Mesin Penanam dan Pemanen Padi Otomatis

Juli 24, 2014 pukul 6:03 am | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Penanam Padi Otomatis (Rice transplanter) adalah mesin modern untuk menanam bibit padi dengan sistem penanaman yang serentak. Cara pakai alat ini sangat gampang. Bibitkan gabah dalam petakan sawah seluas 20×80 cm. Setelah tumbuh menjadi bibit dan sudah berumur 15 hari, bibit tersebut ditaruh di atas mesin rice transplater.Selanjutnya, mesin siap beroperasi. Dalam sekali gerak, mesin ini dapat membuat 4 jalur dengan jarak antar jalur 30 cm. Hanya dalam waktu 4 jam, satu ton bibit padi yang digendongnya sudah habis ditanam.Berkurangnya tenaga kerja di sektor pertanian membuat petani harus lebih efisien dalam bertani dengan modernisasi alat-lat pertanian dan teknologi pertanian. Beberapa jenis mesin tanam bibit padi

  1. Mesin tanam bibit padi dari Jepang
  2. Mesin tanam bibi padi dari China
  3. Mesin tanam bibit padi dari IRRI

1. Jenis mesin tanam bibit padi Secara umum ada dua jenis mesin tanam bibit padi, dibedakan berdasarkan cara penyemaian dan persiapan bibit padinya. Yang pertama, yaitu mesin yang memakai bibit yang ditanam/disemai di lahan (washed root seedling). Mesin ini memiliki kelebihan yaitu dapat dipergunakan tanpa harus mengubah cara persemaian bibit yang biasa dilakukan secara tradisional sebelumnya. Namun demikian waktu yang dibutuhkan untuk mengambil bibit cuckup lama, sehingga kapasitas kerja total mesin menjadi kecil. Yang kedua adalah mesin tanam yang memakai bibit yang secara khusus disemai pada kotak khusus. Mesin jenis ini mensyaratkan perubahan total dalam pembuatan bibit. Persemaian harus dilakukan pada kotak persemaian bermedia tanah, dan bibit dipelihara dengan penyiraman, pemupukan hingga pengaturan suhu. Persemaian dengan cara ini, di Jepang, banyak dilakukan oleh pusat koperasi pertanian, sehingga petani tidak perlu repot mempersiapkan bibit padi sendiri. Penyemaian bibit dengan cara ini dapat memberikan keseragaman pada bibit dan dapat diproduksi dalam jumlah besar. Mesin ini dapat bekerja lebih cepat, akurat dan stabil. Bila dilhat dari jenis sumber tenaga untuk menggerakkan mesin, terdapat tiga jenis mesin tanam bibit yaitu alat tanam yang dioperasikan secara manual, mesin tanam yang digerakkan oleh traktor dan mesin tanam yang memiliki sumber tenaga atau enjin sendiri. Mesin yang diproduksi oleh IRRI atau beberapa produksi China adalah tipe manual. Semua jenis mesin produksi Jepang dan beberapa produksi China adalah memiliki sumber tenaga sendiri. Mesin yang digerakkan oleh traktor, sebelumnya diproduksi di Jepang, tetapi belakangan ini sudah jarang dipergunakan. Berdasarkan sistem pendukungnya, mesin ini dapat dibedakan menjadi yang bergerak dengan roda, dan yang bergerak dengan roda dan dilengkapai dengan papan pengapung (Gambar 1). mesin tanam padi

Gambar 1. Gerak naik dan turun roda sesuai dengan kekerasan tanah

 Jenis mesin yang manapun dipergunakan, permukaan lahan sawah harus datar dan rata, kedalam air harus rata, demikian juga kekerasan tanah juga harus sama, karena hal ini akan memberikan kestabilan operasi. Jika tidak, akan banyak terjadi kegagala penancapan bibit, sehingga akan butuh waktu yang cukup lama untuk penyulaman secara manual. 2.Beberapa jenis mesin tanam bibit padi 2.1. Mesin tanam bibit padi dari Jepang Sekarang ini, semua jenis mesin tanam bibit padi di Jepang adalah berpenggerak sendiri (self-propulsion type), dioperasikan dengan cara dituntun (walking type) atau dikendarai (riding type) ( Lihat Gambar 2 sampai 4). Jenis mesin yang dituntun umumnya memiliki alur tanam 2 hingga 6 alur, sedangkan tipe yang dikendarai memiliki 4 hingga 12 alur tanam dalam sekali lintasan penanaman. Jarak antar alur tanam dibuat tetap yaitu 30 cm, dan jarak antar bibit dalam alur dapat disesuaikan antara 11 hingga 18 cm. Bibit yang umum dipergunakan memiliki tinggi/panjang 10 hingga 30 cm, memiliki 2 hingga 5 daun. Jumlah bibit yang ditancapkan pada setiap titik adalah 3 hingga 5 bibit. Kecepatan penanaman adalah sekitar 200 titik (hill) per menit per alur. Bila sebuah mesin dapat menanam dalam empat alur, dengan jalar antar alur 40 cm dan jarak antar titik tanam 16 cm, maka akan dibutuhkan waktu tanam selama 4 jam untuk setiap hektar. Dalam kenyataan, waktu juga dibutuhkan untuk berbelok, menambah bibit, dll., maka waktu yang digunakan untuk menanam adalah hanya sekitar 60 hingga 80%. Atau dengan kata lain, kapasitas tanam menjadi 5 hingga 7 jam per ha. Kegagalan penancapan bibit (missing hill) sekitar 1%, dalam bentuk rusak tercabik, terbenam atau mengapung. Pembuatan bibit padi dilakukan dengan menyemaikan 200 gram benih dalam kotak berukuran 60 x 30 x 3 cm. Benih ini disemai di dalam ruang gelap hingga berkecambah, kemudian di berikan sinar matahari selama dua hari hingg berwarna hijau merata. Setelah itu bibit dipelihara hingga ukuran atau ketinggian yang diinginkan. Di pusat pembibitan padi di Jepang, bibit untuk lahan seluas 50 samapi 200 ha (sekitar 7000 hingga 30000 kotak) dibuat dengan seragam, dimana di dalamnya juga dilengkapi dengan proses desinfektan benih, pencampuran pupuk, pengepakan media tanam/tanah ke kotak semai bibit, kendali suhu, penyemprotan, dll. 2.2. Mesin tanam bibit padi dari China Di China, terdapat mesin tanam bibit padi jenis manual dan berpenggerak sendiri. Untuk jenis yang dikendarai, memiliki tiga roda, dan dikemudikan melalui roda depan, juga dilengkapi dengan papan apung di bagian belakang. Mesin ini dioperasikan oleh tiga orang, seorang sebagai pengemudi, dua orang di belakang melakukan pengumpanan bibit ke kotak bibit. Tersedia dalam 12, 14 dan 18 alur tanam. 2.3. Mesin tanam bibit padi dari IRRI Mesin atau alat ini dioperasikan secara manual, ditarik diatas papan luncur, dengan 5 alur tanam. Dengan cara menarik stang kendali, mekanisme pengumpanan bibit dan penanaman juga sekaligus dioperasikan. Operator bergerak mundur sambil mengerak-gerakkan stang kendali. Bila terjadi kegagalan penancapan bibit, mekanisme penanaman dapat dioperasikan ulang pada lokasi yang sama. Selain Penanam Padi Otomatis (rice transplater), karena kelangkaan tenaga pemanen, di beberapa tempat di Indonesia sudah mulai menggunakan mesin modern pemanen padi(combine harvester). Mesin ini bisa memotong padi, merontokkan gabah, membersihkan gabah dan memasukkannya ke dalam karung. Dan Jerami padi yang mengandung selulosa langsung di sebarkan  kelahan  sawah untuk kesuburan tanah( Manfaat Jerami Padi)  bukan dibakar seperti sekarang, atau bisa ditampung untuk makanan sapi dan ternak lainya.

Sumber : Warasfarm

Tanaman Pangan

Mei 12, 2011 pukul 12:23 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar
BATAN HASILKAN 20 VARIETAS PADI NUKLIR

Padi iradiasi nuklir

Padi iradiasi ini diklaim genjah (berumur pendek), tahan hama dan berproduksi tinggi. Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) terus berupaya menambah varietas padi unggul melalui teknologi nuklir setelah Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi kelompok pemuliaan tanaman mengantongi 20 sertifikat varietas padi. Puluhan varietas tersebut diklaim punya umur produksi lebih singkat, kuantitas panen tinggi, dan tak mudah rontok oleh serangan hama. “Di tengah kondisi Indonesia yang sedang Klikdilanda banyak bencana, teknologi nuklir menjanjikan hasil yang baik untuk mengatasi persoalan gagal panen padi,” kata Sofrizal, Peneliti Kepala pada Kelompok Pemiliaan Tanaman untuk padi di BATAN. Ia mencontohkan varietas Si Denok dan Mugibat, yang diklaim mampu menghasilkan hingga sembilan ton per hektar, kini banyak diburu petani.

Apalagi setelah muncul sejumlah laporan bahwa varietas ini mampu bertahan saat satu daerah diserbu wabah penyakit. Hama seperti wereng dan sundep adalah momok klasik petani terutama setelah lewatnya musim hujan. Padi yang selamat dari terjangan air, belum tentu bertahan dari serbuan hewan perusak bulir padi muda itu. “Banyak permintaan benih untuk Si Denok ini. Apalagi setelah muncul juga laporan rasanya sangat enak,” tambah Sofrizal.

‘Beda’ dengan GMO

Di fasilitas rumah kaca milik BATAN di Pasar Jumat, Jakarta Selatan, peneliti Ita Mahyani tengah mendalami upaya memuliakan padi Barak Cendana.

Padi iradiasi nuklir

Selain 20 varietas padi, BATAN juga menggunakan teknik iradiasi untuk kedelai.

“Berasnya merah, tanamannya tinggi, umurnya 190 hari,” kata Ita yang sudah puluhan tahun terlibat dalam penelitian ini.

Barak Cendana dipilih karena sangat digemari di Tabanan, Bali tetapi posturnya yang mencapai dua meter ditambah umur tanamnya yang lebih dari enam bulan membuat petani enggan menanam.

Di tangan peneliti seperti Ita dan kawan-kawan, beberapa batang Barak Cendana generasi awal yang sudah dimuliakan nampak mulai tumbuh lebih pendek, dengan umur panen yang menurutnya sudah turun menjadi 120 hari.

Padi iradiasi nuklirMeski petani masih alergi soal teknologi nuklirnya, menurut Sofrizal, benihnya banyak dicari. “Masih dalam umurnya, tentu kita maunya lebih genjah (cepat panen), batangnya pendek juga tahan hama, kita masih terus teliti.” Ita dan kawan-kawan boleh berbangga karena dari 20 varietas yang dikembangkan seluruhnya telah ditanam di berbagai lokasi di Indonesia. Atau setidaknya, itu yang diklaim Sofrizal. Berdiri 1995, pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi fokus pada pertanian pangan. Ia mengakui banyak petani yang masih alergi mendengar istilah ‘padi nuklir’ meski BATAN menjamin keamanan produk pertanian hasil penelitiannya. “Yang kita lakukan adalah memanfaatkan iradiasi untuk pemuliaan tanaman. Itu hanya pada generasi pertama. “Sedangkan pengembangan ini dilakukan selama belasan bahkan puluhan generasi, sehingga sisa radiasinya itu sudah sama sekali tak ada,” seru Sofrizal. Menurut peneliti asli Sumatera ini kebanyakan orang masih mencampuradukkan pengertian teknik iradiasi dengan rekayasa genetika (GMO) untuk Klikbibit transgenik. “Itu sama sekali berbeda,” tegas Sofrizal. Selain untuk padi, teknologi nuklir juga dikembangkan untuk kedelai, kapas, sorgum, dan sejumlah tanaman lain termasuk buah dan palawija.

Tanaman Hortikultura

April 12, 2011 pukul 12:28 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

PRODUK HORTIKULTUR INDONESIA MENEMBUS PASAR DUNIAPRODUK HORTIKULTUR INDONESIA MENEMBUS PASAR DUNIA

Pasar bebas merupakan tantangan sekaligs peluang bagi produk hortikultura terutama yang berasal dari Indonesia. Namun demikian produk hortikultura dari dalam negeri ini masih sulit menembus luar negeri,
diantaranya karena negara importir sering menghambat masuknya produk melalui kebijakan non tariff barrier. Bahkan menekan import buah import saja masih sering terkendala jumlah dan harga.

M. Gunung Soetopo yang merupakan Sekjen Asosiasi Produsen Benih Hortikultura menilai liberalisasi perdagangan akan menjadi ancaman terhadap produk dalam negeri. Regulasi perdagangan dunia yang diterapkan pada zona tertentu semakin menambah kesulitan produk hortikultura Indonesia masuk ke pasar global. Bahkan ironisnya, usaha kerjasama yang dibuat pemerintah dengan negara maju malah lebih sering dimanfaatkan pengusaha negara lain ketimbang pengusaha dari dalam negeri.

Sebagai negara yang memiliki dua musim sebenarnya potensi Indonesia sebagai penghasil produk-produk unggulan hortikultura hampir saja tidak memiliki pesaing. Artinya bahwa potensi Indonesia sungguh besar, yatu memiliki kekayaan sumberdaya komoditas pertanian yang tinggi serta ketersediaan lahan pertanian yang lebih luas. Variasi topografi dan model demografi untuk mengahasilkan produk yang bervariasi juga terbuka luas.

Kendala yang sering terjadi diantaranya adalah, kontinuitas dan kualitas produk hortikultura yang sering diabaikan oleh produsen hortikultura. Bicara kontinuitas tentu saja produsen atau petani harus memiliki sistem budidaya yang terencana sekaligus memperhatikan berbagai kondisi. Kontinuitas produk hortikultura juga berkaitan langsung dengan konsistensi petani dalam mengusahakan produk hortikultura tertentu atau bahkan lebih spesifik. Tidak mudah berganti-ganti komoditas atau sekedar latah mengikuti tren.

Kualitas produk hortikultura juga masih sering menjadi penghalang terciptanya produk unggul. Sebagian besar petani bahkan masih sering meremehkan penanganan post harvest atau pasca panen. Padahal pasar dunia akan produk hortikultura yang fresh sangat menuntut standar mutu tertentu. Produk jenis ini sangat rentan kerusakan jika dalam penanganan dan pengemasan. Petani dan produsen harus faham teknologi yang digunakan dan harus memperlakukan produk ini spesial.

Menurut Bungaran Saragih yang merupakan Mantan Menteri Pertanian RI pola budidaya hortikultura harus berorientasi pasar. Manajemen pasca panen menjadi penentu kualitas dari produk hortikultura. Hasil produknya wajib memperhatikan ukuran, rasa dan corak sesuai selera pasar. Bungaran berharap dukungan pengusaha bidang hortikultura untuk melakukan kegiatan seperti yang dilakukan pebisnis hortikultura di Thailand. Mereka melakukan dari mulai melakukan eksport, memiliki kargo hingga perbankan. Karena itu, pengusaha di Indonesia harus menjadi koordinator pengembangan agribisnis hortikultura. Kalau motornya masih pemerintah akan sulit.

Perkembangan produksi buah tahun 2011 mencapai 18 ribu ton dengan volume eksport mencapai 223 ton sedangkan volume import mencapai 832 ton. Produksi sayuran tahun 2011 mencapai 10 ribu ton dengan volume eksport mencapai 133 ton sedangkan volume import 1,7 ribu ton.

Dengan melihat angka tersebut, tentunya peran pemerintah masih sangat perlu ditingkatkan. Pemerintah tidak perlu terlalu intervensi di wilayah permainannya petani. Sebab sebagian petani hortikultura lebih mandiri dan kreatif. Dukungan sarana dan prasarana dalam mengakomodir produk petani dan produsen serta menyiapkan sistem kerjasama yang baik dengan pengusaha. Sehingga didalam penciptaan dan penguatan pasar hortikultura tidak saling mencurigai. Membuat pembatasan import produk dan melakukan program serta kampanye peningkatan konsumsi buah atau sayur nusantara juga akan mendorong semangat petani dan produsen. Insentif yang pantas didapatkan oleh petani dan produsen produk hortikultura tidak sekedar uang, namun kenyaman dalam melakukan investasi juga penting.

Semoga sinergi yang dilakukan berbagai pihak untuk mengangkat citra buah dan sayur nusantara tidak hanya untuk pasar domestik namun juga pasar global. Semua piha

http://pertaniansehat.com/read/2012/10/08/produk-hortikultur-indonesia-menembus-pasar-dunia.html#sthash.kjKgpivz.dpuf

Tanaman Perkebunan

April 12, 2011 pukul 12:28 pm | Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar

Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) saat ini menembus di atas US$1.100 per ton.

Pekerja sedang memasukkan minyak sawit (CPO) ke kapal tongkang.

VIVAnews – Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) saat ini mencapai rekor hingga menembus di atas US$1.100 per ton. Kenaikan harga yang menembus di atas ramalan harga tahun ini sebesar US$800 per ton itu dinilai akibat La Nina yang menekan produsen kelapa sawit.
“Ada masalah dengan supply and demand, pasar bergerak cepat,” kata Bambang Aria Wisena, ketua Bidang Organisasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) di Jakarta, Senin 15 November 2010.Menurut Bambang, terdapat kegagalan panen di Ukraina dan Rusia, sehingga membuat produksi CPO turun. Di Indonesia, iklim yang buruk membuat target produksi meleset di bawah target, sehingga permintaan tinggi tidak didorong pasokan kelapa sawit yang bagus.Saat ini, dia melanjutkan, kelapa sawit menjadi primadona investasi akibat orang mulai kehilangan kepercayaan kepada dolar Amerika Serikat. Apalagi, didorong harga CPO yang melambung tinggi, sedangkan kebutuhan manusia terhadap minyak nabati terus meningkat.

“Kebutuhan dunia mencapai 160 juta ton per tahun minyak nabati, 30 persen di antaranya dipenuhi CPO,” ujar Bambang.

Bambang berharap, melambungnya harga CPO tersebut diharapkan dapat kembali normal seperti harga yang diprediksi sebelumnnya, yaitu US$800 per ton. Jika harga CPO terlalu tinggi, tentunya akan membebani masyarakat dengan mahalnya produk CPO yang ada di pasaran seperti minyak goreng.

Tingginya harga juga membuat banyak industri pengolah CPO melakukan penimbunan, karena ketakutan akan harga yang meningkat. Hal ini tentunya mendorong perusahaan pengolah CPO melakukan spekulasi dan menyebabkan harga semakin tinggi.

“Biasanya, mereka menyimpan basis produksi selama tiga bulan ke depan untuk mengantisipasi melonjaknya harga CPO. Idealnya harga US$800 per ton, karena kalau mahal kasihan juga masyarakat, harga minyak goreng jadi tinggi,” katanya.

Pakai Rupiah

Sementara itu, pengusaha kelapa sawit mendesak pemerintah agar menggunakan mata uang rupiah untuk harga patokan ekspor (HPE) kelapa sawit Indonesia. Selama ini, transaksi harga masih menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat.

Sekretaris Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono, mengatakan, hingga saat ini, HPE kelapa sawit masih menggunakan dolar AS sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Menteri Perdagangan.

Ia berharap, pada Januari 2011, HPE kelapa sawit sudah menggunakan rupiah. “Kami paksa Menteri Perdagangan pada Januari 2011 sudah pakai rupiah sebagai referensi harga nasional,” kata Joko.

Menurut Joko, saat ini, investor mulai kehilangan kepercayaan terhadap dolar AS, sehingga orang mencari instrumen investasi lebih baik dari dolar, salah satunya kelapa sawit.

Selain itu, penggunaan rupiah didorong untuk meningkatkan nilai Indonesia dalam perdagangan kelapa sawit. Sebab, Indonesia merupakan salah satu produsen komoditas sawit terbesar di dunia. Namun, harga masih ditentukan dengan dolar AS dengan patokan World Prices of Coconut Oil di Rotterdam (CIF Rotterdam).

Sementara itu, Bambang Aria Wisena mengaku jika rupiah ingin menjadi referensi harga, harus ada kepercayaan dari pasar dan industri lokal.

“Jika sudah jelas dan transparan, harga akan menggunakan rupiah dan GAPKI dapat berperan dalam menentukan tren pemain CPO seluruh dunia,” katanya. (art)

© VIVA.co.id

Tanaman Hias

April 12, 2011 pukul 12:28 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Tanaman Biofarmaka

April 12, 2011 pukul 12:27 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Peluang Investasi dan Peningkatan Ekspor Tanaman Biofarmaka / Fitofarmaka

Di Indonesia tanaman biofarmaka sangat kaya akan berbagai macam jenis dan speciesnya. Biofarmaka merupakan tanaman herbal yang berkhasiat obat dan juga kosmetika. Indonesia untuk jenis tanaman obat terdapat kurang lebih 30.000 spesies tanaman yang telah dibukukan sebagai tanaman obat, menurut Medical Herb Index. Untuk memacu pengembangan agribisnis berbasis fitofarmaka di tingkat petani, pentingnya peningkatan kemampuan petani dalam hal budidaya tanaman obat. Dalam hal budidaya, pasca panen dan pemasaran juga perlu ditingkatkan dalam upaya memacu pengembangan industri obat tradisional dan kosmetika Indonesia.

Potensi bisnis biofarmaka memiliki prospek bisnis yang cerah untuk peluang pemasaran domestik dan luar negeri. Peluang pengembangan Biofarmaka besar, baik untuk pasar domestik maupun untuk ekspor. Tanaman biofarmaka sebagai pangan fungsional yang potensi pengembangannya cukup besar adalah: temulawak, jahe, kencur dan kunyit, terutama untuk bahan minuman dan obat-obatan.

Hal ini kiranya para pelaku agrobisnis biofarmaka untuk  lebih berupaya lagi didalam mewujudkan potensi biofarmaka menjadi salah satu penggerak pembangunan pertanian melalui mutu dan kontinuitas penyediaan bahan baku. Sebagai contoh produk jamu Indonesia seperti Jamu Nyoya Meneer, Jamu Jago, Jamu Sido Muncul dan sebagainya baik digunakan dan diekspor ke luar negeri dan tidak kalah bersaing dengan produk China dan India. Dalam kesempatan ini peluang prospek bisnis tanaman berbasis biofarmaka masih memiliki peluang yang cerah untuk memenuhi potensi pasar. Sebagai dasar bahan konsumsi obat-obatan untuk pasokan pabrik obat/medicinal factory tentunya memerlukan jumlah untuk bahan baku yang cukup sesuai dengan mutu dan standardisasinya. Untuk itu diperlukan penanganan yang serius bagi petani ataupun pelaku usaha yang bergerak di bidang agrobisnis biofarmaka. Kesempatan ini tentunya yang mendasari untuk menjadi peluang pelaku usaha biofarmaka/fitofarmaka didalam menentukan pasar produk tersebut. Tentunya dapat dilakukan kemitraan dengan petani atau pelaku usaha biofarmaka dengan kesepakatan yang jelas mengenai pasar, sehingga para petani dapat mengetahui pangsa pasar yang jelas dan keadaaan situasi pasar. Dengan demikian prospek dan peluang pasar domestik dan Internasional semakin terbuka lebar apabila keiinginan yang ingin dicapai dari tanaman biofarmaka ini lebih diperhatikan sesuai dengan kebijakan dan strategi pasar yang mau berupaya didalam pengembangannya.

Produksi Tanaman Obat / Biofarmaka Indonesia (000) Ton

Year

Ginger

Galingale

Geater Galingale

Tumeric

Zingiber Aromaticum

Curcuma Aeruginosa

2001

128,436,556

26,153,883

11,112,058

27,195,183

4,794,449

1,662,517

2002

118,496,381

27,933,936

12,848,182

23,993,017

4,530,850

3,040,390

2003

125,386,480

24,588,226

19,527,111

30,707,451

4,684,297

4,490,430

2004

104,788,634

24,298,854

22,609,057

40,467,232

6,025,358

6,174,186

2005

125,827,413

36,292,530

35,478,405

82,107,401

8,896,585

7,724,957

Sources: berbagai sumber sebagai wacana.

Alsintan

April 12, 2011 pukul 12:27 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Pemupukan

April 12, 2011 pukul 12:27 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Pemupukan

Pemupukan

Pemupukan

Pupuk merupakan sumber unsur hara utama yang sangat menentukan tingkat pertumbuhan dan produksi tanaman. Setiap unsur hara memiliki peranan masing-masing dan dapat menunjukkan gejala tertentu pada tanaman apabila ketersediaannya kurang. Beberapa hal yang harus diperhatikan agar pemupukan efisien dan tepat sasaran adalah meliputi penentuan jenis pupuk, dosis pupuk, metode pemupukan, waktu dan frekuensi pemupukan serta pengawasan mutu pupuk (BUDIDAYA KELAPA SAWIT, Pusat Penelitian Kelapa Sawit / Indonesian Oil Plam Research Institute –IOPRI, 2003).

Tanaman Padi yg tidak menggunakan pupuk Plant Activator (kiri) dgn PA (kanan)

Pemupukan adalah tindakan yang dilakukan untuk memberikan unsur hara kepada tanah yang dibutuhkan untuk pertumbuhan normal tanaman. Adapun unsur hara esensial untuk pertumbuhan tanaman terdiri dari ;
1. Unsur hara Makro
– Carbon (C)
– Hidrogen (H) Didapat dari Udara dan Air
– Oksigen (O)
– Nitrogen (N) Didapat dari Tanah dan Air
– Fosfor (F)
– Kalium (K)
– Kalsium (Ca) Didapat dari Tanah
– Magnesium (Mg)
– Sulfur (S)
2. Unsur hara Mikro
– Boron (B)
– Klor (Cl)
– Tembaga (Cu)
– Besi (Fe) Didapat dari Tanah
– Mangan (Mn)
– Molibdenum (Mo)
– Seng (Zn)
Adapun dasar pertimbangan dilakukannya pemupukan adalah :
Pertama :Ketersediaan hara tanah, hal ini dapat terjadi karena kandungan hara dalam tanah yang berasal dari bahan induk pada umnumnya memang rendah. Kedua :Kehilangan hara tanah melalui panen, erosi dan penguapan.
Pemupukan juga dipengaruhi oleh :
1. Sifat dan cirri tanah, kemasaman tanah (pH)
Pengaruh pH tanah terhadap Nitrogen
Perubahan Amonium (NH4+) menjadi Nitrat (NH3-) akan berlangsung sebagai proses oksidasi enzimatik yang dibantu oleh bakteri Nitrobacter dan Nitrosmonas hal ini disebut proses Nitrifikasi (proses perubahan ammonium menjadi nitrat oleh bakteri) berlangsung antara kisaran pH 5,5 – 10,0 dengan pH optimum 8,5 (Pupuk dan Pemupukan. Jurusan Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Universitas Islam Sumatera Utara. Medan). Pada tanah yang masam atau pH tanah rendah, perubahan ammonium menjadi nitrat akan terhambat. Hal ini juga dipengaruhi oleh kandungan oksigen dalam tanah atau Aerasi tanah dan juga perbandingan kandungan Ca, P, Fe, Mn, serta unsur-unsur lainnya.
Penambatan N oleh liat
Pada tanah masam akan mempengaruhi ketersediaan N tanah. Hal ini terjadi karena adanya penambatan dari ion-ion ammonium antara kisi-kisi mineral yang sudah mengembang ataupun mengkerut.
Pengaruh pH tanah terhadap ketersediaan Fosfor & Kalium
Aktifitas ion P di dalam tanah berbanding lurus dengan pH tanah yang artinya bila pH naik sampai ketingkat tertentu maka P akan tersedia. Bila pH tanah rendah maka yang terjadi konsentrasi Al dan Fe meningkat yang akan bereaksi dengan fosfat membentuk garam Fe dan Al-P yang tidak larut. Kisaran pH untuk ketersediaan P yang terbaik adalah antara 6 – 7.
Pengaruh pH tanah terhadap unsur mikro
Ketersediaan unsur hara mikro dikaitkan dengan kegiatan mikro organisme tanah yang ikut mentransfer unsur tersebut ke tanah, misalnya organisme tanah membantu mempercepat proses oksidasi unsur Mn, Zn, Cu, Mo, dan Al.
2. Tekstur tanah
• Respon pemupukan N dan K lebih tinggi pada tanah ringan
• Respon pemupukan P lebih tinggi pada tanah berat
3. Iklim
• Air. Sebelum tanaman dapat mengabsorpsi hara, syaratnya adalah unsur hara tersebut harus terdapat pada zona perakoran (kondisi tanah yang lembab). Untuk keperluan transpirasi yang akan mengangkut Nitrat, Sulfat, Kalium, Magnesium ke akar dari daerah yang jauh dari jangkauan akar.
4. Temperatur
Temperatur yang terlalu rendah dapat menyebabkan tanaman tidak dapat menggunakan hara yang ditambahkan. Begitu pula jika temperatur terlalu tinggi, serapan hara semakin tinggi sampai batas yang dapat ditolerir tanaman.
5. Udara tanah
Secara langsung dapat mengatur kehidupan jasad renik tanah yang melakukan proses oksidasii enzimatik.
6. Pola pertanian
Tanaman semusim (Jagung, dll), Tanaman tahunan (Sawit, Karet, dll), Tanaman basah & kering (Padi), Tanaman intercropping (tanaman sela)
7. Pupuk yang digunakan
Jenis pupuk, Sifat & cirri-ciri pupuk, Dosis pupuk
KTK (Kapasitas Tukan Kation)
Adalah kapasitas tanah menyerap dan mempertukarkan ion. Ion dapat berupa kation dan besarannya disebut Kapasitas Tukan Kation (KTK).
KTK sangat penting berkenaan dengan kesuburan tanah, penyerapan unsur hara, ameliorasi tanah, dan mutu lingkungan.
Dengan daya serapnya, koloid tanah dapat menambat air hujan atau air irigasi dan kation tahan dari pelapukan mineral, mineralisasi bahan organik atau dari pupuk. KTK menjadi faktor pembentuk cadangan air dan hara basa dalam tanah yang dapat mengefisienkan penggunaan air dan hara basa oleh tumbuhan.
KTK tanah berbeda-beda tergantung pada;
– Kadar dan macam lempung dan kadar bahan organik; KTK makin besar
– Kadar bahan organik dan senyawa-senyawa organik penyusun bahan-bahan organik (tanah dan lingkungan).

Buah pare dengan pupuk Plant Activator
buah pisang dengan pupuk Plant Activator
Buah mangga dengan pupuk Plant Activator

Pupuk
Pupuk Dasar (Dolomit, Kieserite)
Pupuk Dasar berfungsi terhadap reaksi pH tanah (kesuburan tanah) yang sangat menentukan efisiensi pemupukan. Secara umum tanah-tanah di Indonesia bereaksi masam. Untuk itu, peran pupuk dasar sangat penting untuk perkembangan akar sehingga mempu menyerap hara dalam tanah.(IFDC, 1987. Fertilizer Manual. International Fertilizer Development Centre. United Nation Industrial Development Organization)
Reaksi tanah berdaya pengaruh langsung dan tak langsung terhadap perkembangan tanaman. Daya pengaruh langsung ialah pengendalian ketersediaan hara tumbuhan dan kegiatan jasad renik tanah.

Rudy Ramon Pohan, SE

081378687999

Buah Nenas dengan pupuk Plant Activator

ENDAHULUAN

Manfaat pupuk adalah menyediakan unsur hara yang kurang atau bahkan tidak tersedia di tanah menjadi tersedia untuk mendukung pertumbuhan tanaman.  Seperti yang telah kita ketahui bahwa pupuk yang diproduksi dan beredar di pasaran sangatlah beragam, baik dalam hal jenis, bentuk, ukuran, kandungan unsur hara maupun kemasannya.  Dengan beragamnya jenis pupuk dengan berbagai karakter masing-masing, sering membuat pemakainya kebingungan untuk menggunakannya.  Tidak mengherankan jika sering dijumpai kegagalan produksi tanaman sebagai akibat kesalahan pemupukan.  Untuk mengatasi hal tersebut sebelum dilakkan pemupukan ada beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu melakukan analisis tanah dan daun, mengidentifikasi gejala kekurangan unsur hara, dan menentukan metode pemupukan.

Analisis tanah dan daun adalah untuk mengetahui ketersediaan unsur hara dalam tanah dan unsur hara apa yang dibutuhkan tanaman.  Di samping itu dengan mengidentifikasi gejala kerusakan/kelainan pada tanaman kita sudah dapat memprediksi unsur hara yang kurang yang dibutuhkan tanaman.  Untuk mengaplikasikan pupuk sesuai dengan rekomendasi hasil analisis perlu metode pemupukan yang tepat, karena kesalan cara aplikasinya, pemupukan yang kita berikan tidak/kurang bermanfaat.

 

1.    Mengambil Sampel untuk Analisa Tanah dan Daun

Tujuan analisis

Sebidang tanah yang digunakan untuk kepentingan pertanian khususnya budidaya tanaman perlu mendapatkan perhatian yang seksama agar tanaman budidaya itu berhasil dengan baik, tanaman apa yang cocok, kandungan bahan-bahan mineral pada tanah apakah mencukupi atau masih terdapat kekurangan, atau ada diantara bahan-bahan yang terkandung itu mengandung racun, sehingga tanaman akan mati, selain itu apakah tanah terlalu masam atau basa.  Dengan memanfaatkan teknologi pertanian kita dapat melakukan analisis terhadap tanah untuk selanjutnya mendiagnosa tanaman apa yang cocok dikembangkan pada tanah tersebut atau memberikan unsur hara apa supaya keberadaannya tersedia dan mencukupi untuk tanaman yang kita tanam melalui pemupukan.  Selain analisis tanah harus dilengkapi pula dengan analisis jaringan tanaman yang digunakan/ditujukan untuk diagnosa kebutuhan hara suatu tanaman, pada masing-masing saat selama pertumbuhannya yang akan berpengaruh terhadap hasil.

Mengambil contoh tanah dan jaringan tanaman

Hasil analisis tanah yang dapat diperoleh akan sangat tergantung dari beberapa fakor antara lain dari cara pengamilan serta pengerjan contoh-contoh tanah yang dianalisis tersebut.

Contoh tanah yang baik hanya akan diperoleh jika pengambilannya memperhatikan persyaratan-persyaratan berikut :

  1. Dengan memperhatikan perbedaan-perbedaar tofografi, sifat atau watak tanah, warna tanah dan perbedaan-perbedaan lain yang menimbulkan kelainan.
  2. Merupakan contoh tanah individual, yang banyaknya tergantung dari keadaan lokasi yang dalam hal ini :
  • Kalau tanahnya homogen sebaiknya diambil 5 sampai 20 contoh anah.
  • Contoh-contoh tanah individual ini selanjutkanya dikumpulkan dan dicampur scara merata.
  • Kalau tanah homogen itu luas,  contohnya supaya diambil dari 2-5 ha.

<span>3.  Tidak mengambil contoh tanah dari sekitar perumahan, jalan, selokan, tanah bekas pembakaran, dan bekas timbunan pupuk.</span>

Dengan memperhatikan ketiga persyaratan tersebut di atas, analisis yang kita lakukan dapat diharapkan memberikan hasil yang baik.  Dengan hasil analisis yang diperoleh dapat ditafsir tentang status unsur hara yang terkandung dalam tanah, sifat tanah dan tinakan yang diperlukan untuk mengatasi gejala defisiensinya.

Cara pengambilan sampel tanah

Apabila kita telah mendapatkan tanah yang memenuhi syarat di atas, haruslah kita memperhatikan pula cara-cara pengambilan contoh tanah tersebu dari tanah tadi.  Cara-cara tersebut antara lain sebagai berikut :

  1. Pertama-tama kita harus memperhatikan tntang kebersihan permukaan tanahnya, apabila telah terbebas dari tanaman, dedaunan, sisa tanaman an kotoran lainnya, baru setelah benar-benar bersih kita lakukan pengambilan.
  2. Contoh tanah individual diambil dengan menggunakan alat bor tanah, tabung hoffer, cangkul atau sekop dari agian/lapisan tanah sdakam 10-20 cm.
  3. Contoh-contoh tanah individual (5-20 contoh) selanjutnya dicampur sehinga merata, bawa ke tempat yang teduh untuk ditebarkan agar menjadi kering udara.
  4. Banyaknya tanah kering udara yang diperlukan untuk suatu contoh adalah sekitar 500 – 1000 gram, kemudian dieri petunjuk (label) dari mana tanah itu diamil, letak dan tinggi tempat, jenis tanaman yang ada dan akan dianam, pemberian pupuk yang iasa dilakkan, warna tanah, dan penjelasan-penjelasan lain yan bersifat khusus yang mungkin diperlukan.

 

Cara pengambilan sampel daun

Cara-cara pengambilan sampel daun untuk pedoman pemupukan sangat tergantung pada jenis tanaman,  antara lain sebagai beriku :

  1. Tanaman Teh (Camellia Sinensis)

Bagian tanaman ini yang dapat dijadikan sampel bagi kepentingan analisis dan diagnosa yang hasilnya dapat dijadikan pedoman pemupukan yaitu; bagian folium, terutama daun muda kedua daru ujung tunas yang tumbuh dari bagian yang telah terpetik, pilih tanamannya yang tumbuh di bedengan/larikan bagian dalam, pengambilannya supaya dilakkan 8 minggu setelah masa petik. Kumpulkan daun pertama yang normal yang tertinggal di tunas.

Pengambilan contoh supaya dilakukan dari tanaman yan tumbuh pada petak pertanaman yang tetap dan mewakili petek-petak lainnya, luas petak terpilih sekitar 1 acre atau lebih.  Dapat juga diambil dari tanaman-tanaman yang tumbuh dengan baik di sepanjang diogonal pola (x) atau dari tanaman-tanaman yang tumbuh di sepanjang jajaran sebanyak 5-10% jumlah tanaman (jumlah hendaknya tidak kurang dari 25 tanaman).

  1. Tanaman Kelapa (Cocos nucifera)

Dari tanaman kelapa ini  bagian yang diperlukan untuk nalisis Yitu dua malai daun (pinnae) di kiri dan kanan tandan bunga dari tanaman sampai 4 tahun yaiu daun pertama dari malai yang baru saja terbuka, kemudian dari tanaman berumur 5-7 tahun (daun kesembilan) dan dari pohon yang lebih tua (daun keempat elas).

Pengambilan helai-helai daun malai tersebut yang berada di bagian tengah selebar 5 cm dari tiap malai daun, pohon-pohonnya tumbuh pada petak yang tetap, ambil sehlai daun dari 5-10% jumlah pohon yang tumbuh di lingkungan petak, atau diambil dari paling sedikit 25 pohon.

  1. Tanaman Kopi (Coffea arabica)

Bagian tanaman ini yang diperlukan bagi sampel yaitu foliumnya, terutama pasangan daun ketiga atau keempat dari ujung ranting samping (biasa disebut daun pertama atau daun ujung) yang paling sedikit mempunyai panjang, baik yang berbuah atau tidak, 1-2 helai daun ranting samping sebanyak 4 penjuru (mata angin).

Pengambilan contoh supaya dilakukan dari tanaman-tanaman yang tumbuh dari petak pertanaman yang tetap dan mewakili petak-petak yang lainnya.  Luas petak terpilh sekiar 1 acre atau leih, atau dapat juga diambil dari tanaman-tanaman yang tumbuh di sepanjang jajaran sebanyak 5-10% jumlah tanaman (jumlah hendaknya tidak kurang dari 25 tanaman).

  1. Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guinensis)

Dari tanaman kelapa sawit ini yang diperlukan untuk sampel yaitu 2 helai daun di kiri dan kanan tandan bunga di bagian tengan yang selebar 5 cm dari tiap helai dau.  Tanaman berumur sampai 2 tahun ambilah daun yang kesembilan, berumur 4 tahun atau lebih ambil daun yang ketujuh belas.

Pengambilan sampel supaya dilakukan  dari tanaman-tanaman yang tumbuh pada petak yang tetap, ambil sehelai daun dari 5-10% jumlah tanaman di lingkungan petak, sampel henaknya terkumpul dari paling sediki 25 tanaman.

  1. Tanaman Karet (Hevea brasiliensis)

Dari tanaman ini yang diperlukan untuk sampel yaitu lamina foliaris, terutama dari pohon yang berumur lebih dari 4 tahun diambil 4 helai daun pangkal dari tiap roset setiap pohon, roset yang berasal dari cabang terbawah yang terlindung dari panas matahari, daun hendaknya berumur 10-12 bulan.  Dari tanaman yang berumur 1,5-4 tahun dipilih 4 daun pangkal yang berasal dari roset yang tidak terlindung  sinar matahaari dan aun hendaknya berumur 4-6 bulan.

Pengambilan sampel tersebut hendaknya tidak kurang dari 25 batang yang mengikuti pola diagonal.

2. Mengidentifikasi Defisiensi Unsur Hara

 

Bentuk Ketersediaan Unsur Hara

Unsur hara yang diserap oleh tanaman dari dalam tanah terdiri dari 13 unsur mineral atau sering disebut unsur hara esensial.  Unsur hara ini sangat dibutuhkan oleh tanaman dan fungsi dari masing-masing unsur hara tidak dapat digantikan oleh unsur hara yang lain. Jika jumlahnya kuran mencukupi, terlalu lambat tersedia, atau tidak diimbangi oleh unsur-unsur lain akan menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu.

Dari 13 unsur hara yang diserap dari alam tanah, 6 unsur diantaranya diperlukan tanaman dalam jumlah lebih besar atau disebut unsur makro.  Tujuh unsur lainnya diperlukan tanaman dalam jumlah relatif lebih kecil atau serin disebut unsur mikro.

Unsur Hara Makro

1. Nitrogen (N)

Nitrogen diserap tanaman dalam bentuk ion nitrat (NO3-) dan ion amonium (NH4+).  Sebagian besar nitrogen diserap dalam bentuk ion nitrat karena ion tersebut bermuatan negatif sehinga selalu berada di dalam larutan tanah dan mudah terserap oleh akar.  Karena selalu berada alam larutan tanah maka iion nitrat lebih mudah tercuci oleh aliran air.  Sebaliknya ion amonium bermuatan positif sehingga terikat oleh koloid tanah.  Ion tersebut dapat dimanfaatkan oleh tanaman setelah melalui proses pertukaran kation.  Karena bermuatan positif , ion amonium tidak mudah hilang oleh proses pencucian.

Nitrogen adalah komponen utama dari berbagai substansi penting didalam tanaman.  Sekitar 40 – 50% kandungan protoplasma yang merupakan substansi hidup dari sel tumbuhan terdiri dari senyawa nitrogen.

2.  Fospor (P)

Fospor diserap tanaman dalam bentuk H2PO4-, HPO42 -, dan PO42 -, atau tergantung dari nilai pH tanah.  Fospor sebagian besar berasal dari pelapukan batuan mineral alami, sisanya berasal dari pelapukan bahan organik.  Keberadaan fospor dalam tanah mineral cukup banyak akan tetapi sebagian besar fospor terikat secara kimia oleh unsur lain sehingga menjadi senyawa yang sukar larut di alam air.  Mungkin hanya 1% saja fospor yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman.

Ketersediaan fospordi dalam tanah banyak ditentukan oleh pH tanah.  Pada tanah ber-pH rendah, fospor akan bereaksi dengan ion besi dan alumunium.  Reaksi ini mementuk besi fospat atau aluminium fospat yang sukar larut di alam air sehinga tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman.  Pada tanah er-pH tingi , fospat akan bereaksi dengan iopn kalsium. Reaksi ini membentuk kalsium fospat yang sifatnya sukar larut dan tidak apat digunakan oleh tanaman.  Dengan demikian, tanpa memperhatikan pH tanah, pemupukan fospat tidak akan berpengaruh bagi pertumbuhan tanaman.

3.    Kalium (K)

Kalium diserap tanaman dalam bentuk ion K-.  Di dalam tanah ion tersebut bersifat sangat dinamis, sehingga sangat mudah tercuci pada anah berpasir dan tanah dengan pH rendah.  Keberadaan kalium di dalam tanah cukup melimpah, tanah mengandung 400 – 650 kg kalium untuk setiap 93 m2 (pada kedalaman 15 cm).   Namun sekitar 90 – 98% berbentuk mineral primer yang tidak dapat terserap oleh tanaman.  Sekitar 1 – 10% terjebak dalam koloid tanah karena kaliumnya bermuatan positif.  Bagi tanaman ketersediaan kalium pada posisi ini agak lambat.  Hanya sekitar 1 – 2% terdapat di dalam larutan tanah dan mudah tersedia bagi tanaman.  Kandungan kalium sangat tergantung pada jenis mineral pembentuk tanah dan kondisi cuaca setempat.

Persediaan kalium di dalam tanah dapat berkurang karena tiga hal, yaitu pengambilan kalium oleh tanaman, pencucian  kalium oleh air dan erosi tanah.

Pada tanah berpasir harus dipertimbangkan kalium yang hanyut ke bawah area perakaran, selama musim tanam.  Pencucian akan lebih banyak terjadi jika pH tanah di bawah normal.  Pada tahan berpartikel liat, proses pencucian lebih tertekan dan pupuk kalium yang diberikan dapat bertahan lebih lama di dalam areal perakaran.  Pencucian kalium dapat ditekan  dengan program pengapuran,

Dalam pemupukan kalium, perhatikan jumlah kalium yang ersedia di dalam tanah (hasil analisis tanah).  Pada tanah ber pH rendah ketersediaan kaliumnya sangat rendah.  Faktor lain yang berpengaruh dalam menghitung jumlah pupuk kalium adalah kapasias tukar kation, jenis tanaman, hasil yang diharapkan, dan persentase kejenuhan basa (hasil analisis tanah).

4.    Sulfur (S)

Tanaman menyerap sulfur dalam bentuk ion sulfat (SO42-) yang tidak banyak terdapat di dalam tanah mineral.  Karena bermuatan negatif, ion sulfat mudah hilsng dari daerah perakaran karena tercuci oleh aliran air.  Sebagian besar sulfur di dalam tanah berasal dari bahan organik yang telah mengalami dekomposisi, sulfur elemental (bubuk/batu belerang) dari aktivitas vulkanis, dan partikel dari cerobong asap pabrik yang terbawa ke tanah oleh hujan.

Batu belerang di dalam tanah dapat berubah menjadi ion sulfat dalam waktu yang lebih lama, tergantung pada ukuran butirannya.  Cara terbaik untuk memangun cadangan sulfur adala dengan menambahkan bahan orrgnik dan menjaga agar jumlah bahan organik di dalam tanah tetap optimal.  Jika jumlah sulfur organik berkurang diperlukan pupuk dan perlakuan khusus untuk memperbaikinya.  Tnah yang ber-pH rendah mengandung ion sulfat yang rendah.  Selain hlang karena tercuci dan di amil tanaman, ion sulfat dapa hilang akarena menguap ke udara dalam bentuk H2S atau dalam bentuk gas sulfur yang lainnya.  Hal ini dapat terjadi jika tanah terlalu padat atau tergnang air sehinga kadar oksigennya sangat rendah.

5.    Magnesium (Mg)

 

Magnesium diserap tanaman dalam bentuk ion magnesium (Mg2+).  Di dalam tanah magnesium erasal dari pelapukan batuan mineral.  Kandungan magnesium pada tanah podsolik merah berkisar pada 0,05%.  Pada tanah di dekat pantai , kandungan magnesiumnya sampai 1,34%.  Karena bermuatan positif ion magnesium dapat terikat pada koloid tanah atao tetap berada di dalam larutan tanah.  Pada tanah ber-pH renah, ketersediaan magnesium juga rendah. Kehilangan magnesium dari dalam tanah disebabkan leh beberapa paktor, yakni pengambilan oleh tanaman, pemakaian sementara oleh mikroorganisme tanah, dan kehilangan karena hanyut oleh aliran air atau erosi.

Cara paling praktis untuk mengoreksi kekuranan magnesium pada tanah ber-pH rendah adalah dengan menebarkan kapur dolomit yan mengandung kalsium dan magnesium.  Pada tanah yang ber-pH tinggi diperlukan pupuk dengan kelarutan lebih cepat, misalnya magnesium sulfat.

6.    Calsium (Ca)

Kalsium diserap tanaman dalam bentuk ion kalsium (Ca2+).  Dalam tanah kalsium berasal dari mineral primer pementuk tanah, misalnya batu kapur.  Kandungan kalsium dalam tanah berkisar 0,1 – 0,5%.  Karena bermuatan positif, ion kalsium dapat terikat pada koloid tanah sehingga dikatagorikan sebaai kalsium yang tersedia bagi tanaman.  Namun, jika bereaksi dengan ion negatif, menjadi senyawa yang sukar dimanfaatkan oleh tanaman.

Unsur Hara Mikro

1.    Seng (Zn)

Seng diserap oleh tanaman dalam bentuk ion Zn2+.  seng merupakan bagian dari sistem enzim tanama.  Fungssi seng cukup pentin, antara lain sebagai katalisator dalam pembentukan protein, mengatur pembentukan asam indoleasetik (asam yang berfunsi sebagai zat pengatur tumbuh tanaman), dan berperan aktif dalam transformasi karbohidrat.

kekurangan seng dapat terjadi pada tanah yan mengandung kadar phosfat tinggi atau di daerah yang bersuhu rendah, misalnya di daerah pegunungan.

keberadaan seng di dalam tanah akan menurun seiring dengan peningkat5an pH.  Pada tanah berr pH 5-6, seng banyak tersedia.  Pada tanah ber pH 6-9, ketersediaan seng semakin menurun dan pada pH di atas 9, seng tidak lagi dapat diserap oleh tanaman.

2.    Besi (Fe)

Besi diserap tanaman dalam bentuk ion Fe2+.  Unsur mikro ini sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk pembentukan klorofil.  Besi berfungsi sebagai aktipator dalam proses biokimia di ddalam tanaman, seperti fotosintesis dan respirasi.  selain itu besi juga sebagai unsur pembentuk beberapa enzym tanaman.  Kekuranan besi di dalam tanah disebabkan oleh kadar Ca, P,atau Mn di dalam tanah yang terlalu tinggi.  Ketersedian besi akan menurun seiring dengan meningkatnya pH tanah.

3.    Mangan (Mn)

 Mangan diserap tanaman dalam bentuk ion Mn2+.    unsur mikro ini berfungsi sebagai aktifator berbagai enzim yang berperan dalam proses pembongkaran karbohidrat dan metabolisme nitrogen.  mangan bersama dengan besi membantu terbentuknya sel-sel kloropil.  ketersediaan mangan di dalam tanah akan menurun seiring dengan meningkatnya pH tanah.  faktor terpenting dalam mengintrol ketersediaan mangan di dalam tanah adalah pengaturan pH tanah.  Jika pH tanah di bawah 4,5, jumlaah mangan yang terlarut sangat banyak, sehingga menjadi racun.  Konsentrasi Mn yang terlalu besar di dalam larutan tanah juga dapat menekan penyerapan besi.  Dengan pengapuran yang tepat, efek buruk dari Mn dapat dihindari.

4.    Tembaga (Cu)

Tembaga diserap tanaman dalam bentuk ion Cu2+ atau ion Cu3+.  Tembaga adalah aktifator enzim dalam proses penyimpanan cadangan makanan.  Di alam tanaman ,tembaga memiliki beberapa peran, yaitu sebagai katalisator dalam proses pernapasan dan perombakan karbohidra, sebagai salah satu elemendalam proses pementukan vitamin A, dan scara tidak langsungberperan dalam proses pembentukan klorofil.

5. Boron (B)

Boron diserap tanaman dalam bentuk ion BO32-.  Unsur boron sangat dibutuhkan dalam proses diferensiasi (pementukan) sel sedang tumbuh.  Boron yang larut di dalam larutan tanah mudah hilang karena tecuci.  Kondisi ini terjadi pada tanah masam (pH dibawah 5) di daerah yan bercurah hujan tingi.  Ketersediaan boron paling tingi pada pH tsns 6-7 dan menurun pada anah bertekstur liat yang er pH 7,5-8,5.  Boron tidak bisa dipindahkan dari satu jaringan ke jaringan lain.

6.    Molibdenum (Mo)

 Molibdenum diserap tanaman dalam bentuk ion MoO42-.  Unsur mikro ini berperan dalam penyerapan N, pengikatan (fiksasi) N, asimilasi N, dan secara tidak langsung juga berperan dalam produksi asam amino dan protein.  Unsur ini juga berfungsi sebagai aktifaor beberapa jenis enzim.  Pada anah berpasir dan tanah ber pH rendah sanant mungkin mengalami kekuanan Mo karena terjadi proses pencucian.  Ketersediaan Mo meningkat seirin dengan peningkatan pH tanah. Shinga pH tanah adalah faktor terpenting alam mengontrol ketersediaan Mo.  Kekuranan Mo dapat dikoreksi dengan pengapuran yang tepat.

7.    Khlor (Cl)

Khlor diserap tanaman dalam bentuk ion Cl-.  Unsur mikro ini dibutuhkan dalam proses fotosintesis.  Keberadaannya tidak dihasilkan dari metabolisme tanaman.  Funsi khlor berkaitan langsung dengan pengaturan tekanan osmosis di dalam sel tanaman.  Kebutuhan Cl lebih sedikit dibanding dengan unsur mikro yang lain.  Jika di alam tanah terlalu banyak kandungan Cl, tanaman akan keracunan.  Penyerapan NO3-, SO42- juga akan menurun.

Gejala-gejala Difisiensi Unsur Hara

Pada praktik budidaya tanaman kita sering dihadapkan pada masalah pertumuhan tanaman tidak normal, yaitu tanaman kerdil, warna daun berubah dan kematian organ tanaman seterti daun, bunga dan buah yang ditandai dengan kerontokan.

Apabila tidak ada orgn lain yang menyebabkan gangguan atau kelainan pertumbuhan tersebut, maka kelainan pertumbuhan itu disebabkan adanya kekurangan/kelebihan salah satu atau beberapa unsur hara yang dibutuhkan tanaman.  Kelainan tumbuhan an gejala-gejala kekurangan unsur dikemukakan dalam uraian di bawah ini.

 3.      Menentukan Metode Pemupukan

 

Jenis-jenis Pupuk

1.    Pupuk sumber Nitrogen

  • Amoniun Nitrat

Kandungan nitratnya membuat pupuk ini cocok digunakan di daerah dingin dan daerah panas.  Pupuk ini akan membakar tanaman apabila diberikan terlalu dekat dengan akar tanaman atau kontak langsung engan daun.  Ketersediaan bagi tanaman sangat cepat sehingga frekuensi pemberiannya harus lebih sering.  Amonium Nitrat bersifat higroskopis sehingga tidak dapat disimpan lebih lama.

  • Amonium Sulfat

Pupuk ini dikenal dengan nama pupuk ZA, mengandung 21% nitrogen dan 26% sulfus, erbentuk kristal dan bersifat kurang higroskopis.  Reaksi kerjanya agak lambat sehinga cocok digunakan untuk pupuk dasar.  Sifat reaksinya asam, sehingga tidak disarankan untuk tanah ber pH rendah.

  • Kalsium Nitrat

Pupuk ini berbentuk butiran, berwarna putih, sangat cepat larut di dalam air.  Kalsium nitrat merupakan sumber kalsium yang baik karena mengandung 19% Ca.  Sifat lainnya adalah bereaksi basa dan higroskopis.

  • Urea

Pupuk urea memiliki kandungan N yang tinggi yaitu 46%, sehingga sangat higroskopis.  Urea mudah larut dalam air dan bereaksi cepat, juga mudah menguap dalam bentuk amonia.

2.    Pupuk sumber Fosfor

  • SP-36

Mengandung 36% fosfor dalam bentuk P2O5.  ppuk ini terbuat dari fosfat alam dan sulfat.  Berbentuk butiran an berwarna au-abu. Sifatnya agak sulit larut dalam air dan bereaksi lambat sehingga selalu digunakan sebagai pupuk dasar.  Reaksi kimianya tergolong netral, tidak higroskopis, dan tidak bersifat membakar.

  • Amonium Phosfat

Pupuk ini umumnya digunakan untuk merangsang pertumbuhan awal.  Bentuknya berupa butiran berwarna coklat kekuningan.  Reaksinya termasuk alkalis dan mudah larut di dalam air.  Sifat lainnya adalah tidak higroskopis sehingga tahan disimpan lebih lama  dan tidak bersifat membakar karena indeks garamnya rendah.

3.    Pupuk sumber Kalium

  • Kalium Klorida

Mengandung 45% K2O dan klor, bereaksi agak asam dan bersiat higroskopis.  Khlor berpengaruh negatif terhadap tanaman yang tidak membutuhkanya.

  • Kalium Sulfat

Pupuk ini lebih dikenal dengan nama ZK. Kadar K2O-nya sekitar 48-52%, berbentuk tepung putih yang larut di dalam air, bersifat asam.  Dapat digunakan sebagai pupuk dasar sesudah tanam.

  • Kalium Nitrat

Mengandung 13% N dan 44% K2O, berbentuk butiran berwarna putih yang tidak bersifat higroskopis dengan reaksi yang netral.

4.    Pupuk sumber unsur makro sekunder

  •  Kapur dolomit

Berbentuk bubuk berwarna putih kekuningan, dikenal sebagai bahan untuk menaikan pH tanah.  Dolomit adalah sumber Ca (30%) dan Mg (19%) yang cukup baik.  Kelarutannya agak rendah dan kualitasnya sangat ditentukan oleh ukuran butirannya.  Semakin halus butirannya semakin baik kualitasnya.

  • Kapur Kalsit

Dikenal sebagai kapur pertanian berbentuk bubuk berfungsi untuk meningkatkan pH tanah.  Warnanya putih dan butirannya halus, mengandung 90199% Ca.  Bersifat lebih cepat larut di dalam air.

  • Kalium Magnesium Sulfat (Paten Kali)

Pupuk ini mengandung 30% K2O, 12% S, dan 12% MgO, erbentuk butiran dan berwarna kuning.  Bersifat sukar larut dalam air.

  • Kapur Gypsum

Erbentuk bubuk berwarna putih.  Mengandung 39% Ca, 53% S, dan sedikit Mg.  Gypsum digunakan untuk meneralisir tanah yang erganggu karena kadar garam yang tingi.

  •  Bubuk Belerang

Bubuk belerang adalah sumber sulfur yang terbesar, kandungannya dapat mencapai 99%.   Namun bubuk ini tidak lazim digunakan untuk mengatasi defisiensi sulfur, tetapi lebih banyak digunakan untuk menurunkan pH tanah.

5.    Pupuk sumber unsur mikro

Pupuk sebagai sumber unsur hara mikro ersedia dalam dua entuk, yakni bentuk garam anorganik dan bentuk organik sinteis.  Kedua bentuk ini bersifat mudah larut di dalam air.  Contoh pupuk mikro yang berbentuk garam anorganik adalah Cu, Fe,Z dan Mn yan seluruhnya bergabung dengan sulfat.  Sebagai sumber boron, umumnya digunakan sodium tetra borat yang banyak digunakan sebagai pupuk aun.  Sumber Mo ummnya menggunakan sodium atau anonium molibdat.  Di baah ini berbagai garam anorganik dan kandungan unsur hara mikronya.

Bentuk organik sintetis ditandai dengan adanya agen pengikat unsur logam yang disebut chelat. Chelat adalah bahan kimia organik yang dapat mengikat ion logam seperti yang dilakkan koloid tanah.  Unsur hara mikro yang tersedia  dalam bentuk chelat adalah Fe, Mn, Cu, dan Zn.

Selain disediakan oleh kedua jenis pupuk di atas unsur mikro juga disediakan oleh berbagai pupuk majemuk yang banyak beredar di pasaran.

Karakteristik Pupuk

1.    Analisis pupuk

Kadar unsur hara yang dikandung pupuk disebut dengan analisis pupuk.  Untuk unsur makro kadar tersebut dinyatakan dalam satuan persen, sedangkan unsur mikro dinyatakan dalam satuan ppm.  Jenis unsur hara yang dikandung ppuk tidak dinyatakan dalam unsur tunggal tetapi dinyatakan dalam persentase total N, P2O5 dan K2O.  Sebagai contoh ppuk urea mengandung 45% N, berarti dalam 100 kg pupuk Urea terdapat 45 kg N total.

Pupuk NPK dengan analisis 15:15:15 menunjukkan pupuk tersebut mengandung 15% N, 15% P2O5 dan 15% K2O.  Analisis ppuk selalu tertera pada kemasan pupuk.  Jenis pupuk yang sama belum tentu mengandung analisis yang sama, biasanya berbea sekitar 1-2%.  Hal ini sangat tergantung pada pabrik pemuatnya.  Karena itu saangat penting membaca dan memaami label yang terdapat pada kemasan pupuk.

2.    Higroskopisitas

Higroskopisitas adalah sifat pupuk yang berkaitan dengan potensinya dalam mengikat air dari udara.  Pupuk dianggap bersifat higroskopis jika di tempat terbuka mudah sekali mencair.  Sifat ini sangat menentukan daya simapan pupuk.  Pupuk yang bersifat higroskopis hendaknya tidak disimpan terlalu lama dan harus disimpan di tempat yang tertutup (kedap udara), kalau tiak ppuk akan cepat mencair atau menggumpal.

3.    Daya larut

Daya larut merupakan kemampuan suatu jenis ppuk untuk terlarut dalam air.  Daya larut juga menentukan cepat atau lambatnya unsur hara yang ada di dalam pupuk untuk diserap tanaman atau hilang karena tecuci.  Pupuk engan daya larut tingi lebih cepat diserap oleh tanaman, tetapi mudah tercuci oleh hujan.  Pupuk yang mengandung nitrogen biasanya mempunyai daya larut yang tinggi.

4.    Reaksi pupuk

Setelah pupuk ditebarkan ke tanah, pH tanah dapat berubah menjadi lebih tingi atau lebih rendah.  Jenis pupuk yang menyebabkan pH tanah meningkat disebut pupuk bereaksi basa dan pupuk yang menyebabkan pH tanah menurun disebut pupuk bereaksi asam.

5.    Indeks garam

Penebaran pupuk di tanah kan meningkatkan konsentrasi garam di dalam tanah.  Peningkatan konsentrasi garam ini akan menaikan tekanan osmosis larutan tanah, sehingga berpenaruh terhadap proses penyerapan unsur hara.  Larutan tanah dengan tekanan osmosis yang tinggi dapat menyebabkan larutan hara tidak dapat terserap tetapi cairan sel justru akan keluar dari akar (plasmolisis jaringan akar).  Pupuk dengan indeks garam yang tinggi  harus ditempatkan lebih jauh dari perakaran tanaman dibanding dengan pupuk dengan indeks garam rendah.

Perhitungan Pupuk

Agar dosis pupuk yang ditebarkan sesuai dengan yang diinginkan, sebelum melakukan pemupukan diperlukan beberapa penghitungan.  Berikut beberapa contoh penghitungan pupuk sebeluk melaksanakan pemupukan.

contoh 1

Hasil analisis jaringan tanaman merekomendasikan untuk melakkan pemupukan pada tanaman perkebunan dengan 150 gram N, 75 gram P2O5, dan 150 gram K2O pertanaman.  Pupuk yang tersedia di pasaran adalah Urea (45% N), SP-36 (36% P2O5), dan KCl (60% P2O).  Berdasarkan rekomendasi pemupukan, bobot setiap pupuk yang diperlukan untuk memenuhi rekomendasi di atas adalah :

Urea yang diperlukan adalah : 100/45 x 150 g = 333,3 gram

SP-36 yang diperlukan adalah : 100/36 x 75 g = 208,3 gram

KCl yang diperlukan adalah : 100/60 x 150 g = 249,9 gram

contoh 2

Seorang petani kopi ingin memupuk tanaman peliharaannya dengan NPK 15:15:15 dengan dosis yang dianjurkan 500 kg NPK/ha.  Jenis pupuk yang tersedia adalah Urea (45% N), SP-36 (36% P2O5), dan KCl (60% P2O).  Langkah yang harus dilakkan adalah mencampur ketiga jenis pupuk tersebut sampai kadarnya setara dengan dosis pupuk NPK yang dianjurkan.  Pertama hitung kadar N, P dan K dalam dosis yang dianjurkan, dan akan diperoleh :

  • Kadar N                     = 15% x 500 kg = 75 kg
  • Kadar P2O5                = 15% x 500 kg = 75 kg
  • Kadar K2O                 = 15% x 500 kg = 75 kg

Selanjutnya hitung jumlah kebutuhan pupuk Urea, SP-36, dan KCl sebagai berikut :

  • Kebutuhan Urea      = 100/45 x 75 = 166,67 kg
  • Kebutuhan SP-36   = 100/36 x 75 = 208,33 kg
  • Kebutuhan KCl        = 100/60 x 75 = 124,99 kg

Aplikasi Pemupukan

Faktor penentu memilih cara aplikasi

Dalam menentukan cara aplikasi  atau penempatan pupuk  harus mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut.

a.    Tanaman yang akan dipupuk

  • Nilai ekonomi tanaman dan luas areal tanam.  Tanaman dengan nilai ekonomi yang tinggi atau mempunyai skala penanaman yang sangat luas dapat mempertimangkan cara penempatan pupuk dengan alat mekanis.
  • Umur tanaman.  Tanaman di pesemaian dapat dipupuk dengan cara menyemprotkan pupuk lewat daun.  Pupuk unuk tanaman di lapangan yang masih kecil diberikan dengan cara menugal.  Pada tanaman yang sudah besar pupuk dapat diberikan dengan cara larikan
  • Jarak tanam dan karakter tajuk.  Tanaman dengan jarak tanam yang rapat dapat dipupuk dengan cara larikan pada satu sisi barisan tanaman.  Tanaman yang ditanam berjauhan dapat dipupuk dengan cara membuat larikan yang melingkar mengelilngi pohon

b.    Jenis pupuk yang digunakan

  • Dalam pemupukan kita harus memperhatikan Mobilitasnya di dalam tanah.  Fosfor hampir tidak bersifat mobil, akibatnya pupuk ini tetap berada di tempat semula dalam jangka waktu yang lama sehingga diberikan sekaligus dan harus diberikan dekat dengan perakaran dengan cara menugal atau larikan.  Pupuk Kalium dan Nitrogen cenderung mudah bergerak dari tempat penbarannya.  Pola pergerakannya vertikal ke bawah bersama-sama air. Karena sifatnya yang mobil pupuk kalium dan nitrogen dapat diberikan dengan ara ditebar dipermkaan tanah atau atau dengan larikan.
  • Indeks garam. Pupuk dengan indeks garam yang tingi tidak boleh ditempatkan terlalu dekat dengan akar karena akan merusak tanaman.
  • Ukuran pupuk.  Pupuk dengan ukuran  butiran yang sangat halus seperti kapur umumnya ditebar di atas permukaan tanah.

c.    Dosis Pupuk

Tidak disarankan menempatkan pupuk dengan dosis sangat tinggi di dalam larikan karena akan merusak tanaman.  Pupuk tersebut sebaiknya ditebar agar idak erjadi penumpukan disatu tempat.

Cara aplikasi pupuk

1.    Larikan

Caranya buat parit kecil di samping baris tanaman sedalam 6-10 cm, tempatkan pupuk di dalam larikan tersebut, kemudian tutup kembali.  Cara ini dapat dilakukan pada satu atau kedua sisi tanaman.  Pada tanaman dengan jarak tanam yang lebar larikan dibuat melingkar di sekeliling pohon dengan jari-jari 0,5-1 kali jari-jari tajuk pohon.

2.    Penebaran secara merata di atas permukaan tanah

Cara ini biasanya dilakukan sebelum penanaman atau bersamaan dengan pengolahan tanah, seperti pada aplikasi kapur.  Pada pemupukan susulan hal ini dapat dilakukan untuk pupuk yang tidak mudah menguap.

 3.    Pop Up

Caranya ppuk dimasukkan pada lubang tanam pada saat penanaman bibit.  Pupuk yang digunakan harus yang indeks garamnya rendah agar tidak merusak bibit.

4.    Fertigasi

Pupuk dilarutkan kedalam air dan disiramkan pada tanaman melalui air irigasi.  Cara ini banyak dilakukan pada pembibitan

Waktu pemupukan

Dilihat dari sifat bereaksinya pupuk ada yang cepat ada yang lambat, sehingga hal ini akan mempengaruhi kepada kapan pupuk itu harus diberikan.  Pupuk yang bereaksi cepat biasanya diberikan diawal tanam sebagai pupuk dasar dan akan tersedia dalam jangka waktu yang lama sehingga frekuensi aplikasinya sedikit.  Sedangkan pupuk yang bereaksi cepat biasanya diberikan secara bertahap karena pupuk ini cepat tercuci sehinga cepat berkurang ketersediaanya dalam tanah.  Dilihat dari peranannya ada yang berperan dalam pertumuhan vegetatif dan generatif, sehinga pemberiannyapun disesuaiakan dengan masa pertumbuhan tanaman.

DAFTAR PUSTAKA

  

Mul Mulyani Sutedjo, Ir. 1985. Pupuk dan Cara Pemupukan. Bina Cipta. Jakarta.

Sri setyadi Harjadi, MM., Dr. 1979. Pengantar Agronomi. PT. Gramedia. Jakarta.

Mul Mulyani Sutedjo, Ir. 1989. Analisis Tanah, Air, dan Jaringan Tanaman. Rineka Cipta. Jakarta.

Novizan, Ir. 2001. Petunjuk Pemupukan yang Efektif. AgroMedia Pustaka. Jakarta.

Artikel Terkait:

Hama dan Penyakit (PHT)

April 12, 2011 pukul 12:26 pm | Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar

Mengatasi Hama dengan Kumbang dan Laba-laba

Pada Edisi sebelumnya (Kobar Warga, Selasa, 23 Maret 2010), digambarkan bagaimana cara mengatasi serangan hama dengan ramuan-ramuan tanaman dengan campuran bahan-bahan organik. Pada edisi kali ini, akan disajikan manfaat serangga, kumbang dan laba-laba sebagai musuh alami untuk pemberantasan hama tanaman.Musuh Alami Hama
Musuh alami merupakan salah satu komponen pengendalian hama terpadu yang dapat dimanfaatkan pada segala pola tanam. Pengendalian hama dengan memanfaatkan musuh alami memberikan banyak keuntungan di samping aman terhadap lingkungan, berkembang secara alami di lapang, apabila keberadaannya dapat diusahakan sejak awal akan efektif menekan perkembangan populasi hama.
Dalam sejarah pengendalian hama perhatian terhadap musuh alami sangat berkurang semenjak secara sepihak penggunaan pestisida dianggap satu-satunya metode pengendalian yang dapat diandalkan. Namun pengendalian dengan pestisida menimbulkan banyak efek samping baik masalah resistensi, resurjensi, dan terhadap organisme bukan sasaran. Kesadaran terhadap pentingnya pemanfaatan musuh alami dalam pengendalian hama sangat penting. (pangan.litbang.deptan.go.id)Musuh alami hama wereng hijau bisa berupa predator, parasit maupun patogen. Secara harfiah, predator dapat dikatakan sebagai pemangsa. Namun, dalam hubungannya dengan jaring-jaring makanan, predator merupakan konsumen tingkat-2 sampai tingkat selanjutnya yang memangsa tingkat yang lebih kecil. Jadi, predator dapat dikatakan sebagai binatang atau organisme yang memakan binatang/organisme lainnya untuk mempertahankan hidupnya dan dilakukan secara berulang-ulang.Keberadaan predator dalam suatu ekosistem mutlak dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan lingkungan yang ada. Predator merupakan serangga yang memangsa serangga lain dengan cara menangkap, menghisap cairan atau memangsa habis seluruh tubuh. Untuk melengkapi daur hidupnya untuk tujuan kelangsungan hidup, seekor predator memerlukan beberapa bahkan banyak mangsa. Hal ini berbeda dengan parasit. Parasit memerlukan satu ekor inang saja sebagai tempat untuk melengkapi daur hidupnya. (www.tanindo.com).Pentingnya Predator
Keberadaan dan pentingnya predator dalam ekosistemnya dapat kita lihat kasus sebagai berikut : saat kita memulai menanam padi, maka saat itu juga kita memulai menciptakan sebuah komunitas baru pada areal penanaman padi. Pada saat bersamaan kita tidak hanya menanam padi melainkan juga hama penghisap bulir, penggerek batang, penyakit malai, penyakit busuk malai, predator Lycosa pesudoannulata, Pederus fuscifes, Ophionea nigrofasciata dan kumbang coccinella yang semuanya terkait dengan tanaman padi yang kita tanam. Begitu pula halnya dengan tanaman perkebunan yang dibudidayakan.Penggunaan pestisida yang berlebihan, berspektrum luas dan tidak selektif disertai tehnik budidaya yang kurang baik akan berdampak pada ketidakseimbangan ekosistem, karena tidak hanya hama saja melainkan semua pemangsanya pun turut musnah. Dan bila terjadi ledakan populasi hama yang baru, jumlah predator yang ada tidak mencukupi sehingga pengendalian biologis tidak akan efektif.Melihat pentingnya peran predator dan parasit dalam menjaga dan mengendalikan populasi hama, maka upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengurangi penggunaan insektisida yang berspektrum luas, aplikasi insektisida dengan melakukan pengamatan perbandingan jumlah hama dan musuh alami, bahkan bila perlu dalam suatu areal penanaman dilakukan manipulasi lingkungan agar mendukung peran dan jumlah musuh alaminya.Musuh Alami Hama:
Laba-laba Serigala (Lycosa pseudoanulata)
Laba-laba Bermata Jalang (Oxyopes javanus)
Laba-laba Berahang Empat (Tetragnatha spp.)
Kepik Permukaan Air (Microvellia douglasi atrolineata)
Kepik Mirid (Cyrtorhinus lividipennis)
Kumbang Stacfilinea (Paederus fuscipes)
Kumbang Karabid (Ophionea nigrofasciata)
Kinjeng Dom (Agriocnemis spp.)
Belalang Bertanduk Panjang (Conocephalus longipennis)
Kumbang Koksinelid (Synharmonia octomaculata)Disajikan oleh:
Lembaga Kajian & Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU dan Lembaga Pengembangan Pertanian NU Jombang.

ursday, 21 June 2007

Pengendalian Gulma Menggunakan Kertas

Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi. Keberadaan gulma menurunkan hasil karena mengganggu pertumbuhan tanaman produksi melalui kompetisi. Terdapat beberapa jenis tumbuhan dikenal sebagai gulma utama, seperti rumput-rumputan, teki dan alang-alang. Ilmu yang mempelajari gulma, perilakunya, dan pengendaliannya dikenal sebagai ilmu gulma.Herbisida adalah senyawa atau material yang disebarkan pada lahan pertanian untuk menekan atau memberantas tumbuhan yang menyebabkan penurunan hasil (gulma). Lahan pertanian biasanya ditanami sejenis tanaman pertanian. Namun demikian tumbuhan lain juga dapat tumbuh di lahan tersebut. Karena kompetisi dalam mendapatkan hara di tanah, perolehan cahaya matahari, dan atau keluarnya substansi alelopatik, tumbuhan lain ini tidak diinginkan keberadaannya. Herbisida digunakan sebagai salah satu sarana pengendalian tumbuhan “asing” iniTehnik baru untuk pengendalian atau mencegah pertumbuhan gulma pada lahan yang ditanami padi di sawah dengan cara menutupi tanah tempat bercocok tanam menggunakan kertas. Dengan penutupan tanah dengan kertas pada sawah tersebut dapat mencegah tumbuhnya gulma karena tidak terdapat sinar matahari yang masuk.Cara penutupan kertas dan penanaman padi dilakukan dengan menggunakan mesin yang terintegrasi. Proses penutupan kertas diatas tanah dan penanaman padi dilakukan secara bersamaan. Kertas digulung dalam mesin dan dihamparkan terlebih dahulu, sementara pada mesin yang sama sudah disiapkan bibit padi yang siap ditancamkan pada saat begitu kertas dihamparkan.Dengan cara demikian gulma tidak tumbuh sehingga dapat menghindari penggunaan herbisida, tidak menggunakan tenaga kerja untuk menyiangi dan dapat menghemat ongkos produksi dan dapat mendukung pertanian organik.


Gambar kertas yang tergulung sebelum dipasang pada mesin.


Kertas dalam mesin tanam dipasang di tempat penggulungan kertas di sebelah depan (kanan). Sedangkan tempat bibit yang siap ditanam terlihat berderet di sebelah belakang (kiri).


Hamparan tanaman padi milik seorang petani di Fukui Jepang, tidak terdapat gulma sedikitpun diatas tanahnya yang tertutup dengan kertas.

ARTIKEL

Modul Pengendalian Hama Terpadu (PHT)

Juknis HPT Jagung

Hama Dan Penyakit Kubis

Hama Penyakit Pepaya

HPT Tanaman Padi

Jenis-Jenis Hama Pada Tanaman

Jenis Hama Tanaman

Penyakit Pada Tanaman

Fitopatologi Penyakit Tanaman

Foto Serangga Pada Tanaman

Identifikasi Serangga Pada Tanaman

Insektisida atau Pestisida Alami

Pestisida Hayati

Musuh alami dan hama pada jambu mete

(Beneficial insects and pests of cashew)

Download PDF 1249 kb

Musuh alami dan hama pada kapas

(Beneficial insects and pests of cotton)

Download PDF 2292 kb

Musuh alami dan hama pada kakao

(Beneficial insects and pests of cacao)

Download PDF 1428 kb

Musuh alami dan hama pada kopi

(Beneficial insects and pests of coffee)

Download PDF 1045 kb

Musuh alami dan hama pada lada

(Beneficial insects and pests of black pepper)

Download PDF 1106 kb

Musuh alami dan hama pada teh

(Beneficial insects and pests of tea)

Download PDF 1239 kb

Pemasaran

April 12, 2011 pukul 12:25 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

MARGIN PEMASARAN HASIL PERTANIAN

Produktivitas hasil pertanian selalu mengalami fluktuasi, sedangkan harga hasil pertanian ditingkat prodesen cenderung mengalami peningkatan yang cukup berarti, hal ini diduga berkaitan dengan rendahnya produktivitas dari hasil pertanian. Singh dalam Sahara (2001) mengatakan bahwa fluktuasi harga yang tinggi di sektor pertanian merupakan suatu fenomena yang umum akibat ketidakstabilan (inherent instability) pada sisi penawaran.

Hal ini berarti harga hasil pertanian disebabkan oleh sifat alami dari produksi pertanian, yaitu dalam jangka pendek tidak dapat merespon tambahan permintaan atau tidak dapat mengurangi produksi pada saat harga yang rendah. Pengaruh fluktuasi harga pertanian lebih besar bila dibandingkan dengan fluktuasi produksi. Keadaan ini dapat menyebabkan petani menderita kerugian dalam jangka pendek sehingga menimbulkan kurangnya keinginan untuk melakukan investasi di sektor pertanian atau petani akan beralih ke komoditas yang memiliki harga jual yang lebih tinggi.

Selanjutnya banyaknya lembaga tataniaga yang terlibat dalam pemasaran hasil pertanian akan mempengaruhi panjang pendeknya rantai tataniaga dan besarnya biaya tataniaga. Besarnya biaya tataniaga akan mengarah pada semakin besarnya perbedaan harga antara petani produsen dengan konsumen. Hubungan antara harga yang diterima petani produsen dengan harga yang dibayar oleh konsumen pabrikan sangat bergantung pada struktur pasar yang menghubungkannya dan biaya transfer. Apabila semakin besar margin pemasaran ini akan menyebabkan harga yang diterima petani produsen menjadi semakin kecil dan semakin mengindikasikan sebagai sistem pemasaran yang tidak efisien (Tomek and Robinson, 1990).

Persoalan mutu dan harga hasil pertanian merupakan bagian dari masalah tataniaga hasil pertanian yang tidak dapat dipisahkan karena mempunyai dampak langsung terhadap pihak-pihak yang terkait dalam perdagangan hasil pertanian. Selain itu keberadaan lokasi lahan pertanian yang terpencar-pencar dan jauh dari pusat perekonomian yang mengarah pada terbentuknya rantai tataniaga yang panjang karena adanya peran hierarki dari pedagang perantara yang cenderung menambah kompleksitas upaya perbaikan mutu hasil pertanian.

Analisis margin pemasaran digunakan untuk mengetahui distribusi biaya dari setiap aktivitas pemasaran dan keuntungan dari setiap lembaga perantara serta bagian harga yang diterima petani. Atau dengan kata lain analisis margin pemasaran dilakukan untuk mengetahui tingkat kompetensi dari para pelaku pemasaran yang terlibat dalam pemasaran/disribusi (Tomeck and Robinson, 1990; Sudiyono, 2001).

SISTEM PENGEMBANGAN AGRIBISNIS

Agribisnis berasal dari kata Agribusiness, di mana Agri=Agriculture artinya pertanian dan Business artinya usaha atau kegiatan yang menghasilkan keuntungan. Jadi, Agribisnis adalah segala kegiatan yang berhubungan dengan pengusahaan tumbuhan dan hewan (komoditas pertanian, peternakan, perikanan, dan kehutanan) yang berorientasi pasar (bukan hanya untuk pemenuhan kebutuhan pengusaha sendiri) dan perolehan nilai tambah.

Dalam agribisnis terdapat dua konsep pokok. Pertama, agribisnis merupakan konsep dari suatu sistem yang integratif dan terdiri dari beberapa sub-sistem, yaitu: (1) sub-sistem pengadaan sarana produksi (agroindustri hulu), (2) sub-sistem produksi usahatani, (3) subsistem pengolahan dan industri hasil pertanian (agroindustri hilir), (4) sub-sistem pemasaran dan perdagangan, dan (5) sub-sistem kelembagaaan penunjang (Davis and Golberg, 1957; Downey and Erickson, 1987); Saragih (1999) (lihat Diagram 1). Sub-sistem kedua dan sebagian dari sub-sistem pertama dan ketiga merupakan on-farm agribusiness, sedangkan sub-sistem lainnya merupakan off-farm agribusiness.

Uraian di atas menunjukkan bahwa kegiatan agribisnis merupakan (a) kegiatan yang berbasis pada keunggulan sumberdaya alam (on-farm agribusiness) yang terkait erat dengan penerapan teknologi dan keunggulan sumberdaya manusia bagi perolehan nilai tambah yang lebih besar (off-farm agribusiness); serta (b) kegiatan yang memiliki ragam kegiatan dengan spektrum yang sangat luas, dari skala usaha kecil dan rumahtangga hingga skala usaha raksasa, dari yang berteknologi sederhana hangga yang paling canggih, yang kesemuanya itu saling terkait dan saling mempengaruhi.

Dalam usaha mempercepat laju pertumbuhan sektor agribisnis terutama dihadapkan dengan kondisi petani kita yang serba lemah (modal, skill, pengetahuan dan penguasaan lahan) dapat ditempuh melalui penerapan sistem pengembangan (system of development) agribisnis. Dalam konteks bahasan ini, yang dimaksud “sistem pengembangan agribisnis” adalah suatu bentuk atau model atau sistem atau pola pengembangan agribisnis yang mampu memberikan keuntungan layak bagi pelaku-pelaku agribisnis (petani/peternak/pekebun/ nelayan/pengusaha kecil dan menengah/koperasi), berupa peningkatan pendapatan, peningkatan nilai tambah dan perluasan kesempatan kerja.

Di Indonesia sejak dilaksanakan pembangunan pertanian, telah diterapkan beberapa sistem pengembangan pertanian berskala usaha baik untuk komoditi pangan maupun non pangan. Jika dikaji lebih jauh tujuan dan sasaran “sistem pengembangan” yang pernah diterapkan di sektor pertanian, pada hakekatnya adalah pengembangan sektor pertanian (dalam arti luas) secara menyeluruh dan terpadu, yakni tidak hanya peningkatan produksi, tetapi juga pengadaan sarana produksi, pengolahan produk, pengadaan modal usaha dan pemasaran produk secara bersama atau bekerjasama dengan pengusaha. Sistem pengembangan sektor pertanian semacam ini, jika menggunakan istilah sekarang, tidak lain adalah pengembangan pertanian berdasarkan agribisnis, atau dengan kata lain pengembangan agribisnis. Di antara sistem-sistem tersebut ada yang diterapkan oleh pemerintah berupa kebijakan nasional dan ada pula yang telah berhasil diterapkan oleh kelompok masyarakat atau kelompok peneliti, akan tetapi masih bersifat per kasus. Adapun sistem-sistem tersebut antara lain: Unit Pelaksana Proyek (UPP), Insus dan Supra Insus, Sistem Inkubator, Sistem Modal Ventura, Sistem Kemitraan (Contract Farming) dalam berbagai bentuknya seperti Pola PIR, Pola Pengelola, Sistem ‘Farm Cooperative’, dll. Jadi dalam rangka pengembangan agribisnis hortikultura, pelaku-pelaku agribisnis dapat menerapkan satu atau lebih sistem tersebut sesuai dengan kondisi lokalitas.

Sistim informasi Pengolahan Dan Pemasaran Hasil Pertanian

Pertanian Organik

April 12, 2011 pukul 12:24 pm | Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar

Apa itu Pertanian Organik

Alam mengajari kebajikan bagi umat manusia. Alam merupakan suatu kesatuan, terdiri dari banyak bagian, seperti organisme dengan organ-organnya. Semua bagian berjalan dalam harmoni, saling melayani dan berbagi. Tiap organ memiliki peran masing-masing, saling melengkapi dan memberikan sinergi untuk menghasilkan keseimbangan secara optimal, dan berkelanjutan. Setiap komponen tidak berpikir dan beraksi hanya demi ‘aku’, tetapi untuk ‘kita’: keseluruhan alam. Demikian halnya Alam, melindungi dan mengayomi bagian-bagiannya secara harmonis. Itulah organis, tidak egois.

Pertanian organik (PO) juga tunduk pada prinsip diatas, pada hukum alam. Segala yang ada di alam adalah berguna dan memiliki fungsi, saling melengkapi, melayani dan menghidupi untuk semua. Dalam alam ada keragaman hayati dan keseimbangan ekologi. Maka, PO pun menghargai keragaman hayati dan keseimbangan ekologi. Berjuta tahun alam membuktikan prinsipnya, tak ada eksploitasi selain optimalisasi pemanfaatan. Demikian halnya PO, tidak untuk memaksimalkan hasil, tidak berlebih; tetapi cukup untuk semua makhluk dan berkesinambungan. Inilah filosofi mendasar PO.

Perkembangan Pertanian Organik
Praktek pertanian yang menggunakan bibit unggul yang dihasilkan oleh perusahaan benih, bahan-bahan kimia buatan pabrik (agrokimia) —baik untuk pemupukan lahan dan pengendalian hama— awalnya dirasakan dapat meningkatkan hasil produksi pertanian. Namun, setelah beberapa dekade, praktek tersebut menimbulkan permasalahan khususnya terhadap kerusakan ekosistem lahan pertanian dan kesehatan petani itu sendiri.

Penurunan hasil pertanian yang dibarengi dengan meningkatnya daya tahan hama dan penyakit tanaman, disebabkan karena fauna tanah yang bermanfaat bagi tanaman semakin berkurang dan mikroorganisme yang berguna bagi kesuburan tanah pun nyaris hilang akibat pemakaian input agrokimia yang berlebihan. Bahkan, hama dan penyakit tanaman bukannya menurun, tapi justru semakin kebal terhadap bahan-bahan kimia tersebut. Sehingga, petani memerlukan dosis yang lebih tinggi lagi untuk membasminya. Ini artinya, petani tidak saja menebar racun untuk membasmi hama dan penyakit, tetapi juga meracuni dirinya sendiri.

Perhatian masyarakat dunia terhadap persoalan pertanian, kesehatan dan lingkungan global dalam dasawarsa terakhir ini semakin meningkat. Kepedulian tersebut dilanjutkan dengan usaha-usaha yang konkrit untuk menghasilkan pangan tanpa menyebabkan terjadinya kerusakan sumber daya tanah, air, dan udara serta aman bagi kesehatan manusia. Salah satu usaha yang dirintis adalah dengan pengembangan PO yang akrab lingkungan dan menghasilkan pangan yang sehat, bebas dari residu obat-obatan dan zat-zat kimia yang mematikan.

Sebenarnya, PO ini sudah menjadi kearifan/pengetahuan tradisional yang membudaya di kalangan petani di Indonesia. Namun, teknologi pertanian organik ini mulai ditinggalkan oleh petani ketika teknologi intensifikasi yang mengandalkan bahan agrokimia diterapkan di bidang pertanian. Sejak saat itu, petani menjadi target asupan agrokimia dan tergantung dari pihak luar. Setelah muncul persoalan dampak lingkungan akibat penggunaan bahan kimia di bidang pertanian, teknologi PO yang akrab lingkungan dan menghasilkan pangan yang sehat mulai diperhatikan lagi. (Sutanto, 2002).

Apa dan Bagaimana Budidaya PO ?
PO merupakan pertanian yang selaras dengan alam, menghayati dan menghargai prinsip-prinsip yang bekerja di alam yang telah menghidupi segala mahluk hidup berjuta-juta tahun lamanya. PO merupakan proses budidaya pertanian yang menyelaraskan pada keseimbangan ekologi, keanekaragaman varietas, serta keharmonian dengan iklim dan lingkungan sekitar. Dalam prakteknya, budidaya PO menggunakan semaksimal mungkin bahan-bahan alami yang terdapat di alam sekitarnya, dan tidak menggunakan asupan agrokimia (bahan kimia sintetis untuk pertanian). Lebih jauh, karena PO berusaha ‘meniru’ alam, maka pemakaian benih atau asupan yang mengandung bahan-bahan hasil rekayasa genetika (GMO/Genetically Modified Organism) juga dihindari.

Kerapkali PO hanya dipahami secara teknis bertani yang menolak asupan kimiawi atau sebagai budidaya pertanian yang anti modernisasi atau disamakan dengan pertanian tradisional. Pemahaman ini sungguh kurang tepat. PO bukan sekedar teknik atau metode bertani, melainkan juga cara pandang, sistem nilai, sikap dan keyakinan hidup. PO memandang alam secara menyeluruh, komponennya saling tergantung dan menghidupi, dimana manusia juga adalah bagian di dalamnya. Sistem nilai PO mendasarkan pada prinsip-prinsip hukum alam. PO juga mengajak petani dan manusia umumnya untuk arif dan kreatif dalam mengelola alam yang tercermin dalam sikap dan keyakinannya. PO juga tidak menolak penggunaan teknologi modern di dalam praktek budidayanya, sejauh teknologi modern tersebut selaras dengan prinsip PO, yaitu keberlanjutan, penghargaan pada alam, keseimbangan ekosistem, keanekaragaman varietas, kemandirian dan kekhasan lokal. Maka, baik kearifan tradisional dan teknologi modern yang tunduk pada prinsip alam, keduanya mendapat tempat dalam PO.

Gerakan PO mencoba menghimpun seluruh usaha petani dan pelaku lain, yang secara serius dan bertanggungjawab menghindarkan asupan dari luar yang meracuni lingkungan dengan tujuan untuk memperoleh kondisi lingkungan yang sehat. Mereka juga berusaha menghasilkan produksi tanaman yang berkelanjutan dengan cara memperbaiki kesuburan tanah dan menggunakan sumberdaya alami seperti mendaur ulang limbah pertanian.

Budidaya PO, juga mendorong kemandirian dan solidaritas di antara petani sebagai produsen. Mandiri untuk tidak tergantung pada perusahaan-perusahaan besar penyedia pupuk dan bahan agrokimia serta perusahaan bibit. Solidaritas untuk berdaulat dan berorganisasi demi mencapai kesejahteraan, pemenuhan hak dan keadilan sosial bagi petani.

Prospek Pertanian Organik

Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian. Orang semakin arif dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup sehat dengan slogan �Back to Nature� telah menjadi trend baru meninggalkan pola hidup lama yang menggunakan bahan kimia non alami, seperti pupuk, pestisida kimia sintetis dan hormon tumbuh dalam produksi pertanian. Pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik.

Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Gaya hidup sehat demikian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Preferensi konsumen seperti ini menyebabkan permintaan produk pertanian organik dunia meningkat pesat.

Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya hayati tropika yang unik, kelimpahan sinar matahari, air dan tanah, serta budaya masyarakat yang menghormati alam, potensi pertanian organik sangat besar. Pasar produk pertanian organik dunia meningkat 20% per tahun, oleh karena itu pengembangan budidaya pertanian organik perlu diprioritaskan pada tanaman bernilai ekonomis tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.

Peluang Pertanian Organik di Indonesia

Luas lahan yang tersedia untuk pertanian organik di Indonesia sangat besar. Dari 75,5 juta ha lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian, baru sekitar 25,7 juta ha yang telah diolah untuk sawah dan perkebunan (BPS, 2000). Pertanian organik menuntut agar lahan yang digunakan tidak atau belum tercemar oleh bahan kimia dan mempunyai aksesibilitas yang baik. Kualitas dan luasan menjadi pertimbangan dalam pemilihan lahan. Lahan yang belum tercemar adalah lahan yang belum diusahakan, tetapi secara umum lahan demikian kurang subur. Lahan yang subur umumnya telah diusahakan secara intensif dengan menggunakan bahan pupuk dan pestisida kimia. Menggunakan lahan seperti ini memerlukan masa konversi cukup lama, yaitu sekitar 2 tahun.

Volume produk pertanian organik mencapai 5-7% dari total produk pertanian yang diperdagangkan di pasar internasional. Sebagian besar disuplay oleh negara-negara maju seperti Australia, Amerika dan Eropa. Di Asia, pasar produk pertanian organik lebih banyak didominasi oleh negara-negara timur jauh seperti Jepang, Taiwan dan Korea.

Potensi pasar produk pertanian organik di dalam negeri sangat kecil, hanya terbatas pada masyarakat menengah ke atas. Berbagai kendala yang dihadapi antara lain: 1) belum ada insentif harga yang memadai untuk produsen produk pertanian organik, 2) perlu investasi mahal pada awal pengembangan karena harus memilih lahan yang benar-benar steril dari bahan agrokimia, 3) belum ada kepastian pasar, sehingga petani enggan memproduksi komoditas tersebut.

Areal tanam pertanian organik, Australia dan Oceania mempunyai lahan terluas yaitu sekitar 7,7 juta ha. Eropa, Amerika Latin dan Amerika Utara masing-masing sekitar 4,2 juta; 3,7 juta dan 1,3 juta hektar. Areal tanam komoditas pertanian organik di Asia dan Afrika masih relatif rendah yaitu sekitar 0,09 juta dan 0,06 juta hektar (Tabel 1). Sayuran, kopi dan teh mendominasi pasar produk pertanian organik internasional di samping produk peternakan.

Tabel 1. Areal tanam pertanian organik masing-masing wilayah di dunia, 2002

No. Wilayah Areal Tanam (juta ha)

  1. Australia dan Oceania 7,70
  2. Eropa 4,20
  3. Amerika Latin 3,70
  4. Amerika Utar 1,30
  5. Asia 0,09
  6. Afrika 0,06

Sumber: IFOAM, 2002; PC-TAS, 2002.

Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk bersaing di pasar internasional walaupun secara bertahap. Hal ini karena berbagai keunggulan komparatif antara lain : 1) masih banyak sumberdaya lahan yang dapat dibuka untuk mengembangkan sistem pertanian organik, 2) teknologi untuk mendukung pertanian organik sudah cukup tersedia seperti pembuatan kompos, tanam tanpa olah tanah, pestisida hayati dan lain-lain.

Pengembangan selanjutnya pertanian organik di Indonesia harus ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar global. Oleh sebab itu komoditas-komoditas eksotik seperti sayuran dan perkebunan seperti kopi dan teh yang memiliki potensi ekspor cukup cerah perlu segera dikembangkan. Produk kopi misalnya, Indonesia merupakan pengekspor terbesar kedua setelah Brasil, tetapi di pasar internasional kopi Indonesia tidak memiliki merek dagang.

Pengembangan pertanian organik di Indonesia belum memerlukan struktur kelembagaan baru, karena sistem ini hampir sama halnya dengan pertanian intensif seperti saat ini. Kelembagaan petani seperti kelompok tani, koperasi, asosiasi atau korporasi masih sangat relevan. Namun yang paling penting lembaga tani tersebut harus dapat memperkuat posisi tawar petani.

Pertanian Organik Modern

Beberapa tahun terakhir, pertanian organik modern masuk dalam sistem pertanian Indonesia secara sporadis dan kecil-kecilan. Pertanian organik modern berkembang memproduksi bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan sistem produksi yang ramah lingkungan. Tetapi secara umum konsep pertanian organik modern belum banyak dikenal dan masih banyak dipertanyakan. Penekanan sementara ini lebih kepada meninggalkan pemakaian pestisida sintetis. Dengan makin berkembangnya pengetahuan dan teknologi kesehatan, lingkungan hidup, mikrobiologi, kimia, molekuler biologi, biokimia dan lain-lain, pertanian organik terus berkembang.

Dalam sistem pertanian organik modern diperlukan standar mutu dan ini diberlakukan oleh negara-negara pengimpor dengan sangat ketat. Sering satu produk pertanian organik harus dikembalikan ke negara pengekspor termasuk ke Indonesia karena masih ditemukan kandungan residu pestisida maupun bahan kimia lainnya.

Banyaknya produk-produk yang mengklaim sebagai produk pertanian organik yang tidak disertifikasi membuat keraguan di pihak konsumen. Sertifikasi produk pertanian organik dapat dibagi menjadi dua kriteria yaitu:

a) Sertifikasi Lokal untuk pangsa pasar dalam negeri. Kegiatan pertanian ini masih mentoleransi penggunaan pupuk kimia sintetis dalam jumlah yang minimal atau Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA), namun sudah sangat membatasi penggunaan pestisida sintetis. Pengendalian OPT dengan menggunakan biopestisida, varietas toleran, maupun agensia hayati. Tim untuk merumuskan sertifikasi nasional sudah dibentuk oleh Departemen Pertanian dengan melibatkan perguruan tinggi dan pihak-pihak lain yang terkait.

b) Sertifikasi Internasional untuk pangsa ekspor dan kalangan tertentu di dalam negeri, seperti misalnya sertifikasi yang dikeluarkan oleh SKAL ataupun IFOAM. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi antara lain masa konversi lahan, tempat penyimpanan produk organik, bibit, pupuk dan pestisida serta pengolahan hasilnya harus memenuhi persyaratan tertentu sebagai produk pertanian organik.

Beberapa komoditas prospektif yang dapat dikembangkan dengan sistem pertanian organik di Indonesia antara lain tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, tanaman rempah dan obat, serta peternakan, (Tabel 2). Menghadapi era perdagangan bebas pada tahun 2010 mendatang diharapkan pertanian organik Indonesia sudah dapat mengekspor produknya ke pasar internasional.

Tabel 2. Komoditas yang layak dikembangkan dengan sistem pertanian organik

No. Kategori Komoditi

  1. Tanaman Pangan Padi
  2. Hortikultura Sayuran: brokoli, kubis merah, petsai, caisin, cho putih, kubis tunas, bayam daun, labu siyam, oyong dan baligo. Buah: nangka, durian, salak, mangga, jeruk dan manggis.
  3. Perkebunan Kelapa, pala, jambu mete, cengkeh, lada, vanili dan kopi.
  4. Rempah dan obat Jahe, kunyit, temulawak, dan temu-temuan lainnya.
  5. Peternakan Susu, telur dan daging

Lahan
Pada dasarnya semua lahan dapat dikembangkan menjadi lahan PO. Yang terbaik adalah lahan pertanian yang berasal dari praktek pertanian tradisional atau hutan alam yang tidak pernah mendapatkan asupan bahan-bahan agrokimia (pupuk dan pestisida).
Namun, bila lahan yang digunakan berasal dari lahan bekas budidaya pertanian konvensional (menggunakan pupuk dan pestisida kimia), lebih dahulu perlu dilakukan konversi lahan. Konversi lahan adalah upaya yang bertujuan untuk meminimalkan kandungan sisa-sisa bahan kimia yang terdapat dalam tanah dan memulihkan unsur fauna dan mikroorganisme tanah. Lamanya konversi tergantung dari intensitas pemakaian input kimiawi dan jenis tanaman sebelumnya (sayuran, padi atau tanaman keras).
Masa konversi dapat diperpanjang/diperpendek tergantung pada sejarah lahan tersebut. Bila masa konversi telah lewat, lahan tersebut merupakan lahan organik. Bila kurang dari itu, maka lahan tersebut masih merupakan lahan konversi menuju organik.

Benih
Benih yang digunakan untuk budidaya PO adalah benih yang tidak mendapatkan perlakuan rekayasa genetika. Petani sebaiknya menggunakan benih lokal, atau benih hibrida yang telah beradaptasi dengan alam sekitar.
Keunggulan menggunakan benih lokal adalah mudah memperolehnya dan murah harganya, bahkan petani bisa membenihkan sendiri. Selain itu, benih lokal memiliki asal usul yang jelas dan sesuai dengan kondisi alam sekitar. Dengan memakai benih sendiri, petani juga tidak tergantung pada pihak luar.

Persiapan tanam
Lahan yang digunakan untuk produksi PO sedapat mungkin dijaga kestabilannya tanpa harus mengacaukan, yaitu berpedoman pada metode sedikit olah tanah (minimum tillage).

Tanam
Prinsip yang diterapkan dalam praktek penanaman PO selalu mencerminkan adanya tumpangsari agar tercipta keanekaragaman tanaman (varietas). Perencanaan dan teknik penanaman perlu disesuaikan dengan sifat tanaman, prinsip-prinsip pergiliran tanaman dan kondisi cuaca setempat.

Pemeliharaan Tanaman
Setiap tanaman memiliki sifat karakteristik tertentu, maka pemeliharaan tanaman ditentukan oleh sifat karakteristik tersebut. Dengan mengenali karakteristik tanaman petani dapat dengan mudah melakukan pemeliharaan yang sesuai, sehingga tujuan pemeliharaan tercapai yaitu “kebahagiaan tanaman itu sendiri”.

Pemupukan
Secara teori, lahan PO akan semakin subur karena proses-proses yang diterapkan berpedoman pada pemeliharaan tanah. Tetapi realitanya, petani seringkali kurang memahami hal ini sehingga tanah selalu lebih banyak kehilangan unsur hara —melalui erosi, penguapan, dsb— dibandingkan dengan hara yang diberikan/ditambahkan. Maka prinsip pemupukan ditentukan oleh kepekaan kita dalam mengamati/menilai kapan tanaman kekurangan makanan.

Pengendalian HPT/OPT
PO berbasis pada keseimbangan ekosistem. Konsekuensinya semua organisme yang ada (termasuk hama) dipandang ikut berperan dalam proses keseimbangan tersebut. Dengan kata lain, tidak ada mahluk hidup yang tidak berguna. Yang diperlukan adalah mengendalikan hama/penyakit supaya tidak berada dalam jumlah berlebihan.
Pola tumpangsari, pergiliran tanaman, pemulsaan, rekayasa teknik menanam, dan manajemen kebun menjadi pilihan metode pengendalian HPT karena sesuai dengan prinsip keseimbangan.
Penggunaan pestisida alami diperlukan sejauh kita tahu bahwa di lahan PO sedang terjadi ketidakseimbangan, yang terlihat pada munculnya gangguan hama/penyakit. Kadar pemakaiannya juga tergantung dari tingkat gangguan yang ada.

Panen
Setiap langkah dalam proses produksi akan dinilai dari hasil panenan. Prinsip dalam panen adalah menjaga standar mutu dengan memanen tepat waktu sesuai kematangan. Cara pemanenan juga perlu berhati-hati sehingga tidak menimbulkan kerusakan atau kehilangan hasil yang lebih besar.

Pasca Panen
Kegiatan pasca panen harus mampu menekan kerusakan hasil seminimal mungkin. Metode pengolahan yang dilakukan tidak boleh mengubah sama sekali komposisi bahan aslinya. Karenanya proses seleksi, pencucian, pengepakan, penyimpanan dan pengangkutan produk organik perlu berhati-hati agar kondisi tetap segar dan sehat ketika berada di tangan pembeli. Dalam PO, kegiatan pasca panen menghindari pemakaian bahan pengawet atau perlakuan kimiawi lainnya dan seminimal mungkin melakukan proses pengolahan.

Dalam PO berlaku standar yang berfungsi sebagai pedoman bagi petani dan pelaku lain dalam menjalankan usahanya di bidang ini. Standar ini berisi prinsip-prinsip mendasar PO dan hal-hal umum yang sebaiknya dilakukan dan dihindari dalam bertani organik. Sebagai contoh, pemerintah telah menerbitkan SNI (Standar Nasional Indonesia ) 01-6729-2002 tentang Sistem Pangan Organik yang dapat menjadi acuan bagi para pelaku terkait pengembangan PO. Standar ini mengacu pada standar internasional yakni Codex CAC/GL 32/1999, dan cukup selaras dengan standar dasar IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movement). BIOCert sendiri tengah mengembangkan standar PO yang selaras dengan pedoman di atas dan sesuai dengan visi dan misi BIOCert.

Artikel Terkait:

Prinsip Pertanian Organik

Pestisida Organik

Pupuk Organik

Pupuk Oganik dan Hayati

Pestiside Organik

Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Berbasis Sistem Pertanian Organik


Urban Farming & Hidroponik

April 12, 2011 pukul 12:23 pm | Ditulis dalam 1111, Uncategorized | Tinggalkan komentar

Urban Farming dan Agrohome

Secara geografis luas wilayah kota sangat terbatas sehingga konsep pertanian tradisional sangat sulit dilakukan di kawasan perkotaan. Sementara itu konversi lahan dari lahan pertanian menjadi lahan non pertanian hampir tidak bisa dibendung sejalan dengan perkembangan kebutuhan warga kota. Pertanian kota (urban farming) dapat dijadikan sebagai alternatif.

Tentu saja teknik budidaya yang dilakukan di perkotaan dilakukan secara intensif dengan teknologi yang memungkinkan produktivitas yang tinggi pada lahan yang sangat terbatas. Perkembangan teknik pertanian saat ini memungkinkan untuk dilakukan hal tersebut misalnya dengan teknik vertikultur, hidroponik atau teknik budidaya lannya yang bernuansan teknologi.

Manfaat yang diperoleh dari pertanian kota, selain memenuhi kebutuhan konsumsi pangan warga kota juga memberikan manfaat keindahan dan kebersihan lingkungan hidup di perkotaan yang banyak menggunakan bahan bakar fosil Penggabungan antara ilmu pertanian dan lansekap perkotaan akan memberikan nuansa lain terhadap pertanian yang selama ini terkesan kotor.

Menurut Wikipedia the free encyclopedia Pertanian Kota adalah praktek pertanian (meliputi kegiatan Tanaman Pangan, Peternakan, Perikanan, Kehutanan) di dalam atau di pinggiran kota yang dilakukan di lahan pekarangan, balkon, atau atap-atap bangunan, pinggiran jalan umum, atau tepi sungai dengan tujuan untuk menambah pendapatan atau menghasilkan bahan pangan.

Sedangkan menurut menurut UNDP, 1996 pertanian kota memiliki pengertian, satu kesatuan aktivitas produksi, proses, dan pemasaran makanan dan produk lain, di air dan di daratan yang dilakukan di dalam kota dan di pinggiran kota, menerapkan metode-metode produksi yang intensive, dan daur ulang (reused) sumber alam dan sisa sampah kota, untuk menghasilkan keaneka ragaman peternakan dan tanaman pangan.

Hampir sama dengan yang diungkapkan diatas pertanian kota Luc Mougeot, 1999 mendefinisikan pertanian kota sebagai suatu industri yang terletak di dalam kota (intra-urban) atau di pinggiran kota (peri-urban) dari suatu kota kecil atau kota besar, yang tumbuh dan berkembang, distribusi dan proses keaneka ragaman makanan dan produk bukan makanan (nonfood produk) yang sebagian besar menggunakan sumberdaya alam dan manusia (lahan, air, genetika, energi matahari dan udara), jasa dan produk-produk yang tersedia di dalam dan di sekitar wilayah kota, dan pada gilirannya sebagai penyedia sumberdaya material dan manusia, sebagian jasa dan produk untuk wilayah perkotaan itu sendiri.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pertanian kota (urban farming/agriculture) mengandung arti yaitu suatu aktivitas pertanian yang dapat berupa kegiatan bertani, beternak, perikanan, kehutanan, yang ber lokasi di dalam kota atau di pinggiran suatu kota, dengan melakukan proses Produksi (menghasilkan), pengolahan, dan menjual serta mendistribusikan berbagai macam hasil produk makanan dan non-makanan dengan menggunakan sumber daya serta bertujuan untuk menyediakan dan memenuhi konsumsi masyarakat yang tinggal di suatu kota.

Peran Pertanian Kota untuk keamanan dan keselamatan pangan terjadi melalui dua cara : Pertama, meningkatkan jumlah makanan yang tersedia bagi orang yang tinggal di kota, kedua, tersedianya buah-buahan dan sayur-mayur segar untuk konsumen-konsumen kota. Karena itu Pertanian Kota sebagai promosi penghematan energi produksi makanan lokal, Pertanian Kota dan pinggiran kota adalah praktek-praktek ketahanan pangan

Di beberapa kota besar dunia sudah melaksanakan konsep pertanian kota dan disambut baik oleh warga sebagai bagian dari konsep pembangunan perkotaan yang bersih lingkungan. Sementara di Indonesia yang tekah mencanagnkan pertanian kota diantaranya adalah Kota Surabaya.
Semoga pertanian kota dijadikan sebagai bagian dari kebutuhan warga kota selain kebutuhan perumahan dan gedung-gedung supermarket dan mall.

Manfaat Urban farming :

  • Urban Farming memberikan kontribusi penyelamatan lingkungan dengan pengelolaan sampah Reuse dan Recycle
  • Membantu menciptakan kota yang bersih dengan pelaksaan 3 R (reuse, reduse, recycle) untuk pengelolaan sampah kota.
  • Dapat menghasilkan O2 dan meningkatkan kualitas lingkungan kota
  • Meningkatkan Estetika Kota
  • Mengurangi biaya dengan penghematan biaya transportasi dan pengemasan
  • Bahan pangan lebih segar pada saat sampai ke konsumen yang merupakan orang kota
  • Menjadi penghasilan tambahan penduduk kota.

Model-model urban Farming

  • memanfaatkan lahan tidur dan lahan kritis,
  • Memanfaatkan Ruang Terbuka Hijau (Privat dan Publik)
  • mengoptimalkan kebun sekitar rumah,
  • menggunakan ruang (verticultur).

 

Good Agriculture Practice

April 12, 2011 pukul 12:23 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

ENERAPAN GAP SEBAGAI TEROBOSAN PENINGKATAN DAYA SAING HORTIKULTURA

Dalam perdagangan dunia yang tanpa batas dewasa ini (globalisasi perdagangan), maka perdagangan produk akan menekankan persyaratan mutu, keamanan pangan, sanitary and phytosanitary (SPS) serta jaminan kegiatan produksi dilakukan secara ramah lingkungan. Dengan demikian aspek keamanan pangan, mutu serta aspek lingkungan sudah menjadi bagian integral dari sistem produksi, dan sekaligus sebagai upaya meningkatkan daya saing. Oleh karena itu dalam paradigma ini kita tidak cukup hanya memproduksi dalam jumlah besar dan produktivitas tinggi, dengan mengabaikan aspek efisiensi, kemanan pangan dan produksi yang ramah lingkungan.

Peningkatan daya saing hortikultura adalah salah satu kunci untuk dapat masuk ke perdagangan global, meskipun itu untuk mengisi pasar di dalam negeri sendiri, karena ini sudah merupakan bagian dari pasar global. Dalam mengisi dan memasuki pasar-pasar moderen (pasar swalayan, supermarket, hypermarket), pasokan ke hotel-restoran-katering (HOREKA), pasokan bahan baku ke industri maupun untuk mengisi pasar ekspor saat ini terjadi persaingan sangat ketat, bukan hanya pada aspek dan persyaratan mutu produk tetapi juga dalam harga dan konsistensi dalam memenuhi komitmen.

Penerapan budidaya yang baik (Good Agricultural Practices = GAP) termasuk dalam agribisnis hortikultura, sudah merupakan tuntutan untuk diterapkan oleh pelaku agribisnis di berbagai negara. Hal ini dapat dilihat dengan aturan yang telah diterapkan oleh negara-negara sekitar kita; Malaysia menerapkan SALM, Thailand menerapkan Q-System, Australia menerapkan Fresh Care, Eropa menerapkan EurepGAP, dll. Dengan demikian bila kita tidak segera melangkah atau memulainya, maka kita akan ketinggalan dan kalah bersaing dalam mengisi pasar dan permintaan hortikultura yang semakin meningkat, bahkan untuk pasar domestik sekalipun kita akan dapat tersingkir.

Menyikapi akan kebutuhan dan tuntutan tersebut, maka telah dikeluarkan Permentan nomor 48/Permentan/ OT.140/10/2009, tentang Pedoman Budidaya Buah dan Sayur yang Baik (Good Agricultural Practices for Fruits and Vegetables) yang dikeluarkan pada tanggal 19 Oktober 2009, dan Permentan ini telah diundangkan oleh Menteri Hukum dan HAM pada tanggal 21 Oktober 2009 dengan berita acara nomor 402. Dengan diberlakukannya Permentan ini merupakan penyempurnaan terhadap Permentan no 61/2006 tentang pedoman budidaya buah yang baik dengan cakupan lebih luas dan muatan lebih besar. Pedoman GAP Buah dan Sayuran ini merupakan panduan cara (tatalaksana) pengelolaan budidaya, mulai dari kegiatan pra tanam hingga penanganan pasca panen untuk menghasilkan produk yang aman konsumsi, bermutu baik, ramah lingkungan dan berdaya saing.

Keluarnya Permentan 48/2009 merupakan suatu langkah terobosan untuk meningkatkan daya saing produk hortikultura, suatu langkah untuk memberdayakan pelaku usaha hortikultura, upaya untuk memanfaatkan sumberdaya alam secara berkelanjutan dan lestari. Arti penting penerapan GAP Buah dan Sayur ini adalah sebagai acuan dalam pelaksanaan penerapan dan registrasi kebun atau lahan usaha dalam budidaya buah dan sayur sebagaimana dinyatakan dalam Permentan 48/2009 tesebut. Disamping itu juga; sebagai panduan dasar bagi pelaku usaha agribisnis buah dan sayur dalam menjalankan kegiatan budidaya tanaman, sebagai suatu sistem jaminan mutu, alat untuk berkompetisi dan melindungi pelaku usaha dalam memasuki perdagangan dunia, serta sebagai rangkaian terpadu penerapan Pengelolaan Rantai Pasokan (Supply Chain Management – SCM)

Maksudnya dari Pedoman GAP buah dan sayur ini adalah sebagai panduan dalam budidaya tanaman buah dan sayur yang baik (termuat dalam Permentan 48/2009). Panduan ini bersifat umum untuk buah dan sayur dan tidak spesifik komoditas, oleh karena itu perlu ditindak lanjuti dengan perumusan standar operasional prosedur (SOP) budidaya untuk spesifik komoditas dan spesifik lokasi. Lebih dari itu panduan GAP ini bersifat dinamis, karena itu tidak tertutup kemungkinan untuk melakukan penyempurnaan dan perubahan di kemudian hari sesuai dengan perkembangan teknologi, tuntutan pasar dan konsumen. Adanya GAP ini merupakan proses pembelajaran bagi petani/pelaku usaha untuk berproduksi dengan kualitas baik dan performan menarik.

Sebagaimana termaktub dalam Permentan 48/2009, tujuan Penerapan Pedoman Budidaya yang Baik (GAP) Buah dan Sayur ini adalah;

1. Meningkatkan produksi dan produktivitas,
2. Meningkatkan mutu hasil termasuk keamanan konsumsi,
3. Meningkatkan efisiensi produksi,
4. Meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya alam,
5. Mempertahankan kesuburan lahan, kelestarian lingkungan dan sistem produksi yang berkelanjutan,
6. Mendorong petani dan kelompok tani untuk memiliki sikap mental yang bertanggung jawab terhadap produk yang dihasilkan, kesehatan dan keamanan diri dan lingkungan,
7. Meningkatkan daya saing dan peluang penerimaan produk oleh pasar (pasar ekspor dan domestik). Sebagai Tujuan akhir adalah memberikan jaminan keamanan terhadap konsumen serta meningkatkan kesejahteraan petani pelaku usaha.

Sasaran objek pelaksanaan penerapan GAP Buah dan Sayur adalah seluruh usaha budidaya dan komoditas buah dan sayur. Akan tetapi pada tahap awal ini lebih ditekankan pada kebun buah dan lahan usaha sayuran milik pelaku usaha agribisnis hortikultura yang siap memasuki perdagangan dunia (pasar ekspor), pasar moderen (swalayan, supermarket, hipermarket), usaha hotel restoran dan katering (HOREKA) dan industri pengolahan hasil pertanian. Dengan demikian produk yang dijual secara langsung ke pasar-pasar tradisional masih belum menjadi sasaran penerapan GAP ini. Namun demikian ini sudah perlu dfifikirkan dan diantisipasi untuk pengembangan komoditas di masa depan. Disamping itu juga masih ditekankan pada komoditas strategis dan mempunyai permintaan banyak, sehingga dengan demikian untuk petai, jengkol, cempedak sementara ini mungkin belum akan masuk.

Dengan adanya pedoman dan penerapan GAP buah dan sayuran ini perlu diikuti dengan registrasi kebun untuk tanaman buah, dan registrasi lahan usaha untuk tanaman sayuran. Bagi kebun dan lahan usaha yang telah menerapkan GAP akan dilakukan observasi dan penilaian oleh Dinas Pertanian Provinsi yang menangani pengembangan komoditas hortikultura. Observasi dan penilaian terutama ditekankan pada titk-tik kendali yang telah ditetapkan dalam pedoman GAP, bagi yang telah memenuhi syarat dan memenuhi ketentuan di titik-titik kendali GAP, akan diterbitkan dan diberikan nomor registrasi GAP.

Bagi kebun buah atau lahan usaha sayuran yang telah dapat nomor registrasi akan dapat masuk tahap berikutnya yaitu tahap sertifikasi yang akan dilakukan oleh otoritas kompeten yang ditunjuk. Dengan demikian, melalui penerapan GAP buah dan sayuran ini akan menghantarkan petani dengan produknya untuk siap disertiifikasi oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan kebutuhan dan persyaratan pasar. Walaupun demikian, dengan adanya atau diterbitkannya nomor registrasi kebun/lahan usaha sebenarnya sudah cukup menjadi jaminan bahwa kegiatan budidaya (termasuk penanganan panen, pasca panen, penanganan lingkungan, keselamatan pekerja) telah dilakukan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.

Dengan diterapkannya GAP dan dikeluarkannya nomor registrasi kebun buah atau lahan usaha sayuran akan memberikan banyak keuntungan bagi pelaku usaha maupun konsumen. Adanya penerapan GAP akan memudahkan promosi dan memperkenalkan produk ke pedagang maupun konsumen, memudahkan dalam mempromosikan petani dan kebun/lahan usaha yang telah menerapkan GAP, memudahkan identifikasi sentra produksi hortikultura berkualitas. Dengan demikian akan memudahkan dalam memberikan jaminan mutu produk dan pelaku usaha, sekaligus memudahkan pelacakan (trace back) bila terjadi pengaduan terhadap produk. Dengan ini juga memudahkan pihak pelaku usaha berintegrasi langsung dengan produsen, sehingga dapat berdampak pada upaya mengefektifkan rantai pasokan.

Persyaratan penerapan GAP dengan kebun dan lahan usaha yang terdaftar (terregistrasi) ini sudah mulai dipersyaratkan oleh beberapa pemerintah daerah (seperti adanya Perda Mutu Produk di Provinsi DKI Jakarta, persyaratan produk masuk ke kota Batam , dll), pemasok ke pasar-pasar moderen di kota-kota besar (jumlah pasar moderen di kota-kota besar meningkat sekitar 20 persen setiap tahun). Apalagi dengan akan diterapkannya ASEAN-China AFTA di tahun 2010, maka untuk mengisi pasar ekspor ataupun masuknya produk dari negara lain akan terjadi persaingan dan persyaratan yang semakin berat dan ketat.

Menghadapi era globalisasi ini, kita tidak ingin hanya menjadi penonton yang baik terhadap masuknya produk dari luar tersebut, kita tidak ingin pangsa pasar kita yang besar (dengan jumlah penduduk dan konsumen sangat besar dan potensial) justru menjadi ajang pergumulan bagi pemasaran produk dari negara-negara lain. Kita harus mampu menjadi tuan rumah terhormat di negeri kita sendiri, dan kita harus bisa berdaulat terhadap produk hortikultura ditengah persaingan dan isu global, kita harus bisa menguasai pangsa pasar kita sendiri. Caranya adalah dengan meningkatkan daya saing (competitiveness) produk dan pelaku usaha hortikultura nasional, salah satunya adalah dengan menerapkan budidaya yang baik (Good Agricultural Practices = GAP).

Sumber: kdk-distan-diy.forumotion.net

Artikel Terkait :

Panduan GAP

Agrowisata

April 12, 2011 pukul 12:21 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Agrowisata adalah salah satu bentuk pariwisata yang obyek wisata utamanya adalah lanskap pertanian, maka dapat dikatakan bahwa agrowisata merupakan wisata yang memanfaatkan obyek-obyek pertanian. Agrowisata juga merupakan kegiatan wisata yang terintegrasi dengan keseluruhan sistem pertanian dan pemanfaatan obyek-obyek pertanian sebagai obyek wisata, seperti teknologi pertanian maupun komoditi pertanian (Anonim, 1990).

Menurut Arifin (1992) agrowisata adalah salah satu bentuk kegiatan wisata yang dilakukan di kawasan pertanian yang menyajikan suguhan pemandangan alam kawasan pertanian (farmland view) dan aktivitas di dalamnya seperti persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, pengolahan hasil panen sampai dalam bentuk siap dipasarkan dan bahkan wisatawan dapat membeli produk pertanian tersebut sebagai oleh-oleh. Agrowisata tersebut ikut melibatkan wisatawan dalam kegiatan-kegiatan pertanian. Sedangkan menurut Nurisjah (2001), agrotourism, agrowisata, wisata agro atau wisata pertanian merupakan penggabungan antara aktivitas wisata dan aktivitas pertanian.

Ditambahkan oleh Tirtawinata dan Fachruddin (1996) bahwa agrowisata merupakan suatu upaya dalam rangka menciptakan produk wisata baru (diversifikasi). Kegiatan agrowisata juga merupakan kegiatan pengembangan wisata yang berkaitan dengan kegiatan pedesaan  dan pertanian yang mampu meningkatkan nilai tambah kegiatan pertanian dan kesejahteraan pedesaan (Haeruman, 1989 dalam Khairul, 1997)

Menurut Tirtawinata dan Fachruddin (1996), prinsip yang harus dipegang dalam sebuah perencanaan agrowisata, yaitu sebagai berikut:

  1. Perencanaan agrowisata sesuai dengan rencana pengembangan wilayah tempat agrowisata itu berada
  2. Perencanaan dibuat secara lengkap, tetapi sesederhana mungkin
  3. Perencanaan mempertimbangkan tata lingkungan dan kondisi sosial masyarakat sekitar
  4. Perencanaan selaras dengan sumberdaya alam, sumberdaya manusia, sumber dana dan teknik-teknik yang ada
  5. Perlu dilakukan evaluasi sesuai dengan perkembangan yang ada.

Ada beberapa aspek yang perlu dilaksanakan untuk pengembangan wisata agro menurut Situs Departemen Pertanian (2007) yaitu:

  1. Aspek pengembangan sumberdaya manusia.
  2. Aspek sumberdaya alam.
  3. Aspek promosi, baik melalui media informasi atau dari mulut ke mulut.
  4. Aspek sarana transportasi.
  5. Aspek kelembagaan, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat
Agrowisata Meningkatkan Pendapatan Petani

Dengan posisi geografis di katulistiwa serta kondisi alam, hayati, dan budaya yang beragam, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan agrowisata. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani sekaligus melestarikan sumber daya lahan yang ada.

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati (biodiversity) nomor tiga terbesar di dunia. Kekayaan alam yang melimpah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber plasma nutfah/genetik dan atau sebagai areal wisata. Demikian pula dengan kondisi tanah dan iklim yang beragam, peluang untuk mengembangkan berbagai komoditas pertanian pun semakin besar dengan menerapkan sistem pengelolaan lahan yang sesuai. Hal ini tercemin pada berbagai teknologi pertanian lokal yang berkembang di masyarakat dengan menyesuaikannya dengan tipologi lahan. Keunikan – keunikan tersebut merupakan aset yang dapat menarik bangsa lain untuk berkunjung/berwisata ke Indonesia.

Agrowisata merupakan bagian dari objek wisata yang memanfaatkan usaha pertanian (agro) sebagai objek wisata. Tujuannya adalah untuk memperluas pengetahuan, pengalaman rekreasi, dan hubungan usaha dibidang pertanian. Melalui pengembangan agrowisata yang menonjolkan budaya lokal dalam memanfaatkan lahan, kita bisa meningkatkan pendapatan petani sambil melestarikan sumber daya lahan, serta memelihara budaya maupun teknologi lokal (indigenous knowledge) yang umumnya telah sesuai dengan kondisi lingkungan alaminya.

Pada era otonomi daerah, agrowisata dapat dikembangkan dimasing – masing daerah tanpa perlu ada persaingan antar daerah, mengingat kondisi wilayah dan budaya masyarakat di Indonesia sangat beragam. Masing – masing daerah bisa menyajikan atraksi agrowisata yang lain daripada yang lain.

Manfaat Pengembangan Agrowisata

Pengembangan agrowisata sesuai dengan kapabilitas, tipologi, dan fungsi ekologis lahan akan berpengaruh langsung terhadap kelestarian sumber daya lahan dan pendapatan petani serta masyarakat sekitarnya. Kegiatan ini secara tidak langsung akan meningkatkan persepsi positif petani serta masyarakat sekitarnya akan arti pentingnya pelestarian sumber daya lahan pertanian. Pengembangan agrowisata pada gilirannya akan menciptakan lapangan pekerjaan, karena usha ini dapat menyerap tenaga kerja dari masyarakat pedesaan, sehingga dapat menahan atau mengurangi arus urbanisasi yang semakin meningkat saat ini. Manfaat yang dapat dipeoleh dari agrowisata adalah melestarikan sumber daya alam, melestarikan teknologi lokal, dan meningkatkan pendapatan petani/masyarakat sekira lokasi wisata.

Melestarikan Sumber Daya Alam

Agrowisata pada prinsipnya merupakan kegiatan industri yang mengharapkan kedatangan konsumen secara langsung ditempat wisata yang diselenggarakan. Aset yang penting untuk menarik kunjungan wisatawan adalah keaslian, keunikan, kenyamanan, dan keindahan alam. Oleh sebab itu, faktor kualitas lingkungan menjadi modal penting yang harus disediakan, terutama pada wilayah – wilayah yang dimanfaatkan untuk dijelajahi para wisatawan. Menyadari pentingnya nilai kualitas lingkungan tersebut, masyarakat/petani setempat perlu diajak untuk selalu menjaga keaslian, kenyamanan, dan kelestarian lingkungannya.

Agrowisata dapat dikelompokkan ke dalam wisata ekologi (eco-toursm), yaitu kegiatan perjalanan wisata dengan tidak merusak atau mencemari alam dengan tujuan untuk mengagumi dan menikmati keindahan alam, hewan atau tumbuhan liar di lingkungan alaminya serta sebagai sarana pendidikan. Oleh karena itu, pengelolaannya harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Pengaturan dasar alaminya, yang meliputi kultur atau sejarah yang menarik, keunikan sumber daya biofisik alaminya, konservasi sumber daya alam ataupun kultur budaya masyarakat.
  2. Nilai pendidikan, yaitu interpretasi yang baik untuk program pendidikan dari areal, termasuk lingkungan alaminya dan upaya konservasinya.
  3. Partisipasi masyarakat dan pemanfaatannya. Masyarakat hendaknya melindungi/menjaga fasilitas atraksi yang digemari wisatawan, serta dapat berpartisipasi sebagai pemandu serta penyedia akomodasi dan makanan.
  4. Dorongan meningkatkan upaya konservasi. Wisata ekologi biasanya tanggap dan berperan aktif dalam upaya melindungi area, seperti mengidentifikasi burung dan satwa liar, memperbaiki lingkungan, serta memberikan penghargaan/falitas kepada pihak yang membantu melingdungi lingkungan.
Mengkonversi Teknologi Lokal

Keunikan teknologi lokal yang merupakan hasil seleksi alam merupakan aset atraksi agrowisata yang patut dibanggakan. Bahkan teknologi lokal ini dapat dikemas dan ditawarkan untuk dijual kepada pihak lain. Dengan demikian, teknologi lokal yang merupakan indigenous knowleadge itu dapat dilestarikan.

Teknologi lokal seperti Talun Kebun atau Pekarangan yang telah berkembang di masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur merupakan salah satu contoh yang bisa ditawarkan untuk agrowisata. Teknologi lokal ini telah terbukti cukup mampu mengendalikan kesuburan tanah melalui pendauran hara secara vertikal. Selain dapat mengefisienkan pemanfaatan hara, teknologi ini juga dapat memanfaatkan energi matahari dan bahan organik in situ dengan baik sesuai dengan tingkat kebutuhan. Dengan demikian, melalui agrowisata kita dapat memahami teknologi lokal kita sendiri, sehingga ketergantungan pada teknologi asing dapat dikurangi.

Meningkatkan Pendapatan Petani dan Masyarakat Sekitar

Selain memberikan nilai kenyamanan, keindahan ataupun pengetahuan, atraksi wisata juga dapat mendatangkan pendapatan bagi petani serta masyarakat di sekitarnya. Wisatawan yang berkunjung akan menjadi konsumen produk pertanian yang dihasilkan, sehingga pemasaran hasil menjadi lebih efisien. Selain itu, dengan adanya kesadaran petani akan arti petingnya kelestarian sumber daya, maka kelanggengan produksi menjadi lebih terjaga yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan petani. Bagi masyarakat sekitar, dengan banyaknya kunjungan wisatawan, mereka dapat memperoleh kesempatan berusaha dengan menyediakan jasa dan menjual produk yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan.

Atraksi wisata pertanian juga dapat menarik pihak lain untuk belajar atau magang dalam pelaksanaan kegiatan budi daya ataupun atraksi-atraksi lainnya, sehingga dapat menambah pendapatan petani, sekaligus sebagai wahana alih teknologi kepada pihak lain. Hal seperti ini telah dilakukan oleh petani di Desa Cinagara, Sukabumi dengan “Karya Nyata Training Centre”. Pada kegiatan magang ini, seluruh petani dilibatkan secara langsung, baik petani ikan, padi sawah, hortikultura, peternakan, maupun perkebunan.

Atraksi-Atraksi yang Ditawarkan

Pengembangan agrowisata dapat diarahkan dalam bentuk ruangan tertutup (seperti museum), ruangan terbuka (taman atau lansekap), atau kombinasi antara keduanya. Tampilan agrowisata ruangan tertutup dapat berupa koleksi alat-alat pertanian yang khas dan bernilai sejarah atau naskah dan visualisasi sejarah penggunaan lahan maupun proses pengolahan hasil pertanian. Agrowisata ruangan terbuka dapat berupa penataan lahan yang khas dan sesuai dengan kapabilitas dan tipologi lahan untuk mendukung suatu sistem usahatani yang efektif dan berkelanjutan. Komponen utama pengembangan agrowisata ruangan terbuka dapat berupa flora dan fauna yang dibudidayakan maupun liar, teknologi budi daya dan pascapanen komoditas pertanian yang khas dan bernilai sejarah, atraksi budaya pertanian setempat, dan pemandangan alam berlatar belakang pertanian dengan kenyamanan yang dapat dirasakan. Agrowisata ruangn terbuka dapat dilakukan dalam dua versi/pola, yaitu alami dan buatan.

Agrowisata Ruang Terbuka Alami

Objek agrowisata ruangan terbuka alami ini berada pada areal di mana kegiatan tersebut dilakukan langsung oleh masyarakat petani setempat sesuai dengan kehidupan keseharian mereka. Masyarakat melakukan kegiatannya sesuai dengan apa yang biasa mereka lakukan tanpa ada pengaturan dari pihak lain. Untuk memberikan tambahan kenikmatan kepada wisatawan, atraksi-atraksi spesifik yang dilakukan oleh masyarakat dapat lebih ditonjolkan, namun tetap menjaga nilai estetika alaminya. Sementara fasilitas pendukung untuk pengamanan wisatawan tetap disediakan sejauh tidak bertentangan dengan kultur dan estetika asli yang ada, seperti sarana transportasi, tempat berteduh, sanitasi, dan keamanan dari binatang buas. Contoh agrowisata terbuka alami adalah kawasan Suku Baduy di Pandeglang dan Suku Naga di Tasikmalaya, Jawa Barat; Suku Tengger di Jawa Timur; Bali dengan teknologi subaknya; dan Papua dengan berbagai pola atraksi pengelolaan lahan untuk budi daya umbi-umbian.

Agrowisata Ruang Terbuka Buatan

Kawasan agrowisata ruang terbuka buatan ini dapat didesain pada kawasan-kawasan yang spesifik, namun belum dikuasai atau disentuh oleh masyarakat adat. Tata ruang peruntukan lahan diatur sesuai dengan daya dukungnya dan komoditas pertanian yang dikembangkan memiliki nilai jual untuk wisatawan. Demikian pula teknologi yang diterapkan diambil dari budaya masyarakat lokal yang ada, diramu sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan produk atraksi agrowisata yang menarik. Fasilitas pendukung untuk akomodasi wisatawan dapat disediakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern, namun tidak mengganggu keseimbangan ekosistem yang ada. Kegiatan wisata ini dapat dikelola oleh suatu badan usaha, sedang pelaksana atraksi parsialnya tetap dilakukan oleh petani lokal yang memiliki teknologi yang diterapkan.

Teknologi budi daya pertanian tradisional sebagai perwujudan keserasian hasil seleksi alam yang berlangsung dalam kurun waktu yang panjang dapat menjadi paket atraksi wisata yang potensial untuk dipasarkan. Sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan pendapatan petani yang memiliki lahan sempit serta adanya gejala penggunaan lahan yang melebihi daya dukungnya, maka adanya alternatif pemanfaatan lahan yang berorientasi kepada kepentingan wisata sangat baik untuk dilakukan.

Potensi objek wisata dapat dibedakan menjadi objek wisata alami dan buatan manusia. Objek wisata alami dapat berupa kondisi iklim (udara bersih dan sejuk, suhu dan sinar matahari yang nyaman, kesunyian), pemandangan alam (panorama pegunungan yang indah, air terjun, danau dan sungai yang khas), dan sumber air kesehatan (air mineral, air panas). Objek wisata buatan manusia dapat berupa falitas atau prasarana, peninggalan sejarah dan budidaya, pola hidup masyarakat dan taman-taman untuk rekreasi atau olah raga.

Objek agrowisata yang telah berkembang dan tercata dalam basis data DIrektorat Jenderal Pariwisata 1994/1995 terdapat delapan propinsi (Tabel 1), yaitu SUmatera Utara, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah dan DIY, Jawa Timur, NTB, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Objek agrowisata umumnya masih berupa hamparan suatu areal usaha pertanian dari perusahaan-perusahaan besar yang dikelola secara modern/ala Barat dengan orientasi objek keindahan alam dan belum menonjolkan atraksi keunikan/spesifikasi dari aktivitas lokal masyarakat.

Untuk membantu meningkatkan masyarakat petani yang berada di pedesaan, prioritas pengembangan agrowisata hendaknya lebih diarahkan pada pengembangan agrowisata ruang terbuka (Subowo)

Direktory Agrowisata Indonesia

Info Kit

April 12, 2011 pukul 12:17 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Metode Pengendalian Penyakit dan Hama Serangga

There are three major methods. Ada tiga metode besar.

Pengendalian Hayati Layu Fusarium dari Ubi Jalar

Fusarium wilt of sweet potato can be controlled by prior inoculation with nonpathogenic Fusarium oxysporum . Layu Fusarium ubi jalar dapat dikontrol oleh inokulasi sebelum dengan Fusarium oxysporum nonpathogenic. Many F. Banyak F. oxysporum isolates have been obtained from healthy sweet potato plants, most of which were not pathogenic. oxysporum isolat telah diperoleh dari sehat tanaman ubi jalar, kebanyakan yang tidak patogen. Some of these nonpathogenic isolates gave cross-protection against Fusarium wilt of sweet potato when sweet potato plants were inoculated with them before planting. Beberapa nonpathogenic isolat memberikan cross-perlindungan terhadap layu Fusarium ubi jalar ketika tanaman ubi jalar yang diinokulasi dengan mereka sebelum tanam.

In naturally infested commercial fields, cross-protection by prior inoculation with nonpathogenic isolates of F. Dalam bidang komersial penuh secara alami, cross-perlindungan dengan inokulasi sebelum dengan nonpathogenic isolat F. oxysporum always brings about a marked decrease in wilt incidence and a marked increase in the yield of sweet potato. oxysporum selalu membawa penurunan tajam dalam insiden layu dan peningkatan yang ditandai dalam hasil ubi jalar. The effect was equivalent to those obtained from a chemical treatment, in which cut ends of the sprouts were dipped into a benomyl suspension for 30 min. Efeknya setara dengan yang diperoleh dari pengobatan kimia, di mana memotong ujung tunas itu dicelupkan ke dalam suspensi benomyl selama 30 menit. In inoculation with F. Dalam inokulasi dengan F. oxysporum , cut ends of sprouts are smeared with a condensed bud cell suspension of the fungus, or dipped in a diluted bud cell suspension. oxysporum, memotong ujung kecambah yang diolesi dengan suspensi sel tunas kental dari jamur, atau dicelupkan ke dalam suspensi sel tunas diencerkan. Higher yields and lower wilt incidence were evident when sprouts were planted as soon as possible after inoculation. hasil yang lebih tinggi dan insiden layu yang lebih rendah jelas ketika kecambah ditanam sesegera mungkin setelah inokulasi.

Breeding and Cultivation of Resistant Varieties Pembibitan dan Budidaya Varietas Tahan

This method is economically the most efficient. Metode ini secara ekonomis paling efisien. However, resistant varieties soon become susceptible with the appearance of new strains and races of pathogenic microorganisms or new biotypes of insects. Namun, varietas tahan segera menjadi rentan dengan munculnya strain baru dan ras mikroorganisme patogen atau biotipe baru serangga.

Biological Control Pengendalian Hayati

This method is ecologically based, and aims at reducing crop damage by attempting to reduce the density of pathogens and insects. Metode ini berbasis ekologis, dan bertujuan mengurangi kerusakan tanaman dengan mencoba untuk mengurangi kepadatan patogen dan serangga.

Application of Pesticides Aplikasi Pestisida

Currently, the effective use of pesticides plays an important role in reducing crop damage. Saat ini, penggunaan pestisida efektif memainkan peran penting dalam mengurangi kerusakan tanaman. Some experimental results indicate excellent efficacies. Beberapa hasil percobaan menunjukkan khasiat yang sangat baik. These experiments were carried out at 69 Prefectural Agricultural Experiment Stations in 22 Prefectures in Japan for two years, from 1991 to 1992. Percobaan ini dilakukan di 69 Stasiun Percobaan Pertanian Prefektur di 22 Prefektur di Jepang selama dua tahun, dari tahun 1991 sampai 1992. The average reduction in yield of crops when no pesticides were applied ranged from 27.7 to 97.0%. Penurunan rata-rata hasil tanaman ketika tidak ada pestisida yang diterapkan berkisar 27,7-97,0%.

In 1990, Knutson of Texas University and his colleagues assessed the economic impact of reducing chemical use in the United States. Pada tahun 1990, Knutson dari Texas University dan rekan-rekannya menilai dampak ekonomi untuk mengurangi penggunaan bahan kimia di Amerika Serikat. The yields of crops grown without pesticides was reduced by 32% in the case of corn, 37% for soybean, 24% for wheat, 39% for cotton, 57% for rice, and 78% for peanut without pesticides. Hasil panen tanaman tumbuh tanpa pestisida berkurang sebesar 32% dalam kasus jagung, 37% untuk kedelai, 24% untuk gandum, 39% untuk katun, 57% untuk beras, dan 78% untuk kacang tanah tanpa pestisida.

Artikel Terkait :

Diagnosis Kekurangan Micronutrient di Tanaman

Penggunaan Botol Plastik untuk Perangkap Feromon

Penggunaan Cocopet Predator untuk Menekan Penggerek Jagung Asia

enggunaan Rumput Sebagai Substrat untuk Budidaya Jamur Tiram

Penggunaan Arang Bambu untuk Keluarkan Bau Buruk Pupuk

Pengolahan Jerami Padi Fermentasi

Teknologi Produksi Pupuk Biologi

Pemantauan Residu pestisida pada Tanaman dan ‘Pendidikan Petani tentang Penggunaan Pestisida Aman

Pengendalian Tikus Terpadu

Membunuh Tikus dengan Trap setengah lingkaran

Praktek Pertanian yang Baik (GAP) di Asia dan Oceania

Blog pada WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.015 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: