pisau dan moldboard untuk mengatasi masalah pengolahan tanah-tanah organik di Amerika. Peralatan yang ditarik oleh hewan mulai menyusut jumlahnya sejak ditemukannya traktor bertenaga uap pada sekitar tahun 1860.

2.   SISTEMATIKA   DAN  PROSES   PENGOLAHAN   TANAH

Alat dan Komponen Operasi

Peralatan pengolahan tanah dan roda yang terpasang pada traktor, harvester, trailer dan sebagainya memperlihatkan sejumlah bentuk dan dimensi. Uraian ini hanya akan dibatasi pada komponen yang berhubungan dengan tanah secara langsung, seperti dasar bajak (bottom-plow), chisel. dan alat lainnya termasuk roda. Komponen-komponen tersebut biasanya disebut sebagai komponen operasi (operating tools). Lebih lanjut uraian ini juga hanya akan terbatas pada komponen operasi yang bekerja dengan kecepatan konstan pada lintasan horisontal dan tidak terpengaruh oleh komponen operasi lainnya yang bekerja disekitarnya.

Pengolahan Tanah dan Pembebanan

Proses pengolahan tanah yang melibatkan faktor-faktor seperti alat, pengatur alat dan tanah akan terlihat selama alat tersebut bekerja pada tanah. Proses ini meliputi gerakan dan gaya pada tanah sebagai akibat dari kerja alat pada saat itu. Pada kegiatan pengolahan tanah terdapat dua proses/kejadian yang berlangsung secara bersamaan ataupun terpisah yaitu, pemotongan/penggemburan tanah dan pembebanan pada tanah. Proses penggemburan adalah proses yang berhubungan dengan pemecahan/pemisahan suatu massa tanah menjadi agregat tanah yang berukuran lebih kecil seperti yang dihasilkan dari pekerjaan pembajakan, penggaruan dan sebagainya. Proses pembebanan adalah proses yang berhubungan dengan sifat-sifat tanah seperti menaiknya kekuatan tanah (soil strength) sebagai  akibat lintasan  roda,  land rollers dan sebagainya.

Pengantar Proses Pengolahan Tanah

Berikut ini akan disajikan gambaran secara skematik mengenai proses pengolahan tanah secara sederhana. Gambar 3. menunjukkan penampang vertikal dari tanah (a) dan proses yang terjadi pada tanah (b). Dalam hal ini tanah dianggap terdiri dari elemen-elemen (massa tanah berbentuk kubus) yang digambarkan dalam bentuk mesh pada Gambar. Ukuran dari elemen-elemen ini haruslah sekecil mungkin sehingga tekanan (stress) pada setiap sisi dari elemen tersebut akan tersebar merata. Pada proses
pengolahan tanah banyak diantara elemen tersebut pecah.

http://web.ipb.ac.id/~tepfteta/elearning/media/Teknik%20Mesin%20Budidaya%20Pertanian/Alat%20Pengolahan%20tanah/movie/flash/bajak.swf
Gambar.3. Pemecahan suatu volume tanah pada proses penggemburan

Pemecahan tanah melibatkan fenomena fisika-mekanika sebagai berikut, yaitu : pada satu elemen dan pada suatu skala mikro, pembebanan akan menyebabkan tekanan pada tanah dan dalam keadaan tertentu tegangan yang timbul tidak tersebar secara merata tetapi terkonsentrasi pada beberapa lokasi pada kumpulan elemen tersebut. Tekanan ini akan menyebabkan pecahnya ikatan antara partikel-partikel tanah pada lokasi-lokasi tersebut.

Pada umumnya konsentrasi dari tekanan tinggi akan diikuti dengan konsentrasi tegangan basar yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya peruntuhan (failure). Gambar  4 menunjukkan konsentrasi deformasi tanah sebagai akibat dari konsentrasi tekanan.  Pemecahan  elemen  terjadi  akibat penetrasi  kerucut (cone) kedalam blok tanah yang berkelanjutan sampai terjadi pemecahan clod oleh beban vertikal tersebut. Gambar 5 selanjutnya menunjukkan bahwa meningkatnya tekanan menghasilkan deformasi dalam bentuk pemadatan (compaction) terutama apabila tanah dalam kondisi lemah. Untuk keperluan tertentu pemadatan diperlukan untuk memperkuat bagian tanah yang lemah.     Bila tekanan terus ditingkatkan maka proses pemadatan akan terjadi pada seluruh bagian/elemen tanah. Gambar 5b dan 5c menunjukkan deformasi yang tidak stabil. Elemen volume pada Gambar 5b mengalami pembebanan tanpa adanya penyangga lateral   sehingga  kemungkinan terjadi pemadatan searah. Apabila beban ditingkatkan maka  elemen akan memendek yang mempengaruhi pergerakan relatif antara partikel. Oleh karena tanah pada mulanya memang sudah dalam keadaan padat maka pergerakan relatif    tersebut akan menimbulkan sedikit penggemburan pada kemasan. Penggemburan ini terjadi khususnya pada bagian yang paling lemah dari elemen yang bahkan juga menyebabkan bagian tersebut semakin lemah. Pada pembebanan lebih lanjut, deformasi dan penggemburan akan lebih terkonsentrasi pada bagian tersebut yang pada akhirnya terjadi keruntuhan lokal.

Deformasi yang terjadi apakah stabil atau tidak akan sangat tergantung pada bentuk tegangan (stress state) dan karakteristik dari tanah. Karakteristik dari tanah mempunyai dua arti dalam kaitannya dengan stabilitas, karena bentuk tegangan dalam suatu proses pengolahan tanah juga dipengaruhi oleh sifat tanah : pada tanah yang sangat plastis, deformasi yang berlebihan kadang-kadang menghambat adanya bentuk tegangan sebagaimana disebut favor unstable phenomena.

Gambar 4. Konsentrasi deformasi yang disebabkan oleh konsentrasi tekanan

Catatan Historis Studi Proses Penggemburan Tanah

Dari studi literatur diketahui bahwa penelitian yang berhubungan dengan proses penggemburan tanah lebih terpusat pada peralatan berikut : “Tine” dan Bajak.
Alat Tine mewakili kelompok alat dengan bentuk sederhana dengan ukuran dan fungsi tertentu, sedangkan bajak mewakili kelompok alat yang berbentuk kompleks, memiliki kurvatur dan bentuk tidak simetris lainnya. Untuk tujuan penyederhaan, dalam uraian proses dan sistematika pengemburan tanah, kedua alat ini dianggap mewakili kelompok alat pengolahan tanah yang ada.

Gambar 5. Deformasi tetap (a) dan tidak tetap (b dan c).

Untuk masing-masing kelompok, penelitian dikembangkan menurut jalur yang jelas dan mudah dimengerti dengan mempertimbangkan karakteristik dari proses. Penelitian penggemburan tanah dengan alat Tine dimulai dengan mengamati proses dan perilaku pemecahan tanah oleh Tine dan waktu kejadiannya. Hal ini mengarah pada teori mekanika tanah klasik yang bermanfaat dalam memprediksi “draft”. Meskipun para peneliti menyadari bahwa masalah pada alat Tine berkaitan dengan karakteristik dinamik, namun untuk waktu yang lama penelitian masih saja terkonsentrasi pada mekanika tanah yang statik ; dan tidak sampai tahun 1967 diadakan sintesis antara karakteristik statik dan dinamik (Vornkahl, 1967). Proses penggemburan dengan bajak dirasakan sangat kompleks oleh para peneliti dan hal ini terlihat pada banyaknya dikembangkan model-model yang hanya mendemonstrasikan sebagian dari proses (Nichols dan Kummer, 1932 ; Doner dan Nichols, 1934 ; Gupta dan Pandya, 1967) .

Uraian lebih lanjut tidak akan menggunakan skema di atas tetapi akan didasarkan pada pendekatan aplikasi praktis.
Apabila tanah hendak digemburkan maka diperlukan suatu alat yang dioperasikan pada tanah. Alat tersebut dinamakan “Tine” apabila efek penggemburan yang dicapai lebih diutamakan dibandingkan dengan lebar alat. Sedangkan alat operasi akan disebut “bajak” bila efek penggemburan terutama dibatasi pada tanah sebatas lebar alat operasi. Definisi ini memberikan implikasi bahwa sebenarnya tidak ada batasan yang jelas antara tipe-tipe alat dimana masing-masing mempengaruhi tanah dalam batas kelebaran alat dan juga irisan tanah di luar alat. Terlepas dari nama alat operasi tersebut, yang terpenting untuk dibahas adalah fenomena yang terjadi selama kedua alat tersebut bekerja. Pada prinsipnya fenomena yang terjadi di depan alat Tine sama dengan yang terjadi pada alat bajak.
Beberapa perbedaan penting yang dapat ditunjukkan adalah :

- Untuk hasil penggemburan yang sama per satuan jarak, ternyata Tine akan lebih sederhana dan lebih murah daripada bajak.
- Penggemburan tanah dengan alat bajak umumnya bersifat kontinyu untuk menjaga kontinuitas dari aliran tanah pada badan alat.
- Alat bajak mempunyai kemungkinan yang lebih baik dalam hal kontrol proses ; sehingga pemindahan tanah dengan alat bajak disebut sebagai “terkontrol” sedangkan pemindahan tanah dengan alat Tine disebut pemindahan “acak”.

Sistematika dan Proses Pengolahan Tanah dengan Alat Tine

Pada pengolahan tanah dengan Tine, tipe tanah, ukuran Tine dan kecepatan operasi menentukan bentuk proses yang terjadi.
Gambar berikut ini menunjukkan beberapa tipe dan bentuk Tine yang umum digunakan. Ciri-ciri Tine tersebut adalah sebagai berikut :

- Tine A : lurus, vertikal dan tanpa profil
- Tine B : lurus, posisi agak ke depan dan tanpa profil
- Tine C : lurus, posisi agak ke belakang dan tanpa profil
- Tine D : lurus, sangat condong ke belakang dan tanpa profil
- Tine E : lurus, sangat condong ke depan dan tanpa profil
- Tine F : lurus, vertikal dan berbentuk wedge
- Tine G : melengkung dan tanpa profil

Gambar 6. Beberapa bentuk Tine

Proses dan sistematika pengolahan tanah dengan Tine yang umum adalah seperti yang ditunjukkan pada Gambar 6. Sebuah Tine bekerja pada suatu blok tanah dimana di depan Tine terdapat roassa tanah yang padat dan mudah dibedakan dengan tanah di sekitarnya. Massa tanah ini disebut sebagai soi1-wedqe yang pada gambar ditunjukkan oleh A, B, C, D, E, F. Permukaan G, H, I, J, K, C, B, A,G adalah pembatas antara tanah olahan dengan tanah sekitarnya. Tanah gembur yang berada di depan dan di samping wedge adalah tanah yang baru terolah dan selanjutnya disebut crescent soil. Pada blok tanah, Tine membentuk sebuah furrow yang kemudian terisi lagi oleh tanah olahan, tetapi di belakang Tine selalu terbentuk parit kecil. Sebagian dari tanah olahan terlempar keluar dari garis H, L dan J, M dan lainnya terlempar ke atas permukaan tanah yang belum terolah.

Bidang yang melalui N, B, I, P adalah bidang vertikal simetris yang melalui Tine yang searah dengan arah operasi. Pada saat tertentu (waktu t), C, E, B, F merupakan satu sisi dari wedge dan C, B, I, M adalah setengah dari bidang pembatas antara tanah yang belum terolah dan tanah olahan yang beada di depan Tine. Dengan bergeraknya Tine ke kanan, permukaan C, B,  I, M akan dibebani oleh tanah dari bawah wedge dan tanah olahan yang berada di depan Tine. Pada waktu tertentu (waktu t’), beban pada C, B, I, M menjadi sangat besar sehingga menyebabkan keruntuhan sepanjang permukaan keruntuhan baru C’, B’, I’, M’ dan tanah dari C, B, I, M, C’, B’, I’, M’ sebagian akan bergabung dengan wedge dan sebagian lagi dengan tanah olahan. Apabila Tine bergerak lebih ke dapan maka proses tersebut akan terulang.

Selama Tine bergerak maju, soil wedge secara perlahan akan bergerak ke atas dan bagian atas akan pecah dan terbuang ke samping dengan interval yang teratur. Ada tanah olahan yang berada di depan dan di samping Tine yang terangkut ke depan, ke atas dan ke samping dan ada sebagian tanah olahan yang terbuang ke furrow di belakang Tine.

http://web.ipb.ac.id/~tepfteta/elearning/media/Teknik%20Mesin%20Budidaya%20Pertanian/Alat%20Pengolahan%20tanah/movie/flash/01.swf
Gambar 7. Proses pemotongan tanah dengan Tine.

Soil Wedge : Soil wedge yang bergerak ke atas akan terisi kembali dengan tanah yang berasal dari bagian bawah lapisan olah. Tanah tersebut terdiri dari tanah padat ; kerapatan pada bagian samping Tine lebih tinggi dari pada yang berada ujung depan. Bentuk wedge hampir mengikuti bentuk pada Gambar 7 dengan bentuk melingkar pada bagian pembatas. Kecepatan bergeraknya wedge kearah atas berfluktuasi. Kadang-kadang wedge atau sebagian dari wedge cenderung melekat pada Tine. Pada beberapa literatur, tanah yang lengket pada Tine kadang-kadang disebut sebagai cone. Pembentukan cone yang jelas dapat terjadi pada kecepatan operasi rendah dan atau pada keadaan dimana sudut gesekan antara tanah dan bahan (soil-metal friction angle) besar.

Crescent Soil : Derajat kegemburan crescent soil ini sangat bervariasi. Kasus ekstrim terjadi apabila sesudah pemotongan, terjadi sedikit atau mungkin tidak terjadi penggemburan tanah pada C, B, I, M,C’, B’, I’, M’. Selanjutnya bongkahan tanah yang baru terbentuk akan tetap seperti bentuk crescent soil (Payne, 1956). Akan tetapi dalam banyak kasus, penggemburan lanjutan akan terjadi terutama pada kecepatan tinggi dan pada tanah yang heterogenitasnya besar (Payne, 1956).,

Furrow : Geometri furrow disajikan pada Gambar 8. Gambar 9 menunjukkan bahwa makin dalam pengolahan tanah maka lebar furrow makin kurang tergantung pada kedalaman pengolahan. Lebar furrow sedikit bertambah dengan meningkatnya kecepatan. Jarak antara Tine dan ujung furrow untuk beberapa jenis tanah ditunjukkan pada Gambar 10. Tanah gembur hasil pengolahan yang didorong oleh Tine, sebagian jatuh ke belakang ke dalam furrow dan sebagian lagi tertinggal di luar furrow di atas permukaan tanah yang belum terolah. Biasanya pada bagian tengah furrow terbentuk alur (trench) kecil dengan bedengan kecil di sisi lainnya. Apabila tidak terbentuk banyak crescent, maka clod tanah akan memiliki bentuk dan posisi yang seragam dalam pola yang teratur, seperti yang ditemukan oleh Payne (1956).

Gambar 8. Bentuk furrow pada pengolahan dengan Tine A

Gambar 9. Lebar furrow sebagai fungsi kedalaman Tine (O’Callaghan dan Farraelly, 1964)

Gambar 10. Jarak x sebagai fungsi kedalaman Tine (Payne, 1956)

Pada pengolahan dengan Tine B ; pada dimensi Tine, sifat-sifat tanah dan kecepatan maju tertentu, gerakan Tine adalah yang berperan merubah tanah menyebabkan sedikit atau bahkan tidak terjadi keruntuhan tanah permukaan (Payne, 1956, Payne dan Tanner, 1959). Tanah mengembang ke samping dan di depan Tine. Tipe proses dengan Tine ini mungkin terlalu ramping untuk mendorong tanah cukup jauh agar dapat menyebabkan terjadinya keruntuhan pada permukaan dan atau tanahnya yang memerlukan perubahan yang besar sebelum terjadinya keruntuhan. Pasir yang relatif kaku memerlukan Tine yang ramping untuk berlangsungnya tipe proses ini dibandingkan dengan jenis-jenis tanah lainnya.

Sistematika dan Proses Pengolahan Tanah dengan Bajak

Proses yang terjadi pada pengolahan tanah dengan bajak dapat diasumsikan terdiri dari beberapa bagian proses. Untuk alat ini, proses yang terjadi terdiri dari proses intake, main flow dan output.
Proses intake merupakan proses dimana suatu bagian/lapisan tanah dipisahkan dari bagian utamanya. Proses main flow adalah proses yang terjadi selama tanah bergerak sepanjang bagian alat (plough-body). Proses output mencakup perubahan yang terjadi setelah irisan tanah terlepas dari alat. Sebagai contoh, pada Gambar 11 disajikan beberapa karakteristik bajak dengan batasan masing-masing proses : a-h disebut sebagai bajak 2-diraensi dengan ciri-ciri sebagai berikut : 1) lebar tidak terbatas, 2) mempunyai cutting edge horisontal yang selalu tegak lurus terhadap  arah kerja.

Dalam hal ini proses tidak bervariasi sepanjang arah horisontal yang tegak lurus dengan arah kerja, bila efek keragaman tanah tidak diperhitungkan. Pada bajak 2-dimensi, karakteristik yang penting adalah bentuk permukaan, sudut potong, dan kedalaman pengolahan yang berkaitan dengan ukuran seperti ketinggian alat. Apabila masing-masing dari ketiga karakteristik ini, dipilih dua katagori maka akan ada delapan bajak standar sesuai dengan yang tercantum pada Tabel 1.

Tabel 1. Karekteristik Bajak  2-dimensi

Bajak lain yang ditunjukkan pada Gambar 11. lebih banyak dikenal penggunaannya pada pertanian, yaitu : bajak singkal, rotary, sweep, bajak pemanen kentang. Pada gambar terlihat bahwa A, B, dan C masing-masing menunjukkan proses intake, main flow dan output. Ternyata tidak semua bagian proses dapat dilihat secara jelas pada setiap alat.

Proses Intake : Bentuk-bentuk proses intake dikatagorikan sebagai berikut.

  • Intake dengan keruntuhan bidang potong : keruntuhan permukaan terjadi dan tegangan normal bekerja pada hampir seluruh bagian permukaan (Gambar 12a).
  • Intake dengan pemotongan tetap : keruntuhan permukaan tanah tidak atau jarang terjadi (Gambar 12 b) .
  • Intake dengan retak terbuka : keretakan terjadi mulai dari ujung pisau bajak sampai pada batas penetrasi, wedge (Gambar l2c) .
Gambar 11. Beberapa bentuk bajak (A=intake, B= main flow, C= output)

Pada katagori pertama, mata pisau bajak mencoba mendorong tanah ke arah atas yang menyebabkan meningkatnya tegangan pada bagian tersebut. Segera setelah tegangan ini menjadi sama besar dengan kekuatan tanah (soil strength) yang merupakan penjumlahan gaya kohesi tanah dan gaya gesekan dalam, maka bidang keruntuhan mulai terbentuk dan merembet secara cepat ke permukaan tanah. Bidang keruntuhan memisahkan bongkahan tanah dimana bongkahan tanah tersebut selanjutnya bergerak ke atas sepanjang alat, tetapi masih dalam kondisi padat. Setelah proses pemisahan selesai yaitu setelah tegangan melampaui kohesi dan gesekan dalam maka tahanan pemotongan akan turun sampai akhirnya naik kembali akibat gaya dorong/kerja alat. Proses ini berulang kembali sampai terbentuk bongkahan berikutnya (Sohne, 1956).

Pada katagori kedua, setiap elemen volume tanah mengalami deformasi yang memungkinkan irisan tanah tersebut mengikuti perubahan sesuai dengan arah kerja alat tanpa mengalami pecah.

Pada katagori ketiga, mata bajak masuk ke dalam tanah dan menyebabkan timbulnya tegangan di dalam tanah, yang pada waktu tertentu akan mulai timbul retakan. Kejadian tersebut akan berlanjut ke arah horisontal yang sekaligus membuka lintasan bagi pisau bajak.

Gambar 12. Proses intake

Pisau menembus masuk ke dalam retakan seperti wedge, sehingga retakan terus terjadi. Arah penyebaran retakan tidak tetap. Pada keadaan tertentu arah retakan lebih banyak ke bawah dan ke atas, sehingga mata pisau tidak dapat lagi beroperasi raenurut lintasan retakan tetapi harus raenembus bagian tanah padat seperti semula. Pada waktu itu kecepatan pembentukan retakan raenurun dan seringkali pada waktu tertentu kecepatan ini menjadi nol. Dengan dimulainya kembali penetrasi pisau bajak pada tanah padat (utuh) maka periode baru dari proses intake dimulai kembali.

Jadi pada proses intake, ada masanya dimana mata pisau menembus atau memotong tanah baru (utuh) dan adakalanya berkerja sebagai wedge sebagaimana retak yang biasanya berlanjut secara kontinyu dengan arah yang berubah-ubah. Batas gerakan dan gerak pembentukan retakan dapat saling mempengaruhi sehingga memungkinkan timbulnya fenomena berikut, yaitu terbentuknya lubang atau saluran di bagian dasar furrow dan irisan yang tertinggal di bawah furrow serta irisan yang tertinggal pada proses main flow.

Proses Main Flow :  Bentuk dasar dari main flow   adalah ditentukan oleh variasi cekungan (kurvatur) pisau bajak. Berikut ini diperlihatkan beberapa contoh variasi cekungan bajak : -

  • Pisau bajak dengan sudut cekungan yang makin membesar pada bagian tepi.
  • Pisau bajak  dengan sudut cekungan yang makin mengecil pada bagian tepi.
  • Pisau bajak dengan sudut cekungan konstan.

Pada bajak dengan sudut cekungan makin membesar pada bagian tepi, proses main flow yang berlangsung adalah sebagai berikut. Tanah yang berasal dari proses intake dipindahkan ke proses output melalui proses main flow. Selama proses main flow, tanah dapat juga mengalami perubahan. Bentuk dari irisan yang dihasilkan oleh proses main flow ditentukan oleh proses intake. Apabila proses intake termasuk katagori pemotongan tetap, maka irisan tanah akan bersifat kontinyu. Suatu proses intake yang disertai dengan garis keruntuhan akan menghasilkan irisan tanah yang terdiri dari potongan-potongan tanah, bergerak dengan dipisahkan oleh garis-garis keruntuhan yang paralel satu sama lain. Apabila terbentuk retakan terbuka selama proses intake maka biasanya main flow akan menerima irisan tanah yang mengalami retakan pada bagian bawah. Bagian atas irisan tanah yang menghubungkan bagian irisan tanah yang mengalami retakan disebut sebagai “hinges”.

Terdapat tiga tipe irisan tanah yang akan melalui proses main flow, yaitu (Gambar 13) :

  • Irisan tanah utuh, tidak mengalami pecah (I)
  • Irisan tanah yang dihubungkan dengan hinges (II)
  • Irisan tanah dengan gerak potongan tanah sinkron (III)

Irisan tipe I : tanah yang masuk pada proses main flow tidak mengalami pecah. Apabila terjadi kontak penuh antara bagian dasar irisan tanah dengan permukaan bajak,’ maka seluruh bagian irisan tanah ini akan mengalami deformasi karena sudut cekungan bajak tidak konstan. Pada keadaan tertentu sangat mungkin terjadi kehilangan kontak antara irisan tanah dan permukaan bajak sehingga terbentuk retakan pada bagian bawah irisan tanah, seperti terlihat pada Gambar 14.

Gambar 13. Tipe Main Flow

Irisan tipe II : apabila irisan tanah yang masuk ke main flow terdiri dari potongan-potongan tanah yang disatukan oleh hinges, dan ternyata ikatan tersebut tidak lebih lemah dari ikatan masing-masing potongan tanahnya, maka perilaku irisan tanah itu akan sama dengan perilaku irisan tanah tipe I (unbroken strip). Apabila hinges jauh lebih lemah dari ikatan potongan tanah di bawahnya maka setiap perubahan pada sudut cekungan akan diserap seluruhnya oleh hinges sehingga potongan-potongan tanah akan bergerak seperti benda kaku sepanjang pisau bajak. Oleh karena sudut cekungan membesar, maka retakan di bawah hinges akan makin melebar. Biasanya retakan yang menghasilkan hinges terbentuk dari dasar irisan mengarah ke depan dan ke atas, dan potongan tanah akan terbentuk menurut pola ini.

Irisan tipe III : Apabila proses intake menghasilkan suatu set potongan tanah yang bergerak paralel satu dengan lainnya, maka gerakan paralel ini akan dipertahankan seterusnya sepanjang pisau bajak dan akan tetap paralel meskipun terjadi perubahan pada cekungan permukaan alat. Bila gaya tarik menarik atau daya ikat antara potongan tanah lemah pada pisau yang memiliki cekungan, maka bagian dasar dari potongan ini akan meremah dan mengisi/ menempati cekungan pisau bajak. Selanjutnya permukaan pisau bajak akan berubah kira-kira menjadi sama dengan pisau datar tanpa cekungan, dan potongan tanah tidak lagi bergerak paralel satu dengan lainnya (Gambar 14 ).

Gambar 14. Retakan yang terbentuk karena tidak terjadi kontak antara permukaan pisau dan tanah

Gambar 15. Kelengketan tanah (sticking) pada permukaan

Gambar 16. Proses pengisian tanah pada cekungan pisau

Pada bajak dengan sudut cekungan mengecil pada bagian tepi, proses main flow yang dialami untuk tipe irisan I, II dan III juga berlaku. Khusus untuk tipe irisan II berlaku :

  • retakan di bawah hinges mengikuti gerakan irisan sepanjang bajak.
  • jatuhnya potongan tanah jauh lebih sedikit.

Main flow pada bajak dengan sudut cekungan konstan mengalami proses seperti yang terjadi pada irisan tipe III. Meskipun sudut cekungan tidak konstan, gerakan relatif dari potongan tanah adalah tetap dengan mengikuti perubahan cekungan tanpa terjadi rotasi pada potongan-potongan tanah. Akan tetapi bila main flow menerima irisan tanah utuh atau irisan yang diikat oleh hinges, maka tipe proses yang terjadi tidak melibatkan deformasi bila irisan tanah mengikuti bentuk permukaan bajak.

Proses Output : Merupakan proses perubahan yana terjadi pada saat tanah meninggalkan bajak, Apabila tanah masih berbentuk irisan pada saat meninggalkan bajak maka tanah tersebut akan mengalami tegagan yang besar pada penampang ujung irisan. Pada kepanjangan tertentu irisan tanah tersebut akan pecah dan terputus. Bila keruntuhan permukaan telah selesai, maka terbentuk potongan-potongan tanah yang akhirnya jatuh bebas. Biasanya potongan tanah ini mempunyai bentuk dan dimensi yang berbeda dengan potongan tanah yang terbentuk pada proses intake dan main flow.

Lamanya pembentukan potongan-potongan tanah pada proses pemecahan sangat tergantung pada kekuatan tanah (soil strength) dan derajat peremahan (weakening) yang terjadi pada proses intake dan main flow. Gambar 17 memperlihatkan bentuk dan ukuran potongan-potongan tanah yang terbentuk pada saat tanah meninggalkan bajak. Pada Gambar terlihat retakan yang terbentuk selama proses intake dan main flow digambarkan dengan garis tebal, sedangkan retakan yang terjadi pada saat tanah meninggalkan bajak digambarkan dengan garis putus-putus. Notasi a, b, c, d dan e menunjukkan perbedaan dalam hal pembentukan retakan baik jumlah maupun jaraknya. Potongan tanah yang panjang pada Gambar d adalah merupakan output dari irisan tanah yang berkohesi tinggi.

http://web.ipb.ac.id/~tepfteta/elearning/media/Teknik%20Mesin%20Budidaya%20Pertanian/Alat%20Pengolahan%20tanah/movie/flash/03.swf http://web.ipb.ac.id/~tepfteta/elearning/media/Teknik%20Mesin%20Budidaya%20Pertanian/Alat%20Pengolahan%20tanah/movie/flash/04.swf

http://web.ipb.ac.id/~tepfteta/elearning/media/Teknik%20Mesin%20Budidaya%20Pertanian/Alat%20Pengolahan%20tanah/movie/flash/05.swf http://web.ipb.ac.id/~tepfteta/elearning/media/Teknik%20Mesin%20Budidaya%20Pertanian/Alat%20Pengolahan%20tanah/movie/flash/bjkoklg.swf

Gambar 17. Bentuk dan ukuran potongan tanah pada proses output.

3. ALAT PENGOLAH TANAH

Sebagaimana diuraikan di atas bahwa pengolahan tanah adalah suatu usaha untuk mempersiapkan lahan bagi pertumbuhan tanaman dengan cara menciptakan kondisi tanah yang siap tanam. Walaupun pengolahan tanah sudah dilakukan oleh manusia sejak dahulu kala dan sudah mengalami perkembangan yang demikian pesat baik dalam metode maupun peralatan yang digunakan, tetapi sampai saat ini pengolahan tanah masih belum dapat dikatakan sebagai ilmu yang pasti (eksakta) yang dapat dinyatakan secara kuantitatif. Belum ada metode yang memuaskan yang tersedia untuk menilai hasil olah yang dihasilkan oleh suatu alat pengolah tanah tertentu, serta belum dapat ditentukan suatu kebutuhan hasil olah yang khusus untuk berbagai tanaman untuk lahan kering (Bainer, et al, 1960).
Beberapa hasil penelitian menyimpulkan bahwa masalah pengolahan tanah merupakan masalah yang penting untuk mendapatkan produksi pertanian yang optimal. Kondisi tanah yang baik adalah salah satu faktor berhasilnya produksi tanaman, dan untuk mencapai kondisi tanah yang baik diperlukan alat-alat pertanian.
Akhir-akhir ini masalah yang utama didalam pembukaan dan pengolahan tanah adalah bagaimana agar didapatkan efisiensi yang optimal. Hal ini dimaksudkan dari pengertian minimal tillage yaitu pengolahan yang seminimal mungkin, tetapi menghasilkan tanah yang baik dan pertumbuhan tanaman yang optimal dengan biaya yang rendah.
Pekerjaan pengolahan tanah dapat dibagi menjadi pengolahan tanah pertama dan pengolahan tanah kedua. Peralatan pengolahan tanah pertama disebut juga pembajakan.

Alat Pengolahan Tanah Pertama

Alat pengolahan tanah pertama adalah alat-alat yang pertama sekali digunakan yaitu untuk memotong, memecah dan membalik tanah. Alat-alat tersebut dikenal ada beberapa macam, yaitu :

1. bajak singkal (moldboard plow)
2. bajak piring (disk plow)
3. bajak pisau berputar (rotary plow)
4. bajak chisel (chisel plow)
5. bajak subsoil (subsoil plow)
6. bajak raksasa (giant plow)

1. Bajak Singkal

Bajak singkal ini dapat digunakan untuk bermacam-macam jenis tanah dan sangat baik untuk membalik tanah.
Bagian dari bajak singkal yang memotong dan membalik tanah disebut bottom. Suatu bajak dapat terdiri dari satu bottom atau lebih. Bottom ini dibangun dari bagian-bagian utama, yaitu : 1) singkal (moldboard), 2) pisau (share), dan 3) penahan samping (landside). Ketiga bagian utama tersebut diikat pada bagian yang disebut pernyatu (frog). Unit ini dihubungkan dengan rangka (frame) melalui batang penarik (beam). Bagian-bagian dari bajak singkal satu bottom secara terperinci dapat dilihat pada gambar 18.

Gambar 18. Bagian Bajak Singkal Satu Bottom

Video operasi bajak singkal

Pada saat bajak bergerak maju, maka pisau (share) memotong tanah dan. mengarahkan potongan/keratan tanah (furrow slice) tersebut ke bagian singkal.
Singkal akan menerima potongan tanah, dan karena kelengkungannya maka potongan tanah akan dibalik dan pecah. Kelengkungan singkal ini berbeda untuk kondisi dan jenis tanah yang berbeda agar diperoleh pembalikan dan pemecahan tanah yang baik.

Penahan samping adalah bagian yang berfungsi untuk menahan tekanan samping dari keratan tanah pada singkal, disamping sekaligus menjaga kestabilan jalannya bajak sewaktu bekerja. Bagian yang paling banyak bersinggungan dengan tanah dari bagian ini adalah bagian belakang yang disebut tumit (heel). Untuk menjaga keausan karena gesekan dengan tanah, bagian tumit ini dalam pembuatannya diperkeras.
Selain dari bagian-bagian diatas, bajak singkal diperlengkapi dengan alat yang disebut pisau pemotong (coulter). Bagian ini berfungsi untuk membelah tanah atau tumbuhan atau sampah-sampah yang ada diatas tanah sebelum pisau bajak memotong tanah. Dengan demikian sisa-sisa tumbuhan diatas tanah dapat dibalik dengan baik dan memperingan pekerjaan pisau bajak. Ada dua bentuk pisau pemotong, yaitu pisau pemotong stasioner (stationary knife) dan pisau pemotong berputar (rolling coulter) seperti terhhat pada Gambar 19.

Stationary knife
Rolling colter
Gambar 19. Beberapa Jenis dari Pisau Pemotong (Coulter)

Ukuran bajak adalah lebar bajak, dinyatakan dalam satuan panjang. Ukuran dari satu bajak adalah dengan mengukur jarak dari sayap (wing) sampai penahan samping. Secara teoritis ukuran ini dapat dianggap sebagai lebar pembajakan atau lebar pemotong tanah.

Bajak singkal apabila dilihat dari atas atau samping akan terlihat suatu rongga atau hisapan (suction). Suction ini perlu untuk mencapai kedalaman atau lebar potongan bajak. Besarnya suction ini beragam dari 1/8 sampai 3/16 inci. Ukuran ini disebut juga celah (clearance). Tempat dari suction ini berbeda untuk bajak yang mempunyai roda belakang (real furrow wheel) dan tanpa roda belakang (Gambar 20 dan 21). Disamping untuk pemotongan tanah, hisapan (suction) ini berperan juga dalam menstabilkan jalannya bajak.

Hisapan Kebawah (Down suction) atau celah vertikal (vertical clearance) beragam dari 1/8 sampai 3/16 inci pada bajak tanpa roda belakang tergantung dari jenis alat dan jenis tanah. Pada bajak dengan roda belakang, hisapan kebawah (down suction) sebesar 1/4 sampai 1/2 inci.

Down suction

Side suction

Gambar 20. Hisapan (Suction) pada Bajak Singkal yang mempunyai Roda Belakang (Rear Furrow Wheel)

Down suction

Side suction

Gambar 21. Hisapan (Suction) pada Bajak Singkal yang tidak Mempunyai Roda Belakang

Bila bajak singkal bekerja memotong dan membalik tanah maka akan terbentuk alur yang disebut furrow. Bagian tanah yang diangkat dan diletakkan kesamping, disebut keratan tanah (furrow slice). Bila pekerjaan dimulai dari tengah areal secara bolak-balik dan arah perputaran ke kanan, maka akan berbentuk alur balik (Back furrow) (Gambar 22). Bila pekerjaan bolak balik dimulai dari tengah dan arah perputaran ke kiri, maka akan terbentuk alur mati (Dead furrow). Pembalikan tanah umumnya kekanan.

Dalam operasional bajak dapat digolongkan atas bajak tarik (trailing moldboard plow) dan bajak yang dapat diangkat secara hidrolik (mounted moldboard plow). Dilihat dari hasil kerjanya dapat digolongkan atas bajak satu arah (one way) dan bajak dua arah (two way). Menggunakan bajak dua arah memberikan keuntungan dalam menghindari terbentuknya alur balik (back furrow).

Gambar 22. Hasil Pembajakan dengan Menggunakan Bajak Singkal

2. Bajak Piring

Piringan dari bajak ini diikat pada batang penarik melalui bantalan (bearing), sehingga pada saat beroperasi ditarik oleh traktor maka piringannya dapat berputar. Dengan berputaraya piringan, maka diharapkan dapat mengurangi gesekan dan tahanan tanah (draft) yang terjadi. Piringan bajak dapat berada disamping rangka atau berada di bawah rangka. Bagian-bagian dari bajak piring dapat dilihat pada Gambar 23, sedangkan hasil pembajakannya dapat dilihat pada Gambar 24.

Setiap piringan dari bajak piringan biasanya dilengkapi dengan pengeruk (scraper) yang berguna selain untuk membersihkan tanah yang lengket pada piringan, juga membantu dalam pembalikan potongan tanah.
Untuk menahan tekanan samping yang terjadi saat bajak memotong tanah, bajak piring dilengkapi dengan roda alur belakang (rear furrow wheel).

Beberapa keuntungan menggunakan bajak ini adalah :

a. Dapat bekerja ditanah keras dan kering
b. Dapat untuk tanah-tanah yang lengket
c. Dapat untuk tanah-tanah yang berbatu
d. Dapat untuk tanah-tanah berakar
e. Dapat untuk tanah-tanah yang memerlukan pengerjaan yang dalam.

Gambar 23. Bagian-bagian Bajak Piring

Gambar 24. Hasil Pembajakan dengan Menggunakan Bajak Piring (Disk Plow)

Video operasi bajak piring

Ada tiga jenis bajak piring yang ditarik dengan traktor, yaitu ; tipe tarik (trailing), tipe hubungan langsung (direct-connected), dan tipe diangkat sepenuhnya (integral mounted).

Tipe tarik dapat dibagi lagi atas biasa (reguler) dan satu arah (one­way). Reguler trailing disk plow ditarik di belakang traktor. Alat ini dilengkapi dengan roda yaitu 2 buah roda alur (furrow wheel) dan satu buah roda lahan (land wheel). Kedua roda alur (furrow wheel),berperan untuk menstabilkan jalannya bajak. Pada tanah-tanah berat digunakan heavy way disk plow untuk mendapatkan pengolahan yang dalam. One way disk plow adalah piring bajak yang di susun dalam satu gang melalui suatu poros. Jarak antara piringan adalah 8 sampai 10 inci. Jumlah piringan dapat beragam dari 2 sampai 35 buah dengan ukuran diameter piring dari 20 sampai 26 inci.

Tipe hubungan langsung atau disebut juga semi mounted disk plow di bagian depannya dapat diangkat menggunakan sistem hidrolik traktor sehingga memudahkan alat sewaktu berputar. Alat ini dapat berputar pada areal yang sempit dan juga dapat mundur.
Tipe diangkat sepenuhnya ditarik dibelakang traktor dipasang pada tiga titik gandeng dan keseluruhannya dapat diangkat menggunakan sistem hidrolik traktor, sehingga sangat mudah dalam transportasi. Tipe one way disk plow yang kecil dapat juga termasuk Integral mounted., bila dapat diangkat keseluruhannya dengan hidrolik traktor.

3. Bajak Rotari / Pisau Berputar

Bajak rotari adalah bajak yang terdiri dari pisau-pisau yang berputar. Berbeda dengan bajak piringan yang berputar karena ditarik traktor, maka bajak ini terdiri dari pisau-pisau yang dapat mencangkul yang dipasang pada suatu poros yang berputar karena digerakan oleh suatu motor. Bajak ini banyak ditemui pada pengolahan tanah sawah untuk pertanaman padi.

Ada tiga jenis bajak rotari yang biasa dipergunakam. Jenis pertama yang disebut dengan tipe tarik dengan mesin tambahan (pull auxiliary rotary engine). Pada jenis ini terdapat motor khusus untuk menggerakkan bajak, sedangkan gerak majunya ditarik oleh traktor (Gambar 25).

Jenis kedua adalah tipe tarik dengan penggerak PTO (pull power take off driven rotary plow). Alat ini digandengkan dengan traktor melalui tiga titik gandeng (three point hitch). Untuk memutar bajak ini digunakan daya dari as PTO traktor (gambar 26).

Jenis ketiga adalah bajak rotari tipe kebun berpenggerak sendiri (self propelled garden type rotary plow). Alat ini terdapat pada traktor-traktor roda 2. Bajak rotari digerakkan oleh daya penggerak traktor melalui rantai atau sabuk. Dapat juga langsung dipasang pada as roda, sehingga disamping mengolah tanah bajak ini juga berfungsi sebagai penggerak (gambar 27).

Gambar 25. Bajak Rotari Tipe Vertikal

Gambar 26. Bajak Rotari Tipe Tarik Berpenggerak PTO

Gambar 27.   Bajak Rotari Tipe Kebun Berpenggerak Sendiri

Video operasi bajak rotari

4. Bajak Chisel

Alat ini berbentuk tajak yang disusun pada suatu rangka. Digunakann untuk memecah tanah yang keras  sampai kedalaman  sekitar   18  inci. Diperlengkapi dengan 2 buah roda yang berguna untuk transportasi dan mengatur kedalaman pemecah tanah.  Jarak antara tajak dapat beragam dari 1 sampai 2 inci.  Alat ini, tidak membalik tanah seperti bajak yang lain, tapi hanya memecah tanah dan sering digunakan sebelum pembajakan tanah dimulai (Gambar 28).

5. Bajak Subsoil

Alat ini hampir sama dengan bajak  chisel hanya bentuknya lebih besar dan digunakan untuk pengolahan tanah yang lebih dalam. Menggunakan alat ini dapat memecahkan tanah pada kedalaman 20 sampai 36 inci.
Alat ini sering juga digunakan untuk memecahkan lapisan keras didalam tanah (hardpan), atau untuk  memperbaiki drainase tanah (Gambar 29).

Gambar 28. Bajak Chisel

Gambar 29. Bajak Subsoil

Video operasi sub soil getar

6. Bajak Raksasa
Alat ini sesuai dengan namanya, berbentuk sangat besar dan digunakan untuk membalik tanah pada kedalaman 100 sampai 180 cm. Dengan menggunakan alat ini tanah subur yang ada di dalam tanah dap at diangkat keatas permukaan tanah. Dapat berbentuk bajak singkal atau bajak piringan.

Alat Pengolahan Tanah Kedua

Pengolahan tanah kedua dilakukan setelah pembajakan. Dengan pengolahan tanah kedua, tanah menjadi gembur dan rata, tata air diperbaiki, sisa-sisa tanaman dan tumbuhan pengganggu dihancurkan dan dicampur dengan lapisan tanah atas, kadang-kadang diberilcan kepadatan tertentu pada permukaan tanah, dan mungkin juga dibuat guludaa atau alur untuk pertanaman.
Alat pengolah tanah kedua yang menggunakau daya traktor antara lain: 1) garu (harrow), 2) perata dan penggembur (land roller dan pulverizer), dan 3) alat-alat lainnya.

1. Garu

Beberapa jenis garu yang dipakai pada pengolahan tanah kedua adalah : a) garu piring (disk harrow), b) garu palcu (splice tooth harrow), c) garu pegas (spring tooth harrow), d) garu rotari, dan e) garu khusus (special harrow).

a. Garu Piring.

Garu ini dapat digunakan sebelum pembajakan untuk memotong rumput-rumput pada permukaan tanah, untuk rnenghancurkan permukaan tanah sehingga keratan tanah ( furrow slice) lebih berhubungan dengan tanah dasar. Juga dapat digunakan untuk penyiangan, atau untuk menutup biji-bijian yang ditanam secara sebar.

Secara umum garu piring dibagi atas : 1) garu piring tipe tarik (trailing disk harrow), dan 2) garu piring tipe angiat (mounted disk harrow).
Garu piring dapat mempunyai aksi tunggal (single action) apabila pada saat memotong tanah hanya melempar tanah ke satu arah saja. Juga dapat mempunyai aksi ganda (double action) apabila piringan yang di depan berlawanan arah dengan yang di belakang dalam melempar tanah. Gambar 30 menunjukkan garu piring aksi tunggal, sedangkan Gambar 31. memperlihatkan garu piring aksi ganda.

Gambar 30. Garu Piring Aksi Tunggal

Apabila posisi garu piring dalam penggandengannya dengan traktor menyamping, maka garu tersebut disebut garu offset.
Bagian-bagian dari garu piring adalah : piringan (disk), as (gang/arbor bolt), rangka (frame), bantalan (bearing), bumper, kotak pemberat, dan pembersih tanah (scaper).

Piringan dap at bersisi rata atau bergerigl Piringan yang bergerigi biasanya digunakan pada lahan yang mempunyai banyak sisa-sisa tanaman. Ukuran umum berkisar antara 45 sampai 60 cm, sedangkan untuk tugas berat (heavy duty) antara 65 sampai 70 cm.
Piringan dipasang pada suatu as yang berbentuk persegi dengan jarak antara 15 sampai 22 cm, atau 25 sampai 30 untuk tugas berat dan masing-maing dipisahkan oleh gelondong (spool).

Masing-masing as (gang) diikat ke rangka melalui standar yang berdiri pada bantalan. Untuk garu yang ringan satu as mempunyai dua bantalan, sedangkan yang berat lebih dari dua bantalan.
Pada ujung as di bagian cembung piringan ditempatkan bumber berupa besi tuang yang eukup berat untuk menambah tekanan ke samp ing.
Apabila garu piring tidak cukup berat untuk memecah tanah, maka dapat ditambah beban yang ditempatkan pada kotak pemberat.
Untuk membersihkan tanah yang melekat pada piringan, biasanya setiap piringan dilengkapi dengan pengeruk tanah (scraper) yang diikat pada rangka.

Gambar 31. Garu Piring Aksi Ganda

Gambar 32. Salah Satu Bentuk dari Garu Paku

b. Garu paku

Garu ini mempunyai gigi yang bentuknya seperti paku terdiri dari beberapa baris gigi yang diikatkan pada rangka. Garu ini digunakan untuk menghaluskan dan meratakan tanah setelah pembajakan. Juga dapat digunakan untuk penyiangan pada tanainan yang baru tumbuh. Bentuk dari garu paku dapat dilihat pada Gambar 32.

c. Garu Pegas

Garu pegas sangat cocok untuk digunakan pada lahan yang mempunyai banyak batu atau akar-akar, karena gigi-giginya yang dapat indenting (memegas) apabila mengenai gangguan.

Kegunaan garu ini sama dengan garu paku, bahkan untuk penyiangan garu ini lebih baik, karena dapat masuk ke dalam tanah lebih dalam. Bentuk dari garu pegas dapat dilihat pada Gambar 33.

Gambar 33. Salah Satu Bentuk dari Garu Pegas

d. Garu Rotari

Garu rotari ada dua macam, yaitu : garu rotari cangkul (rotary hoe harrow) dan garu rotari silang (rotary cross harrow).
Garu rotari cangkul merupakan susunan roda yang dikelilingi oleh gigi-gigi berbentuk pisau yang dipasangkan pada as dengan jarak tertentu dan berputar vertikal. Putaran roda garu ini disebabkan oleh tarikan traktor. Bentuk dari garu ini dapat dilihat pada Gambar 34.

Gambar 34. Garu Rotari Cangkul (Rotary Hoe Harrow)

Gambar 35. Garu Rotari Silang (Rotary Cross Harrow)

Garu rotari silang terdiri dari gigi-gigi yang tegak lurus terhadap permukaan tanah dan dipasang pada rotor. Rotor diputar horisontal, yang gerakannya diambil dari putaran PTO. Dengan menggunakan garu ini, penghancuran tanah terjadi sangat intensif. Bentuk dari garu ini dapat dilihat pada Gambar 35.

e. Garu Khusus

Yang termasuk kedalam garu khusus adalah weeder-mulche dan soil surgeon. Weeder-mulche adalah alat yang digunakan untuk penyiangan, pembuatan mulsa dan pemecahan tanah di bagian permukaan. soil surgeon adalah alat yang merupakan susunan pisau berbentuk U dipasang pada suatu rangka dari pelat. Alat ini digunakan untuk memecah bongkah-bongkah tanah di permukaan dan untuk meratakan tanah.

2. Land Rollers dan Pulverizers

Alat ini menyerupai piring-piring atau roda-roda yang disusun rapat pada satu as.  Puingan piring dapat tajam atau bergerigi.  Digunakan untuk penyelesaian dari proses pengolahan tanah untuk persemaian. Alat ini dapat digolongkan atas dua jenis yaitu ;

Gambar   Pulverizer

a. Surface packer terdiri dari macam-macam bentuk, antara lain :

1) V Shaped roller pulverizers,
2) kombinasi T shaped dan Sprocket Wheel pulverizers,
3) Flexible sprocket wheelpulverizes.

b. Subsurface packer, terdiri dari 2 macam, yaitu

1) V Shaped packer dan
2) Crowfoot roller.

Alat-alat Lainnya ( Sub Surface Tillage Tools and Field Cultivation).

Alat ini digunakan untuk mengolah tanah tanpa merubah tanah dibagian permukaan dan juga sekaligus dapat untuk penyiangan. Keuntungan menggunakan alat ini adalah :

1) Meningkatkan kemampuan tanah dalam hal menyerap air,
2) Mengurangi aliran permukaan (run off),
3) Mengurangi erosi air atau angin,
4) Mengurangi tingkat penguapan air dari permukaan tanah.

Alat ini ada 2 jenis, yaitu :

1) Subsurface tillage sweeps, yaitu alat yang menggunakan sweep.
2) Subsurface tillage Rod Weeders.

4. PENUTUP

 Latihan

1)      Untuk memulai suatu operasi pengolahan tanah, faktor-faktor apa saja (baik dari lahan maupun alat) yang perlu diketahui dan menurut anda faktor apa yang paling dominan ? (Kunci : lihat materi kuliah)

2)      Kegiatan pembukaan lahan dan pengolahan tanah akan dilakukan di suatu daerah dengan distribusi bulan basah pada bulan November sampai Februari. Pelaksana proyek pembukaan lahan mengharapkan pekerjaan dapat diselesaikan dalam waktu 3 bulan. Jelaskan dengan singkat tahapan kegiatan yang harus dilakukan oleh pelaksana proyek. ((Kunci : lihat materi kuliah)

3)      Berikan suatu contoh perhitung kapasitas lapang efektif pembajakan tanah dengan bajak piring bila diketahui efisiensi 70 %. Data lain ditentukan sendiri (asumsi). (Kunci : KLE=0.7 KLT)

4)      Pada suatu operasi pembajakan tanah diketahui kecepatan maju 6012 m/jam, lebar alat 26 cm. Luas lahan yang diolah 1897.4 m2 yang diselesaikan dalam waktu 1 jam. Berapa KLT, KLE dan efisiensi operasi alat tersebut.  (Kunci : 1897,4; 1563,12; 82,38)

5)      Sebuah traktor beroperasi dengan kecepatan 5 km/jam, melakukan kegiatan penggaruan dengan garu piring. Lebar teoritis alat adalah 120 cm. Bila efisiensi kerja sebesar 60 %, berapa Kapasitas Lapang Teoritis dan Kapasitas Lapang Efektif (Kunci : 0,6 Ha/jam ; 0.42 Ha/jam).

6)      Suatu contoh tanah yang dikemas dalam ring 100 cc perlu diketahui kerapatan isi dan specific gravitynya. Berat basah contoh tanah 133 gr dan kadar air 59 %.  Volume udara 10 cc. (Kunci : 0.836; 1.38)

7)      Bila kadar air contoh tanah di atas 40 % berapa kerapatan isi dan volume padatannya (Kunci : 72)

8)      Hitung porositas dari contoh tanah tersbut, dan apa pendapatan anda tentang contoh tanah tersbut (Kunci : P=48)

9)      Pengamatan distribusi ukuran butiran tanah hasil penggaruan dengan garu piring pada kecepatan maju Low-1 dan Low-2 adalah sbb.

Fraksi

(mm)

Persentase berat fraksi tiap kedalaman (%)

0-4 cm

4-8 cm

8-12 cm

12-16 cm

L1L2L1L2L1L2L1L2>408442200020-40131312121010101010-2017151614141310145-1017201821202224212-52022212323242325< 22526292831303330

Hitung Mean Weight Diameter (MWD, mm) untuk tiap kedalaman dan kecepatan maju.

10)   Dari hasil pengamatan di atas,

a)      Buat grafik hubungan antara kedalaman dan MWD masing-masing untuk kecepatan Low-1 dan Low-2 dalam grafik yang sama

b)      Berikan pembahasan singkat mengenai hasil pengamatan tersebut.

Tes Formatif dan Kunci Jawaban

1.       Berkut adalah data hasil pengamatan di lapang.

Contoh tanah Original density

(t/m3)Final density

(t/m3)SF (%)Top soil1.370.97 Wet sand2.081.84 Clay loam -10.950.84 Clay loam -20.860.80 Clay loam -10.800.56

1)      Hitung Swell factor (SF) yang menunjukkan kinerja pengolahan tanah. (Kunci : 42.7, 13.04, 10.09, 7.5, 42.85).

2)      Jelaskan hasil yang diperoleh untuk masing-masing contoh tanah (Kunci : lihat materi kuliah)

2.       Lengkapi tabel berikut dengan menghitung efisiensi energi pembajakan dengan kedalaman olah 17.1 cm

Lebar olah (cm) Draft (N) Specific draft (kPa) Efficiency (%)
2.5 838 197.2
5.1 968 111.6
10.2 1302 75.1
15.2 2109 81.6
20.3 2912 84.4

(Kunci : 79; 65; 33; 25; 14 )

3.       Sebuah traktor besar lengkap dengan peralatan bajak piring yang terdiri dari 3 piringan, mengolah tanah dengan kecepatan 6 km/jam. Total lebar olah adalah 150 cm. Hitung kapasitas lapang efektif (KLE) bila diperkirakan efisiensi lapang 75 % ? (Kunci : 0.675)

4.       Dari hasil pengujian dengan �direct shear� diperoleh data tanah tempat dilakukan pengolahan tanah di Leuwikopo.

Gaya Tahap Pengujian
1 2 3 4
Normal (kg/cm2) 0.5 1.0 2.0 3.0
Geser pada saat patah (kg/cm2) 0.55 0.68 1.02 1.35

Dari data tersebut, tentukan kohesi (c) dan besarnya sudut gesekan dalam tanah tersebut.

5.       Data yang ditunjukkan pada tabel berikut adalah hasil dari suatu pengujian terhadap3 jenis tanah. Luas penampang sampel 10 cm2. Gambarkan hasil pengamatan ini dalam grafik dan hitung nilau kohesi dan sudut gesekan dalam dari setiap contoh tanah. Selanjutnya hari hubungan parameter yang diperoleh, tentukan kemungkinan jenis tanah ketiga sampel tersebut. (Kunci : cA=5, ФA=15; cB=0, ФB=30; cA=10, ФC=1)

Test Tanah A Tanah B Tanah C
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Horizontal Force (kg) 7.22 7.49 7.92 9.24 2.31 3.47 5.61 7.99 3.33 3.43 3.47 -
Vertical load (kg) 2.31 3.33 4.95 9.90 3.96 6.60 9.99 13.86 6.60 8.25 9.90 -

6. Pada suatu operasi pembajakan tanah diketahui kecepatan maju 5500 m/jam, lebar alat 40 cm. Luas lahan yang diolah 1600 m2 yang diselesaikan dalam waktu 1 jam. Berapa KLT, KLE dan efisiensi operasi alat tersebut. (Kunci :  0.22; 0.16; 0.73)

 7. Apabila efisiensi pada soal diatas dinaikkan menjadi 77 %, maka tindakan apa yang harus dilakukan ? (Kunci : Lihat materi kuliah)

Umpan Balik/Tindak Lanjut

1.       Apa yang dimaksud dengan : 1) soil wedge, 2) crescent soil, 3) furrow dalam proses pemotongan tanah oleh alat �tine� ?

2.       Jelaskan maksud istilah berikut :

a)      Kedalaman kritis

b)      Swelling factor

c)      Sinkage

d)      Traffic sole

e)      Hinges

3.       Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi derajat penghancuran tanah oleh rotary tiller?

4.       Apa yang dimaksud dengan : a) land side, b) coulter, c) sudut piringan

5.       Jelaskan dengan rumus :

a)      Porositas

b)      Dry bulk density

c)      Void ratio

6.       Jelaskan fungsi dari bagian alat bajak : a) share, b) moldboard, c) coulter, d) scraper, d) landside.

7.       Apa yang anda ketahui tentang : a) sudut olah, b) sudut piringan, c) berapa kisaran dari sudut-sudut tersebut.

8.       Jelaskan kelebihan dan kekurangan bajak singkal

9.       Jelaskan kelebihan dan kekurangan bajak piring

10.    Umumnya pisau rotary dikelompokan dalam 3 bentuk. Sebutkan.

11.    Jelaskan maksud : a) Zero tillage, b) reduced tillage, c) conventional tillage, d) conservation tillage

12.   Bentuk singkal yang menyerupai sirip digunakan khusus untuk kondisi  tanah seperti apa. Jelaskan.

13.   Dalam suatu operasi traktor untuk pekerjaan pengolahan tanah, terjadi suatu proses yang melibatkan soil-machine system� yang menentukan baik kinerja traktor maupun mutu hasil pengolahan tanah. Jelaskan isitilah berikut yang merupakan bagian dari sistem tersebut: a) mechanical efficiency, b) thrust, c) drawbar pull, d) tractive power efficiency, e) draft, f) tahanan gesekan, g) ground pressure.

 Pustaka

Koga, Y. 1988. Farm Machinery Vol. II. Tsukuba International Agricultural Training Centre. JICA.

Srivastava, A. K., C. E. Goering, R. P. Rohrbach. 1993. Enginering Principles of Agricultural Machines. ASAE Texbook Number 6, American Society of Agriculutural Engineers.

Setiawan, R. P. A. 2001. Research Report on Development of Variable Rate Granular Applicator for Paddy Field. Laboratory of Agricultural Machinery, Kyoto University.

Pengolahan Tanah

April 12, 2011 pukul 12:27 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

PENGOLAHAN TANAH

Pada bab ini akan dibahas beberapa unsur umum pengolahan tanah dan cara-caranya, termasuk pembahasan singkat mengenai beberapa prinsip dinamika yang diterapkan pada pengolahan tanah. Secara umum belum ada usaha untuk menggambarkan pola atau mekanisme hancurnya tanah.
Sekalipun penelitian dinamika tanah telah dilakukan sejak tahun 1920, kemajuan besar dalam bidang riset ini terjadi baru sejak sekitar tahun 1950, dengan terbitnya sejumlah besar makalah ilmiah. Gill dan Van den Berg telah menganalisa, meringkas dan menyusun hasil-hasil penelitian dinamika tanah yang diterbitkan sampai tahun 1964, serta merumuskan prinsip dan konsep dasar dari hasil-hasil tersebut. Usaha tersebut menghasilkan sebuah buku rujukan setebal 500 halaman yang memberi sumbangan besar terhadap bidang dinamika tanah. Meskipun terdapat kemajuan yang pesat di tahun-tahun terakhir, olah tanah masih jauh dari bentuk ilmu yang eksak. Sekalipun salah satu tujuan utama olah tanah adalah untuk memberikan kondisi lingkungan maksimum bagi pertumbuhan tanaman, kita tidak dapat secara kuantitatif menciri atau mengenali kondisi tanah yang dikehendaki. Gaya yang dikenakan pada suatu alat olah tanah guna menghasilkan suatu efek tertentu pada tanah dapat diukur secara akurat, namun kita tak dapat secara handal menduga efek dari perubahan rancangan alat. Akibatnya, tidaklah mengejutkan bahwa rancangan peralatan olah tanah masih lebih berupa seni ketimbang sains.
Pentingnya optimasi pekerjaan olah dan perbagusan rancangan mesin pengolahan akan terlihat jelas jika ditinjau fakta bahwa di AS saja, diperkirakan lebih dari 225 x 109 ton tanah telah diolah tiap tahunnya. Untuk membajak tanah tersebut satu kali dibutuhkan 2 x 109 liter bensin atau solar. Sepanjang bab ini dipakai 2 pengertian yaitu alat/piranti olah tanah dan mesin/peralatan olah tanah. Alat/piranti olah tanah digawarkan sebagai suatu suku pengerja tanah individual seperti mata bajak, piringan atau mata pendangir. Suatu mesin/peralatan olah tanah terdiri atas satu atau sekelompok alat/piranti, ditambah rangka pendukung, roda, piranti kendali dan pelindung, serta suku bangun dan suku penerus daya lainnya.

A. Capaian Pengolahan Tanah
Olah tanah dapat digawarkan sebagai pengerjaan mekanis terhadap tanah untuk segala macam tujuan. Beberapa capaian olah tanah dalam pertanian ialah :
1. Untuk memperoleh struktur tanah yang dibutuhkan bagi pertumbuhan benih atau akar. Struktur remah diperlukan guna memungkinkan peresapan yang cepat dan ketahanan terhadap hujan, untuk mendapatkan kandungan dan pertukaran udara yang cukup di dalam tanah, dan untuk memperkecil hambatan terhadap penembusan akar. Sebaliknya, suatu persemaian yang baik umumnya membutuhkan partikel yang lebih halus dan kepadatan yang lebih tinggi di sekitar benih.
2. Untuk mengendali gulma atau untuk menghilangkan tanaman yang berlebih (penjarangan).
3. Untuk menata sisa tanaman. Dari tinjauan pengolahan dan penguraian, sampahan perlu dicampur secara menyeluruh, sedangkan penempatan sampahan di lapisan atas akan mengurangi erosi. Sebaliknya, penutupan yang menyeluruh terkadang diperlukan untuk mengendalikan serangga lewatmusim-dingin atau untuk mencegah hambatan terhadap pengerjaan presisi seperti penanaman atau pendangiran tanaman tertentu.
4. Untuk mengecilkan erosi tanah dengan mengikuti cara semacam pengolahan menurut garis tinggi, pembumbunan dan penempatan sampahan secara tepat.
5. Untuk memperoleh bentuk permukaan yang khas untuk pengerjaan penanaman, pengairan, drainase, panen, dan sebagainya.
6. Untuk membenamkan dan mencampur pupuk, pestisida atau bahan tambahan ke dalam tanah.
7. Untuk melakukan pemisah-misahan. Hal ini dapat berupa pemindahan tanah dari satu lapis ke lapis lainnya, penghilangan batu dan barang-barang asing lain, atau pemanenan umbian.

B. Metoda Pengolahan Tanah
Pengerjaan olah tanah untuk persiapan tanam sering dikelompokkan menjadi pertama dan kedua, sekalipun batasnya tidak selalu jelas. Pengerjaan olah tanah pertama meliputi pengerjaan penggarapan tanah awal dan utama. Pengerjaan tersebut umumnya dirancang untuk menurunkan kekuatan tanah, menutup bahan tanaman dan menata ulang bongkah. Pengerjaan pengolahan tanah kedua dimaksudkan untuk menciptakan kondisi tanah yang lebih halus setelah pengolahan tanah pertama. Bajak singkal merupakan alat yang paling umum digunakan untuk olah tanah pertama, namun bajak piringan, garu piringan tugas berat, bajak gancu, bajak tanah bawah jenis pisau, dan bajak rotari juga dipakai. Bajak singkal dan bajak piringan memotong, melempar dan sedikitnya sebagian membalik tanah. Bajak pahat dan bajak tanah bawah memecah tanah tanpa membaliknya. Berbagai ragam peralatan, termasuk beberapa dari yang disebut di atas digunakan untuk olah tanah kedua dan untuk pendangiran pada saat tanam.
Perhatian yang besar pada tahun-tahun terakhir telah mengarah pada kemungkinan penggunaan alat olah tanah berdaya ganda, yaitu alat yang mendapatkan tenaganya melalui lebih dari satu jalur. Bajak rotari, alat olah tanah bergetar, dan sekop mesin adalah sebagian contohnya. Peralatan tersebut memperoleh sebagian tenaganya dari sumber putar, biasanya alat sadap daya (PTO) traktor. Terkuranginya kebutuhan gaya penarik dan keanekagunaan yang lebih besar dalam mengerjai tanah guna mendapatkan hasil yang diinginkan merupakan 2 alasan untuk mempertimbangkan jenis alat yang lebih kompleks tersebut. Jika kebutuhan gaya penarik dapat dikurangi dengan memanfaatkan sebagian dari keluaran traktor melalui jalur non traksi, traktor dapat dibuat dengan masa yang lebih kecil, sehingga akan mengurangi harga serta mengurangi pemadatan tanah.
Bajak rotari membutuhkan draft rendah, atau malah negatif, namun kebutuhan daya totalnya tinggi dan penghancuran tanahnya bisa berlebihan. Goyangan paksa atau penggetaran suatu alat dapat secara nyata mengurangi kebutuhan daya, namun masukan daya total biasanya tak terkurangi, malahan dapat naik. Sekop mesin, dikembangkan di Eropa, terdiri dari sekop-sekop penggali yang dapat menaikkan dan membalik tanah. Sekalipun layak ditinjau dari kebutuhan energi, namun model-model yang ada sekarang ini secara mekanis kompleks dan umur pakainya kurang.

C. Sistem Olah Tanah Minimum
Para rekayasawan, ilmuwan tanaman dan ilmuwan tanah biasanya sependapat bahwa terlalu banyak dilakukan olah tanah ketimbang yang dibutuhkan untuk memberikan kemantapan diperolehnya pendapatan bersih yang maksimal dari produksi tanaman. Kadang pemadatan tanah yang disebabkan oleh traktor dan peralatan pada suatu pengolahan tanah kedua dapat secara hitungan menghilangkan kerja olah tanah pertama. Pengerjaan olah tanah lebar kontinyu biasanya dirancang untuk membuat persemaian yang bagus, sekalipun derajat penghancuran tanah dan kepadatannya boleh jadi berlebihan bagi pertumbuhan akar yang optimum.
Pada tahun-tahun terakhir telah terjadi peningkatan perhatian terhadap sistem olah minimum sebagai cara untuk mengurangi biaya produksi tanaman larik dan untuk memperbagus kondisi tanah. Olah minimum dapat dikerjakan dengan banyak cara. Capaian utamanya adalah :
1. Mengurangi kebutuhan energi mekanis dan tenaga kerja.
2. Menjaga kelembaban dan mengurangi erosi tanah.
3. Memberikan pengerjaan yang memang diperlukan untuk mengoptimalkan kondisi tanah bagi tiap bagian luasan di suatu lapang (contoh: luasan larikan dan luasan sela larikan).
4. Meminimumkan jumlah lintasan melalui suatu lapang.
Pada beberapa sistem olah minimum, satuan gabungan olahtanam setelah pembajakan, pemahatan, atau olah tanah pertama lainnya, dengan jalur-jalur sempit yang memperoleh pengolahan tanah kedua yang dangkal tepat di depan alat penanam. Tipe gabungan yang lain menghasilkan wilayah atau lajur olah tepat di depan alat penanam pada tanah yang tak diolah, atau pada tanah yang dibajak pada musim sebelumnya. Beberapa bentuk alat gabungan yang akan menghasilkan pengerjaan olah minimum dan penanaman saat ini telah tersedia di pasaran.
Penerapan paling utama sistem olah tanah minimum selama ini adalah pada jagung, sekalipun olah per-bagian telah dipakai secara berhasil pada kapas dan sejumlah tanaman larik lainnya. Jagung olah minimum sering ditanam melalui selapis rumput atau sisa tanaman bijian kecil. Pada sistem yang disebut “tanpa-olah”, suatu kolter (coulter) bergelombang atau alat lain yang sesuai memotong dan mengolah lajur selebar 5 8 cm melewati tunggul-tunggul atau seresah, sementara penanam mengikuti tepat di belakangnya. Di antara pendekatan awal menuju olah minimum pada jagung yaitu a) memadukan pengerjaan pembajakan dan penanaman, b) penanaman pada bekas lintasan roda tepat setelah pembajakan. Karena berbagai alasan, dari kedua metoda ini tak ada yang memperoleh perkembangan lebih lanjut.
Penggulud-penanam pada lapang tak diolah merupakan bentuk olah minimum yang dilakukan pada jagung dan tanaman larik lain di beberapa tempat. Tiap larik ditanam di dasar alur penggulud atau pada lajur datar yang agak ditinggikan di dalam alur pada suatu pengerjaan gabungan. Di dataran rendah pantai Caroline dan Georgia misalnya, berbagai tanaman larik tahunan ditanam pada sisaan tanaman bijian kecil tanpa olah tanah sebelumnya.
Pengalaman menunjukkan bahwa olah tanah minimum, pada kondisi yang sesuai dan dengan tanaman larik tertentu, merupakan cara praktis untuk melestarikan sumberdaya dan mengurangi biaya produksi, biasanya tanpa mengurangi hasil panen. Sistem olah tanah minimum dapat menimbulkan masalah manajemen yang baru, khususnya jika melibatkan adanya sisa tanaman di permukaan tanah. Masalah serangga dapat meningkat sehingga pengendalian gulma kimia yang efektif menjadi pentinglah.

D. Olah Tanah Tunggul Seresah
Tujuan utama olah tunggul seresah ialah untuk mengurangi erosi angin dan air dan untuk mempertahankan kelestarian air dengan mengurangi terjadinya limpasan. Cara tersebut dipakai secara luas di Dataran Besar dan di daerah kering atau semi kering lainnya. Olah tunggul seresah berupa pemotongan akar gulma dan tumbuhan lainnya dan meninggalkan sisa tanaman di atas permukaan atau mencampurkannya ke tanah sedalam beberapa cm. Penempatan sisaan yang tepat tergantung pada jumlah yang ada dan pengerjaan berikutnya. Jumlah sisaan yang banyak pada atau dekat permukaan tanah melindungi tanah namun menimbulkan masalah penanaman (karena penanaman harus menembus lapisan tersebut) dan pada pendangiran jika tanaman larik termasuk dalam rotasi tanamannya.
Bajak tanah bawah khusus tipe pisau telah dikembangkan untuk menghasilkan pengerjaan olah tanah awal maupun berikutnya tanpa memindahkan atau menggeser lapisan olah. Kaki bebek (sweep) bentuk V yang dirancang untuk keperluan ini dapat memiliki lebar potong berkisar dari 0,6 2,4 m. Pisau lurus yang dipasang pada posisi tegak lurus terhadap arah jalan kadangkala dipakai untuk pengerjaan olah permulaan. Juga dipakai penyiang bentuk batang. Pada seresah yang sangat berat yang sebagian sisaannya harus dicampur ke dalam tanah bagian atas beberapa cm, dapat digunakan bajak piringan vertikal dan garu piringan. Pendangir lapang, bajak pahat, garu rotari dan penginjak condong (penginjak seresah) juga dipakai di beberapa tempat. Pada olah tunggul gandum bero musim panas, diperlukan 4 pengerjaan olah dengan selang sekitar 1 bulan untuk mengendalikan gulma.

E. Gawar Istilah Gaya, Tenaga dan Daya
Dalam membahas hubungan gaya dan tenaga olah, mahasiswa perlu akrab secara menyeluruh dengan gawar dan hubungan dasar dalam mekanika. Dalam bab ini akan digawarkan istilah terkait dan konsep tambahan yang dipakai secara khusus berkaitan dengan mesin pertanian.
Gaya ialah setiap penyebab yang merubah atau cenderung merubah keadaan diam atau bergeraknya suatu benda. Sebuah gaya secara lengkap dicirikan oleh besar dan arahnya serta letak garis kerjanya. Satuan dalam sistem SI ialah newton (N).
Pull (gaya penarik) pada suatu alat ialah total gaya yang dikenakan pada alat tersebut dari sebuah mesin penggerak. Pada alat olah tanah, umumnya gaya tersebut bersudut ke atas beberapa derajat dari arah mendatar, dapat terletak pada bidang tegak yang sejajar arah gerak, dapat juga tidak.
Draft ialah suku mendatar dari pull, sejajar dengan arah gerak. Draft samping ialah suku mendatar dari pull, tegak lurus terhadap arah gerak. Draft spesifik ialah draft per satuan luas dari irisan melintang luasan terolah, biasanya dinyatakan dalam newton per cm2.
Torka ialah momen gaya yang cenderung menghasilkan putaran terhadap suatu titik. Torka merupakan hasil kali gaya dengan jejari putaran, dan pada umumnya dinyatakan dalam newtonmeter. Sebuah kopel terdiri dari dua gaya sama besar dan berlawanan arah, sejajar namun tak segaris. Besarnya momen suatu kopel sama dengan hasil kali salah satu gaya dengan jarak tegak antara kedua gaya. Sebuah kopel dapat cenderung untuk menghasilkan putaran terhadap sebarang titik yang terletak pada bidang tempat kedudukan kedua gaya. Jadi torka ialah kejadian khusus suatu kopel dengan pusat putaran torka terletak pada garis kerja salah satu gaya.
Usaha ialah hasil kali gaya pada arah geraknya dengan jarak yang ditempuh gaya tersebut. Satuan umumnya ialah joule. Daya ialah laju berlangsungnya usaha. Satuan umumnya ialah kilowatt. Satu kilowatt ialah 1 kilojoule usaha per detik.Daya Batang Penarik (dbp) dalam hubungannya dengan alat tipe seret/gandengan maupun gendong ialah daya yang nyata dibutuhkan untuk menarik atau menggerakkan alat pada kecepatan yang seragam.
Kilowatt-jam ialah jumlah usaha yang dihasilkan jika daya 1 kilowatt digunakan selama 1 jam.

F. Gaya Yang Bekerja pada Alat Olah Tanah
Seorang rekayasawan berkepentingan dengan gaya-gaya yang bekerja pada alat olah tanah dari sudut pandang kebutuhan daya total, penggandengan atau penerapan mesin penarik yang tepat, perancangan untuk memadainya kekuatan dan ketegaran, dan untuk penentuan bentuk alat serta penyetelannya yang terbaik. Alat olah tanah yang bergerak pada kecepatan tetap terkenai 3 gaya utama atau 3 sistem gaya yang harus berada dalam kesetimbangan. Gaya tersebut yaitu:
1. Gaya gravitasi yang bekerja pada alat
2. Gaya-gaya tanah yang mengenai alat
3. Gaya yang bekerja di antara alat dan mesin penggerak. Jika torka dari transmisi daya rotari tidak dilibatkan, resultan gaya tersebut ialah pull dari penggerak terhadap alat.
Clyde membagi total reaksi tanah ke dalam gaya berguna dan gaya parasit. Gawar gaya tanah berguna ialah gaya yang harus diatasi alat untuk pemotongan, pemecahan dan pemindahan tanah. Gaya parasit ialah gaya (termasuk gesekan dan tahanan guling) yang mengenai permukaan stabilisasi semacam tamping (land-side) atau alas bajak atau pada garit penyangga atau roda. Pada kondisi kerja tertentu dengan alat tertentu, pengemudi memiliki penguasaan yang sedikit pada gaya tahanan tanah berguna, namun baik perancang maupun pemakai memiliki kekuasaan pada gaya parasit.
Jika sebuah alat tidak simetri terhadap bidang tegak membujur yang melalui garis pusatnya, gaya tanah berguna biasanya menghasilkan efek putaran. Dua cara untuk menyatakan reaksi tanah total pada alat olah pada keadaan umum di mana terdapat efek putaran diperlihatkan pada gambar 1.2. Metoda lain yang digunakan oleh beberapa peneliti meliputi:
1. Suatu ulir/pilinan, yaitu sebuah gaya + sebuah kopel pada bidang tegak lurus terhadap gaya.
2. Tiga gaya pada poros yang saling tegak lurus dan tiga kopel pada bidang irisan poros.
3. Tiga gaya pada tiga bidang utama.
Hasil pengukuran gaya dapat secara akurat digambarkan menggunakan masing-masing dari kelima metoda tersebut dan hasil yang dinyatakan dalam satu bentuk dapat dipindahkan ke bentuk lainnya dengan metoda statika. Satu metoda mungkin lebih disukai dibanding lainnya pada situasi tertentu, tergantung pada maksud penggunaan data. Vanden Berg menunjukkan bahwa garis kerja unik resultan gaya tunggal hanya dapat diperlihatkan dengan metoda ulir karena sistem ini menggambarkan kopel minimum.

Lambang-lambang Yang Digunakan dalam Analisa Gaya Pengolahan Tanah Dalam daftar berikut dijelaskan mengenai lambang yang paling sering muncul dalam beberapa bab yang membahas tentang alat olah. Lambang yang lain-lainnya akan diterangkan pada saat dijumpai pada berbagai pasal.
R = resultan seluruh gaya tanah berguna yang bekerja pada alat (Gb 1.1 b). Jika gaya berguna dan parasit tak dapat ditentukan secara terpisah, R mencakup keduanya.
L = suku R membujur atau searah dengan arah jalan (Gb. 1.1).
S = suku R melintang (Gb. 1.1).
V = suku R tegak (Gb. 1.1).
Rh = resultan L dan S (Gb 1.1 a).
Rv = resultan L dan V (yaitu suku R pada bidang tegak-membujur).
a = jarak melintang antara V dan Rh, untuk alat yang memiliki efek putaran (Gb 1.1 a).
Va = kopel yang cenderung memutar alat pada poros membujur (Gb 1.1 b).Q = resultan seluruh gaya parasit yang bekerja pada alat.
Qh = suku Q pada bidang mendatar, meliputi gaya sisi penstabilan dan gaya gesaek membujur penyertanya.
Qv = suku Q pada bidang tegak membujur, meliputi gaya sangga tegak dan gaya gesek membujur penyertanya ataupun tahanan guling.
P = resultan pull yang dikenakan pada alat oleh mesin penggerak.
Ph = suku P pada bidang mendatar.
Pv = suku P pada bidang tegak membujur.
W = gaya gravitasi yang bekerja pada alat, melalui pusat gravitasi.
H = pusat tahanan alat mendatar, ialah titik potong Rh dan Qh atau 2 suku Rh semisal pada garu piringan.
G = titik potong Qv dan resultan W dan Rv. Titik tersebut bisa disebut pusat tahan tegak.
Subskrip x, y, dan z, jika dikenakan pada P dan Q menunjukkan suku gaya pada arah membujur, melintang, dan tegak.

G. Mekanika Olah Tanah
Reaksi tanah terhadap gaya yang diberikan dari alat olah tanah dipengaruhi oleh tahanan tanah terhadap pemampatan, tahanan terhadap geseran, adhesi (gaya tarik menarik antara tanah dengan bahan lain) dan tahanan gesek. Itu semua merupakan sifat dinamika yang hanya mewujud jika ada gerakan tanah. Gaya percepatan bukanlah sifat dinamika tanah namun juga muncul. Nichols telah menunjukkan bahwa gaya reaksi dari seluruh golongan tanah didominasi oleh kelembaban lapisan pada zarah koloid dan dengan demikian secara langsung berhubungan dengan kelembaban tanah dan kandungan koloid.
Tanah dapat digolongkan menjadi plastis dan non plastis. Istilah plastis berarti bahwa tanah tersebut dapat diubah bentuknya dalam kisaran kandungan lengas tertentu, dan akan mempertahankan bentuknya setelah mengering. Tanah pasir dan tanah lain yang mengandung koloid atau lempung kurang dari 15 20 %, umumnya dianggap non-plastis.
Jika tanah plastis diairi sampai jenuh kemudian dibiarkan mengering, akan dilalui tahapan berikut: lekat, plastis, rapuh, dan keras. Tahap rapuh mencerminkan kondisi optimum untuk olah tanah. Pemadatan tanah oleh alat olah tanah dan traktor, yang merupakan masalah serius di beberapa tempat, disebabkan oleh pengerjaan tanah pada saat terlalu basah.
Secara praktis, seluruh alat olah tanah terdiri dari piranti untuk memberikan tekanan kepada tanah, sering dengan memakai bidang miring atau baji. Ketika alat digerakkan maju, tanah pada jalur gerak akan terkena tegangan pemampatan yang pada tanah rapuh akan menghasilkan kerja geseran. Geseran tanah jauh berbeda dibanding geseran pada kebanyakan padatan, sebab pada tanah, reaksinya mungkin meluas sampai jarak yang jauh pada kedua sisi bidang geser dikarenakan gesekan dakhil dan kerja kohesi lapis-lapis lembab.
Kohesi dapat digawarkan sebagai gaya yang akan saling menahan antar zarah yang sejenis. Gesekan dakhil dihasilkan dari saling kunci antar zarah di dalam massa tanah. Kohesi dan gesekan dakhil terkadang dianggap sebagai sifat fisika tanah yang sebenarnya. Pada kenyataannya, keduanya hanyalah parameter geseran sebagaimana ditunjukkan pada persamaan berikut:
g = C + r tan O . . . . . . . . . . (1.1)
di mana
g = tegangan geser pada retakan tanah
C = kohesir = tegangan normal terhadap bidang retakan geseran
O = sudut gesekan dakhil.
Didasarkan pada persamaan di atas, kohesi bisa dirasionalisasikan sebagai tegangan geser dengan beban normal nol. Harga C dan O bisa ditentukan dengan mengukur tegangan geser pada beberapa nilai tegangan normal. Kekuatan geser memiliki pengaruh penting terhadap draft alat olah tanah. Pecahnya tanah karena pemampatan biasanya diakitkan dengan pengurangan volume. Peretakan karena geseran dan peretakan karena pampatan tidak merupakan gejala independen, melainkan terjadi sebagai kerja gabungan. Peretakan atau pematahan tanah dapat juga dijelaskan sebagai aliran plastis tanpa peremukan dan pembentukan permukaan retakan geser biasa. Contohnya ialah “aliran” lempung basah melingkari gagang bajak tanah bawah saat alat tersebut melewati tanah.
Pemotongan tanah bisa digawarkan sebagai kerja pengirisan yang tidak menghasilkan retakan utama lainnya semacam geseran. Keadaan di mana pemotongan murni dapat terjadi ditentukan oleh perwatakan tanah dan kandungan lengas serta kadang-kadang oleh derajat pengurungan. Pada banyak pengerjaan olah, pemotongan merupakan kerja independen yang tak tergawarkan secara jelas.
Gesekan dan Adhesi
Semua pengerjaan olah tanah meliputi kerja gelinciran tanah pada permukaan alat. Gesekan tanh dengan alat yang memiliki permukaan singgung yang luas akan menghasilkan suku kebutuhan daya yang perlu diperhitungkan. Gesekan juga terlibatkan ketika dua badan tanah yang tegar saling bergerak antar keduanya. Gejala ini dibedakan dari gesekan dakhil yang terdapat pada persamaan 1.1. Kecuali jika melibatkan beban normal atau kecepatan yang besar, gesekan badan tegar tanah terhadap tanah biasanya dianggap mengikuti hukum gesekan sederhana, di mana
di mana
u = koefisien gesek (tanah terhadap tanah)
F = gaya gesek yang menyinggung permukaan
N = gaya normal (tegaklurus permukaan)
O = sudut gesek.
Pada hubungan yang diidealisasi ini, u independen terhadap beban normal, luasan singgung, dan kecepatan gelincir.
Gesekan tanah pada alat pengolah biasanya terjadi antara tanah dan baja, namun kadangkala terjadi antara tanah dan plastik (misalnya pada mata bajak yang dilapis plastik). Jika tanah menggelincir di atas logam, gaya adhesi antara tanah dan baja memberi pengaruh yang besar terhadap gaya gesek. Gaya adhesi terutama bersumber dari lapis-lapis lembab dan besarnya berubah sesuai kadar lengas. gaya adhesi berefek menaikkan beban normal (tegak lurus) pada permukaan, sehingga menaikkan gaya gesek singgungnya. Dikarenakan tak mungkin memisahkan efek kedua suku, yang biasa dilakukan pada pengujian laboratorium ialah menggambarkan efek gabungannya yang diberi nama “koefisien gesek nyata”, yang dicirikan sebagai u’ (untuk membedakannya dari u pada persamaan 1.2).
Hubungan umum antara gesekan tanah-logam dan kandungan lengas tanah, sebagaimana diterangkan oleh Nichols, diperlihatkan pada gambar 1.2. Pada fasa gesek, gaya adhesinya kecil dan koefisien geseknya sangat tak bergantung pada kandungan lengas. Tanah pada kondisi rapuh biasanya memiliki kadar lengas di dalam kisaran ini. Pada fasa adhesi, lapis lembab terbentuk di antara zarah tanah dan logam, sehingga tercipta gaya adhesi yang menyebabkan koefisien gesek naik secara cepat mengikuti kenaikan lengas. Jika tanah memiliki lengas yang cukup untuk bekerja sebagai pelumas, koefisien gesek turun ketika ditambahkan lebih banyak air.
Kadar lengas peralihan antar fasa naik dengan naiknya kandungan lempung, lebih tinggi pada tanah lempung dibanding pada tanah pasir. Koefisien gesek nyata lebih tinggi pada tanah lempung dibanding pada tanah pasir. Kisaran khas untuk tanah pada baja halus yang dilicinkan secara biasa, sebagaimana dilaporkan oleh berbagai peneliti, ialah 0,2 0,5 untuk tanah pasiran, 0,3 0,65 untuk tanah geluh, dan 0,35 0,8 untuk tanah lempung. Porsi yang lebih rendah dari masing-masing kisaran menunjukkan harga dalam fasa gesek.
Macam dan kehalusan bahan yang bergesekan dengan tanah mempengaruhi koefisien gesek nyata. Bahan semacam teflon, yang tahan pembasahan, tidak membentuk gaya adhesi yang besar terhadap tanah, sehingga menghasilkan koefisien gesek nyata yang jauh lebih rendah (Gb. 1.3).
Beberapa peneliti menemukan bahwa koefisien gesek nyata tanah-logam menurun ketika beban normal besar, khususnya pada lempung lembab dan geluh lempungan.

H. Penentuan Watak Kekuatan Tanah Lewat Ketahanan Tembus
Kekuatan tanah ialah kemampuan atau kapasitas tanah pada kondisi tertentu untuk menahan atau menyangga gaya yang dikenakan. Ketahanan tembus ialah parameter gabungan yang meliputi beberapa sifat tanah independen namun biasanya dipandang mencerminkan kekuatan tanah. Untuk mengukur kekuatan tembus, alat ukur sederhana yang dikenal sebagai penetrometer ditekankan ke tanah, dan gayanya diamati dalam kaitannya dengan kedalaman penembusan. Pembacaan gaya penetrometer per satuan dasar luas irisan melintang menghasilkan petunjuk kekuatan relatif berbagai tanah dan keseragamannya terhadap kedalaman pada kondisi tanah tertentu.
Rekomendasi ASAE R313, dibuat tahun 1968, memberikan cirian dimensi untuk dua ukuran baku penetrometer kerucut yang ditawarkan, yang juga mencakup metoda tatacara memperoleh pembacaan. Penerbitan dan penerimaan umum terhadap rekomendasi ini telah sangat mempertinggi kebergunaan data penetrometer.

I. Pengikisan Tanah
Kepengikisan merupakan sifat dinamika tanah yang lebih memberi efek kumulatif ketimbang efek serta merta. Ketika sejumlah besar tanah menggelincir di atas permukaan alat olah, aus karena pengikisan dapat merubah ukuran, bentuk, atau kekasaran alat yang cukup untuk membuatnya tak efektif, terutama jika tekanan tanah terhadap alat tinggi. Watak atau kondisi tanah yang mempengaruhi kepengikisan antara lain ialah: kekerasan, bentuk dan ukuran partikel tanah, kepadatan yang menahan partikel dalam massa tanah, dan kandungan lengas tanah. Ketahanan kikis logam terpengaruhi terutama oleh komposisi bahannya dan kekerasan, kekuatan, dan kekasarannya.
Pelapisan atau penyepuhan dengan logam campuran yang khusus yang tahan kikis sering diberikan pada tepi pemotong alat olah tanah untuk menurunkan laju aus, khususnya guna pemakaian pada tanah pasir atau tanah geluh pasiran. Proses ini dikenal sebagai pengerasan muka. Pengerasan muka bahan dengan komposisi berbeda tersedia untuk kondisi kombinasi kikis dan bentur tertentu. Bahan tersebut, yang dijual dengan berbagai nama dagang, sangat keras dan sebagian di antaranya cukup getas. Bahan tersebut biasanya campuran krom-kobalt-tungsten yang tak berbesi, atau campuran besi karbon tinggi yang mengandung unsur semacam krom, tungsten, mangaan, silikon dan molibden. Bahan tersebut diberikan pada kejen bajak, mata bajak tanah bawah, pendangir pahat, dan alat olah tanah lainnya dengan memakai las busur listrik atau las karbit.

J. Faktor-faktor Rancangan Alat Olah Tanah
Capaian penggunaan alat olah tanah ialah untuk mengerjai (mengubah, memindahkan, atau membentuk) tanah sebagaimana dikehendaki untuk memperoleh kondisi tanah tertentu. Tiga faktor rancangan abstrak yaitu kondisi awal tanah, bentuk alat, dan cara gerak alat akan mengendalikan atau menentukan pengolahan tanahnya. Hasil dari ketiga faktor masukan independen tersebut ditunjukkan oleh dua faktor keluaran yaitu kondisi akhir tanah dan gaya yang dibutuhkan untuk mengolah tanah. Kelima faktor tersebut seluruhnya berkaitan langsung dengan kepentingan perancang peralatan olah tanah.
Dari ketiga faktor masukan, perancang hanya memiliki kekuasaan yang penuh terhadap bentuk alat. Pengguna mungkin mengubah-ubah kedalaman atau kecepatan pengerjaan dan mungkin juga memakai alat untuk berbagai kondisi awal tanah, Bagaimanapun bentuk alat tak dapat ditinjau terpisah dari cara penggerakannya atau kondisi awal tanahnya. Orientasi bentuk alat yang berkaitan dengan arah jalan mestilah ditentukan. Kondisi tanah awal yang berbeda kadangkala membutuhkan bentuk yang berbeda. Contohnya, banyak bentuk bajak singkal yang berbeda yang dibuat untuk jenis dan kondisi tanah yang berbeda.
Bentuk yang perlu diperhatikan dalam rancangan ialah permukaan tempat tanah bergerak di atasnya saat alat olah tanah dipergunakan. Gill dan Vanden Berg menggolongkan 3 perwatakan bentuk: bentuk makro, bentuk tepi, dan bentuk mikro. Istilah bentuk makro menunjuk pada bentuk permukaan secara garis besar, sedangkan bentuk tepi menunjuk pada bentuk tepi luar dan irisan melintang pada batas permukaan pengerja tanah. Bajak piringan yang bertakik dan yang halus mamiliki bentuk tepi yang berbeda namun bentuk makronya dapat sama. Bentuk mikro menunjuk pada kekasaran permukaan.
Kebanyakan bentuk alat olah tanah dibuat dengan cara potong dan coba, atau berdasar analisis kualitatif. Hubungan bentuk dengan kerja pengolahan tanah telah memperoleh perhatian terbesar pada pengembangan mata bajak singkal, sedangkan hubungan antara bentuk dan gaya memperoleh perhatian pada pengembangan alat tanah bawah dan alat jenis pahat. Penggambaran bentuk secara matematika merupakan cara penggambaran yang paling serbaguna, namun alat semacam bajak singkal memiliki bentuk yang kompleks sehingga tak dapat secara mudah digambarkan dalam bentuk matematika. Penggambaran secara grafik sering telah dicoba dan penggunaan analisis komputer untuk bentuk mata bajak terus meningkat.
Bentuk tepi pemotong dapat mempengaruhi draft di samping mempengaruhi suku gaya tanah tegak dan menyamping. Contohnya, lempeng piringan yang diasah pada sisi cekungnya akan menembus tanah lebih gampang dibanding lempeng yang diasah pada sisi cembungnya. Kejen yang telah aus akan mengurangi gaya V tegak arah ke bawah, dan cenderung menyebabkan pemadatan tanah dan kadangkala nyata-nyata menaikkan draft.
Kekasaran permukaan tempat meluncurnya tanah (bentuk mikro) mempengaruhi gaya gesek. Kekasaran permukaan berkaitan dengan penghalusan awal dan pengaruh aus-kikis serta dapat terjadi secara lokal karena karat, goresan ataupun tekanan kecil. Tahanan gesek dapat menyita sampai 30 % dari draft total bajak singkal. Bentuk mikro dapat pula memiliki pengaruh yang penting terhadap unsur lain pergerakan tanah, semisal pembilasan. Faktor yang mempengaruhi pembilasan akan dibahas pada bab 2 dikarenakan watak kinerja tersebut berkaitan terutama dengan bajak singkal.
Cara bergerak alat meliputi arah, lintasan melalui tanah dan kecepatan. Untuk alat yang bergerak lurus (yaitu yang bukan rotari atau bergetar), tapak kerja tersebut biasanya dicirikan dengan semata menentukan kedalaman dan lebar potong. Arah alat yang mempunyai bentuk tertentu dapat secara nyata mempengaruhi baik pengerjaan tanah maupun gaya. Seringkali sistem persambungan yang dipakai untuk menempatkan alat mempengaruhi baik kedalaman maupun arahnya. Jika tersedia daya yang cukup, kecepatan merupakan faktor rancangan yang paling mudah diubah-ubah. Menaikkan kecepatan umumnya akan menaikkan draft, namun juga mempengaruhi pergerakan dan pemecahan tanah.

K. Pengukuran dan Penilaian Kinerja
Sebagaimana telah dibahas di depan, gaya alat dan perubahan kondisi tanah adalah dua unsur dasar kinerja alat olah tanah. Alat tersebut harus mampu mengolah tanah sebagaimana yang diperlukan dengan masukan tenaga yang sekecilnya, dan kondisi akhir tanah harus mampu mendekati kondisi yang dikehendaki. Sistem gaya yang bekerja pada alat olah tanah dapat digambarkan secara matematika dan gaya-gaya tersebut dapat diukur. Namun penghitungan kinerja secara kuantitatif sulit karena belum ada cara yang dapat secara memadai memaparkan kondisi tanah, atau yang dapat menciri kondisi yang dibutuhkan untuk kegunaan termaksud.
Tiga unsur kondisi tanah akhir yang perlu diperhatikan tergantung pada fungsi atau tujuan pengerjaan olah tanah tertentu ialah
1. derajat pemecahan tanah,
2. kehalusan ukuran bongkah tanah dalam hubungannya dengan kedalaman, dan
3. keseragaman pengadukan sampai kedalaman oleh.
Pemecahan tanah dapat diukur dengan pengayakan contoh tanah yang mewakili keseluruhan kedalaman olah. Gill dan Vanden Berg menjelaskan tentang ayakan putar yang dirancang untuk keperluan tersebut. Hasilnya dapat dinyatakan dalam besaran agihan ukuran butir tanah aktual, diameter rata-rata massa, atau modulus penghancuran
Penghalusan ukuran bongkah tanah, mungkin dengan bongkahan yang lebih besar terletak pada bagian atas dekat permukaan, sering diperlukan, namun kadang tak diperlukan pada situasi lain. Banyak jenis alat olah yang memiliki efek seperti itu, dengan derajat yang berbeda-beda. Pengayakan lapis-lapis tanah secara sendiri-sendiri merupakan cara untuk mengukur kinerja penghalusan bongkah dari suatu alat olah tanah.
Seringkali capaian olah tanah adalah untuk mencampur tanah agar diperoleh agihan bongkah atau lengas secara seragam. Bisa juga pemberian bahan seperti pestisida atau pupuk memerlukan pencampuran dengan tanah secara merata. Keseragaman pencampuran dapat dinilai dengan menempatkan bahan pelacak di permukaan tanah kemudian mengamati penyebarannya setelah olah. Bahan berupa bubuk, bahan radioaktif, bahan berpendar, zat warna yang kepekatannya dalam contoh tanah dapat diukur secara spektrofotometri, dan natrium atau kalium klorida telah dicoba untuk keperluan tersebut.
Penilaian kinerja olah tanah juga mencakup pembandingan kondisi tanah akhir aktual dengan kondisi yang dibutuhkan. Kondisi yang dibutuhkan seluruhnya ditentukan oleh maksud kegunaan tanah olahan. Tingkat kedekatan kinerja fungsional, jika dianggap berada di bawah patokan yang dikehendaki, mungkin akan diperhadapkan dengan pertimbangan ekonomi dan faktor-faktor lain. Kinerja juga mencakup kapasitas lapang dan efisiensi pemakaian tenaga, yang harus dipertimbangkan pada saat membandingkan 2 alat atau lebih. Penempatan sisaan tanaman dan derajat pencacahannya merupakan faktor lain yang kadang mesti dipertimbangkan.
Untuk menghitung efisiensi penggunaan tenaga, pada alat pertanian yang guna utamanya untuk pemecahan tanah, tenaga setara yang dibutuhkan untuk memperkecil ukuran bongkah harus diukur lewat percobaan. Caranya ialah dengan menerapkan tenaga ke tanah dengan cara yang bisa dikendalikan dan mengukur efeknya dalam besaran ukuran bongkah. Gill dan McCreery membuat cara jatuh-remuk yaitu contoh tanah dijatuhkan dari ketinggian tertentu ke atas permukaan tegar lalu tenaga kinetik yang hilang untuk penjatuhan dihubungkan dengan diameter rerata massa yang dihasilkan. Penjatuhan lebih lanjut terhadap bongkah besar yang tertinggal menghasilkan hubungan antara diameter rerata massa dengan tenaga kinetik total yang dibutuhkan (Gb. 1.4).
Pada cara penghitungan masukan tenaga setara yang lain, tenaga untuk meremukkan tanah dikenakan dengan penekanan lambat, dengan memukul tanah dengan piranti bandul atau dengan memutar bilah yang mirip rotari-tiller. Tak satupun dari cara tersebut yang dapat mengukur tenaga mutlak yang dibutuhkan untuk penghancuran tanah, karena mekanisme pecahnya tanah bisa berbeda dibanding jika diolah dengan alat olah tanah yang sebenarnya. Cara yang berbeda tidak perlu memberi hasil yang sama. Untuk masing-masing kondisi tanah yang berbeda, harus dilakukan uji tersendiri. Sekalipun demikian, cara-cara tersebut merupakan cara yang banyak manfaatnya untuk membandingkan hasil dari berbagai pengerjaan olah tanah.
Untuk menilai pekerjaan olah dalam besaran penggunaan tenaga, masukan tenaga olah aktual per satuan volume dihitung terhadap draft terukur, lebar potong dan kedalaman potong. Masukan tenaga setara dihitung dengan salah satu di antara berbagai cara yang dijelaskan di muka, dibagi dengan masukan tenaga olah aktual untuk memperoleh nisbah nirmatra yang mungkin bisa dinamakan sebagai faktor pemanfaatan tenaga. Faktor tersebut tidak menggambarkan efisiensi olah secara ketat, karena acuan masukan tenaga setara bukan minimum mutlak.

L. Pengukuran Gaya Tanah pada Alat Olah
Jika alat dipasangkan pada cabang rangka yang seluruhnya disangga oleh rangka kereta tarik melalui 6 transduser gaya yang arahnya tepat (Gb. 1.5), resultan reaksi tanah dapat dihitung secara lengkap. Kereta penarik tersebut yang biasanya ditarik traktor, menggerakkan alat dengan kecepatan, kedalaman, dan arah yang dikehendaki sementara gaya-gayanya diukur. Untuk mendapatkan hasil yang akurat, diperlukan rel pemandu untuk kereta, untuk mendapatkan lebar dan kedalaman potong yang konstan pada daerah uji.
Dengan susunan seperti itu, dapat diuji alat yang mendapat reaksi tanah gabungan geser dan putar. Gaya parasit dapat dimasukkan dalam reaksi tanah terukur, atau bisa dihilangkan atau dikecilkan dengan penyetelan alat atau dengan meniadakan semua permukaan stabilisasi dan penyangga. Pengaruh gravitasi terhadap alat dapat dihilangkan dari hitungan gaya dengan melakukan pembacaan awal dengan alat terpasang, kemudian hanya mencatat perubahan beban yang disebabkan oleh reaksi tanah. Hasil atau keluaran dari keenam transduser gaya dapat dipadukan ke dalam salah satu dari lima bentuk keluaran.
Pengukuran gaya pada alat pada ukuran sesungguhnya bisa dilakukan dengan kereta uji lapang atau dengan fasilitas laboratorium yang memiliki tanah dalam rinjing besar. Sistem rinjing tanah memungkinkan dilakukannya uji dengan pengendalian yang cermat dan kondisi tanah dan kondisi kerja yang seragam. Susunan tersebut khususnya cocok untuk penelitian dasar dan untuk uji yang berulang yang mencakup pembandingan rancangan atau penyetelan alat yang berbeda pada berbagai kondisi tanah. Secara kuantitatif, hasil uji tersebut tidak perlu mewakili keadaan lapang. Peralatan uji lapang menghasilkan perolehan yang lebih mencirikan kondisi kerja aktual namun terpengaruh oleh keragaman kondisi tanah, bahkan meskipun dalam satu lapang. Hasil uji lapang memberikan dasar yang lebih bagus untuk rancang bangun ketimbang hasil uji di rinjing tanah.
Clyde melakukan banyak terobosan baru dalam pekerjaan analisa dan pengukuran gaya di Universitas Negara Bagian Pennsylvania. Olehnya dibuat kereta uji pada kira-kira tahun 1935 dan memakainya selama beberapa tahun. Pengendalian menyamping kereta ini, yang dinamakannya “pengukur olah tanah”, dilakukan dengan pemasangan roda besi yang dijalankan melalui lekukan rel baja. Kedalaman dikendalikan dengan 2 roda berban karet yang dijalankan di atas tanah bagian yang tak diolah. Penekanan diberikan pada penghitungan tahanan tanah pada kondisi lapang aktual pada tanah yang mudah diolah, pada tanah rata-rata, dan pada tanah yang agak sulit, untuk mendapatkan kisaran kondisi sebagai dasar perancangan dan pelaksanaan kerja olah tanah.
Gill dan Vanden Berg menulis tentang 2 macam dinamometer lapang yang digunakan oleh lembaga penelitian di Eropa. Tak satupun dari keduanya yang menggunakan rel pandu. Alat dari NIAE digendongkan pada traktor dan memiliki krepyak kecil untuk mengendalikan kedalaman. Alat jenis satunya yang terdapat di Jerman dipasangkan pada kereta gandeng beroda tiga. Jika lebar potong harus dikendalikan, seperti pada bajak singkal atau piringan, dua piranti yang sama digendongkan pada kereta gandeng dengan kedudukan yang mirip dengan jika berupa satu set alat, lalu ditambahi dengan piranti belakang. Beberapa pabrik alat pertanian serta lembaga lain di Amerika juga memiliki kereta uji lapang.
Laboratorium Peralatan Olah Tanah Nasional milik USDA di Auburn, Alabama, merupakan pusat penelitian dinamika tanah yang terkenal, memiliki rinjing-rinjing tanah dan telah digunakan sejak tahun 1936. Laboratorium tersebut memiliki 9 rinjing lapang dan 2 rinjing ruang, yang di dalamnya dapat dijalankan roda, krepyak, gandengan, dan peralatan olah dengan ukuran sebenarnya. Masing-masing rinjing memiliki lebar 6,1 m, tinggi 0,6 atau 1,5 m dan panjang 58 atau 76 m. Komposisi mekanika tanah berbeda-beda mulai tanah pasir sampai tanah lempung. Dari tanah tersebut dipilih untuk memperoleh kisaran perwatakan tanah yang lebar. Rel di atas dinding di antara rinjing digunakan untuk bertumpunya roda dan semua penumpu dari kereta uji. Tersedia peralatan untuk pemadatan, penggerusan, pengadukan, perataan, atau penyemprotan tanah, dan untuk melindunginya dari cuaca. Kereta penarik menarik kereta alat dan dapat dijalankan pada kecepatan 3 16 km/jam.
Beberapa pabrik alat pertanian, beberapa balai penelitian pertanian di negara-negara bagian dan Laboratorium Peralatan Olah Tanah Nasional memiliki rinjing tanah kecil yang diletakkan dalam ruangan, yang dipergunakan terutama untuk penelitian berskala model atau untuk bentuk piranti olah yang sederhana. Jumlah fasilitas tersebut selalu bertambah. Kadang-kadang alat digerakkan melintasi rinjing diam yang panjangnya 6,1 18,3 m, ada juga yang alatnya diam, sedangkan tanahnya dijalankan dalam palung berbentuk cincin yang diputar, dalam rinjing pendek yang dijalankan lurus, atau di atas sabuk yang bergerak.
Kebanyakan, jika bukannya semua, alat uji yang terdapat sekarang menggunakan transduser penara regangan (straingage). kecepatan maju biasanya diukur dengan generator tachometer yang menghasilkan sinyal listrik yang dapat dimasukkan dalam satu saluran pada piranti yang sama dengan yang digunakan untuk transduser gaya. Biasanya dipakai 8 saluran osilograf, 4 saluran pita magnetik perekam, dan perekam x-y. Setidaknya di satu tempat, seluruh sinyal keluaran transduser dimasukkan langsung ke dalam komputer analog yang mengolah seluruh data selama pengujian.
Ketika mempelajari satu suku atau bagian khusus dari alat, sering diperlukan untuk mengisolasi suku tersebut dan mengukur hanya gaya yang bekerja padanya. Contohnya, kejen bajak singkal dapat disangga dari belakang dengan 2 batang julur (kantilever) yang secara bangun memisahkannya dari bagian mata bajak lainnya namun masih menempatkannya pada posisi fungsionalnya yang benar. Penara regangan dapat dilekatkan pada balok penyangga untuk mengukur satu atau lebih suku gaya atau untuk mengukur sistem gaya selengkapnya pada kejen. Untuk menghitung sistem selengkapnya dibutuhkan 6 pengukuran gaya, yang pada contoh tadi berupa gaya sumbu dan momen lengkung pada 2 arah tegak lurus pada masing-masing balok. Kadang-kadang transduser gaya dapat dilekatkan langsung pada suku bangun yang secara normal menopang piranti atau suku alat.
Jika penghitungan gaya dilakukan dengan cara pengukuran momen lengkung, momen tersebut perlu diukur pada 2 bagian dari balok untuk menentukan secara akurat gaya normal yang bekerja padanya. Kedua bagian tersebut harus terletak berjauhan (agar diperoleh tanggapan yang maksimum) dan irisan melintangnya mesti identik. Rangkaian jembatan disusun sedemikian sehingga perbedaan di antara kedua momen dapat terukur. Setiap momen yang berasal dari suku gaya eksentrik yang sejajar terhadap poros balok akan terhapuskan pada pembacaan transduser, dikarenakan momen semacam itu akan mempunyai besar yang sama sepanjang balok. Gaya sumbu tidak menghasilkan tanggapan, karena pengaruhnya terhadap kedua penara sama besar.

M. Pengukuran Draft Peralatan Tipe Tarik
Sebagaimana digawarkan pada pasal 6, draft ialah bagian dari pull yang arahnya sejajar arah gerak. Piranti tersederhana untuk mengukur pull ialah dinamometer pegas (dengan bagian utamanya berupa pegas besar yang dihubungkan dengan jarum penunjuk) yang disambungkan di antara batang penarik traktor dan titik penggandengan pada peralatan olah, dan dibaca secara langsung. Dikarenakan adanya fluktuasi beban yang terjadi secara cepat, dinamometer semacam itu hanya cocok untuk pengukuran secara kasaran. Dinamometer hidrolik, yang menyalurkan tekanan ke manometer bourdon yang telah dikalibrasi dalam satuan gaya, lebih mudah digunakan dibanding dinamometer pegas, karena fluktuasi gaya dapat diredam cukup bagus dengan menggunakan cairan yang kental atau dengan diperlengkapi dengan penghambat aliran pada saluran cairannya. Beberapa dinamometer hidrolik merekam pull di atas kertas grafik yang digerakkan dari roda tanah.
Dinamometer penara regangan sering digunakan untuk mengukur pull batang penarik. Ada beberapa ragam susunan yang digunakan, namun biasanya penara regangan mengukur pada rangka yang terkena momen lengkung. Dengan meletakkan penara pada tempat yang berlawanan sehingga mendapat tarikan dan tekanan, dihasilkan tanggapan maksimum serta penyederhanaan kompensasi suhu. Transduser gaya tipe cincin yang susunan penara regangannya seperti terlihat pada gambar 1.6, mempunyai kepekaan bagus terhadap gaya tarik atau tekan sumbu sedangkan tanggapannya tidak terpengaruh oleh beban bengkok keseluruhan.
Untuk mendapatkan gambaran lengkap dari draft alat dan kebutuhan daya, perlu dilakukan pengukuran kecepatan dan lebar serta kedalaman olah di samping penghitungan draft. Karena adanya fluktuasi yang lebar dalam hal draft dan kondisi tanah, bahkan pada satu lintasan yang pendek, perlu dibuat grafik pull terhadap jarak tempuh. Pengintegralan luasan di bawah kurva tersebut akan menghasilkan usaha total dan pull rerata. Kecepatan dapat dihitung dengan mengukur waktu tempuh sepanjang jarak tempuh, yang telah diukur atau yang secara otomatik tercatat, atau dengan generator tachometer yang digerakkan dari roda tanah.
Jika dinamometer biasa disambungkan langsung pada persambungan antara peralatan dan traktor, gaya yang terukur menunjukkan total pull bukannya suku draft. Dalam hal itu sudut tegak antara garis pull dengan arah mendatar dan sudut datar antara garis pull dan arah gerak harus diukur sehingga draft dapat dihitung dari pull. Zoerb menulis tentang dinamometer penara regangan sambung langsung yang penaranya dilekatkan pada poros tegak yang ditopang oleh 2 bantalan bola (yang bekerja sebagai balok sederhana) dengan susunan sedemikian sehingga penara hanya akan mengukur suku draft dari pull. Dengan mencatu rangkai jembatan penara regangan tersebut dari tegangan yang berasal dari generator tachometer, dapat diperoleh pembacaan daya secara langsung.
Darft bajak umumnya dinyatakan dalam newton per cm2 irisan olah. Draft semacam ini digawarkan dalam pasal 1.6 sebagai draft spesifik. Pada beberapa alat, misalnya penanam, dapat dipakai satuan kilonewton per larik. Untuk kebanyakan peralatan olah tanah lain, draft biasanya dinyatakan dalam kilonewton per meter lebar, kadangkala juga dengan menerangkan kedalaman olahnya. Kisaran khas draft peralatan disajikan pada tabel 1.

N. Pengukuran Gaya Gandeng pada Peralatan Gendong dan Semi Gendong
Draft dapat diukur dengan pemasangan penara regangan pada sisi depan dan belakang pada pasak melintang yang dijulurkan, yang menyangga ujung depan sambungan pada gandengan 3 titik. Balok sederhana, bukannya balok julur, dapat dipakai pada titik gandengan atas. Empat penara pada setiap penumpu ditempatkan secara akurat sedemikian sehingga dapat menangkap hanya momen lengkung pada bidang yang mendatar. Pembacaan tunggal untuk draft dapat diperoleh dengan menyambungkan keluaran dari ketiga rangkai jembatan (satu rangkai per penyangga) secara sejajar, atau dengan menyambungkan semua penara ke dalam satu rangkaian jembatan. Pengukuran perbedaan antara momen lengkung pada 2 bagian untuk masing-masing balok penyangga, sebagaimana diterangkan pada pasal 1.5, menghilangkan pengaruh momen yang disebabkan oleh gesekan dalam sambungan bantalan bola. Scholtz mengecilkan pengaruh gesekan bantalan bola dengan membuat balok julur gandengan bawah sepanjang 165 mm (terhadap titik pusat bola). Pengukuran momen lengkung hanya dilakukan pada satu irisan pada masing-masing balok.
Sistem pasak-gandengan untuk pengukuran draft hanya cocok jika peralatan tidak disangga sama sekali oleh sambungan pengangkat gandengan, atau jika gaya sambungan pengangkat dan sudutnya terukur. Oleh karena sambungan pengangkat tidak tegak (Gb 1.7), setiap gaya yang terdapat di dalamnya akan memiliki suku membujur yang akan mempengaruhi tanggapan dari balok transduser pada gandengan bawah. Gaya pada sambungan pengangkat dapat diukur menggunakan transduser tipe cincin (Gb 1.6) serta menggabungkannya ke dalam pembacaan tunggal. Sudut gandengan pengangkat pada bidang tegak membujur harus juga diketahui untuk menentukan koreksi terhadap pembacaan draft.
Jika suku gaya membujur, tegak, dan menyamping yang bekerja pada peralatan harus dihitung semua, harus dibuat pengukuran secara bersamaan terhadap
1. gaya sumbu dan momen lengkung pada 2 arah pada kedua gandengan bawah (diukur di bawah gandengan pengangkat),
2. gaya sumbu pada gandengan atas, dan
3. arah ketiga gandengan.
Penara regangan dapat dipasang secara langsung pada gandengan bawah atau pada gandengan langsung yang disesuaikan, yang memungkinkan diperolehnya tanggapan yang memadai pada ketiga arah. Susunan yang lebih peka terdiri atas gandengan khusus yang menyalurkan gaya sumbu dan momen lengkung melalui balok julur yang tegak lurus terhadap poros gandengan, dengan mempergunakan prinsip pengurangan momen lengkung ganda (pasal 1.15) pada masing-masing dari ketiga arah suku gaya. Susunan ini ditunjukkan pada gambar 1.7. Pada gandengan atas, digunakan transduser gaya tipe cincin.

O. Kebutuhan Tenaga dan Pemecahan Tanah
Sebagaimana ditunjukkan pada gambar 1.4, tenaga yang dibutuhkan untuk pemecahan tanah tergantung pada derajat penghancuran yang diinginkan. Jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu tingkat penghancuran tertentu bergantung terutama pada kekuatan tanah dan efisiensi penggunaan tenaga oleh alat. Kekuatan tanah tergantung pada watak alami tanah dan kondisi fisikanya. Tanah lempung memiliki kebutuhan tenaga pecah yang lebih tinggi dibanding tanah pasir atau geluh. Iklim, cara tanam, cara budidaya, dan faktor-faktor lain mempengaruhi kondisi fisika tersebut. Untuk tanah tertentu, kebutuhan tenaga akan bertambah dengan bertambahnya rapat curah, sebagaimana dilukiskan pada gambar 1.8.
Kekuatan dari tanah yang lembab pada awalnya, akan naik secara cepat jika tanah tersebut mengering, khususnya pada tanah lempung dan tanah geluh lempungan, sehingga akan juga meningkatkan kebutuhan tenaga penghancuran. Pada alat yang memiliki permukaan yang luas yang bersinggungan dengan tanah, naiknya gesekan pada tahap adhesi akan menaikkan kebutuhan tenaga jika tanah terlalu basah. Oleh karena itu, penjadwalan pekerjaan olah tanah sedemikian sehingga dapat dilaksanakan pada kandungan lengas optimum dapat merupakan masalah penting dalam kaitannya dengan pengecilan kebutuhan tenaga. Pada daerah kering, pemberian air sebelum olah tanah bisa mengurangi kebutuhan daya dan atau menaikkan derajat penghancuran. Olah tanah kedua hendaknya dilaksanakan sebelum bongkahan tanah memiliki waktu yang cukup untuk mengering.
Kedalaman olah, lebar olah, bentuk alat (termasuk tepi pemotongnya), penyusunan alat dan kecepatan jalan adalah faktor yang dapat mempengaruhi draft dan efisiensi pemanfaatan tenaga pada kondisi tanah tertentu. Pengaruh parameter tersebut berbeda-beda pada berbagai jenis alat yang berbeda dan pada berbagai kondisi tanah yang berbeda. Pada saat menghitung pengaruhnya terhadap draft, pengaruh masing-masing terhadap tingkat penghancuran harus juga dipertimbangkan. Kadang-kadang sedikit penambahan pemecahan tanah dianggap telah cukup memadai untuk menghindari banyak berkurangnya efisiensi pemanfaatan tenaga. Pertanyaan yang harus diajukan kemudian adalah apakah meningkatnya penghancuran tersebut menguntungkan pada situasi tertentu.
Pada bajak gancu, draft spesifik rerata pada olah tanah pertama umumnya menunjukkan peningkatan kecil atau cukupan dengan meningkatnya kedalaman, terutama pada tanah berat. Uji lapang kadang menunjukkan kenaikan besar pada kedalaman di bawah kedalaman olah normal karena adanya keragaman kondisi tanah (misalnya adanya lapisan terpadatkan). Pengaruh kedalaman terhadap draft spesifik bajak singkal dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran, akan dibahas pada bab 2. Penempatan roda, garit, atau piranti samping lain secara tak tepat, yang sehingga mengganggu pola patahan tanah normal, dapat menaikkan draft. Bentuk dan arah alat merupakan faktor penting berkaitan dengan draft. Masalah tersebut akan dibahas pada bab yang menerangkan masing-masing tipe implemen.
Gill dan McCreery melakukan uji pada bagian mata bajak singkal yang lebarnya 51, 102, 152, dan 203 mm, dengan lebar pemotongan 25 sampai 203 mm pada tanah geluh lempung debuan di Laboratorium Peralatan Olah Nasional. Draft spesifik untuk pemotongan 51 mm dan 25 mm ialah 40 % dan 140 % lebih tinggi dibanding rerata untuk pemotongan 102, 152, dan 203 mm. Namun diameter massa rerata bongkah menurun dari 218 sampai 38 mm jika lebar pemotongan dikurangi. Faktor pemanfaatan tenaga, didasarkan pada metoda jatuh-remuk (pasal 1.14) meningkat dari 0,14 pada pemotongan 203 mm sampai 0,65 pada pemotongan 51 mm dan 0,79 pada pemotongan 25 mm. Pengujian terhadap bajak piringan 66 cm dengan pemotongan 25 mm sampai 203 mm menghasilkan draft spesifik yang lebih tinggi pada pemotongan 25 mm dan 51 mm, namun tidak banyak perubahan faktor pemanfaatan tenaga pada seluruh kisaran lebar.
Berbagai pengujian tersebut memperlihatkan prinsip penggunaan potongan kecil pada tanah yang mampat untuk memperoleh fragmentasi maksimum, serta menghasilkan perkiraan bahwa metoda yang paling efisien untuk menghasilkan diameter massa rerata bongkah tertentu ialah dengan mengenakan gaya dengan cara sedemikian sehingga pemecahan tanah terjadi dalam satu langkah sekaligus. Pada cara yang dikerjakan sekarang ini, dipakai cara yang berlawanan, yaitu massa tanah dihancurkan dengan pengerjaan olah tanah yang berturutan. Peralatan yang digunakan pada tanah gembur sering hanya memindahkan bongkah tanpa terlalu banyak menambah tingkat peremukan.
Efek pembajakan yang diikuti oleh 4 kombinasi olah tanah kedua telah diamati pada uji lapang yang dilakukan pada 7 kombinasi tanah dan kondisi tanaman sebelumnya yang berbeda-beda. Pada 4 lapang yang semua olah tanah untuk lapang khususnya dikerjakan dalam perioda 3 jam, diameter massa rerata bongkah tanah setelah pembajakan berkisar antara 33 mm 61 mm. Pembajakan menggunakan piringan setelah singkal mengurangi ukuran bongkah dengan 20 35 % namun pemakaian piringan berikutnya, atau penggaruan setelah pembajakan piringan, biasanya tak lagi memiliki efek berarti terhadap rerata ukuran bongkah.

P. Pengaruh Kecepatan terhadap Draft
Menambah kecepatan maju akan menaikkan draft pada kebanyakan alat olah tanah, terutama karena percepatan yang lebih besar terhadap tanah yang terpindah jauh. Percepatan tanah meningkatkan draft sedikitnya karena 2 alasan, pertama karena gaya percepatan menaikkan beban normal pada permukaan yang bersinggungan dengan tanah, yang oleh karenanya menaikkan tahanan gesek, dan kedua karena adanya tenaga kinetik yang dipindahkan ke tanah. Oleh karena gaya percepatan sebanding dengan kuadrat kecepatan, dan karena draft juga mencakup suku yang pada dasarnya tidak tergantung pada kecepatan, menjadi nalarilah untuk menyatakan hubungan antara kecepatan dan draft dengan persamaan berbentuk

Ds = Do + K S2 . . . . . . . . . . . . (1.3)

dengan
Ds = draft pada kecepatan S
Do = suku statika draft, independen terhadap kecepatan
S = kecepatan maju
K = tetapan yang nilainya tergantung pada jenis rancangan alat serta pada kondisi tanah.

Besarnya pengaruh kecepatan terhadap draft tergantung pada besar relatif suku yang tak bergantung pada kecepatan dan suku yang meningkat jika kecepatan meningkat, serta dipengaruhi oleh jenis dan rancangan alat serta oleh kondisi dan jenis tanah. Sebagai contoh, terdapat hasil uji yang menunjukkan bahwa penambahan kecepatan dari 4,8 km/jam menjadi 9,6 km/jam menaikkan draft sebesar 90 % dan 40 % pada bajak piringan pada dua jenis tanah yang berbeda, dengan rerata sebesar 50 % untuk bajak singkal lazim pada satu jenis tanah dan sebesar 15 % pada bajak tanah bawah.

Q. Pengkajian Berskala Model
Uji lapang alat olah tanah terpengaruhi oleh keragaman alami kondisi tanah. Penggunaan rinjing tanah yang besar untuk uji alat dengan ukuran sebenarnya memerlukan modal yang mahal untuk peralatan yang sangat khusus. Pendekatan lain yang menawarkan kemurahan, kenyamanan dan penguasan kondisi yang bagus ialah penerapan prinsip simulasi dalam uji laboratorium alat olah tanah berukuran model. Model alat telah digunakan dalam banyak bidang keteknikan, namun hanya sejak kira-kira tahun 1966 terdapat minat yang besar dalam pengkajian model terhadap alat olah tanah.
Capaian Umum Uji Model Ialah
1. untuk dapat memprakirakan unjuk kerja sistem prototipe (dengan ukuran sebenarnya) dari nilai yang terukur pada sistem yang kecil dan relatif murah, atau
2. untuk memperoleh pemahaman terhadap sifat, besar, dan efek parameter fisika sistem tersebut.
Pengkajian model yang diperkecil didasarkan pada konsep kesamaan antara sistem prototipe dan model, dengan kaidah-kaidah fisika yang sama yang mengatur kedua sistem tersebut.
Dua sistem akan menampilkan kelakuan yang mirip jika dicapai kemiripan geometri, kinematika, dan dinamika. Untuk mendapatkan kemiripan geometri merupakan hal yang relatif sederhana. Untuk kemiripan dinamika, nisbah seluruh gaya yang mempengaruhi sistem harus sama pada model dan pada prototipe. Masalahnya adalah mengenali dan menentukan semua gaya itu. Kesamaan kinematika biasanya akan tercapai jika kesamaan geometri dan dinamika telah tercapai.
Langkah pertama dan terpenting dalam merencanakan kajian model ialah pencirian semua variabel fisika yang dapat diukur, yang jika dipadukan secara benar akan secara lengkap menjelaskan gejala fisika yang dikaji. Kemudian prinsip analisis matra diterapkan untuk mengelompokkan variabel tersebut menjadi serangkai besaran yang independen dan tak bermatra, yang digunakan sebagai dasar untuk perancangan alat.
Jika telah diperoleh pembuatan skala yang benar pada semua faktor yang relevan, prakiraan yang bagus terhadap kinerja sistem prototipe dapat diperoleh dengan semata mengalikan kinerja model dengan faktor pengali yang sesuai. Biasanya terdapat unsur yang tak terskala. Unsur tersebut akan mengakibatkan ketaksamaan atau distorsi yang perlu dipertimbangkan. Menskala sifat-sifat tanah adalah salah satu masalah utama.
Usaha cara lain untuk menentukan dan mengukur seluruh sifat tanah sehingga dapat diskala ialah menggunakan tanah yang sama untuk prototipe dan model. Penyimpangan yang muncul kemudian dihitung secara empiri dengan mengamati kecenderungan hasil yang diperoleh dengan model dengan beberapa ukuran (memiliki faktor pengali yang berbeda) lalu membuat faktor penduga untuk menghilangkan efek penyimpangan.

R. Penelitian terhadap Alat Olah Tanah Sederhana
Pada tahun-tahun belakangan ini usaha penelitian yang banyak telah dilakukan untuk pengujian alat olah tanah berbentuk sederhana sebagai cara untuk mengkaji prinsip dasar reaksi tanah terhadap gaya yang mengenainya. Alat tersebut biasanya berujud lempeng datar yang dijalankan melalui tanah dengan posisi tegak (dengan sudut angkat 90o) ataupun dengan posisi miring dengan sisi bawahnya di depan (dengan sudut angkat tajam). Lempeng-lempeng yang lebarnya 25 100 mm biasanya dipakai sebagai gerigi garpu dengan bagian lebar penuhnya mencuat ke atas permukaan tanah. Lempeng lebar (ada yang sampai 76 cm) lebih sering dibenamkan dan dipakai pada sudut angkat kurang dari 45o untuk mempelajari gerakan tanah ketika terangkat. Uji dengan alat sederhana dilakukan di lapang, di rinjing lapang atau di rinjing ruang dengan berbagai ukuran.

Diposkan oleh saepudin di 07:18 0 komentar
ATASI MASALAH GULMA TANAMAN KEDELE PADA SISTIM TANAM TANPA OLAH TANAH (TOT) DENGAN MESIN PENYIANG TIPE CAKAR PUTAR

Penanaman kedelai dengan sistem Tanpa Olah Tanah (TOT) sering dilakukan petani, karena dengan sistem ini tidak diperlukan biaya pengolahan tanah dan juga penanaman dapat segera dilakukan setelah musim tanam padi. Dalam kenyataannya karena tidak diolah maka gulma, khususnya dari golongan gramineae (rumput-rumputan) akan segera tumbuh sebelum bibit kedelai tumbuh tinggi. Kalau ini dibiarkan, maka gulma tersebut akan mendominasi pertumbuhan kedelai, sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi.
Untuk menghindari kondisi seperti ini biasanya petani mulai melakukan penyiangan setelah tanaman kedelai berumur 15 hari dengan cara mencangkul gulma yang tumbuh diantara tanaman kedelai. Pekerjaan ini memerlukan biaya dan tenaga yang cukup besar, sehingga sistim penanaman TOTyang bertujuan untuk menghemat biaya pengolahan tanah tidak akan efektif.
Kelompok tani “ Sari Makmur “ merupakan salah satu kelompok tani yang sebagian besar anggota kelompok taninya dalam menanam kedelai menerapkan sistim tanam TOT. Kendala utama pada sistim ini adalah munculnya gulma sebelum tanaman kedelai tumbuh tinggi. Sehingga kalau gulma ini dibiarkan, maka akan menggangu pertumbuhan bibit kedelai. Dengan demikian penyiangan gulma pada sistim Tanam TOT harus dilakukan. Penyiangan gulma ini dilakukan dengan memborongkan dengan dengan biaya sekitar Rp. 350.000,-/ha.
Dengan pertimbangan seperti tersebut di atas maka keberadaan alat penyiang gulma tanaman kedelai pada sistim tanaman TOT akan sangat diharapkan oleh petani untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman sehingga hasil panen akan meningkat.

PERUMUSAN MASALAH
Penanaman kedelai dengan sistim tanam TOT mempunyai kelemahan yaitu:
a. Gulma tumbuh subur sebelum tanam kedelai tumbuh tinggi sehingga kalau dibiarkan akan mengganggu pertumbuhan tanamant kedelai
b. Pemupukan tanaman akan kurang efektif apabila dengan tumbuhnya gulma disekitar tanaman.
c. Penyiangan gulma memerlukan biaya sekitar Rp. 350,000,-/ha

Penyiangan gulma yang dilakukan secara manual mempunyai kelemahan yaitu:
a. Penyiangan membutuhkan tenaga yang banyak sekitar 3 – 4 orang dengan ongkos borongan Rp. 350.000,-/ha
b. Penyiangan kurang bersih
c. Waktu penyiangan cukup lama sekitar 5 hari
d. Melihat kondisi tersebut diatas maka keberadaan alat penyiang gulma tanaman Kedelai sangat diharapkan oleh para petani untuk dapat meningkatkan hasil panennya.

TINJAUAN PUSTAKA

Gulma
Gulma adalah tumbuhan yang tumbuhnya salah tempat. Sebagai tumbuhan, gulma selalu berada disekitar tanaman yang dibudidayakan dan berasosiasi dengannya secara khas. Gulma tumbuhan yang mudah tumbuh pada setiap tempat yang berbeda-beda, mulai dari tempat yang miskin nutrisi sampai yang kaya nutrisi. Sifat inilah yang membedakan gulma dengan tanaman yang dibudidayakan. Kemampuan gulma mengadakan regenerasi besar sekali, khususnya pada gulma perennial. Gulma perennial dapat menyebar dengan cara vegetatif. Luasnya penyebaran karena daun dapat dimodifikasikan , demikian pula pada bagian-bagian lain. Disamping itu, gulma juga dapat membentuk biji dalam jumlah banyak sehingga gulma cepat berkembang biak.
Secara fisik, gulma bersaing dengan tanaman budidaya untuk ruang, cahaya dan secar kimiawi untuk air, nutrisi, gas-gas penting, dan dalam peristiwa allelopati. Persaingan dapat berlangsung bila komponen yang dibutuhkan oleh, baik gulma maupun tanaman budidaya, berada pada jumlah yang patut diperebutkan (Adisarwanto T.,1999).
Penanaman Kedelai
Ada dua macam cara yang biasa dipraktekkan para petani dalam menanam Kedelai, yaitu dengan menabur dan membuat tugalan. Menanam dengan cara menabur mengandung beberapa kelemahan, antara lain pertumbuhan tanaman tidak seragam dan tidak merata, sebagian benih dapat tumbuh pesat, yang lain kerdil, bahkan ada pula yang sama sekali tidak tubuh. Disamping itu ada tanaman yang tumbuh mengelompok, sebaliknya ada pula tanaman yang tumbuh terpisah. Kelemahan lain ialah bahwa kebutuhan bibit sangat banyak. Kelebihan menanam dengan cara tugalan adalah jarak tanam bisa diatur, sehingga jumlah biji yang dibutuhkan dapat diperhitungkan sebelumnya, pertumbuhan tanaman seragam.
Jarak tanam pada penanam dengan membuat tugalan berkisar antara 20 – 40 cm. jarak tanam hendaknya diatur, agur tanaman memperoleh raung tumbuh yang seragam dan mudah disiangi. Jarak tanam Kedelai tergantung pada tingkat kesuburan tanah dan sifat tanaman yang bersangkutan. Pada tanah yang subur, jarak tanam lebih renggang, dan sebaliknya pada tanah tandus jarak tanaman dapat dirapatkan. Jarak tanam pada penanam benih Kedelai berdasarkan tipe pertumbuhan tegak dapat diperpendek, sebaliknya pada penanaman benih dengan tipe pertumbuhan agak condong (batang bercabang banyak) jarak tanam diusahakan agak panjang, supaya pertumbuhan tanaman yang satu tidak terganggu tanaman yang lain.
Pemeliharaan Kedelai
Usaha pemeliharaan sebaiknya sejak awal, dimulai dengan pemeliharaan tanah sebelum biji Kedelai ditanam, sebab apabila tanah yang telah diolah itu dibiarkan selama kurang lebih dua minggu, kemungkinan besar tanah hasil olahan tadi sudah ditumbuhi guma (tumbuhan liar) yang biasanya mulai tumbuh 10 – 15 hari setelah pengolahan tanah. Oleh karena itu, pemeliharaan tanah mutlak perlu dilakukan sebaik-baiknya. Dalam pemeliharaan tanaman Kedelai beberpa hal yang perlu diperhatikan ialah: penyiangan
Penyiangan Gulma Kedelai
Menyiangi berarti mencabuti rumput atau tanaman penganggu lain, kemudian membenamkannya ke dalam tanah agar tidak dapat tumbuh lagi. Rumput-rumput yang tidak disiangi akan sangat merugikan karena:
merintangi perkembangan akar dan bakal buah
menghisap garam-garam mineral ataupun pupuk
menghisap air dari dalam tanah
mengganggu masuknya sinar matahari dan pengolaan.
Penyiangan pertama dilakukan sebelum biji ditanam agar pada saat biji ditanam dapat tumbuh dan tidak terganggu akar-akar rumput. Tanaman Kedelai yang baru tumbuh sangat peka terhadap lingkungan seperti gangguan gulma, hujan lebat, hama dan sebagainya.
Penyiangan berikutnya dilakukan setelah tanaman berumur 3 – 4 minggu, sebab pada saat itu biasanya rumput telah tumbuh lagi memenuhi areal tanaman. Penyiangan yang baik dapat dilakukan sampai ke akar-akarnya, dapat pula disertai dengan mendangir, yakni menggemburkan tanah dengan cara mengaduk dan membolak-balik tanah. Pendangiran tanah perlu dilakukan agar tanah yang telah memadat akibat hujan lebat menjadi gembur dan lembab kembali sehigga akar dapat berkembang dengan leluasa dan peredaran udara serta air tidak terhalang.

Alat Penyiang
Penyiangan biasanya dilakukan secara mekanis, yakni dengan membongkar gulma dengan menggunakan cangkul atau brujul (alat untuk melubangi tanah, berbentuk seperti garu, ditarik oleh ternak). Penyiangan dengan menggunakan cangkul pada umumnya lebih baik karena dengan cara ini penyiangan dapat dilakukan dengan teliti meskipun hasilnya sedikit dan memakan banyak waktu. Sebaliknya penyiangan dengan menggunakan brujul lebih cepat, tetapi hasilnya kurang baik karena tanaman sering rusak terinjak-injak oleh ternak yang menarik brujul. Kalau gulma yang tumbuh sangat banyak, perlu dilakukan penyiangan ketiga yakni saat Kedelai berumur 60 hari. Penyiangan tidak boleh dilakukan waktu Kedelai sedang berbunga karena akan mengakibatkan bunga rontok.

METODE PELAKSANAAN PROGRAM

Studi pustaka dan observasi lapang
Dalam merekayasa mesin penyiang gulma tanaman kedelai diperlukan studi pustaka mengenai :
a. Teknik budidaya tanaman kedelai sistim tanam TOT meliputi : cara penanaman, pemupukan, pengairan, penyiangan dan pemanenan.
b. Sifat-sifat dan jenis gulma tanaman Kedelai
c. Teknik penyiangan meliput: cara penyiangan, macam peralatan penyiangan.
d. Teknik perancangan alat dan mesin pertanian khususnya mesin penyiang gulma.
Studi Lapang yang dilakukan adalah:
Mengamati pertumbuhan gulma pada tanaman Kedelai mulai dari penanam sampai panen. Mengamati cara penyiangan gulma yang dilakukan secara manual. Mengamati peralatan yang dipergunakan untuk penyiangan. Rancang Bangun Mesin Penyiang Gulma untuk Tanaman Kedelai
Mesin penyiang gulma didesain untuk tanaman Kedelai dengan jarak tanaman membujur antara 40 cm sampai 60 cm. Kerja mesin penyiang ini menggunakan sistim cakar dengan pisau cakar berderet pada sebuah as. Dengan sistim ini diharapkan gulma akan tercabut sampai keakarnya. Tenaga penggerak untuk memutar pisau menggunakan motor bensin 5,5 HP sedangkan untuk berjalan menggunakan tenaga dorong manusia. Gambaran mesin penyiang gulma untuk tanaman kedelei secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 3.
Mesin penyiang gulma untuk tanaman kedelei yang dibuat ini terdiri dari beberapa bagian utama yaitu:

Unit Pencakar Gulma
Unit ini sangat menentukan keberhasilan penyiangan gulma untuk itu pembuatan unit ini sangat diperhatikan. Komponen utama terdiri dari pisau cakar dan as. Pisau cakar terbuat dari bahan baja dengan bentuk modifikasi dari pisau bajak rotary. Jumlah pisau cakar sebanyak 5 buah dengan jarak masing-masing 10 cm. As yang digunakan besi as diameter ¾ dim yang digerakkan dengan sistim transmisi rantai.
Unit Transmisi
Transmisi yang digunakan untuk menggerak pisau cakar menggunakan sistim rantai diharapkan tidak akan ada slip tenaga. Untuk keamanas motor penggerak sudah terdapat didalam sistim tramisi motor itu sendiri. Rantai yang digunakan ukuran kecil untuk mengurangi beban motor terlalu besar.
Unit Roda
Untuk dapat berjalan mesin penyiang ini dilengkapi roda jalan dengan diameter disesuaikan dengan bentuk rangka sehingga pisau cakar dapat menyentuh tanah. Roda depan didesain dengan diamter yang besar untuk melancarkan jalanya mesin karena lahan yang tidak rata. Sedangkan roda belakang hanya berfungsi untuk penyangga dan sebagai pengendali. Roda depan terbut dari besi beton dengan ditambah sirip-sirip roda untuk menopang bebeang mesin. Tenaga untuk berjalan berasal dari tenaga dorong manusia, sehingga tidak ada sistim transmisi ke unit ini.
Unit Tenaga Penggerak
Tenaga penggerak menggunakan motor bensin 5,5 HP. Daya ini diharapkan sudah aman untuk menggerak pisau cakar untuk melakukan penyiangan pada kondisi tanah sawah ataupun tegal.
Unit Rangka
Rangka dirancang seergonomis mungkin sehingga dapat memberikan kenyamanan dalam melakukan penyiang gulma. Rangka ini dibuat untuk menopang motor penggerak, pisau cakar, sistim transmisi, roda dan batang pendorong. Rangka terbuat dari besi siku dan pipa air disesuaikan dengan kebutuhan.

(Amal Bahariawan, S. TP. M.Si, 2009)
Diposkan oleh saepudin di 05:15 1 komentar
ALAT PENGUPAS KANG TANAH

1.1. Latar Belakang

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki sumberdaya alam berupa lahan yang relatif cukup luas dan subur. Dengan iklim, suhu dan kelembaban yang cocok untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman pangan pokok, maka hampir seluruh tanaman pangan pokok tersebut (biji-bijian, umbi-umbian dan kacang-kacangan asli Indonesia) dapat tumbuh dengan relatif baik. Salah satu jenis tanaman pangan yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar penduduk Indonesia adalah tanaman kedelai (Glysine max (L) Merril).

Dalam kehidupan masyarakat kita, kedelai telah dikenal sejak lama sebagai salah satu tanaman sumber protein nabati dengan kandungan 39% – 41% yang diolah menjadi bahan makanan, minuman serta penyedap cita rasa makanan, misalnya yang sudah sangat terkenal adalah tempe, kecap, tauco dan tauge. Bahkan diolah secara modern menjadi susu dan minuman sari kedelai yang dikemas dalam karton khusus atau botolan.

Sebagai bahan makanan kedelai sangat berkhasiat bagi pertumbuhan dan menjaga kondisi sel-sel tubuh. Kedelai banyak mengandung unsur dan zat-zat makanan penting seperti protein, lemak, karbohidrat dan Selain sebagai sumber protein, makanan berbahan kedelai dapat dipakai sebagai penurun kolesterol darah yang dapat mencegah penyakit jantung. Kedelai juga berfungsi sebagai anti-oksidan dan dapat mencegah penyakit kanker.

Namun pada dasarnya upayah untuk meningkatkan kualitas hasil produksi masih mengalami kendala yaitu pada proses pengupasan kulit ari kacang kedelai masih banyak yang dilakukan dengan menggunakan cara yang klasik/tradisional yaitu dengan merendam/merebus dan menginjak-injak dalam suatu wadah/karung, hal ini sangat merugikan karena dengan kacangnya terbagi dua atau bahkan dapat hancur karena tekanan yang diberikan pada kacang tidak tetap. Disisi lain hasil pengupasannyapun terbatas dan sangat bergantung pada kemampuan manusianya dan cara tersebut juga membuat hasil makanan yang dihasilkan kurang hygienis.

Atas dasar tersebut, maka kebutuhan akan mesin pengupas kulit ari kacang kedelai merupakan kebutuhan dimana alat tersebut harus sederhana dan mudah dalam pengoperasiannya, oleh sebab itu harus dirancang sebuah mesin yang memiliki daya guna dan hasil guna yang optimal.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori
Kedelai adalah makanan yang bergizi yang dikenal di Indonesia sejak abad ke 17, dimana kedelai dikenal sebagai budidaya makanan dan pupuk hijau. Sampai saat ini banyak ditanam didataran rendah yang tidak mengandung banyak air, seperti di pesisir utara Jawa Timur, Jawa Tenah, Jawa Barat, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Lampung, Sumatra Selatan dan Bali.
Saat ini dari kacang kedelai dapat di buat berbagai makanan seperti tahu, tempe, kecap, tauco, bahkan dapat pula di buat susu dan sari kedelai yang kemudian dikemas. Kendati demikian kita sampai saat ini masih mengimpor kedelai karena produksi pertanian kita masih kurang.
Biji kacang kedelai terbagi atas dua bagian yaitu: kulit biji (testa) dan janin (embrio). Kulit biji ini beragam warna ada yang kuning, hijau, coklat, hitam atau campuran diantara warna-warna tersebut.kulit biji tersebut terdiri dari tiga lapisan sel.sementara itu janin terdiri dari kutiledon, plumula, dan poros hipokotil-bakal akar. Kutiledon merupakan bagian terbesar dari biji kedelai, berisi bahan makanan yang sebagian besar terdiri dari protein dan lemak. Biji kedelai berkeping dua terbungkus kulit biji, Bentuknya pada umumnya bulat lonjong, tetapi ada juga yang agak bundar atau bulat pipih dengan besar dan bobot biji kedelai antara 5-30 gr untuk bobot 100 butir.
Sifat kacang kedelai mampu menyerap air cukup banyak dan dapat menyebabkan beratnya naik menjadi dua kali lipat, dengan sifat biji yang keras dan daya serap air tergantung ketebalan kulit. Kulit inilah yang ingin dikupas secara mekanis dengan semaksimal mungkin tidak membelah kedelai apalagi merusak kedelai. Sehingga mutu dari kacang kedelai baik dengan bentuk yang baik dan tetap utuh.

2.2 Mekanisme Kerja Mesin
Untuk mengupas kulit ari kacang kedelai yang cukup banyak dengan waktu yang singkat maka di perlukan alat yang dapat memenuhi permintaan diatas. Jika pengupasan tersebut dilakukan secara manual, maka akan memakan waktu yang cukup lama dan tenaga manusia yang cukup besar.
Prinsip pengupasan biji kacang kedelai tersebut menggunakan dua buah rol, dimana putaran antara rol yang satu dengan yang satu lagi berbeda, dan salah satu dari rol ini bisa di atur jaraknya dengan rol yang berputar sesuai dengan ukuran biji kacang kedelai yang akan dikupas. Rol ini digerakan oleh sebuah motor yang menggunakan sebuah daya transmisi daya pully dan belt. Mekanisme ini sederhana sekali dan dapat mengupas kulit ari biji kacang kedelai dengan hasil yang cukup baik dan resiko cacat yang kesil. Selain itu mesin ini murah dalam proses pembuatannya.
Alat ini digerakan oleh sebuah elektro motor yang akan menggerakan mekanisme pengupas dengan menggunakan belt. Dengan berputarnya pully pengupas tersebut, maka rol pengupas akan bergerak dan biji kacang kedelai yang ada pada hopper akan ikut masuk kedalam mekanisme pengupas. Dengan masuknya biji kacang kedelai kedalam mekanisme pengupas tersebut, maka akan terjadi gesekan antara rol dengan biji kacang kedelai yang berakibat terkupasnya kulit ari kacang kedelai tersebut.

METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu
Rencana pelaksanaan TA (Tugas Akhir) dilaksakan mulai bulan Desember 2009, sedangkan pembuatan alat dilakukan di Bengkel Logam POLITEKNIK NEGERI JEMBER Jalan Mastrip Kotak Pos 164, Telp (0331) 333532, Fax. (0331) 333531 Jember 68101.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Adapun peralatan yang dipergunakan meliputi peralatan bengkel untuk rekayasa dan alat ukur yaitu :
a. Mesin bubut
b. Mesin las
c. Mesin gerinda
d. Mesin bor
e. Penekuk plat
f. Pemotong plat
g. Meteran
h. Penyiku
i. Jangka sorong

3.2.2Bahan
Bahan yang digunakan dalam perekayasaan mesin pengupas kulit ari ini adalah sebagai berikut :
a. Besi Plat
b. Besi Siku
c. Besi Poros

3.3 Metode Perancangan
Metode perancangan yang di pakai dalam perancangan alat ini adalah adalah metode yang disusun oleh Gerhardt Pahl dan Wolfgang Beitz yang dipaparkan dalam buku “Engineering Design” yaitu :
1. Penjabaran Tugas (Clarification of The Task), yang meliputi pengumpulan informasi permasalahan dan kendala yang dihadapi. Disusul dengan persyaratan mengenai sifat dan performa yang harus dimiliki untuk mendapatkan solusi.
2. Penentuan Konsep Perancangan (Conceptual Design), hal ini sebagai dasar pembuatan abstraksi dari permasalahan. Dilanjutkan dengan membuat struktur fungsi yang menggambarkan hubungan antara input, proses dan output.
3. Perancangan Wujud (Embodiment Design) perancangan awal beserta elemen-elemennya. Dimulai dengan pemilihan bahan,prosudur pembuatan rancangan, dan fungsi dari elemen-elemen yang ada.
4. Perancangan Rinci (Detail Design) pada tahap ini adalah proses perancangan dalam bentuk gambar dalam artian gambar tersusun dan gambar jadi termasuk daftar komponen, spesifikasi bahan, dan lain-lain yang secara keseluruhan merupakan dokumen dalam pembuatan mesin atau produk.

3.4 Pengujian
3.4.1 Uji Fungsional
a. Hopper
Berfungsi sebagai penampung biji kacang kedelai yang akan dikupas sebelum masuk ke dalam rol pengupas. Hopper terbuat dari besi plat dengan tebal 2 mm.
b.Poros
Berfungsi sebagai tempat dudukan rol pengupas. Dan bahan yang digunakan untuk poros yaitu besi baja.
c. Rol pengupas
Berfungsi sebagai pengupas kulit ari kacang kedelai.
d.Saluran Pengeluaran
Berfungsi sebagai tempat keluaran biji kedelai yang telah di kupas. terbuat dari besi plat dengan tebal 2-3 mm.
e.Kerangka
Berfungsi sebagai tempat dudukan motor listrik dan semua komponen-komponen dari mesin pengupas kulit ari kacang kedelai. Bahan yang digunakan yaitu besi siku dengan ukuran 4 x 4 cm x 5 mm.
f. Motor listrik
Berfungsi sebagai penggerak dari rol pengupas kulit ari kacang kedelai.
g. Pully dan V-belt
Berfungsi sebagai penerus daya dari motor listrik ke poros yang akan memutar rol pengupas.

3.4.2 Uji Performent
a. Efisiensi Kerja
Efisiensi kerja suatu alat atau mesin itu tergantung dari bagaimana suatu alat bekerja secara maksimal dan optimal. Untuk menghitung efisiensi kerja suatu alat dapat di cari menggunakan rumus sebagai berikut :

Bahan input
Efisiensi = x 100 %
Bahan output

b. Kekuatan dan besarnya diameter poros
Dalam perencanaan sistem mekanisme ini poros yang direncanakan adalah dengan melihat suatu tingkat keamanan tertentu, dimana poros yang dirancang ini akan mampu menahan gaya-gaya yang terjadi. Maka dari itu perencanaan poros mengacu pada dasar perhitungan poros yang dikenai beban puntir murni. Oleh karena itu akan digunakan rumus sebagai berikut.

5,1
ds = x Kt x Cb x T
τa

c. Daya Motor
Desain mesin yang akan dibuat menggunakan tenaga penggerak berupa electromotor. Sebelumnya harus kita ketahui seberapa besar daya motor yang diperlukan. Untuk mengetahui besarnya daya motor, torsi inersia untuk menggerakan mesin secara keseluruhan harus diketahui terlebih dahulu.
Besarnya daya motor yang diperlukan untuk memutar mekanisme pengupas dapat di hitung menggunakan rumus sebagai berikut :

d. Kapasitas Kerja Mesin Pengupas Kulit Ari Kedelai
Kapasitas mesin pengupas kulit ari kacang kedelai harus lebih banyak di bandingkan pengupasan yang dilakukan secara manual. Maka untuk menghitung besarnya kapasitas kerja dari mesin dapat di hitung menggunakan rumus :

Mo – Mt
Lp =
t

Artikel terkait

Teknik Pengolahan Tanah

Perangkat Uji Pupuk

Analisis Mikroba

Mineral Tanah

konservasi Tanah

konservasi Tanah pada Tanaman Perkebunan

pupuk_organik

Kacang Archis

Pemupukan

April 12, 2011 pukul 12:27 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Pemupukan

Pemupukan

Pemupukan

Pupuk merupakan sumber unsur hara utama yang sangat menentukan tingkat pertumbuhan dan produksi tanaman. Setiap unsur hara memiliki peranan masing-masing dan dapat menunjukkan gejala tertentu pada tanaman apabila ketersediaannya kurang. Beberapa hal yang harus diperhatikan agar pemupukan efisien dan tepat sasaran adalah meliputi penentuan jenis pupuk, dosis pupuk, metode pemupukan, waktu dan frekuensi pemupukan serta pengawasan mutu pupuk (BUDIDAYA KELAPA SAWIT, Pusat Penelitian Kelapa Sawit / Indonesian Oil Plam Research Institute –IOPRI, 2003).

Tanaman Padi yg tidak menggunakan pupuk Plant Activator (kiri) dgn PA (kanan)

Pemupukan adalah tindakan yang dilakukan untuk memberikan unsur hara kepada tanah yang dibutuhkan untuk pertumbuhan normal tanaman. Adapun unsur hara esensial untuk pertumbuhan tanaman terdiri dari ;
1. Unsur hara Makro
- Carbon (C)
- Hidrogen (H) Didapat dari Udara dan Air
- Oksigen (O)
- Nitrogen (N) Didapat dari Tanah dan Air
- Fosfor (F)
- Kalium (K)
- Kalsium (Ca) Didapat dari Tanah
- Magnesium (Mg)
- Sulfur (S)
2. Unsur hara Mikro
- Boron (B)
- Klor (Cl)
- Tembaga (Cu)
- Besi (Fe) Didapat dari Tanah
- Mangan (Mn)
- Molibdenum (Mo)
- Seng (Zn)
Adapun dasar pertimbangan dilakukannya pemupukan adalah :
Pertama :Ketersediaan hara tanah, hal ini dapat terjadi karena kandungan hara dalam tanah yang berasal dari bahan induk pada umnumnya memang rendah. Kedua :Kehilangan hara tanah melalui panen, erosi dan penguapan.
Pemupukan juga dipengaruhi oleh :
1. Sifat dan cirri tanah, kemasaman tanah (pH)
Pengaruh pH tanah terhadap Nitrogen
Perubahan Amonium (NH4+) menjadi Nitrat (NH3-) akan berlangsung sebagai proses oksidasi enzimatik yang dibantu oleh bakteri Nitrobacter dan Nitrosmonas hal ini disebut proses Nitrifikasi (proses perubahan ammonium menjadi nitrat oleh bakteri) berlangsung antara kisaran pH 5,5 – 10,0 dengan pH optimum 8,5 (Pupuk dan Pemupukan. Jurusan Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Universitas Islam Sumatera Utara. Medan). Pada tanah yang masam atau pH tanah rendah, perubahan ammonium menjadi nitrat akan terhambat. Hal ini juga dipengaruhi oleh kandungan oksigen dalam tanah atau Aerasi tanah dan juga perbandingan kandungan Ca, P, Fe, Mn, serta unsur-unsur lainnya.
Penambatan N oleh liat
Pada tanah masam akan mempengaruhi ketersediaan N tanah. Hal ini terjadi karena adanya penambatan dari ion-ion ammonium antara kisi-kisi mineral yang sudah mengembang ataupun mengkerut.
Pengaruh pH tanah terhadap ketersediaan Fosfor & Kalium
Aktifitas ion P di dalam tanah berbanding lurus dengan pH tanah yang artinya bila pH naik sampai ketingkat tertentu maka P akan tersedia. Bila pH tanah rendah maka yang terjadi konsentrasi Al dan Fe meningkat yang akan bereaksi dengan fosfat membentuk garam Fe dan Al-P yang tidak larut. Kisaran pH untuk ketersediaan P yang terbaik adalah antara 6 – 7.
Pengaruh pH tanah terhadap unsur mikro
Ketersediaan unsur hara mikro dikaitkan dengan kegiatan mikro organisme tanah yang ikut mentransfer unsur tersebut ke tanah, misalnya organisme tanah membantu mempercepat proses oksidasi unsur Mn, Zn, Cu, Mo, dan Al.
2. Tekstur tanah
• Respon pemupukan N dan K lebih tinggi pada tanah ringan
• Respon pemupukan P lebih tinggi pada tanah berat
3. Iklim
• Air. Sebelum tanaman dapat mengabsorpsi hara, syaratnya adalah unsur hara tersebut harus terdapat pada zona perakoran (kondisi tanah yang lembab). Untuk keperluan transpirasi yang akan mengangkut Nitrat, Sulfat, Kalium, Magnesium ke akar dari daerah yang jauh dari jangkauan akar.
4. Temperatur
Temperatur yang terlalu rendah dapat menyebabkan tanaman tidak dapat menggunakan hara yang ditambahkan. Begitu pula jika temperatur terlalu tinggi, serapan hara semakin tinggi sampai batas yang dapat ditolerir tanaman.
5. Udara tanah
Secara langsung dapat mengatur kehidupan jasad renik tanah yang melakukan proses oksidasii enzimatik.
6. Pola pertanian
Tanaman semusim (Jagung, dll), Tanaman tahunan (Sawit, Karet, dll), Tanaman basah & kering (Padi), Tanaman intercropping (tanaman sela)
7. Pupuk yang digunakan
Jenis pupuk, Sifat & cirri-ciri pupuk, Dosis pupuk
KTK (Kapasitas Tukan Kation)
Adalah kapasitas tanah menyerap dan mempertukarkan ion. Ion dapat berupa kation dan besarannya disebut Kapasitas Tukan Kation (KTK).
KTK sangat penting berkenaan dengan kesuburan tanah, penyerapan unsur hara, ameliorasi tanah, dan mutu lingkungan.
Dengan daya serapnya, koloid tanah dapat menambat air hujan atau air irigasi dan kation tahan dari pelapukan mineral, mineralisasi bahan organik atau dari pupuk. KTK menjadi faktor pembentuk cadangan air dan hara basa dalam tanah yang dapat mengefisienkan penggunaan air dan hara basa oleh tumbuhan.
KTK tanah berbeda-beda tergantung pada;
- Kadar dan macam lempung dan kadar bahan organik; KTK makin besar
- Kadar bahan organik dan senyawa-senyawa organik penyusun bahan-bahan organik (tanah dan lingkungan).

Buah pare dengan pupuk Plant Activator
buah pisang dengan pupuk Plant Activator
Buah mangga dengan pupuk Plant Activator

Pupuk
Pupuk Dasar (Dolomit, Kieserite)
Pupuk Dasar berfungsi terhadap reaksi pH tanah (kesuburan tanah) yang sangat menentukan efisiensi pemupukan. Secara umum tanah-tanah di Indonesia bereaksi masam. Untuk itu, peran pupuk dasar sangat penting untuk perkembangan akar sehingga mempu menyerap hara dalam tanah.(IFDC, 1987. Fertilizer Manual. International Fertilizer Development Centre. United Nation Industrial Development Organization)
Reaksi tanah berdaya pengaruh langsung dan tak langsung terhadap perkembangan tanaman. Daya pengaruh langsung ialah pengendalian ketersediaan hara tumbuhan dan kegiatan jasad renik tanah.

Rudy Ramon Pohan, SE

081378687999

Buah Nenas dengan pupuk Plant Activator

ENDAHULUAN

Manfaat pupuk adalah menyediakan unsur hara yang kurang atau bahkan tidak tersedia di tanah menjadi tersedia untuk mendukung pertumbuhan tanaman.  Seperti yang telah kita ketahui bahwa pupuk yang diproduksi dan beredar di pasaran sangatlah beragam, baik dalam hal jenis, bentuk, ukuran, kandungan unsur hara maupun kemasannya.  Dengan beragamnya jenis pupuk dengan berbagai karakter masing-masing, sering membuat pemakainya kebingungan untuk menggunakannya.  Tidak mengherankan jika sering dijumpai kegagalan produksi tanaman sebagai akibat kesalahan pemupukan.  Untuk mengatasi hal tersebut sebelum dilakkan pemupukan ada beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu melakukan analisis tanah dan daun, mengidentifikasi gejala kekurangan unsur hara, dan menentukan metode pemupukan.

Analisis tanah dan daun adalah untuk mengetahui ketersediaan unsur hara dalam tanah dan unsur hara apa yang dibutuhkan tanaman.  Di samping itu dengan mengidentifikasi gejala kerusakan/kelainan pada tanaman kita sudah dapat memprediksi unsur hara yang kurang yang dibutuhkan tanaman.  Untuk mengaplikasikan pupuk sesuai dengan rekomendasi hasil analisis perlu metode pemupukan yang tepat, karena kesalan cara aplikasinya, pemupukan yang kita berikan tidak/kurang bermanfaat.

 

1.    Mengambil Sampel untuk Analisa Tanah dan Daun

Tujuan analisis

Sebidang tanah yang digunakan untuk kepentingan pertanian khususnya budidaya tanaman perlu mendapatkan perhatian yang seksama agar tanaman budidaya itu berhasil dengan baik, tanaman apa yang cocok, kandungan bahan-bahan mineral pada tanah apakah mencukupi atau masih terdapat kekurangan, atau ada diantara bahan-bahan yang terkandung itu mengandung racun, sehingga tanaman akan mati, selain itu apakah tanah terlalu masam atau basa.  Dengan memanfaatkan teknologi pertanian kita dapat melakukan analisis terhadap tanah untuk selanjutnya mendiagnosa tanaman apa yang cocok dikembangkan pada tanah tersebut atau memberikan unsur hara apa supaya keberadaannya tersedia dan mencukupi untuk tanaman yang kita tanam melalui pemupukan.  Selain analisis tanah harus dilengkapi pula dengan analisis jaringan tanaman yang digunakan/ditujukan untuk diagnosa kebutuhan hara suatu tanaman, pada masing-masing saat selama pertumbuhannya yang akan berpengaruh terhadap hasil.

Mengambil contoh tanah dan jaringan tanaman

Hasil analisis tanah yang dapat diperoleh akan sangat tergantung dari beberapa fakor antara lain dari cara pengamilan serta pengerjan contoh-contoh tanah yang dianalisis tersebut.

Contoh tanah yang baik hanya akan diperoleh jika pengambilannya memperhatikan persyaratan-persyaratan berikut :

  1. Dengan memperhatikan perbedaan-perbedaar tofografi, sifat atau watak tanah, warna tanah dan perbedaan-perbedaan lain yang menimbulkan kelainan.
  2. Merupakan contoh tanah individual, yang banyaknya tergantung dari keadaan lokasi yang dalam hal ini :
  • Kalau tanahnya homogen sebaiknya diambil 5 sampai 20 contoh anah.
  • Contoh-contoh tanah individual ini selanjutkanya dikumpulkan dan dicampur scara merata.
  • Kalau tanah homogen itu luas,  contohnya supaya diambil dari 2-5 ha.

<span>3.  Tidak mengambil contoh tanah dari sekitar perumahan, jalan, selokan, tanah bekas pembakaran, dan bekas timbunan pupuk.</span>

Dengan memperhatikan ketiga persyaratan tersebut di atas, analisis yang kita lakukan dapat diharapkan memberikan hasil yang baik.  Dengan hasil analisis yang diperoleh dapat ditafsir tentang status unsur hara yang terkandung dalam tanah, sifat tanah dan tinakan yang diperlukan untuk mengatasi gejala defisiensinya.

Cara pengambilan sampel tanah

Apabila kita telah mendapatkan tanah yang memenuhi syarat di atas, haruslah kita memperhatikan pula cara-cara pengambilan contoh tanah tersebu dari tanah tadi.  Cara-cara tersebut antara lain sebagai berikut :

  1. Pertama-tama kita harus memperhatikan tntang kebersihan permukaan tanahnya, apabila telah terbebas dari tanaman, dedaunan, sisa tanaman an kotoran lainnya, baru setelah benar-benar bersih kita lakukan pengambilan.
  2. Contoh tanah individual diambil dengan menggunakan alat bor tanah, tabung hoffer, cangkul atau sekop dari agian/lapisan tanah sdakam 10-20 cm.
  3. Contoh-contoh tanah individual (5-20 contoh) selanjutnya dicampur sehinga merata, bawa ke tempat yang teduh untuk ditebarkan agar menjadi kering udara.
  4. Banyaknya tanah kering udara yang diperlukan untuk suatu contoh adalah sekitar 500 – 1000 gram, kemudian dieri petunjuk (label) dari mana tanah itu diamil, letak dan tinggi tempat, jenis tanaman yang ada dan akan dianam, pemberian pupuk yang iasa dilakkan, warna tanah, dan penjelasan-penjelasan lain yan bersifat khusus yang mungkin diperlukan.

 

Cara pengambilan sampel daun

Cara-cara pengambilan sampel daun untuk pedoman pemupukan sangat tergantung pada jenis tanaman,  antara lain sebagai beriku :

  1. Tanaman Teh (Camellia Sinensis)

Bagian tanaman ini yang dapat dijadikan sampel bagi kepentingan analisis dan diagnosa yang hasilnya dapat dijadikan pedoman pemupukan yaitu; bagian folium, terutama daun muda kedua daru ujung tunas yang tumbuh dari bagian yang telah terpetik, pilih tanamannya yang tumbuh di bedengan/larikan bagian dalam, pengambilannya supaya dilakkan 8 minggu setelah masa petik. Kumpulkan daun pertama yang normal yang tertinggal di tunas.

Pengambilan contoh supaya dilakukan dari tanaman yan tumbuh pada petak pertanaman yang tetap dan mewakili petek-petak lainnya, luas petak terpilih sekitar 1 acre atau lebih.  Dapat juga diambil dari tanaman-tanaman yang tumbuh dengan baik di sepanjang diogonal pola (x) atau dari tanaman-tanaman yang tumbuh di sepanjang jajaran sebanyak 5-10% jumlah tanaman (jumlah hendaknya tidak kurang dari 25 tanaman).

  1. Tanaman Kelapa (Cocos nucifera)

Dari tanaman kelapa ini  bagian yang diperlukan untuk nalisis Yitu dua malai daun (pinnae) di kiri dan kanan tandan bunga dari tanaman sampai 4 tahun yaiu daun pertama dari malai yang baru saja terbuka, kemudian dari tanaman berumur 5-7 tahun (daun kesembilan) dan dari pohon yang lebih tua (daun keempat elas).

Pengambilan helai-helai daun malai tersebut yang berada di bagian tengah selebar 5 cm dari tiap malai daun, pohon-pohonnya tumbuh pada petak yang tetap, ambil sehlai daun dari 5-10% jumlah pohon yang tumbuh di lingkungan petak, atau diambil dari paling sedikit 25 pohon.

  1. Tanaman Kopi (Coffea arabica)

Bagian tanaman ini yang diperlukan bagi sampel yaitu foliumnya, terutama pasangan daun ketiga atau keempat dari ujung ranting samping (biasa disebut daun pertama atau daun ujung) yang paling sedikit mempunyai panjang, baik yang berbuah atau tidak, 1-2 helai daun ranting samping sebanyak 4 penjuru (mata angin).

Pengambilan contoh supaya dilakukan dari tanaman-tanaman yang tumbuh dari petak pertanaman yang tetap dan mewakili petak-petak yang lainnya.  Luas petak terpilh sekiar 1 acre atau leih, atau dapat juga diambil dari tanaman-tanaman yang tumbuh di sepanjang jajaran sebanyak 5-10% jumlah tanaman (jumlah hendaknya tidak kurang dari 25 tanaman).

  1. Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guinensis)

Dari tanaman kelapa sawit ini yang diperlukan untuk sampel yaitu 2 helai daun di kiri dan kanan tandan bunga di bagian tengan yang selebar 5 cm dari tiap helai dau.  Tanaman berumur sampai 2 tahun ambilah daun yang kesembilan, berumur 4 tahun atau lebih ambil daun yang ketujuh belas.

Pengambilan sampel supaya dilakukan  dari tanaman-tanaman yang tumbuh pada petak yang tetap, ambil sehelai daun dari 5-10% jumlah tanaman di lingkungan petak, sampel henaknya terkumpul dari paling sediki 25 tanaman.

  1. Tanaman Karet (Hevea brasiliensis)

Dari tanaman ini yang diperlukan untuk sampel yaitu lamina foliaris, terutama dari pohon yang berumur lebih dari 4 tahun diambil 4 helai daun pangkal dari tiap roset setiap pohon, roset yang berasal dari cabang terbawah yang terlindung dari panas matahari, daun hendaknya berumur 10-12 bulan.  Dari tanaman yang berumur 1,5-4 tahun dipilih 4 daun pangkal yang berasal dari roset yang tidak terlindung  sinar matahaari dan aun hendaknya berumur 4-6 bulan.

Pengambilan sampel tersebut hendaknya tidak kurang dari 25 batang yang mengikuti pola diagonal.

2. Mengidentifikasi Defisiensi Unsur Hara

 

Bentuk Ketersediaan Unsur Hara

Unsur hara yang diserap oleh tanaman dari dalam tanah terdiri dari 13 unsur mineral atau sering disebut unsur hara esensial.  Unsur hara ini sangat dibutuhkan oleh tanaman dan fungsi dari masing-masing unsur hara tidak dapat digantikan oleh unsur hara yang lain. Jika jumlahnya kuran mencukupi, terlalu lambat tersedia, atau tidak diimbangi oleh unsur-unsur lain akan menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu.

Dari 13 unsur hara yang diserap dari alam tanah, 6 unsur diantaranya diperlukan tanaman dalam jumlah lebih besar atau disebut unsur makro.  Tujuh unsur lainnya diperlukan tanaman dalam jumlah relatif lebih kecil atau serin disebut unsur mikro.

Unsur Hara Makro

1. Nitrogen (N)

Nitrogen diserap tanaman dalam bentuk ion nitrat (NO3-) dan ion amonium (NH4+).  Sebagian besar nitrogen diserap dalam bentuk ion nitrat karena ion tersebut bermuatan negatif sehinga selalu berada di dalam larutan tanah dan mudah terserap oleh akar.  Karena selalu berada alam larutan tanah maka iion nitrat lebih mudah tercuci oleh aliran air.  Sebaliknya ion amonium bermuatan positif sehingga terikat oleh koloid tanah.  Ion tersebut dapat dimanfaatkan oleh tanaman setelah melalui proses pertukaran kation.  Karena bermuatan positif , ion amonium tidak mudah hilang oleh proses pencucian.

Nitrogen adalah komponen utama dari berbagai substansi penting didalam tanaman.  Sekitar 40 – 50% kandungan protoplasma yang merupakan substansi hidup dari sel tumbuhan terdiri dari senyawa nitrogen.

2.  Fospor (P)

Fospor diserap tanaman dalam bentuk H2PO4-, HPO42 -, dan PO42 -, atau tergantung dari nilai pH tanah.  Fospor sebagian besar berasal dari pelapukan batuan mineral alami, sisanya berasal dari pelapukan bahan organik.  Keberadaan fospor dalam tanah mineral cukup banyak akan tetapi sebagian besar fospor terikat secara kimia oleh unsur lain sehingga menjadi senyawa yang sukar larut di alam air.  Mungkin hanya 1% saja fospor yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman.

Ketersediaan fospordi dalam tanah banyak ditentukan oleh pH tanah.  Pada tanah ber-pH rendah, fospor akan bereaksi dengan ion besi dan alumunium.  Reaksi ini mementuk besi fospat atau aluminium fospat yang sukar larut di alam air sehinga tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman.  Pada tanah er-pH tingi , fospat akan bereaksi dengan iopn kalsium. Reaksi ini membentuk kalsium fospat yang sifatnya sukar larut dan tidak apat digunakan oleh tanaman.  Dengan demikian, tanpa memperhatikan pH tanah, pemupukan fospat tidak akan berpengaruh bagi pertumbuhan tanaman.

3.    Kalium (K)

Kalium diserap tanaman dalam bentuk ion K-.  Di dalam tanah ion tersebut bersifat sangat dinamis, sehingga sangat mudah tercuci pada anah berpasir dan tanah dengan pH rendah.  Keberadaan kalium di dalam tanah cukup melimpah, tanah mengandung 400 – 650 kg kalium untuk setiap 93 m2 (pada kedalaman 15 cm).   Namun sekitar 90 – 98% berbentuk mineral primer yang tidak dapat terserap oleh tanaman.  Sekitar 1 – 10% terjebak dalam koloid tanah karena kaliumnya bermuatan positif.  Bagi tanaman ketersediaan kalium pada posisi ini agak lambat.  Hanya sekitar 1 – 2% terdapat di dalam larutan tanah dan mudah tersedia bagi tanaman.  Kandungan kalium sangat tergantung pada jenis mineral pembentuk tanah dan kondisi cuaca setempat.

Persediaan kalium di dalam tanah dapat berkurang karena tiga hal, yaitu pengambilan kalium oleh tanaman, pencucian  kalium oleh air dan erosi tanah.

Pada tanah berpasir harus dipertimbangkan kalium yang hanyut ke bawah area perakaran, selama musim tanam.  Pencucian akan lebih banyak terjadi jika pH tanah di bawah normal.  Pada tahan berpartikel liat, proses pencucian lebih tertekan dan pupuk kalium yang diberikan dapat bertahan lebih lama di dalam areal perakaran.  Pencucian kalium dapat ditekan  dengan program pengapuran,

Dalam pemupukan kalium, perhatikan jumlah kalium yang ersedia di dalam tanah (hasil analisis tanah).  Pada tanah ber pH rendah ketersediaan kaliumnya sangat rendah.  Faktor lain yang berpengaruh dalam menghitung jumlah pupuk kalium adalah kapasias tukar kation, jenis tanaman, hasil yang diharapkan, dan persentase kejenuhan basa (hasil analisis tanah).

4.    Sulfur (S)

Tanaman menyerap sulfur dalam bentuk ion sulfat (SO42-) yang tidak banyak terdapat di dalam tanah mineral.  Karena bermuatan negatif, ion sulfat mudah hilsng dari daerah perakaran karena tercuci oleh aliran air.  Sebagian besar sulfur di dalam tanah berasal dari bahan organik yang telah mengalami dekomposisi, sulfur elemental (bubuk/batu belerang) dari aktivitas vulkanis, dan partikel dari cerobong asap pabrik yang terbawa ke tanah oleh hujan.

Batu belerang di dalam tanah dapat berubah menjadi ion sulfat dalam waktu yang lebih lama, tergantung pada ukuran butirannya.  Cara terbaik untuk memangun cadangan sulfur adala dengan menambahkan bahan orrgnik dan menjaga agar jumlah bahan organik di dalam tanah tetap optimal.  Jika jumlah sulfur organik berkurang diperlukan pupuk dan perlakuan khusus untuk memperbaikinya.  Tnah yang ber-pH rendah mengandung ion sulfat yang rendah.  Selain hlang karena tercuci dan di amil tanaman, ion sulfat dapa hilang akarena menguap ke udara dalam bentuk H2S atau dalam bentuk gas sulfur yang lainnya.  Hal ini dapat terjadi jika tanah terlalu padat atau tergnang air sehinga kadar oksigennya sangat rendah.

5.    Magnesium (Mg)

 

Magnesium diserap tanaman dalam bentuk ion magnesium (Mg2+).  Di dalam tanah magnesium erasal dari pelapukan batuan mineral.  Kandungan magnesium pada tanah podsolik merah berkisar pada 0,05%.  Pada tanah di dekat pantai , kandungan magnesiumnya sampai 1,34%.  Karena bermuatan positif ion magnesium dapat terikat pada koloid tanah atao tetap berada di dalam larutan tanah.  Pada tanah ber-pH renah, ketersediaan magnesium juga rendah. Kehilangan magnesium dari dalam tanah disebabkan leh beberapa paktor, yakni pengambilan oleh tanaman, pemakaian sementara oleh mikroorganisme tanah, dan kehilangan karena hanyut oleh aliran air atau erosi.

Cara paling praktis untuk mengoreksi kekuranan magnesium pada tanah ber-pH rendah adalah dengan menebarkan kapur dolomit yan mengandung kalsium dan magnesium.  Pada tanah yang ber-pH tinggi diperlukan pupuk dengan kelarutan lebih cepat, misalnya magnesium sulfat.

6.    Calsium (Ca)

Kalsium diserap tanaman dalam bentuk ion kalsium (Ca2+).  Dalam tanah kalsium berasal dari mineral primer pementuk tanah, misalnya batu kapur.  Kandungan kalsium dalam tanah berkisar 0,1 – 0,5%.  Karena bermuatan positif, ion kalsium dapat terikat pada koloid tanah sehingga dikatagorikan sebaai kalsium yang tersedia bagi tanaman.  Namun, jika bereaksi dengan ion negatif, menjadi senyawa yang sukar dimanfaatkan oleh tanaman.

Unsur Hara Mikro

1.    Seng (Zn)

Seng diserap oleh tanaman dalam bentuk ion Zn2+.  seng merupakan bagian dari sistem enzim tanama.  Fungssi seng cukup pentin, antara lain sebagai katalisator dalam pembentukan protein, mengatur pembentukan asam indoleasetik (asam yang berfunsi sebagai zat pengatur tumbuh tanaman), dan berperan aktif dalam transformasi karbohidrat.

kekurangan seng dapat terjadi pada tanah yan mengandung kadar phosfat tinggi atau di daerah yang bersuhu rendah, misalnya di daerah pegunungan.

keberadaan seng di dalam tanah akan menurun seiring dengan peningkat5an pH.  Pada tanah berr pH 5-6, seng banyak tersedia.  Pada tanah ber pH 6-9, ketersediaan seng semakin menurun dan pada pH di atas 9, seng tidak lagi dapat diserap oleh tanaman.

2.    Besi (Fe)

Besi diserap tanaman dalam bentuk ion Fe2+.  Unsur mikro ini sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk pembentukan klorofil.  Besi berfungsi sebagai aktipator dalam proses biokimia di ddalam tanaman, seperti fotosintesis dan respirasi.  selain itu besi juga sebagai unsur pembentuk beberapa enzym tanaman.  Kekuranan besi di dalam tanah disebabkan oleh kadar Ca, P,atau Mn di dalam tanah yang terlalu tinggi.  Ketersedian besi akan menurun seiring dengan meningkatnya pH tanah.

3.    Mangan (Mn)

 Mangan diserap tanaman dalam bentuk ion Mn2+.    unsur mikro ini berfungsi sebagai aktifator berbagai enzim yang berperan dalam proses pembongkaran karbohidrat dan metabolisme nitrogen.  mangan bersama dengan besi membantu terbentuknya sel-sel kloropil.  ketersediaan mangan di dalam tanah akan menurun seiring dengan meningkatnya pH tanah.  faktor terpenting dalam mengintrol ketersediaan mangan di dalam tanah adalah pengaturan pH tanah.  Jika pH tanah di bawah 4,5, jumlaah mangan yang terlarut sangat banyak, sehingga menjadi racun.  Konsentrasi Mn yang terlalu besar di dalam larutan tanah juga dapat menekan penyerapan besi.  Dengan pengapuran yang tepat, efek buruk dari Mn dapat dihindari.

4.    Tembaga (Cu)

Tembaga diserap tanaman dalam bentuk ion Cu2+ atau ion Cu3+.  Tembaga adalah aktifator enzim dalam proses penyimpanan cadangan makanan.  Di alam tanaman ,tembaga memiliki beberapa peran, yaitu sebagai katalisator dalam proses pernapasan dan perombakan karbohidra, sebagai salah satu elemendalam proses pementukan vitamin A, dan scara tidak langsungberperan dalam proses pembentukan klorofil.

5. Boron (B)

Boron diserap tanaman dalam bentuk ion BO32-.  Unsur boron sangat dibutuhkan dalam proses diferensiasi (pementukan) sel sedang tumbuh.  Boron yang larut di dalam larutan tanah mudah hilang karena tecuci.  Kondisi ini terjadi pada tanah masam (pH dibawah 5) di daerah yan bercurah hujan tingi.  Ketersediaan boron paling tingi pada pH tsns 6-7 dan menurun pada anah bertekstur liat yang er pH 7,5-8,5.  Boron tidak bisa dipindahkan dari satu jaringan ke jaringan lain.

6.    Molibdenum (Mo)

 Molibdenum diserap tanaman dalam bentuk ion MoO42-.  Unsur mikro ini berperan dalam penyerapan N, pengikatan (fiksasi) N, asimilasi N, dan secara tidak langsung juga berperan dalam produksi asam amino dan protein.  Unsur ini juga berfungsi sebagai aktifaor beberapa jenis enzim.  Pada anah berpasir dan tanah ber pH rendah sanant mungkin mengalami kekuanan Mo karena terjadi proses pencucian.  Ketersediaan Mo meningkat seirin dengan peningkatan pH tanah. Shinga pH tanah adalah faktor terpenting alam mengontrol ketersediaan Mo.  Kekuranan Mo dapat dikoreksi dengan pengapuran yang tepat.

7.    Khlor (Cl)

Khlor diserap tanaman dalam bentuk ion Cl-.  Unsur mikro ini dibutuhkan dalam proses fotosintesis.  Keberadaannya tidak dihasilkan dari metabolisme tanaman.  Funsi khlor berkaitan langsung dengan pengaturan tekanan osmosis di dalam sel tanaman.  Kebutuhan Cl lebih sedikit dibanding dengan unsur mikro yang lain.  Jika di alam tanah terlalu banyak kandungan Cl, tanaman akan keracunan.  Penyerapan NO3-, SO42- juga akan menurun.

Gejala-gejala Difisiensi Unsur Hara

Pada praktik budidaya tanaman kita sering dihadapkan pada masalah pertumuhan tanaman tidak normal, yaitu tanaman kerdil, warna daun berubah dan kematian organ tanaman seterti daun, bunga dan buah yang ditandai dengan kerontokan.

Apabila tidak ada orgn lain yang menyebabkan gangguan atau kelainan pertumbuhan tersebut, maka kelainan pertumbuhan itu disebabkan adanya kekurangan/kelebihan salah satu atau beberapa unsur hara yang dibutuhkan tanaman.  Kelainan tumbuhan an gejala-gejala kekurangan unsur dikemukakan dalam uraian di bawah ini.

 3.      Menentukan Metode Pemupukan

 

Jenis-jenis Pupuk

1.    Pupuk sumber Nitrogen

  • Amoniun Nitrat

Kandungan nitratnya membuat pupuk ini cocok digunakan di daerah dingin dan daerah panas.  Pupuk ini akan membakar tanaman apabila diberikan terlalu dekat dengan akar tanaman atau kontak langsung engan daun.  Ketersediaan bagi tanaman sangat cepat sehingga frekuensi pemberiannya harus lebih sering.  Amonium Nitrat bersifat higroskopis sehingga tidak dapat disimpan lebih lama.

  • Amonium Sulfat

Pupuk ini dikenal dengan nama pupuk ZA, mengandung 21% nitrogen dan 26% sulfus, erbentuk kristal dan bersifat kurang higroskopis.  Reaksi kerjanya agak lambat sehinga cocok digunakan untuk pupuk dasar.  Sifat reaksinya asam, sehingga tidak disarankan untuk tanah ber pH rendah.

  • Kalsium Nitrat

Pupuk ini berbentuk butiran, berwarna putih, sangat cepat larut di dalam air.  Kalsium nitrat merupakan sumber kalsium yang baik karena mengandung 19% Ca.  Sifat lainnya adalah bereaksi basa dan higroskopis.

  • Urea

Pupuk urea memiliki kandungan N yang tinggi yaitu 46%, sehingga sangat higroskopis.  Urea mudah larut dalam air dan bereaksi cepat, juga mudah menguap dalam bentuk amonia.

2.    Pupuk sumber Fosfor

  • SP-36

Mengandung 36% fosfor dalam bentuk P2O5.  ppuk ini terbuat dari fosfat alam dan sulfat.  Berbentuk butiran an berwarna au-abu. Sifatnya agak sulit larut dalam air dan bereaksi lambat sehingga selalu digunakan sebagai pupuk dasar.  Reaksi kimianya tergolong netral, tidak higroskopis, dan tidak bersifat membakar.

  • Amonium Phosfat

Pupuk ini umumnya digunakan untuk merangsang pertumbuhan awal.  Bentuknya berupa butiran berwarna coklat kekuningan.  Reaksinya termasuk alkalis dan mudah larut di dalam air.  Sifat lainnya adalah tidak higroskopis sehingga tahan disimpan lebih lama  dan tidak bersifat membakar karena indeks garamnya rendah.

3.    Pupuk sumber Kalium

  • Kalium Klorida

Mengandung 45% K2O dan klor, bereaksi agak asam dan bersiat higroskopis.  Khlor berpengaruh negatif terhadap tanaman yang tidak membutuhkanya.

  • Kalium Sulfat

Pupuk ini lebih dikenal dengan nama ZK. Kadar K2O-nya sekitar 48-52%, berbentuk tepung putih yang larut di dalam air, bersifat asam.  Dapat digunakan sebagai pupuk dasar sesudah tanam.

  • Kalium Nitrat

Mengandung 13% N dan 44% K2O, berbentuk butiran berwarna putih yang tidak bersifat higroskopis dengan reaksi yang netral.

4.    Pupuk sumber unsur makro sekunder

  •  Kapur dolomit

Berbentuk bubuk berwarna putih kekuningan, dikenal sebagai bahan untuk menaikan pH tanah.  Dolomit adalah sumber Ca (30%) dan Mg (19%) yang cukup baik.  Kelarutannya agak rendah dan kualitasnya sangat ditentukan oleh ukuran butirannya.  Semakin halus butirannya semakin baik kualitasnya.

  • Kapur Kalsit

Dikenal sebagai kapur pertanian berbentuk bubuk berfungsi untuk meningkatkan pH tanah.  Warnanya putih dan butirannya halus, mengandung 90199% Ca.  Bersifat lebih cepat larut di dalam air.

  • Kalium Magnesium Sulfat (Paten Kali)

Pupuk ini mengandung 30% K2O, 12% S, dan 12% MgO, erbentuk butiran dan berwarna kuning.  Bersifat sukar larut dalam air.

  • Kapur Gypsum

Erbentuk bubuk berwarna putih.  Mengandung 39% Ca, 53% S, dan sedikit Mg.  Gypsum digunakan untuk meneralisir tanah yang erganggu karena kadar garam yang tingi.

  •  Bubuk Belerang

Bubuk belerang adalah sumber sulfur yang terbesar, kandungannya dapat mencapai 99%.   Namun bubuk ini tidak lazim digunakan untuk mengatasi defisiensi sulfur, tetapi lebih banyak digunakan untuk menurunkan pH tanah.

5.    Pupuk sumber unsur mikro

Pupuk sebagai sumber unsur hara mikro ersedia dalam dua entuk, yakni bentuk garam anorganik dan bentuk organik sinteis.  Kedua bentuk ini bersifat mudah larut di dalam air.  Contoh pupuk mikro yang berbentuk garam anorganik adalah Cu, Fe,Z dan Mn yan seluruhnya bergabung dengan sulfat.  Sebagai sumber boron, umumnya digunakan sodium tetra borat yang banyak digunakan sebagai pupuk aun.  Sumber Mo ummnya menggunakan sodium atau anonium molibdat.  Di baah ini berbagai garam anorganik dan kandungan unsur hara mikronya.

Bentuk organik sintetis ditandai dengan adanya agen pengikat unsur logam yang disebut chelat. Chelat adalah bahan kimia organik yang dapat mengikat ion logam seperti yang dilakkan koloid tanah.  Unsur hara mikro yang tersedia  dalam bentuk chelat adalah Fe, Mn, Cu, dan Zn.

Selain disediakan oleh kedua jenis pupuk di atas unsur mikro juga disediakan oleh berbagai pupuk majemuk yang banyak beredar di pasaran.

Karakteristik Pupuk

1.    Analisis pupuk

Kadar unsur hara yang dikandung pupuk disebut dengan analisis pupuk.  Untuk unsur makro kadar tersebut dinyatakan dalam satuan persen, sedangkan unsur mikro dinyatakan dalam satuan ppm.  Jenis unsur hara yang dikandung ppuk tidak dinyatakan dalam unsur tunggal tetapi dinyatakan dalam persentase total N, P2O5 dan K2O.  Sebagai contoh ppuk urea mengandung 45% N, berarti dalam 100 kg pupuk Urea terdapat 45 kg N total.

Pupuk NPK dengan analisis 15:15:15 menunjukkan pupuk tersebut mengandung 15% N, 15% P2O5 dan 15% K2O.  Analisis ppuk selalu tertera pada kemasan pupuk.  Jenis pupuk yang sama belum tentu mengandung analisis yang sama, biasanya berbea sekitar 1-2%.  Hal ini sangat tergantung pada pabrik pemuatnya.  Karena itu saangat penting membaca dan memaami label yang terdapat pada kemasan pupuk.

2.    Higroskopisitas

Higroskopisitas adalah sifat pupuk yang berkaitan dengan potensinya dalam mengikat air dari udara.  Pupuk dianggap bersifat higroskopis jika di tempat terbuka mudah sekali mencair.  Sifat ini sangat menentukan daya simapan pupuk.  Pupuk yang bersifat higroskopis hendaknya tidak disimpan terlalu lama dan harus disimpan di tempat yang tertutup (kedap udara), kalau tiak ppuk akan cepat mencair atau menggumpal.

3.    Daya larut

Daya larut merupakan kemampuan suatu jenis ppuk untuk terlarut dalam air.  Daya larut juga menentukan cepat atau lambatnya unsur hara yang ada di dalam pupuk untuk diserap tanaman atau hilang karena tecuci.  Pupuk engan daya larut tingi lebih cepat diserap oleh tanaman, tetapi mudah tercuci oleh hujan.  Pupuk yang mengandung nitrogen biasanya mempunyai daya larut yang tinggi.

4.    Reaksi pupuk

Setelah pupuk ditebarkan ke tanah, pH tanah dapat berubah menjadi lebih tingi atau lebih rendah.  Jenis pupuk yang menyebabkan pH tanah meningkat disebut pupuk bereaksi basa dan pupuk yang menyebabkan pH tanah menurun disebut pupuk bereaksi asam.

5.    Indeks garam

Penebaran pupuk di tanah kan meningkatkan konsentrasi garam di dalam tanah.  Peningkatan konsentrasi garam ini akan menaikan tekanan osmosis larutan tanah, sehingga berpenaruh terhadap proses penyerapan unsur hara.  Larutan tanah dengan tekanan osmosis yang tinggi dapat menyebabkan larutan hara tidak dapat terserap tetapi cairan sel justru akan keluar dari akar (plasmolisis jaringan akar).  Pupuk dengan indeks garam yang tinggi  harus ditempatkan lebih jauh dari perakaran tanaman dibanding dengan pupuk dengan indeks garam rendah.

Perhitungan Pupuk

Agar dosis pupuk yang ditebarkan sesuai dengan yang diinginkan, sebelum melakukan pemupukan diperlukan beberapa penghitungan.  Berikut beberapa contoh penghitungan pupuk sebeluk melaksanakan pemupukan.

contoh 1

Hasil analisis jaringan tanaman merekomendasikan untuk melakkan pemupukan pada tanaman perkebunan dengan 150 gram N, 75 gram P2O5, dan 150 gram K2O pertanaman.  Pupuk yang tersedia di pasaran adalah Urea (45% N), SP-36 (36% P2O5), dan KCl (60% P2O).  Berdasarkan rekomendasi pemupukan, bobot setiap pupuk yang diperlukan untuk memenuhi rekomendasi di atas adalah :

Urea yang diperlukan adalah : 100/45 x 150 g = 333,3 gram

SP-36 yang diperlukan adalah : 100/36 x 75 g = 208,3 gram

KCl yang diperlukan adalah : 100/60 x 150 g = 249,9 gram

contoh 2

Seorang petani kopi ingin memupuk tanaman peliharaannya dengan NPK 15:15:15 dengan dosis yang dianjurkan 500 kg NPK/ha.  Jenis pupuk yang tersedia adalah Urea (45% N), SP-36 (36% P2O5), dan KCl (60% P2O).  Langkah yang harus dilakkan adalah mencampur ketiga jenis pupuk tersebut sampai kadarnya setara dengan dosis pupuk NPK yang dianjurkan.  Pertama hitung kadar N, P dan K dalam dosis yang dianjurkan, dan akan diperoleh :

  • Kadar N                     = 15% x 500 kg = 75 kg
  • Kadar P2O5                = 15% x 500 kg = 75 kg
  • Kadar K2O                 = 15% x 500 kg = 75 kg

Selanjutnya hitung jumlah kebutuhan pupuk Urea, SP-36, dan KCl sebagai berikut :

  • Kebutuhan Urea      = 100/45 x 75 = 166,67 kg
  • Kebutuhan SP-36   = 100/36 x 75 = 208,33 kg
  • Kebutuhan KCl        = 100/60 x 75 = 124,99 kg

Aplikasi Pemupukan

Faktor penentu memilih cara aplikasi

Dalam menentukan cara aplikasi  atau penempatan pupuk  harus mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut.

a.    Tanaman yang akan dipupuk

  • Nilai ekonomi tanaman dan luas areal tanam.  Tanaman dengan nilai ekonomi yang tinggi atau mempunyai skala penanaman yang sangat luas dapat mempertimangkan cara penempatan pupuk dengan alat mekanis.
  • Umur tanaman.  Tanaman di pesemaian dapat dipupuk dengan cara menyemprotkan pupuk lewat daun.  Pupuk unuk tanaman di lapangan yang masih kecil diberikan dengan cara menugal.  Pada tanaman yang sudah besar pupuk dapat diberikan dengan cara larikan
  • Jarak tanam dan karakter tajuk.  Tanaman dengan jarak tanam yang rapat dapat dipupuk dengan cara larikan pada satu sisi barisan tanaman.  Tanaman yang ditanam berjauhan dapat dipupuk dengan cara membuat larikan yang melingkar mengelilngi pohon

b.    Jenis pupuk yang digunakan

  • Dalam pemupukan kita harus memperhatikan Mobilitasnya di dalam tanah.  Fosfor hampir tidak bersifat mobil, akibatnya pupuk ini tetap berada di tempat semula dalam jangka waktu yang lama sehingga diberikan sekaligus dan harus diberikan dekat dengan perakaran dengan cara menugal atau larikan.  Pupuk Kalium dan Nitrogen cenderung mudah bergerak dari tempat penbarannya.  Pola pergerakannya vertikal ke bawah bersama-sama air. Karena sifatnya yang mobil pupuk kalium dan nitrogen dapat diberikan dengan ara ditebar dipermkaan tanah atau atau dengan larikan.
  • Indeks garam. Pupuk dengan indeks garam yang tingi tidak boleh ditempatkan terlalu dekat dengan akar karena akan merusak tanaman.
  • Ukuran pupuk.  Pupuk dengan ukuran  butiran yang sangat halus seperti kapur umumnya ditebar di atas permukaan tanah.

c.    Dosis Pupuk

Tidak disarankan menempatkan pupuk dengan dosis sangat tinggi di dalam larikan karena akan merusak tanaman.  Pupuk tersebut sebaiknya ditebar agar idak erjadi penumpukan disatu tempat.

Cara aplikasi pupuk

1.    Larikan

Caranya buat parit kecil di samping baris tanaman sedalam 6-10 cm, tempatkan pupuk di dalam larikan tersebut, kemudian tutup kembali.  Cara ini dapat dilakukan pada satu atau kedua sisi tanaman.  Pada tanaman dengan jarak tanam yang lebar larikan dibuat melingkar di sekeliling pohon dengan jari-jari 0,5-1 kali jari-jari tajuk pohon.

2.    Penebaran secara merata di atas permukaan tanah

Cara ini biasanya dilakukan sebelum penanaman atau bersamaan dengan pengolahan tanah, seperti pada aplikasi kapur.  Pada pemupukan susulan hal ini dapat dilakukan untuk pupuk yang tidak mudah menguap.

 3.    Pop Up

Caranya ppuk dimasukkan pada lubang tanam pada saat penanaman bibit.  Pupuk yang digunakan harus yang indeks garamnya rendah agar tidak merusak bibit.

4.    Fertigasi

Pupuk dilarutkan kedalam air dan disiramkan pada tanaman melalui air irigasi.  Cara ini banyak dilakukan pada pembibitan

Waktu pemupukan

Dilihat dari sifat bereaksinya pupuk ada yang cepat ada yang lambat, sehingga hal ini akan mempengaruhi kepada kapan pupuk itu harus diberikan.  Pupuk yang bereaksi cepat biasanya diberikan diawal tanam sebagai pupuk dasar dan akan tersedia dalam jangka waktu yang lama sehingga frekuensi aplikasinya sedikit.  Sedangkan pupuk yang bereaksi cepat biasanya diberikan secara bertahap karena pupuk ini cepat tercuci sehinga cepat berkurang ketersediaanya dalam tanah.  Dilihat dari peranannya ada yang berperan dalam pertumuhan vegetatif dan generatif, sehinga pemberiannyapun disesuaiakan dengan masa pertumbuhan tanaman.

DAFTAR PUSTAKA

  

Mul Mulyani Sutedjo, Ir. 1985. Pupuk dan Cara Pemupukan. Bina Cipta. Jakarta.

Sri setyadi Harjadi, MM., Dr. 1979. Pengantar Agronomi. PT. Gramedia. Jakarta.

Mul Mulyani Sutedjo, Ir. 1989. Analisis Tanah, Air, dan Jaringan Tanaman. Rineka Cipta. Jakarta.

Novizan, Ir. 2001. Petunjuk Pemupukan yang Efektif. AgroMedia Pustaka. Jakarta.

Artikel Terkait:

Hama dan Penyakit (PHT)

April 12, 2011 pukul 12:26 pm | Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar

Mengatasi Hama dengan Kumbang dan Laba-laba

Pada Edisi sebelumnya (Kobar Warga, Selasa, 23 Maret 2010), digambarkan bagaimana cara mengatasi serangan hama dengan ramuan-ramuan tanaman dengan campuran bahan-bahan organik. Pada edisi kali ini, akan disajikan manfaat serangga, kumbang dan laba-laba sebagai musuh alami untuk pemberantasan hama tanaman.Musuh Alami Hama
Musuh alami merupakan salah satu komponen pengendalian hama terpadu yang dapat dimanfaatkan pada segala pola tanam. Pengendalian hama dengan memanfaatkan musuh alami memberikan banyak keuntungan di samping aman terhadap lingkungan, berkembang secara alami di lapang, apabila keberadaannya dapat diusahakan sejak awal akan efektif menekan perkembangan populasi hama.
Dalam sejarah pengendalian hama perhatian terhadap musuh alami sangat berkurang semenjak secara sepihak penggunaan pestisida dianggap satu-satunya metode pengendalian yang dapat diandalkan. Namun pengendalian dengan pestisida menimbulkan banyak efek samping baik masalah resistensi, resurjensi, dan terhadap organisme bukan sasaran. Kesadaran terhadap pentingnya pemanfaatan musuh alami dalam pengendalian hama sangat penting. (pangan.litbang.deptan.go.id)Musuh alami hama wereng hijau bisa berupa predator, parasit maupun patogen. Secara harfiah, predator dapat dikatakan sebagai pemangsa. Namun, dalam hubungannya dengan jaring-jaring makanan, predator merupakan konsumen tingkat-2 sampai tingkat selanjutnya yang memangsa tingkat yang lebih kecil. Jadi, predator dapat dikatakan sebagai binatang atau organisme yang memakan binatang/organisme lainnya untuk mempertahankan hidupnya dan dilakukan secara berulang-ulang.Keberadaan predator dalam suatu ekosistem mutlak dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan lingkungan yang ada. Predator merupakan serangga yang memangsa serangga lain dengan cara menangkap, menghisap cairan atau memangsa habis seluruh tubuh. Untuk melengkapi daur hidupnya untuk tujuan kelangsungan hidup, seekor predator memerlukan beberapa bahkan banyak mangsa. Hal ini berbeda dengan parasit. Parasit memerlukan satu ekor inang saja sebagai tempat untuk melengkapi daur hidupnya. (www.tanindo.com).Pentingnya Predator
Keberadaan dan pentingnya predator dalam ekosistemnya dapat kita lihat kasus sebagai berikut : saat kita memulai menanam padi, maka saat itu juga kita memulai menciptakan sebuah komunitas baru pada areal penanaman padi. Pada saat bersamaan kita tidak hanya menanam padi melainkan juga hama penghisap bulir, penggerek batang, penyakit malai, penyakit busuk malai, predator Lycosa pesudoannulata, Pederus fuscifes, Ophionea nigrofasciata dan kumbang coccinella yang semuanya terkait dengan tanaman padi yang kita tanam. Begitu pula halnya dengan tanaman perkebunan yang dibudidayakan.Penggunaan pestisida yang berlebihan, berspektrum luas dan tidak selektif disertai tehnik budidaya yang kurang baik akan berdampak pada ketidakseimbangan ekosistem, karena tidak hanya hama saja melainkan semua pemangsanya pun turut musnah. Dan bila terjadi ledakan populasi hama yang baru, jumlah predator yang ada tidak mencukupi sehingga pengendalian biologis tidak akan efektif.Melihat pentingnya peran predator dan parasit dalam menjaga dan mengendalikan populasi hama, maka upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengurangi penggunaan insektisida yang berspektrum luas, aplikasi insektisida dengan melakukan pengamatan perbandingan jumlah hama dan musuh alami, bahkan bila perlu dalam suatu areal penanaman dilakukan manipulasi lingkungan agar mendukung peran dan jumlah musuh alaminya.Musuh Alami Hama:
Laba-laba Serigala (Lycosa pseudoanulata)
Laba-laba Bermata Jalang (Oxyopes javanus)
Laba-laba Berahang Empat (Tetragnatha spp.)
Kepik Permukaan Air (Microvellia douglasi atrolineata)
Kepik Mirid (Cyrtorhinus lividipennis)
Kumbang Stacfilinea (Paederus fuscipes)
Kumbang Karabid (Ophionea nigrofasciata)
Kinjeng Dom (Agriocnemis spp.)
Belalang Bertanduk Panjang (Conocephalus longipennis)
Kumbang Koksinelid (Synharmonia octomaculata)Disajikan oleh:
Lembaga Kajian & Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU dan Lembaga Pengembangan Pertanian NU Jombang.

ursday, 21 June 2007

Pengendalian Gulma Menggunakan Kertas

Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi. Keberadaan gulma menurunkan hasil karena mengganggu pertumbuhan tanaman produksi melalui kompetisi. Terdapat beberapa jenis tumbuhan dikenal sebagai gulma utama, seperti rumput-rumputan, teki dan alang-alang. Ilmu yang mempelajari gulma, perilakunya, dan pengendaliannya dikenal sebagai ilmu gulma.Herbisida adalah senyawa atau material yang disebarkan pada lahan pertanian untuk menekan atau memberantas tumbuhan yang menyebabkan penurunan hasil (gulma). Lahan pertanian biasanya ditanami sejenis tanaman pertanian. Namun demikian tumbuhan lain juga dapat tumbuh di lahan tersebut. Karena kompetisi dalam mendapatkan hara di tanah, perolehan cahaya matahari, dan atau keluarnya substansi alelopatik, tumbuhan lain ini tidak diinginkan keberadaannya. Herbisida digunakan sebagai salah satu sarana pengendalian tumbuhan “asing” iniTehnik baru untuk pengendalian atau mencegah pertumbuhan gulma pada lahan yang ditanami padi di sawah dengan cara menutupi tanah tempat bercocok tanam menggunakan kertas. Dengan penutupan tanah dengan kertas pada sawah tersebut dapat mencegah tumbuhnya gulma karena tidak terdapat sinar matahari yang masuk.Cara penutupan kertas dan penanaman padi dilakukan dengan menggunakan mesin yang terintegrasi. Proses penutupan kertas diatas tanah dan penanaman padi dilakukan secara bersamaan. Kertas digulung dalam mesin dan dihamparkan terlebih dahulu, sementara pada mesin yang sama sudah disiapkan bibit padi yang siap ditancamkan pada saat begitu kertas dihamparkan.Dengan cara demikian gulma tidak tumbuh sehingga dapat menghindari penggunaan herbisida, tidak menggunakan tenaga kerja untuk menyiangi dan dapat menghemat ongkos produksi dan dapat mendukung pertanian organik.


Gambar kertas yang tergulung sebelum dipasang pada mesin.


Kertas dalam mesin tanam dipasang di tempat penggulungan kertas di sebelah depan (kanan). Sedangkan tempat bibit yang siap ditanam terlihat berderet di sebelah belakang (kiri).


Hamparan tanaman padi milik seorang petani di Fukui Jepang, tidak terdapat gulma sedikitpun diatas tanahnya yang tertutup dengan kertas.

ARTIKEL

Modul Pengendalian Hama Terpadu (PHT)

Juknis HPT Jagung

Hama Dan Penyakit Kubis

Hama Penyakit Pepaya

HPT Tanaman Padi

Jenis-Jenis Hama Pada Tanaman

Jenis Hama Tanaman

Penyakit Pada Tanaman

Fitopatologi Penyakit Tanaman

Foto Serangga Pada Tanaman

Identifikasi Serangga Pada Tanaman

Insektisida atau Pestisida Alami

Pestisida Hayati

Musuh alami dan hama pada jambu mete

(Beneficial insects and pests of cashew)

Download PDF 1249 kb

Musuh alami dan hama pada kapas

(Beneficial insects and pests of cotton)

Download PDF 2292 kb

Musuh alami dan hama pada kakao

(Beneficial insects and pests of cacao)

Download PDF 1428 kb

Musuh alami dan hama pada kopi

(Beneficial insects and pests of coffee)

Download PDF 1045 kb

Musuh alami dan hama pada lada

(Beneficial insects and pests of black pepper)

Download PDF 1106 kb

Musuh alami dan hama pada teh

(Beneficial insects and pests of tea)

Download PDF 1239 kb

Klimatologi dan Irigasi

April 12, 2011 pukul 12:26 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Klimatologi untuk Pertanian

Klimatologi merupakan ilmu tentang atmosfer. Mirip dengan meteorologi, tapi berbeda dalam kajiannya, meteorologi lebih mengkaji proses di atmosfer sedangkan klimatologi pada hasil akhir dari proses2 atmosfer.

Klimatologi berasal dari bahasa Yunani Klima dan Logos yang masing2 berarti kemiringan (slope) yg di arahkan ke Lintang tempat sedangkan Logos sendiri berarti Ilmu. Jadi definisi Klimatologi adalah ilmu yang mencari gambaran dan penjelasan sifat iklim, mengapa iklim di berbagai tempat di bumi berbeda , dan bagaimana kaitan antara iklim dan dengan aktivitas manusia. Karena klimatologi memerlukan interpretasi dari data2 yang banyak dehingga memerlukan statistik dalam pengerjaannya, orang2 sering juga mengatakan klimatologi sebagai meteorologi statistik (Tjasyono, 2004)

Iklim merupakan salah satu faktor pembatas dalam proses pertumbuhan dan produksi tanaman. Jenis2 dan sifat2 iklim bisa menentukkan jenis2 tanaman yg tumbuh pada suatu daerah serta produksinya. Oleh karena itu kajian klimatologi dalam bidang pertanian sangat diperlukan. Seiring dengan dengan semakin berkembangnya isu pemanasan global dan akibatnya pada perubahan iklim, membuat sektor pertanian begitu terpukul. Tidak teraturnya perilaku iklim dan perubahan awal musim dan akhir musim seperti musim kemarau dan musim hujan membuat para petani begitu susah untuk merencanakan masa tanam dan masa panen. Untuk daerah tropis seperti indonesia, hujan merupakan faktor pembatas penting dalam pertumbuhan dan produksi tanaman pertanian.

Selain hujan, unsur iklim lain yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah suhu, angin, kelembaban dan sinar matahari.

Setiap tanaman pasti memerlukan air dalam siklus hidupnya, sedangkan hujan merupakan sumber air utama bagi tanaman. Berubahnya pasokan air bagi tanaman yg disebabkan oleh berubahnya kondisi hujan tentu saja akan mempengaruhi siklus pertumbuhan tanaman. Itu merupakan contoh global pengaruh ikliim terhadap tanaman. Di indonesia sendiri akibat dari perubahan iklim, yaitu timbulnya fenomena El Nino dan La Nina. Fenomena perubahan iklim ini menyebabkan menurunnya produksi kelapa sawit. Tanaman kelapa sawit bila tidak mendapatkan hujan dalam 3 bulan berturut-turut akan menyebabkan terhambatnya proses pembungaan sehingga produksi kelapa sawit untuk jangka 6 sampai 18 bulan kemudian menurun. Selain itu produksi padi juga menurun akibat dari kekeringan yang berkepanjangan atau terendam banjir. Akan tetapi pada saat fenomea La Nina produksi padi malah meningkat untuk masa tanam musim ke dua.

Selain hujan, ternyata suhu juga bisa menentukkan jenis2 tanaman yg hidup di daerah2 tertentu. Misalnya perbedaan tanaman yang tumbuh di daerah tropis, gurun dan kutub. Indonesia merupakan daerah tropis, perbedaan suhu antara musim hujan dan musim kemarau tidaklah seekstrim perbedaan suhu musim panas dan musim kemarau di daerah2 sub tropis dan kutub. Oleh karena itu untuk daerah tropis, klasifikasi suhu lebih di arahkan pada perbedaan suhu menurut ketinggian tempat. Perbedaan suhu akibat dari ketinggian tempat (elevasi) berpengaruh pada pertumbuhan dan produksi tanaman. Sebagai contoh, tanaman strowbery akan berproduksi baik pada ketinggian di atas 1000 meter, karena pada ketinggian 1000 meter pebedaan suhu antara siang dan malam sangat kontras dan keadaan seperti inilah yg dibutuhkan oleh tanaman strowbery.

Info Indeks Nino 3.4 terkini untuk memantau kondisi El Nino La Nina

Salah satu cara untuk memantau keadaan ENSO (El Nino atau La Nina) adalah dengan melihat indeks-indeksnya seperti SOI (Southern Oscillation Index), MEI (Multivariate ENSO Index), atau NINO Index. Kenapa perlu memantau kondisi index-index ini? karena iklim, khususnya curah hujan di Indonesia sangat di pengaruhi oleh kondisi ENSO ini. Gambar di bawah adalah informasi terkini kondisi NINO 3.4 index yang bersumber dari UNESCO (http://ioc3.unesco.org/oopc/state_of_the_ocean/sur/images/nino34weekly_104_figure.png). Di bawah gambar tersebut saya tampilkan juga perkiraan kondisi kejadian La Nina tahun 2011 berdasarkan perkiraan IRI (http://iri.columbia.edu/climate/ENSO/currentinfo/figure3.html). Selama 3 bulan kedepan (Januari Februari Maret) kemungkinan terjadinya La Nina adalah masih tinggi. Akan tetapi kondisi ini tidak terlalu mengkhawatirkan untuk sebagian wilayah Indonesia, karena saat musim hujan dan transisi musim hujan ke musim kemarau efek kejadian ENSO (El Nino atau la Nina) tidak terlalu berpengaruh terhadap fluktuasi curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia (As-syakur, 2010). sebagai informasi tambahan, saya juga tambahkan gambar yang selelau terupdate otomatis dari NOAA tentang seberan suhu permukaan laut (SPL) dan anomalinya. kondisi SPL dan anomalinya juga bisa menggambarkan kejadian El Nino atau La Nina.

TABLE – IRI Probabilistic ENSO Prediction for NINO3.4 Region
- Made in Dec 2010

Season La Niña Neutral El Niño
DJF 2011 98% 2% 0.2%
JFM 2011 94% 6% 0.4%
FMA 2011 85% 13% 2%
MAM 2011 64% 30% 6%
AMJ 2011 43% 45% 12%
MJJ 2011 32% 50% 18%
JJA 2011 27% 50% 23%
JAS 2011 27% 50% 23%
ASO 2011 27% 50% 23%
SON 2011 27% 50% 23%

Klasifikasi Iklim

2 Mei 2007 — La AnUnsur-unsur iklim yang menunjukan pola keragaman yang jelas merupakan dasar dalam melakukan klasifikasi iklim. Unsur iklim yang sering dipakai adalah suhu dan curah hujan (presipitasi). Klasifikasi iklim umumnya sangat spesifik yang didasarkan atas tujuan penggunaannya, misalnya untuk pertanian, penerbangan atau kelautan. Pengklasifikasian iklim yang spesifik tetap menggunakan data unsur iklim sebagai landasannya, tetapi hanya memilih data unsur-unsur iklim yang berhubungan dan secara langsung mempengaruhi aktivitas atau objek dalam bidang-bidang tersebut (Lakitan, 2002).

Thornthwaite (1933) dalam Tjasyono (2004) menyatakan bahwa tujuan klasifikasi iklim adalah menetapkan pembagian ringkas jenis iklim ditinjau dari segi unsur yang benar-benar aktif terutama presipitasi dan suhu. Unsur lain seperti angin, sinar matahari, atau perubahan tekanan ada kemungkinan merupakan unsur aktif untuk tujuan khusus.

Indonesia adalah negara yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, oleh sebab itu pengklasifikasian iklim di Indonesia sering ditekankan pada pemanfaatannya dalam kegiatan budidaya pertanian. Pada daerah tropik suhu udara jarang menjadi faktor pembatas kegiatan produksi pertanian, sedangkan ketersediaan air merupakan faktor yang paling menentukan dalam kegiatan budidaya pertanian khususnya budidaya padi.

Variasi suhu di kepulauan Indonesia tergantung pada ketinggian tempat (altitude/elevasi), suhu udara akan semakin rendah seiring dengan semakin tingginya ketinggian tempat dari permukaan laut. Suhu menurun sekitar 0.6 oC setiap 100 meter kenaikan ketinggian tempat. Keberadaan lautan disekitar kepulauan Indonesia ikut berperan dalam menekan gejolak perubahan suhu udara yang mungkin timbul (Lakitan, 2002). Menurut Hidayati (2001) karena Indonesia berada di wilayah tropis maka selisih suhu siang dan suhu malam hari lebih besar dari pada selisih suhu musiman (antara musim kemarau dan musim hujan), sedangkan di daerah sub tropis hingga kutub selisih suhu musim panas dan musim dingin lebih besar dari pada suhu harian. Kadaan suhu yang demikian tersebut membuat para ahli membagi klasifikasi suhu di Indonesia berdasarkan ketinggian tempat.

Hujan merupakan unsur fisik lingkungan yang paling beragam baik menurut waktu maupun tempat dan hujan juga merupakan faktor penentu serta faktor pembatas bagi kegiatan pertanian secara umum, oleh karena itu klasifikasi iklim untuk wilayah Indonesia (Asia Tenggara umumnya) seluruhnya dikembangkan dengan menggunakan curah hujan sebagai kriteria utama (Lakitan, 2002). Tjasyono (2004) mengungkapkan bahwa dengan adanya hubungan sistematik antara unsur iklim dengan pola tanam dunia telah melahirkan pemahaman baru tentang klasifikasi iklim, dimana dengan adanya korelasi antara tanaman dan unsur suhu atau presipitasi menyebabkan indeks suhu atau presipitasi dipakai sebagai kriteria dalam pengklasifikasian iklim.

Beberapa sistem klasifikasi iklim yang sampai sekarang masih digunakan dan pernah digunakan di Indonesia antara lain adalah:

a. Sistem Klasifikasi Koppen

Koppen membuat klasifikasi iklim berdasarkan perbedaan temperatur dan curah hujan. Koppen memperkenalkan lima kelompok utama iklim di muka bumi yang didasarkan kepada lima prinsip kelompok nabati (vegetasi). Kelima kelompok iklim ini dilambangkan dengan lima huruf besar dimana tipe iklim A adalah tipe iklim hujan tropik (tropical rainy climates), iklim B adalah tipe iklim kering (dry climates), iklim C adalah tipe iklim hujan suhu sedang (warm temperate rainy climates), iklim D adalah tipe iklim hutan bersalju dingin (cold snowy forest climates) dan iklim E adalah tipe iklim kutub (polar climates) (Safi’i, 1995).

b. Sistem Klasifikasi Mohr

Klasifikasi Mohr didasarkan pada hubungan antara penguapan dan besarnya curah hujan, dari hubungan ini didapatkan tiga jenis pembagian bulan dalam kurun waktu satu tahun dimana keadaan yang disebut bulan basah apabila curah hujan >100 mm per bulan, bulan lembab bila curah hujan bulan berkisar antara 100 – 60 mm dan bulan kering bila curah hujan < 60 mm per bulan (Anon, ?).

c. Sistem Klasifikasi Schmidt-Ferguson

Sistem iklim ini sangat terkenal di Indonesia. Menurut Irianto, dkk (2000) penyusunan peta iklim menurut klasifikasi Schmidt-Ferguson lebih banyak digunakan untuk iklim hutan. Pengklasifikasian iklim menurut Schmidt-Ferguson ini didasarkan pada nisbah bulan basah dan bulan kering seperti kriteria bulan basah dan bulan kering klsifikasi iklim Mohr. Pencarian rata-rata bulan kering atau bulan basah (X) dalam klasifikasian iklim Schmidt-Ferguson dilakukan dengan membandingkan jumlah/frekwensi bulan kering atau bulan basah selama tahun pengamatan ( åf ) dengan banyaknya tahun pengamatan (n) (Anon, ? ; Safi’i, 1995).

Schmidt-Fergoson membagi tipe-tipe iklim dan jenis vegetasi yang tumbuh di tipe iklim tersebut adalah sebagai berikut; tipe iklim A (sangat basah) jenis vegetasinya adalah hutan hujan tropis, tipe iklim B (basah) jenis vegetasinya adalah hutan hujan tropis, tipe iklim C (agak basah) jenis vegetasinya adalah hutan dengan jenis tanaman yang mampu menggugurkan daunnya dimusim kemarau, tipe iklim D (sedang) jenis vegetasi adalah hutan musim, tipe iklim E (agak kering) jenis vegetasinya hutan savana, tipe iklim F (kering) jenis vegetasinya hutan savana, tipe iklim G (sangat kering) jenis vegetasinya padang ilalang dan tipe iklim H (ekstrim kering) jenis vegetasinya adalah padang ilalang (Syamsulbahri, 1987).

Table Klasifikasi Iklim Menurut Schmidt-Ferguson

d. Sistem Klasifikasi Oldeman

Klasifikasi iklim yang dilakukan oleh Oldeman didasarkan kepada jumlah kebutuhan air oleh tanaman, terutama pada tanaman padi. Penyusunan tipe iklimnya berdasarkan jumlah bulan basah yang berlansung secara berturut-turut.

Oldeman, et al (1980) mengungkapkan bahwa kebutuhan air untuk tanaman padi adalah 150 mm per bulan sedangkan untuk tanaman palawija adalah 70 mm/bulan, dengan asumsi bahwa peluang terjadinya hujan yang sama adalah 75% maka untuk mencukupi kebutuhan air tanaman padi 150 mm/bulan diperlukan curah hujan sebesar 220 mm/bulan, sedangkan untuk mencukupi kebutuhan air untuk tanaman palawija diperlukan curah hujan sebesar 120 mm/bulan, sehingga menurut Oldeman suatu bulan dikatakan bulan basah apabila mempunyai curah hujan bulanan lebih besar dari 200 mm dan dikatakan bulan kering apabila curah hujan bulanan lebih kecil dari 100 mm.

Lamanya periode pertumbuhan padi terutama ditentukan oleh jenis/varietas yang digunakan, sehingga periode 5 bulan basah berurutan dalan satu tahun dipandang optimal untuk satu kali tanam. Jika lebih dari 9 bulan basah maka petani dapat melakukan 2 kali masa tanam. Jika kurang dari 3 bulan basah berurutan, maka tidak dapat membudidayakan padi tanpa irigasi tambahan (Tjasyono, 2004).

Oldeman membagi lima zona iklim dan lima sub zona iklim. Zona iklim merupakan pembagian dari banyaknya jumlah bulan basah berturut-turut yang terjadi dalam setahun. Sedangkan sub zona iklim merupakan banyaknya jumlah bulan kering berturut-turut dalam setahun. Pemberian nama Zone iklim berdasarkan huruf yaitu zone A, zone B, zone C, zone D dan zone E sedangkan pemberian nama sub zone berdasarkana angka yaitu sub 1, sub 2, sub 3 sub 4 dan sub 5.

Zone A dapat ditanami padi terus menerus sepanjang tahun. Zone B hanya dapat ditanami padi 2 periode dalam setahun. Zone C, dapat ditanami padi 2 kali panen dalam setahun, dimana penanaman padi yang jatuh saat curah hujan di bawah 200 mm per bulan dilakukan dengan sistem gogo rancah. Zone D, hanya dapat ditanami padi satu kali masa tanam. Zone E, penanaman padi tidak dianjurkan tanpa adanya irigasi yang baik. (Oldeman, et al., 1980)

Tabel Klasifikasi iklim menurut Oldeman

Ecology and Environmental

ecology.jpgInti dari permasalahan lingkungan hidup adalah hubungan makhluk hidup, khususnya manusia dengan lingkungan hidupnya. Berbagai sumber daya alam yang mempunyai sifat dan perilaku beragam yang saling berinteraksi dalam bentuk yang berbeda-beda. Interaksi dari elemen lingkungan yaitu antara yang tergolong hayati dan non-hayati akan menentukan kelangsungan siklus ekosistem, yang didalamnya terdapat proses pergerakan energi dan material dalam suatu sistem yang menandai adanya habitat, proses adaptasi dan evolusi. Maka, dalam memanfaatnkan lingkungan hidupnya, manusia harus mampu mengenali sifat lingkungan hidup yang ditentukan oleh berbagai macam faktor. Oleh karena itu, diperlukan suatu monitoring sistem untuk memonitoring sumber daya alam agar bisa dimanfaatkan dengan optimal.

Irrigation

ecology3.jpg

Irigasi merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mengairi lahan pertanian. Semakin meningkatnya kebutuhan air, ketersediaan air yang terbatas, dan perhatian terhadap kualitas air, menyebabkan penggunaan air secara efektif menjadi sangat penting. Sistem irigasi pertanian harus bisa menyediakan air dalam tingkat, jumlah, dan waktu yang dibutuhkan. Sistem irigasi harus direncanakan, dirancang, dan dioperasikan secara efisien sehingga memerlukan suatu pemahaman menyeluruh tentang hubungan tanaman, tanah, persediaan air, dan kemampuan sistem irigasi.

Oleh karena itu, diperlukan suatu monitoring sistem untuk mengukur baik dan tidaknya suatu pengelolaan irigasi diperlukan suatu perangkat penilaian kinerja irigasi, seperti monitoring :

  • Montoring level dan debit air pada reservoir irigasi, sehingga bisa didapatkan data volume air untuk memperkirakan durasi pemberian air irigasi yang disesuaikan dengan kondisi volume air yang ada di dalam reservoir.
  • Monitoring pH air irigasi
  • Monitoring Kecepatan alir air saat mengairi sawah
  • Monitoring kandungan unsur-unsur kimia serta mikroba, meliputi kandungan BOD, COD dalam air.

Monitoring sedimentasi (endapan) pada reservoir irigasi, karena mempengaruhi tekstur, permeabilitas serta kesuburan tanah, mempengaruhi daya tampung saluran sehingga meningkatkan biaya untuk pemeliharaan saluran, dan menyumbat saluran irigasi.

Farm

ecology2.jpg

Banyak faktor yang mempengaruhi hasil panen dari perkebunan baik salah satunya tanah yang mendukung kesuburan dari tanaman. Untuk itu dilakukan suatu monitoring untuk melihat ketahanan dari tanah, yaitu :

  •  Memonitoring pH tanah yang merupakan salah satu sifat kimia tanah, dengan mengetahui pH tanah akan menunjukkan tingkat kesuburan tanah mereka. Mengetahui mudah tidaknya unsur-unsur hara dalam tanah diserap oleh tanaman. Unsur hara akan mudah diserap oleh tanaman (akar tanaman) pada pH netral. Menunjukkan kemungkinan adanya unsur-unsur beracun. Tanah dengan pH masam banyak ditemukan ion-ion Al (Alumunium) yang memfiksasi (mengikat) unsur P, sehingga unsur P sulit untuk diserap oleh tanaman, padahal unsur P berperan pada tanaman. Mempengaruhi perkembangan mikro organism
  •  Monitoring intensitas cahaya yang menimpa perkebunan
  •  Kandungan air dalam tanah
  • Kelembaban tanah
  • Kandungan unsur hara dalam tanah (karbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Sulfur (S), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Seng (Zn), Besi (Fe), Mangan (Mn), Tembaga (Cu), Molibden (Mo), Boron (B), Klor (Cl), Natrium (Na), Kobal (Co), dan Silikon (Si))

SEISMIC

seismic.jpg

Beberapa tahun terakhir ini kita mulai sering mendengar adanya berita gempa. Dari gempa yang ringan sampai gempa yang sangat merusak. Informasi kekuatan gempa yang beredar dimasyarakatpun bermacam-macam. Ini mengakibatkan masyarakat menjadi bingung informasi mana yang bisa dipercaya. Oleh karena itu, diperlukan suatu metode untuk memonitor getaran secara kontinus yang ditimbulkan oleh gempa sebagai informasi dini.

Kami memiliki sensor yang digunakan untuk memonitoring secara kontinus untuk mendeteksi getaran yang ditimbulkan dari gempa.

Irrigation Monitoring System

Irigasi merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mengairi lahan pertanian. Semakin meningkatnya kebutuhan air, ketersediaan air yang terbatas, dan perhatian terhadap kualitas air, menyebabkan penggunaan air secara efektif menjadi sangat penting. Sistem irigasi pertanian harus bisa menyediakan air dalam tingkat, jumlah, dan waktu yang dibutuhkan. Sistem irigasi harus direncanakan, dirancang, dan dioperasikan secara efisien sehingga memerlukan suatu pemahaman menyeluruh tentang hubungan tanaman, tanah, persediaan air, dan kemampuan sistem irigasi.

Oleh karena itu, diperlukan suatu monitoring sistem untuk mengukur baik dan tidaknya suatu pengelolaan irigasi diperlukan suatu perangkat penilaian kinerja irigasi, seperti monitoring :

  • Montoring level dan debit air pada reservoir irigasi, sehingga bisa didapatkan data volume air untuk memperkirakan durasi pemberian air irigasi yang disesuaikan dengan kondisi volume air yang ada di dalam reservoir.
  • Monitoring pH air irigasi
  • Monitoring Kecepatan alir air saat mengairi sawah
  • Monitoring kandungan unsur-unsur kimia serta mikroba, meliputi kandungan BOD, COD dalam air.
  • Monitoring sedimentasi (endapan) pada reservoir irigasi, karena mempengaruhi tekstur, permeabilitas serta kesuburan tanah, mempengaruhi daya tampung saluran sehingga meningkatkan biaya untuk pemeliharaan saluran, dan menyumbat saluran irigasi.

ARTIKEL

Modul Klimatologi Pertanian

Irigasi Lahan Pasir

Sistem Irigasi Tetes

Klimatologi Pertanian

Klimatologi Pertanian

Irigasi Pertanian

Irigasi Pertanian

Pengolahan Hasil Pertanian

April 12, 2011 pukul 12:26 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Pemasaran

April 12, 2011 pukul 12:25 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

MARGIN PEMASARAN HASIL PERTANIAN

Produktivitas hasil pertanian selalu mengalami fluktuasi, sedangkan harga hasil pertanian ditingkat prodesen cenderung mengalami peningkatan yang cukup berarti, hal ini diduga berkaitan dengan rendahnya produktivitas dari hasil pertanian. Singh dalam Sahara (2001) mengatakan bahwa fluktuasi harga yang tinggi di sektor pertanian merupakan suatu fenomena yang umum akibat ketidakstabilan (inherent instability) pada sisi penawaran.

Hal ini berarti harga hasil pertanian disebabkan oleh sifat alami dari produksi pertanian, yaitu dalam jangka pendek tidak dapat merespon tambahan permintaan atau tidak dapat mengurangi produksi pada saat harga yang rendah. Pengaruh fluktuasi harga pertanian lebih besar bila dibandingkan dengan fluktuasi produksi. Keadaan ini dapat menyebabkan petani menderita kerugian dalam jangka pendek sehingga menimbulkan kurangnya keinginan untuk melakukan investasi di sektor pertanian atau petani akan beralih ke komoditas yang memiliki harga jual yang lebih tinggi.

Selanjutnya banyaknya lembaga tataniaga yang terlibat dalam pemasaran hasil pertanian akan mempengaruhi panjang pendeknya rantai tataniaga dan besarnya biaya tataniaga. Besarnya biaya tataniaga akan mengarah pada semakin besarnya perbedaan harga antara petani produsen dengan konsumen. Hubungan antara harga yang diterima petani produsen dengan harga yang dibayar oleh konsumen pabrikan sangat bergantung pada struktur pasar yang menghubungkannya dan biaya transfer. Apabila semakin besar margin pemasaran ini akan menyebabkan harga yang diterima petani produsen menjadi semakin kecil dan semakin mengindikasikan sebagai sistem pemasaran yang tidak efisien (Tomek and Robinson, 1990).

Persoalan mutu dan harga hasil pertanian merupakan bagian dari masalah tataniaga hasil pertanian yang tidak dapat dipisahkan karena mempunyai dampak langsung terhadap pihak-pihak yang terkait dalam perdagangan hasil pertanian. Selain itu keberadaan lokasi lahan pertanian yang terpencar-pencar dan jauh dari pusat perekonomian yang mengarah pada terbentuknya rantai tataniaga yang panjang karena adanya peran hierarki dari pedagang perantara yang cenderung menambah kompleksitas upaya perbaikan mutu hasil pertanian.

Analisis margin pemasaran digunakan untuk mengetahui distribusi biaya dari setiap aktivitas pemasaran dan keuntungan dari setiap lembaga perantara serta bagian harga yang diterima petani. Atau dengan kata lain analisis margin pemasaran dilakukan untuk mengetahui tingkat kompetensi dari para pelaku pemasaran yang terlibat dalam pemasaran/disribusi (Tomeck and Robinson, 1990; Sudiyono, 2001).

SISTEM PENGEMBANGAN AGRIBISNIS

Agribisnis berasal dari kata Agribusiness, di mana Agri=Agriculture artinya pertanian dan Business artinya usaha atau kegiatan yang menghasilkan keuntungan. Jadi, Agribisnis adalah segala kegiatan yang berhubungan dengan pengusahaan tumbuhan dan hewan (komoditas pertanian, peternakan, perikanan, dan kehutanan) yang berorientasi pasar (bukan hanya untuk pemenuhan kebutuhan pengusaha sendiri) dan perolehan nilai tambah.

Dalam agribisnis terdapat dua konsep pokok. Pertama, agribisnis merupakan konsep dari suatu sistem yang integratif dan terdiri dari beberapa sub-sistem, yaitu: (1) sub-sistem pengadaan sarana produksi (agroindustri hulu), (2) sub-sistem produksi usahatani, (3) subsistem pengolahan dan industri hasil pertanian (agroindustri hilir), (4) sub-sistem pemasaran dan perdagangan, dan (5) sub-sistem kelembagaaan penunjang (Davis and Golberg, 1957; Downey and Erickson, 1987); Saragih (1999) (lihat Diagram 1). Sub-sistem kedua dan sebagian dari sub-sistem pertama dan ketiga merupakan on-farm agribusiness, sedangkan sub-sistem lainnya merupakan off-farm agribusiness.

Uraian di atas menunjukkan bahwa kegiatan agribisnis merupakan (a) kegiatan yang berbasis pada keunggulan sumberdaya alam (on-farm agribusiness) yang terkait erat dengan penerapan teknologi dan keunggulan sumberdaya manusia bagi perolehan nilai tambah yang lebih besar (off-farm agribusiness); serta (b) kegiatan yang memiliki ragam kegiatan dengan spektrum yang sangat luas, dari skala usaha kecil dan rumahtangga hingga skala usaha raksasa, dari yang berteknologi sederhana hangga yang paling canggih, yang kesemuanya itu saling terkait dan saling mempengaruhi.

Dalam usaha mempercepat laju pertumbuhan sektor agribisnis terutama dihadapkan dengan kondisi petani kita yang serba lemah (modal, skill, pengetahuan dan penguasaan lahan) dapat ditempuh melalui penerapan sistem pengembangan (system of development) agribisnis. Dalam konteks bahasan ini, yang dimaksud “sistem pengembangan agribisnis” adalah suatu bentuk atau model atau sistem atau pola pengembangan agribisnis yang mampu memberikan keuntungan layak bagi pelaku-pelaku agribisnis (petani/peternak/pekebun/ nelayan/pengusaha kecil dan menengah/koperasi), berupa peningkatan pendapatan, peningkatan nilai tambah dan perluasan kesempatan kerja.

Di Indonesia sejak dilaksanakan pembangunan pertanian, telah diterapkan beberapa sistem pengembangan pertanian berskala usaha baik untuk komoditi pangan maupun non pangan. Jika dikaji lebih jauh tujuan dan sasaran “sistem pengembangan” yang pernah diterapkan di sektor pertanian, pada hakekatnya adalah pengembangan sektor pertanian (dalam arti luas) secara menyeluruh dan terpadu, yakni tidak hanya peningkatan produksi, tetapi juga pengadaan sarana produksi, pengolahan produk, pengadaan modal usaha dan pemasaran produk secara bersama atau bekerjasama dengan pengusaha. Sistem pengembangan sektor pertanian semacam ini, jika menggunakan istilah sekarang, tidak lain adalah pengembangan pertanian berdasarkan agribisnis, atau dengan kata lain pengembangan agribisnis. Di antara sistem-sistem tersebut ada yang diterapkan oleh pemerintah berupa kebijakan nasional dan ada pula yang telah berhasil diterapkan oleh kelompok masyarakat atau kelompok peneliti, akan tetapi masih bersifat per kasus. Adapun sistem-sistem tersebut antara lain: Unit Pelaksana Proyek (UPP), Insus dan Supra Insus, Sistem Inkubator, Sistem Modal Ventura, Sistem Kemitraan (Contract Farming) dalam berbagai bentuknya seperti Pola PIR, Pola Pengelola, Sistem ‘Farm Cooperative’, dll. Jadi dalam rangka pengembangan agribisnis hortikultura, pelaku-pelaku agribisnis dapat menerapkan satu atau lebih sistem tersebut sesuai dengan kondisi lokalitas.

Sistim informasi Pengolahan Dan Pemasaran Hasil Pertanian

Statistik Pertanian

April 12, 2011 pukul 12:25 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

20 besar negara penghasil beras/padi di dunia tahun 2008

Rank Area Production (Int $1000) Flag Production (MT) Flag
1 China 36561286 * 193354175
2 India 30246312 * 148260000
3 Indonesia 12440012 * 60251072
4 Bangladesh 9868753 * 46905000
5 Viet Nam 7918880 * 38725100
6 Thailand 6059404 * 31650632
7 Myanmar 5612813 * 30500000 *
8 Philippines 3382928 * 16815548
9 Brazil 2522762 * 12061465
10 Japan 2337305 * 11028750
11 Pakistan 2162313 * 10428000
12 United States of America 1930780 * 9241173
13 Egypt 1476323 * 7253373
14 Cambodia 1463123 * 7175473
15 Republic of Korea 1464007 * 6919250
16 Nepal 850799 * 4299264
17 Nigeria 864799 * 4179000
18 Sri Lanka 802185 * 3875000
19 Madagascar 592679 * 3000000 F
20 Lao People’s Democratic Republic 536218 * 2927140
* : Unofficial figure
[ ]: Official data
F : FAO estimate

http://faostat.fao.org/site/339/default.aspx

Disimpan dalam Statistik Pertanian

TOP PRODUCTION INDONESIAN AGRICULTURE COMMODITY (2008)

Januari 29, 2011 oleh kangmas Tinggalkan sebuah Komentar

TOP PRODUCTION INDONESIAN  AGRICULTURE COMMODITY  (2008)

Rank Commodity Production (Int $1000) Flag Production (MT) Flag
1 Rice, paddy 12440012 * 60251072
2 Sugar cane 540020 * 26000000 *
3 Cassava 1524288 * 21593052
4 Coconuts 1763580 * 19500000 *
5 Palm oil 5116644 * 16900000 F
6 Maize 1286208 * 16323922
7 Bananas 818200 * 5741352
8 Palm kernels 593287 * 4540000 *
9 Natural rubber 1567233 * 2921872
10 Fruit, tropical fresh nes 280427 * 2450000 F
11 Oranges 408170 * 2322581
12 Mangoes, mangosteens, guavas 490175 * 2013123
13 Sweet potatoes 167919 * 1876944
14 Indigenous Chicken Meat 1775825 * 1522458 Fc
15 Fruit Fresh Nes 215338 * 1350000 F
16 Cabbages and other brassicas 194451 * 1323702
17 Pineapples 246139 * 1272761
18 Hen eggs, in shell 874259 * 1122617
19 Chillies and peppers, green 376877 * 1092115
20 Potatoes 143525 * 1044492
* : Unofficial figure
[ ]: Official data
F : FAO estimate
Fc: Calculated data

Data from http://faostat.fao.org/site/339/default.aspx

Indonesian Agriculture Rank Commodity in the world by production (2005)

(database from  http://www.fao.org/es/ess/top/topproduction.html)

No Commodity Rank
1 Cinnamon (Canella) 1
2 Cloves, Whole+Stems 1
3 Coconuts 1
4 Nutmeg, Mace, Cardamons 1
5 Avocados 2
6 Beans, Green 2
7 Fruit Tropical Fresh nes 2
8 Natural Rubber 2
9 Pepper,White/Long/Black 2
10 Vanilla 2
11 Cassava 3
12 Cocoa Beans 3
13 Coffee, Green 3
14 Eggs, excluding Hen 3
15 Ginger 3
16 Nuts nes 3
17 Rice, Paddy 3
18 Roots and Tubers nes 3
19 Fruit Fresh nes 4
20 Sweet Potatoes 4
21 Cashew Nuts 5
22 Groundnuts in Shell 5
23 Papayas 5
24 Tobacco Leaves 5
25 Bananas 6
26 Chillies&Peppers, Green 6
27 Mangoes 6
28 Tea 6
29 Eggplants 7
30 Indigenous Chicken Meat 7
31 Indigenous Goat Meat 7
32 Beans, Dry 8
33 Green Corn (Maize) 8
34 Indigenous Buffalo Meat 8
35 Maize 8
36 Cabbages 9
37 Hen Eggs 9
38 Jute-Like Fibres 9
39 Pineapples 9
40 Soybeans 9
41 Oranges 10
42 Spinach 10
43 Castor Beans 11
44 Sugar Cane 11
45 Cucumbers and Gherkins 12
46 Onions, Dry 13
47 Goat Milk 14
48 Indigenous Duck Meat 14
49 Sheep Milk 14
50 Carrots 16

Ketahanan Pangan

April 12, 2011 pukul 12:25 pm | Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar

Pengertian Bidang Ketahanan Pangan

  1. Ketahanan Pangan : Kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup , baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau.
  2. Pangan : segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air , baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukan sebagai makanan dan tambahan pangan , bahan baku pangan dan bahan lain yang digunakan , dan atau pembuatan makanan atau minuman
  3. Ketersediaan Pangan : tersedianya pangan dari hasil produksi dalam negeri dan atau sumber lain.
  4. Keamanan Pangan ; adalah kondisi tersedianya pangan dalam jumlah yang cukup dan bermutu ( tidak rusak, tidak busuk, tidak palsu, tidak tercemar mikroba/ bahan kimia), terhindar dari pencemaran lingkungan dan aman dari kaidah agama ( halal )
  5. Rawan Pangan : adalah situasi daerah dan atau masyarakat yang tingkat ketahanan dan keamanan pangan nya rentan terhadap ancamanan atau gangguan inteernal maupun eksternal.
  6. Pangan segar adalah pangan yang belum mengalami pengolahan yang dapat dikonsumsi langsung dan/atau yang dapat menjadi bahan baku pengolahan pangan
  7. Pangan olahan adalah makanan atau minuman hasil proses dengan cara atau metode tertentu, dengan atau tanpa bahan tambahan.
  8. Pangan olahan tertentu adalah pangan olahan untuk konsumsi bagi kelompok tertent dalam upaya memelihara dan meningkatkan kualitas kesehatan kelompok tersebut.
  9. Sistem pangan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pengaturan, pembinaan, dan/atau pengawasan terhadap kegiatan atau proses produksi pangan dan peredaran pangan sampai dengan siap dikonsumsi manusia.
  10. Pangan siap saji adalah makanan dan/atau minuman yang sudah diolah dan siap untuk langsung disajikan di tempat usaha atau di luar tempat usaha atas dasar pesanan.
  11. Persyaratan keamanan pangan adalah standar dan ketentuan-ketentuan lain yang harus dipenuhi untuk mencegah pangan dari kemungkinan adanya bahaya, baik karena cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia.
  12. Sanitasi pangan adalah upaya untuk pencegahan terhadap kemungkinan bertumbuh dan berkembang biaknya jasad renik pembusuk dan patogen dalam makanan, minuman, peralatan dan bangunan yang dapat merusak pangan dan membahayakan manusia.
  13. Persyaratan sanitasi adalah standar kebersihan dan kesehatan yang harus dipenuhi sebagai upaya mematikan atau mencegah hidupnya jasad renik patogen dan mengurangi jumlah jasad renik lainnya agar pangan yang dihasilkan dan dikonsumsi tidak membahayakan kesehatan dan jiwa manusia.
  14. Produksi pangan adalah kegiatan atau proses menghasilkan, menyiapkan, mengolah, membuat, mengawetkan, mengemas, mengemas kembali, dan/atau mengubah bentukpangan.
  15. Peredaran pangan adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka penyaluran pangan kepada masyarakat, baik untuk diperdagangkan maupun tidak.
  16. Perdagangan pangan adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka penjualan dan/atau pembelian pangan, termasuk penawaran untuk menjual pangan, dan kegiatan lain yang berkenaan dengan pemindahtanganan pangan dengan memperoleh imbalan.
  17. Penyimpanan pangan adalah proses, cara dan/atau kegiatan menyimpan pangan baik di sarana produksi maupun distribusi.
  18. Pengangkutan pangan adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka memindahkan pangan dari satu tempat ke tempat lain dengan cara atau sarana angkutan apapun dalam rangka produksi, peredaran dan/atau perdagangan pangan.
  19. Industri rumah tangga pangan adalah perusahaan pangan yang memiliki tempat usah di tempat tinggal dengan peralatan pengolahan pangan manual hingga semi otomatis.
  20. Bahan tambahan pangan adalah bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan.
  21. Pangan produk rekayasa genetika adalah pangan yang diproduksi atau menggunakan bahan baku, bahan tambahan pangan, dan/atau bahan lain yang dihasilkan dari proses rekayasa genetika.
  22. Radiasi pangan adalah metode penyinaran terhadap pangan, baik dengan menggunakan zat radioaktif maupun akselerator untuk mencegah terjadinya pembusukan dan kerusakan serta membebaskan pangan dari jasad renik patogen. Kemasan pangan adalah bahan yang digunakan untuk mewadahi dan/ata membungkus pangan, baik yang bersentuhan langsung dengan pangan maupun tidak.
  23. Mutu pangan adalah nilai yang ditentukan atas dasar kriteria keamanan pangan, kandungan gizi, dan standar perdagangan terhadap bahan makanan, makanan dan minuman.
  24. Standar adalah spesifikasi atau persyaratan teknis yang dibakukan, termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat-syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengalaman perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk memperoleh manfaat yang sebesarbesarnya.
  25. Gizi pangan adalah zat atau senyawa yang terdapat dalam pangan yang terdiri atas karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral serta turunannya yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan kesehatan manusia.
  26. Sertifikasi mutu pangan adalah rangkaian kegiatan penerbitan sertifikat terhadap pangan yang telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
  27. Sertifikat mutu pangan adalah jaminan tertulis yang diberikan oleh lembaga sertifikasi/laboratorium yang telah diakreditasi yang menyatakan bahwa pangan tersebut telah memenuhi kriteria tertentu dalam standar mutu pangan yang bersangkutan.
  28. Setiap orang adalah orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun tidak.
  29. Badan adalah badan yang bertanggung jawab di bidang pengawasan obat dan makanan.
  30. Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG); adalah kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis dan penyajian data pangan dann gizi secara terus menerus untuk menetapkan tindakan.

Pengertian dan istilah di Ketahanan Pangan

  1. Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau.
  2. Kegiatan Penguatan Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (Penguatan-LDPM) adalah bagian kegiatan program Peningkatan Ketahanan Pangan tahun 2010 yang bertujuan meningkatkan kemampuan Gapoktan dan unit-unit usaha yang dikelolanya (distribusi/pemasaran dan cadangan pangan)  dalam usaha memupuk cadangan pangan dan memupuk modal dari usahanya dan dari anggotanya yang tergabung dalam wadah Gapoktan. Kegiatan Penguatan–LDPM dibiayai melalui APBN TA 2010 dengan mekanisme dana bantuan sosial (Bansos) yang disalurkan langsung kepada rekening Gapoktan.
  3. Bansos yang dimaksud dalam Pedoman Umum ini adalah uang yang ditransfer ke Rekening Gapoktan dalam upaya memperkuat modal dan memberdayakan Gapoktan agar mampu membina dan memperkuat unit usaha distribusi/pemasaran/pengolahan untuk dapat melakukan pembelian gabah/beras/jagung dari petani anggotanya dan memperkuat unit pengelolaan cadangan pangan untuk dapat melakukan pengadaan gabah/beras dan/atau jagung dan/atau pangan pokok lokal spesifik lainnya  sebagai cadangan pangan.
  4. Dana dekonsentrasi adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh Gubernur sebagai wakil pemerintah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi, tidak termasuk dana yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat di daerah sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 58/Permentan/KU.410/12/2009 tentang Pelimpahan Kepada Gubernur dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggungjawab Dana Dekonsentrasi Provinsi Tahun 2010.
  5. Harga Pembelian Pemerintah (HPP) adalah harga pembelian pemerintah untuk komoditas gabah/beras sesuai dengan Instruksi Presiden No. 7 tahun 2009 tentang Kebijakan Perberasan.
  6. Harga Referensi Daerah (HRD) adalah harga referensi daerah untuk komoditas jagung yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Gubernur setempat.
  7. Gabungan Kelompoktani (Gapoktan) adalah kumpulan beberapa kelompoktani yang bergabung dan bekerja sama untuk meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi usaha (Permentan No: 273/Kpts/OT.160/ 4/2007).
  8. Kelompok Tani (Poktan) adalah kumpulan petani yang tumbuh berdasarkan kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya) dan keakraban untuk bekerjasama dalam meningkatkan, mengembangkan produktivitas usahatani, memanfaatkan sumberdaya pertanian, mendistribusikan hasil produksinya  dan meningkatkan kesejahteraan anggotanya.
  9. Rencana Usaha Gapoktan (RUG) adalah rencana usaha yang disusun oleh anggota kelompoktani secara sistematis dan partisipatif dalam memecahkan permasalahan–permasalahan yang dihadapi petani/Poktan dalam mendistribusikan/memasarkan/mengolah/menyimpan yang tidak dapat diselesaikan oleh petani/Poktan tersebut sehingga membutuhkan kerja sama dan dukungan  dalam skala yang lebih besar.
  10. Unit usaha distribusi/pemasaran milik Gapoktan adalah unit usaha yang dibentuk atas keinginan, kebutuhan, dan kesepakatan dari anggota Gapoktan untuk dapat mendistribusikan atau memasarkan hasil produksi (gabah/beras/ jagung) petani anggotanya dengan melakukan pembelian dan penjualan sehingga harga stabil di tingkat petani.
  11. Unit usaha pengolahan milik Gapoktan adalah unit usaha yang dibentuk atas keinginan, kebutuhan, dan kesepakatan dari anggota Gapoktan untuk dapat  mengolah/menggiling/mengepak/menyimpan  gabah/ beras/ jagung hasil produksi petani anggotanya sehingga mampu  meningkatkan nilai tambah produk petani.
  12. Unit pengelola cadangan pangan adalah unit pengelolaan cadangan pangan yang dibentuk atas keinginan, kebutuhan dan kesepakatan dari anggota Gapoktan untuk dapat menyimpan pangan dalam jumlah yang cukup bagi anggotanya sehingga mampu mendekatkan akses pangan sepanjang waktu khususnya saat menghadapi musim paceklik.
  13. Sentra produksi pangan (padi dan/atau jagung) adalah provinsi dan/atau kabupaten/kota yang produksi pangannya didominasi oleh komoditas padi dan/atau jagung.
  14. Pemberdayaan Gapoktan adalah upaya untuk menciptakan, meningkatkan kapasitas dan kemandirian Gapoktan secara partisipatif agar mereka: (a) mampu menemukenali permasalahan yang terkait dalam penyediaan pangan di saat menghadapi  musim paceklik dan pendistribusian/pemasaran/pengolahan  hasil produksi petani; dan (b)  mencari, merumuskan, dan memutuskan cara yang cepat dan tepat bagi anggotanya  terhadap persoalan ketidakstabilan harga di tingkat petani, pemasaran hasil produksi petani, dan ketidak tersediaan pangan disaat paceklik.
  15. Pendamping Penyuluh adalah Pertanian atau Petugas Lapangan  yang diutamakan berpengalaman di bidang penyuluhan pertanian;
  16. Pendampingan adalah proses pembimbingan dan pembinaan yang dilakukan secara rutin oleh seorang pendamping kepada Gapoktan binaannya agar mereka mampu menyusun rencana dan melaksanakan kegiatan secara partisipatif; menyusun dan menetapkan aturan dan sanksi secara musyawarah dan mufakat;  memupuk dan mengatur dana sendiri; membangun dan mengembangkan jejaring kemitraan usaha dengan pihak lain diluar wilayahnya; memupuk rasa tanggungjawab terhadap organisasi Gapoktan dengan melakukan pemantauan secara partisipatif, pengendalian dan  pengawasan internal.

Peraturan Perundangan

April 12, 2011 pukul 12:24 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

erpanjangan Batas Usia Pensiun (BUP) Penyuluh Pertanian, Penyuluh Perikanan dan Penyuluh Kehutanan

Sep 26th, 2010 by Admin

 Share

Presiden Republik Indonesia telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2010 tanggal 27 Agustus 2010 tentang Perpanjangan Batas Usia Pensiun Pegawai Negeri Sipil Yang Menduduki Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian, Penyuluh Perikanan dan Penyuluh Kehutanan. Terbitnya Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2020 ini menjadi angin segar bagi para penyuluh. Peraturan Presiden Nomor 55 tahun 2010 ini memberikan kejelasan tentang batas usia pensiun (BUP) penyuluh pertanian, penyuluh perikanan dan penyuluh kehutanan.

Dengan Perpres Nomor 55 Tahun 2010 ini, Penyuluh Pertanian Trampil dengan pangkat III.c yang sebelumnya batas usia pensiunnya hanya sampai usia 56 tahun, dapat diperpanjang sampai dengan usia 60 tahun. Dan Penyuluh Pertanian Ahli yang pangkatnya III b batas usia pensiunya juga dapat diperpanjang sampai dengan usia 60 tahun.

Pasal satu Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2010 secara jelas menyebutkan bahwa :

“Pegawai Negeri Sipil yang diangkat dan ditugaskan secara penuh dalam jabatan fungsional Penyuluh Pertanian, Penyuluh Perikanan dan Penyuluh Kehutanan jenjang Madya dan Utama dapat diperpanjang batas usia pensiunya sampai dengan 60 (enam puluh) tahun”.

Selain itu Perpres 55 Tahun 2010 ini juga memberikan ketegasan tenang pemberhentian penyuluh pertanian, penyuluh perikanan dan penyuluh kehutanan. Pada Pasal Empat disebutkan bahwa pemberhentian pegawai negeri sipil yang menduduki jabatan fungsional Penyuluh Pertanian, Penyuluh Perikanan dan Penyuluh Kehutanan yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan sebelum berlakunya Peraturan presiden ini dinyatakan tetap berlaku. Ini berarti Penyuluh Pertanian Trampil dengan pangkat III c yang sudah dinyatakan pensiun dan bahkan sampai dikenai denda mengembalikan selisih gaji karena sudah terlewatinya batas usia pensiun sesui dengan peraturan yang lama tidak bisa memakai Peraturan Presiden Nomor 55 tahun 2010 sebagai dasarnya dan tetap mengembalikan selisih gaji yang diterimanya.

Dengan berlakunya Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2010 ini maka ketentuan batas usia pensiun (BUP) bagi pegawai negeri sipil yang menduduki jabatn funsional Penyuluh Pertanian sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Presiden Nomor 63 Tahun 1986 tentang Batas Usia Pensiun Pegawai Negeri Sipil yang menjabat Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Penyuluh Pertanian dicabut dan dinyatakn tidak berlaku lagi.

Mudah-mudahan terbitnya Peraturan Presiden Nomo 55 Tahun 2010 ini dapat memberikan kejelasan dan kepastian tentang batas usia pensiun penyuluh pertanian, penyuluh perikanan dan penyuluh kehutanan sehingga penyuluh yang terkena denda untukmengembalikan selisih gajinya karena penerapan peraturan yang lama mengenai batas usia pensiun (BUP) ke depan tidak ada lagi. Dan penyuluh pertanian,penyuluh perikanan dan penyuluh kehutanan dapat bekerja kembali dengan motivasi dan semangat tinggi untuk bersama-sama petani membangun pertanian Indonesia.

Untuk anda yang membutuhkan file tersebut secara lengkap dapat diunduh disini atau mengunduhnya pada Menu Download Gratisdi atas

Tulisan lainya yang berkaitan dengan tulisan ini :

  1. Download Gratis
  2. Perpanjangan kontrak, Mekanisme pembayaran honorarium dan BOP THL-TB Penyuluh Pertanian tahun 2011
  3. Penyuluh pertanian dan sertifikasi
  4. Penandatanganan Perpanjangan Kontrak Kerja Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) Angkatan Pertama Tahun 2010.

Info Penyuluh

April 12, 2011 pukul 12:24 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Sistem Informasi Penyuluhan Pertanian


Sistem informasi Terdiri dari dua kata yaitu Sistem dan Informasi. Sistem sendiri berarti gabungan dari beberapa sub sistem yang bertujuan untuk mencapai satu tujuan. Informasi berarti sesuatu yang mudah dipahami oleh si penerima. Sistem Informasi memiliki makna sistem yang bertujuan menampilkan informasi. Pada jaman dahulu sebelum sistem komputer ada maka sistem
informasi ini telah lebih dahulu ada dan berjalan dengan baik.

Adapun komponen komponen yang menyusun sistem informasi:

Komponen/blok masukan
merupakan blok sistem informasi yang bertugas menangkap (capturing) terhadap data data dari luar sistem informasi. Blok masukan inilah yang bertugas melakukan konversi data dari yang bentuknya alamiah manjadi data yang dapat diwakili dalam bentuk digital yang kemudian diklasifikasikan ke dalam salah satu
tipe data yang tersedia.

Komponen/Blok Teknologi
merupakan blok dari sistem informasi yang bertugas melakukan spesifikasi penerapan teknologi yang dapat mendukung sistem informasi dapat berjalan dengan baik. Di dalam blok teknologi ini secara umum akan di bagi menjadi dua bagian yaitu teknologi hardware dan teknologi software. Blok teknologi mendefinisikan teknologi yang dipakai oleh semua blok/komponen lain.

Komponen Kontrol
merupakan komponen yang bertugas mendefinisikan bagaimana kontrol terhadap sistem dilakukan sehingga sistem dapat berjalan dengan baik. Dalam blok kontrol ini misalnya didefinisikan bagaimana melindungi data yang ada di database agar selalu sama dengan kenyataan yang dicatat.

Komponen Basis Data
merupakan blok yang berisi definisi basis data yang disediakan untuk menyimpan
data data yang akan disimpan dalam media penyimpan.

Komponen Keluaran
merupakan blok yang bertanggung jawab terhadap bagaimana sebuah keluaran dari
sistem informasi disajikan.

Sistem Informasi Berbasis
Multimedia

Sistem informasi berbasis multimedia merupakan sebuah sistem informasi dengan konsep menggunakan masukan dan keluaran dengan bentuk data multimedia. Perubahan spesikasi teknologi yang digunakan pada blok masukan,
blok basis data dan blok keluaran merupakan modifikasi yang dilakukan yang menjadi ciri sistem informasi berbasis multimedia dengan sistem informasi yang tidak berbasis multimedia. Proses pengolahan masukan kemudian disimpan dalam basis data dan kemudian dikeluarkan dalam alat (device) dengan berbagai variasi bentuknya tetap dilakukan oleh mesin. Mesin yang dimaksud disini adalah perangkat komputer dengan berbaai arsitekturnya. Peran manusia dalam sistem informasi berbasis multimedia tetap berada di luar sistem yaitu sebagai pemakai.
Baik sebagai pemakai untuk melakukan/memberikan masukan (menangani aktifitas input data) maupun user yang bertindak sebagai konsumen informasi. Manusia sebagai pemilik sistem informasi ini dalam terminologi sistem informasi berbasis multimedia sama sekali tidak masuk ke dalam sistem menjadi penyedia informasi maupun pengolah informasi. Peran manusia di dalam sistem ini sekali lagi
ditandaskan disini hanya sebagai penyedia data dan konsumen informasi.

Seorang Penyuluh Pertanian pembaca Tabloid Sinar Tani melalui Rubrik “SMS
Cangkul”, mengusulkan perlunya Balai Penyuluhan Pertanian dilengkapi perangkat Teknologi Informasi sehingga mampu mengakses ke Internet. Menurutnya hal ini akan memudahakannya memperoleh informasi berupa inovasi teknologi dan kelembagan yang dibutuhkannya dalam mengupayakan kesejahteraan masyarakat tani yang menjadi tugas pokok, fungsinya serta tanggung jawabnya. Artikel ini adalah sumbangan pemikiran berkaitan usulan tersebut.

Teknologi Informasi Penyuluhan di Jepang

Penyuluhan Petanian di Jepang (meliputi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan) berawal pada tahun 1948 dengan tujuan utama
mengembangkan difusi inovasi teknologi yang diperoleh dari Lembaga Penelitian Pertanian untuk diteruskan kepada para petani agar mengadopsi dan mengadaptasikannya pada kondisi usahatani yang nyata pada wilayah-wilayah pengembangan pertanina. Tujuan penyuluhan terfokus pada penerapan inovasi teknologi guna meningkatkan ketersediaan pangan dalam jangka panjang ke depan menyusul kekalahan negaranya dalam Perang Dunia ke-2. Kini kegiatan penyuluhan lebih diperluas, mencakup subsektor pendukungnya berupa teknologi maju, pengelolaan kesuburan tanah, pemenuhan kebutuhan finansial usahatani dan lainnya. Berkaitan dengan keterbatasan personalia Penyuluh Pertanian dan keterbatasan finansial pemerintah pusat dan wilayah (perfecture), maka kini di Jepang formulasi penyebaran informasi sebagai promosi, mengawali kegiatan penyuluhan dan komunikasi inovasi teknologi, bertumpu pada penggunaan komputer dan teknologi informasi yang lebih efektif dan efisien. Materi informasinya bukan hanya inovasi teknologi, tetapi juga inovasi kelembagaan, metode penyelenggaraan penyuluhan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi lainnya. Pemeran utama dalam hal ini justru bukan semata dari kelembagaan

Pemerintah Jepang, melainkan juga dari Organisasi

Non Pemerintah yaitu Asosiasi Pembangunan dan Penyuluhan Pertaninan Jepang (Japan Agricultural Development and Extension Assosiation). Assosisasi ini telah membangun suatu sistem pertukaran informasi diantara para Pemandu Penyuluhan Pertanian pada setiap wilayah pengembangan, dengan materi kumpulan kasus-kasus Penyuluhan Pertanian yang berbasis pada Programa Penyuluhan, informasi tentang Metode Penyuluhan, informasi teknis komoditas yang dikembangkan para petani, dan informasi tentang temuan inovasi teknologi oleh Lembaga Penelitian Pertanian. Dengan perangkat teknologi informasi, para Pemandu Penyuluhan petanian dapat dengan cepat mempertukarkan informasi spesfik lokasi ke wilayah pengembangan lainnya. Perangkat yang digunakan berkembang seiring waktu. Jika pada tahun 1975 sebagai, awal penerapannya menggunakan “Surat Berantai” (Snail Letter), maka pada tahun 1985 beralih dengan menggalakkan penggunaan faximili, dan pada tahun 1990 diramaikan dengan penggunaan jaringan komunikasi personal yang diberi nama :
Nilai Tambah Jaringan Kerja Penyuluhan (Fukyu/Extemion Value Added). Jaringan komunikasi yang paling populer diterapkan pada tahun 2000 sampai saat ini, sistem diberi nama Jaringan Kerja Informasi Penyuluhan (Extension Information Network) atau isingkat El-Net, dipadukan dengan internet, home page, dan dioperasikan oleh Pusat Teknologi Informasi Jepang. Dipihak lain pemerintah berperan menggerakkan Penyuluhan Pertanian untuk masyarakat tani dan publik lainnya dengan pelayanan gratis karena biaya yang diperlukan sudah termasuk pembiayaan pemerintah. Dengan istem penyuluhan demikian itu, lembaga Kerjasama Pelayanan Penyuluhan (Cooperative Extension Services) menyelenggarakan penyuluhan dengan dukungan fiansial pemerintah pusat dan wilayah (perfecture). Di Jepang pada tahun 2005 yang lalu terdapat sekitar 9.000 Penyuluh Pertanian yang bekerja pada 450 Pusat Penyuluhan Pertanian, tersebar pada wilayah pemerintahan (Perfecture) dan bersinergi dengan Lembaga penelitian Pertanian wilayah setempat. Karakteristik pemanfaatan Teknologi Informasi di Jepang, didominasi oleh Lembaga Jaringan Kerja Informasi Pertanian yang bernaung di bawahnya. Assosiasi Pembangunan dan Penyuluhan Pertanian Jepang, menempatkan Pemandu Penyuluhan Wilayah sebagai sasarannya. Jaringannya bersifatnya tertutup, ruang lingkup seluruh Jepang, dan
melibatkan banyak pihak, yakni :
Departemen Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, Pemerintah Wilayah (Perfecture), Pusat-pusat Penyuluhan, Lembaga Penelitian Pertanian Nasional, dan Perusahaan publik.

Selain lembaga tersebut diatas, dijumpai pula Jaringan Kerja Lokal yangbbersifat tertutup, dioperasikan oleh pemerintah wilayah dan Pusat Penyuluhan Petanian dengan sasaran utama para petani , melibatkan lembaga pemerintahan wilayah, pusat-pusat penyuluhan, lembaga penelitian pertanian wilaya, dan koperasi pertanian sertapetani, dengan ruang lingkupnya wilayah. Adapun Home page, jaringan teknologi informasi yang bersifat umum, terbuka dan dapat diakses semua pihak, termasuk petani dan konsumen pertanian, melengkapi jaringan teknologi informasi lainnya. Bagaimana dengan Penyuluhan di Indonesia?

Penyuluhan
Pertanian di Era Kemerdekaan Indonesia saat ini terpaut 20 tahun ke belakang dari segi waktu dengan Penyuluhan Pertanian di Jepang, namun dengan kondisi yang berbeda yakni Jepang baru saja kalah perang versus Indonesia yang baru merdeka. Penyuluhan muylai diintensifkan sejak awal tahun 1970-an, dengan pendekatan terpadu penyediaan sarana pendukung, pengiolahan dan pemasaran hasil, serta dukungan finansial di satu sisi, dan menarik dukungan struktur pedesaan progresif di sisi lainnya.

Pandekatan
ini lazim disebut dengan Bimbingan Massal (Bimas) yang disempurnakan dengan Wilayah Unit Desa (Wilud), mengacu kepada Grand Teori A. T. Mosher tentang Pembangunan Pertanian. Perangkat kelembagaanya kemudian lebih disempurnakan dengan lahirnya dan berperannya organisasi dan kelembagaan Balai Penyuluhan Pertanian pada tahun1977 (efektif tahun 1978) yang berbasisi secara lokal/kecamatan pada setiap

Kabupaten/Kota,
dan Balai Informasi Pertanian (BIP) yang keberadaannya melayani informasi inovasi teknologi pertanian pada wilayah propinsi. BPP sebagai home basenya Penyuluh Pertanian, sebagai konsumen informasi, dan BIP sebagai produsen dan pelayan informasi. Peran optimal Penyuluhan Petanian dan perangkat pendukungnya diyakini banyak pakar pertanian telah menyumbang 60% pencapaian swasembada beras kita pad tahun 1984 yang lalu. Kini di Era Komunikasi Global dimana perangkat Teknologi Informasi berupa internet yang semarak dengan penyelenggara komersial berupa Warung Internet (Warnet), bukan lagi barang asing. Terlebih lagi, perangkat Teknologi Informasi pada tingkat Departemen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Balai-Balai Penelitian dan Pengembangan Komoditas Pertanian sebagai penghasil inovasi teknologi pertanian, juga telah memadai. Di tingkat wilayah saat ini terdapat 30 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), perangkat organisasi Badan Litabang Pertanian yang mengakuisisi peran Balai Informasi Pertanian tempo dulu, berperan sebagai penghasil Teknologi Tepat Guna Spesifik Lokasi, sekaligus memberikan contoh diseminasinya, kini juga dilengkapi dengan perangkat Teknologi Informasi. Dengan demikian, perangkat pemerintah pusat dan sumber-sumber inovasi teknlogi, termasuk perangkatnya di wilayah pengembangan pertanian nampaknya siap berperan tanpa hambatan (contoh terbaru lahirnya Website Prima Tani). Karena itu, saatnya perhatian dan upaya penyediaan perangkat Teknologi Informasi diarahkan kepada pengguna inovasi teknologi secara lokal kabupaten dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), yang bersentuhan langsung dengan berjuta petani yang haus akan inovasi teknologi dan rekayasa kelembagaan pedesaan progresif, melengkapi sistem, media dan metode penyuluhan konvensional kita saat ini yang sedang bergelut dengan peningkatan kinerjanya. Informasi dan Penyuluhan Pertanian.

Oleh:

Kamaruddin AS dan Mansur Azis

Dimuat
dalam tabloid Sinar Tani, 13 Desember 2006.

Oleh
:   Arief Setyanto, S.Si., MT.

Sumber:

http://frenky-cahya-purnama.blogspot.com/search/label/Sistem%20Informasi

Jenis – jenis Metode Penyuluhan

Beberapa jenis metode penyuluhan pertanian yang dapat diterapkan:
1.      Ceramah
Ceramah merupakan suatu pertemuan untuk menyampaikan informasi sebanyak-banyaknya dalam waktu yang relatif cepat.
Tujuan : untuk menyampaikan informasi yang lengkap dengan penyelasan yang lebih mendalam.
2.                  Demonstrasi
Demonstrasi merupakan suatu metode penyuluhan di lapangan untuk memperlihatkan / membuktikan secara nyata tentang cara dan atau hasil penerapan teknologi pertanian yang telah terbukti menguntungkan bagi petani – nelayan. Berdasarkan sasaran yang akan dicapai demonstrasi dibedakan atas demostrasi usahatani perorangan (demplot), demonstrasi  usahatani kelompok (demfarm), demonstrasi usahatani gabungan kelompok (dem area)
Tujuan demonstrasi
a. Tujuan demonstrasi plot yaitu untuk memberikan contoh bagi petani disekitarnya untuk menerapkan teknologi baru di bidang pertanian.
b. Tujuan demonstrasi farm yaitu meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan anggota kelomoktani serta memberikan contah petani disekitarnya menerapkan teknologi baru melali kerjasama kelompok.
c. Tujuan demonstrasi area yaitu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan anggota kelompok tani melalui kerjasama antar kelompok tani untuk menerapkan inovasi baru di bidang pertanian serta memberikan contoh bagi petani sekitarnya.
3.        Anjangsana
Anjangsana merupakan kunjungan yang terencana yang dilakukan oleh penyuluh ke rumah /tempat usaha petani tujuan menumbuhkan kepercayaaan diri petani dan keluarganya.
Dalam anjangsana agar dapat dilakukan secara terencana, penyiapkan kebutuhan teknologi yang diperlukan petani serta bahan informasi seperti : brosur, folder, folder dan media lainnya.
4.                  Kursus Tani
Kursus tani merupakan proses belajr mengajar yang khusus diperuntukan bagi petani dan keluarganya yang diselenggarakan secara sistematis, teratur dan dalam jangka waktu tertentu.
Tujuan dari khursus tani :
a.       meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan kecakapan petani dalam memecahkan masalah yang dijumpai dalam usahataninya
b.      meningakatkan pengetahuan, kecakapan dan ketrampilan dalam menerapkan teknologi yang lebih menguntungkan .
c.       menumbuhkan calon kontaktani yang bersedia dan mampu menyebarkan teknologi pertanian yang lebih menguntungkan
d.      menggugah dan mengembangkan kesadaran dan swadaya serta kepemimpinan keluarga tani.
 5.                  Magang
Magang merukan proses belajar mengajar anatar petani, dimana seorang petani belajar dari pengalaman kerjanya pada suatu usatani dalam keadaan sesungguhnya di lapangan dengan bimbingan petani yang berhasil menjalankan usahanya.
Tujun dari magang:
a.       Menumbuhkan kreativitas, sikap kritis, rasa percaya diri dan jiwa kewirausahaan petani
b.      Menumbuhkan minat dan keyakinan petani pemagang terhadap usahatani sebagai sumber mata pencaharian.
c.       Menumbuhkan dan mengembangkan hubungan social dan interaksi positif antar sesama petani
d.      Meningkatkan ketrampilan, kecakapan dan rasa percaya diri petani pengajar dalam mengajar petani lain.
6.     Mimbar Sarasehan
Mimbar sarasehan merupakan forum konsultasi antar kelompok andalan (KTNA) dengan pihak pemerintah yang diselenggarakan secara periodik dan berkesinambungan untuk membicarakan memusyawarahkan dan mencapai kesepakatan mengenai hal-hal yang menyangkut masalah-masalah pelaksanaan program pemerintah dan kegiatan petani dalam rangka pembangunan pertanian.
Tujuan
a.       Memahami keadaan dan masalah yang dihadapi pembangunan pertanian di lapangan.
b.      Mencapai kesepakatan bersama tentang pemecahan maslah berserta penyusunan rencana kegiatan yang mencakup usahatani dan kehidupan petani dan keluarganya.
c.       Melaksnakan penerapan kegiatan di lapangan sesuai dengan kesepakatan bersama.
d.      Meningkatkan peranan dan peranserta petani sebagai subyek pembangunan
e.        Mewujudkan hubungan timbal balik yang serasi antar kontaktani dan pemerintah dalam pelaksanaan dan pengawasan pembangunan pertanian untuk memperbaiki perencanaan masa yang akan datang.
7.       Pameran
Pameran merupakan usaha untuk memperhatikan atau mempertunjukan model, contoh, barang, peta, grafik, benda hidaup dan sebagainya secara sistematis pada suatu tempat tertentu. Suatu pameran melingkupi tiga tahap usaha komunikasi yaitu menarik perhatian, mengguggah hati dan membangkitkan keinginan serta bila memungkin tahap menyakinkan diharapkan dapat juga tercapai.
Tujuan
a.       Mempengaruhi orang untuk menerima cara-cara baru dan memperlihatkan teknologi baru sekaligus ditunjukan hasil hasil yang telah dicapai.
b.      Menarik perhatian banyak orang dan meningkatkan pengertian dan minat
c.       Menumbuhkan pengertian dan apresiasi terhadap pembangunan pertanian
8.     Perlombaan
Perlombaan merupakan kegiatan dengan aturan tertentu untuk menumbuhkan persaingan yang sehat antar petani untuk mencapai prestasi yang diinginkan secara maksimal
Tujuan
a. Menarik perhatian petani terhadap suatu hal dalam usahatani
b. Meningkatkan prestasi petani dalam berusahatani yang lebih baik dan lebih menguntngkan
c. Menumbuhkan dan meningkatkan peransaerat petani dan kerjasama diantara petani.
9.     Pertemuan Diskusi
Pertemuan diskusi merupakan pertmuan yang jumlah pesertanya tidak lebih dari 20 orang dan biasanya diadakan untuk bertukar pendapat mengenai  suatu kegiatan yang akan diselenggarakan tau gua mengumpulakan saran-saran untuk memecahkan persoalan
Tujuan
mengajak petani untuk membicarakan dan memecahkan maslah yang berkaitan dengan penerapan teknologi baru, penyaluran sarana produksi, pemasaran hasil, pengorganisasian kegiatan kelompok tani dan kelestarian sumberdaya alam.
10.       Temu Karya
Temu karya merupakan pertemuan antar petani untuk bertukar pikiran dan pengalaman serta belajar atau saling mengajarkan sesuatu ketrampilan dan pengetahuan untuk diterapkan
Tujuan
a. Membuka kesempatan tukar menukar pengalaman dan ketrampilan
b. Mempercepat penerapan teknologi baru.
c. Memperluas cakrawala berfikir
d. Meningkatkan keakraban antar petani
11.        Temu Lapang
Temu lapang meruapakan pertemuan antara petani dengan peneliti untuk salaing tukar menukar informasi tentang tenologi yang dihasilkan oleh peneliti dan umpan baik dari petani.
Tujuan
a.       Membuka kesempatan bagi petani untuk mendapatkan informasi teknologi hasil penelitian
b.      Membuka kesempatan bagi peneliti untuk mendapatkan umpan balik dari hasil-hasil penelitiannya
c.       Menyalurkan teknologi di kalangan petani secara lebih cepat.
12.       Temu Tugas
Temu tugas merupakan pertemuan berkala antara pengemban fungsi penyuluhan, penelitian pengaturan dan pelayanan dalam lingkup pertanian.
Tujuan
Mencapai suatu pandangan, sikap dan perilaku dalam melaksanakan suatu kegiatan pembangunan
13.     Temu Usaha
Temu usaha merupakan pertemuan antara petani dengan pengusaha dibidang pertanian
Tujuan
a.       Menumbuhkan rangsangan kea rah usahatani komersial kerjasama usaha dan kewirausahaan
b.      Membuka kesempatan bagi petani untuk mempromosikan hasil usahanya
c.       Membuka kesempatan untuk menambah pengetahuan dibidang pemasaran serta dibidang teknologi produksi dan pengolahan hasil
d.      Mengadakan transaksi usaha yang menguntungkan kedua belah pihak.
 14.       Temu Wicara
Temu wicara merupakan pertemuan antara petani dengan pemerintah untuk bertukar mengenai kebijaksanaan pemerintah dalam pembangunan, khususnya pembangunan pertanian serta mengenai keinginan, gagasan, dan pelaksanaan pembangunan oleh petani di lapangan.
Tujuan
a.       Meningkatkan pengetahuan dan pengertian petani tentang pembangunan pertanian pada khususnya serta pembangunan nasional
b.      Meningkatkan motivasi petani untuk melaksanakan kegiatan pembangunan pertanian
c.       Membuka saluran umpan balik dari masyarakat tani kepada pemerintah.
15.     Widyawisata
Widyawisata merupakan suatu perjalanan bersama yang dilakukan oleh kelompoktani, untuk belajar dengan melihat suatu penerapan teknologi dalam keadaan yang sesungguhnya, atau melihat suatu akibat tidak diterapkannya teknologi di suatu tempat.
Tujuan
a.       Meyakinkan peserta dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk melihat sendiri hasil penerapan, suatu teknologi demonstrasi suatu ketrampilan, alat baru dan sebagainya.
b.      Membantu peserta mengenal masalah, menumbuhkan minat dan perhatian, serta memotivasi untuk melakukan sesuatu hal.
16.     Karyawisata
Karyawisata merupakan suatu perjalanan bersama yang dilakukan oleh kelompoktani, untuk belajar sambil bekerja suatu penerapan teknologi dalam keadaan yang sesungguhnya.
Tujuan
a.       Memberikan kesempatan kepada petani untuk belajar sambil melakukan sendiri hasil penerapan, suatu teknologi demonstrasi suatu ketrampilan, alat baru dan sebagainya.
b.      Membantu peserta mengenal masalah, menumbuhkan minat dan perhatian, serta memotivasi untuk melakukan sesuatu hal.
17.  Sekolah Lapang
Sekolah lapang merupakan kegiatan pertemuan berkala yang dilakukan oleh sekelompok petani pada hamparan tertentu, yang diawali dengan membahas masalah yang sedang dihadapi, kemudian diikuti dengan curah pendapat, berbagi pengalaman tentang alternatif dan pemilihan cara pemecahan masalah yang palibng efektif dan efisien sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki.
Tujuan
a.       Petani memiliki kesempatan mengidentifikasi kebutuhan ilmu dan ketrampilan dalam melaksanakan usahataninya
b.      Petani belajar untuk menambah ilmu dan ketrampilan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya ditempat yang sesuai dengan keadaan dan masalah yang dihadapi sehari-hari.

c.       Petani mampu menganalisis dan mengambil keputusan yang rasional tentang tindakan yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah dan memperbaiki usahataninya berdasarkan hasil lapangan.

Artikel :

Penyuluhan Sistem Agribisnis


Pertanian Organik

April 12, 2011 pukul 12:24 pm | Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar

Apa itu Pertanian Organik

Alam mengajari kebajikan bagi umat manusia. Alam merupakan suatu kesatuan, terdiri dari banyak bagian, seperti organisme dengan organ-organnya. Semua bagian berjalan dalam harmoni, saling melayani dan berbagi. Tiap organ memiliki peran masing-masing, saling melengkapi dan memberikan sinergi untuk menghasilkan keseimbangan secara optimal, dan berkelanjutan. Setiap komponen tidak berpikir dan beraksi hanya demi ‘aku’, tetapi untuk ‘kita’: keseluruhan alam. Demikian halnya Alam, melindungi dan mengayomi bagian-bagiannya secara harmonis. Itulah organis, tidak egois.

Pertanian organik (PO) juga tunduk pada prinsip diatas, pada hukum alam. Segala yang ada di alam adalah berguna dan memiliki fungsi, saling melengkapi, melayani dan menghidupi untuk semua. Dalam alam ada keragaman hayati dan keseimbangan ekologi. Maka, PO pun menghargai keragaman hayati dan keseimbangan ekologi. Berjuta tahun alam membuktikan prinsipnya, tak ada eksploitasi selain optimalisasi pemanfaatan. Demikian halnya PO, tidak untuk memaksimalkan hasil, tidak berlebih; tetapi cukup untuk semua makhluk dan berkesinambungan. Inilah filosofi mendasar PO.

Perkembangan Pertanian Organik
Praktek pertanian yang menggunakan bibit unggul yang dihasilkan oleh perusahaan benih, bahan-bahan kimia buatan pabrik (agrokimia) —baik untuk pemupukan lahan dan pengendalian hama— awalnya dirasakan dapat meningkatkan hasil produksi pertanian. Namun, setelah beberapa dekade, praktek tersebut menimbulkan permasalahan khususnya terhadap kerusakan ekosistem lahan pertanian dan kesehatan petani itu sendiri.

Penurunan hasil pertanian yang dibarengi dengan meningkatnya daya tahan hama dan penyakit tanaman, disebabkan karena fauna tanah yang bermanfaat bagi tanaman semakin berkurang dan mikroorganisme yang berguna bagi kesuburan tanah pun nyaris hilang akibat pemakaian input agrokimia yang berlebihan. Bahkan, hama dan penyakit tanaman bukannya menurun, tapi justru semakin kebal terhadap bahan-bahan kimia tersebut. Sehingga, petani memerlukan dosis yang lebih tinggi lagi untuk membasminya. Ini artinya, petani tidak saja menebar racun untuk membasmi hama dan penyakit, tetapi juga meracuni dirinya sendiri.

Perhatian masyarakat dunia terhadap persoalan pertanian, kesehatan dan lingkungan global dalam dasawarsa terakhir ini semakin meningkat. Kepedulian tersebut dilanjutkan dengan usaha-usaha yang konkrit untuk menghasilkan pangan tanpa menyebabkan terjadinya kerusakan sumber daya tanah, air, dan udara serta aman bagi kesehatan manusia. Salah satu usaha yang dirintis adalah dengan pengembangan PO yang akrab lingkungan dan menghasilkan pangan yang sehat, bebas dari residu obat-obatan dan zat-zat kimia yang mematikan.

Sebenarnya, PO ini sudah menjadi kearifan/pengetahuan tradisional yang membudaya di kalangan petani di Indonesia. Namun, teknologi pertanian organik ini mulai ditinggalkan oleh petani ketika teknologi intensifikasi yang mengandalkan bahan agrokimia diterapkan di bidang pertanian. Sejak saat itu, petani menjadi target asupan agrokimia dan tergantung dari pihak luar. Setelah muncul persoalan dampak lingkungan akibat penggunaan bahan kimia di bidang pertanian, teknologi PO yang akrab lingkungan dan menghasilkan pangan yang sehat mulai diperhatikan lagi. (Sutanto, 2002).

Apa dan Bagaimana Budidaya PO ?
PO merupakan pertanian yang selaras dengan alam, menghayati dan menghargai prinsip-prinsip yang bekerja di alam yang telah menghidupi segala mahluk hidup berjuta-juta tahun lamanya. PO merupakan proses budidaya pertanian yang menyelaraskan pada keseimbangan ekologi, keanekaragaman varietas, serta keharmonian dengan iklim dan lingkungan sekitar. Dalam prakteknya, budidaya PO menggunakan semaksimal mungkin bahan-bahan alami yang terdapat di alam sekitarnya, dan tidak menggunakan asupan agrokimia (bahan kimia sintetis untuk pertanian). Lebih jauh, karena PO berusaha ‘meniru’ alam, maka pemakaian benih atau asupan yang mengandung bahan-bahan hasil rekayasa genetika (GMO/Genetically Modified Organism) juga dihindari.

Kerapkali PO hanya dipahami secara teknis bertani yang menolak asupan kimiawi atau sebagai budidaya pertanian yang anti modernisasi atau disamakan dengan pertanian tradisional. Pemahaman ini sungguh kurang tepat. PO bukan sekedar teknik atau metode bertani, melainkan juga cara pandang, sistem nilai, sikap dan keyakinan hidup. PO memandang alam secara menyeluruh, komponennya saling tergantung dan menghidupi, dimana manusia juga adalah bagian di dalamnya. Sistem nilai PO mendasarkan pada prinsip-prinsip hukum alam. PO juga mengajak petani dan manusia umumnya untuk arif dan kreatif dalam mengelola alam yang tercermin dalam sikap dan keyakinannya. PO juga tidak menolak penggunaan teknologi modern di dalam praktek budidayanya, sejauh teknologi modern tersebut selaras dengan prinsip PO, yaitu keberlanjutan, penghargaan pada alam, keseimbangan ekosistem, keanekaragaman varietas, kemandirian dan kekhasan lokal. Maka, baik kearifan tradisional dan teknologi modern yang tunduk pada prinsip alam, keduanya mendapat tempat dalam PO.

Gerakan PO mencoba menghimpun seluruh usaha petani dan pelaku lain, yang secara serius dan bertanggungjawab menghindarkan asupan dari luar yang meracuni lingkungan dengan tujuan untuk memperoleh kondisi lingkungan yang sehat. Mereka juga berusaha menghasilkan produksi tanaman yang berkelanjutan dengan cara memperbaiki kesuburan tanah dan menggunakan sumberdaya alami seperti mendaur ulang limbah pertanian.

Budidaya PO, juga mendorong kemandirian dan solidaritas di antara petani sebagai produsen. Mandiri untuk tidak tergantung pada perusahaan-perusahaan besar penyedia pupuk dan bahan agrokimia serta perusahaan bibit. Solidaritas untuk berdaulat dan berorganisasi demi mencapai kesejahteraan, pemenuhan hak dan keadilan sosial bagi petani.

Prospek Pertanian Organik

Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian. Orang semakin arif dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup sehat dengan slogan �Back to Nature� telah menjadi trend baru meninggalkan pola hidup lama yang menggunakan bahan kimia non alami, seperti pupuk, pestisida kimia sintetis dan hormon tumbuh dalam produksi pertanian. Pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik.

Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Gaya hidup sehat demikian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Preferensi konsumen seperti ini menyebabkan permintaan produk pertanian organik dunia meningkat pesat.

Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya hayati tropika yang unik, kelimpahan sinar matahari, air dan tanah, serta budaya masyarakat yang menghormati alam, potensi pertanian organik sangat besar. Pasar produk pertanian organik dunia meningkat 20% per tahun, oleh karena itu pengembangan budidaya pertanian organik perlu diprioritaskan pada tanaman bernilai ekonomis tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.

Peluang Pertanian Organik di Indonesia

Luas lahan yang tersedia untuk pertanian organik di Indonesia sangat besar. Dari 75,5 juta ha lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian, baru sekitar 25,7 juta ha yang telah diolah untuk sawah dan perkebunan (BPS, 2000). Pertanian organik menuntut agar lahan yang digunakan tidak atau belum tercemar oleh bahan kimia dan mempunyai aksesibilitas yang baik. Kualitas dan luasan menjadi pertimbangan dalam pemilihan lahan. Lahan yang belum tercemar adalah lahan yang belum diusahakan, tetapi secara umum lahan demikian kurang subur. Lahan yang subur umumnya telah diusahakan secara intensif dengan menggunakan bahan pupuk dan pestisida kimia. Menggunakan lahan seperti ini memerlukan masa konversi cukup lama, yaitu sekitar 2 tahun.

Volume produk pertanian organik mencapai 5-7% dari total produk pertanian yang diperdagangkan di pasar internasional. Sebagian besar disuplay oleh negara-negara maju seperti Australia, Amerika dan Eropa. Di Asia, pasar produk pertanian organik lebih banyak didominasi oleh negara-negara timur jauh seperti Jepang, Taiwan dan Korea.

Potensi pasar produk pertanian organik di dalam negeri sangat kecil, hanya terbatas pada masyarakat menengah ke atas. Berbagai kendala yang dihadapi antara lain: 1) belum ada insentif harga yang memadai untuk produsen produk pertanian organik, 2) perlu investasi mahal pada awal pengembangan karena harus memilih lahan yang benar-benar steril dari bahan agrokimia, 3) belum ada kepastian pasar, sehingga petani enggan memproduksi komoditas tersebut.

Areal tanam pertanian organik, Australia dan Oceania mempunyai lahan terluas yaitu sekitar 7,7 juta ha. Eropa, Amerika Latin dan Amerika Utara masing-masing sekitar 4,2 juta; 3,7 juta dan 1,3 juta hektar. Areal tanam komoditas pertanian organik di Asia dan Afrika masih relatif rendah yaitu sekitar 0,09 juta dan 0,06 juta hektar (Tabel 1). Sayuran, kopi dan teh mendominasi pasar produk pertanian organik internasional di samping produk peternakan.

Tabel 1. Areal tanam pertanian organik masing-masing wilayah di dunia, 2002

No. Wilayah Areal Tanam (juta ha)

  1. Australia dan Oceania 7,70
  2. Eropa 4,20
  3. Amerika Latin 3,70
  4. Amerika Utar 1,30
  5. Asia 0,09
  6. Afrika 0,06

Sumber: IFOAM, 2002; PC-TAS, 2002.

Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk bersaing di pasar internasional walaupun secara bertahap. Hal ini karena berbagai keunggulan komparatif antara lain : 1) masih banyak sumberdaya lahan yang dapat dibuka untuk mengembangkan sistem pertanian organik, 2) teknologi untuk mendukung pertanian organik sudah cukup tersedia seperti pembuatan kompos, tanam tanpa olah tanah, pestisida hayati dan lain-lain.

Pengembangan selanjutnya pertanian organik di Indonesia harus ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar global. Oleh sebab itu komoditas-komoditas eksotik seperti sayuran dan perkebunan seperti kopi dan teh yang memiliki potensi ekspor cukup cerah perlu segera dikembangkan. Produk kopi misalnya, Indonesia merupakan pengekspor terbesar kedua setelah Brasil, tetapi di pasar internasional kopi Indonesia tidak memiliki merek dagang.

Pengembangan pertanian organik di Indonesia belum memerlukan struktur kelembagaan baru, karena sistem ini hampir sama halnya dengan pertanian intensif seperti saat ini. Kelembagaan petani seperti kelompok tani, koperasi, asosiasi atau korporasi masih sangat relevan. Namun yang paling penting lembaga tani tersebut harus dapat memperkuat posisi tawar petani.

Pertanian Organik Modern

Beberapa tahun terakhir, pertanian organik modern masuk dalam sistem pertanian Indonesia secara sporadis dan kecil-kecilan. Pertanian organik modern berkembang memproduksi bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan sistem produksi yang ramah lingkungan. Tetapi secara umum konsep pertanian organik modern belum banyak dikenal dan masih banyak dipertanyakan. Penekanan sementara ini lebih kepada meninggalkan pemakaian pestisida sintetis. Dengan makin berkembangnya pengetahuan dan teknologi kesehatan, lingkungan hidup, mikrobiologi, kimia, molekuler biologi, biokimia dan lain-lain, pertanian organik terus berkembang.

Dalam sistem pertanian organik modern diperlukan standar mutu dan ini diberlakukan oleh negara-negara pengimpor dengan sangat ketat. Sering satu produk pertanian organik harus dikembalikan ke negara pengekspor termasuk ke Indonesia karena masih ditemukan kandungan residu pestisida maupun bahan kimia lainnya.

Banyaknya produk-produk yang mengklaim sebagai produk pertanian organik yang tidak disertifikasi membuat keraguan di pihak konsumen. Sertifikasi produk pertanian organik dapat dibagi menjadi dua kriteria yaitu:

a) Sertifikasi Lokal untuk pangsa pasar dalam negeri. Kegiatan pertanian ini masih mentoleransi penggunaan pupuk kimia sintetis dalam jumlah yang minimal atau Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA), namun sudah sangat membatasi penggunaan pestisida sintetis. Pengendalian OPT dengan menggunakan biopestisida, varietas toleran, maupun agensia hayati. Tim untuk merumuskan sertifikasi nasional sudah dibentuk oleh Departemen Pertanian dengan melibatkan perguruan tinggi dan pihak-pihak lain yang terkait.

b) Sertifikasi Internasional untuk pangsa ekspor dan kalangan tertentu di dalam negeri, seperti misalnya sertifikasi yang dikeluarkan oleh SKAL ataupun IFOAM. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi antara lain masa konversi lahan, tempat penyimpanan produk organik, bibit, pupuk dan pestisida serta pengolahan hasilnya harus memenuhi persyaratan tertentu sebagai produk pertanian organik.

Beberapa komoditas prospektif yang dapat dikembangkan dengan sistem pertanian organik di Indonesia antara lain tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, tanaman rempah dan obat, serta peternakan, (Tabel 2). Menghadapi era perdagangan bebas pada tahun 2010 mendatang diharapkan pertanian organik Indonesia sudah dapat mengekspor produknya ke pasar internasional.

Tabel 2. Komoditas yang layak dikembangkan dengan sistem pertanian organik

No. Kategori Komoditi

  1. Tanaman Pangan Padi
  2. Hortikultura Sayuran: brokoli, kubis merah, petsai, caisin, cho putih, kubis tunas, bayam daun, labu siyam, oyong dan baligo. Buah: nangka, durian, salak, mangga, jeruk dan manggis.
  3. Perkebunan Kelapa, pala, jambu mete, cengkeh, lada, vanili dan kopi.
  4. Rempah dan obat Jahe, kunyit, temulawak, dan temu-temuan lainnya.
  5. Peternakan Susu, telur dan daging

Lahan
Pada dasarnya semua lahan dapat dikembangkan menjadi lahan PO. Yang terbaik adalah lahan pertanian yang berasal dari praktek pertanian tradisional atau hutan alam yang tidak pernah mendapatkan asupan bahan-bahan agrokimia (pupuk dan pestisida).
Namun, bila lahan yang digunakan berasal dari lahan bekas budidaya pertanian konvensional (menggunakan pupuk dan pestisida kimia), lebih dahulu perlu dilakukan konversi lahan. Konversi lahan adalah upaya yang bertujuan untuk meminimalkan kandungan sisa-sisa bahan kimia yang terdapat dalam tanah dan memulihkan unsur fauna dan mikroorganisme tanah. Lamanya konversi tergantung dari intensitas pemakaian input kimiawi dan jenis tanaman sebelumnya (sayuran, padi atau tanaman keras).
Masa konversi dapat diperpanjang/diperpendek tergantung pada sejarah lahan tersebut. Bila masa konversi telah lewat, lahan tersebut merupakan lahan organik. Bila kurang dari itu, maka lahan tersebut masih merupakan lahan konversi menuju organik.

Benih
Benih yang digunakan untuk budidaya PO adalah benih yang tidak mendapatkan perlakuan rekayasa genetika. Petani sebaiknya menggunakan benih lokal, atau benih hibrida yang telah beradaptasi dengan alam sekitar.
Keunggulan menggunakan benih lokal adalah mudah memperolehnya dan murah harganya, bahkan petani bisa membenihkan sendiri. Selain itu, benih lokal memiliki asal usul yang jelas dan sesuai dengan kondisi alam sekitar. Dengan memakai benih sendiri, petani juga tidak tergantung pada pihak luar.

Persiapan tanam
Lahan yang digunakan untuk produksi PO sedapat mungkin dijaga kestabilannya tanpa harus mengacaukan, yaitu berpedoman pada metode sedikit olah tanah (minimum tillage).

Tanam
Prinsip yang diterapkan dalam praktek penanaman PO selalu mencerminkan adanya tumpangsari agar tercipta keanekaragaman tanaman (varietas). Perencanaan dan teknik penanaman perlu disesuaikan dengan sifat tanaman, prinsip-prinsip pergiliran tanaman dan kondisi cuaca setempat.

Pemeliharaan Tanaman
Setiap tanaman memiliki sifat karakteristik tertentu, maka pemeliharaan tanaman ditentukan oleh sifat karakteristik tersebut. Dengan mengenali karakteristik tanaman petani dapat dengan mudah melakukan pemeliharaan yang sesuai, sehingga tujuan pemeliharaan tercapai yaitu “kebahagiaan tanaman itu sendiri”.

Pemupukan
Secara teori, lahan PO akan semakin subur karena proses-proses yang diterapkan berpedoman pada pemeliharaan tanah. Tetapi realitanya, petani seringkali kurang memahami hal ini sehingga tanah selalu lebih banyak kehilangan unsur hara —melalui erosi, penguapan, dsb— dibandingkan dengan hara yang diberikan/ditambahkan. Maka prinsip pemupukan ditentukan oleh kepekaan kita dalam mengamati/menilai kapan tanaman kekurangan makanan.

Pengendalian HPT/OPT
PO berbasis pada keseimbangan ekosistem. Konsekuensinya semua organisme yang ada (termasuk hama) dipandang ikut berperan dalam proses keseimbangan tersebut. Dengan kata lain, tidak ada mahluk hidup yang tidak berguna. Yang diperlukan adalah mengendalikan hama/penyakit supaya tidak berada dalam jumlah berlebihan.
Pola tumpangsari, pergiliran tanaman, pemulsaan, rekayasa teknik menanam, dan manajemen kebun menjadi pilihan metode pengendalian HPT karena sesuai dengan prinsip keseimbangan.
Penggunaan pestisida alami diperlukan sejauh kita tahu bahwa di lahan PO sedang terjadi ketidakseimbangan, yang terlihat pada munculnya gangguan hama/penyakit. Kadar pemakaiannya juga tergantung dari tingkat gangguan yang ada.

Panen
Setiap langkah dalam proses produksi akan dinilai dari hasil panenan. Prinsip dalam panen adalah menjaga standar mutu dengan memanen tepat waktu sesuai kematangan. Cara pemanenan juga perlu berhati-hati sehingga tidak menimbulkan kerusakan atau kehilangan hasil yang lebih besar.

Pasca Panen
Kegiatan pasca panen harus mampu menekan kerusakan hasil seminimal mungkin. Metode pengolahan yang dilakukan tidak boleh mengubah sama sekali komposisi bahan aslinya. Karenanya proses seleksi, pencucian, pengepakan, penyimpanan dan pengangkutan produk organik perlu berhati-hati agar kondisi tetap segar dan sehat ketika berada di tangan pembeli. Dalam PO, kegiatan pasca panen menghindari pemakaian bahan pengawet atau perlakuan kimiawi lainnya dan seminimal mungkin melakukan proses pengolahan.

Dalam PO berlaku standar yang berfungsi sebagai pedoman bagi petani dan pelaku lain dalam menjalankan usahanya di bidang ini. Standar ini berisi prinsip-prinsip mendasar PO dan hal-hal umum yang sebaiknya dilakukan dan dihindari dalam bertani organik. Sebagai contoh, pemerintah telah menerbitkan SNI (Standar Nasional Indonesia ) 01-6729-2002 tentang Sistem Pangan Organik yang dapat menjadi acuan bagi para pelaku terkait pengembangan PO. Standar ini mengacu pada standar internasional yakni Codex CAC/GL 32/1999, dan cukup selaras dengan standar dasar IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movement). BIOCert sendiri tengah mengembangkan standar PO yang selaras dengan pedoman di atas dan sesuai dengan visi dan misi BIOCert.

Artikel Terkait:

Prinsip Pertanian Organik

Pestisida Organik

Pupuk Organik

Pupuk Oganik dan Hayati

Pestiside Organik

Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Berbasis Sistem Pertanian Organik


Pertanian Modern

April 12, 2011 pukul 12:24 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Pertanian Modern

Usaha-usaha Meningkatkan Hasil Pertanian

1. Intensifikasi Pertanian

membajak sawah Intensifikasi pertanian adalah pengolahan lahan pertanian yang ada dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan hasil pertanian dengan menggunakan berbagai sarana. Intensifikasi pertanian banyak dilakukan di Pulau Jawa dan Bali yang memiliki lahan pertanian sempit.

Pada awalnya intensifikasi pertanian ditempuh dengan program Panca Usaha Tani, yang kemudian dilanjutkan dengan program sapta usaha tani. Adapun sapta usaha tani dalam bidang pertanian meliputi kegiatan sebagai berikut :

  • Pengolahan tanah yang baik
  • Pengairan yang teratur
  • Pemilihan bibit unggul
  • Pemupukan
  • Pemberantasan hama dan penyakit tanaman
  • Pengolahan pasca panen

pengairan yang teratur  menyemprot hama

2. Ekstensifikasi Pertanian

lahan pertanian yang luas Adalah usaha meningkatkan hasil pertanian dengan cara memperluas lahan pertanian baru,misalnya membuka hutan dan semak belukar, daerah sekitar rawa-rawa, dan daerah pertanian yang belum dimanfatkan. Selain itu, ekstensifikasi juga dilakukan dengan membuka persawahan pasang surut.

Ekstensifikasi pertanian banyak dilakukan di daerah jarang penduduk seperti di luar Pulau Jawa, khususnya di beberapa daerah tujuan transmigrasi, seperti Sumatera, Kalimantan dan Irian Jaya.

3. Diversifikasi Pertanian

Adalah usaha penganekaragaman jenis usaha atau tanaman pertanian untuk menghindari ketergantungan pada salah satu hasil pertanian.
Diversifikasi pertanian dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :

  • Memperbanyak jenis kegiatan pertanian, misalnya seorang petani selain bertani juga beternak ayam dan beternak ikan.
  • Memperbanyak jenis tanaman pada suatu lahan, misalnya pada suatu lahan selain ditanam jagung juga ditanam padi ladang.

4. Mekanisasi Pertanian

penggunaan mesin pertanian modern

Adalah usaha meningkatkan hasil pertanian dengan menggunakan mesin-mesin pertanian modern. Mekanisasi pertanian banyak dilakukan di luar Pulau Jawa yang memiliki lahan pertanian luas. Pada program mekanisasi pertanian, tenaga manusia dan hewan bukan menjadi tenaga utama.

5. Rehabilitasi Pertanian

Adalah usaha memperbaiki lahan pertanian yang semula tidak produktif atau sudah tidak berproduksi menjadi lahan produktif atau mengganti tanaman yang sudah tidak produktif menjadi tanaman yang lebih produktif.
Sebagai tindak lanjut dari program-program tersebut, pemerintah menempuh langkah-langkah sebagai berikut:

  • Memperluas,memperbaiki dan memelihara jaringan irigasi yang meluas di seluruh wilayah Indonesia
  • Menyempurnakan sistem produksi pertanian pangan melalui penerapan berbagai paket program yang diawali dengan program Bimbingan Masal (Bimas) pada tahun 1970. Kemudian disusul dengan program intensifikasi Masal (Inmas), Intensifikasi Khusus (Insus) dan Supra Insus yang bertujuan meningkatkan produksi pangan secara berkesinambungan.
  • Membangun pabrik pupuk serta pabrik insektisida dan pestisida yang dilaksanakan untuk menunjang proses produksi pertanian.

Usaha-usaha meningkatkan hasil pertanian dapat dilakukan antara lain dengan cara :

  • Membangun gudang-gudang, pabrik penggilingan padi dan menetapkan harga dasar gabah
  • Memberikan berbagai subsidi dan insentif modal kepada para petani agar petani dapat meningkatkan produksi pertaniannya.
  • Menyempurnakan sistem kelembagaan usaha tani melalui pembentukan kelompok tani, dan Koperasi Unit Desa (KUD) di seluruh pelosok daerah yang bertujuan untuk memberikan motivasi produksi dan mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi para petani.

Hydrogel, Media Tanam Unik untuk Hidroponik

TEKNIK pertanian modern seperti hidroponik sudah menjadi kebutuhan yang mendesak, menyusul semakin berkurangnya ketersediaan lahan untuk bercocok tanam. Berkurangnya lahan pertanian ini antara lain karena pertambahan penduduk yang cepat akibat faktor kelahiran, perpindahan penduduk, dan urbanisasi.Cara budidaya tanaman dengan teknik hidroponik dinilai praktis, bersih dan hemat tenaga. Cara ini juga banyak disuka hobiis tanaman hias. Hasilnya, tak kalah dengan budidaya dalam pot biasa. Malah lebih aman dari serangan hama ketimbang memakai media tanah. Hampir semua jenis tanaman hias bisa dibudidayakan dan dipajang dengan teknik hidroponik. Terutama untuk tanaman in door.Bicara soal hidroponik, tak bisa lepas dengan yang namanya media tanam. Betapa tidak, media tanam memegang peranan sangat penting untuk suksesnya bercocok tanam sistem hidroponik. Media tanam untuk hidroponik biasanya menggunakan batu perlit atau vermiculit. Batu perlit merupakan batu dari letusan gunung berapi, bentuknya dibuat bulat-bulat, poros, dan ringan.Namun bila perlit dan vermikulit sukar didapat dan mahal harganya, banyak alternatif lainnya, seperti batu apung, pecahan batu bata atau genteng, pasir, arang kayu, arang sekam, pakis, sabut kelapa, ijuk, spon, peat moss (gambut), rock wool, zeolit. Juga kerikil sintesis Lecaton dan Blahton yang banyak dijual di nursery atau toko-toko tanaman hias. Prinsipnya, media tersebut harus bersifat porous (berongga) untuk sirkulasi udara, mudah menyerap air, tidak cepat lapuk, akar mudah menempel, dapat menyimpan zat hara, dan tidak mudah menjadi sumber penyakit.

Pada dasarnya sistem hidroponik adalah upaya memberikan bahan makanan dalam larutan mineral atau nutrisi yang diperlukan tanaman dengan cara disiram atau diteteskan. Pekerjaan menyiram atau mengairi media tanam inilah menjadi persoalan. Sistem pengairan hidroponik bila dilakukan secara manual akan sangat merepotkan, sementara bila dilakukan secara otomatis butuh energi dan bahan yang tidak sedikit; perlu pompa, listrik, selang, pengatur waktu, dsb. Hingga ditemukan solusi yang cukup unik yaitu dengan menggunakan media tanam yang dinamakan hydrogel.

Hydrogel adalah penemuan terbaru yang menarik untuk mempermudah sistem pertanian hidroponik. Kristal-kristal polimer ini bisa dijadikan media tanam yang praktis karena sifatnya yang mampu menyerap air, sehingga pekebun akan dibebaskan dari rutinitas menyiram tanaman, selain itu dengan keanekaragaman warnanya bisa memperbaiki penampilan tanaman secara keseluruhan, karena bisa disesuaikan dengan selera dan diselaraskan dengan warna tanaman. Hal ini dapat menciptakan keindahan dan keasrian tanaman hias yang ditempatkan di ruang tamu atau di ruang kantor.

Kelebihan hidrogel, selain tampilannya indah berwarna-warni, juga praktis, dapat disiram sebulan sekali, terhindar dari hama tanah, cocok untuk tanaman di dalam ruangan seperti ruang tamu atau meja kerja.

Selain sebagai media tanam bagi tanaman hias, hidrogel juga cocok untuk perkebunan dan hutan tanaman industri. Hidrogel digunakan sebagai campuran untuk menyempurnakan tanah. Jeli dari hidrogel lazim pula digunakan untuk budidaya jamur shiitake. Selain itu gel ini berguna bagi pertanian di kota-kota besar yang lahannya sempit serta kualitas tanahnya jelek. Sedikit tanah, diberi campuran hidrogel dan pupuk, bisa menjadi media yang baik untuk berkebun.

Menurut ensiklopedia Wikipedia, hydrogel adalah suatu jaringan rantai-rantai polimer yang mudah menyerap air, hidrogel adalah polimer penyerap super (superabsorbent), ia dapat mengandung air hingga 99%. Hidrogel adalah kristal-kristal pengisap air, mampu menyerap air 600 kali dari bobotnya. Kristal-kristal ini tampak seperti butiran-butiran kecil kwarsa sebelum jenuh dengan air, dan mirip cabikan jeli jernih bila air ditambahkan.

Bahan-bahan pembentuk hydrogel biasanya terdiri dari polyvinyl alcohol, natrium polyacrylate, polimer-polimer acrylate lainnya dan ko-polimer dengan kelompok hydrophilic (pengikat air) yang melimpah.

Pada awalnya hidrogel digunakan untuk diaper sekali pakai dimana ia dapat “menangkap” urin, untuk handuk-handuk kesehatan, lensa-lensa kontak (hidrogel silikon, polyacrylamides), elektroda-elektroda medis (polyethylene oxide, polyAMPS dan polyvinylpyrrolidone). Juga digunakan untuk operasi payudara, pembalut luka bakar, wadah obat-obat ionis, dan butiran untuk mempertahankan kandungan air tanah di kawasan tandus.

Salah satu kehebatan hidrogel hadir dalam merek dagang Osmogro, yang menciptakan teknologi pengairan mandiri –tumbuhan mampu mengairi dirinya sendiri. Teknologi pengairan Osmogro yang unik ini, bisa mengantarkan air dari penampung eksternal ke dalam pot tumbuhan dengan cara osmosis dan difusi menggunakan membran hidrogel. (Dede Suhaya/dari berbagai sumber)***

Meningkatkan Pertumbuhan Tanaman

HIDROGEL atau dikenal juga sebagai polimer penyerap super (super-absorbing polymer –SAP) juga terbukti mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Produk hidrogel terbaru ini dikembangkan oleh seorang insinyur polimer dari Universitas Waseda, Jepang, Prof. Yuichi Mori. SAP jenis baru ini dinamakan ‘Sky Gel’, dan secara meluas telah digunakan untuk taman-taman atap, rehabilitasi hutan, kultur jaringan, hidroponik dan aeroponik.

“Sky Gel memiliki sifat menahan air yang sempurna, dan dalam eksperimen dengan tanaman radish dan mentimun menunjukkan gel ini secara terus menerus meningkatkan ujung tumbuh dan perakaran. Ketika Sky Gel diaplikasikan pada zona akar, zat ini mampu menahan kadar air dan secara lambat melepaskannya ke tanaman yang sedang tumbuh. Sky Gel berada di balik keberhasilan proyek stabilisasi kemiringan bukit-bukit di Gunung Fuji, dan mampu menghentikan lajunya gurun pasir. Mampu menahan erosi angin dan menstabilkan bukit-bukit pasir,” terang Prof. Mori.

SAP konvensional (jalinan silang sodium polyacrylate) memiliki kemampuan menyerap air dengan sempurna (hingga 200 ml air per gram SAP), dan sangat dipercaya dalam menjaga tumbuhan dalam penyerapan airnya. “Kunci Sky Gel ada pada sifat pertukaran ionnya – yaitu penyerapan ion kalsium, yang penting untuk tanaman tumbuh serta pelepasan ion natrium, yang berbahaya bagi tumbuhan,” tegas Prof. Mori. Bila SAP ditambahkan di atas konsentrasi kritis (di atas 0,1 volume persen) pada tanah, tumbuhan bisa kekurangan perkecambahan dan hambatan untuk tumbuh.

“Kami mensintesa Sky Gel dengan secara parsial menggantikan kelompok natrium acrylate SAP dengan kalsium acrylate dan kelompok asam acrylic. Kemampuan menyerap air dari kalsium pada Sky Gel secara signifikan sama tingginya dengan SAP konvensional,” jelas Prof. Mori.

Produksi Sky Gel di Jepang dilakukan dengan memanfaatkan produksi SAP konvensional. “Ongkos produksinya akan sangat mendekati SAP bila permintaan Sky Gel meningkat setinggi SAP, yang produksinya sekitar 100 juta ton per tahun,” ujar Prof. Mori. Saat ini, harga Sky Gel sekitar sepuluh kali SAP konvensional. (DS/berbagai sumber)***

BERCOCOK TANAM DILAHAN SEMPITIngin berkebun, tapi lahannya terbatas. Pernah mendengar sistem hidroponik. Selain tidak perlu berkotor-kotor dengan tanah, produksi tanaman pun bisa lebih tinggi. Di zaman yang serba modern ini bertanam tak lagi harus menggunakan tanah. Berbagai metode bercocok tanam bisa digunakan bagi yang ingin menekuninya. Salah satunya adalah bertanam secara hidroponik.Berasal dari bahasa Yunani, Hydroponic, dimana hydro berarti air dan ponous berarti kerja. Hidroponik (latin; hydro = air; ponos = kerja) adalah suatu metode bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah, melainkan dengan menggunakan larutan mineral bernutrisi atau bahan lainnya yang mengandung unsur hara seperti sabut kelapa, serat mineral, pasir, pecahan batu bata, serbuk kayu, dan lain-lain sebagai pengganti media tanah.Tanaman hidroponik bisa dilakukan secara kecil-kecilan di rumah sebagai suatu hobi ataupun secara besar-besaran dengan tujuan komersial.MEDIA TANAM HIDROPONIK
Secara general ada 2 macam type media tanam hidroponik yaitu media tanam padat maupun cair dan media tanam organik maupun anorganic. Media-media itu antara lain :
  • Kultur Air (menggunakan air )
  • Kultur Pasir (menggunakan pasir)
  • Kultur Kerikil (menggunakan kerikil, Batu apung, Batu karang, Batu bata ),
  • Vermikulaponik (menggunakan serbuk gergaji, tanah gambut dan arang sekam),
  • Rockwool Culture, (menggunakan rockwoll atau spon ),
  • Aeroponik ( menggunakan air bernutrisi yang dikabutkan dan disemprotkan langsung ke akar tanaman ).
Sedang tanaman yang bisa ditanam di media tanam hidroponik adalah golongan tanaman hortikultura, meliputi : tanaman sayur, tanaman buah, tanaman hias, pertamanan, dan tanaman obat-obatan. Pada hakekatnya berlaku untuk semua jenis tanaman baik tahunan, biennial, maupun annual.Tapi paling lazim adalah umumnya merupakan tanaman annual (semusim). Hampir semua tanaman sebenarnya bisa dibudidayakan dengan sistem hidroponik, mulai dari bunga, (misalnya : krisan, gerberra, anggrek, kaladium, kaktus ), sayur – sayuran ( selada, sawi, pakchoi, tomat, wortel, asparagus, brokoli, cabai, seledri, bawang merah, bawang putih, bawang daun, terong ), buah-buahan ( melon, tomat, mentimun, semangka, strawberi, paprika ) dan juga umbi-umbian.
“Yang penting media tersebut bersih, bisa menyimpan air sementara, porus, bebas dari unsur hara. Karena media tersebut harus dapat berfungsi sebagai tempat menyimpan air nutrisi sementara dan tempat berpijak akar, untuk kebutuhan unsur hara disuplai dari air nutrisi yang disiramkan.”KEUNTUNGAN MENANAM TANAMAN HIDROPONIK
  • Ramah lingkungan karena tidak menggunakan pestisida atau obat hama yang dapat merusak tanah, menggunakan air hanya 1/20 dari tanaman biasa, dan mengurangi CO2 karena tidak perlu menggunakan kendaraan atau mesin.
  • Tanaman ini tidak merusak tanah karena tidak menggunakan media tanah dan juga tidak membutuhkan tempat yang luas
  • Bisa memeriksa akar tanaman secara periodik untuk memastikan pertumbuhannya
  • Pemakaian air lebih efisien karena penyiraman air tidak perlu dilakukan setiap hari sebab media larutan mineral yang dipergunakan selalu tertampung di dalam wadah yang dipakai
  • Hasil tanaman bisa dimakan secara keseluruhan termasuk akar karena terbebas dari kotoran dan hama
  • Lebih hemat karena tidak perlu menyiramkan air setiap hari, tidak membutuhkan lahan yang banyak, media tanaman bisa dibuat secara bertingkat
  • Pertumbuhan tanaman lebih cepat dan kualitas hasil tanaman dapat terjaga
  • Bisa menghemat pemakaian pupuk tanaman
  • Tidak perlu banyak tenaga kerja
  • Lingkungan kerja lebih bersih
  • Tidak ada masalah hama dan penyakit tanaman yang disebabkan oleh bakteri, kulat dan cacing nematod yang banyak terdapat dalam tanah
  • Dapat tanam di mana saja bahkan di garasi dan tanah yang berbatu
  • Dapat ditanam kapan saja karena tidak mengenal musim

DASAR TEKNIK TANAMAN HIDROPONIK
Dalam upaya memproduksi tanaman atau makanan secara hidroponik, diperlukan beberapa peralatan dasar agar tanaman dapat tumbuh dengan baik seperti daerah perakaran harus memperoleh cukup udara, air dan unsur hara/nutrisi, sehingga dapat menghasilkan tanaman dan makanan yang berkualitas. Antara lain :

1. Tempat tumbuh tanaman, seperti bak atau kolam penampung, pot, dan bedengan. Diusahakan agar tempat tumbuh tanaman dijaga kebersihannya secara berkala dengan membersihkan dan menghilangkan tumbuhan atau tanaman lain yang tidak diinginkan (terutama dalam bedengan atau kolam penampung).

2. Aerator Alat ini dipakai untuk tercukupinya oksigen untuk pertukaran udara dalam daerah perakaran. Kekurangan oksigen akan mengganggu penyerapan air dan nutrisi oleh akar dan respirasi.

3. Larutan Nutrisi. Larutan nutrisi sebagai sumber pasokan air dan mineral nutrisi merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan kualitas hasil tanaman hidroponik, sehingga harus tepat dari segi jumlah, komposisi ion nutrisi dan suhu. Unsur hara ini dibagi dua, yaitu unsur makro (C, H, O, N, P, S, K, Ca, dan Mg) dan mikro ( B, Cl, Cu, Fe, Mn, Mo, dan Zn). Pada umumnya kualitas larutan nutrisi ini diketahui dengan mengukur electrical conductivity (EC) larutan tersebut. Semakin tinggi konsentrasi larutan semakin tinggi arus listrik yang dihantarkan (karena pekatnya kandungan garam dan akumulasi ion mempengaruhi kemampuan untuk menghantarkan listrik larutan nutrisi tersebut). Larutan nutrisi dapat dibuat sendiri dengan melarutkan pupuk yang diramu khusus untuk tanaman hidroponik atau membeli pupuk hidroponik secara komersial.

PROSPEK USAHA TANAMAN HIDROPONIK
Bob Sadino adalah orang yang dapat dianggap sebagai orang pertama yang memperkenalkan sistim bercocok tanam sayur hidroponik di Indonesia. Sayuran hidroponik mulai diperkenalkan oleh Bob Sadino di supermarket KemChick pada sekitar tahun 1990. Saat ini, sayur hydroponik dapat dibeli di beberapa supermarket terkenal. Harga sayur hidroponik dipasang dengan 4 hingga 5 kali lebih mahal daripada harga sayur biasa di pasar tradisional. Namun, karena sayuran hidroponik terbebas dari pemakaian pestisida, proses tanam hingga panen yang berhigenitas tinggi, lebih segar, dan packaging yang lebih baik, sehingga sayuran hidroponik yang dijual di beberapa supermarket selalu cepat terjual habis.

Dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan gerakan vegan/vegetarian dalam mengatasi permasalahan pemanasan global, tentunya permintaan sayuran dan buah-buahan yang berasal dari proses yang ramah lingkungan akan menjadi permintaan utama dalam daftar konsumsi mereka.Karena terbatasnya persediaan, dan makin tingginya permintaan sayuran jenis hidroponik ini sehingga peluang bisnis yang ramah lingkungan ini cukup baik untuk digeluti oleh para pengusaha dalam skala yang besar, termasuk peluang ekspor ke pasar negara tetangga yang permintaannya sangat tinggi, seperti Singapura dan Malaysia.

Dari beberapa referensi yang diperoleh, biaya investasi untuk penanaman hidroponik secara komersial dengan skala kecil untuk luas tanah sekitar 100 m2 sekitar Rp 150 juta untuk pembuatan bak tanaman, bak penampung air, pipa saluran air, media , cairan larutan, dan bibit tanaman. Pengembalian investasinya sekitar Rp 500 juta hingga Rp 750 juta per tahun. Suatu peluang usaha yang pantas untuk digeluti (Diolah dari berbagai sumber)

Link terkait :”

Sejarah Pertanian

Organic Consumer Association

Pertanian Modern

 


Urban Farming & Agrohome

April 12, 2011 pukul 12:23 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Urban Farming dan Agrohome

Secara geografis luas wilayah kota sangat terbatas sehingga konsep pertanian tradisional sangat sulit dilakukan di kawasan perkotaan. Sementara itu konversi lahan dari lahan pertanian menjadi lahan non pertanian hampir tidak bisa dibendung sejalan dengan perkembangan kebutuhan warga kota. Pertanian kota (urban farming) dapat dijadikan sebagai alternatif.

Tentu saja teknik budidaya yang dilakukan di perkotaan dilakukan secara intensif dengan teknologi yang memungkinkan produktivitas yang tinggi pada lahan yang sangat terbatas. Perkembangan teknik pertanian saat ini memungkinkan untuk dilakukan hal tersebut misalnya dengan teknik vertikultur, hidroponik atau teknik budidaya lannya yang bernuansan teknologi.

Manfaat yang diperoleh dari pertanian kota, selain memenuhi kebutuhan konsumsi pangan warga kota juga memberikan manfaat keindahan dan kebersihan lingkungan hidup di perkotaan yang banyak menggunakan bahan bakar fosil Penggabungan antara ilmu pertanian dan lansekap perkotaan akan memberikan nuansa lain terhadap pertanian yang selama ini terkesan kotor.

Menurut Wikipedia the free encyclopedia Pertanian Kota adalah praktek pertanian (meliputi kegiatan Tanaman Pangan, Peternakan, Perikanan, Kehutanan) di dalam atau di pinggiran kota yang dilakukan di lahan pekarangan, balkon, atau atap-atap bangunan, pinggiran jalan umum, atau tepi sungai dengan tujuan untuk menambah pendapatan atau menghasilkan bahan pangan.

Sedangkan menurut menurut UNDP, 1996 pertanian kota memiliki pengertian, satu kesatuan aktivitas produksi, proses, dan pemasaran makanan dan produk lain, di air dan di daratan yang dilakukan di dalam kota dan di pinggiran kota, menerapkan metode-metode produksi yang intensive, dan daur ulang (reused) sumber alam dan sisa sampah kota, untuk menghasilkan keaneka ragaman peternakan dan tanaman pangan.

Hampir sama dengan yang diungkapkan diatas pertanian kota Luc Mougeot, 1999 mendefinisikan pertanian kota sebagai suatu industri yang terletak di dalam kota (intra-urban) atau di pinggiran kota (peri-urban) dari suatu kota kecil atau kota besar, yang tumbuh dan berkembang, distribusi dan proses keaneka ragaman makanan dan produk bukan makanan (nonfood produk) yang sebagian besar menggunakan sumberdaya alam dan manusia (lahan, air, genetika, energi matahari dan udara), jasa dan produk-produk yang tersedia di dalam dan di sekitar wilayah kota, dan pada gilirannya sebagai penyedia sumberdaya material dan manusia, sebagian jasa dan produk untuk wilayah perkotaan itu sendiri.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pertanian kota (urban farming/agriculture) mengandung arti yaitu suatu aktivitas pertanian yang dapat berupa kegiatan bertani, beternak, perikanan, kehutanan, yang ber lokasi di dalam kota atau di pinggiran suatu kota, dengan melakukan proses Produksi (menghasilkan), pengolahan, dan menjual serta mendistribusikan berbagai macam hasil produk makanan dan non-makanan dengan menggunakan sumber daya serta bertujuan untuk menyediakan dan memenuhi konsumsi masyarakat yang tinggal di suatu kota.

Peran Pertanian Kota untuk keamanan dan keselamatan pangan terjadi melalui dua cara : Pertama, meningkatkan jumlah makanan yang tersedia bagi orang yang tinggal di kota, kedua, tersedianya buah-buahan dan sayur-mayur segar untuk konsumen-konsumen kota. Karena itu Pertanian Kota sebagai promosi penghematan energi produksi makanan lokal, Pertanian Kota dan pinggiran kota adalah praktek-praktek ketahanan pangan

Di beberapa kota besar dunia sudah melaksanakan konsep pertanian kota dan disambut baik oleh warga sebagai bagian dari konsep pembangunan perkotaan yang bersih lingkungan. Sementara di Indonesia yang tekah mencanagnkan pertanian kota diantaranya adalah Kota Surabaya.
Semoga pertanian kota dijadikan sebagai bagian dari kebutuhan warga kota selain kebutuhan perumahan dan gedung-gedung supermarket dan mall.

Manfaat Urban farming :

  • Urban Farming memberikan kontribusi penyelamatan lingkungan dengan pengelolaan sampah Reuse dan Recycle
  • Membantu menciptakan kota yang bersih dengan pelaksaan 3 R (reuse, reduse, recycle) untuk pengelolaan sampah kota.
  • Dapat menghasilkan O2 dan meningkatkan kualitas lingkungan kota
  • Meningkatkan Estetika Kota
  • Mengurangi biaya dengan penghematan biaya transportasi dan pengemasan
  • Bahan pangan lebih segar pada saat sampai ke konsumen yang merupakan orang kota
  • Menjadi penghasilan tambahan penduduk kota.

Model-model urban Farming

  • memanfaatkan lahan tidur dan lahan kritis,
  • Memanfaatkan Ruang Terbuka Hijau (Privat dan Publik)
  • mengoptimalkan kebun sekitar rumah,
  • menggunakan ruang (verticultur).

 

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com. | The Pool Theme.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.